Anda di halaman 1dari 6

1

IMAN DAN KUFUR MENURUT SEMUA ALIRAN DALAM ILMU KALAM



Agenda persoalan yang pertama timbul dalam teologi Islam masalah iman dan
kufur. Persoalan itu dimunculkan pertamakali oleh kaum Khawarij yang
mengecap kafir sejumlah tokoh sahabat Nabi SAW. Yang dipandang telah
melakukan dosa besar, yaitu Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu sufyan, Abu
Musa Al-Asyari, Amr bin Al-Ash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam,
dan Aisyah istri Rasulullah SAW.
A. KONSEP IMAN DAN KUFUR
1. Pengertian iman
Dalam Al-Quran iman itu selalu berkaitan dengan amal perbuatan baik
berupa pelaksanaan rukun-rukun Islam, akan menyebabkan manusia hidup
berbahagia di dunia dan di akhiratnya.2 Iman dari segi lughat, kata iman berarti :
pembenaran (

) inilah makna yang dimaksud dengan kata (

) dalam
surat Yusuf 12, 17 yanga rtinya Dan kamu sekali-kali tidak akan membenarkan
kami (

) walaupun kami orang-orang yang benar. Dari ayat di atas,


makna mukmin yakni orang yang membenarkan. Adapun makna iman dari segi
istilah ialah pembenaran atau pengakuan hati dengan penuh yakin tanpa ragu-ragu
akan segala apa yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW yang diketahui dengan
jelas sebagai ajaran agama yang berasal dari wahyu Allah.
Iman adalah dalam sebuah hais di definisikan tentang iman :
Artinya: iman adalah meyakini dengan hati, menetapkan dengan lidah dan
melaksanakan dengan anggota. (H.R Al-Buqari)
2. pengertian Kufur
2

Kufur adalah kebalikan daripada iman. Dari segi lughat kufur artinya menutupi.
Orang yang bersikap kufur disebut kafir, yaitu orang yang menutupi hatinya dari
hidayah Allah.
Firman Allah dalam surat an-Nisa / 4 : 136

( : 136)

Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat
sejauh-jauhnya.

Adapun pengertian kufur yang diambil dari Ensiklopedi Islam, yaitu : Al-
Kufr (tertutup) atau tersembunyi, mengalami perluasan makna menjadi ingkar
atau tidak percaya, ketidakpercayaan kepada Tuhan. Kata kafir mengisyaratkan
usaha keras untuk menolak bukti-bukti kebenaran Tuhan, yakni sebuah kehendak
untuk mengingkari Tuhan, sengaja tidak mensyukuri kehidupan dan mengingkari
wahyu.
kufur menurut bahasa adalah menutup. Bila orang yang menyangkal dan musyrik
disebut kafir karena orang itu menutupi dirinya dari nikmat allah dan menutup
jalan untuk mengenal Allah. Orang yang berdosa besar adalah kafir karena dia
selalu menutupi dirinya dengan dosa.



3

B. PENDAPAT BEBERAPA ALIRAN TEOLOGI TENTANG IMAN DAN
KUFUR
Agenda persoalan yang pertama timbul dalam teologi Islam masalah iman dan
kufur. Persoalan itu dimunculkan pertamakali oleh kaum Khawarij yang
mengecap kafir sejumlah tokoh sahabat Nabi SAW. Yang dipandang telah
melakukan dosa besar, yaitu Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu sufyan, Abu
Musa Al-Asyari, Amr bin Al-Ash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam,
dan Aisyah istri Rasulullah SAW.
1. Aliran Khawarij
Kaum Khawarij adalah kaum pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar dari
barisan Ali, karena tidak setuju dengan kebijaksanaan Ali bin Abi Thalib yang
menerima tahkim / arbitrase judge between parties to a dispute.
Dari persoalan politik, kemudian kaum khawarij memasuki juga persoalan teologi
Islam. Menurut golongan Khawarij al-Muhakkimah, Ali, Muawiyah, kedua
pengantara Amr ibn al-As dan Abu Musa al-Asyari adalah kafir.
Iman menurut kaum Khawarij bukan merupakan pengakuan dalam hati dan
ucapan dengan lisan saja, akan tetapi amal ibadah menjadi rukun iman saja. Dan
menurut kaum Khawarij, orang yang tidak melakukan shalat, puasa, zakat, dan
lain sebagainya yang diwajibkan oleh Islam, maka termasuk kafir. Jadi apabila
sekarang mukmin melakukan dosa besar mapun kecil, maka orang itu termasuk
kafir dan wajib diperangi serta boleh di bunuh. Harta bendanya boleh dirampas
menjadi harta ghonimah.
2. Aliran Murjiah
Iman menurut Murjiah adalah terletak pada tashdiq qolbu, adapun ucapan
dan perbuatan tiadak selamanya menggambarkan apa yang ada dalam qolbu.
Menurut sub sekte murjiah yang ekstrim adalah mereka yang berpandangan
bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan
4

perbuatan seseorang yangmenyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser
atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurnadalam
pandangan Tuhan.Sementara yang dimaksud murjiah moderat adalah mereka
yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun
disiksa di neraka, ia tidak kekal didalamnya bergantung pada dosa yang
dilakukannya. Dalam menetapkan kafir dan dosa besar, kalau paham Khawarij
mengatakan bahwa orang mukmin yang melakukan dosa besar dia sudah dianggap
kafir, sedangkan paham murjiah lebih bersikap positif. Artinya, sesuai dengan
sebutan nama mereka arjaa, mereka lebih cenderung menyerahkan saja kepada
Tuhan soal pelaku dosa besar.
3. Mutazilah
`Menurut paham mutazilah Iman adalah tashdiq di dalam hati, iktar
dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan konsep ini mengaitkan perbuatan
manusia dengan iman, karena itu, keimanan seseorang ditentukan pula oleh amal
perbuatannya. Konsep ini dianut pula olah Khawarij. Menurut mereka iman
adalah pelaksanaan kewajiban-kewajiban kepada Tuhan. Jadi, orang yang
membenarkan (tashdiq) tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasul-Nya,
tetapi tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban itu tidak dikatakan mukmin.
Tegasnya iman adalah amal. Iman tidak berarti pasif, menerima apa yang
dikatakan orang lain, iman mesti aktif karena akal mampu mengetahui
kewajiban-kewajiban kepada Tuhan.
Kaum Mutazilah juga berpendapat bahwa orang mukmin yang
mengerjakan dosa besar dan mati sebelum tobat, tidak lagi mukmin dan tidak pula
kafir, tetapi dihukumi sebagai orang fasiq.
4. Asyariyah
Menurut aliran ini, dijelaskan oleh syahrastani, iman secara esensial
adalah tasdiq bil al janan (membenarkan dengan kalbu). Sedangkan qaul dengan
lisan dan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bil arkan) hanya merupakan
furu(cabang-cabang) iman. Oleh sebab itu, siapa pun yang membenarkan ke-
5

Esaan Allah dengan kalbunya dan juga membenarkan utusan-utusan nya beserta
apa yang mereka bawa dari-Nya, iman secara ini merupakan sahih. Dan keimanan
seseorang tidak akan hilang kecuali ia mengingkari salah satudari hal-hal tersebut.
Kaum Asyariyah yang muncul sebagai reaksi terhadap kekerasan Mutazilah
memaksakan paham khalq al-Quran banyak membicarakan persoalan iman dan
kufur. Asyariyah berpendapat bahwa akal manusia tidak bisa merupakan
marifah dan amal. Manusia dapat bahwa akal manusia tidak bisa merupakan
marifah dan amal. Manusia dapat mengetahui kewajiban hanya melalui wahyu
bahwa ia berkewajiban mengetahui Tuhan dan manusia harus menerimanya
sebagai suatu kebenaran. Oleh karena itu, iman bagi mereka adalah tashdiq.
Pendapat ini berbeda dengan kaum Khawarij dan Mutajilah tapi dekat dengan
kaum Jabariyah. Tasdiq menurut Asyariyah merupakan pengakuan dalam hati
yang mengandung mar ifah terhadap Allah
5. Maturidiyah
Dalam aliran Maturidiyah terdiri atas dua kelompok, yaitu kelompok
Samarkhand, dan kelompok Bukhara
1. Maturidiyah golongan Samarkand
Dalam masalah iman, aliranMatur idiyah Samarkand berpendapat bahwa
iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata-mata iqrar bi al-lisan.Apa yang
diucapkan oleh lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati tidak
mengakui ucapan lidah. Al-Maturidi tidak berhenti sampai di situ. Menurutnya,tas
hdiq, seperti yang dipahami di atas, harus diperoleh dari marifah. Tashdiq hasil
darim ar ifah ini didapatkan melalui penalaran akal, bukan sekedar berdasarkan
wahyu. Lebih lanjut, Al-Maturidi mendasari pandangannya pada dalil naqli surat
Al-Baqarah ayat 260. Pada surat Al-Baqarah tersebut dijelaskan bahwa Nabi
Ibrahim meminta kepada Tuhan untuk memperlihatkan bukti dengan Nabi
Ibrahim meminta kepada Tuhan untuk memperlihatkan bukti dengan
[5]menghidupkan orang yang sudah mati. Permintaan Ibrahim tersebut, lanjut Al-
maturidi, tidaklah berarti bahwa Ibrahim belum beriman. Akan tetapi, Ibrahim
6

mengharapkan agar iman yang telah dimilikinya dapat meningkat menjadi iman
hasil marifah. Jadi, menurut Al-Maturidi, iman adalah tas hdiq yang berdasarkan
mar ifah. Meskipun demikian,mar ifah menurutnya sama sekali bukan esensi
iman, melainkan faktor penyebab kehadiran iman.
2. Maturidiyah golongan Bukhara
Adapun pengertian iman menurut Maturidiyah Bukhara, seperti yang
dijelaskan oleh Al-Bazdawi, adalah tashdiq bi al qalb dan tashdiq bi al-lisan.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa tashdiq bi al-qalb adalah meyakini dan
membenarkan dalam hati tentang keesaan Allah dan rasul-rasul yang diutus-Nya
beserta risalah yang dibawanya. Adapun yang dimaksud demgan tashdiq al-lisan
adalah mengakui kebenaran seluruh pokok ajaran Islam secara verbal. Pendapat
ini tampaknya tidak banyak berbeda dengan As yar iyah, yaitu sama-sama
menempatkan tashdiq sebagai unsur esensial dari keimanan walaupun dengan
pengungkapan yang berbeda.