Anda di halaman 1dari 9

2.8.2.

Perpindahan Panas Konveksi


Perpindahan kalor konveksi berarti menggunakan konduktivitas termal
fluida dan gradien suhu fluida pada dinding. Gradien suhu bergantung pada laju
fluida, membawa kalor dari lapisannnya. Kecepatan yang tinggi akan
menyebabkan gradien suhu yang besar pula dan demikian seterusnya. Jadi
gradien suhu pada dinding bergantung pada medan aliran. Guna menyatakan
pengaruh konduksi secara menyeluruh, kita menggunakan hukum newton tentang
pendinginan :
q=h A (Tw-T).
Disini laju perpindahan kalor dihubungkan dengan beda suhu menyeluruh
antara dinding dan fluida, dan luas permukaan. Besaran h disebut koefisien
perpindahan kalor konveksi. Koefisien perpindahan kalor kadang-kadang
konduktan film karena hubungannya dengan proses konduksi pada lapisan fluida
diam.
Konveksi terbagi menjadi 2, yaitu : konveksi secara alamiah atau bebas
dan konveksi paksa yang terjadi apabila udara dihembuskan di atas plat itu
dengan kipas. Pada microwave oven, konveksi terjadi pada udara didalam
microwave









2.8.2.1 Konveksi Bebas
Gambar 2.7.2. Konveksi

konveksi bebas terjadi karena fluida bergerak secara alamiah dimana
pergerakan fluida tersebut lebih disebabkan oleh perbedaan massa jenis fluida
akibat adanya variasi suhu pada fluida tersebut. Logikanya, kalau suhu fluida
tinggi, tentunya dia akan menjadi lebih ringan dan mulai bergerak keatas.
Gambar menunjukkan contohilustrasi dari konveksi bebas.
Pada Gambar (a) terdapat sebutir telur yang baru saja direbus diletakkan
pada udara kamar sehingga mengalami proses pendinginan.Udarayang berad
a dekat dengan telur akan dipanaskan oleh permukaan kulit telur sehingga memp
unyai temperatur lebih tinggi dibandingkan udara yang berada jauhdari kulit t
elur. Udara yang bertemperatur lebih tinggi mempunyai massa jenis yang lebi
h rendah dibandingkan udara bertemperatur rendah, akibatnya terjadigaya penga
pungan sehingga udara yang lebih panas bergerak naik dan digantikan den
gan udara lain yang lebih dingin. Proses ini terjadi berulangulang, sehingga
perpindahan
kalor daritelurke udara melibatkan gerakan udara tanpa adanya sumber gerak
eksternal melalui konveksi bebas. Gambar (b) menunjukkan ilustrasi konv
eksi bebas pada proses pemanasan minuman dalam kaleng yang baru saja
dikeluarkan dari lemari pendingin.






2.8.2.2 Konveksi Paksa
Sementara konveksi paksa trjadi karena bergeraknya fluida bukan karena
faktor alamiah. Fluida bergerak karena adanya alat yang digunakan untuk
menggerakkan fluida tersebut, seperti kipas, pompa, blower dan sebagainya.

Gambar 2.7.2. 1. konveksi bebas








2.8.3. Perpindahan Panas Radiasi
Radiasi adalah perpindahan kalor tanpa memerlukan medium/perantara.
Sebagai contoh adalah apabila pada siang hari kita merasakan panasnya
matahari. Berarti kita merasakan panas yang di pancarkan matahari yang melaui
hampa udara, atau juga kita berada pada api unggun yang sedang menyala.











Gambar 2.7.2. 2. konveksi paksa

2.9. Fluida
2.9.1 Pengertian Fluida
Fluida adalah zat yang dapat mengalami perubahan bentuk secara
kontinu bila terkena tegangan geser walaupun relatif kecil. Gaya geser adalah
komponen gaya yang menyinggung permukaan dan jika dibagi dengan luas
permukaan tersebut menjadi tegangan geser rata-rata pada permukaan itu.
2.9.2 Jenis Jenis Fluida
Fluida pada dasarnya terbagi atas dua kelompok besar berdasarkan
sifatnya, yaitu fluida cairan dan fluida gas. Fluida diklasifikasikan atas 2, yaitu:
1. Fluida Newton : Dalam fluida Newton terdapat hubungan linier antara
besarnya tegangan geser diharapkan dan laju perubahan bentuk yang
diakibatkan.
2. Fluida non Newton : Disini terdapat hubungan yang tak linier antara
besarnya tegangan geser yang diterapkan dengan laju perubahan bentuk
sudut.
Namun, dapat pula kita klasifikasikan berdasarkan hal berikut;
a. Berdasarkan kemampuan menahan tekanan :
Fluida incompressible (tidak termampatkan), yaitu fluida yang tidak
dapat dikompressi atau volumenya tidak dapat ditekan menjadi lebih
kecil sehingga r-nya (massa jenisnya) konstan.
Fluida compressible (termampatkan), yaitu fluida yang dapat
dikompressi atau volumenya dapat ditekan menjadi lebih kecil sehingga
r-nya (massa jenisnya) tidak konstan.
b. Berdasarkan struktur molekulnya :
Cairan : Fluida yang cenderung mempertahankan volumenya karena
terdiri atas molekul-molekul tetap rapat dengan gaya kohesif yang
relatif kuat dan fluida cairan praktis tak compressible.
Gas : Fluida yang volumenya tidak tertentu karena jarak antar
molekul-molekul besar dan gaya kohesifnya kecil sehingga gas akan
memuai bebas sampai tertahan oleh dinding yang mengukungnya. Pada
fluida gas, gerakan momentum antara molekulnya sangat tinggi,
sehingga sering terjadi tumbukan antar molekul.
c. Berdasarkan tegangan geser yang dikenakan :
Fluida Newton adalah fluida yang memiliki hubungan linear antara
besarnya tegangan geser yang diberikan dengan laju perubahan bentuk
yang diakibatkan.
Fluida non Newton adalah fluida yang memiliki hubungan tidak linear
antara besarnya tegangan geser dengan laju perubahan bentuk sudut.
d. Berdasarkan sifat alirannya :
Fluida bersifat Turbulen, dimana alirannya mengalami pergolakan
(berputar-putar).
Fluida bersifat Laminar (stream line), dimana alirannya memiliki
lintasan lapisan batas yang panjang, sehingga dikatakan juga aliran
berlapis-lapis.
2.9.3 Sifat Sifat Fluida
Biasanya kita tidak begitu susah untuk membedakan antara cairan
dengan padat atau gas. Benda padat mempunyai bentuk yang tetap, sampai
ada gaya luar yang mengubah bentuknya. Sebaliknya cairan akan mengambil
bentuk dari pengisinya seperti bila dituang kedalam gelas, cangkir ataupun
teko, sedangkan udara mempunyai sifat mengisi seluruh ruang tempatnya
berada.
Sifat-sifat fluida yang paling penting adalah:
1). Kerapatan (Density)
Kerapatan suatu zat adalah massa volume satuan zat tersebut. Untuk
cairan rapatnya bisa dianggap tetap untuk perubahan-perubahan
tekanan praktis. Rapat air adalah 1000 kg/m3 pada 4C. Rapat gas-gas
bisa dihitung dengan menggunakan persamaan keadaan gas :
R = P.Vs/T
Dimana:
P = tekanan mutlak dalam pascal
T = suhu mutlak dalam derajat Kelvin (273 + derajat Celcius)
R = tetapan gas (J/kg K)
Vs= volume spesifik per satuan massa (m3/kg)
Jadi volume spesifik merupakan kebalikan dari kerapatan yang artinya:
= 1 .Vs
2). Berat Jenis
Berat jenis adalah besarnya gaya gravitasi terhadap massa yang
terkandung dalam satu satuan volume zat (bobot per satuan volume).
dimana g = percepatan gravitasi
Dalam sistem SI dinyatakan dengan satuan N/m
3

Dalam sistem Inggris dinyatakan dengan satuan lb/ft
3

Contoh: Air dengan kerapatan = 1000 kg/m
3
dan percepatan
gravitasi g = 9,81 m/s
2
, maka berat jenisnya
= 1000 x 9,81 = 9810 N/m
3
.
3).Sifat kemampatan (komresibilitas)
Fluida dapat mengalami deformasi atau perubahan bentuk akibat
adanya geseran viskus (viscous shear) atau kompresi (pemampatan)
oleh suatu tekanan dari luar yang bekerja pada suatu volume fluida.
4). Tegangan permukaan dan kapilaritas
Molekul-molekul zat cair dibawah permukaan saling tarik menarik
dengan gaya tarik yang sama ke semua arah. Khusus pada molekul-
molekul dekat permukaan gaya tarikannya lebih besar, sehingga
terbentuk "permukaan" yang akan terlihat seperti membran yang
direntangkan. Efek membran ini mengakibatkan permukaan cairan
melakukan tarikan terhadap bagian-bagian yang berdekatan atau
tersentuh oleh cairan tersebut.
Contoh: tegangan permukaan air di udara sekitar 0,073 N/m atau 0,005
lbf/ft.
Naiknya kolom zat cair dalam sebuah pipa kecil adalah akibat tegangan
permukaan dan dinamakan gejala kapiler.

Kenaikan akibat gejala kapiler dinyatkan sebagai:
dimana: r = jari-jari pipa
= sudut kontrak
(persamaan tersebut hanya berlaku untuk diameter pipa yang relativ
kecil; diandaikan permukaan cairan dalam tabung berbentuk bola)
apabila < /2 akan terjadi kenaikan kapiler = /2 tidak akan
terjadi kenaikan atau penurunan (depresi) > /2 akan terjadi
penurunan (depresi) terhadap zat cair
Dengan bertambahnya diameter pipa, jari-jari lengkung akan semakin
besar dan kenaikan kapiler berkurang. Jika diameter tabung mendekati 1
cm atau lebih sedikit, kenaikan kapiler air dapat diabaikan.
5) Kekentalan (Viskositas)
Viskositas fluida merupakan sifat ketahanan suatu fluida terhadap
deformasi atau perubahan bentuk.Viskositas gas merupakan wujud dari
efek momentum molekuler (dengan gerakan acak dan tumpang tindih).
Viskositas gas akan bertambah besar dengan naiknya temperatur
(akibat naiknya aktivitas molekuler).
2.9.4. Bilangan Reynold
Bilangan Reynold merupakan besaran fisis yang tidak berdimensi.
Bilangan ini dipergunakan sebagai acuan dalam membedakan aliran
laminier dan turbulen di satu pihak, dan di lain pihak dapat dimanfaatkan
sebagai acuan untuk mengetahui jenis-jenis aliran yang berlangsung dalam
air. Hal ini didasarkan pada suatu keadaan bahwa dalam satu tabung/pipa
atau dalam satu tempat mengalirnya air, sering terjadi perubahan bentuk
aliran yang satu menjadi aliran yang lain. Perubahan bentuk aliran ini pada
umumnya tidaklah terjadi secara tiba-tiba tetapi memerlukan waktu, yakni
suatu waktu yang relatif pendek dengan diketahuinya kecepatan kristis
dari suatu aliran. Kecepatan kritis ini pada umumnya akan dipengaruhi oleh
usayaran pipa, jenis zat cair yang lewat dalam pipa tersebut.
Terdapat empat besaran yang menentukan apakah aliran tersebut
digolongkan aliran laminier ataukah aliran turbulen. Keempat besaran
tersebut adalah besaran massa jenis air, kecepatan aliran, kekentalan, dan
diameter pipa. Kombinasi dari keempatnya akan menentukan besarnya
bilangan Reynold. Oleh sebab itu, bilangan Reynold dapat dituliskan dalam
keempat besaran tersebut sebagai berisayat.

R
e
= ( v D)/
Keterangan:
R
e
: bilangan Reynold
: massa jenis
: viscositas/kekentalan
v : kecepatan aliran
D : diameter pipa

Anda mungkin juga menyukai