Anda di halaman 1dari 13

1

HUBUNGAN KERUSAKAN TANAH DAN NERACA HARA SEBAGAI


INDIKATOR PERTANIAN BERKELANJUTAN*)
(RELATION OF SOIL DEGRADATION TO NUTRIENT BALANCE AS
AN INDICATOR OF SUSTAINABLE AGRICULTURE)

Riyo Samekto**)

Abstracts

Soil degradation and nutrient balance are important for ecological nutrient
management in sustainable agriculture. Soil degradation in term of soil erosion is the
single most important environmental concern in the developing countries. Eroded
sediment also acts as both a physical and chemical pollutant. It has been become an
ecological, social and economic problem. Loss of nutrient by erosion from
agricultural areas in a sloping land is one of the major causes of land degradation in
Indonesia, yet the process by which the nutrient is depleted has often not been
answered by appropriate study. To relate soil degradation to nutrient balance becomes
important tool for monitoring sustainable agriculture.

Key words: soil degradation, nutrient balance, sustainable agriculture, ecological
nutrient management, sustainability indicator

*) Artikel di Jornal JOGLO Vol. 23 No. 1, Juli 2011. ISSN: 0215-9546
**) Dosen Fakultas Pertanian UNISRI Surakarta






















2

PENDAHULUAN
Kerusakan tanah dan sifat dakhil tanah merupakan faktor penentu dan/atau
pembatas dalam mendukung produksi tanaman. Oleh karena itu, diperlukan data
spasial mereka dalam usaha memahami karakteristiknya dalam rangka memanfaatkan
sekaligus mempertahankan dan memperbaiki daya dukungnya. Kerusakan tanah,
dalam hal ini, khusus dikaitkan dengan akibat manusia dalam pengelolaan usaha
taninya.
Neraca hara (nutrient balance) dan penyajian data secara spasial jenis tanah
dan kerusakan tanah akan diterapkan dalam hamparan tersebut. Sebagai contoh hara
nitrogen. Kelebihan nitrogen, di air permukaan (sungai, danau dan air laut) dari
kegiatan pertanian akan mempercepat proses eutrophication (misalnya pertumbuhan
ganggang dan kekurangan oksigen dalam air), yang dapat merusak keanekaragaman
hayati sungai, danau dan mengganggu penggunaan air sungai dan danau untuk air
minum, kehidupan ikan dan rekreasi (utamanya berhubungan dengan fosfat). Di air
tanah (air minum), nitrat yang cukup tinggi konsentrasinya dapat merusak kehidupan
baik kesehatan ternak maupun manusia dan meningkatkan biaya yang tinggi dalam
pemurnian air. Polusi air tanah secara potensial lebih bermasalah dibanding dengan
air peermukaan karena sekali terkena polusi, akan dibutuhkan waktu yang lama untuk
pebaikan menjadi normal bahkan ketika sumber polusinya sudah diatasi. Emisi
oksida nitogen (gas rumah kaca yang andil dalam perubahan iklim) dari pupuk
anorganik yang berlebihan dan gas amoniak yang secara tidak langsung terbentuk dari
pupuk kandang merupakan permasalahan pula. Amoniak, sekali tertimbun di tanah,
juga andil dalam pengasaman tanah dan air (OECD, 2001).
Permasalahan kerusakan tanah dan neraca sangat penting untuk keberhasilan
pengelolaan hara yang ramah lingkungan. Kelebihan hara tersebut yang tentunnya
dilakukan dalam sistem pertanian daerah tangkapan air, yang tentunya dilakukan
berulang-ulang akan menyebabkan pencemaran air dengan kandungan hara tersebut
melebihi ambang yang diperbolehkan. Disisi lain juga efisiensi usaha tani rendah.
Kekurangan input hara tentu saja akan berakibat produksi tanaman kurang optimum,
yang pada gilirannya, mengurangi tutupan lahan dan ini akan memperlambat
perbaikan kerusakan tanah disamping daya dukung lahan yang menurun akibat
perubahan penggunaan lahan dan erosi. Di sisi lain dari kekurangan input hara
tersebut akan barakibat penurunan perolehan dari produksi tanamannya.

3

Dengan monitoring kerusakan tanah dan neraca hara, diharapkan perbaikan
lahan dan perolehan hasil petani yang optimum dapat terpenuhi sekaligus tidak
mencemari lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan data tentang kerusakan tanah
dalam hubungan daya dukungnya terhadap biomassa dan neraca hara.

KERUSAKAN TANAH
Pada dasarnya ada dua kelompok cara klasifikasi tanah, yaitu klasifikasi alami
dan klasifikasi keteknikan. Klasifikasi alami mengelompokkan tanah bedasarkan
kesesuain sifat alaminya, tabiatnya, atau genesis dirinya sendiri, sedangkan klasifikasi
keteknikan mengelompokkan tanah berdasarkan beberapa sifat dan cirinya, atau
fungsinya yang berkaitan dengan tujuan penggunaan tertentu
(http://sis.agr.gc.ca/cansis/taxa/soil/; http://soils.usda.gov/technical/). Sebagai contoh
Klasifikasi tanah alami adalah Soil Taxonomy, dan klasifikasi tanah keteknikan adalah
Fertility Capability Classification Topsoil Classification, Hydrology of Soil Types
(HOST), Capability Classification (US and UK). Pemerintah Indonesia baru-baru ini
mengembangkan klasifikasi tanah keteknikan dengan tujuan mengidentifikasi
kerusakan tanah dan hubungannya dengan produksi biomassa (Peraturan Pemerintah
Indonesia No. 150, 2000). Kondisi tanah untuk penetapan status kerusakan tanah
ditetapkan berdasarkan hasil: (a) analisis, inventarisasi, dan/atau identifikasi terhadap
sifat dasar tanah; dan (b) inventarisasi kondisi iklim, topografi, potensi sumber
kerusakan, dan penggunaan tanah. Parameter pengembangan model pendugaan
kerusakan tanah dan produksi biomassa adalah hujan, lereng dan tindakan konservasi,
tataguna lahan, potensi banjir, sifat dakhil tanah, yang telah dikembangkan untuk
mempermudah proses pengharkatan kerusakan tanah melalui software pssl.exe.
Kriteria hujan dalam software ini adalah hujan tahunan yang mudah diperoleh
dan hanya terbagi dalam dua aras, yaitu di bawah 2500 mm/tahun dan di atas 2500
mm/tahun. Ini didasarkan atas alasan, bahwa: (a) energi kinetik > 1 yang merupakan
kumulatif curah hujan sebesar 20 mm/jam dianggap mempunyai kemampuan untuk
merusak tanah (Hudson, 1981); (b) hujan kumulatif bulanan > 250 mm berpotensi
menyebabkan erosi; (c) rerata curah hujan tahunan > 2.000 mm dengan sekitar 58 %
termasuk hujan erosif (pendekatan kasus di Nigeria); (d) nilai ambang digunakan
2.500 mm. Kemiringan lereng, panjang lereng, dan bentuk lereng, bila semua anasir
tersebut dirangkum sebagai faktor lereng akan sangat rumit. Kemiringan dan tindakan
konservasi dipakai sebagai keadaan muka tanah adalah: (a) < 8; 8 15; 15 25; 25

4

40; > 40 %; dan (b) tanpa konservasi, gulud, teras. Faktor land use dengan
mempertimbangkan: (a) lahan pertanian: sawah; tegal; kebun; bera ; (b) Hutan:
intensitas penutupan lahan yang didekati dengan pemanenan lewat kapasitas,
penjarahan dan bencana (kebakaran, angin topan dan sebagainya); (c) alih fungsi
hutan ke daerah pertambangan, perkebunan, pekarangan dan pemukiman, pertanian
(tanaman keras, tanaman semusim), pekarangan, dan lain lain; (d) hutan, tergantung
dari penutupan dan konversinya. Faktor banjir dipertimbangkan sebagai gangguan
terhadap kegiatan biotis: (a) tebal genangan; (b) kecepatan aliran air/stagnasinya; (c)
lama genangan: bebas, 2 s/d 10 hari, > 10 hari (Maas, 2009).
Dalam Peraturan Pemerintah No 150 tahun 2000, yang dimaksud dengan tanah adalah
salah satu komponen utama lahan yang merupakan lapisan teratas kerak bumi yang
terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta mempunyai sifat fisik, kimia,
biologi, dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan makhluk
hidup lainnya. Kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah berubahnya sifat
dasar tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah. Biomassa adalah
tumbuhan atau bagian-bagiannya yaitu bunga, biji, buah, daun, ranting, batang, dan
akar, termasuk tanaman yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian, perkebunan, dan
hutan tanaman. Sifat dasar tanah adalah sifat dasar fisika, kimia, dan biologi tanah.
Berubahnya sifat dasar tanah dalam hubungannya dengan produksi biomassa dapat
disebabkan oleh tindakan-tindakan pengolahan tanah yang semena-mena, penggunaan
pupuk kimia yang berlebihan serta dapat juga disebabkan penggunaan pestisida
maupun herbisida yang terus menerus dengan takaran yang melampau batas (Sirads,
2006).
Sifat dakhil/dasar (Tabel 1) tanah yang digunakan dalam kriteria kerusakan
tanah dan produksi biomassa untuk lahan kering adalah ketebalan solum, kebatuan
permukaan, komposisi fraksi, berat isi, porositas total, derajad pelulusan air, pH
(H
2
O), daya hantar listrik, redoks, dan jumlah mikroba (Peraturan Pemerintah
Indonesia No. 150, 2000). Munculnya peraturan pemerintah tersebut berdasarkan
pertimbangan bahwa tanah sebagai salah satu sumber daya alam, wilayah hidup,
media lingkungan, dan faktor produksi biomassa yang mendukung kehidupan
manusia serta makhluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara kelestarian
fungsinya; bahwa meningkatnya kegiatan produksi biomassa yang memanfaatkan
tanah maupun sumber daya alam lainnya yang tak terkendali dapat mengakibatkan
kerusakan tanah untuk produksi biomassa, sehingga menurunkan mutu serta fungsi

5

tanah yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan
makhluk hidup lainnya.


Tabel 1. Kriteria baku kerusakan tanah lahan kering
NO. PARAMETER AMBANG
KRITIS
METODE
PENGUKURAN
PERALATAN
1 - Ketebalan
solum
< 20 cm
pengukuran
langsung
meteran
2 - Kebatuan
permukaan
> 40 % pengukuran
langsung
imbangan batu
dan tanah dalam
unit luasan
meteran;
counter ( line
atau total)
3 - Komposisi
fraksi
< 18%
koloid; >
80% pasir
kuarsitik
warna pasir,
gravimetrik
tabung ukur;
timbangan
4 - Berat isi > 1,4 g/cm gravimetri pada
satuan volume
lilin; tabung
ukur; ring
sampler;
timbangan
analitik
5 - Porositas Total < 30%; >
70%
perhitungan berat
isi (BI) dan berat
jenis (BJ)
piknometer;
timbangan
analitik
6 - Derajat
pelulusan air
< 0,7
cm/jam; >
8,0 cm/jam
permeabilitas ring sampler;
double ring
permeameter
7 - pH ( H20) 1:
2,5
< 4,5 ; > 8,5 potensiometrik pH meter; pH
stick skala 0,5
satuan
8
-Daya Hantar
Listrik/DHL
> 4,0 mS/cm tahanan listrik EC meter
9 - Redoks < 200 mV tegangan listrik pH meter;
elektroda
platina
10 - Jumlah mikroba < 102 cfu/g
tanah
plating technique cawan petri;
colony
counter
Sunber: Lampran PP. 150 tahun 2000


6

NERACA HARA (NUTRI ENT BALANCE)
Berbagai macam metode pendekatan neraca hara (nutrient balance) dalam
usaha tani ramah lingkungan telah dikembangkan pada aras global, nasional, regional,
dan lokal tergantung pada luas cakupan dan fungsinya (Pacini et al., 2003; Bindraban
et al., 2000; Bengtsson, 2005; OECD, 2001; Duncombe-Wall et al., 1999; Azar et al.,
1996; Payraudeau & Werf, 2005). OECD (2001) membedakan pada garis besarnya
menghitung neraca hara menjadi dua metode, yaitu metode farm-gate dan metode
soil-surface (OECD & EuroStat 2007; Oenema et al. 2003).
Sangat penting untuk menemukan cara meningkatkan keuntungan ketika
sekaligus memperkecil kehilangan nitogen dan fosfor menuju penurunan kualitas
lingkungan hidup. Persoalan ini membutuhkan pemeliharaan kesetimbangan neraca
hara di pintu muara wilayah pertanian. Neraca hara (nutrient balance) didefinisikan
sebagai jumlah N dan P yang diimpor/masuk melalui produk yang dibeli dan jumlah
yang diekspor/keluar dari wilayah pertanian sebagai susu, daging, produk tanaman,
pupuk kandang dan/atau kompos. Penghitungan seperti ini dapat membatu mengenal
alternatif pengelolaan hara yang dapat meningkatkan keseluruhan efisiensi
penggunaan hara (dan mengurangi kehilangan hara) dan meningkatkan keuntungan
usaha tani di dalam wilayah itu (Rasmussen et al., 2010).
Analisis neraca hara membantu kelompok tani untuk menentukan kapan terjadi
ketidakefisiensian terbesar dalam penggunaan hara. Program neraca hara dikembangkan
untuk digunakan bagi para petani untuk (Rasmussen et al., 2010):
a. Menghitung jumlah hara yang diimpor, diekspor, dan didaurkan melalui
produksi tanaman dan rumput di wilayah pertanian itu
b. Menghitung hara yang dibeli, pupuk, ternak, dan bahan-bahan untuk bibit.
c. Menghitung hara yang diekspor melalui penjualan keseluruhan kegiatan usaha
tani yang meliputi pakan ternak, susu, ternak, produk tanaman, dan pupuk
kandang/kompos
d. Membuat laporan yang menunjukkan impor ekspor N dan P dalam ton untuk
keseluruhan usaha tani dan dalam kg/ha untuk produksinya, per kg produk
yang terjual, atau per unit ternak terjual
e. Mengidentifikasi wilayah untuk yang perlu di perbaiki dan peluang-peluangnya
untuk lebih efisien menggunakan hara, yang jika dilakukan, dapat
meningkatkan keuntungan dan mengurangi dampak terhadap penurunan
kualitas lingkungan hidup.

7


Hukum Termodinamik I yang juga disebut kondisi kesetimbangan bahan,
menyebutkan bahwa hara dalam suatu sistem pertanian tidak hilang dan bahwa input
hara berakhir dalam timbunan cadangan atau aliran output. Dengan kata lain, input
hara ditransformasikan ke dalam barang-barang yang berguna (contoh: pangan) dan
barang yang merusak (contoh: polusi). Secara matematis disajikan sebagai berikut:

z=ax by (1)

Dimana z adalah neraca hara, dan menyamai jumlah hara yang memasuki
sistem dikurang dengan jumlah hara yang keluar dari sistem. x dan y adalah vektor
input dan output dari suatu proses produksi sedangkan a, dan b, adalah vektor
koefisien yang mewakili kadar hara dalam inpu dan output. Koefisien-koefisien ini
dinamakan koefisien konversi hara. Kelebihan masukan membuat neraca positif dan
menaruh lingkungan dalam resiko dan dalam jangka menengah dan panjang pengaruh
negativitas ini akan mepengaruhi output produksi. Kekurangan masukan hara
menyebabkan neraca negatif dan resiko kekurangan hara yang mempengaruhi
produksi pertanian. Di antara keduanya, suatu situasi neraca mengindikasikan bahwa
ada suatu kesetimbangan dalam agihan sistem pertanian yang dipilih (Viet-
Ngu&aluddin, 2009).
Metode analisis soil-surface adalah neraca perbedaan antara hara yang
memasuki dan keluar dari permukaan-tanah (soil-surface), yang meliputi masukan
dari pupuk, pupuk kandang, timbunan atmosfer, fiksasi biologis dan keluaran hara
yang meliputi panen terjual dan tanaman pakan dan rumput. Metode farm-gate
mempertimbangkan sistem sebagai suatu black box analisis tingkat farm, regional
dan nasional dengan alasan adaptibilitas, akurasi, dan interpretasi. Gambar 1 adalah
usul kombinasi antara soil-gate dan farm-gate (Viet-Ngu&aluddin, 2009).




8


Gambar 1. Model usulan kombinasi analysis soil-surface dengan farm-gate
(Viet-Ngu&aluddin, 2009)

PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN
Pertanian ramah lingkungan (sustainable agriculture) atau pertanian alternatif
(alternative agriculture) secara fundamental adalah pertanian yang condong ke arah
memperhatikan kelestarian lingkungan. Pertanian ramah lingkungan (sustainable
agriculture) menitik-beratkan ke arah baik keberlanjutan dalam bidang ekonomi dan
dalam bidang lingkungan hidup. Setiap sistem pertanian yang benar-benar
lestari/berlanjut harus memiliki perhatian pada kedua hal tersebut. Petani tidak dapat
melaksanakan kegiatan pertaniannya kalau tidak menguntungkan secara ekonomis.
Sementara itu, ada kebutuhan yang mendesak tentang pelestarian lingkungan sehingga
praktek pertanian harus mempertahankan kualitas hidup dan produksi pertanian tidak
hanya buat generasi sekarang tetapi juga generasi yang akan datang. Pertanian ramah
lingkungan bukan berarti pertanian organik (pertanian tanpa menggunakan masukan
bahan kimia sintetis), meskipun intensitas perhatiannya mengarah kepada penggunaan
komponen organik, khususnya pestisida dan pupuk (Muir, 2008).

9

Pertanian alternatif adalah sistem pertanian yang menitik-beratkan pada
praktek pertanian yang berbeda dari yang biasanya dilakukan dalam pertanian
konvensional, akibat revolusi hijau. Sebagai contoh, Praktek pertanian dengan
mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik sebagai sumber utama dari
kesuburan tanah dapat digolongkan sebagai pertanian alternatif (Muir, 2008).
Apa saja akibat revolusi hijau yang menyebabkan pertanian tidak ramah
lingkungan atau tidak lestari (Muir, 2008):
a. Kerusakan tanah yang dapat menyebabkan erosi tanah dan hara
b. Masukan bahan bakar yang tinggi (industri pupuk)
c. Ketergantungan masukan pupuk anorganik untuk meningkatkan kesuburan tanah
dengan biaya yang mahal
d. Ketergantungan pada pestisida sintetik untuk pengendalian hama dengan biaya
yang mahal
e. Penurunan keanekaragaman hayati
f. Penggunaan air irigasi yang berlebihan dan tidak tepat
Menyimak perkembangan praktek pertanian masa lalu, praktek penggunaan
pupuk kimia yang berkonsentrasi tinggi dan dengan dosis yang tinggi dalam kurun
waktu yang panjang ternyata menyebabkan terjadinya kemerosotan kesuburan tanah
karena terjadi ketimpangan hara atau kekurangan hara lain, dan semakin merosotnya
kandungan bahan organik tanah. Demikian juga halnya dengan dampak negatip dari
penggunaan pestisida ini mulai meresahkan masyarakat, antara lain berupa
pencemaran air, tanah, dan hasil pertanian, gangguan kesehatan petani, menurunya
keanekaragaman hayati (Atmojo, 2007).
Penggunaan obat-obatan kimia dalam kurun yang panjang, akan berdampak
pada kepunahan musuh alami hama dan penyakit, dan kehidupan biota tanah. Hal ini
menyebabkan terjadinya ledakan hama penyakit dan degradasi biota tanah. Bahkan
saat ini residu pestisida akan menjadi faktor penentu daya saing produk-produk
pertanian yang akan memasuki pasar global. Oleh karena itu perlu dicari pupuk dan
obat-obatan yang ramah lingkungan, sehingga aman dan tidak menjamin kelestarian
sumber daya lahan kita (Atmojo, 2007).
Hubungan antara indikator yang dikembangkan di Canada antara indikator
lingkungan, yaitu indikator aktivitas manusia dan indikator respon sosial, ditunjukkan
pada Gambar 2.


10













Gambar 2. Hubungan antara tiga indikator (AAFC, 2000)

Aktivitas manusia: Pemupukan dan neraca hara. Pengolahan tanah,
pemupukan, dan pengendalian hama penyakit merupakan aktivitas manusia yang
berkaitan dengan pertanian. Pemupukan telah dipilih sebagai indikator representatif.
Pengendalian hama dan penyakit akan di bahas diluar konteks ini. Dan pengolahan
tanah akan dicakup secara tidak langsung dalam dua indikator tanah. Petani harus
menambah hara yang khususnya memiliki mobilitas tinggi di dalam tanah untuk
meningkatkan hasil panen yang memenuhi kebutuhan manusia dan memelihara
kesuburan tanah. Sumber utama hara yang ditambahkan dalam tanah adalah pupuk
anorganik dan pupuk kandang. Sludge dan kompos dari sampah jarang didigunakan.
Hara yang biasa dan umum ditambahkan adalah nitogen, fosfor dan kalium. Nitrogen
adalah hara yang mobil dalam tanah. Kelebihan pemupukan akan menyebabkan
pencemaran air permukaan dan air tanah atau lencemaran liwat gas nitrogen dalam
bentuk oksida nitrogen. Faktor lain seperti cuaca, permeabilitas tanah, dan aktivitas
pengelolaan tanah, mempengaruhi apakah hara yang berlebihan dalam tanah akan
menyebabkan permasalahan lingkungan. Pemupukan yang kurang akan menghasilkan
penurunan serius dalam kesuburan tanah. Pemupukan dan indikator neraca hara
(nitrogen tersisa) membuktikan apakah diperoleh kesetimbangan antara ketersediaan
hara dan kebutuhan tanaman.
AKTIVITAS MANUSIA

Pemupukan dan
Neraca hara
RESPON SOSIAL


Tutupan lahan oleh
tanaman dan sisa
tanaman


KONDISI LINGKUNGAN
ATAU EFEK


Resiko kerusakan
lahan

11

Indikator lingkungan: kerusakan tanah. Sekelompok indikator resiko
kerusakan tanah dipilih untuk menampilkan kondisi lingkungan akibat aktivitas
manusia terhadap lahan. Kadar bahan organik tanah memiliki potensi sebagai
indikator yang representatif dari kondisi lingkungan, tetapi keterbatasan data menjadi
kendalanya. Tanah dapat terdegradasi oleh aktivitas bertani dan oleh proses erosi.
Beberapa praktek usaha tani, seperti tanah dibiarkan bero satu kali musim tanam,
meningkatkan erosi. Prektek usaha tani yang lain, seperti konservasi dan mengubah
penggunaan lahan dengan tanaman penutup tanah, mencegah tanah dari erosi.
Indikator respon sosial. Penelitian telah banyak sekali dilakukan dalam saat
pemupukan, metode penyimpanan pupuk kandang yang baik, metode perlakuan
pemupukan, dan teknik-teknik untuk meningkatkan pengelolaan hara dan memelihara
kesehatan tanah. Semua teknik ini menunjukkan tingkat tanggapan sosial para
petani.

KESIMPULAN











Gambar 3. Posisi neraca hara dan kerusakan tanah dalam sistem pertanian
ramah lingkungan (usulan)

Dalam pertanian ramah lingkungan, neraca hara dan kerusakan tanah adalah
indikator tahana (state) dan akibat (impacts) dari rangkaian proses hubungan antara
pengaruh alam terhadap manusia dan lingkungan hidupnya (Gambar 3). Pengarah
driving force menyebabkan tekanan terhadap tahana (state) dan akibat (impacts) yang
mempengaruhi respon sosial manusia terhadap perbaikan keduanya. Dengan demikian
STATE



IMPACTS




Kerusakan
tanah
Respon sosial
pengelolaan

TEKANAN

DRIVING
FORCE



Neraca hara
N P


12

respon sosial dapat diketahui dengan indikator neraca hara N dan P, yang selanjutnya
diusulkan menjadi indikator proses. Kerusakan tanah merupakan indikator faktor
dari tekanan pengaruh dari driving force (iklim, topografi, geologi/bahan induk,
vegetasi).
Dengan dua indikator yang disajikan dalam bentuk peta spasial itu, dapat
digambarkan indikator proses dan indikator faktor terhadap pertanian ramah
lingkungan. Posisi respon sosial tehadap proses pengelolaan pertanian ramah
lingkungan, dengan demikian, akan semakin jelas. Indikator proses respon sosial,
yang didemonstrasikan oleh neraca hara, menjadi alat ukur untuk tingkat kepedulian
manusia dalam menanggapi indikator faktor, yang didemonstrasikan oleh kerusakan
tanah. Indikator faktor adalah indikator yang mendemonstrasikan tekanan driving
force.

DAFTAR PUSTAKA
AAFC (2000) Environmental sustainability of Canada,s agricultural soil. SOE
Bulletin No. 2000- 1
Atmojo S.W. (2007). Pertanian sehat ramah lingkungan. Solo Pos: 5 Desember, 2007
Azar C., J. Holmberg and K. Lindgren (1996). Socio-ecological indicators for
sustainability. Ecological Economics. 18: 89-112
Bengtsson H (2005). Nutrient and trace element flows and balances at the jebyn
dairy farm: aspects of temporal and spatial variation and management
practices. Faculty of Natural Resources and Agricultural Sciences Department of
Soil Sciences Uppsala. Doctoral thesis Swedish University of Agricultural
Sciences Uppsala 2005
Bindraban P.S., J.J. Stoorvogel, D.M. Jansen, J. Vlaming and J.J.R. Groot (2000).
Land quality indicators for sustainable land management: proposed method
for yield gap and soil nutrient balance. Agriculture, Ecosystems and
Environment 81: 103112
Canada State of the Environment (2000). Fertilization and nutrient balance Risk of
soil degradation Crop and residue cover:Environmental Sustainability of
Canadas Agricultural Soils. Reporting Program. Agriculture and Agri-Food
Canada Agriculture et Agroalimentaire Canada. SOE Bulletin No. 2000-1
Duncombe-Wall D, P. Moran, C. Heysen and D. Kraebenbuehl (1999). Agricultural
sustainability indicators for region of South Australia. Primary Industries and
Resources. South Australia.

13

Hartemink A.E., T. Veldkamp and Z. Bai (2008). Land Cover Change and Soil
Fertility Decline in Tropical Regions. Turk J Agric For 32: 195-213
Kasdi S., T. Vadari and Sukristiyononubowo (2007). Nutrient loss by erosion under
different land use system in Babon Catchment, Central Java, Indonesia. Actes
des JSIRAUF, Hanoi, 6-9 novembre 2007.
KLH, 2000. PP 150, 2000. Baku mutu kerusakan tanah untuk produksi biomassa.
Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.
Muir P. (2008). What is "sustainable agriculture?".
http://people.oregonstate.edu/~muirp/whatsust.htm
OECD (1999). Evironmental indicators for agriculture: Volume 1 concepts and
framework. Head of Publications Service, OECD Publications Service, 2 rue
andre-Pascal, Paris, Cedex 16, France
OECD (2001). OECD national soil surface nitrogen balances: explanatory notes.
www.oecd.org/agr/env/indicators.htm
Pacini C., A. Wossink, G. Giesen, C. Vazzana and R. Huirne (2003). Evaluation of
sustainability of organic, integrated and conventional farming system: a farm
and field-scale analysis. Agriculture, Ecosystems and Environment 95: 273-
288
Payraudeau S. and H.M.G van der Werf (2005). Environmental impact assessment for
farming region: a review of methods. Agriculture, Ecosystems and
Environment. 107:1-19
PPLH-PSSL UGM, 1999. Penyusunan pedoman teknis pelaksanaan peraturan baku
mutu tanah dan kriteria kerusakan tanah. Kerjasama dengan Bapedal Pusat,
Jakarta
PSSL, 2000. Studi Kinerja ISDP. Laporan penelitian kerjasama PSSL UGM Deptan.
Rasmussen C., S. Moss, P. Ristow and Q. Ketterings (2010). Nutrient Management
Spear Program. http://nmsp.cals.cornell.edu
van der Werf H.M.G. and J. Petit (2002). Evaluation of the environmental impact of
agriculture at the farm level: a comparison and analysis of 12 indicator-based
methods. Agriculture, Ecosystems and Environment. 93: 131145
Viet-Ngu H. and M. Alauddin (2009). A new framework of measuring national
nutrients balance for international and global comparison. Discussion Paper
No. 389, May 2009, School of Economics, The University of Queensland.
Australia.