Anda di halaman 1dari 44

37

BAB III
TINJAUAN KASUS

Dalam BAB ini akan dibahas tentang Asuhan keperawatan yang diberikan
kepada pasien Nn. E dengan Diagnosa Medis Appendiktomy di instalasi rawat inap
Bedah Rumah Sakit Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci Tahun 2012 yang
meliputi pokok bahasan : Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervensi,
Implementasi dan Evaluasi.
3.1. Pengkajian
3.1.1. Biodata
1. Identitas Pasien
Nama : Nn. E
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 20 Tahun
Status Perkawinan : Belum Kawin
Agama : Islam
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat : Kayu Aro
Tanggal Masuk Rumah Sakit : 18 Juni 2012
No Register : 12004622
Ruangan/Kamar : Bedah/3A
Tanggal Pengkajian Post Operasi : 21 Juni 2012
Diagnosa Medis : Appendiktomy

38

2. Penanggung Jawab
Nama : Tn.Y
Hubungan dengan Pasien : Ayah
Pekerjaan : Tani
Alamat : Kayu Aro
3.1.2. Keluhan Utama
Pasien mengatakan nyeri pada perut sebelah kanan sejak 2 hari sebelum
masuk rumah sakit (tanggal 16 Juni 2012), nyeri hilang timbul, nyeri
menjalar sampai ke punggung.
3.1.3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien masuk ruangan operasi jam 09.00 wib, dilakukan tindakan
Appendiktomy dengan pembedahan daerah abdomen kuadran kanan bawah
sepanjang 6 cm, anestesi spinal, jahitan subkutikuler. Dari pengkajian yang
dilakukan 2 jam setelah operasi didapatkan data sebagai berikut :
1. Propocative


Paliatif
:


:
Pasien mengatakan nyeri terjadi akibat operasi
dan nyeri bertambah saat ditekan, duduk, dan
menggerakkan kakinya.
Pasien mengatakan nyeri sedikit berkurang bila
istirahat.
2. Quality : Pasien mengatakan nyeri terasa teriris-iris dan
panas di area pembedahan.
3. Region : Pasien mengatakan nyeri perut sebelah kanan
bawah di area luka bekas operasi. Nyeri
menyebar ke perut sebelah kiri.
39

4. Severity : Pasien mengatakan nyeri yang dirasakan
mengganggu aktivitas, ketika ditanya penulis
dengan rentang skala nyeri 1-10, nyeri terletak
pada angka berapa. Pasien mengatakan terletak
pada angka 6 (nyeri sedang).
5. Time : Nyeri timbul setelah dilakukan pembedahan,
frekuensi dan durasi nyeri menetap hingga 2
jam.
3.1.4. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien belum pernah mengalami penyakit appendisitis sebelumnya,
tetapi pasien pernah mengalami penyakit maag, pengobatan yang dilakukan
yaitu dirawat di rumah sakit selama 5 hari, pasien tidak ada riwayat alergi
terhadap makanan atau obat-obatan, imunisasi pasien lengkap yaitu BCG,
Polio, DPT, Hepatitis, Campak.
3.1.5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ayah pasien tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan, tetapi ibu
pasien mempunyai riwayat Hipertensi dan penyakit lain yaitu Reumatik,
tidak ada anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit Diabetes
Melitus. Saudara pasien tidak mengalami penyakit yang sama dengan pasien
yaitu Appendisitis.




40

Bagan 3.1 : Genogram









20 th

Keterangan :
: Perempuan : Perempuan Meninggal
: Laki-laki : Pasien
: Laki-laki Meninggal : Tinggal serumah

3.1.6. Riwayat/ Keadaan Psikososial
1. Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan pasien Bahasa Verbal atau Bahasa Daerah Siulak.
2. Persepsi pasien tentang penyakitnya
Pasien mengatakan penyakitnya lumayan parah tapi dapat disembuhkan.
3. Konsep Diri
a. Gambaran diri : Pasien mengatakan menyukai seluruh
bagian tubuhnya tidak ada yang di
istimewakan.
41

b. Ideal Diri : Pasien berharap perutnya dapat sembuh lagi
dan dapat menjalankan aktivitas
sebagaimana biasanya yaitu mahasiswi.
c. Harga Diri : Pasien tidak merasa malu dengan penyakit
yang dialaminya.
d. Peran Diri : Pasien tidak bisa melakukan perannya
sebagai mahasiswi yaitu kebutuhan belajar
dan anak yang membantu melakukan
pekerjaan di rumah.
e. Identitas pribadi : Pasien mengatakan setelah masuk rumah
sakit pasien merasa tidak berdaya karena
pasien tidak bisa melakukan aktivitas
sehari-hari seperti kuliah.
4. Keadaan Emosi
Emosi pasien stabil, pasien bisa mengontrol emosinya seperti ketika
timbul nyeri pasien tidak berteriak atau cepat marah, pasien hanya
meringis dan mengatakan kalau nyeri terasa menusuk-nusuk.
5. Perhatian terhadap orang lain/ lawan bicara
Pasien dapat memperhatikan terhadap lawan bicara dan menjawab
pertanyaan dengan baik.
6. Hubungan dengan Keluarga, Saudara dan Orang lain
Hubungan pasien dengan keluarga, saudara dan orang lain baik dan
harmonis terlihat banyak orang yang menjenguk pasien di Rumah Sakit.


42

7. Daya Adaptasi
Pasien dapat beradaptasi dengan lingkungan di Rumah Sakit.
8. Mekanisme Pertahanan Diri
Bila ada masalah biasanya pasien membicarakan dengan ibunya.
3.1.7. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
Pasien lemah dan meringis karena nyeri pada perut kanan bagian bawah
pasca pembedahan.
2. Antropometri
TB : 151 cm
BB : -
3. Tanda-tanda Vital
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 110 kali/menit
Pernafasan : 28 kali/menit
Suhu : 39
o
C
4. Pemeriksaan Kepala, Leher
a. Kepala dan Rambut
Bentuk kepala pasien normal, kulit kepala kurang bersih. Penyebaran
rambut merata dan struktur rambut halus. Wajah simetris, terlihat
pucat dan dapat berekspresi dengan baik seperti bila nyeri pasien
meringis.


43

b. Mata
Mata pasien lengkap dan simetris. Palpebra tidak ada edema.
Konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik. reflek pupil
terhadap cahaya positif atau mengecil saat terkena cahaya dan isokor.
Kornea simetris dan iris reflek dengan baik. Visus pasien baik, dapat
membaca kurang lebih 30 cm tanpa menggunakan bantuan.
c. Hidung
Tulang hidung normal dan tidak ada kelainan. Lubang hidung :
lengkap dan simetris antara kiri dan kanan. Mukosa hidung pasien
lembab.
d. Telinga
Bentuk telinga simetris dan tidak ada kelainan antara kiri dan kanan.
Ukuran normal dan sama besar kiri dan kanan. Tidak ada penumpukan
serumen di lubang telinga. Pasien dapat mendengar dengan baik.
e. Mulut
Bentuk mulut pasien anatomis, mukosa bibir lembab. Lidah pasien
tampak kotor, tidak ada perdarahan pada gusi.
f. Leher
Tidak ada pembesaran tyroid. Suara jelas terdengar saat bicara. Tidak
ada pembesaran vena jogularis.
5. Integumen
Kulit pasien tampak bersih, akral teraba hangat. Warna kulit sawo matang.
Turgor kulit pasien baik, elastis dan terdapat luka di kulit bagian abdomen
pasca pembedahan.

44

6. Pemeriksaan dada
Pada saat di inspeksi, bentuk thorak normal kiri dan kanan tidak ada
kelainan.
a. Pemeriksaan jantung
Pada saat di inspeksi permukaan dada simetris dan tidak terlihat ictus
cordis. Saat di palpasi teraba pada intercostalis ke 2 batas atas dan
intercostalis ke 6 batas bawah. Terdengar bunyi redup saat di perkusi,
tidak ada kesan pembesaran jantung. Pada saat di auskultasi terdengar
bunyi jantung I (Lup) pada saat berkontraksi, bunyi jantung II (Dup)
pada saat berdilatasi dengan frekuensi 98 kali/menit.
b. Pemeriksaan paru
Teraba getaran suara pada saat di palpasi, pernafasan 28 kali/menit dan
irama reguler. Terdengar bunyi resonan saat di perkusi dan tidak ada
kesan pembengkakan. Pada saat di auskultasi suara ucapan terdengar
jelas dan tidak ada suara tambahan seperti bunyi ronchi dan wheezing.
7. Pemeriksaan Abdomen
Pada saat di inspeksi, luka tertutup kasa steril, saat dibuka tampak luka
sepanjang 6 cm, jenis jahitan subcutikuler, luka tampak memerah, tidak
terdapat pus dan tidak ada edema sekitar luka. Tidak terpasang drain. Saat
di asukultasi terdapat adanya peristaltik usus lemah ( 3 kali permenit).
8. Pemeriksaan Musculoskletal/ ekstremitas
Dari pemeriksaan yang dilakukan otot pasien simetris, tidak terdapat
adanya edema, pada tangan kiri pasien terpasang infus RL 20 tetes/menit,
kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah normal dengan skor 5.

45

R L
5 5
5 5
9. Pemeriksaan Neurologi
Tingkat kesadaran pasien Compos Mentis dengan jumlah GCS : 15, E : 4,
M : 6, V : 5, tidak ada tanda meningeal. Kondisi emosi/perasaan pasien
stabil, pasien mau menjalani proses perawatan dengan sabar, pasien
berorientasi baik, pasien dapat mengidentifikasi tempat, orang dan waktu.
Motivasi (kemauan) pasien ingin cepat sembuh, pulang dan beraktifitas
seperti biasa, pasien menggunakan bahasa daerah yaitu Bahasa Siulak.
a. Nervus Olfaktorius (NI)
Pasien mampu membedakan bau-bauan yang berbeda (obat dan teh)
yang didekatkan, pasien dalam mata terpejam.
b. Nervus Optikus (N II)
Pasien dapat membaca tulisan perawat dengan baik.
c. Nervus Okulomotorius (N III), Nervus Troklearis (N IV), dan Nervus
Abdusen (N.VI)
Pasien mampu mengangkat kelopak mata, menggerakkan mata ke
bawah dan ke dalam, dan ke lateral.
d. Nervus Trigeminus (N.V)
Pasien mampu menutup rahang dan meggerakkan rahang ke lateral.
e. Nervus Fasialis (N VII)
Pasien dapat berekspresi lewat wajahnya, pasien meringis waktu
timbulnya nyeri.

46

f. Nervus Vestibulokoklearis (N.VIII)
Pasien dapat mendengar dengan baik apa yang dikatakan oleh perawat
g. Nervus Glossoparingeus (N.IX)
Pasien dapat merasakan rasa manis.
h. Nervus Vagus (N X)
Pasien tidak ada kesulitan saat menelan.
i. Nervus Asesorius (N.XI)
Pasien dapat menggerakkan lehernya ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke
bawah.
j. Nervus Hipoglossus (N.XII)
Pasien dapat menggerakkan lidahnya secara normal atau ke semua
arah.
3.1.8. Pola Kebiasaan Sehari-hari.
Tabel 3.1
Pola Kebiasaan Sehari-hari

No Kegiatan Sebelum sakit Selama sakit
1. Nutrisi Pola makan pasien
Teratur. Jenis makanan
Nasi, sayur, lauk pauk.
Pasien makan 3 x sehari.
Nafsu makan Baik.
Makanan pantangan
yaitu makanan yang
mengandung asam
karena pasien
mempunyai riwayat
penyakit maag seperti
merica.
Pasien belum boleh makan,
pasien puasa pasca operasi
selama 6 jam.
Pasien mual dan muntah 2x.
Keluarga pasien
mengatakan selama sakit
pasien hanya makan 1x
sehari.
Makanan pantangan selama
sakit atau di RS yaitu yang
pedas pedas dan asam.

47

Jenis minuman Air putih
dan teh. 8 gelas.
2.500 cc/hari
Berat badan 44 kg.

Air putih dan teh.
6 gelas / hari (750cc)
IVFD RL 20 tetes / menit
1500 cc/hari
2. Eliminasi

1. BAB
Pola BAB 1 x/hari
Karekter Feses lunak
dan mudah BAB.
Tidak ada riwayat
pendarahan
2. BAK
Pola BAK 4 x dalam
sehari tidak ada tanda
inkontenensia.
Karakter urine kuning
agak jernih dan tidak
ada retensi urine.
Pasien tidak
mempunyai riwayat
penyakit ginjal dan
kandung kemih

Pasien BAB 1 hari sebelum
operasi, 4 jam setelah
operasi pasien belum BAB



Pasien memakai kateter
selama 4 jam dari setelah
operasi, kemudian atas
permintaan pasien kateter di
lepas karena pasien merasa
tidak nyaman.
Karakter urine kuning pekat.
Tidak ada penyakit ginjal
dan kandung kemih.
3. Istirahat
Tidur
21.00 - 05.30 WIB
(8 Jam)
Tidak ada masalah
tidur.
Hal-hal
mempermudah tidur
saat mendengarkan
musik dan kelelahan.


23.00 - 05.00 WIB
(6 Jam)
Pasien susah tidur karena
nyeri.
Saat nyeri tidak timbul.





48

Hal-hal
mempermudah
bangun saat
mendengar suara
gaduh.
Saat nyeri timbul

4. Kebersihan
Diri
(personal
Hygiene)

Pasien menggosok gigi
2 x/hari.
Pasien memotong kuku
1 x/minggu
Setelah operasi pasien tidak
menggosok gigi, lidah
kotor. Kuku pasien pendek
tapi kurang bersih.

3.1.9. Pemeriksaan Penunjang
Tabel 3.2
Pemeriksaan Penunjang

No Nama Pemeriksaan Hasil Nilai normal
1 Pemeriksaan Labolatorium
a. Tgl 18 Mei 2012
- Hemoglobin
- HCT
- Leukosit

b. Tanggal 19 Mei 2012
- Urine



14,5 gram %
42,5 %
11 x 10
3
/L


7,5 mg/dl



12 14 gram / %
P : 38 47 %
5 10 x 10
3
/ L

10 50 mg/dl



49

3.1.10. Penatalaksanaan dan Terapi
Tabel 3.3
Penatalaksanaan dan Terapi
No Nama obat Dosis Efek therapi Efek samping
1. Ringer Laktat
(RL)
20
tetes/menit
Mengganti cairan
yang hilang
-
2. Metronidazole 3 kali/hari Sebagai antibiotik
mengatasi
terjadinya infeksi
Gangguan pada
saluran cerna,
mulut
kering,pusing
atau sakit kepala
dan sewaktu-
waktu leukopenia.
3. Cefotaxim 2 kali
1gr/8 jam
Sebagai antibiotik
bakteri gram
negative
Reaksi
hipersensitifitas
seperti pruritus,
demam, urtikaria
dan anafilaksis
4. Ranitidin 3 kali 1
ampul/ 8
jam
Untuk mengatasi
mual muntah
Diare, nyeri otot,
pusing,
konstipasi,
penurunan sel
darah putih
sedikit
peningkatan kadar
kreatinin serum
pada beberapa
penderita
5. Tramadol 1 ampul/
drip
Untuk mengatasi
nyeri
Mual muntah


50

3.1.11. Analisa Data
Tabel 3.4
ANALISA DATA

NO. DATA WOC MASALAH
1.




























Data Subjektif :
a. Pasien mengatakan nyeri
pada perut kanan bagian
bawah.
b. Pasien mengatakan sakit saat
bergerak.
c. Pasien mengatakan nyeri
timbul 2 jam setelah operasi
dengan frekuensi dan durasi
menetap hingga 2 jam. Nyeri
terasa menusuk-nusuk.
Data Objektif :
b. Pasien meringis ketika timbul
nyeri.
c. Pasien gelisah dan sering
memegang area yang sakit
yaitu pada perut kanan
bagian bawah
d. TD : 120/80 mmHg.
Nadi : 110 kali /menit.
Pernafasan : 28x/menit
Suhu : 39
o
C
Skala nyeri 6 (nyeri sedang)







Inflamasi appendik

Appendiktomy

Terputusnya kontinuitas
jaringan akibat proses
invasif

Reaksi inflamasi

Peningkatan nociceptor

Nyeri akut
















Nyeri akut














.












51

2.












3.



















Data Subjektif :
a. Keluarga pasien mengatakan
di perut pasien sebelah kanan
bawah terdapat luka seperti
sayatan.
Data Objektif :
a. Di bagian abdomen sebelah
kanan bawah terdapat luka
bekas pembedahan dengan
panjang 6 cm, jenis jahitan
subcutikuler
b. Karakteristik luka belum
kering dan kemerahan.
Data Subjektif :
a. Pasien mengatakan luka pada
perut sebelah kanan bekas
operasi.
b. Pasien mengatakan luka
terasa panas.
Data Objektif
a. Terdapat luka bekas operasi
di bagian perut sebelah kanan
bawah, sepanjang 6 cm.
b. Luka tampak belum kering
dan kemerahan, tidak ada
edema, tidak ada pus.
c. TTV :
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 110
x
/i
Suhu : 39
o
C
Pernafasan : 28x/menit



Appendiktomy

Terputusnya kontinuitas
jaringan akibat proses
infasif

Kerusakan integritas
kulit





Inflamasi appendik

Prosedur invasif

Proses inflamasi

Resiko Tinggi infeksi













Kerusakan
integritas
kulit










Resiko
Tinggi
infeksi
















52

4.






Data Subjektif :
a. Pasien mengatakan mual,
muntah 2 kali.
b. Pasien mengatakan badan
terasa lemah.
c. Keluarga pasien mengatakan
selama sakit pasien hanya
mau makan 1x sehari,
biasanya pada siang hari.
Data Objektif :
a. Pasien pucat dan lemah.
b. Berat Badan sebelum sakit 44
Kg.
c. Lidah pasien terlihat kotor.

Efek anestesi

Gangguan pada
gastrointestinal

Penurunan peristaltik
usus

Perubahan pola nutrisi

Resiko gangguan
pemenuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh



Resiko
gangguan
pemenuhan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh




















53

3.2. Diagnosa Keperawatan
3.2.1 Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat
proses invasif ditandai dengan pasien mengatakan nyeri pada perut kanan
bagian bawah, pasien mengatakan sakit saat bergerak, pasien meringis ketika
nyeri timbul, TD : 120/80 mmHg, nadi : 110 kali/menit, suhu : 39
o
C,
Pernafasan : 28x/menit, skala nyeri 6 (nyeri sedang).
3.2.2 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan ditandai dengan keluarga pasien mengatakan perut pasien terdapat
luka seperti sayatan, pasien mengtakan luka terasa panas, di bagian abdomen
sebelah kanan bawah terdapat luka bekas pembedahan dengan panjang 6 cm,
jenis jahitan subcutikuler, karakteristik luka belum kering dan kemerahan.
3.2.3 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif ditandai dengan
pasien mengatakan luka pada perut sebelah kanan bekas operasi, tidak ada
edema, pasien mengatakan luka panas, luka bekas operasi tampak belum
kering dan tampak kemerahan.
3.2.4 Resiko gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan perubahan pola nutrisi pasca bedah dari gangguan
gastrointestinal ditandai dengan pasien puasa 6 jam setelah operasi, pasien
mengatakan mual, muntah 2 kali, pasien mengatakan badan terasa lemah,
keluarga pasien mengatakan selama sakit pasien hanya mau makan 1 x
sehari, lidah pasien terlihat kotor, berat badan sebelum sakit 44 kg.




54

3.3. Rencana Keperawatan
Nama Pasien : Nn .E Diagnosa Medis : Appendiktomy
No. Reg. : 12004622 Ruangan : Bedah
Tabel 3.5
Rencana Keperawatan

NO.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN DAN
KRITERIA HASIL
RENCANA KEPERAWATAN PARAF
INTERVENSI RASIONAL
1 2 3 4 5 6
1. Nyeri Akut berhubungan
dengan terputusnya
kontinuitas kulit/jaringan
akibat proses invasif
ditandai dengan pasien
mengatakan nyeri pada
perut kanan bagian bawah,
pasien mengatakan sakit
saat bergerak, pasien terlihat
meringis saat area yang
sakit saat ditekan dan pasien
tampak gelisah, TD : 120/80
mmHg, nadi : 110
Tujuan :
Nyeri berkurang atau
hilang dalam waktu 1 x
24 jam.
Kriteria hasil :
a. Pasien mampu
mengontrol rasa nyeri
dengan teknik
relaksasi.
b. Pasien dapat istirahat
dengan tenang.
c. TTV normal kembali.

1) Kaji skala nyeri, lokasi dan
karakteristik.


2) Pertahankan istirahat
dengan posisi semi fowler.


3) Dorong ambulasi dini.




1) Mengetahui sejauh mana
tingkat nyeri dan indikator
secara dini untuk memberikan
tindakan selanjutnya.
2) Posisi ini mengurangi
tegangan pada insisi dan organ
abdomen yang membantu
mengurangi nyeri.
3) Meningkatkan normalisasi
fungsi organ (merangsang
peristaltik dan flatus) dan
menurunkan ketidaknyamanan
abdomen.
NIA
55

kali/menit, suhu : 39
o
C,
Pernafasan : 28 kali/menit,
skala nyeri 6 (nyeri sedang),

d. Pasien tampak rileks
dan tidak gelisah.
e. Skala nyeri ringan (1-
3)
4) Ajarkan teknik relaksasi
pada saat nyeri, dengan
teknik nafas dalam.

5) Manajemen lingkungan
tenang, batasi pengunjung,
dan istirahatkan pasien.








6) Kolaborasi dalam
pemberian analgetik sesuai
indikasi.
4) Menghirup Oksigen secara
adekuat sehingga otot menjadi
relaksasi dapat mengurangi
nyeri.
5) Lingkungan tenang akan
menurunkan stimulus nyeri
eksternal dan pembatasan
pengunjung akan membantu
meningkatkan kondisi oksigen
ruangan yang akan berkurang
apabila banyak pengunjung
yang berada diruangan.
Istirahat akan menurunkan
kebuthan oksigen jaringan
perifer.
6) Membantu dalam mengatasi
nyeri.




56

2.




















Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan
terputusnya kontinuitas
jaringan ditandai dengan
keluarga pasien mengatakan
perut pasien terdapat luka
seperti sayatan, pasien
mengtakan luka terasa
panas, di bagian abdomen
sebelah kanan bawah
terdapat luka bekas
pembedahan dengan
panjang 6 cm, jenis jahitan
subcutikuler, karakteristik
luka belum kering dan
kemerahan.





Tujuan :
Integritas kulit
berangsur-angsur
pulih/kembali normal
setelah dilakukan
perawatan selama 3 x 24
jam
Kriteria Hasil :
1. Pasien menunjukkan
perilaku/teknik untuk
meningkatkan
penyembuhan,
mencegah komplikasi.

2. Menunjukkan luka
sembuh tepat waktu.





1) Lihat semua insisi, kaji
ulang harapan terhadap
penyembuhan terhadap
pasien.
2) Anjurkan menggunakan
baju yang tidak terlalu
ketat.
3) Berikan balutan luka yang
tepat dan gunakan teknik
aseptik yang ketat.
4) Dorong penigkatan kaki dan
tinggikan daerah yang
dioperasi sesuai kebutuhan.
5) Tingkatkan nutrisi dan
masukan cairan adekuat






1) Penyembuhan mulai segera
tapi penyembuhan lengkap
memerlukan waktu.

2) Menurunkan iritasi garis
jahitan dan tekanan dari baju.

3) Melindungi luka dari
perlukaan mekanis dan
kontaminasi.
4) Meningkatkan pengembalian
aliran vena dan menurunkan
pembentukan edema.
5) Membantu untuk
mempertahankan volume
sirkulasi yang baik untuk
perfusi jaringan dan
memenuhi kebutuhan energi
seluler untuk memudahkan
proses regenerasi/
penyembuhan jaringan
NIA




















57



3.




















Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan
prosedur invasif.


















Tujuan :
Masalah teratasi atau
tidak terjadi infeksi,
terjadi perbaikan pada
integritas jaringan lunak
dalam waktu 3 x 24 jam.
Kriteria hasil :
a. Tidak ada tanda-tanda
infeksi dan
peradangan pada
daerah luka.
b. TTV dalam batas
normal.






6) Ingatkan pasien untuk tidak
menyentuh luka.
1. Awasi tanda-tanda vital.
Perhatikan demam,
menggigil, berkeringat,
perubahan mental,
meningkatnya nyeri
abdomen.
2. Lakukan pencucian tangan
yang baik dan perawatan
luka aseptik.
3. Lihat insisi dan balutan.




4. Berikan informasi yang
tepat, jujur pada
pasien/orang terdekat.


6) Mencegah kontaminasi luka.

1) Dugaan adanya
infeksi/terjadinya sepsis,
abses, peritonitis.



2) Menurunkan resiko
penyebaran bakteri.

3) Memberikan deteksi dini
terjadinya proses infeksi,
dan/atau pengawasan
penyembuhan peritonitis yang
telah ada sebelumnya.
4) Pengetahuan tentang
kemajuan situasi memberikan
dukungan emosi, membantu
menurunkan ansietas.



NIA


















58




4.



















Resiko gangguan
pemenuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
penurunan peritaltik usus.





Tujuan :
Kebutuhan nutrisi
terpenuhi dalam waktu
2 x 24 jam.
Kriteria hasil :
a. Menunjukan berat
badan yang stabil.
b. Pasien tidak
mengalami mual dan
muntah.
c. Porsi yang disediakan
habis.


5. Kolaborasi pemberian
antibiotik sesuai indikasi.

1) Monitor intake dan output
makanan setiap hari.
2) Timbang berat badan setiap
hari.

3) Anjurkan pasien untuk
makan sedikit namun
sering.
4) Anjurkan kebersihan oral
sebelum makan.
5) Kontrol faktor lingkungan
seperti bau busuk atau
bising.
6) Menganjurkan keluarga
untuk memberikan
makanan yang sesuai
dengan diitnya.

5) Mungkin diberikan secara
profilaktik atau menurunkan
jumlah organisme.
1) Memberikan informasi
tentang status gizi pasien.
2) Memberikan informasi
tentang penambahan dan
penurunan berat badan pasien.
3) Tidak memberi rasa bosan dan
pemasukan nutrisi dapat
ditingkatkan.
4) Mulut yang bersih dapat
meningkatkan nafsu makan.
5) Dapat menimbulkan selera
makan.

6) Memenuhi kebutuhan nutrisi
tubuh.






NIA
59



7) Kolaborasi dalam
pemberian obat sesuai
indikasi.
7) Menekan terjadinya mual
muntah.

60

60

3.4. Implementasi

Nama Pasien : Nn. E No. Register : 12004622
Ruangan : Bedah Dx. Medis : Appendiktomy
Tabel 3.6
Catatan Keperawatan

No.
No.
Dx
Waktu Implementasi
Hasil

Paraf
1

























1

























KAMIS
21-6-2012
19.45WIB










21.00WIB



19.35WIB








1. Mengkaji skala
nyeri, lokasi dan
karakteristik.










2. Mempertahankan
istirahat dengan
posisi semi
fowler.
3. Memotivasi
pasien
melakukan
ambulasi/
pergerakan dini.




S








O



S


O
S





O

:








:



:


:
:





:

Pasien mengatakan
nyeri seperti
teriris-iris di area
bekas operasi, di
bagian perut seelah
kanan bawah, nyeri
terasa menetap 4
jam setelah
operasi.
skala nyeri 6 (nyeri
sedang), Pasien
meringis dan
gelisah.
Pasien mengatakan
belum bisa istirahat
karena nyeri berat.
Pasien gelisah.
Pasien mengatakan
ragu untuk
melakukan
pergerakan karena
takut nyeri akan
bertambah berat.
Pasien belum bisa
menggerakkan
Nia


















Nia





Nia












61







































































20.00WIB





21.15WIB













22.23WIB












4. Mengajarkan
teknik relaksasi
pada saat nyeri.



5. Memanajemen
lingkungan
tenang, batasi
pengunjung, dan
istirahatkan
pasien.








6. Kolaborasi dalam
pemberian
analgetik Injeksi
tramadol 1 ampul
(Drip) IVFD RL
20 tetes/menit.







S


O


S







O





S




O







:


:


:







:





:




:



kakinya atau
merubah posisi
miring kanan dan
kiri.
Pasien belum
mampu
mengontrol nyeri.
Pasien gelisah dan
ekspresi wajah
meringis.
Keluarga mau
untuk
berpartisipasi
membatasi
pengunjung tapi
pasien masih susah
untuk istirahat
karena nyeri.
Keluarga pasien
ikut memberi
pengertian kepada
keluarga yang lain
untuk tidak terlalu
ramai.
Pasien mengatakan
setelah di beri obat
nyeri sedikit
berkurang tapi
terasa mual.
Pasien masih
gelisah.








Nia








Nia




















Nia












62

2.
































2
































KAMIS
21-6-2011
14.30WIB




15.00WIB






14.40WIB




19.35WIB







19.50WIB





1. Melihat insisi dan
mengkaji harapan
terhadap
penyembuhan
terhadap pasien.


2. Menganjurkan
menggunakan
baju yang tidak
terlalu ketat.



3. Menutup luka
menggunakan
teknik aseptik


4. Memotivasi
pasien untuk
peningkatan kaki
dan meninggikan
daerah yang
dioperasi sesuai
kebutuhan.

5. Memotivasi
pasien
meningkatkan
nutrisi dan
masukan cairan
adekuat.
S



O


S



O


S


O

S



O



S



O

:



:


:



:


:


:

:



:



:



:

Pasien mengatakan
luka masih terasa
nyeri, pasien ingin
cepat sembuh.
Bekas insisi belum
kering, tampak
kemerahan.
Pasien mengatakan
tidak
menggunakan
pakaian yang ketat
Pasien mau
mengikuti yang
dianjurkan.
Pasien mengatakan
lebih nyaman bila
luka ditutup.
Luka tertutup kasa
steril.
Pasien mengatakan
masih ragu untuk
menggerakkan
kaki,
Pasien merubah
posisi dengan
bantuan, posisi
semifowler.
Pasien mengatakan
tidak ada nafsu
makan, pasien
hanya mau minum.
Pasien lemah.

Nia









Nia






Nia




Nia







Nia





63







3.
































3


























15.00WIB





KAMIS
21-6-2012
14.35WIB











15.00WIB




14.30WIB





15.30WIB

6. Mengingatkan
pasien untuk
tidak menyentuh
luka dengan
tangan terbuka.

1. Memantau tanda-
tanda vital, dan
tanda-tanda
infeksi.










2. Melakukan
perawatan luka
aseptik.


3. Melihat insisi dan
balutan.




4. Memberikan
informasi tentang
S


O


S

O











S



O
S


O


S

:


:


:

:











:



:
:


:


:

Pasien mau untuk
tidak menyentuh
luka.
Pasien terlihat
tidak menyentuh
luka
Pasien mengatakan
luka terasa panas.
TTV :
TD : 120/80
mmHg
N : 110 kali/i
S : 39
o
C
RR : 28 kali/i
Luka di perut
kanan bawah,
belum kering,
tampak memerah,
tidak ada edema,
dan tidak ada pus.
Pasien mengatakan
merasa nyaman
dengan balutan
yang diganti.
Luka bersih.
Pasien mengatakan
luka masih terasa
sedikit panas.
Insisi 6 cm, jahitan
subcutikuler. Tidak
terpasang drain.
Pasien dan
keluarga
Nia





Nia













Nia




Nia





Nia

64


















4.



















4












22.25WIB







KAMIS
21-6-2012
19.45WIB







19.50WIB





pasien dan
keadaan luka
setelah operasi
pada pasien/orang
terdekat.




5. Kolaborasi
pemberian
antibiotik, Injeksi
cefotaxim via
bolus intravena,
500 gr.


1. Memonitor intake
dan output,
adanya mual atau
muntah.






2. Menganjurkan
pasien untuk
makan sedikit
namun sering.







O



S



O



S







O

S










:



:



:



:







:

:





mengatakan
mengerti tentang
penyakit dan
menerima tindakan
yang dilakukan.
Pasien kooperatif
selama tindakan
keperawatan
diberikan.
Pasien mengatakan
saat disuntik obat
terasa perih tangan
sekitar infus.
Resiko infeksi
dapat minimalkan
dengan pemberian
antibiotik.
Pasien
mengatakan, hanya
minum 1 gelas,
pasien mual dan
muntah 2x sejak 6
jam setelah
operasi. Pasien
belum BAK.
Pasien lemah dan
pucat.
Pasien mengatakan
akan makan
sedikit-sedikit
secara perlahan.











Nia







Nia









Nia





65




19.30WIB







19.50WIB



22.23WIB






3. Menganjurkan
kebersihan oral
sebelum makan.





4. Mengontrol
faktor lingkungan
seperti bau busuk
atau bising.
6. Kolaborasi
dalam pemberian
obat, injeksi
ranitidin 1
ampul/8 jam via
bolus intravena.
O


S




O


S

O

S





O
:


:




:


:

:

:





:

Pasien mau
mengikuti yang
dianjurkan
Pasien mengatakan
hanya
membersihkan
mulut dengan air,
tanpa gosok gigi.
Mulut pasien
tampak kurang
bersih.
Pasien mengatakan
lebih nyaman.
Lingkungan lebih
terkontrol.
Pasien mengatakan
2 jam setelah
diberi obat mual
sedikit berkurang
tapi masih hilang
timbul
Pasien masih
lemah dan pucat.




Nia







Nia



Nia










1.









1









JUMAT
22-6-2012
06.45WIB







1. Mengkaji skala
nyeri, lokasi dan
karakteristik.







S






O


:






:


Pasien mengatakan
nyeri berkurang,
lokasi di area bekas
operasi di bagian
perut sebelah kanan
bawah, durasi 5
menit.
Ekspresi wajah
pasien meringis,
pasien memegang
Nia














66





































































08.00WIB






07.45WIB









06.30WIB





20.45WIB









2. Mempertahankan
istirahat dengan
posisi semi
fowler.



3. Memotivasi
pasien melakukan
ambulasi/
pergerakan dini.






4. Mengajarkan
teknik relaksasi
pada saat nyeri,
dengan teknik
nafas dalam.

5. Memanajemen
lingkungan
tenang, batasi
pengunjung, dan
istirahatkan
pasien.




S


O



S



O





S


O


S





O



:


:



:



:





:


:


:





:

area sekitar luka.,
skala nyeri.
Pasien mengatakan
bisa istirahat bila
tidak timbul nyeri.
Pasien dalam posisi
semi fowler dan
tampak lebih
tenang.
Pasien mengatakan
mau mencoba
bergerak sedikit-
sedikit.
Pasien mencoba
untuk melakukan
pergerakan dengan
perlahan, miring
kiri dan miring
kanan.
Pasien mengatakan
nyeri masih
mengganggu.
Pasien tampak
belum mampu
mengontrol nyeri.
Keluarga mau
untuk berpartisipasi
membatasi
pengunjung, pasien
mulai bisa untuk
istirahat.
Pasien tampak
tenang.



Nia






Nia









Nia





Nia







67









2.












.



















2
























10.00WIB







JUMAT
22-6-2012
07.00WIB


06.30WIB



06.40WIB






07.30WIB








6. Kolaborasi dalam
pemberian
analgetik, injeksi
tramadol 1 ampul
(Drip) IVFD RL
20 tetes/menit.
Injeksi
Metronidazole.
1. Melihat insisi.




2. Menutup luka
menggunakan
teknik aseptik

3. Memotivasi
pasien untuk
meningkatkan
pergerakan kaki.


4. Memotivasi
pasien
meningkatkan
nutrisi dan
masukan cairan
adekuat.


S



O



S


O

S


O
S



O


S


O





:



:



:


:

:


:
:



:


:


:





Pasien mengatakan
setelah di beri obat
nyeri berkurang
tapi terasa mual.
Pasien tidak
gelisah.


Pasien mengatakan
luka tidak terasa
panas.
Luka masih terlihat
kemerahan
Pasien mengatakan
nyaman jika luka
dibalut
Luka bersih.
Pasien mengatakan
mau mulai
menggerakkan kaki
secara perlahan.
Pasien
menggerakkan kaki
secara pelan-pelan.
Pasien mengatakan
mau mengikuti
anjuran perawat
Pasien termotivasi
untuk banyak
minum dan makan
sedikit tapi sering.


Febi







Nia




Nia



Nia






Nia








68

3.
































3
































JUMAT
22-6-2012
06.00WIB
















07.00WIB


07.15WIB






07.30WIB



1. Memantau tanda-
tanda vital dan
tanda-tanda
infeksi















2. Melakukan
perawatan luka
aseptik.
3. Melihat insisi dan
balutan.





4. Memberikan
informasi tentang
erkembangan dan
keadaan luka
S


O















S

O
S


O



S



:


:















:

:
:


:



:



Pasien mengatakan
luka tidak terasa
panas lagi.
TTV :
TD : 100/60
mmHg
N : 88 kali/
menit
S : 37
o
C
RR : 26 kali/
menit
Luka tidak
terkontaminasi,
luka kemerahan,
tidak ada edema,
tidak ada pus,
pasien kooperatif
selama tindakan
dilakukan.
Pasien mengatakan
lebih nyaman.
Luka bersih.
Pasien mengatakan
merasa nyaman bila
luka ditutup
Luka tertutup kasa
steril, bekas insisi
masih kemerahan,
tidak ada pus.
Pasien dan keluarga
mengerti tentang
penyakit dan
menerima tindakan
Nia


















Nia


Nia






Nia



69












4.

























IV


















10.00WIB






JUMAT
21-6-2012
19.15WIB

19.00WIB







19.30WIB




17.00WIB
yang tepat, jujur
pada pasien/orang
terdekat.

5. Kolaborasi
pemberian
antibiotik Injeksi
cefotaxim via
bolus intravena,
500 gr.

1. Memonitor
adanya mual atau
muntah.

2. Menganjurkan
kebersihan oral
sebelum makan.





3. Mengontrol
faktor lingkungan
seperti bau busuk
atau bising.

4. Kolaborasi
dalam pemberian
obat Injeksi
ranitidin 1
ampul/8 jam via

O


S




O

:


:




:
yang dilakukan.
pasien dan keluarga
pasien tampak
tenang.
Pasien mengatakan
nyeri disekitar
tangan kiri yang
diinfus saat di
suntik.
Pasien tampak
meringis.
S : Pasien mengatakan
hanya merasa mual.
O : Pasien tampak
tenang.
S




O
:




:

Pasien mengatakan
hanya
membersihkan
mulut dengan air,
tanpa gosok gigi.
Mulut pasien
tampak kurang
bersih
S


O
:


:
Pasien mengatakan
merasa lebih
nyaman
Lingkungan lebih
terkontrol.
S

O
:

:
Pasien mengatakan
mual berkurang.
Pasien tidak gelisah





Febi






Nia



Nia







Nia




Mice




70

bolus intravena.
Injeksi
metronidazole.



1.





























I





























SABTU
23-6-2012
13.30WIB








14.00WIB







20.15WIB










1. Mengkaji skala
nyeri, lokasi dan
karakteristik.








2. Mempertahankan
istirahat dengan
posisi semi
fowler.




3. Memotivasi
pasien melakukan
ambulasi/pergera
kan dini.







S



O
:



:
Pasien mengatakn
nyeri berkurang,
nyeri timbul hanya
saat bergerak.
skala nyeri 2 (nyeri
ringan), lokasi di
area bekas
pembedahan di
bagian perut
sebelah kanan
bawah.
S





O
:





:
Pasien mengatakan
sudah bisa istirahat
bila tidak timbul
nyeri, nyeri timbul
hanya saat bergerak
dan ditekan.
Pasien tidak
gelisah.
S



O
:



:
Pasien mengatakan
bisa duduk,
berbaring sendiri,
dan bisa berdiri.
pasien tampak
duduk dan
berbaring sendiri,
pasien mencoba
berdiri.

Nia















Nia







Nia










71












2.
































2





















19.40WIB




10.00WIB





SABTU
23-6-2012
07.00WIB



06.30WIB



06.40WIB








14.00WIB


4. Mengajarkan
teknik relaksasi
pada saat nyeri.


5. Kolaborasi dalam
pemberian
analgetik Injeksi
tramadol 1 ampul
(Drip) IVFD RL
20 tetes/menit.
1. Melihat insisi.





2. Menutup luka
menggunakan
teknik aseptik

3. Memotivasi
pasien untuk
meningkatkan
pergerakan kaki.






4. Memotivasi
pasien
meningkatkan
S


O
:


:
Pasien mengatakan
merasa lebih
nyaman.
Pasien mampu
mengontrol nyeri.
S


O
:


:
Pasien mengatakan
nyeri berkurang
tapi terasa mual.
Pasien tenang
mencoba istirahat.

S


O
:


:
Pasien mengatakan
luka tidak terasa
panas
Luka mulai kering,
jahitan belum bisa
diangkat
S


O
:


:
Pasien mengatakan
merasa lebih
nyaman
Luka bersih
S





O
:





:
Pasien mengatakan
mampu
menggerakkan kaki
dan merubah posisi
miring kiri, miring
kanan sendiri.
Pasien mampu
merubah posisi
sendiri.
S


:


Pasien mengatakan
sudah mau makan
2x sehari dan
Nia




Febi





Nia





Nia



Nia








Nia


72






3.
































III
































SABTU
22-6-2012
18.00WIB












07.00WIB




07.15WIB







nutrisi dan
masukan cairan
adekuat.


1. Memantau tanda-
tanda vital dan
tanda-tanda
infeksi











2. Melakukan
perawatan luka
aseptik.


3. Melihat insisi dan
balutan.








O


:

minum air putih 6
gelas per hari
Pasien tidak
tampak lemah dan
pucat
S


O
:


:

Pasien mengatakan
sudah merasa
nyaman.
Pasien tampak
tenang, Luka di
daerah abdomen
tampak mulai
kering, tidak ada
tanda-tanda infeksi
TTV :
TD : 100/70
mmHg
N : 80 kali/i
S : 36,5
o
C
RR : 24 kali/i

S

O
:

:
Pasien mulai
merasa nyaman.
Luka bersih, pasien
kooperatif selama
tindakan dilakukan.
S : Pasien mulai
merasa nyaman.
Insisi 6 cm, jahitan
subcutikuler.
Jahitan belum bisa
diangkat. Tidak
dipasang drain.





Nia














Nia




Nia







73











10.03WIB

4. Kolaborasi
pemberian
antibiotik Injeksi
cefotaxim via
bolus intravena, 3
x 500 gr.
S


O
:


:
Pasien mengatakan
luka tidak lagi
terasa panas.
Infeksi tidak
terjadi, luka tidak
kemerahan.

Febi





1.






















2.



I






















III



MINGGU
24-6-2012
08.00WIB








08.15WIB





08.30WIB





MINGGU
24-6-2012
08.30WIB

1. Mengkaji skala
nyeri, lokasi dan
karakteristik.








2. Memotivasi
pasien untuk
sering melakukan
ambulasi/pergera
kan dini.

3. Menganjurkan
teknik relaksasi
pada saat nyeri.



1. Melihat insisi.



S



O
:



:
Pasien mengatakan
nyeri berkurang,
nyeri timbul hanya
saat bergerak.
skala nyeri 1 (nyeri
ringan), lokasi di
area bekas
pembedahan di
bagian perut
sebelah kanan
bawah.
S


O
:


:
Pasien mengatakan
bisa duduk,
berbaring sendiri.
Pasien tampak
sudah bisa beranjak
dari tempat tidur.
S



O
:



:
Pasien mengatakan
bisa mengtasi nyeri
dengan teknik
relaksasi.
Pasien mampu
mengontrol nyeri.
S



:



Pasien mengatakan
sudah merasa
nyaman dan ingin
cepat pulang.
Nia















Nia





Nia





Nia



74



















3.
































IV




















08.00WIB



08.15WIB







MINGGU
24-6-2012
06.00WIB


















2. Menutup luka
menggunakan
teknik aseptik

3. Memotivasi
pasien untuk
tetap
meningkatkan
pergerakan kaki.



1. Memantau tanda-
tanda vital, tanda-
tanda infeksi.












O : Luka insisi sudah
mulai kering, tidak
tampak memerah,
tidak ada pus,
jahitan belum bisa
diangkat.
S

O
:

:
Pasien mengatakan
ingin cepat pulang.
Luka tertutup kasa
steril.
S




O
:




:
Pasien mengatakan
akan melakukan
aktifitas seperti
biasa secara
perlahan.
Pasien duduk dan
berdiri dengan
sendiri
S





O
:





:
Pasien mengatakan
sudah merasa lebih
nyaman.
Pasien tampak
tenang, tidak ada
tanda-tanda infeksi.
TTV :
TD : 110/70
mmHg
N : 82 kali/i
S : 36
o
C
RR : 22 kali/i







Nia



Nia







Nia














75



















08.30WIB



08.00WIB


2. Melakukan
perawatan luka
aseptik.

3. Melihat insisi dan
balutan.

S


O
:


:
Pasien mengatakan
sudah merasa lebih
nyaman.
Luka bersih.
S





O
:





:
Pasien mengatakan
tidak sering timbul
nyeri, nyeri saat
bergerak tidak
terlalu mengganggu
aktivitas.
Insisi 6 cm, jahitan
subcutikuler.
Jahitan belum bisa
diangkat. Tidak
dipasang drain.

Nia



Nia









76

3.5. Evaluasi
Nama pasien : Nn. E No. Register : 12004622
Ruangan : Bedah Dx. Medis : Appendiktomi
Tabel 3.7
Catatan Perkembangan

No No.Diagnosa Waktu Evaluasi Paraf
1.


























I


























JUMAT
22-6-2012
20.00 WIB
























S : Pasien mengatakan masih
nyeri di perut kanan bagian
bawah.
O : Pasien tampak meringis
kesakitan saat area perut
yang sakit ditekan, Skala
nyeri 4.
TTV :
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
Suhu : 37
o
C
RR : 26 kali/menit
Pasien tampak gelisah.
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan
1. Kaji skala nyeri, lokasi dan
karakteristik.
2. Pertahankan istirahat
dengan posisi semi fowler.
3. Motivasi pasien melakukan
ambulasi/pergerakan dini.
4. Ajarkan teknik relaksasi
pada saat nyeri.
5. Kolaborasi dalam
pemberian analgetik sesuai
indikasi.

Nia








































77

1.
























2.






I
























IV






SABTU
23-06-2012
14.00 WIB






















SABTU
23-06-2012
14.00 WIB




S : Pasien mengatakan masih
nyeri di perut kanan bagian
bawah, nyeri timbul saat
ditekan dan bergerak.
O : Pasien tampak meringis saat
area perut ditekan.
TTV :
TD : 100/70 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Suhu : 36,5
o
C
RR : 24 kali/menit
Pasien tampak tenang.
Skala nyeri 2
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan
1. Kaji skala nyeri, lokasi
dan karakteristik.
2. Motivasi pasien untuk
sering melakukan
ambulasi/pergerakan dini.
3. Ajarkan teknik relaksasi
pada saat nyeri.
4. Kolaborasi dalam
pemberian analgetik
sesuai indikasi.
S : Pasien mengatakan sudah
mau makan sedikit tapi
sering.
O : Pasien menghabiskan
setengah porsi dari makanan
yang disediakan (500 gr),
BB 43 kg.

Nia




































Nia











78

A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan.
Memberi penkes agar pola
makan teratur.




1.














2.










3.
I














II









III
MINGGU
24-06-2012
09.00 WIB











MINGGU
24-06-2012
09.00 WIB








MINGGU
24-06-2012
09.00 WIB
S : Pasien mengatakan sudah
tidak sering timbul, nyeri
hanya timbul bila ingin
berdiri.
O : Pasien tampak sudah bisa
berpindah dari tempat tidur,
skala nyeri 1
TTV :
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 82 kali/menit
Suhu : 36
o
C
RR : 22 kali/menit
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan.
S : Pasien mengatakan luka
sudah tidak terlalu sakit.
O : Luka mulai kering, jahitan
luka belum bisa diangkat
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervesi dihentikan, pasien
pulang.
(member penkes agar
mengontrol jahitan luka,
jahitan luka biasa diangkat 1
minggu setelah operasi)
S : Pasien mengatakan luka
sudah tidak tersa panas.


Nia













Nia










Nia


79

O : Luka tidak kemerahan, tidak
ada pembengkakan, tidak
ada pus.
TTV :
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 82 kali/menit
Suhu : 36
o
C
RR : 22 kali/menit
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan