Anda di halaman 1dari 7

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No.

X, (Mar, 2013) ISSN: 2301-9271



Pemodelan Aliran Tumpahan Minyak Dalam
Manajemen Perencanaan Penanggulangan Bencana
Tumpahan Minyak
(Studi Kasus: Perairan Teluk Bintuni, Papua Barat)

Alan Christ Rahadian
1)
, Yuwono
2)

Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
Email: alan.rahadiann@yahoo.com
1)
,


Abstrak Minyak bumi bagi I ndonesia adalah salah satu
sumber kekayaan alam yang sangat potensial. Dan
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi
merupakan tahap awal dari usaha pertambangan
tersebut. Namun, merupakan tahap yang dapat beresiko
gagal sangat tinggi. Serta dapat mengakibatkan
kerusakan ekosistem dan lingkungan daerah sekitar
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang parah. Hal
terburuknya adalah terjadinya bencana tumpahan
minyak. Untuk itu dibutuhkan suatu manajemen
perencanaan penanggulangan bencana tumpahan
minyak dari suatu model simulasi dan peta sebaran aliran
tumpahan minyak.
Penelitian ini menggunakan suatu pemodelan
matematika dengan metode hidrodinamika yang
digunakan untuk membuat simulasi mengenai
penyebaran aliran tumpahan minyak, serta membuat peta
aliran tumpahan minyak yang nantinya dapat
menunjukkan lokasi yang mempunyai dampak terparah
dalam bencana tersebut. Karakteristik oseanografis juga
dikaji guna mendapatkan parameter sebaran aliran
tumpahan minyaknya.
Hasil pada penelitian ini dapat digunakan untuk
memprediksi arah alir tumpahan minyak berdasarkan
model simulasi yang mengacu pada parameter musim
angin yang terjadi di I ndonesia. Dibutuhkan juga
manajemen perencanaan penanggulangan bencana
tumpahan minyak guna meminimalisir dampak negatif
dari bencana tumpahan minyak tersebut.


Kata KunciMinyak Bumi, Eksplorasi, Eksploitasi,
Hidrodinamika, Bencana Tumpahan Minyak

I. PENDAHULUAN

ebutuhan manusia akan energi semakin besar,
seiring dengan semakin berkembangnya waktu dan
teknologi. Hampir setiap kegiatan manusia dalam
kehidupan sehari hari membutuhkan sumber
daya energi seperti minyak bumi, gas alam dan
batuan mineral lainnya. Indonesia sendiri
merupakan salah satu penghasil sumber daya alam
terbesar di dunia. (DitJen Migas, 2013)
Minyak bumi adalah salah satu sumber
kekayaan alam yang sangat potensial. Pada tahun
2013, produksi minyak bumi di Indonesia
mencapai angka 120 ribu barel per hari. Jadi,
bidang energi menjadi salah satu sumber devisa
terbesar bagi Negara. (DitJen Migas, 2013)
Guna menjaga kelangsungan suplai energi
domestik, kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di
Indonesia harus terus dilakukan. Masalah yang
sering terjadi pada kegiatan eksplorasi dan
eksploitasi minyak bumi adalah kerusakan
lingkungan di wilayah setempat. Dan hal terburuk
yang dapat terjadi adalah terjadinya tumpahan
minyak, yang dapat merusak ekosistem yang ada
di laut ataupun pesisir kawasan tersebut. Semakin
lambat penanggulangan penyebaran tumpahan
minyaknya, maka semakin besar juga kerugian
yang diderita baik oleh perusahaan maupun
masyarakat setempat. Terutama oleh masyarakat
yang menggantungkan mata pencahariannya di
laut seperti nelayan, petani rumput laut dll.
Oleh karena itu, melihat dari dampak
negatif yang bisa ditimbulkan bencana tumpahan
minyak, maka perlu dilakukan tindakan untuk
melindungi kawasan sekitar kegiatan eksplorasi
dan eksploitasi minyak bumi. Tindakan yang bisa
dilakukan untuk melindungi wilayah tersebut dari
ancaman sebaran tumpahan minyak adalah dengan
membuat simulasi mengenai penyebaran tumpahan
minyak dan perencanaan manajemen
penanggulangan tumpahan minyak yang dapat
dibuat dengan metode Pemodelan Matematika,
K
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Mar, 2013) ISSN: 2301-9271

serta mengkaji karakteristik oseanografis yang
dapat dijadikan sebagai parameter sebaran aliran
tumpahan minyak.


II. METODE PENELITIAN

Lokasi yang digunakan pada penelitian ini meliputi
Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan yang terdiri dari tujuh
kecamatan yaitu Kecamatan Rembang, Bangil, Beji,
Pandaan, Sukorejo, Wonorejo dan Kraton.


Gambar 1. Lokasi Penelitian
(Peta RBI Digital Kabupaten Pasuruan tahun 1993)

Dalam penelitian ini, pemantauan ruang terbuka hijau
dilakukan pada tahun 1993 dan 2009 dengan dipetakan
menggunakan metode penginderaan jauh dengan
memanfaatkan data peta RBI digital dan citra satelit ALOS
AVNIR-2 menggunakan algoritma NDVI dengan
klasifikasi terselia berdasarkan maximum likelihood untuk
mendapatkan luas ruang terbuka hijau di Wilayah Barat
Kabupaten Pasuruan. Pengumpulan data primer dan
sekunder diperlukan untuk menunjang penguatan analisa
seperti data curah hujan, jumlah penduduk, dasar hukum
dan penelitian lain. Adapun analisa yang diperlukan adalah
analisa nilai NDVI, analisa ketelitian nilai NDVI, analisa
perubahan ruang terbuka hijau, analisa kesesuaian hasil
algoritma NDVI citra ALOS AVNIR-2 dengan Undang-
Undang No. 26 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri
Perindustrian No. 35 Tahun 2010. Dari tahapan diatas akan
dapat diperoleh perubahan ruang terbuka hijau di Wilayah
Barat Kabupaten Pasuruan.




Gambar 2. Diagram Alir Pengolahan Data










III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau dari Peta RBI
Digital
Proses pengolahan untuk mendapatkan RTH pada peta
RBI digital yaitu dengan cara reklasifikasi. Hasil dari
reklasifikasi tersebut terdiri dari enam kelas yang
ditunjukkan pada tabel 3.

Tabel 1. Luas Area Tutupan Lahan tahun 1993
Kelas Luas (Ha)
%
Area Terbangun
4670,308 13,685
Sawah
17741,347 51,987
Tegalan
1617,75 4,740
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Mar, 2013) ISSN: 2301-9271

Kawasan hijau
6042,252 17,705
Lapangan
944,95 2,769
Badan Air
3110 9,113
Total
34126,607 100

Tabel 2. Luas Area Tutupan Lahan Kawasan PIER
tahun 1993
Kelas
Luas (Ha) %
Area Terbangun
0,282 0,056
Sawah
6,424 1,285
Tegalan
0 0
Kawasan Hijau
283,149 56,630
Lapangan
210,013 42,003
Badan Air
0,132 0,026
Total
500 100


B. Koreksi Geometrik

Gambar 3. Sebaran Ground Control Point

Untuk koreksi geometrik diberikan toleransi nilai
RMSE 1 piksel dan untuk jaring titik kontrol ditentukan
dengan meletakkan titik-titik kontrol yang merata
mencakup daerah studi dengan nilai toleransi SOF
mendekati nol [4]. Berikut hasil perhitungan RMSE dan
SOF.
Tabel 3. Perhitungan RMS Error pada Citra
ALOS AVNIR-2

Besar SoF =
[

]

= 0.57

C. Hasil Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau dari Citra
Proses pengolahan citra dengan menggunakan algoritma
NDVI menghasilkan nilai spektral indeks vegetasi untuk
seluruh daerah penelitian. Untuk itu dilakukan klasifikasi
terselia berdasarkan maximum likelihood untuk
mendapatkan kelas tutupan lahan. Hasil dari klasifikasi
ditunjukkan pada tabel 2. Kelas yang termasuk RTH adalah
area terbangun, sawah, tegalan, kawasan hijau, lapangan
dan badan air.
Tabel 4. Luas Area Tutupan Lahan Tahun 2009
Kelas Luas (Ha) %
Area Terbangun 14458,866 42,368
Sawah 13122,756 38,453
Tegalan 410,463 1,203
Kawasan hijau 1822,336 5,340
Lapangan 631,466 1,850
Badan Air 3680,72
10,785
Total 34126,607
100

Tabel 5. Luas Area Tutupan Lahan Kawasan PIER
tahun 2009
Kelas
Luas (Ha) %
Area Terbangun
126,997 25,399
Sawah
0 0
Tegalan
0 0
Kawasan Hijau
277,822 55,564
Lapangan
95,181 19,036
Badan Air
0 0
Total
500 100


D. Analisa Nilai NDVI
Tabel 6. Nilai NDVI Tiap Kelas
Kelas
Nilai NDVI
min max mean
Area Terbangun -0,241 -0,103 -0,172
Sawah 0,029 0,550 0,290
Kawasan Hijau 0,004 0,029 0,016
Tegalan -0,090 0,004 -0,044
Lapangan -0,103 -0,090 -0,096

Data curah hujan pada bulan Agustus 2009 menunjukkan
angka nol (nilai yang rendah) [5] sehingga hal itu
mempengaruhi nilai NDVI untuk setiap obyek. Dalam hal
Koordinat Citra
(Actual)
Koordinat Citra
(Predict)
Kesalahan
RMS
Error
X Y X Y
Error
X
Error
Y
4302 4872.50 4301.83 4872.41 -0.16 -0.08 0.18
5430 4981.75 5430.26 4982.12 0.26 0.37 0.45
5830 5300 5830.10 5300.05 0.10 0.05 0.11
6294 5833.50 6293.51 5833.28 -0.48 -0.21 0.53
6143.50 6566.50 6143.56 6566.43 0.06 -0.06 0.09
5209.75 7154.63 5209.92 7155.02 0.17 0.39 0.42
5896 6137 5896.23 6137.26 0.23 0.26 0.35
5258.75 6450.25 5258.61 6449.94 -0.13 -0.30 0.33
4804 6559 4803.73 6558.70 -0.26 -0.29 0.39
5064 5767.25 5063.91 5767.10 -0.08 -0.14 0.16
5079.75 5442.25 5079.68 5442.03 -0.06 -0.21 0.22
4985.50 6164 4985.89 6164.27 0.39 0.27 0.48
4443.75 5391.25 4443.87 5391.06 0.12 -0.18 0.22
4439.13 6039.50 4438.90 6039.26 -0.22 -0.23 0.32
3977.75 5565 3977.81 5565.39 0.06 0.39 0.40
Total RMS Error 5.11
Rata-rata RMS Error 0.34
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Mar, 2013) ISSN: 2301-9271

ini, nilai NDVI untuk obyek kawasan hijau, tegalan dan
lapangan cenderung lebih rendah dibandingkan pada bulan
lain dengan jumlah curah hujan tinggi.
Akan tetapi, nilai NDVI untuk obyek sawah cenderung
meningkat. Hal ini didasarkan pada bulan Agustus 2009,
sawah telah mengalami fase vegeratif sehingga
menyebabkan nilai NDVI menjadi lebih tinggi dari bulan
lainnya pada saat fase awal tanam, fase generatif, dan fase
bera.

E. Analisa Ketelitian Nilai NDVI
Statistik nilai NDVI untuk masing-masing kelas adalah
sebagai berikut :

Tabel 7. Statistik Nilai NDVI Tiap Kelas
Kelas
Nilai NDVI
n stdev CSE
Area Terbangun 25 0,421 0,016
Sawah 20 0,124 0,006
Tegalan 16 0,179 0,011
Kawasan hijau 17 0,280 0,017
Lapangan 18 0,337 0,019
Badan Air 10 0,639 0,071

Keterangan :
n = jumlah sampel
Stdev = standar deviasi sampel
CSE = Coefficient Standard Error / koefisien
kesalahan standar

Tingkat presisi diukur dengan koefisien kesalahan
standar. Semakin kecil koefisien standard error, semakin
tinggi presisi dari sampel itu [6]. Presisi yang didapat cukup
baik dengan nilai presisi sampel terbaik adalah sawah
karena jumlah sampel yang diambil memang lebih banyak
dari kelas lain selain area terbangun. Area terbangun
memiliki presisi yang lebih rendah daripada sawah padahal
area terbangun memilki jumlah sampel yang lebih banyak.
Hal ini disebabkan karena sampel dari area terbangun
kurang mewakili dari populasi area terbangun. Akan tetapi
secara keseluruhan, nilai sampel NDVI untuk daerah
penelitian ini baik karena memiliki nilai kecil.
Hal yang paling mungkin untuk mengetahui tingkat
akurasi adalah membandingkan dengan data penelitian lain
[6]. Dalam penelitian ini hal tersebut tidak dapat dilakukan
karena tidak ada penelitian lain yang memungkinkan untuk
dibandingkan. Ketidakmungkinan itu disebabkan karena
tidak adanya penelitian lain yang sama dalam hal lokasi,
waktu, dan citra.

F. Analisa Perubahan Ruang Terbuka Hijau
Berikut adalah persentase luas tutupan lahan hasil
klasifikasi tahun 1993 dan 2009.

Gambar 4. Persentase Luas Tutupan Lahan Tahun 1993


Gambar 5. Persentase Luas Tutupan Lahan Tahun 2009

Berikut adalah grafik perbandingan luas tutupan lahan hasil
klasifikasi tahun 1993 dan 2009.


Gambar 6. Grafik perbandingan luas tutupan lahan tahun
1993 dan 2009

Dari grafik diatas menunjukkan luas ruang terbuka hijau
(sawah, tegalan, kawasan hijau, dan lapangan) Wilayah
Barat Kabupaten Pasuruan pada tahun 1993 sebesar
26346,299 Ha dan pada tahun 2009 sebesar 15987,021 Ha.
Dari grafik di atas dapat pula disimpulkan bahwa untuk
kelas RTH yaitu kelas sawah, kawasan hijau, tegalan,
lapangan mengalami penurunan luas. Sedangkan untuk
kelas area terbangun mengalami peningkatan luas hingga
hampir tiga kali lipat.
Kelas area terbangun mengalami peningkatan yang
signifikan hingga hampir tiga kali lipat, hal ini juga
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu peningkatan jumlah
penduduk. Pada tahun 1993 penduduk Kabupaten Pasuruan
berjumlah 1.130.282 jiwa sedangkan pada tahun 2009
meningkat menjadi 1.500.533 jiwa [7] sehingga area
pemukiman juga meningkat dan pembangunan kawasan
13.685
51.987
4.740
17.705
2.769
9.113
Persentase Luas Tutupan Lahan Tahun 1993
Area Terbangun
Sawah
Tegalan
Kawasan Hijau
Lapangan
Badan Air
42.368
38.453
1.203
5.340
1.850
10.785
Persentase Luas Tutupan Lahan Tahun 2009
Area Terbangun
Sawah
Tegalan
Kawasan Hijau
Lapangan
Badan Air
0
5000
10000
15000
20000
Tahun 1993
Tahun 2009
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Mar, 2013) ISSN: 2301-9271

industri yang terus berkembang dimana sesuai tujuan
perencanaan wilayah Kabupaten Pasuruan sebagai kota
industri.
Disajikan detil perubahan ruang terbuka hijau per-
kecamatan di Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan pada
tabel 5.

Tabel 8. Perubahan RTH Per Kecamatan
Kecamatan
RTH
Luas Area (Ha)
1993 % 2009 % Perubahan
Rembang
5262,45546 87,646 2224,088 37,042 -3038,36746
Wonorejo
3757,199 85,991 2534,571 58,009 -1222,628
Sukorejo
5010,862 85,992 2825,789 48,494 -2185,073
Pandaan
3511,022 80,675 2709,364 62,255 -801,658
Kraton
4005,24 71,483 2683,685 47,897 -1321,555
Beji
3167,01 81,172 2092,432 53,630 -1074,578
Bangil
1623,66354 39,900 908,245 30,319 -715,41854
Total -10359,278

Berikut adalah grafik perubahan ruang terbuka hijau antara
tahun 1993 dan 2009.


Gambar 7. Perubahan RTH Per Kecamatan



Gambar 8. Perubahan Tutupan Lahan Kawasan PIER

Dari tabel 4.21 menunjukkan luas ruang terbuka
hijau (kelas sawah, tegalan, kawasan hijau, lapangan)
Kawasan PIER pada tahun 1993 sebesar 499,586 Ha
dan pada tahun 2009 sebesar 373,003 Ha. Hal ini
memperlihatkan perubahan RTH dari tahun 1993 hingga
2009 mengalami penurunan sebesar 126,583 Ha. Jika
dibuat presentase maka RTH tahun 1993 sebesar
99,917% dan tahun 2009 sebesar 74,601% sehingga
RTH mengalami penurunan sebesar 25,317%.

G. Analisa Kesesuaian Hasil Algoritma NDVI Citra
ALOS AVNI R-2 dengan Undang-Undang No. 26
Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Perindustrian
No. 35 tahun 2010
Dari hasil pengolahan citra satelit ALOS AVNIR-2
dengan klasifikasi terselia, diklasifikasikan yang termasuk
kelas RTH yaitu sawah, tegalan, kawasan hijau dan
lapangan. Sedangkan yang bukan merupakan RTH
dimasukkan dalam kelas area terbangun (pemukiman,
kawasan perdagangan, kawasan perindustrian) dan kelas
badan air.
RTH Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan meliputi tujuh
kecamatan yaitu Kecamatan Rembang, Bangil, Beji,
Pandaan, Sukorejo, Wonorejo, Kraton yaitu sebesar
15987,021 Ha diperoleh persentase luasan RTH sebesar
46,846%.
Sedangkan untuk Kawasan PIER memiliki luas RTH
seluas 373,003 Ha diperoleh persentase luasan RTH sebesar
74,601%.
Berdasarkan Undang-Undang No.26 Tahun 2007 Tentang
Penataan Ruang Pasal 29 ayat 2 yang berbunyi Proporsi
ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30
(tiga puluh) persen dari luas wilayah kota. maka dari itu
kawasan perkotaan Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan
yang meliputi Kecamatan Rembang, Bangil, Beji, Pandaan,
Sukorejo, Wonorejo, Kraton dapat dikategorikan sebagai
kawasan perkotaan yang telah memenuhi luas ideal RTH
dan mencakup RTH publik maupun privat yang telah
tercantum dalam tipologi RTH.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Republik
Indonesia No.35/M-IND/PER/3/2010 tentang Pedoman
Teknis Kawasan Industri yang berbunyi Pola penggunaan
lahan untuk pengembangan kawasan industri adalah dengan
luas ruang terbuka hijau (RTH) minimum 10% dari total
luas wilayah maka dari itu kawasan PIER di Kecamatan
Rembang dikateorikan sebagai kawasan yang telah
memenuhi luas ideal RTH.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemantauan
perubahan ruang terbuka hijau (RTH) dengan menggunakan
citra satelit ALOS AVNIR-2, maka didapatkan beberapa
kesimpulan akhir yaitu:
a. RTH Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan tahun 1993
yang paling besar adalah kelas sawah sebesar 51,987 %
dan paling kecil adalah kelas lapangan sebesar 2,769 %
dari luas wilayah.
b. RTH Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan tahun 2009
yang paling besar adalah kelas sawah sebesar 38,453 %
dan paling kecil adalah kelas tegalan sebesar 1,203 %
dari luas wilayah.
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
Tahun 1993
Tahun 2009
0
50
100
150
200
250
300
Tahun 1993
Tahun 2009
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Mar, 2013) ISSN: 2301-9271

c. Perubahan luas untuk kelas RTH dari tahun 1993
sampai 2009 yaitu seluas 10359,278 Ha yang meliputi
kelas sawah seluas 4618,591 Ha, kelas kawasan hijau
seluas 4219,916 Ha, kelas tegalan seluas 1207,287 Ha,
kelas lapangan seluas 313,484 Ha. Kelas yang
mengalami perubahan paling besar adalah kelas sawah
dan perubahan paling kecil adalah kelas lapangan.
d. Luas ideal RTH Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan
meliputi Kecamatan Rembang, Bangil, Beji, Pandaan,
Sukorejo, Wonorejo, Kraton telah memenuhi luas ideal
yaitu sebesar 30% yang tercantum dalam Undang-
Undang No.26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
Pasal 29 ayat 2 yaitu dengan besar persentase 46,846%
dari luas wilayah.
e. Luas ideal RTH Kawasan PIER telah memenuhi luas
ideal yaitu sebesar 10% yang tercantum dalam
Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia
No.35/M-IND/PER/3/2010 tentang Pedoman Teknis
Kawasan Industri yaitu dengan besar persentase
74,601% dari luas wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
[2] Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia No.35/M-
IND/PER/3/2010 tentang Pedoman Teknis Kawasan Industri
[3] Peraturan Menteri PU no.12 tahun 2009. Pedoman Penyediaan
Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka.
[4] Sukojo, B. M. 2012. Penginderaan Jauh (Dasar Teori &
Terapan). Surabaya : ITS-Press.
[5] Kabupaten Pasuruan Dalam Angka 2010
[6] Wolf dan Ghilani. 1980. Adjustment Computation Practical
Least Squares for Surveyors.
[7] Badan Pusat Statistik Jawa Timur







JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Mar, 2013) ISSN: 2301-9271

LAMPIRAN



Gambar 9. Peta Ruang Tutupan Lahan Wilayah Barat
Kabupaten Pasuruan Tahun 1993




Gambar 10. Peta Ruang Tutupan Lahan Wilayah Barat
Kabupaten Pasuruan Tahun 2009

Gambar 11. Peta Ruang Terbuka Hijau Wilayah Barat
Kabupaten Pasuruan Tahun 1993


Gambar 12. Peta Ruang Terbuka Hijau Wilayah Barat
Kabupaten Pasuruan Tahun 2009