Anda di halaman 1dari 23

1

PRESENTASI KASUS
DEPARTEMEN ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
Tanggal masuk RSUD : 23 Mei 2014
Jam : 13.30 WIB

LAPORAN KASUS
I. Identifikasi
Nama Ny. R
Jenis Kelamin Perempuan
Umur 46 tahun
Pendidikan SMA
Pekerjaan IRT
Status Pernikahan Menikah
Agama Islam
Alamat Link. Ciora Kawista RT. 007/002 Gerogol
Tanggal Masuk RS 23 Mei 2014
No. CM 0012xx

II. Anamnesis
3.1 Keluhan Utama
Terdapat benjolan pad bagian perut bagian bawah sejak 5 tahun yang lalu dan
dirasakan semakin membesar.

3.2 Keluhan Tambahan
Menstruasi yang tidak teratur sejak 2 bulan terakhir, lemas (+).

3.3 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien P
1
A
0
merupakan pasien kiriman dari poli kandungan RSUD Cilegon. Pasien
datang dengan keluhan terdapat benjolan pada perut bagian bawah sejak 5 tahun
yang lalu, dan dirasakan semakin membesar. Awalnya benjolan berukuran kecil
dan tidak dihiraukan oleh pasien, tetapi lama kelamaan semakin membesar dan
2

terasa mengganggu. Perut terasa penuh dan berat. Nyeri di bagian perut bagian
bawah tidak dirasakan pasien. Dalam satu bulan siklus menstruasi teratur, lamanya
haid 5-7 hari, menghabiskan 2-3 pembalut dalam 1 hari, pasien kadang merasa
nyeri yang hebat pada saat menstruasi. Tetapi selama dua bulan terakhir, pasien
merasa siklus haid menjadi tidak teratur, menstruasi menjadi lebih banyak dan
panjang dari biasanya. Pasien tidak mengeluhkan napsu makan menurun maupun
penurunan berat badan, pasien hanya merasa lemas akhir-akhir ini.

3.4 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menyangkal perrnah mengalami penyakit yang sama.

3.5 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga lain yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

3.6 Riwayat Haid
Pasien biasanya haid teratur perbulannya, kadang disertai nyeri perut yang hebat
saat haid, dan selama 2 bulan terakhir ini haid menjadi tidak teratur.
Menarche : 13 tahun
Siklus Haid : 1 Bulan
Jumlah : 2-3x ganti pembalut
Lama : 7 hari
HPHT : 15 - Mei - 2014

3.7 Riwayat Pernikahan, Kehamilan dan Persalinan Dahulu
Pasien sudah menikah sebanyak 1x, dan memiliki seorang putra yang sekarang
telah berusia 26 tahun, melahirkan secara normal, persalinan dibantu oleh bidan,
dengan usia kehamilan cukup bulan.

3.8 Riwayat Kontrasepsi
Pasien mengaku menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan, selama 20 tahun.



3

III. Pemeriksaan Fisik
I. Status Tanda Vital
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tek. Darah : 130/80 mmHg
Nadi : 82x/menit, reguler
Pernafasan : 20 x/menit, reguler
Suhu : 37
0
C

II. Status Generalis
Kepala : Normosefali, rambut hitam, rontok (-).
Mata : Konjungtiva anemis (+/+) Sclera ikterik (-/-)
Telinga : Simetris kanan dan kiri, hiperemis (-), serumen (-)
Leher : Pembesaran KGB (-), tidak teraba massa, dan trakea ditengah
Mulut : Bibir kering, uvula tidak deviasi, sianosis (-), lidah bersih
Thorax
A. Dada
Payudara simetris, tidak terdapat sikatriks dan massa
B. Jantung
Iktus kordis tidak terlihat, pulsasi iktus kordis teraba, suara sonor di
seluruh lapang paru, dan bunyi jantung I&II reguler. murmur (-), gallop (-)
C. Paru
Suara nafas utama vesikuler, Ronki (-/-), Wheezing (-/-)

Abdomen : Perut tampak sedikit membuncit, teraba massa pada perut
bagian bawah dengen konsistensi kenyal dan berbatas tegas,
mobile, dan tidak nyeri pada penekanan, bising usus (+), suara
tympani di keempat kuadran, nyeri lepas (-), pembesaran
hepar dan lien (-)
Genitalia : Perdarahan vagina (-)
Ekstremitas : Akral hangat, Edema tungkai -/-, Varises -/-

4

III. Status Gynekologi
Inspekulo : tidak dilakukan
Vaginal Toucher : tidak dilakukan

IV. Pemeriksaan Laboratorium
GDS : 93 mg/dl
Hemoglobin : 9,3 g/dl
Hematokrit : 34 %
Leukosit : 8250 /l
Trombosit : 312000 /l
Massa Perdarahan : 2
Massa Pembekuan : 9
SGOT : 13 u/l
SGPT : 014 u/l
Ureum : 21 mg/dl
Kreatinin : 0,9
Golongan Darah : O/ Rh +
HBSAg : Non reaktif
Anti HIV 1 : Negative

V. Pemeriksaan Penunjang
Test pack/ PP tes (-)
USG: Gambaran uterus membesar

IV. Diagnosis Kerja
Suspek Mioma Uteri
V. Rencana Penatalaksanaan
Observasi keadaan umum dan tanda vital
Konsul SpPD
Persiapan tranfusi PRC
Ceftriaxone 2x1
Ketorolac 3x1
Histerektomi total
5

VI. Prognosis
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad malam
Ad sanationam : ad bonam

VII. Follow Up
Pra Operasi
23 Mei 2014






24 Mei 2014






25 Mei 2014


S/ : terdapat benjolan pada perut bawah, lemas (+)
O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis
TD : 130/80 mmHg, N: 72 x/menit,
RR : 20 x/menit, S: 37,0C
A/ : Suspek Mioma Uteri
P/ : Perbaiki KU dan Observasi tanda-tanda vital

S/ : kepala terasa pusing, batuk (+)
O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis
TD : 120/80 mmHg, N: 89 x/menit,
RR : 21 x/menit, S: 36,2C
A/ : Suspek Mioma Uteri
P/ : Observasi tanda-tanda vital Pro Histerektomi total

S/ : pasien merasa cemas untuk menghadapi operasi besok,
keluhan lain disangkal.
O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis
TD : 130/90 mmHg, N: 80 x/menit,
6








26 Mei 2014
RR : 20 x/menit, S: 36,1C
A/ : Suspek Mioma Uteri
P/ : Observasi tanda-tanda vital Pro Histerektomi total
Persiapkan Operasi Besok: informed consent, pasang kateter,
pasien dipuasakan.
Sediakan PRC 2 Kolf

S/ : pasien merasa tidak ada keluhan, hanya cemas untuk operasi
hari ini
O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis
TD : 140/90 mmHg, N: 88 x/menit,
RR : 20 x/menit, S: 36,4C
A/ : Suspek Mioma Uteri Pro Histerektomi Total
P/ : Konsul spesialis penyakit dalam, untuk EKG dan Foto
Toraks, jika hasil baik dipuasakan, acc untuk persiapan operasi.
Konsul spesialis anastesi untuk konfirmasi tindakan histerektomi
total.
: IVFD RL 20 tpm
Ceftriaxone 1 gr inj 2x1
Ketorolac inj 3x1 amp


Laporan Operasi Histerektomi Total
1) Pasien dibaringkan dengan posisi terlentang dalam anestesi spinal.
2) Dilakukan aseptik dengan antiseptik pada daerah operasi.
7

3) Daerah operasi dipersempit dengan duk steril.
4) Insisi kulit pada linea mediana.
5) Insisi diperdalam sampai peritoneum dan tampak uterus sebesar tinju dewasa,
berwarna merah muda, permukaan rata, konsistensi kenyal. Tak tampak perlengketan
uterus dengan jaringan sekitarnya.
6) Uterus dikeluarkan dari rongga abdomenn, dipasang buikhas untuk melindungi usus.
7) Ligamentum rotundum kanan diidentifikasi, diklem pada dua tempat, dipotong lalu
diikat.
8) Ligamentum latum kanan diidentifikasi, diklem pada dua tempat, dipotong lalu diikat.
9) Ligamentum ovarii proprium kanan diidentifikasi, di klem pada 2 tempat, dipotong
lalu diikat. Dilakukan hal yang sama pada sisi kiri.
10) Lembaran depan ligamentum latum kanan dan kiri dibuka secara tajam sedekat
mungkin ke uterus menyisiri sisi uterus sampai setinggi plica vesico uterina.
11) Lembaran belakang ligamentum latum kanan dan kiri dibuka secara tajam sedekat
mungkin ke uterus menyisiri sisi uterus sampai setinggi ligamnetum sacrouterina.
12) Jaringan parametrium kanan dan kiri diklem dan dipotong lalu diikat.
13) Plica vesica uterina dipotong melintang, vesica urinaria dibebaskan dari serviks.
14) Serviks bagian atas dijepit lalu dipotong dan diikat.
15) Kontrol perdarahan.
16) Dinding abdomen dibersihkan dari darah dan bekuan, dinding abdomen dijahit lapis
demi lapis.
17) Operasi selesai.

Post Operasi
26 Mei 2014

S/ : Nyeri luka post op (+), lemas (+), kaki belum bisa bergerak
(+)
O/ : KU : Lemah, Kesadaran : Compos mentis
TD : 130/70 mmHg, N: 80 x/menit,
RR : 22x/menit, S: 37,1C
A/ : Post histerektomi total a/i mioma uteri
8

P/ : IVFD RL 20 tpm
Ceftriaxone 1 gr inj 2x1
Ketorolac inj 3x1 amp
Transfusi PRC
27 Mei 2014

S/ : nyeri luka post op (+), Mobilisasi (+), flatus (+)
O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis
TD : 120/80 mmHg, N: 82 x/menit,
RR : 22x/menit, S: 36C, Hb : 9,6 g/dl
A/ : Post histerektomi total a/i mioma uteri
P/ : aff infus
Amoxilin 500 mg 3x1
Asam Mefenamat 3x1
28 Mei 2014 S/ : pasien masih mengeluh nyeri pada luka operasi, dan risih
bila luka operasi akan terbuka bila pasien batuk, BAB (-)
O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis
TD : 140/90 mmHg, N: 80 x/menit,
RR : 20x/menit, S: 36,6C
A/ : Post Histerektomi total a/i Mioma Uteri (Hasil PA masih
menunggu)
P/ : Amoxicilin tab 3x500 mg
Asam mefenamat tab 3x500 mg
Zat besi 1x1
Pasien boleh pulang
9

Diagnosis Akhir
Post Histerektomi Total a/i Mioma Uteri
10

DISKUSI

I. IDENTIFIKASI
Pasien P
1
A
0
merupakan pasien kiriman dari poli kandungan RSUD Cilegon. Pasien
datang dengan keluhan terdapat benjolan pada perut bagian bawah sejak 5 tahun yang
lalu, dan dirasakan semakin membesar. Awalnya benjolan berukuran kecil dan tidak
dihiraukan oleh pasien, tetapi lama kelamaan semakin membesar dan terasa
mengganggu. Perut terasa penuh dan berat. Nyeri di bagian perut bagian bawah tidak
dirasakan pasien. Dalam satu bulan siklus menstruasi teratur, lamanya haid 5-7 hari,
menghabiskan 2-3 pembalut dalam 1 hari, pasien kadang merasa nyeri yang hebat pada
saat menstruasi. Tetapi selama dua bulan terakhir, pasien merasa siklus haid menjadi
tidak teratur, menstruasi menjadi lebih banyak dan panjang dari biasanya. Pasien tidak
mengeluhkan napsu makan menurun maupun penurunan berat badan, pasien hanya
merasa lemas akhir-akhir ini. Pasien sedang tidak hamil, dan sudah tidak menggunakan
kontrasepsi apapun.
PERMASALAHAN
a. Apakah penegakan diagnosis pada kasus ini sudah tepat?
b. Apakah faktor predisposisi pada pasien ini?
c. Apakah tatalaksana pada pasien ini sudah adekuat?

II. ANALISA KASUS
a. Apakah penegakan diagnosis pada kasus ini sudah tepat?
Belum tepat, karena
Anamnesis didapatkan pasien mengeluh terdapatnya massa diperut bagian bawah
pasien, yang dirasakan sudah 5 tahun yang lalu. Benjolan awalnya tidak besar,
sehingga pasien menghiraukannya, tetapi lama kelamaan benjolan semakin
membesar dan mengganggu pasien. Serta pada beberapa bulan terakhir, pasien
mengalami menstruasi yang tidak teratur dan lebih banyak dari biasanya, padahal
biasanya siklus menstruasi pasien teratur, walaupun kadang disertai nyeri yang
hebat pada awal menstruasi.
Pemeriksaan fisik didapatkan saat palpasi abdomen adanya massa dengan
konsistensi kenyal, berbatas tegas, dapat digerakkan, dan tidak nyeri pada
penekanan.
11

Pemeriksaan ginekologi tidak dilakukan sehingga tidak dapat dipastikan darimana
perdarahan yang dikeluhkan pasien.

Pemeriksaan penunjang juga merupakan alat diagnosis pasti dalam hal ini
dibuktikan dengan adanya hasil USG yang menunjukkan adanya massa di uterus
pasien. Selain itu dilakukan pula PP Test untuk menyingkirkan kehamilan pada
pasien.
b. Apakah faktor predisposisi pada pasien ini?
Faktor predisposisi pada pasien ini adalah Usia, dimana pasien sudah berusia > 45
tahun. Dimana faktor predisposisi pada mioma uteri adalah usia, paritas, ras dan
genetik, serta fungsi ovarium

c. Apakah tatalaksana pada pasien ini sudah adekuat?
Ya, penatalaksanaan histerektomi pada pasien dirasa sudah tepat dikarenakan
histerektomi yang dilakukan selain untuk menghilangkan miom juga untuk
melakukan diagnostik terhadap jaringan miom untuk menentukan ada tidaknya
tanda-tanda keganasan. PRC juga diberikan terhadap pasien karena pada
pemeriksaan haemoglobin didapatkan nilai yang rendah, sehingga hal ini tepat
dilakukan untuk meningkatkan kembali Hb pasien.






12

TINJAUAN PUSTAKA

MIOMA UTERI
DEFINISI
Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi padat kenyal, batas
jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel. Tumor ini juga
dikenal dengan istilah fibromioma uteri, leiomioma uteri, atau uterine fibroid.
1

ETIOLOGI
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan penyakit
multifaktorial. Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang
dihasilkan dari mutasi somatik dan sebuah sel neoplastik tunggal. Faktor faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tumor disamping faktor predisposisi genetik adalah estrogen,
progesteron dan human growth hormon.
1. Estrogen
Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Seringkali terdapat petumbuhan tumor yang
cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan mengecil padaa saat
menopouse dan pengangkatan ovarium. Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan
anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas., 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini
mengubah estradiol menjadi estron. Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous,
yang jugamempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium
normal.
2. Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat
pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu : mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan
menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3. Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai
struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini, memberi kesan
13

bahwa pertumbuhan yang cepat dari leimioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil
dari aksi sinergistik antara HPL dan estrogen.
Ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri,
yaitu :
1. Umur : mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar
10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan
gejala klinis antara 35-45 tahun.
2. Paritas : lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi
sampai saat ini belum diketahui apakah infertil menyebabkan mioma uteri atau
sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertil, atau apakah kedua keadaan ini
saling mempengaruhi.
3. Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam,
angka kejadiaan mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi
pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
4. Fungsi ovarium : diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan
pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang
setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause.
KLASIFIKASI
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan selebihnya adalah dari
korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya, maka mioma
uteri dibagi 4 jenis antara lain mioma submukosa, mioma intramural, mioma subserosa, dan
mioma intraligamenter. Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%),
subserosa (48,2%), submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%).
1,2

1. Mioma submukosa
Berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini di jumpai
6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma uteri jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan,
tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya benjolan
14

waktu kuret, dikenal sebagai Currete bump. Tumor jenis ini sering mengalami infeksi,
terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis
mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke
vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang di lahirkan, yang mudah
mengalami infeksi, ulserasi, dan infark. Pada beberapa kasus, penderita akan mengalami
anemia dan sepsis karena proses di atas.
1

2. Mioma intramural
Terdapat di dinding uterus diantara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor,
jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuklah semacam simpai yang mengelilingi
tumor. Bila didalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai
bentuk yang berdungkul dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding
depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih keatas,
sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.
3. Mioma subserosa
Apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus diliputi
oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum latum
menjadi mioma intraligamenter.
4. Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum
atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus. Jarang sekali ditemukan satu
macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam satu
saluran serviks sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma
dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari berkas otot polos dan jaringan ikat yang
tersusun seperti kumparan (whorle like pattern) dengan pseudokapsul yang terdiri dari
jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan sarang mioma ini.
15


Gambar 1. Jenis-jenis mioma uteri

Gambaran Mikroskopik
Pada pembelahan jaringan mioma tampak lebih putih dari jaringan sekitarnya. Pada
pemeriksaan secara mikroskopik dijumpai sel-sel otot polos panjang, yang membentuk
bangunan yang khas sebagai kumparan. Inti sel juga panjang dan bercampur dengan jaringan
ikat. Pada pemotongan tranversal, sel berbentuk polihedral dengan sitoplasma yang banyak
mengelilinginya. Pada pemotongan longitudinal inti sel memanjang, dan ditemukan adanya
mast cells diantara serabut miometrium sering diinterprestasi sebagai sel tumor atau sel
raksasa (giant cells).
1,3,4

Perubahan Sekunder
1. Atrofi.
Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan berakhir mioma uteri menjadi kecil.

2. Degenerasi hialin.
Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita usia lanjut. Tumor kehilangan
struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian
16

kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok
lainnya.

3. Degenerasi kistik.
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga
terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi
pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma.
Dengan konsistansi yang lunak tumor ini sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu
kehamilan.

4. Degenerasi membatu.
Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam
sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma
menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.

5. Degenerasi merah.
Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis diperkirakan
karena suatu nekrosis subakut akibat gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat
terlihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan oleh pigmen
hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada
kehamilan muda yang disertai emesis dan haus, sedikit demam dan kesakitan, tumor dan
uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik seperti ini menyerupai
tumor ovarium terpuntir atau mioma bertangkai.

6. Degenerasi lemak.
Keadaan ini jarang dijumpai, tetapi dapat terjadi pada degenerasi hialin yang lanjut,
dikenal dengan sebutan fibrolipoma.
4


PATOFISIOLOGI
Mioma uteri terjadi karena adanya sel-sel yang belum matang dan pengaruh estrogen yang
menyebabkan submukosa yang ditandai dengan pecahnya pembuluh darah dan intrenurel,
sehingga terjadi kontraksi otot uterus yang menyebabkan perdarahan pervaginam lama dan
17

banyak. Dengan adanya perdarahan pervaginam lama dan banyak akan terjadi resiko tinggi
kekurangan volume cairan dan gangguan peredaran darah ditandai dengan adanya nekrosa
dan perlengketan sehingga timbul rasa nyeri.
MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis terjadi hanya pada sekitar 35% - 50% dari pasien yang terkena. Adapun gejala
klinik yang dapat timbul pada mioma uteri:
Perdarahan abnormal, merupakan gejala klinik yang sering ditemukan berupa
menoragi, metroragi, dan hipermenorrhea. Perdarahan dapat menyebabkan anemia
defisiensi besi. Perdarahan abnormal ini dapat dijelaskan oleh karena bertambahnya
area permukaan dari endometrium yang menyebabkan gangguan kontraksi otot rahim,
distorsi dan kongesti dari pembuluh darah di sekitarnya dan ulserasi dari lapisan
endometrium.
Penekanan rahim yang membesar:
o Terasa berat di abdomen bagian bawah
o Gejala traktus urinarius, urin frekuensi, retensi urin, obstruksi ureter, dan
hidronefrosis.
o Gejala intestinal, konstipasi dan obstruksi intestinal
o Terasa nyeri karena tertekannya saraf
Nyeri dapat disebabkan oleh:
o Penekanan saraf
o Torsi bertangkai
o Submukosa mioma terlahir
o Infeksi pada mioma
Infertilitas, akibat penekanan saluran tuba oleh mioma yang berlokasi di kornu.
Perdarahan kontinyu pada pasien dengan mioma submukkosa dapat menghalangi
implantasi. Terdapat peningkatan insiden aborsi dan kelahiran prematur pada pasien
dengan mioma intramural dan submukosa.
Kongesti vena, disebabkan oleh kompresi tumor yang menyebabkan edema
ekstremitas bawah, hemorrhoid, nyeri, dan dyspareunia.
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan
18

Abortus spontan, biasanya mioma akan mengalami involusi yang nyata setelah
kelahiran.
DIAGNOSIS
Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
- Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.
- Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar.
- Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.
2. Pemeriksaan fisik
- Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.
- Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut
menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.
- Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata.
3. Gambaran Klinis
Pada umumnya wanita dengan mioma tidak mengalami gejala. Gejala yang terjadi
berdasarkan ukuran dan lokasi dari mioma yaitu :
a. Menoragia (menstruasi dalam jumlah banyak)
b. Perut terasa penuh dan membesar
c. Nyeri panggul kronik (berkepanjangan)
Nyeri bisa terjadi saat menstruasi, setelah berhubungan seksual, atau ketika terjadi
penekanan pada panggul. Nyeri terjadi karena terpuntirnya mioma yang bertangkai, pelebaran
leher rahim akibat desakan mioma atau degenerasi (kematian sel) dari mioma. Gejala lainnya
adalah:
- Gejala gangguan berkemih akibat mioma yang besar dan menekan saluran kemih
menyebabkan gejala frekuensi (sering berkemih) dan hidronefrosis (pembesaran ginjal)
- Penekanan rektosigmoid (bagian terbawah usus besar) yang mengakibatkan konstipasi
(sulit BAB) atau sumbatan usus
- Prolaps atau keluarnya mioma melalui leher rahim dengan gejala nyeri hebat, luka, dan
infeksi
19

Bendungan pembuluh darah vena daerah tungkai serta kemungkinan tromboflebitis
sekunder karena penekanan pelvis (rongga panggul).
3,4

4. Pemeriksaan luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas
atau bebas.
5. Pemeriksaan dalam
Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas
dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.
6. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium. Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini
disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-
kadang mioma menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan
polisitemia. Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat
penekanan mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter
dan kemudian menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal.
USG, untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium dan keadaan
adnexa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI,
tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG.
Untungnya, leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan
mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan.
Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa
bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus; lebih lanjut uterus
membesar dan berbentuk tak teratur.
Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta
menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter. Histerografi dan histeroskopi untuk menilai
pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas. Laparaskopi untuk mengevaluasi massa
pada pelvis.


20

KOMPLIKASI
1. Perdarahan sampai terjadi anemia.
2. Degenerasi ganas. Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32
0,6 % dari seluruh mioma serta merupakan 50 75 % dari semua sarkoma uterus.
Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah
diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan
apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2,3

3. Torsi. Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi
akut sehingga mengalami nekrosis. Keadaan ini dapat terjadi pada semua bentuk mioma
tetapi yang paling sering adalah jenis mioma submukosa pendinkulata.
DIAGNOSIS BANDING
Pada mioma subserosa, diagnosa bandingnya adalah tumor ovarium yang solid, atau
kehamilan uterus gravidus. Sedangkan pada mioma submucosum yang dilahirkan diagnosa
bandingnya adalah inversio uteri. Kemudian, pada mioma intramural, diagnosa bandingnya
adalah adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau sarcoma uteri.
3

TATALAKSANA
Pilihan pengobatan mioma tergantung umur pasien, paritas, status kehamilan, keinginan
untuk mendapatkan keturunan lagi, keadaan umum dan gejala serta ukuran lokasi serta jenis
mioma uteri itu sendiri.
3

1. Konservatif
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah ataupun medikamentosa
terutama bila mioma itu masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan atau keluhan.
Penanganan konservatif, bila mioma yang kecil pada pra dan post menopause tanpa gejala.
Cara penanganan konservatif sebagai berikut :
- Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
- Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC.
- Pemberian zat besi.
21

- Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari 1-3 menstruasi setiap
minggu sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan
menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan keadaan
hipoestrogenik yang serupa yang ditemukan pada periode postmenopause. Efek
maksimum dalam mengurangi ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu.
- Terapi agonis GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan, karena memberikan
beberapa keuntungan: mengurangi hilangnya darah selama pembedahan, dan dapat
mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.
- Baru-baru ini, progestin dan antipprogestin dilaporkan mempunyai efek terapeutik.
Kehadiran tumor dapat ditekan atau diperlambat dengan pemberian progestin dan
levonorgestrol intrauterin.

2. Pengobatan Operatif
Penanganan operatif, bila:
- Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.
- Pertumbuhan tumor cepat.
- Mioma subserosa bertangkai dan torsi.
- Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.
- Hipermenorea pada mioma submukosa.
- Penekanan pada organ sekitarnya.
Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :
a. Enukleasi Mioma
Dilakukan pada penderita infertil atau yang masih menginginkan anak atau
mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman, efektif,
dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan bila ada
kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus, juga dihindari pada
masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan tangkai dan jelas
yang dengan mudah dapat dijepit dan diikat. Bila miomektomi menyebabkan cacat yang
menembus atau sangat berdekatan dengan endometrium, kehamilan berikutnya harus
dilahirkan dengan seksio sesarea.
Kriteria preoperasi menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG)
adalah sebagai berikut :
22

Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.
Terdapat leiomioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.
Apabila tidak ditemukan alasan yang jelas penyebab kegagalan kehamilan dan
keguguran yang berulang.

b. Histerektomi
Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang memiliki
leiomioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG untuk
histerektomi adalah sebagai berikut:
Terdapatnya 1 sampai 3 leiomioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan
dikeluhkan olah pasien.
Perdarahan uterus berlebihan :
Perdarahan yang banyak bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8
hari.
Anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.
Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma meliputi :
Nyeri hebat dan akut.
Rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis.
Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulang dan tidak disebabkan
infeksi saluran kemih.
c. Penanganan Radioterapi
- Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).
- Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.
- Bukan jenis submukosa.
- Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.
- Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menyebabkan menopause.
- Maksud dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan.
PROGNOSIS
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh mioma,
serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan
pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, S. Tumor Jinak pada Alat-alat genital. Ilmu Kandungan. Edisi Kedua
2009 . Jakarta . P.T. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Hal 338 345

2. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD. Tumor Alat Kandungan . Ginekologi
edisi 2 , 2010 . Bandung : Elstar Offset. Hal : 154 161

3. Wijayanegara, Hidayat et al. 1997. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan
Ginekologi RS Hasan Sadikin, Myoma Uteri . Hal : 90-92

4. Mioma Uteri diunduh dari : http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1329,
diakses 6 Mei 2014.