Anda di halaman 1dari 24

1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas berkat-Nya
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Terima kasih kami
ucapkan kepada dokter pembimbing kami, drg. anuar !iahdo, "p. #rt, yang telah
bersedia menjadi pembimbing makalah ini.
$dapun tujuan penulisan laporan kasus ini adalah memenuhi tugas
kepaniteraan klinik senior %epartment &lmu Penyakit 'igi ( Mulut !")P *aji $dam
Malik Medan. +esar harapan, melalui makalah ini, akan menambah pengetahuan dan
pemahaman kita tentang mani,estasi oral akibat reaksi obat.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
penulis mohon maa,. Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Terima kasih.
Medan, uli -.1/
Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................ 1
1.1. 0atar +elakang................................................................... 1
1.-. Tujuan................................................................................ -
1./. Man,aat1111111111111111111.. -
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... /
-.1 %e,inisi............................................................................... /
-.-. Klasi,ikasi.......................................................................... /
-./. #rang-orang yang butuh suplemen makanan..................... 2
-.3. 4aktor-,aktor yang berhubungan dengan konsumsi
suplemen 5itamin dan mineral.......................................... 6
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN.................................................... 11
/.1. Kesimpulan........................................................................ 11
/.-. "aran................................................................................... 1-
1
Manifestasi Oral Ai!at Reasi O!at
J"#n Kal$ar% DMD% P#D% !esidency %irector and 7linical Pro,essor, %epartment
o, %entistry, "ection o, #ral and Ma8illo,acial "urgery and Pathology, #hio "tate
)ni5ersity Medical 7enter
)pdated 9 Mar 11, -..:
Pen&a#'l'an
%iperkirakan --3; kasus kemasukan ke rumah sakit adalah terkait dengan
reaksi obat yang merugikan. <rupsi mukokutan adalah reaksi utama yang sering
terjadi, dan banyak obat-obatan yang bisa terkait dengan reaksi patologik pada region
oral dan perioral. 'ejala klinis bagi reaksi obat yang merugikan mempunyai spektrum
yang luas yang bisa menyerupai gejala penyakit yang lain, termasuk kondisi lokal
atau sistemik.
=1,-,/,3>
)ntungnya, beberapa jenis penyakit telah diidenti,ikasi, dan ini bisa
membantu klinisi untuk menentukan kemungkinan hubungan sebab-akibat yang
mungkin dengan kelompok obat tertentu. Manis,estasi oral reaksi obat adalah
termasuk 8erostomia, pembengkakan, ulserasi non-spesi,ik, 5esikobulosa atau
mukositis ulserati, yang menyerupai penyakit yang lain, mukositis 5esikoulserati,
non-spesi,ik, pigmentasi, pembesaran gingi5a, dan osteonekrosis rahang yang terkait
dengan biphosphonat.
+eberapa mani,estasi oral reaksi obat mengikut jenis golongan obat 9
?erostomia - $ntidepresan dan antipsikotik, antihipertensi, antihistamin,
antikolinergik, dan dekongestan
Pembengkakan - Penicillin, aspirin, obat sul,a dan $7< inhibitor
1
)lserasi dan mukositis nonspesi,ik - $ntineoplasma @methotre8ate, A-
,luorouracil, do8orubicin, dan melphalanB, barbiturat, dapson, deri5ati,
phenaCone, ,enol,talein, sul,onamid, tetrasiklin,B nonsteroidal anti-
in,lammatory drugs @N"$&%B @misalnya, indometacin, salisilat,
napro8enB, meprobamate, metildopa, penisilamin, ,enilbutaCon,
propranolol, spironolactone, thiaCid, tolbutamid, alendronate, kaptopril,
,enitoin, dan @melalui kontak lagsungB senyawa yang mengandung
aspirin, hidrogen peroksida, atau ,enol
0esi 5esikulobulosa atau ulserati, yang menyerupai penyakit imunologik
yang lain
o 0ichen planus D like
=A,2>
- $llopurinol, amiphenaCol,
amphoterisin +, antimalaria @klorokuin, hydro8ycloroEuine,
Euinacrine, EuinidineB, arsenik, beta-blockers, bismut, kaptopril,
karbamaCepin, chlorotiaCid, klorpropamid, simetidin,
cinnariCine, cyanamide, dapson, ,enklo,enac, ,lunariCine,
,urosemid, isoniaCid, ketokonaCol, le5opromaCin, le5amisol,
litium, loraCepam, merkuri, methildopa, methopromaCine,
o8prenolol, palladium, asam para-aminosalisilat, penisillamin,
,enothiaCin, ,enilbutaCon, practolol, propranolol, pirimetamin,
pyritinol, spironolaktone, sul,onilurea, streptomisin, tetrasiklin,
tolbutamid, dan triprolidin.
o <ritema multi,ormis @<MB D like - $ntibiotik @antimalaria,
penisilin, sul,onamid, tetrasiklinB, allopurinol, barbiturat,
inhibitor protease, dan N"$&%
o Pemphigoid like
=F>
- $ntireumatik @penisilamin, ibupro,en,
phenacetinB, obat kardio5askular @,urosemid, kaptopril,
1
klonidinB, antibiotik @penisilin, sul,onamidB, antimicroba, obat
mengandung thiol, dan deri5ati, sul,onamide.
o Pemphigus like
=6>
- $lpha-mercaptopropionylglycine, ampisilin,
kaptopril, se,aleksin, etambutol, glibenclamide, emas, heroin,
ibupro,en, penisilamin, ,enobarbital, ,enilbutaCon, piroksikam,
practolol, propranolol, piritinol klorohidrat, ri,ampin, dan
theobromine.
o 0upus erythematosus @0<B D like - karbamaCepin, klorpromaCin,
etosu8imide, emas, griseo,ul5in, hydantoins, hydralaCin,
isoniaCid, litium, metildopa, penisilamin, primidone,
procainamide, Euinidine, reserpin, streptomisin, thiouracil, dan
trimethadion.
Pigmentasi - $miodarone, antimalaria @klorokuin, hidroklorokuin,
hidroksiklorokuin, Euinacrine, EuinidineB, busul,an, klo,aCimine,
siklo,os,amid, estrogen, ketokonaCol, minocyclin, phenolphthalein, obat
penenang @klorpromaCinB, dan Cido5udin.
Pembesaran gingi5al - 7alcium channel blocker @amlodipin, bepridil,
diltiaCem, ,elodipin, isradipin, nikardipin, ni,edipin, nimodipin,
nisoldipin, nitrendipin, o8idipin, 5erapamilB, dihydropyridin yang lain
@bleomycinB, siklosporin, ,enitoin, dan sodium 5alproat.
1
(er"st"$ia
?erostomia, atau mulut kering, adalah e,ek samping obat yang paling umum
di rongga mulut. "ampai saat ini, 8erostomia telah dikaitkan dengan lebih dari A..
obat-obatan. <,ek sinergis dari obat telah diakui dan umumnya terjadi pada pasien
usia lanjut yang mengambil beberapa obat @poli,armasiB. "elain itu, kebiasaan seperti
merokok, konsumsi alkohol, dan bahkan penggunaan jangka panjang dari minuman
berka,ein dapat menyebabkan mulut kering atau persepsi kekeringan.
'olongan obat yang sangat terkait dengan 8erostomia termasuk obat jenis
antidepresan dan antipsikotik, antihipertensi, antihistamin dan antikolinergik.
Malangnya, asosiasi ini dikacaukan oleh ,akta bahwa 8erostomia adalah
keluhan subyekti,, dan beberapa pasien yang mengeluhkan mulut kering mempunyai
,ungsi kelenjar sali5a yang normal. Pasien lain yang mulutnya tampak secara klinis
kering mungkin tidak memiliki keluhan. "elain itu, sejumlah atro,i sel asinar dan
penurunan sekresi kelenjar dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
%isebabkan 5ariasi tersebut, uji klinis untuk mengukur aliran sali5a @saat
istirahat dan di bawah stimulasiB harus digunakan berhati-hati dalam menilai pasien
dengan dugaan obat yang memicu 8erostomia.
"elain itu, kemungkinan etiologi autoimun yang mendasari @misalnya,
sindrom "jGgrenB juga harus dipertimbangkan pada pasien 8erostomia, terutama
mereka yang juga mengidap dengan 8ero,talmia @yaitu, mata keringB atau
pembengkakan parotis. Penelitian laboratorium yang sesuai atau biopsi dari kelenjar
sali5a labial kecil atau kelenjar parotis dapat membantu dalam menegakkan atau
mengeliminasi etiologi autoimun.
*al yang harus diutamakan untuk pasien dengan 8erostomia adalah
peningkatan risiko untuk mendapat kandidiasis oral, in,eksi dangkal yang dapat
menyebabkan sensiti5itas mukosa atau ketidaknyamanan, serta kerusakan gigi pada
batas gusi dan akar gigi. Kultur dan tes sitologi oral dapat berguna dalam menilai
1
kemungkinan kasus 8erostomia yang terkait dengan kandidiasis. Menjaga kebersihan
mulut, pemeriksaan gigi harus teratur, dan penggunaan obat kumur ,luorida topikal
dianjurkan untuk mengurangi risiko kerusakan gigi.
Pe$!en)aan
+eberapa obat dapat menginduksi reaksi hipersensiti5itas tipe &, atau penyakit
yang di mediasi dengan imunoglobulin sel mast <, dapat berkisar dari
pembengkakan jaringan oral atau terjadinya ana,ilaksis. "ekitar mulut, bibir adalah
lokasi yang paling sering terlibat diikuti dengan lidah. %i antara agen penyebab
paling umum adalah $7< inhibitor, penisilin dan deri5at dari penisilin, se,alosporin,
barbiturat, dan aspirin serta N"$&% lainnya. Mukosa yang terkena biasanya bengkak
dan menjadi kemerahan dalam hitungan menit atau jam setelah terpapar dengan obat
berkenaan. $pabila kontak dengan lateks, reaksi yang sama akan terjadi. *al tersebut
menjadi masalah dalam pengaturan perawatan kesehatan mulut. Kini, tedapatnya
bahan pengganti non-lateks seperti 5inyl atau karet nitril yang dipercayai tidak
mempunyai e,ek samping.
$7< inhibitor juga terkait dengan pembengkakan oral yang bersi,at
semulajadi non-alergi. !eaksi ini, yang mungkin sekunder untuk perubahan dalam
tingkat bradikinin lokal atau ,ungsi 71 esterase inhibitor, dilaporkan kurang dari 1;
pasien, dengan peningkatan risiko dicatat pada orang kulit hitam di $merika "erikat.
Meskipun pembengkakan ini paling sering terlihat pada minggu pertama terapi, bisa
terjadi beberapa jam setelah paparan awal atau setelah jangka panjang penggunaan
narkoba. "eperti dengan reaksi tipe &, bibir juga sering terlibat. aringan lidah dan
oro,aring juga dapat terlibat sama, dengan berpotensi ,atal.
1
Ulserasi N"n* S+esifi &an M'"sitis
Nekrosis epitel dan ulserasi mungkin timbul disebabkan penggunaan langsung
obat seperti aspirin, hidrogen peroksida, tablet kalium, dan senyawa ,enol yang
terdapat pada mukosa. $spirin sering digunakan oleh pasien untuk mengurangkan
rasa sakit gigi. Pada mukosa akan tampak keputihan dan bergelombang, dengan erosi
dan ulserasi dari area yang mengalami kerusakan lebih parah. Ketidaknyamanan yang
terkait memerlukan pengobatan dengan analgesik utama dan H atau lokal anestesi
atau penghentian dari agen kemoterapi.
<rupsi obat dalam rongga mulut awalnya sering tampak sebagai daerah edema
dan eritema yang mengarah ke lokal, ulserasi nonspesi,ik. 0abial mukosa adalah
daerah paling sering terlibat, dan perjalanan klinis kekambuhan di situs yang sama
setelah penggunaan obat amat membantu ketika mengdiagnosa, tapi hubungan ini
tidak selalu mudah untuk membangun. Keterlibatan ekstraoral, termasuk keterlibatan
permukaan kulit dan permukaan mukosa lainnya, mungkin terjadi.
"ejumlah obat yang memberikan e,ek ulserasi spesi,ik dan mukositis oral, dan
lesi sering dikaitkan dengan penampilan histologis spesi,ik yang sama ketika
melakukan biopsi. &ni termasuklah golongan obatan barbiturat, beta-blocker, dapson,
N"$&%, turunan phenaCone, turunan thiaCide, ,enol,talein, sul,onamid, dan
tetrasiklin. )lserasi mukosa oral adalah e,ek samping yang biasa terjadi dari berbagai
agen obat-obatan yaitu dari golongan antineoplastik, termasuk methotre8ate, A-
,luorouracil, do8orubicin, dan melphalan.
Lesi ,esi'l"!'ll"'s ata' Ulseratif -an) Men-er'+ai I$'n"l")i Pen-ait Lain
0ichen planus idiopatik, eritema multi,orme @<MB, pem,igoid, pem,igus, dan
eritematosus @0<B lupus adalah reaksi obat oral yang terkenal menyerupai secara
klinis, histopatologi, dan immunopatologi, dan da,tar reaksi dalam setiap kategori ini
terus berkembang . "ecara klinis, semua bahagian oral bisa terjadi lesi, namun
1
bahagian posterior mukosa bukal @pipiB, batas lateral lidah, dan mukosa al5eolar
adalah bahagian yang paling sering terlibat. 0esi yang tejadi bisa lesi terisolasi, tetapi
keterlibatan lesi bilateral simetris juga tidak jarang.
i. Reasi Li/#en +lan's * lie 0li/#en"i&.
Pada awalnya digambarkan adanya hubungan dengan obat antimalaria, reaksi obat
lichen planus-like atau lichenoid lichen yang kemudian telah dilaporkan terdapat
banyak agen lain yang turut berpengaruh. Mani,estasi papuloreticular dan erosi,
mungkin dapat diamati, kemudian ditandai dengan ulserasi dangkal yang tidak
teratur atau erosi dengan perbatasan peri,er striae keratotik halus yang sering muncul
menyebar dari pusat lesi. Meskipun reaksi obat lichenoid cenderung erosi, dan
unilateral dibandingkan dengan bilateral tipikal dalam lichen Planus idiopatik,
perhubungan ini tidak konsisten.
"ekarang, N"$&%, dan $7< inhibitor tampaknya menjadi salah satu obat yang paling
sering digunakan oleh pelanggar @lihat pola reaksi obat oral dan obat-obatan terkait
dan kelas obat dalam pendahuluanB. Menariknya, agen yang digunakan dalam
pengobatan lichen planus @misalnya, hydro8ychloroEuine, dapson, le5amisolB telah
sendiri yang menyebabkan erupsi lichenoid merugikan.
ii. Reasi Erite$a M'ltif"r$e 0EM. 1 lie
#bat yang diinduksi oleh <M terjadi sekitar -A; dari semua kasus yang
dilaporkan. "eperti idiopatik atau kasus yang diinduksi 5iral @yang terakhir sering
disebabkan oleh 5irus herpes simpleksB, penyakit ini memiliki onset yang cepat
1
dengan ekspresi 5ariabel yang dapat dapat terjadi dari lesi terbatas pada mukosa oral
hingga penyebaran luas pada bahagian mukokutanoes. #bat yang diinduksi oleh <M
sering dikaitkan dengan agen seperti sul,onamid, sul,onilurea, dan barbiturat, diantara
yang lain @lihat pola reaksi obat oral dan obat-obatan terkait dan kelas obat dalam
pendahuluanB.
0esi oral pada mulanya terbentuk makula eritematosa atau bercak yang
menyebabkan terjadinya 5esikel yang tidak dapat bertahan lama atau bula, diikuti
dengan ulserasi tidak teratur dan super,isial yang dapat menjadi luas. )lserasi
hemoragik dan pengerasan kulit di bahagian labial 5ermilion adalah biasa. "etiap
bahagian intraoral bisa dapat terlibat, tetapi jaringan gingi5a dan palate adalah paling
sering terhindar. Ketidaknyamanan lesi dapat menyebabkan penurunan asupan cairan
dan dehidrasi. +erbagai lesi, termasuk target klasik atau lesi bullIs eye , dapat
mempengaruhi kulit.
+entuk penyakit yang lebih parah adalah termasuk <M mayor @sindrom "te5ens-
ohnsonB dan nekrolisis epidermal toksik @T<N, sindrom 0yellB. "elain lesi oral dan
kulit, konjungti5itis dari mukosa okuler dan uretritis pada mukosa genital adalah
temuan khas pada pasien dengan <M mayor. 0ebih dari tiga perempat kasus <M
mayor dan hampir semua kasus T<N merupakan reaksi obat yang merugikan. Pada
T<N, penyebaran epidermolisis mukokutan dapat menyebabkan dalam pembentukan
bula di,us dan kemudian terjadinya denulasi yang mempengaruhi proporsi yang
signi,ikan dari kulit dan permukaan mukosa. %ehidrasi berat, ketidakseimbangan
elektrolit, dan in,eksi sekunder berpotensi mengancam nyawa, dan walaupun dengan
terapi agresi, angka kematiannya tetap lebih besar dari /.;.
1
iii. Reasi Pe$+#i)"i&lie
!eaksi Pemphigoidlike dapat terbatas pada mukosa mulut, atau dapat mengenai pada
bahagian mukosa atau bahagian kutan lainnya. "ecara klinis, 5esikel relati, berbatas
tegas atau bula yang pecah menjadi ulserasi dangkal. Keterlibatan secara general
atau multi,okal dari jaringan gingi5a dapat diamati, dengan ditandai eritema dan erosi
dari gingi5a super,isial, pola yang disebut sebagai gingi5itis deskuamati,. #bat-
obatan yang mengandungi deri5ate tiol dan sul,onamide adalah antara obat-obatan
yang paling sering terlibat,seperti adalah kelas terapitik N"$&%, agen
kardio5askular, antimikroba, dan antirheumatics @lihat pola reaksi obat oral dan obat-
obatan berkaitannya dan kelas obat-obatan dalam pendahuluanB.
"irkulasi autoantibodies untuk komponen membran basement mungkin atau mungkin
tidak terdeteksi. )sia yang relati, muda dari pasien pada saat onset @penyakit ini
terjadi pada orang-orang yang kurang dari F. tahunB dapat membantu membedakan
penyakit ini dari idiopatik bulosa pem,igoid dengan pem,igoid cicatrical idiopatik,
karena pem,igoid cicatrical idiopatik biasanya muncul pada orang berusia 2.-6.
tahun. "elain itu, keterlibatan mulut mungkin lebih umum pada pem,igoid bulosa
diinduksi obat daripada di counterpart idiopatik.
i2. Reasi Pe$+#i)'s 1 lie
!eaksi Pemphiguslike menyerupai baik pem,igus 5ulgaris atau ,oliaceous
pem,igus, meskipun pem,igus ,oliaceous jarang terjadi di rongga mulut. #bat-obatan
yang mengandungi thiol adalah penyebab paling umum dari reaksi pemphiguslike
@lihat pola reaksi obat oral dan obat-obatan terkait dan kelas obat dalam
pendahuluanB. %alam obat-obatan pemphigus 5ulgaris, 5esikel relati, mudah pecah
dan jarang diobser5asi pada pemeriksaan klinis, dan kebanyakan kasus ini ditandai
dengan ulserasi irregular dengan batas yang tidak teratur yang bisa melibatkan
1
penggabungan daerah luas dari mukosa. Pasien juga mungkin terdapat sirkulasi
autoantibodike komponen desmosomal.
2. Dr') In&'/e& L'+'s 0DIL.
%rug &nduced 0upus @%&0B adalah suatu reaksi obat merugikan yang paling sering
berhubungan dengan procainamide dan hydralaCine, walaupun terkait dengan lebih
dari F. obat @lihat Pola reaksi obat oral dan obat-obatan terkait dan kelas obat dalam
PendahuluanB. "ecara klinis, lesi oral dari %&0 dapat merangsang liken planus erosi,,
dengan daerah eritem irregular dan ulkus dipinggiri striae keratotik yang menyebar.
0esi-lesi ini mungkin mempengaruhi palatum, mukosa buccal, dan gingi5al atau
jaringan al5eolar. 0ichen planus jarang terjadi pada palatum durum @palatum kerasB
mungkin dapat membantu membedakannya daripada %&0.
Pi)$entasi
Perubahan warna mukosa mulut selepas pemakaian obat adalah mungkin
karena stimulasi langsung melanositik, pengendapan metabolit obat berpigmen, atau
keduanya. !eaksi ini telah lama diakui dengan agen antimalaria, khususnya
chloroEuine, hydro8ychloroEuine, Euinacrine, dan Euinidine @lihat Pola reaksi obat
oral dan obat-obatan terkait dan kelas obat dalam PendahuluanB. Khasnya, pigmentasi
ini paling menonjol di daerah midposterior dari palatum durum, tampak hitam-
kebiruan hingga coklat, dan bisa bilateralB. Pola serupa juga dijelaskan dengan obat
penenang, terutamanya chlorpromaCine.
Pigmentasi mulut yang makular atau di,us bisa terjadi selepas pengobatan penyakit
*&J dengan Cido5udine, clo,aCimine, dan ketoconaCole. Penggunaan minocycline
mungkin berhubungan dengan pigmenasi hitam-kebiruan hingga coklat pada mukosa.
Pewarnaan pada dasar struktur tulang dan akar gigi dan enamel dapat terjadi.
Pewarnaan dari tulang dan akar gigi diyakini memainkan peran utama dalam tempat
1
yang paling menonjol dari perubahan warna, seperti jaringan al5eolar, gingi5a, dan
palatal. Namun, pewarnaan dari mukosa sendiri telah dilaporkan pada beberapa
tempat seperti lidah.
Pi)$entasi terait $in"/-/line +a&a +asien -an) tela# $en))'naan "!at
sela$a !e!era+a !'lan 'nt' $en)"!ati 3era4at +ara#. Per#atian 4arna a!'*
a!' e!ir'an &ari $'"sa al2e"lar -ait' s'+eri"r &ari+a&a $'"sa )in)i2a
0+in. -an) !er/ant'$ &en)ann-a.
Den)an i5in &ari Ja/ 6at"n% DDS% R"/#ester% N7.
1
Pe$!esaran Gin))i2a
Pembesaran non-neplastik, di,us atau pertumbuhan berlebih dari jaringan
gingi5a awalnya diakui pada pasien yang menggunakan ,enitoin. +aru-baru ini,
calcium channel blockers @anggota obat kelas dihidropiridinB, siklosporin, dan obat
antiepilepsi natrium 5alproate telah dikaitkan dengan reaksi ini. %alam keluarga
calcium channel blocker, ni,edipin, diltiaCem, 5erapamil, dan amlodipine adalah salah
satu agen penyebab yang paling sering dilaporkan @lihat pola reaksi obat oral dan
obat-obatan terkait dan kelas obat dalam PendahuluanB.
Pe$!esaran )in)i2a +a&a se"ran) +ria 81 ta#'n &en)an ri4a-at !e!era+a
ta#'n $en))'naan /al/i'$ /#annel !l"/ers.
Den)an i5in &ari 6arl Allen% DDS% 6"l'$!'s% O#i".
Pembesaran gingi5a tidak dijumpai pada semua pasien. Pre5alensinya yaitu
-A-A.;, dan tidak ada hubungan yang jelas antara dosis obat dan beratnya
pembesaran ginggi5a tersebut. <,ek sinergis telah dilaporkan dengan penggunaan -
1
atau lebih agen yang dicurigai. Pembesaran jaringan biasanya terjadi 1-/ bulan
setelah terapi obat dan dimulai di jaringan gusi dangkal antara gigi @interdental
papillaB. "egmen anterior lebih sering terlibat daripada daerah posterior, tetapi
keterlibatan umum adalah sering.
$danya hubungan terbalik antara kebersihan mulut dan tingkat pembesaran
gingi5a terkait dengan obat-obat tersebut. Meskipun kebersihan mulut yang baik
biasanya tidak mencegah pembesaran pada indi5idu yang rentan, sering dapat
membatasi keparahan respon ke tingkat yang dapat diterima. Meskipun penghentian
atau penggantian obat dapat menyebabkan regresi, operasi pengangkatan jaringan
yang berlebih @yaitu, gingi5ektomiB mungkin diperlukan untuk kebersihan mulut
yang memadai pada indi5idu tertentu.
Osteonecrosis of the Jaws (ONJ) 1 -an) Dise!a!an Pen))'naan Bif"sf"nat
Osteonekrosis of the jaw @#NB atau osteonekrosis rahang adalah e,ek
samping atau e,ek yang merugikan yang muncul berhubungan dengan terapi
bi,os,onat @+PB meskipun telah dilaporkan bahwa beberapa kasus yang timbul
disebabkan oleh obat lain atau kombinasi obat. "ecara klinis, #N ditandai dengan
pemaparan yang berlebihan dan terjadinya nekrosis pada bagian dari tulang rahang.
+P merupakan turunan dari piro,os,at yang secara signi,ikan mengurangi tingkat
pergantian tulang dengan menginhibisi akti5itas osteoklastik. %isebabkan tuntutan
metabolik yang relati, tinggi dari tulang rahang, diperkirakan bahwa penggunaan +P
yang berlanjutan dapat mensupressi kemampuan tulang rahang untuk melakukan
proses normal pemeliharaan dan perbaikan, terutama dengan adanya mikro,lora
kompleks yang ditemukan dalam rongga mulut.
+P sering digunakan terutama dalam pengobatan osteoporosis dan penyakit
tulang metabolik lainnya. !esiko terbesar terjadinya #N adalah pasien kanker.
"ejumlah kondisi keganasan, seperti multiple myeloma dan karsinoma payudara,
terapi +P memiliki e,ek terhadap tulang skeleton dimana secara signi,ikannya +P
1
mengurangi penyebaran lokal dan metastasis dari lesi tulang, serta mengurangi
morbiditas dan mortalitasnya. 0ebih dari :.; kasus #N ditemui pada pasien dengan
terapi kanker. Pasien-pasien kanker dirawat dengan +P yang diberikan secara
intra5ena dengan dosis yang lebih tinggi dibanding dengan terapi yang digunakan
untuk kondisi tulang metabolik.
Pa+aran &ari +"steri"r $an&i!'la iri +a&a 4anita 91 ta#'n &en)an ri4a-at
aner +a-'&ara &an +en)"!atan &en)an !if"sf"nat intra2ena 0asa$ 5"le&r"ni/
:;"$eta<..
#N yang merupakan e,ek yang merugikan dari penggunaan +P ditandai
dengan pemaparan dan de5italisasi tulang mandibula atau maksilla yang memberi
gejala asimtomatik atau nyeri yang signi,ikan. Tulang mandibula @ rahang bawah B
lebih sering terjadi daripada tulang maksilla @ rahang atas B dengan perbandingan -91.
"ering juga ditemukan presentasi multi,okal yang melibatkan kedua rahang atau
melibatkan beberapa bagian pada satu rahang. %ilaporkan 2.; kasus #N dijumpai
sebelum operasi gigi atau ekstraksi, dengan kasus-kasus yang tersisa timbul secara
spontan. "ecara klinis, lesi muncul sebagai daerah yang terpapar, tulang berwarna
kuning-putih dengan margin yang ber5ariasi dari halus sampai kasar. "elain itu, dapat
terjadi in,eksi sekunder di daerah lesi, dengan timbulnya saluran sinus intraoral atau
,istula kulit.
&n,ormasi mengenai pengobatan dan tindak lanjut dari #N terkait +P sangat
terbatas. "ampai saat ini, terapi bedah agresi, dan tindakan seperti terapi oksigen
1
hiperbarik tampaknya tidak e,ekti, dan mungkin menjadi kontraindikasi. Tindakan
konser5ati, seperti debridement pada super,isial tulang nekrotik, bilasan antibiotik
topikal, dan terapi antibiotik sistemik untuk mengendalikan in,eksi sekunder telah
menunjukkan keberhasilan terbesar.
)ntuk mencegah +P yang menyebabkan #N, semua pasien kanker yang
dijadwalkan untuk mulai terapi +P intra5ena harus menerima pemeriksaan gigi untuk
mengidenti,ikasi dan menghilangkan sumber akti, atau potensial in,eksi. Tujuannya
adalah untuk mengurangi kebutuhan untuk ekstraksi berikutnya atau operasi
dentoal5eolar, setelah diketahui ,aktor risiko terjadinya #N. "elama pengobatan
dengan menggunakan +P, pasien harus menerima pemeriksaan intraoral berkala
untuk mendeteksi bukti awal #N. Ketika #N diidenti,ikasi, tindakan pengobatan
konser5ati, dilakukan bagi meminimalkan manipulasi atau paparan tulang. Tindakan
pengobatan konser5ati, diutamakan dibanding tindakan inter5ensi bedah agresi,.
"tudi prospekti, diperlukan untuk menilai ,aktor risiko lain yang terkait, tindakan
pro,ilaksis yang tepat, dan pengobatan yang optimal untuk kondisi ini.
E&'asi Pasien
)ntuk sumber in,ormasi dan edukasi pasien, kunjungi eMedicineHealth's Allergies
Center. "elain itu, sebagai tambahan lihat eMedicineHealth's patient education
article Drug Allergy.
1
M'lti$e&ia
Pi)$entasi terait $in"/-/line +a&a +asien -an) tela# $en))'naan "!at
sela$a !e!era+a !'lan 'nt' $en)"!ati 3era4at +ara#. Per#atian 4arna a!'*
a!' e!ir'an &ari $'"sa al2e"lar -ait' s'+eri"r &ari+a&a $'"sa )in)i2a
0+in. -an) !er/ant'$ &en)ann-a.
Den)an i5in &ari Ja/ 6at"n% DDS% R"/#ester% N7.
1
Pe$!esaran )in)i2a +a&a se"ran) +ria 81 ta#'n &en)an ri4a-at !e!era+a
ta#'n $en))'naan /al/i'$ /#annel !l"/ers.
Den)an i5in &ari 6arl Allen% DDS% 6"l'$!'s% O#i".
1
Pa+aran &ari +"steri"r $an&i!'la iri +a&a 4anita 91 ta#'n &en)an ri4a-at
aner +a-'&ara &an +en)"!atan &en)an !if"sf"nat intra2ena 0asa$ 5"le&r"ni/
:;"$eta<..
1
Daftar P'staa
1. Parks <T. 0esions associated with drug reactions. Dermatol Clin. $pr
1::2K13@-B9/-F-/F. =Medline>.
-. Porter "!, "cully 7. $d5erse drug reactions in the mouth. Clin Dermatol.
"ep-#ct -...K16@AB9A-A-/-.=Medline>.
/. "cully 7, +agan J. $d5erse drug reactions in the oro,acial region. Crit Re
Oral !iol Med. ul 1 -..3K1A@3B9--1-/:. =Medline>.
3. Lright M. #ral mani,estations o, drug reactions. Dent Clin "orth Am. ul
1:63K-6@/B9A-:-3/. =Medline>.
A. Mc7artan +<, Mc7reary 7<. #ral lichenoid drug eruptions. Oral Dis. un
1::FK/@-B9A6-2/. =Medline>.
2. "cully 7, +eyli M, 4erreiro M7, et al. )pdate on oral lichen planus9
etiopathogenesis and management.Crit Re Oral !iol Med. 1::6K:@1B962-
1--. =Medline>.
F. Jassile5a ". %rug-induced pemphigoid9 bullous and cicatricial. Clin
Dermatol. May-un 1::6K12@/B9/F:-6F.=Medline>.
6. 7i5atte . =%rug-induced pemphigus diseases>. Dermatol Monatsschr.
1:6:K1FA@1B91-F. =Medline>.
:. 7riado P!, +randt *!, Moure <!, Pereira '0, "anches Mnior $. $d5erse
mucocutaneous reactions related to chemotherapeutic agents9 part &&. An !ras
Dermatol. #ct -.1.K6A@AB9A:1-2.6. =Medline>.
1.. Loo "+, *ellstein L, Kalmar !. Narrati5e =corrected> re5iew9
bisphosphonates and osteonecrosis o, the jaws. Ann #ntern Med. May 12
-..2K133@1.B9FA/-21. =Medline>.
11. Loo "+, Kalmar !. #steonecrosis o, the jaws and bisphosphonates. Alpha
Omegan. -..FK1..@3B91:3--.-. =Medline>.
1-. Migliorati 7$, "chubert MM, Peterson %<, "eneda 0M. +isphosphonate-
associated osteonecrosis o, mandibular and ma8illary bone9 an emerging oral
complication o, supporti5e cancer therapy. Cancer. ul 1 -..AK1.3@1B96/-
:/. =Medline>.
1
1/. !uggiero "0, Mehrotra +, !osenberg T, <ngro,, "0. #steonecrosis o, the
jaws associated with the use o, bisphosphonates9 a re5iew o, 2/ cases. $ Oral
Ma%illofac &urg. May -..3K2-@AB9A-F-/3. =Medline>.
13. $bdollahi M, !ahimi !, !ad,ar M. 7urrent opinion on drug-induced oral
reactions9 a comprehensi5e re5iew.$ Contemp Dent 'ract. Mar 1 -..6K:@/B91-
1A. =Medline>.
1A. 7rowson $N, Magro 7M. !ecent ad5ances in the pathology o, cutaneous
drug eruptions. Dermatol Clin. ul 1:::K1F@/B9A/F-2., 5iii. =Medline>.
12. Ne5ille +L, %amm %%, $llen 7M, +ouEuot <. Oral and Ma%illofacial
'athology. Philadelphia, Pa9 L+ "aundersK 1::A91-:-/-, --:-/., -3F-:, //.-
/1.
1
Kata K'n/i
!eaksi obat, reaksi obat oral, reaksi e,ek samping obat, 8erostomia, 5esiculobullous
mucositis, 5esiculoulcerati5e mucositis, ulcerati5e mucositis, pembesaran gingi5a,
osteonecrosis rahang, #N, osteonecrosis o, the jaw, multi,ormis eritema, liken
planus, reaksi multi,ormis eritema, reaksi pem,igoid, reaksi pem,igus, reaksi lupus
eritematus, drug induced lupus.
6"ntri!'t"r Inf"r$ati"n an& Dis/l"s're
A't#"r
J"#n Kal$ar DMD% P#D, $ssociate %ean ,or $cademic $,,airs and 7linical
Pro,essor, %i5ision o, #ral and Ma8illo,acial "urgery and Pathology, 7ollege o,
%entistry, the #hio "tate )ni5ersity.
ohn Kalmar is a member o, the ,ollowing medical societies9 $merican $cademy o,
#ral and Ma8illo,acial Pathology and $merican %ental $ssociation.%isclosure9
Merck ( 7o., &nc. 7onsulting ,ee !e5iew panel membership
S+e/ialt- E&it"r B"ar&
Da2i& P Fi2ens"n% MD $ssociate %irector, "t oseph Mercy *ospital %ermatology
Program, $nn $rbor, Michigan.
%a5id P 4i5enson, M% is a member o, the ,ollowing medical societies9 $merican
$cademy o, %ermatology, Medical %ermatology "ociety, Michigan %ermatological
"ociety, Michigan "tate Medical "ociety, Photomedicine "ociety, "ociety ,or
&n5estigati5e %ermatology, and Lound *ealing "ociety
%isclosure9 Nothing to disclose.
P#ar$a/- E&it"r
Da2i& F B'tler% MD Pro,essor o, %ermatology, Te8as $(M )ni5ersity 7ollege o,
MedicineK 7hair, %epartment o, %ermatology, %irector, %ermatology !esidency
Training Program, "cott and Lhite 7linic, Northside 7linic
%a5id 4 +utler, M% is a member o, the ,ollowing medical societies9 $lpha #mega
$lpha, $merican $cademy o, %ermatology, $merican Medical
$ssociation, $merican "ociety ,or %ermatologic "urgery,$merican "ociety ,or
M#*" "urgery, $ssociation o, Military %ermatologists, and Phi +eta Kappa
%isclosure9 Nothing to disclose.
Mana)in) E&it"r
1
Dr"re Eisen% MD% DDS 7onsulting "ta,,, %epartment o, %ermatology,
%ermatology !esearch $ssociates o, 7incinnati
%rore <isen, M%, %%" is a member o, the ,ollowing medical societies9 $merican
$cademy o, %ermatology, $merican $cademy o, #ral Medicine, and $merican
%ental $ssociation
%isclosure9 Nothing to disclose.
6ME E&it"r
Glen H 6ra4f"r&% MD $ssistant 7linical Pro,essor, %epartment o, %ermatology,
)ni5ersity o, Pennsyl5ania "chool o, MedicineK 7hie,, %i5ision o, %ermatology, The
Pennsyl5ania *ospital
'len * 7raw,ord, M% is a member o, the ,ollowing medical societies9 $lpha #mega
$lpha, $merican $cademy o, %ermatology, $merican Medical $ssociation, Phi +eta
Kappa, and "ociety o, )"$4 4light "urgeons
%isclosure9 Nothing to disclose.
6#ief E&it"r
=illia$ D Ja$es% MD Paul ! 'ross Pro,essor o, %ermatology, Jice-7hairman,
!esidency Program %irector, %epartment o, %ermatology, )ni5ersity o,
Pennsyl5ania "chool o, Medicine.
Lilliam % ames, M% is a member o, the ,ollowing medical societies9 $merican
$cademy o, %ermatology and "ociety ,or &n5estigati5e %ermatology