Anda di halaman 1dari 17

Latar Belakang Masalah

Industri merupakan sebuah proses pengolahan bahan baku atau bahan


mentah mentah menjadi barang jadi atau produk siap pakai. Perkembangan
teknologi dan sumber daya manusia menjadi faktor utama yang menentukan
kualitas produksi suatu produk dalam industri. Dengan kualitas produk yang baik
maka akan meningkatkan penjualan yang secara tidak langsung berhubungan
dengan peningkatan pendapatan masyarakat sehingga mendorong struktur
ekonomi. Krisis perekonomian global yang masih berlangsung hingga saat ini
telah mengakibatkan perlambatan ekspor dan merupakan salah satu faktor yang
mendorong perlambatan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2013.
Perekonomian Indonesia pada triwulan I tahun 2013 mengalami perlambatan
meskipun cenderung stabil yaitu tumbuh sebesar 6,0% (yoy). Tingkat
pertumbuhan ini merupakan yang terendah sejak tahun 2010.
Dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,0% itu, Sektor
Pengangkutan dan Komunikasi menyumbang pertumbuhan sebesar 1,11%. Lalu
diikuti oleh Sektor Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan yang menyumbang
sebesar 0,93%, dan Sektor Kontruksi menyumbang sebesar 0,80%. Sedangkan
kontribusi sektor-sektor lainnya di bawah 0,80%.
Industri kimia merupakan kontributor penting dalam penciptaan nilai
tambah untuk industri besar dan sedang. kontribusi industri kimia terhadap
kelompok industri besar dan sedang (IBS) sebesar 13,4 persen dari total nilai
tambah IBS. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah
Kementerian Perindustrian, pertumbuhan cabang industri non-migas hingga tahun
2012 yang paling tinggi adalah industri pupuk, kimia, dan barang dari karet
sebesar 10,25 persen.
Adapun untuk industri semen dan barang galian bukan logam mengalami
pertumbuhan sebesar 7,85%, industri minuman dan tembakau sebesar 7,74%,
industri alat angkut, mesin dan peralatannya senesar 6,94%, industri logam dasar
besi dan baja sebesar 6,45%, dan tekstil, barang kulit dan alas kaki sebesar 4,19%.
Pertumbuhan industri tersebut didukung oleh tingginya tingkat konsumsi
masyarakat, dan tingginya investasi ke sektor industri membuat kinerja pihaknya
terbantu sepanjang 2012. Tidak hanya dari penanaman modal asing yang
mencapai US$ 8,6 miliar per September, investasi dari dalam negeri meningkat
40% mencapai Rp 38,1 triliun.
Realisasi Investasi PMDN berdasarkan sektor usaha (5 besar) adalah
Pertambangan (Rp 6,0 triliun); Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi (Rp 6,0
triliun); Industri Makanan (Rp 4,0 triliun); Industri Logam Dasar, Barang Logam,
Mesin dan Elektronik (Rp 1,8 triliun); dan Listrik, Gas dan Air (Rp 1,7 triliun).
Realisasi Investasi PMA berdasarkan sektor usaha (5 besar) adalah
Pertambangan (US$ 1,4 miliar); Industri Kimia Dasar, Barang Kimia dan Farmasi
(US$ 1,2 miliar); Industri Logam Dasar, Barang Logam, Mesin dan Elektronik
(US$ 1,0 miliar); Industri Alat Angkutan dan Transportasi Lainnya (US$ 0,9
miliar); dan Industri Kertas, Barang dari kertas dan Percetakan (US$ 0,6 miliar).
Ketika pasar global mengalami perlambatan pertumbuhan pada tahun
2012, pasar kimia Asia justru meningkat sebesar 52 persen dari 32,8 persen pada
tahun 2013. Pertumbuhan pasar kimia di Asia yang menggiurkan membuka
kesempatan bagi para pemain industri kimia global, terutama bagi perusahaan-
perusahaan yang memiliki eksistensi di Asia. Salah satu negara yang menarik bagi
perusahaan-perusahaan itu adalah Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan-
perusahaan yang bergerak dalam industri kimia membutuhkan dana yang besar
untuk dapat menghasilkan produk yang berkualitas yang dapat memenuhi
kebutuhan konsumen. Dana besar yang digunakan sebagai modal dapat diperoleh
dengan melakukan utang ke bank dan menjadi perusahaan go public dengan cara
menerbitkan saham dan menjualnya kepada para investor di pasar modal. Investor
yang berminat untuk memiliki saham perusahaan industri kimia dapat
membelinya di Bursa Efek Indonesia sesuai dengan harga yang telah ditetapkan.
Sebelum melakukan pembelian saham, investor harus melakukan analisa
penilaian atau valuasi terhadap perusahaan tersebut untuk menentukan apakah
harga saham yang ditawarkan dalam kondisi wajar (fairvalue), mahal (overvalue),
atau murah (undervalue) sehingga dapat menjadikan informasi kepada investor
untuk mengambil sebuah keputusan dalam berinvestasi. Terdapat tiga cara untuk
dapat menganalisa harga wajar saham suatu perusahaan yaitu dengan metode
fundamental dengan pendekatan PER (Price Earning Ratio) dan PBV (Price to
Book Value), metode Benjamin Graham, dan metode Gordon Growth.
Price Earning Ratio (PER) adalah salah satu ukuran paling dasar dalam
analisis saham secara fundamental. Secara mudahnya, PER adalah perbandingan
antara harga saham dengan laba bersih perusahaan, dimana harga saham
sebuah emiten dibandingkan dengan laba bersih yang dihasilkan oleh emiten
tersebut dalam setahun. Karena yang menjadi fokus perhitungannya adalah laba
bersih yang telah dihasilkan perusahaan, maka dengan mengetahui PER sebuah
emiten, kita bisa mengetahui apakah harga sebuah saham tergolong wajar atau
tidak secara real dan bukannya secara future alias perkiraan. PBV ini pada
dasarnya sama saja dengan PER. Perbedaannya, kalau PER berfokus pada laba
bersih yang dihasilkan perusahaan, PBV fokusnya pada nilai ekuitas perusahaan.
PBV sesuai artinya bermakna harga saham dibandingkan nilai ekuitas per
saham. Cara menghitungnya adalah dengan membagi harga saham dengan Book
Value-nya (BV), dimana BV dihasilkan dari ekuitas dibagi rata-rata jumlah saham
yang beredar. Konsep penggunaannya pun sama dengan PER: semakin tinggi nilai
PBV, maka semakin mahal harga sahamnya.
Benjamin Graham membagi kriteria pemilihan ini untuk dua tipe investor
yaitu defensif dan agresif. Sebenarnya kedua kriteria ini hampir mirip dengan
perbedaan dua-tiga kriteria serta beda batasan nilai saja. Tujuan kategorisasi ini
untuk mengurangi risiko dari kedua tipe investor yang berbeda. Kita bisa
menyesuaikan kriteria tersebut sesuai dengan risiko dan peluang yang ingin kita
hadapi, asal tidak melanggar batas-batas konsep keamanan investasi. Pendekatan
Umum kriteria pemilihan saham dari Graham: Prospek jangka panjang, Kualitas
dan tingkah laku manajemen yang baik, dan Kualitas keuangan dan struktur
modal.
Salah satu pendekatan dalam menentukan harga wajar saham adalah
dengan mengunakan model Gordon Growth (Gordon Growth Model). Model ini
pertama kali dikembangkan oleh Gordon seorang pakar dibidang keuangan
perusahaan. Model penilaian saham ini menyatakan bahwa nilai wajar suatu
saham adalah nilai sekarang dari penjumlahan arus kas yang diharapkan diterima
pemegang saham pada masa datang. Arus kas tersebut didiskontokan dengan
menggunakan tingkat biaya modal (cost of capital) yang mencerminkan adanya
tingkat pnegambalian saham yang bersangkutan. Mengingat arus kas yang
diterima oleh pemegang saham dalam bentuk deviden maka nilai wajar saham
menunjukkan nilai sekarang dari seluruh deviden yang akan dibayar perusahaan
tersebut pada masa datang.
PT Eterindo Wahanatama Tbk adalah salah satu
perusahaan petrokimia dan perkebunan kelapa sawit yang telah go public untuk
memperoleh dananya. Perusahaan ini memiliki luas konsesi 113.000ha di
Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Penulis tertarik untuk menjadikan
perusahaan ini sebagai subjek penelitian mengenai penilaian harga wajar saham
dengan menggunakan metode fundamental, Benjamin Graham, dan Gordon
Growth. Adapun periode yang akan penulis teliti adalah tahun 2011 hingga 2013.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah-masalah dalam penelitian
ini dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Perusahaan industri kimia membutuhkan dana yang besar untuk dapat
menghasilkan produk yang berkualitas.
2. Modal yang besar dapat diperoleh dengan melakukan utang ke bank.
3. Modal yang besar dapat diperoleh dengan menjadi perusahaan go publik
dengan menerbitkan saham yang dapat dijual kepada para investor.
4. Investor harus melakukan analisa penilaian terhadap perusahaan untuk
menentukan kondisi harga saham.
5. Analisa penilaian harga wajar saham melalui metode fundamental dengan
pendekatan PER (Price Earning Ratio) dan PBV (Price to Book Value).
6. Analisa penilaian harga wajar saham melalui metode Benjamin Graham.
7. Analisa penilaian harga wajar saham melalui metode Gordon Growth.

Pembatasan Masalah
Agar penelitian lebih fokus dan tidak meluas dari pembahasan, dalam skripsi
ini penulis membatasinya pada ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Periode yang akan penulis teliti adalah tahun 2011 hingga tahun 2013
2. Analisa penilaian yang digunakan adalah PER, PBV, Benjamin Graham,
dan Gordon Growth

Rumusan Permasalahan
Jadi pada batasan masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut,
yaitu Bagaimana menganalisa penilaian harga wajar saham melalui metode
fundamental dengan pendekatan PER (Price Earning Ratio) dan PBV (Price to
Book Value), metode Benjamin Graham, dan metode Gordon Growth? dari
masalah tersebut dilakukan penelitian pada periode tahun 2011 2013.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk menganalisa penilaian harga wajar saham melalui
metode fundamental dengan pendekatan PER (Price Earning Ratio) dan PBV
(Price to Book Value), metode Benjamin Graham, dan metode Gordon
Growth.
2. Kegunaan Penelitian
Manfaat teoritis, penelitian ini dapat digunakan sebagai ilmu dalam
Manajemen keuangan untuk melakukan analisa penilaian terhadap harga
saham di pasar. Selain itu penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan
referensi kepada penelitian berikutnya.
Manfaat praktis, penelitian ini dapat digunakan oleh investor untuk melakukan
analisa penilaian terhadap harga saham sebelum melakukan keputusan dalam
investasi.


Teori Investasi
Pengertian Investasi adalah suatu bentuk pengeluaran modal bertujuan
melakukan pembelian (asset) fisik seperti pabrik, mesin, peralatan, dan
persediaan, yaitu investasi fisik atau riil. Dalam pengertian yang lain, Investasi
merupakan komitmen atas dana atau sumber daya lainnya yang ada pada saat ini,
dengan tujuan akan mendatangkan keuntungan di masa datang. Bagi investor yang
lebih pintar dan lebih berani menanggung resiko, aktivitas investasi yang mereka
lakukan juga bisa mencakup investasi pada aset-aset finansial lainnya yang lebih
kompleks seperti warrants, option, dan futures maupun ekuitas internasional.
Kesejahteraan moneter bisa ditunjukkan oleh penjumlahan pendapatan yang
dimiliki saat ini dan nilai saat ini (present value) pendapatan di masa datang.
(Tandelilin 2010, pp2-3).
Semua investor harus menilai harga intrinsiknya dan biasanya harga saham
selalu menuju ke harga intrinsik. Bila harga lebih kecil dari harga intrinsiknya,
maka harga saham tersebut akan mengalami kenaikan ke harga intrinsiknya
karena semua investor akan membelinya. Sebaliknya, investor akan menjual
saham bila harga saham tersebut lebih tinggi dari harga intrinsiknya. Dengan
menjual saham tersebut maka harga tersebut turun menuju harga
intrinsiknya.(Manurung 2008, pp103-104)

Pasar Modal
Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana
dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas.
Dengan demikian, pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk
memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun,
seperti saham dan obligasi. Sedangkan tempat di mana terjadinya jual-beli
sekuritas disebut dengan bursa efek. Oleh karena itu, bursa efek merupakan arti
dari pasar modal secara fisik. Untuk kasus di Indonesia terdapat satu bursa efek,
yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak tahun 2007, Bursa Efek Jakarta (BEJ)
dan Bursa Efek Surabaya (BES) bergabung dan berubah nama menjadi Bursa
Efek Indonesia (BEI). (Tandelilin 2010, p26)
Pasar modal adalah sarana kegiatan yang berkaitan dengan penawaran
umum atau perdagangan efek dari perusahaan yang akan go public. Selain itu,
pasar modal juga merupakan sarana bagi investor dan pihak ketiga yang
membutuhkan dana besar untuk melakukan jual-beli atau perdagangan instrumen
pasar modal, seperti obligasi dan saham. Jadi, pada hakikatnya pasar modal adalah
sarana atau media bagi investor yang akan menanamkan dananya dalam berbagai
instrumen yang diterbitkan oleh perusahaan publik. Apakah instrumen tersebut
berbentuk saham, surat utang, atau jenis lainnya. (Rahardjo 2006, p30)
Instrumen Pasar Modal
Instrumen-instrumen keuangan yang diperjualbelikan di pasar modal
seperti saham, obligasi, warant, right, obligasi konvertibel, dan berbagai produk
turunan (derivatif) seperti opsi (options). (Iman 2008, p27)
Pasar Primer dikenal dengan pasar perdana adalah pasar pada saat proses
Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum perdana. Pada pasar ini
dilakukan penjualan saham umum suatu perusahaan pada investor umum.
Perusahaan hanya akan menerbitkan saham-saham pertama atau dapat juga
menawarkan saham kedua. Perusahaan akan menunjukkan investment banking
atau bankir investasi untuk menjamin penawaran tersebut dan untuk pembuatan
prospektus, yaitu keterangan tertulis dan terperinci mengenai kegiatan baru
perusahaan atau organisasi yang disebarluaskan kepada umum atau disampaikan
kepada kelompok tertentu. Pada pasar perdana ini juga dilakukan interaksi
perdagangan antara Pemerintah RI selaku penerbit SUN (Surat Utang Negara)
dengan para investor. Pasar Sekunder melakukan kegiatan bisnis yang berlaku
layaknya broker, divestasi sekunder, penempatan, dan penawaran sekunder yang
disebut brokerage. Perdagangan SUN dapat dilakukan antar-institusi melalui
sarana Over The Counter (OTC) dan Indonesian Government Securities Trading
System (IGTS). (Utami 2010, p49)

Saham
Saham adalah surat berharga (efek) yang berbentuk serifikat guna
menunjukkan bukti kepemilikan suatu perusahaan. Semakin banyak saham yang
dimiliki oleh seseorang di suatu perusahaan, berarti jumlah uang yang diberikan
ke perusahaan itu juga semakin besar, demikian juga penguasaan orang tersebut
dalam perusahaan itu semakin tinggi.(Situmorang et al. 2010, p1)

Saham adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan
yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau yang biasa disebut emiten. Saham
menyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik sebagian dari
perusahaan itu. Dengan demikian kalau seorang investor membeli saham, maka ia
pun menjadi pemilik atau pemegang saham perusahaan.(Widoatmodjo 2008, p39)

Saham adalah surat berharga yang merupakan tanda kepemilikan
seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan.(Thian Hin 2008, p15)

Saham adalah bukti penyertaan modal pada sebuah perusahaan. Dengan
membeli saham perusahaan, berarti anda menginvestasikan modal atau dana yang
nantinya akan digunakan oleh pihak manajemen untuk membiayai kegiatan
operasional perusahaan.(Porman Tambunan 2008, p1)


Penilaian Harga Wajar Saham
Jasa Perusahaan Penilai yang melalui pengukuran dan metode yang
disepakati dan objektif untuk menentukan nilai wajar atas aset-aset berwujud
perusahaan. Dengan mengetahui nilai wajar, maka para pelaku di pasar modal
dapat memproyeksikan berapa harga atau nilai perusahaan yang wajar yang
tercermin pada nilai saham yang wajar untuk dibeli. (Fakhruddin 2008, p27)

PER
P/E (Price / Earning) Ratio
P/E Ratio atau Price Earning Ratio adalah perbandingan harga sebuah
saham dengan laba bersih untuk setiap lembar saham (Earning/Share) perusahaan
itu.
P/E Ratio = Harga Saham / Laba Bersih Per Lembar Saham (Earning/Share)
P/E Ratio merupakan suatu ukuran murah atau mahalnya harga sebuah saham,
jika dibandingkan dengan harga saham lainnya untuk suatu industri yang serupa.
Murah atau mahalnya sebuah saham tidak dapat dibandingkan hanya dengan
melihat harga sahamnya secara langsung.(Sihombing 2008, p 87)
Price to earning ratio (PER, P/E) adalah rasio yang diperoleh dengan
menggunakan angka harga saham dibagi dengan penghasilan per saham yang
sama. Rasio ini menjadi pedoman investasi dalam efek di Indonesia. P/E
dipopulerkan oleh mendiang Benjamin Graham, Father of Value Investing, Bapak
Investasi, mentor Warren Buffet (pemain saham jagoan), orang terkaya di dunia.
Graham mengajarkan P/E sebagai salah satu cara tercepat dan termudah untuk
menentukan suatu saham diperdagangkan untuk tujuan investasi atau hanya untuk
spekulasi. P/E adalah perbandingan antara harga saham dengan laba bersih suatu
perusahaan. Itu berarti sebelum bisa menghitung P/E, investor harus lebih dulu
mengetahui laba bersih per saham (earning per share, EPS). Cara menghitung EPS
adalah membagi laba bersih suatu perusahaan dengan jumlah saham yang
beredar.(Ismanthono 2010, p228)
Banyak pimpinan perusahaan tak mengerti sepenuhnya soal perbandingan
antara harga saham dan laba bersih per saham. Hal itu penting diketahui untuk
membuat proyeksi yang akurat sehingga pada akhirnya bisnis yang mereka
jalankan mampu mencetak laba yang memuaskan. Kita semua tahu, jika laba
bersih perusahaan meningkat maka seyogyanya harga saham juga naik.
Perbandingan antara harga saham di bursa dan laba bersih per sahamnya, dikenal
sebagai price earnings ratio atau price earnings multiple, sering disingkat dengan
PER.(Darmadji 2006, p 134)
Rasio PER banyak digunakan oleh para analis pasar modal untuk melihat
kinerja suatu emiten sebagaimana yang diharapkan oleh investor. Dengan
demikian PER juga merupakan harapan dari investor.(Rangkuti 2006, p157)
Rasio ini diperoleh dari harga pasar saham biasa dibagi dengan laba per
saham (Earning per Share) sehingga semakin tinggi rasio ini akan
mengindikasikan bahwa kinerja perusahaan juga semakin membaik. Akan tetapi
sebaliknya, jika PER terlalu tinggi juga dapat mengindikasikan bahwa harga
saham yang ditawarkan sudah sangat tinggi atau tidak rasional. Namun diperlukan
keberhati-hatian dalam menganalisis PER karena analisis tersebut dapat
menyesatkan. Harga saham yang ada di bursa dapat dimanipulasi sedemikian rupa
sehingga walaupun EPS-nya turun, penurunan itu tidak diikuti oleh penurunan
harga saham.(Sugiono 2009, pp83-84)


PBV
Price to Book Value (PBV) adalah perbandingan nilai pasar suatu saham
dengan nilai buku perusahaan penerbit saham tersebut. Cara menghitungnya:
harga saham terakhir dibagi dengan nilai buku per saham yang diperoleh dari
laporan keuangan terakhir suatu perusahaan.( Ismanthono 2010, p228)
Rasio ini menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku
saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini berarti pasar makin percaya akan
prospek perusahaan tersebut. Sebagai suatu perusahaan yang memiliki manajemen
yang baik, diharapkan PBV dari perusahaan tersebut setidaknya adalah satu atau
dengan kata lain di atas dari nilai bukunya. Jika PBV perusahaan di bawah satu,
kita dapat menilai bahwa harga saham tersebut adalah di bawah nilai buku (under
value). Jika angka PBV di bawah 1, dapat dipastikan bahwa harga pasar saham
tersebut lebih rendah daripada nilai bukunya.(Sugiono 2009, p84)
Price to Book Value (PBV) merupakan suatu nilai yang dapat digunakan
untuk membandingkan apakah sebuah saham lebih mahal atau lebih murah
dibandingkan dengan saham lainnya. Untuk membandingkannya, kedua
perushaan harus dari satu kelompok usaha yang memiliki sifat bisnis yang
sama.(Sihombing 2008, p95-96)
Benjamin Graham

Gordon Growth
Sebuah model untuk menentukan nilai intrinsik saham dengan basis
pertumbuhan dividen pada tingkat tetap pada masa mendatang. Menggunakan
dividen per saham yang dibayar satu tahun dan asumsi bahwa dividen tumbuh
pada tingkat tetap dalam perpetuitas, model ini menghasilkan nilai saat ini atas
dividen pada masa mendatang. Perhitungannya menggunakan rumus:

D = Perkiraan dividen per saham setahun dari sekarang
k = Target keuntungan dari ekuitas investor
G = Tingkat pertumbuhan dividen perpetuitas
Karena secara sederhana mengasumsikan adanya pertumbuhan pada tingkat
konstan, model ini membuatnya hanya bisa digunakan untuk perusahaan yang
sudah mapan dengan tingkat pertumbuhan yang cenderung moderat.(Guinan
2010, pp144-145)
Model pertumbuhan Gordon bermanfaat untuk mencari nilai saham,
dengan beberapa asumsi berikut (Mishkin 2008, pp203-204):
1. Dividen dianggap mempunyai pertumbuhan dengan laju yang konstan
selamanya. Sebenarnya, selama dividen diharapkan tumbuh dengan laju yang
konstan untuk periode berikutnya, model seharusnya memberikan hasil yang
masuk akal. Ini karena kesalahan mengenai lamanya arus kas menjadi kecil ketika
didiskontokan ke periode sekarang.
2. Laju pertumbuhan diasumsikan lebih rendah dari imbal hasil atau ekuitas yang
disyaratkan ke. Myron Gordon, dalam pengembangan modelnya, menunjukkan
bahwa hal tersebut menjadi asumsi yang masuk akal. Dalam teori, jika laju
pertumbuhan lebih cepat daripada tingkat imbal hasil yang diminta pemegang
saham perusahaan, dalam jangka panjang perusahaan akan tumbuh besar yang
sebenarnya hal itu sangat tidak mungkin.
Penelitian Terdahulu

Paradigma Penelitian







Gambaran Umum Subjek dan Objek Penelitian
Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menganalisa
harga wajar saham dengan metode Price Earning Ratio, metode Price to Book
Value, Metode Benjamin Graham, dan metode Gordon Growth. Penelitian ini
dilakukan terhadap PT Eterindo Wahanatama Tbk pada tahun 2011 sampai
dengan tahun 2013. PT Eterindo Wahanatama dipilih sebagai subjek penelitian
karena perusahaan tersebut memiliki jenis usaha yang akan terus mengalami
perkembangan sehingga diyakini akan menarik perhatian para investor untuk
menanamkan dananya untuk membeli saham PT Eterindo Wahanatama Tbk
sehingga diperlukan sebuah penilaian terhadap harga saham PT Eterindo
Wahanatama Tbk untuk mendapatkan harga yang wajar.

Metode Pengumpulan Data
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif kuantitatif dengan menyajikan data yang akan diteliti, melakukan
perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian, serta hasil
yang telah diperoleh digunakan untuk membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum. (Purwoto 2007, p1)
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan mengumpulkan data yang diperlukan dengan menggunakan data sekunder
berupa laporan keuangan PT Eterindo Wahanatama Tbk per 31 Desember selama
periode tahun 2011-2013.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah kumpulan dari seluruh sumber data yang akan diteliti.
(Sulistyo 2006, p182). Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah
perusahaan publik yang berada dalam sektor industri dasar dan kimia, sub sektor
kimia yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2011-2013.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.
(Sugiyono 2011, p118). Yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah PT
Eterindo Wahanatama Tbk karena telah listing di Bursa Efek Indonesia dan
mempublikasikan laporan keuangan per 31 Desember selama periode tahun 2011-
2013.

Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat
kuantitatif yang berupa angka dan kemudian dianalisis dengan melakukan
perhitungan-perhitungan sesuai dengan rumus yang terdapat di dalam teori.

Hipotesa Penelitian