Anda di halaman 1dari 44

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI

BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG


BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 1


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Salah satu ruang lingkup epidemiologi ialah mempelajari faktor-
faktor yang mempengaruhi frekuensi dan penyebaran masalah
kesehatan pada manusia. Adapun masalah kesehatan yang dipandang
amat penting ialah yang menyangkut penyakit. Berbagai masalah
kesehatan yang bukan penyakit hanya akan mempunyai arti apabila ada
hubungannya dengan penyakit, jika tidak demikian maka
penanggulangannya tidak terlalu diprioritaskan.
1

Salah satu masalah kesehatan di dunia saat ini adalah Penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Atas ( ISPA ). ISPA adalah penyakit saluran
pernapasan atas, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai
spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi
ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada
patogen penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu.
2

Penyakit ISPA ini juga merupakan salah satu penyakit
penyebab kematian tersering pada anak-anak di negara-negara yang
sedang berkembang. Berdasarkan laporan WHO tahun 2003
didapatkan bahwa dari 15 juta perkiraan kematian pada anak berusia
di bawah 5 tahun terdapat 4 juta (26,67%) kematian yang
diakibatkan oleh komplikasi dari penyakit ISPA setiap tahunnya.
Sebanyak dua pertiga kematian tersebut adalah bayi.
3

Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2007, menunjukkan prevalensi nasional ISPA sebanyak 25,5% (16
provinsi di atas angka nasional), angka kesakitan (morbiditas) pneumonia
pada Bayi: 2.2 %, Balita sebanyak 3%, angka kematian (mortalitas) pada
bayi 23,8%, dan Balita 15,5%.
4

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 2


Laporan Dinas Kesehatan kabupaten Flores Timur pada tahun
2009, menyatakan bahwa Pneumonia merupakan penyebab kematian pada
balita sebesar 29,4%, penyakit ISPA merupakan penyakit terbanyak
dengan jumlah kasus sebanyak 70.39.
5

Pada laporan dinas kesehatan kota Palembang pada tahun 2009,
menyatakan jumlah kasus ISPA sebanyak 43% ( Profil Dinas Kesehatan
kota Palembang, 2009). Berdasarkan hasil penelitian Ria Resti Gulo di
kelurahan Hilir Gunung Sitoli Kabupaten Nias tahun 2008 dengan desain
cross-sectional didapatkan prevalensi ISPA pada balita sebesar 79,6%.
6

Laporan dinas kesehatan provinsi Sumatera Utara pada tahun 2008
menunjukkan kasus 29.124 balita menderita pneumonia. Jumlah kasus
ISPA tiga tertinggi secara berturut-turut adalah kota Medan (7885 kasus),
Kabupaten Simalungun (4804 kasus), dan Kabupaten Labuhan Batu (4194
kasus).
Pada kabupaten Deli Serdang jumlah balita menderita ISPA
sebesar 40.714 kasus
7
. Kunjungan balita yang menderita ISPA ke
Puskesmas Aras Kabu pada tahun 2013 setiap tahunnya rata-rata 28,3%
dari jumlah penduduk usia balita, yaitu 328 balita dengan total 93 kasus.
Sedangkan pada desa lainnya yaitu desa Pasar V Kebun Kelapa angka
kejadian ISPA pada balita adalah sebanyak 35 kasus pertahun atau setiap
tahunnya rata-rata hanya 5,9% dari total jumlah balita.
Berdasarkan hal-hal diatas kami selaku dokter-dokter muda yang
sedang melakukan kepanitraan klinik di puskesmas Aras kabu merasa
perlu dilakukan penelitian tentang gambaran pengetahuan ibu yang
memiliki balita kejadian ISPA yang datang berobat ke puskesmas Aras
Kabu pada tahun 2013.

1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran pengetahuan ibu yang memiliki balita
Penderita ISPA di desa Aras kabu yang datang berobat jalan ke
puskesmas Aras Kabu pada tahun 2013?
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 3


1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu yang memiliki balita
penderita ISPA di desa Aras kabu yang datang berobat ke puskesmas Aras
Kabu pada tahun 2013.

1.3.2. Tujuan Khusus
Tujan khusus penelitian ini adalah :
1. Untuk mngetahui gambaran pengetahuan ibu yang memiliki Balita
Penderita ISPA tentang pengertian ISPA di desa Aras Kabu.
2. Untuk mengetahui Gambaran Pegetahuan Ibu yang memiliki
Balita penderita ISPA tentang tanda dan gejala ISPA di desa Aras
Kabu.
3. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu yang memiliki
Balita penderita ISPA tentang penyebab ISPA di desa Aras Kabu.
4. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu yang memiliki
Balita Penderita ISPA tentang Pencegahan ISPA di desa Aras
Kabu.

1.4. Manfaat Penelitian
a) Bagi Puskesmas
Sebagai Bahan masukan bagi petugas kesehatan lingkungan di Puskesmas
Aras Kabu dalam Upaya Pencegahan dan Penanggulan penyakit ISPA di
desa Aras Kabu Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang.
b) Bagi Dinas Kesehatan
Sebagai masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang dalam
hal Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit ISPA di desa Aras
Kabu.
c) Bagi Masyarakat
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 4


Sebagai bahan masukan untuk menambah pengetahuan tentang Upaya
Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit ISPA di desa Aras Kabu
kecamatan Beringin kabupaten Deli Serdang.
d) Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan informasi bagi institusi pendidikan tentang gambaran
pengetahuan ibu yang memiliki balita ISPA dan dari data hasil penelitian
ini di harapkan dapat di jadikan sebagai data dasar bagi peneliti
selanjutnya.





















MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 5


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi ISPA
Infeksi saluran pernafasan atas adalah infeksi yang disebabkan
mikroorganisme di struktur saluran nafas atas yang tidak berfungsi untuk
pertukaran gas, termasuk rongga hidung, faring, dan laring yang dikenal
dengan ISPA antara lain pilek, faringitis atau radang tenggorak, laringitis,
dan influenza tanpa komplikasi.
8
Istilah ISPA meliputi unsur infeksi dan
saluran pernafasan dengan pengertian sebagai berikut:
1
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
1
2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli
beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan
pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas,
saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan
organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru
termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract).
1

2.2. Etiologi ISPA
Etiologi ISPA terdiri dari berbagai jenis bakteri, virus dan riketsia.
Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus,
Pnemococcus, Hemofilus, Bordetella dan Corinebakterium. Virus
penyebabnya antara lain golongan Micsovirus, Adenovirus, Coronavirus,
Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus. Ricketsia penyebab ISPA adalah
Coxiella burnetti.
2

2.3. Gejala ISPA
Penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat menular, hal ini timbul
karena menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya
karena kelelahan atau stres. Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 6


panas, kering dan gatal dalam hidung,yang kemudian diikuti bersin terus
menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan nyeri
kepala
2
. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak.
Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan sumbatan di
hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya akan
berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah
sinusitis, faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii,
hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru).
2


2.4. Cara Penularan Penyakit ISPA
Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah
tercemar, bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, oleh
karena itu maka penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease.
Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi
tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi.
Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui
kontak langsung, namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar
penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur
penyebab atau mikroorganisme penyebab.
2

2.5. Klasifikasi ISPA
Berdasarkan umur ISPA diklasifikasikan menjadi 2 :
1. Kelompok umur < 2 bulan, diklasifikasikan atas :
a. Pneumonia berat: bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti
berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan baik), kejang,
rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun, stridor pada anak
yang tenang, mengi, demam(38C atau lebih) atau suhu tubuh yang
rendah (di bawah 35,5 C), pernafasan cepat 60 kali atau lebih per
menit, penarikan dinding dada berat, sianosis sentral (pada lidah),
serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen tegang.
3

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 7


b. Bukan pneumonia: jika anak bernafas dengan frekuensi kurang dari
60 kali per menit dan tidak terdapat tanda pneumonia seperti
diatas.
3

2. Kelompok umur 2 bulan - < 5 tahun, diklasifikasikan atas :
a. Pneumonia sangat berat: batuk atau kesulitan bernafas yang disertai
dengan sianosis sentral, tidak dapat minum, adanya penarikan
dinding dada, anak kejang dan sulit dibangunkan.
b. Pneumonia berat: batuk atau kesulitan bernafas dan penarikan
dinding dada, tetapi tidak disertai sianosis sentral dan dapat minum.
c. Pneumonia: batuk (atau kesulitan bernafas) dan pernafasan cepat
tanpa penarikan dinding dada.
d. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa): batuk (atau kesulitan
bernafas) tanpa pernafasan cepat atau penarikan dinding dada.
e. Pneumonia persisten: anak dengan diagnosis pneumonia tetap sakit
walaupun telah diobati selama 10-14 hari dengan dosis antibiotik
yang adekuat dan antibiotik yang sesuai, biasanya terdapat
penarikan dinding dada, frekuensi pernafasan yang tinggi, dan
demam ringan.
3


2.6. Epidemiologi Penyakit ISPA
1. Distribusi penyakit ISPA berdasarkan orang
Penyakit ISPA lebih sering diderita oleh anak-anak. Daya tahan
tubuh anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistim
pertahanan tubuhnya belum kuat. Kalau di dalam satu rumah seluruh
anggota keluarga terkena pilek, anak-anak akan lebih mudah tertular.
Dengan kondisi tubuh anak yang masih lemah, proses penyebaran
penyakit pun menjadi lebih cepat. Dalam setahun seorang anak rata-rata
bisa mengalami 6-8 kali penyakit ISPA.
2
2. Distribusi penyakit ISPA berdasarkan tempat
ISPA, diare dan kurang gizi merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas pada anak di negara maju dan berkembang.
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 8


ISPA merupakan penyebab morbiditas utama pada negara maju
sedangkan di negara berkembang morbiditasnya relatif lebih kecil tetapi
mortalitasnya lebih tinggi terutama disebabkan oleh komplikasi dari
ISPA iyaitu pneumonia.
2
3. Distribusi penyakit ISPA berdasarkan waktu
Berdasarkan hasil kesepakatan Declaration of the World Summit
for Children pada 30 desember 1999 di New York, AS ditargetkan
bahwa penurunan kematian akibat pneumonia balita sampai 33% pada
tahun 1994-1999. Sedangkan di Indonesia sendiri oleh Dirjen PPM &
PL menargetkan bahwa angka kematian balita akibat penyakit ISPA 5
per 1000 pada tahun 2000 akan diturunkan menjadi 3 per 1000
padaakhir tahun 2005.
3

2.7. Faktor yang Mempengaruhi Penyakit ISPA
1. Agent
Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru.
Kejadiannya bias secara akut atau kronis, yang paling sering adalah
rinitis simpleks, faringitis, tonsilitis, dan sinusitis. Rinitis simpleks atau
yang lebih dikenal sebagai selesma/common cold/koriza/flu/pilek,
merupakan penyakit virus yang paling sering terjadi pada manusia.
Penyebabnya adalah virus Myxovirus, Coxsackie, dan Echo.
1

2. Manusia
a. Umur
Faktor manusia sangat kompleks dalam proses terjadinya
penyakit dan tergantung pada karakteristik yang dimiliki oleh
masing-masing invidu seperti halnya pada umur. Umur
menyebabkan adanya perbedaan penyakit pada anak-anak.
19
Berdasarkan hasil penelitian Maya di RS Haji Medan (2004),
didapatkan bahwa proporsi balita penderita pneumonia yang rawat
inap dari tahun 1998 sampai tahun 2002 terbesar pada kelompok
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013



Page 9


umur 2 bulan - <5 tahun adalah 91,1%,22 demikian juga penelitian
Maafdi di RS Advent Medan tahun 2006, didapatkan bahwa proporsi
balita penderita pneumonia terbesar pada kelompok umur 2 bulan -
<5 tahun sebesar 82,1%, sementara kelompok umur <2 bulan sebesar
17,9%.
11
b. Status Gizi
Di banyak negara di dunia, penyakit infeksi masih merupakan
penyebab utama kematian terutama pada anak dibawah usia 5 tahun.
Akan tetapi anak-anak yang meninggal karena penyakit infeksi itu
biasanya didahului oleh keadaan gizi yang kurang memuaskan.
Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan
dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh.
13

Status gizi anak merupakan faktor risiko penting timbulnya
pneumonia. Gizi buruk merupakan faktor predisposisi terjadinya
ISPA pada anak. Hal ini dikarenakan adanya gangguan respons
imun.
20
Salah satu penentuan status gizi adalah klasifikasi menurut
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.920/Menkes/SK/VIII/2002
untuk keperluan Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita dengan
mengukur berat badan terhadap umur. Status gizi diklasifikasikan
menjadi 4, yaitu:
1) Gizi lebih : bila Z_Skor terletak > +2 SD
2) Gizi Baik : bila Z_Skor terletak diantara -2 SD s/d +2 SD
3) Gizi kurang : bila Z_Skor terletak pada < -2 SD s/d - 3 SD
4) Gizi Buruk : bila Z_Skor terletak < -3 SD.
14



c. Berat Badan Lahir
Di Negara berkembang kematian akibat pneumonia
berhubungan dengan BBLR. Sebanyak 22% kematian pada
pneumonia diperkirakan terjadi pada BBLR. Meta analisis
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
10


menunjukkan bahwa BBLR mempunyai RR kematian 6,4 pada bayi
berusia dibawah 6 bulan, dan 2,9 pada bayi berusia 6-11 bulan.
20
Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh
(2006), didapatkan bahwa proporsi anak balita yang menderita
pneumonia dengan berat badan lahir <2.500 gram sebesar 62,2%.
Hasil uji statistik diperoleh bahwa terdapat hubungan yang bermakna
antara kejadian pneumonia dengan balita BBLR (p <0,05). Nilai
OR2,2 (CI 95%; 1,481-4,751), artinya anak balita yang menderita
pneumonia risikonya 2,2 kali lebih besar pada anak balita yang
BBLR.
15

d. Status Air Susu Ibu (ASI)
Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang
bayi kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri
dan virus, terutama selama minggu pertama (4-6 hari) payudara akan
menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal mengandung zat kekebalan
(Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus factor dan sel-sel
leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi.
Bayi (0-12 bulan) memerlukan jenis makanan ASI, susu formula,
dan makanan padat. Pada enam bulan pertama, bayi lebih baik hanya
mendapatkan ASI saja (ASI Eksklusif) tanpa diberikan susu formula.
Usia lebih dari enam bulan baru diberikan makanan pendamping ASI
atau susu formula, kecuali pada beberapa kasus tertentu ketika anak
tidak bisa mendapatkan ASI, seperti ibu dengan komplikasi
postnatal.
16
Terdapat banyak penelitian yang menunjukkan hubungan
antara pemberian ASI dengan terjadinya infeksi pernapasan. Air susu
ibu mempunyai nilai proteksi terhadap pneumonia, terutama selama
1 bulan pertama. Lopez mendapatkan bahwa prevalens infeski
pernapasan berhubungan dengan lamanya pemberian ASI. Bayi yang
tidak pernah diberi ASI lebih rentan mengalami infeksi pernafasan
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
11


dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI paling sedikit selama 1
bulan. Cesar JA dkk melaporkan bahwa bayi yang tidak diberi ASI
akan 17 kali lebih rentan mengalami perawatan di RS akibat
pneumonia dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI.
Pemberian ASI dengan durasi yang lama mempunyai pengaruh
proteksi terhadap infeksi pernapasan bawah selama tahun pertama.
20
Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh
(2006), didapatkan bahwa proporsi balita yang tidak mendapat ASI
eksklusif menderita pneumonia sebesar 56,2%, sedang yang tidak
menderita pneumonia 38,8%. Hasil uji statistic diperoleh bahwa anak
balita yang menderita pneumonia risikonya 2 kali lebih besar pada
anak balita yang tidak mendapat ASI eksklusif.
15

e. Status Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang
terhadap penyakit menular tertentu agar kebal dan terhindar dari
penyakit infeksi tertentu. Pentingnya imunisasi didasarkan pada
pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting
dalam pemeliharaan kesehatan anak. Imunisasi bermanfaat untuk
mencegah beberapa jenis penyakit seperti, POLIO (lumpuh layu),
TBC (batuk berdarah), difteri, liver (hati), tetanus, pertusis. Bahkan
imunisasi juga dapat mencegah kematian dari akibat penyakit-
penyakit tersebut. Jadwal pemberian imunisasi sesuai dengan yang
ada dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) yaitu BCG : 0-11 bulan, DPT
3x : 2-11 bulan, Polio 4x : 0-11 bulan, Campak 1x : 9-11 bulan,
Hepatitis B 3x : 0-11 bulan. Selang waktu pemberian imunisasi yang
lebih dari 1x adalah 4 minggu.
17

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
12




3. Lingkungan
a. Kepadatan Hunian Rumah
Kepadatan penghuni dalam rumah dibedakan atas 5 kategori
yaitu, 3,9 m
2
/orang, 4-4,9 m
2
/orang, 5-6,9 m
2
/orang, 7-8 m
2
/orang,
9 m
2
/orang. Dikatakan padat jika luas lantai rumah 3,9 m
2
/orang,
dan tidak padat jika luas lantai rumah 4m
2
/orang.
18

b. Penggunaan Anti Nyamuk
Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari
gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan
karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran
udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan
paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan
pernafasan.
19
Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007), didapatkan
bahwa adanya hubungan yang bermakna antara penggunaan anti
nyamuk dengan kejadian penyakit ISPA (p <0,05).
12

c. Keberadaan Perokok
Infeksi saluran napas lebih sering terjadi pada perokok dan
mereka yang perokok pasif, terutuma bayi dan anak. Merokok
diketahui menggangu efektivitas sebagian mekanisme pertahanan
respirasi. Produk asap rokok diketahui merangsang mukus dan
menurunkan pergerakan silia. Dengan demikian terjadi akumulasi
mukus yang kental dan terperangkapanya partikel atau
mikroorganisme di jalan nafas, yang dapat menurunkan pergerakan
udara dan meningkatkan resiko pertumbuhan mikroorganisme. Bayi
dan anak yang terpajan asap rokok memperlihatkan peningkatan
anka kejadian ISPA, infeksi saluran napas bawah mislanya
pneumonia dan asma pada kanak-kanak dibandingkan dengan bayi
dan anak-anak dari orang tua bukan perokok. Haluaran urine yang
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
13


mengandung metabolit nikotin meningkat drastis pada anak-anak
dari orang tua perokok dibandingkan dengan anak-anak dari orang
tua bukan perokok. Beberapa metabolit nikotin diketahui bersifat
karsinogenik dan mengiritasi paru.
19
Orang tua yang merokok menyebabkan anaknya rentan
terhadap pneumonia. Risiko mengalami ISPA pada anak dengan
durasi pemberian ASI yang singkat oleh ibu perokok dibandingkan
dengan anak dengan durasi pemberian ASI yang lama oleh ibu non-
perokok adalah lebih kurang 2,2.
12

4. Status Ekonomi
Persepsi masyarakat mengenai keadaan sehat dan sakit berbeda
dari satu individu dengan individu lainnya. Bagi seseorang yang sakit,
persepsi terhadap penyakitnya merupakan hal yang penting dalam
menangani penyakit tersebut. Untuk bayi dan anak balita persepsi ibu
sangat menentukan tindakan pengobatan yang akan diterima oleh
anaknya.
18

2.8. Pengetahuan
2.8.1 Definisi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan adalah hasil tahu dari
manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan what, misalnya apa air,
apa manusia, apa alam dan sebagainya. Pengetahuan hanya dapat
menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Perlu dibedakan antara pengetahuan
dan keyakinan, walaupun keduanya memiliki hubungan yang erat.
Pengetahuan tidak sama dengan keyakinan, karena keyakinan dapat saja
keliru tetapi sah sebagai keyakinan. Artinya apa yang disadari sebagai ada,
ternyata tidak ada dalam kenyataannya. Tetapi untuk pengetahuan dapat
saja salah atau keliru, tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan. Sehingga
apa yang dianggap pengetahuan tersebut berubah statusnya menjadi
keyakinan saja.
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
14



Sedangkan menurut Keraf (2001) pengetahuan adalah keseluruhan
pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia
tentang dunia dan segala isinya termasuk manusia dan kehidupan.
Pengetahuan menurut Wiki (2007) adalah informasi atau
maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang.

2.8.2 Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang. Notoatmodjo mengemukakan yang
dicakup dalam domain kognitif yang mempunyai enam tingkatan,
pengetahuan mempunyai tingkatan sebagai berikut (Notoatmodjo, 2003) :
1. Tahu (Know)
Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini
menginga kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab
itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata
kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara
lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan
sebagainya.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi
materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau
materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan, dan sebagainya terhadap objek-objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang real (sebenarnya).
Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum hukum,
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
15


rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang
lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu
struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan
analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kata kerja, seperti dapat
menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan, dan sebagainya.
5. Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian-penilaian ini
berdasarkan suatu kriteri yang ditentukan sendiri atau mengusahakan
kriteria-kriteria yang telah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang kita ketahui atau
kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas
(Notoatmodjo, 2003)

2.8.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, antara
lain:
1. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
16


hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan
seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan
pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan
informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak
informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat
tentang kesehatan. Menurut Notoatmodjo (2007) Pendidikan ikut
menentukan atau mempengaruhi mudah tidaknya seseorang menerima
pengetahuan, semakin tinggi pendidikan masyarakat maka diharapkan
penerimaan pengetahuan akan semakin mudah.
Menurut Notoatmodjo (2003) perilaku seseorang terhadap kesehatan yang
diwujudkan dalam tindakan, dipengaruhi semakin baik pengetahuan maka
akan semakin tinggi pula pengetahuannya terhadap kesehatan.

Pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang
dituntut dari tenaga kesehatan, karna merupakan salah satu peranan yang
harus dilaksanakan dalam setiap memberikan asuhan keperawatan dimana
saja ia bertugas, apakah itu terhadap individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Pendidikan kesehatan identik dengan penyuluhan kesehatan,
karna keduanya berorientasi kepada perubahan prilaku yang diharapkan,
yaitu prilaku sehat, sehingga mempunyai kemampuan mengenal masalah
kesehatan dirinya, keluarga dan kelompoknya dalam meningkatkan
kesehatannya.

2. Mass media / informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non
formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact)
sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.
Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang
dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi,
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
17


radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.

3. Sosial budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui
penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian
seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan.
Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu
fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial
ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

4. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu,
baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh
terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada
dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal
balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap
individu.

5. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi
masa lalu.

6. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya
tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya
semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif
dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
18


persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain
itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu
untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan
kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini
(ProHealth, 2009).

2.8.4. Sumber Sumber Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2002), pengetahuan juga dipengaruhi oleh
sumber informasi. Informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber yaitu :
1. Media Massa
Media massa merupakan salah satu perantara yang digunakan oleh
sumber untuk mengirim pesan kepada penerima pesan. Media massa
berupa televisi, radio, Koran, tabloid dan lain-lain.
2. Petugas Kesehatan
Pengetahuan dapat diperoleh secara langsung dari petugas
kesehatan (Notoatmodjo, 2003).
3. Teman dan Keluarga
Pengetahuan yang dimiliki seseorang bisa juga diperoleh dari teman.
Dengan merasakan manfaat dari suatu ide bagi dirinya, maka seseorang
akan menyebarkan ide tersebut pada orang lain (Artawijaya, 2009).

2.9. Pencegahan Penyakit ISPA
Penyelenggaraan Program pencegahan ISPA dititik beratkan pada
penemuan dan pengobatan penderita sedini mungkin dengan melibatkan
peran serta aktif masyarakat terutama kader, dengan dukungan pelayanan
kesehatan dan rujukan secara terpadu di sarana kesehatan yang terkait.
2

2.9.1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat
dianggap sebagai strategi untuk mengurangi kesakitan (insiden)
pneumonia, beberapa yang dapat dilakukan diantaranya adalah :
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
19


a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini
diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap
hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA.
Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA,
penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi
seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan rumah,
penyuluhan bahaya rokok.
2
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi
angka kesakitan (insiden) pneumonia.
c. Usaha dibidang gizi yaitu untuk mengurangi malnutrisi, defisiensi
Vitamin A.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan
lahir rendah.
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani
masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.
2


2.9.2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan
sedini mungkin. Upaya pengobatan yang dilakukan dibedakan atas
klasifikasi ISPA yaitu :
1. Untuk kelompok umur < 2 bulan, pengobatannya meliputi :
a. Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit, beri oksigen (jika anak
mengalami sianosi sentral, tidak dapat minum, terdapat penarikan
dinding dada yang hebat), terapi antibiotik dengan memberikan
benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin.
2

b. Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan,
nasihati ibu untuk menjaga agar bayi tetap hangat, memberi ASI
secara sering, dan bersihkan sumbatan pada hidung jika sumbatan
itu menggangu saat memberi makan.
2



MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
20


2. Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun, pengobatannya meliputi :
a. Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen,
terapi antibiotik dengan memberikan kloramfenikol secara
intramuskular setiap 6 jam. Apabila pada anak terjadi perbaikan
(biasanya setelah 3-5 hari), pemberiannya diubah menjadi
kloramfenikol oral, obati demam, obati mengi, perawatan suportif,
hati-hati dengan pemberian terapi cairan, nilai ulang dua kali sehari.
b. Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi
antibiotic dengan memberikan benzilpenesilin secara intramuskular
setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari, obati demam, obati mengi,
perawatan suportif, hati-hati pada pemberian terapi cairan, nilai
ulang setiap hari.
c. Pneumonia: obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan
kotrimoksasol, ampisilin, amoksilin oral, atau suntikan penisilin
prokain intramuskular per hari, nasihati ibu untuk memberikan
perawatan di rumah, obati demam, obati mengi, nilai ulang setelah 2
hari.
d. Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah, terapi
antibiotik sebaiknya tidak diberikan, terapi spesifik lain (untuk
batuk dan pilek), obati demam, nasihati ibu untuk memberikan
perawatan di rumah.
e. Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname), terapi antibiotik dengan
memberikan kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati
kemungkinan adanya infeksi pneumokistik, perawatan suportif,
penilaian ulang.
2


2.9.3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISPA
agar tidak bertambah parah dan mengakibatkan kematian. Pada pneumonia
Sangat Berat, jika anak semakin memburuk setelah pemberian
kloramfenikol selama 48 jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
21


kloksasilin ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia
stafilokokus.
2
Kasus Pneumonia Berat, jika anak tidak membaik setelah
pemberian benzilpenisilin dalam 48 jam atau kondisinya memburuk
setelah pemberian benzipenisilin kemudian periksa adanya komplikasi dan
ganti dengan kloramfenikol. Jika anak masih menunjukkan tanda
pneumonia setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab
pneumonia persistensi.
2
Pada kasus Pneumonia, lihat kembali anak setelah 2 hari dan
periksa adanya tanda-tanda perbaikan (pernafasan lebih lambat, demam
berkurang, nafsu makan membaik. Nilai kembali dan kemudian putuskan
jika anak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada atau tanda
penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat, obati sebagai
pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. Jika anak tidak membaik
sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau tanda lain
penyakit sangat berat, maka ganti antibiotik dan pantau secara ketat.
2

2.10. Penanganan Penyakit ISPA

ISPA adalah salah satu alasan paling umum untuk berkonsultasi
dalam praktek keluarga. Walaupun pengobatan antibiotik hanya
diperlukan pada pneumonia bagi masyarakat dan sekelompok kecil orang
dibandingkan penyakit infeksi lainnya, masyarakat sering datang
kepraktek dengan keluhan sesak nafas, mengi, nyeri dada dan auskultasi.
21

Hampir seluruh kematian karena ISPA pada anak kecil disebabkan
pneumonia. Bayi baru lahir dan bayi berusia satu bulan atau disebut bayi
muda yang menderita pneumonia dapat tidak mengalami batuk dan
frekuensi pernapasannya secara normal sering melebihi 50 kali permenit.
Infeksi bakteri pada kelompok usia ini dapat hanya menampakkan tanda
klinis yang spesifik, sehingga sulit untuk membedakan pneumonia dari
sepsis dan meningitis. Infeksi ini dapat cepat fatal pada bayi muda yang
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
22


telah diobati dengan sebaik-baiknya di rumah sakit dengan antibiotik
parenteral.
3
Cara yang paling efektif untuk mengurangi angka kematian karena
pneumonia adalah dengan memperbaiki manajemen kasus dan
memastikan adanya penyediaan antibiotik yang tepat secara teratur melalui
fasilitas perawatan tingkat pertama dokter praktik umum. Langkah
selanjutnya untuk mengurangi angka kematian karena pneumonia dapat
dicapai dengan menyediakan perawatan rujukan untuk anak yang
mengalami pneumonia berat memerlukan oksigen, antibiotik lini II, serta
keahlian klinis yang lebih hebat.
3
Ketidakpastian klinis mengenai diagnosis dan pengolahan infeksi
saluran nafas digambarkan oleh variasi yang luas dalam penggunaan
antibiotik dalam perawatan primer antara dokter pribadi, dokter umum.
Antibiotik dapat menyebabkan efek samping pada anak-anak, seperti ruam
atau diare tetapi jarang didapati reaksi alergi. Terlalu sering menggunakan
antibiotik dalam perawatan primer memberikan kontribusi untuk
ketahanan, sehingga mengurangi manfaat dari antibiotik, dan dapat
menyebabkan medikalisasi penyakit dimana pasien percaya bahwa
mereka perlu berkonsultasi ketika gejala serupa berulang.


















MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
23


BAB 3
KERANGKA KONSEP

3.1. Kerangka Konsep







3.2. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah batasan uraian tentang variable yang
dimaksud atau tenatng apa yang di ukur oleh variable yang bersangkutan.
1. Variable bebas
Pengetahuan adalah hal hal yang diketahui masyarakat
tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta
penceggahan terhadap ISPA.
2. Variable tertikat
Orang yang dapat merespon, memberikan informasi tentang
data penelitian untuk upaya menekan angka kejadian ISPA.

Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
perilaku masyarakat dalam upaya menekan angka kejadian ISPA adalah
memberikan penyuluhan- pnyuluhan atau informasi kepada seluruh
masyarakat tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakit ISPA.
Penyuluhan Atau informasi tersebut dilakukan secara terus-menerus dan
berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat, agar seluruh
masyarakat dapat terhindar dari penyakit saluran pernafasan.
Pengetahuan Ibu Balita
Pengertian ISPA
Tanda dan Gejala ISPA
Penyebab ISPA
Pencegahan ISPA
Kejadian ISPA
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
24


BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah bersifat survey deskriptif yaitu suatu penelitan
yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena
yang terjadi di masyarakat. Ruang lingkup keilmuan penelitan ini adalah
Ilmu Kesehatan masyarakat.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
4.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Aras Kabu Kecamatan Beringin
Kabupaten Deli Serdang.

4.2.2. Waktu Penelitian
Waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian dapat dilihat
dari tabel dibawah ini :
Kegiatan dan waktu penelitan

4.3. Populasi dan Sampel
4.3.1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah Ibu yang memiliki balita penderita
ISPA di desa Aras Kabu yang datang berobat jalan ke Puskesmas Aras
Kabu pada Tahun 2013 sebanyak 93 orang.

Kegiatan Waktu
Pembuatan Proposal 3 Mei - 7 Mei 2014
Pengumpulan Data 12 Mei 22 Mei 2014
Pengolahan Data 23 Mei 25 Mei 2014
Penyelesaian Hasil Laporan 25 Mei 27 Mei 2014
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
25


4.3.2. Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan cara simpel
random sampling dimana jumlah sampel ditentukan dengan rumus

()


n = Jumlah Sampel
d = Derajat Kesalahan yang diinginkan
N = Jumlah Populasi
(Sumber : Metodologi Penelitan Keseatan dr. Sukidjo Noto Admojo)

Sampel Penelitian

()






1. Kriteria insklusi :
a. Balita penderita ISPA di desa Aras Kabu yang berobat jalan ke
Puskesmas Aras Kabu pada Tahun 2013
b. Bersedia menjadi sampel penelitian.
2. Kriteria ekslusi :
a. Balita penderita penyakit kronik.


MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
26


4.4. Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang menunjang dan melengkapi penelitian ini
dilakukan dengan dua cara yaitu data Primer dan data Sekunder.
4.4.1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari ibu balita secara
langsung dari hasil observasi. Data ini diperoleh melalui metode
wawancara dengan masyarakat dengan pengisian kuesioner yang dibuat.

4.4.2. Data Sekunder
Data sekunder dikumpulkan berkaitan dengan tujuan penelitan,
diperoleh dengan mencatat data yang ada dikantor kelurahan meliputi data
geografi, demografi, sarana, dan fasilitas. Data sekunder diambil juga dari
data rekam medik Puskemas Aras Kabu Kecamatan Beringin Kabupaten
Deli Serdang.

4.4.3 Istrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk
mengumpulkan data. Instrumen yang dipakai adalah berupa kuesioner
yang terdiri dari 20 pertanyaan dan rician adalah:
1. Lima pertanyaan tentang pengetahuan Ibu terhadap pengertian
ISPA.
2. Lima pertanyaan tentang pengetahuan Ibu terhadap tanda dan
gejala ISPA.
3. Lima pertanyaan tentang pengetahuan Ibu terhadap penyebab
ISPA.
4. Lima pertanyaan tentang pengetahuan terhadap pencegahan
ISPA.




MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
27


Scoring kuesioner pengetahuan ibu terhadap pengertian ISPA.
1. a (1) b (0)
2. a (1) b (0)
3. a (1) b (0)
4. a (1) b (0)
5. a (1) b (0)
Scoring kuesioner pengetahuan ibu terhadap tanda dan gejala ISPA.
1. a (1) b (0)
2. a (1) b (0)
3. a (1) b (0)
4. a (1) b (0)
5. a (1) b (0)
Scoring kuesioner pengetahuan ibu terhadap penyebab ISPA
1. a (1) b (0)
2. a (1) b (0)
3. a (1) b (0)
4. a (1) b (0)
5. a (1) b (0)
Scoring kuesioner pengetahuan ibu terhadap pencegahan ISPA
1. a (1) b (0)
2. a (1) b (0)
3. a (1) b (0)
4. a (1) b (0)
5. a (1) b (0)







MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
28


4.4.4 Teknik Pengukuran
Teknik pengukuran / penelitian gambaran pengetahuan Ibu yang memiliki
Balita penderita ISPA di desa Aras Kabu yang datang berobat jalan ke Puskesmas
Aras Kabu pada Tahun 2013, Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang
berdasarkan teori Notoatmodjo (2010) :
Baik jika Jawaban benar > 80% dari jumlah pertanyaan.
Sedang Jika Jawaban Benar 40% - 79% dari jumlah pertanyaan.
Buruk Jika Jawaban Benar <40% dari jumlah pertanyaan.

Pengetahuan Ibu yang memiliki Balita penderita ISPA di desa Aras Kabu
yang datang berobat jalan ke Puskesmas Aras Kabu pada Tahun 2013. Maka
untuk menilai tingkat pengetahuan responden berdasarkan skor (maksimum untuk
kuesioner adalah 20
Baik>80 % x 20 = skor >16
Sedang = 40% - 79% x 20 = skor 8 15
Buruk < 40% x 10 = skor <8

4.5 Data Pengelolaan Data
Data dibuat secara manual meskipun pengolahan data secara manual saat
ini memang jarang dilakukan karena sudah ketinggalan zaman. Namun dalam
keterbatasan sarana dan prasarana atau kalau data tidak terlalu besar,
pengelolaan data secara manual masih diperlukan. Langkah-langkah
pengolahan data secara manual pada umumnya melalui langkah-langkah
sebagai berikut :
1) Editing
Hasil wawancara atau angket diperoleh atau dikumpulka melalui
kuesioner perlu disunting/ edit terlebih dahulu kalau ternyata
masih ada data atau informasi yang tidak lengkap dan tidak
mungkin dilakukan wawancara ulang, maka kuesioner dikeluarkan
atau (drop out).

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
29


2) Membuat lebaran kode atau kartu kode (coding sheet)
Lembaran atau kartu kode adalah instrumen berupa kolom-kolom
untuk merekam data secara manual lembaran atau kartu kode berisi
nomor responden dan nomor-nomor pertanyaan.

3) Memasukkan data (data entry)
Yakni mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak lembar kode atau
kartu kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan

4) Tabulasi Data
Yakni membuat tabel-tabel data sesuai dengan tujuan penelitian
atau yang diinginkan oleh peneliti.

4.6 Analisa data
Menganalisis data tidak sekedar mendeskripsikan dan menginterpretasikan
data yang telah diolah. Keluaran akhir dari analisis data kita harus
memperoleh makna atau arti dari hasil penelitian tersebut interpretasi data
mempunyai dua sisi, sisi yang sempit dan luas. Interpretasi data dari sisi yang
sempit, hanya sebatas pada masalah penelitian yang akan dijawab melalui data
yang diperoleh tersebut. Sedangkan dari sisi yang lebih luas, interpretasi data
berarti mencari makna data hasil penelitian dengan cara tidak hanya
menjelaskan hasil penelitan tersebut, tetapi juga melakukan inferensi atau
generalisasi dari data yang diperoleh melalui penelitian tersebut.
Oleh sebab itu secara rinci tujuan dilakukan analisis data adalah :
a) Memperoleh gambaran dari hasil penelitian yang dirumuskan dalam
tujuan penelitian
b) Memperoleh kesimpulan secara umum dari penelitian, yang merupakan
kontribusi dalam pengembangan ilmu yang bersangkutan.



MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
30


BAB 5
HASIL PENELITIAN

5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi lokasi penelitian
Lokasi penelitian berada di Aras Kabu Kecamatan Beringin
Kabupaten Deli Serdang yang memiliki luas wilayah 393 Ha. Jumlah
dusun 6 dusun Batasan daerah/ wilayah :
1. Utara : Berbatasan dengan Desa Serdang
2. Selatan : Berbatasan dengan Desa Tumpatan/ Psr V
3. Barat : Berbatasan dengan Desa Tumpatan Nibung
4. Timur : Berbatasan dengan Desa Sidourip/ Psr VI
Kependudukan
Jumlah Penduduk : 3.393 orang
Jumlah laki-laki : 1.690 orang
Jumlah Perempuan : 1.703 orang
Jumlah Rumah Tangga : 831 KK

5.1.2 Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini responden yang terpilih sebanyak 48 orang ibu yang
memiliki balita yang berada di wilayah Desa Aras Kabu Kecamatan Beringin
Kabupaten Deli Serdang.







MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
31


Tabel 5.1 Distribusi Reponden Menurut Pendidikan di Desa Aras Kabu
kecamatan Beringin kabupaten Deli Serdang.
No PENDIDIKAN FREKUENSI PRESENTASE
1 Tidak Sekolah 13 27.08%
2 SD 9 18.75%
3 SMP 7 14.58%
4 SMA 14 29.16%
5 KULIAH 5 10.41%
TOTAL 48 100%

Analisis Data
Berdasarkan data tabel diatas, reponden paling banyak adalah tingkat
pendidikan SMA sebanyak 14 reponden (29.16%) tetapi dari tabel diatas juga
dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tingkat pendidikan rendah bahkan
yang tidak sekolah jika diakumulasikan sebanyak 22 responden (45,83%).

Tabel 5.2 Distribusi Reponden Menurut Pendidikan di Desa Aras Kabu
kecamatan Beringin kabupaten Deli Serdang.
NO PEKERJAAN FREKUENSI PRESENTASI
1 IRT 26 54.17%
2 PETANI 16 33.33%
3 PNS - -
4 WIRASWASTA 6 12.5%
TOTAL 48 100%

Analisis Data
Berdasarkan data tabel diatas, reponden paling banyak adalah Ibu Rumah
Tangga (IRT) sebanyak 26 Responden (54,17%)

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
32


Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang apa itu ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 27 56.25%
2 Tidak 21 43.75%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 27 responden yang
mengetahui apa itu ISPA dan dijumpai 21 responden yang tidak mengetahui apa
itu ISPA.

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang ISPA adalah suatu
penyakit
NO Jawaban Frekuensi %
Ya 30 62.5%
2 Tidak 18 37.5%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 30 responden yang
mengetahui tentang ISPA adalah suatu penyakit dan dijumpai 18 responden yang
tidak mengetahui ISPA.adalah suatu penyakit.

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang ISPA adalah
penyakit Saluran Nafas
NO Jawaban Frekuensi %
Ya 21 43.75%
2 Tidak 27 56.25%
Jumlah 48 100%


MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
33


Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 21 responden yang
mengetahui bahwa ISPA adalah penyakit saluran Nafas dan dijumpai 27
responden yang tidak mengetahui tentang ISPA adalah penyakit saluran nafas.

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang apa itu
kepanjangan dari ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 11 22.91%
2 Tidak 37 77.09%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 11 responden yang
mengetahui apa itu kepanjangan dari ISPA dan dijumpai 37 responden yang tidak
mengetahui apa itu kepanjangan dari ISPA.

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Pengetahuan dari mana ibu
mendapatkan informasi tentang ISPA.
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 27 56.25%
2 Tidak 21 43.75%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 27 responden yang
mendapatkan informasi tentang ISPA dari media masa, petugas kesehatan dan
keluarga dan dijumpai 21 responden yang tidak pernah mendapatkan informasi
tetang ISPA.


MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
34


Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang tanda dari
penyakit ISPA.
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 13 27.08%
2 Tidak 35 72.925
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 13 responden yang
mengetahui tanda dari penyakit ISPA. dan dijumpai 35 responden yang tidak
mengetahui tanda dari penyakit ISPA.

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang gejala dari
penyakit ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 12 25%
2 Tidak 36 75%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 12 responden yang
mengetahui gejala dari penyakit ISPA. dan dijumpai 35 responden yang tidak
mengetahui gejala dari penyakit ISPA.


MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
35


Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang nafas tidak
teratur dan cepat, gelisah, serta berkeringat merupakan tanda
dari penyakit ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 10 20.83%
2 Tidak 38 79.57%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 10 responden yang
mengetahui tanda dari penyakit ISPA yaitu nafas tidak teratur dan cepat, gelisah,
serta berkeringat. dan dijumpai 38 responden yang tidak mengetahui tanda dari
penyakit ISPA tersebut.

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang Gejala ISPA
meliputi Demam, Batuk dan pilek.
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 26 54.17%
2 Tidak 22 45.83%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 26 responden yang
mengetahui gejala dari penyakit ISPA yaitu demam, batuk dan pilek. dan
dijumpai 38 responden yang tidak mengetahui gejala dari penyakit ISPA tersebut.



MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
36


Tabel 5.12 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang gejala ISPA
disertai juga dengan bersin-bersin
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 19 39.58%
2 Tidak 29 60.42%
Jumlah 48 100%


Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 19 responden yang
mengetahui gejala ISPA itu disertai juga degan bersin-bersin. dan dijumpai 29
responden yang tidak mengetahui gejala ISPA itu disertai bersin-bersin.

Tabel 5.13 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang penyebab ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 12 25%
2 Tidak 36 75%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 12 responden yang
mengetahui penyebab ISPA dan dijumpai 29 responden yang tidak mengetahui
penyebab ISPA tersebut.

Tabel 5.14 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang Asap sepeda
motor dapat menyebabkan terjadinya ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 15 31.25%
2 Tidak 33 68.75%
Jumlah 48 100%

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
37



Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 15 responden yang
mengetahui bahwa asap sepeda motor dapat menyabkan terjadi ISPA dan
dijumpai 33 responden yang tidak mengetahui bahwa asap sepeda motor dapat
menyebabkan terjadinya ISPA.

Tabel 5.15 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang debu dapat
menyebabkan terjadinya ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 19 39.58%
2 Tidak 29 60.42%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 19 responden yang
mengetahui bahwa debu dapat menyabkan terjadi ISPA dan dijumpai 29
responden yang tidak mengetahui bahwa debu dapat menyebabkan terjadinya
ISPA.

Tabel 5.16 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang faktor resiko
penyebab terjadinya ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 22 45.83%
2 Tidak 26 54.17%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 22 responden yang
mengetahui faktor resiko penyebab terjadi ISPA dan dijumpai 26 responden yang
tidak mengetahui faktor resiko penyebab terjadinya ISPA.
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
38



Tabel 5.17 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang udara dingin
dapat menyebabkan ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 15 31.25%
2 Tidak 33 68.75%
Jumlah 48 100%
Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 15 responden yang
mengetahui bahwa udara dingin dapat menyebabkan terjadinya ISPA dan
dijumpai 33 responden yang tidak mengetahui bahwa udara dingin dapat
menyebabkan terjadinya ISPA.

Tabel 5.18 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang penularan ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 19 39.58%
2 Tidak 29 60.42%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 19 responden yang
mengetahui penularan terjadinya ISPA dan dijumpai 29 responden yang tidak
mengetahui penularan terjadinya ISPA.

Tabel 5.19 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang pencegahan
penularan terjadinya ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 19 39.58%
2 Tidak 29 60.42%
Jumlah 48 100%

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
39


Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 19 responden yang
mengetahui bagaimana pencegahan penularan terjadinya ISPA dan dijumpai 29
responden yang tidak mengetahui bagaimana pencegahan penularan terjadinya
ISPA.

Tabel 5.20 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang penularan
terjadinya ISPA melalui air bersin dan udara
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 17 35.42%
2 Tidak 31 64.58%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 17 responden yang
mengetahui penularan terjadinya ISPA bisa melalui air bersin dan udara. Dan
dijumpai 29 responden yang tidak mengetahui penularan terjadinya ISPA bisa
melalui air bersin dan udara.

Tabel 5.21 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang pencegahan
penyakit ISPA melalui pemenuhan nutrisi dan gizi Balita
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 29 54.17%
2 Tidak 22 45.83%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 29 responden yang
mengetahui bagaimana pencegahan penularan terjadinya ISPA melalui
pemenuhan nutrisi dan Gizi balita dan dijumpai 22 responden yang tidak
mengetahui bagaimana pencegahan penularan terjadinya ISPA dengan
pemenuhan nutrisi dan gizi Balita.
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
40


Tabel 5.22 Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu tentang pengobatan
ISPA
NO Jawaban Frekuensi %
1 Ya 27 56.25%
2 Tidak 21 43.75%
Jumlah 48 100%

Analisa Data
Dari responden di Desa Aras Kabu dijumpai 27 responden yang
mengetahui bagaimana pengobatan dari penyakit ISPA dan dijumpai 21
responden yang tidak mengetahui bagaimana pengobatan penyakit ISPA.

Secara keseluruhan responden yang memiliki :
Pengetahun baik (>80% benar) terhadap Ibu yang memiliki Balita
penderita ISPA di desa Aras Kabu sebanyak 13 dari 48 responden
(27.08%)
Pengetahun Cukup (40 79% benar) terhadap Ibu yang memiliki Balita
penderita ISPA di desa Aras Kabu sebanyak 9 dari 48 responden (18.75%)
Pengetahuan Kurang (<40%) terhadap Ibu yang memiliki Balita penderita
ISPA di desa Aras Kabu sebanyak 26 dari 48 responden (54.17%)
Grafik Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden
PENGETAHUAN

MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
41


BAB 6
PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada masyarakat mengenai
gambaran pengetahuan ibu terhadap penyakuit ISPA di Desa Aras Kabu
Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang yang diikuti oleh 48 responden
sebagai objek penelitian, sehingga didapati hasil penelitian ini.
Dari 48 responden di Desa Aras Kabu Kecamatan Beringin diperoleh
27,08 % responden yang memiliki pengetahuan baik tentang apa itu ISPA, 18,75
% responden yang mempunyai pengetahuan yang cukup, 54,17 % mempunyai
pengetahuan yang kurang terhadap pengertian penyakit ISPA (Infeksi Saluran
Nafas Akut).
Hal ini dapat diartikan bahwa pengetahuan masyarakat di Desa Aras Kabu
Kecamatan Beringin terhadap penyakit ISPA meliputi pengertian, tanda dan
gejala, penyebab serta pencegahan serta penularan penyakit tergolong kurang,
oleh karena tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata hanya sebatas SD-SMP,
kurangnya informasi atau penyuluhan kesehatan, sanitasi lingkungan yang kurang
baik, serta proses pembangunan infrasruktur jalan yang menyebabkan banyaknya
debu sehingga dapat mempermudah balita untuk terserang penyakit Infeksi
Saluran Penafasan Akut.
Dari Pembahasan, maka diperlukan sosialisasi serta penyuluhan yang lebih
sering dan terus-menerus dari petugas kesehatan kepada masyarakat tentang
penyakit ISPA, meliputi pengertian penyait, tanda dan gejala, penyebab, dan cara
untuk melakukan pencegahan terhadap penularan penyakit, serta melakukan
pengobatan gratis terhadap masyarakat terutama balita yang menderita penyakit
ISPA.
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
42


BAB 7
KESIPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Dari data yang kami peroleh setelah melakukan mini survey di desa Aras
Kabu Kecamatan Beringin menunjukan tingkat pengetahuan masyarakat tentang
peyakit ISPA tergolong kurang, hal ini berkaitan dengan tingkat pendidikan
masyarakat yang rata-rata hanya sebatas SD-SMP, kurangnya informasi atau
penyuluhan kesehatan, sanitasi lingkungan yang kurang baik, serta proses
pembangunan infrasruktur jalan yang menyebabkan banyaknya debu sehingga
dapat mempermudah balita untuk terserang penyakit Infeksi Saluran Penafasan
Akut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Desa Aras Kabu meliki
pengetahuan yang kurang terhadap penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut.

7.2 Saran
Petugas puskesmas diharapkan lebih menggiatkan penyuluhan
tentang penyakit Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA).
Pemerintah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten diharapkan
mampu mendukung upaya pencegahan dan pengobatan ISPA
melalui ppromosi kesehatan agar masyarakat lebih mengetahui
tentang penyakit ISPA.
Masyarakat diharapkan lebih mau untuk mengetahui tentang
penyakit Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA) melalui promosi atau
penyuluhan-penyuluhan kesehatan yang diberikan.
Tokoh masyarakat dan tokoh agama di Desa Aras Kabu diharapkan
berperan serta dalam memberikan penyuluhan dan motivasi
tentang pentingnya upaya pencegahan dan penanggulan ISPA serta
perlunya untuk berobat ke sarana kesehatan terdekat dalam hal ini
Puskesmas.


MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
43


DAFTAR PUSTAKA
1. Widoyono, Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan &
Pemberantasannya, edisi kedua, PT. Gelora Aksara Pratama, Jakarta, 2011.
2. Word Health Organitation. Pencegahan dan pengendalian Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) yang cenderung menjadi dan pademi di fasilitas
pelayanan kesehatan: WHO; 2007.
3. WHO. Penanganan ISPA pada Anak di Rumah Sakit Kecil Negar
Berkembang.Pedoman Untuk Dokter Dan petugas Kesehatan Senior. Alih
Bahasa: C.Anton Widjaja. Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta: 2003.
4. Riskedas 2007. Indonesia: Badan Penelitian dan Pengembangan Deprtemen
Kesehatan Republik Indonesia: 2008.
5. Dinkes Flores Timur. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur 2009.
Flores Timur; 2010.
6. Gulo RR. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Infeksi Saluran
Pernapasan Atas (ISPA) pada balita di kelurahan hilir Gunung Sitoli tahun
2008. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara;
2009.
7. Dinkes Sumatera Utara. Profil kesehatan provinsi Sumatera Utara 2008.
Sumatera Utara: 2008.
8. Dinkes Tapanuli Utara. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara
2011. Tapanuli Utara: 2011.
9. Depkes RI. Angka kematian Bayi Masih Tinggi.ISPA pembunuh
Utama.Jakarta.Dirjen PPM & PL: 2007.
10. Tjang Sandy Y. Dr, MBA, FICS. Infeksi Saluran Nafas dan Penyakit Jantung.
EGC: 2005.
11.Maya Syafitri. Karakteristik Penderita Pneumonia Balita Rawat Inap di Rumah
Sakit Haji Medan. Skripsi. FKM USU: 2004.
12.Afrida L. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas
Rantang Kec. Medan Petisah Kota Medan Tahun 2007. Skripsi. FKM
USU: 2007.
MINI SURVEY GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI
BALITA PENDERITA ISPA DI DESA ARAS KABU YANG DATANG
BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS ARAS KABU PADA TAHUN 2013


Page
44


13.Moehji,Sjahmien. Ilmu Gizi 2 Penanggulangan Gizi Buruk. Penerbit Papas
Sinar Sinanti. Jakarta: 2003.
14. MB. Arisman. Gizi Dalam Daur Kehidupan. EGC: Jakarta; 2004.
15.Syahril. Analisa Kejadian Pneumonia dan Faktor Yang Mempengaruhi Serta
Cara Penanggulangan Kejadiannya Pada Anak Balita Pasca Gempa Bumi dan
Gelombang Tsunami di Kota Banda Aceh Tahun 2006.Tesis. Program Pasca
Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan; 2006.
16. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Penerbit Buku Kedokteran.
Jakarta; 1995.
17.Supartini, Y.. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Penerbit Buku
Kedokteran EGC: Jakarta; 2004.
18. Chandra, Budiman. Dr. Ilmu kedokteran Pencegahan dan Komunitas.EGC.
Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. 2004.
19. Nasiti N Rahajoe, Bambang Supriyatno, Darmawan Budi Setyanto, Buku Ajar
Respirologi Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta, 2010.
20. Corwin, Elisabeth J. Buku Patofisiologi. EGC: Jakarta; 2009.