Anda di halaman 1dari 23

UNIVERSITAS

ISLAM
INDONESIA
FAKULTAS KEDOKTERAN

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA

STATUS PASIEN UNTUK UJIAN
Untuk Dokter Muda
Nama Dokter Muda Giniani Hilsa Tanda Tangan
NIM 09711143
Tanggal Ujian
Rumah sakit RSUD dr. Soehadi Prijonegoro
Gelombang Periode

IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. U
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 15 tahun
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum menikah
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Pelajar
Bangsa/suku : Jawa
Alamat : Tambak boyo, Mantingan, Ngawi

Anamnesis
Anamnesis diperoleh dari : Autoanamnesis dan Alloanamnesis
Waktu anamnesis :

II.1. Sebab Dibawa ke Rumah Sakit (Keluhan Utama)
Cemas, takut, dan bingung
II.2. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit Sekarang)
Sejak bulan Agustus 2013 pasien mengeluhkan sering takut dan merasa diolok-
olok oleh teman sekolahnya. Kadang teman pasien mengolok dialek yang digunakan
pasien. Pasien sering menggunakan dialek dari NTT karena pasien dan kedua
orangtuanya tinggal lama di NTT. Setelah tinggal di Ngawi, pasien menjadi sangat
pendiam dan tertutup. Pasien tinggal di Ngawi selama 3 tahun ini. Pasien sangat
jarang bertemu dengan saudara dan orangtuanya, karena kedua orangtua pasien
bekerja dan menetap di NTT. Pasien tinggal di Ngawi bersama neneknya.
Menurut pengakuan ayah pasien, pasien pindah sekolah ke Ngawi karena di
NTT sering ada keributan dan tawuran di depan rumah mereka di NTT. Selain itu
juga, ayah pasien mengatakan jika pasien pernah mengalami trauma saat SMP. Pasien
pernah putus cinta dengan seorang laki-laki yakni teman sekolahnya. Semenjak putus
cinta, kepribadian pasien menjadi berubah. Pasien sangat suka menyendiri di kamar
berhari-hari dan tidak mau makan. Oleh karena itu, kedua orangtua pasien khawatir
akan keadaan pasien dan menyuruh pasien untuk pindah ke Ngawi.
Setelah pindah ke Ngawi, awalnya pasien bersikap biasa saja, tidak secemas di
NTT, akan tetapi lama kelamaan pasien menjadi pendiam dan menyendiri terus di
kamar. Pasien juga sangat takut dengan keramaian. Pasien mengaku ketika berada
dikeramaian seolah ada yang memanggil dan menakuti pasien. Suara yang
memanggil itu ada di kepala pasien. Pasien mengaku tidak pernah melihat bayangan
ataupun makhluk halus. Menurut ayah pasien, sekarang pasien menjadi sangat
pemalas. Pasien tidak pernah mengamuk ataupun melukai orang dan diri sendiri.
Pasien mengaku dari kecil sangat takut dengan rumah sakit dan jarum suntik.
Pasien juga merasa tidak diurus oleh orangtuanya. Pada saat 9 bulan yang lalu, pasien
mengalami sulit tidur, akan tetapi setelah diobati pasien malah sering tidur dan malas-
malasan. Pasien sangat jarang keluar rumah dan bersosialisasi dengan tetangga karena
malas dan takut dicemooh. Pasien merasa lebih senang tinggal di Ngawi daripada di
NTT. Walaupun pasien sangat jarang bertemu dengan saudara dan orangtuanya.
II.3. Anamnesis Sistem
Tidak terdapat keluhan pada sistem lainnya.

II.4. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit dan Riwayat Penyakit Dahulu
II.4.1. Faktor Psikososial (Stressor Psikososial)

II.4.2. Riwayat Penyakit Dahulu
II.3.2.1. Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya
Pasien berobat ke psikiater di Sragen selama 9 bulan dan rutin control.
Pasien juga pernah dibawa ke kilinik di Solo dan RS Moewardi di
Solo 2 bulan yang lalu, akan tetapi karena jauh, pasien berobat ke
psikiater di Sragen saja.
3 tahun yang lalu pasien pernah kejang 1 kali, durasi kejang 10 menit,
pasien terlihat kaku, setelah itu sadar kembali.
Pasien mempunyai riwayat asma, akan tetapi jarang kambuh.
Pasien belum pernah mondok sebelumnya.
II.5. Riwayat Keluarga
II.51. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat gangguan jiwa di keluarga.


II.5.3. Silsilah Keluarga










Keterangan :

: laki-laki


: Perempuan


: Pasien


: meninggal
II.6. Riwayat Pribadi
II.6.1. Perkembangan
Prenatal dan perinatal
Menurut pengakuan pasien, ibu pasien saat mengandung pasien
dalam keadaan sehat. Pasien lahir di dukun beranak dengan
normal dan cukup bulan. Pasien mengaku anak kedua dari tiga
bersaudara.

0-3 tahun
Pertumbuhan dan perkembangan pasien sesuai anak seusianya.

3-11 tahun
Pasien selama masa sekolah termasuk anak yang cukup pintar.
Pasien termasuk anak yang pemalu dan penakut.

Remaja
Saat remaja, pasien disuruh orangtuanya untuk bekerja, akan
tetapi pasien sangat malas dan mudah lelah.

Dewasa
Pasien menikah saat usia 18 tahun, namun 2 kemudian pasien
diceraikan oleh istrinya.

II.6.2. Riwayat Pendidikan
Pasien tamat sekolah menengah pertama.

II.6.3. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai petani.
II.6.4. Sikap dan Kegiatan Moral Spiritual
Pasien mengaku sholat 2 kali sehari.


II.6.5. Riwayat Perkawinan
Pasien sudah menikah

II.7. Tingkat Kepercayaan anamnesis
o Autoanamnesis : Dapat dipercaya

II.8. Kesimpulan anamnesis
Masih sering terlihat bingung sejak 3 bulan yang lalu. Sering terlihat berbicara
sendiri dan pergi jauh sendiri. Pasien juga seringmendengar bisikan dikedua telinga
berupa suara yang mengajaknya pergi dan sering terlihat diam mematung, tidak
berespon saat dipanggil. Usia 13 tahun pasien pernah di rawat di RSJ solo selama 1
minggu dengan keluahan serupa, tidak melakukan pengobatan selama bertahun-
tahun.
PEMERIKSAAN FISIK
III.I. STATUS PRAESENS
III.I.I. Status Internus
Keadaan Umum : tampak baik
Bentuk Badan : normal
Berat Badan : 60 kg
Tinggi Badan : 160 cm

Tanda Vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 kali per menit
Respirasi : 20 kali per menit
Suhu : 36.5 C
Kepala : Dalam batas normal
Leher : Dalam batas normal

Thorax
Sistem Kardiovaskuler : Dalam batas normal
Sistem Respirasi : Dalam batas normal

Abdomen
Sistem Gastrointestinal : Dalam batas normal
Sistem Urogenital : Dalam batas normal

Ekstremitas
Sistem Muskuloskeletal : rigiditas (-),waxy flexibility (-)
Sistem Integumentum : Dalam batas normal

Kesan Status Internus : Dalam batas normal

III.2. STATUS PSIKIATRI
Tanggal Pemeriksaan: 28 April 2014
III.2.1. Kesan Umum:kurang rapi, sesuai usianya

III.2.2. Kesadaran
Kuantitatif : Compos mentis
Kualitatif : Berubah

III.2.3. Orientasi Orang/Waktu/Tempat/Situasi: Terganggu

III.2.4. Sikap dan Tingkah Laku:Hiperaktif

III.2.5. Afek : Menyempit

III.2.6. Proses Pikir (Bentuk Pikir, Isi Pikir, Prognesis Pikir)
III.2.6.1. Bentuk Pikir : Non-Realistik
III.2.6.2. Isi Pikir :Waham bizarre (+)
III.2.6.3. Progresi Pikir : Asosiasi longgar, inkoheren (+)

III.2.7. Mood : Labil (+)

III.2.8. Persepsi : Halusinasi auditorik (+), halusinasi visual (+)

III.2.9. Memori : Terganggu

III.2.10. Insight : Derajat 1

IV. RANGKUMAN DATA YANG DIDAPATKAN PADA PENDERITA
Keadaan umum tampak baik, kesadaran kuantitatif compos mentis dan kualitatif
berubah, orientasi terganggu, psikomotor dan tingkah laku hiperaktif dengan afek
tumpul dan mood eutimi. Terdapat gangguan bentuk pikir yaitu non-realistik,
waham (+), terdapat kemiskinan isi pikir, halusinasi auditorik (+), memori
terganggu dengan insight derajat 1. Pada pemeriksaan ditemukan rigiditas
(+),waxy flexibility (+)

V. DIAGNOSIS
AKSIS I : (F20.1) Skizofrenia hebefrenik
AKSIS II : Kepribadian skizoid
AKSIS III : Belum ditemukan
AKSIS IV : Masalah keluarga dan pekerjaan
AKSIS V : Hightest level past year GAF 30
CurrentGAF 40

VI. RENCANA TERAPI/PENATALAKSANAAN
VI.1. Terapi Organobiologik
VI.1.1. Psikofarmaka
Risperidon 2 X 2 mg

Trihexyphenidyl 2 X 2 mg

VI.2. Psikoedukatif/Psikoterapi
Memberikan pengertian kepada keluarga mengenai penyakit yang dialami,
penyebab, prognosis yang terjadi serta pengertian agar selalu memberikan
dukungan kepada pasien seperti membantu pasien meminum obat, melakukan
kontrol rutin, serta memberikan lingkungan yang hangat.

VI.3. Rencana Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :
1. Darah rutin
2. Tes fungsi hepar: SGOT dan SGPT
3. Tes Fungsi Ginjal:ureum dan kreatinin

CT Scan kepala


VII. PROGNOSIS
Dubia ad malam
Karena pasien mengalami onset pertama kali pada usia muda, riwayat sosial
buruk dan belum menikah.

























PEMBAHASAN

1.1. Definisi Skizofrenia
Skizofrenia berasal dari dua kata Skizo yang artinya retak atau pecah (spilt),
dan frenia yang artinya jiwa, dengan demikian skizofrenia adalah orang yang
mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (splitting of personality)
(Hawari, 2003). Skizofrenia merupakan istilah yang digunakan untuk
menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya
perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang
jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit
kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (Sadock, 2003).
Gejala skizofrenia secara garis besar dapat di bagi dalam dua kelompok, yaitu
gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif berupa delusi, halusinasi, kekacauan
pikiran, gaduh gelisah dan perilaku aneh atau bermusuhan. Gejala negatif adalah alam
perasaan (afek) tumpul atau mendatar, menarik diri atau isolasi diri dari pergaulan,
miskin kontak emosional (pendiam, sulit diajak bicara), pasif, apatis atau acuh tak
acuh, sulit berpikir abstrak dan kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif.

1.2. Epidemiologi
Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di
berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir
sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan
biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki
biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada
perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi
pada laki-laki daripada perempuan dan lebih besar di daerah urban dibandingkan
daerah rural (Sadock, 2003).
1.3. Etiologi
Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab
skizofrenia, antara lain :

1.3.1. Faktor Genetik
Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya
skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga
penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi
saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 15%; bagi anak dengan salah
satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 16%; bila kedua orangtua menderita
skizofrenia 40 68%; bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu
telur (monozigot) 61 86%.
Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut
quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan
oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh
kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi tingkat keparahan pada
orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan sampai berat) dan mengapa
risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya
jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow, 2007).

1.3.2. Faktor Biokimia
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang
disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron
berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal
dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian tertentu
otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamine. Banyak ahli
yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk
skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine
tampaknya juga memainkan peranan (Durand, 2007).
1.3.3. Faktor Psikologis dan Sosial
Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama
semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tua-
anak yang patogenik, serta interaksi yang patogenik dalam keluarga (Wiraminaradja
& Sutardjo, 2005). Banyak penelitian yang mempelajari bagaimana interaksi dalam
keluarga mempengaruhi penderita skizofrenia. Sebagai contoh, istilah
schizophregenic mother kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan tentang
ibu yang memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi
penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand & Barlow, 2007).
Menurut Coleman dan Maramis (1994 dalam Baihaqi et al, 2005), keluarga
pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian.
Orangtua terkadang bertindak terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi
kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya orangtua bertindak terlalu sedikit
dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang
dibutuhkannya.

1.4. Perjalanan Penyakit
Perjalanan penyakit skizofrenia sangat bervariasi pada tiap-tiap individu.
Perjalanan klinis skizofrenia berlangsung secara perlahan-lahan, meliputi beberapa
fase yang dimulai dari keadaan premorbid, prodromal, fase aktif dan keadaan residual
(Sadock, 2003; Buchanan, 2005).
Pola gejala premorbid merupakan tanda pertama penyakit skizofrenia,
walaupun gejala yang ada dikenali hanya secara retrospektif. Karakteristik gejala
skizofrenia yang dimulai pada masa remaja akhir atau permulaan masa dewasa akan
diikuti dengan perkembangan gejala prodromal yang berlangsung beberapa hari
sampai beberapa bulan. Tanda dan gejala prodromal skizofrenia dapat berupa cemas,
gundah (gelisah), merasa diteror atau depresi. Penelitian retrospektif terhadap pasien
dengan skizofrenia menyatakan bahwa sebagian penderita mengeluhkan gejala
somatik, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan dan masalah
pencernaan (Sadock, 2003).
Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata secara klinis,
yaitu adanya kekacauan dalam pikiran, perasaan dan perilaku. Penilaian pasien
skizofrenia terhadap realita terganggu dan pemahaman diri (tilikan) buruk sampai
tidak ada. Fase residual ditandai dengan menghilangnya beberapa gejala klinis
skizofrenia. Yang tinggal hanya satu atau dua gejala sisa yang tidak terlalu nyata
secara klinis, yaitu dapat berupa penarikan diri (withdrawal) dan perilaku aneh
(Buchanan, 2005).

1.5. Pedoman Diagnostik BerdasarkanPedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa III (PPDGJ III)
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namun kualitasnya berbeda, atau
Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan
Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umumnya mengetahuinya.
b. Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar atau
Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar atau
Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke
pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan
khusus).
Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
c. Halusional Auditorik ;
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku
pasien .
Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara atau
Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan
mahluk asing atau dunia lain).
2. Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-
valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak
relevan atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan
stupor.
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional
yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.
3. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);
4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan
penarikan diri secara sosial.

F20.0 Skizofrenia Paranoid
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Sebagai tambahan :
Halusinasi dan/ waham arus menonjol;
a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),
mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).
b) (b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau
lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang
menonjol.
c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity
(delussion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam,
adalah yang paling khas;
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik
secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.

F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
1. Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau
dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).
3. Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary),
namun tidak harus demikian untuk memastikan bahwa gambaran yang khas
berikut ini.
4. Untuk meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3
bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang
benar bertahan :
perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta
manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan perilaku
menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan.
Afek pasien yang dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering disertai
oleh cekikikan (gigling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum-senyum
sendiri (self absorbed smiling) atau sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa
menyerigai, (grimaces), manneriwme, mengibuli secara bersenda gurau
(pranks), keluhan hipokondriakalI dan ungkapan dan ungkapan kata yang
diulang-ulang (reiterated phrases).
proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang tak menentu
(rambling) dan inkoherens
5. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir biasanya
menonjol, halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol ) fleeting and
fragmentaty delusion and hallucinations, dorongan kehendak (drive) dan yang
bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga prilaku tanpa
tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan tampa
maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan bersifat
dibuat-buar terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin
mempersukar orang memahami jalan pikirannya.

F20.2 Skizofrenia Katatonik
1. Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
2. Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
a) stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam
gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara).
b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal).
c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh).
d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua
perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang
berlawanan).
e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya
menggerakkan dirinya).
f) Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan
tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar).
g) Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis
terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.
3. Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan
katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti
yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.
Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk
diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit
otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi
pada gangguan afektif.
F20.3 Skizofrenia Tak terinci (undifferentiated )
1. Memenuhi kriteria umu untuk diagnosa skizofrenia.
2. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik.
3. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca
skiszofrenia
F20.5 Skizofrenia Residual
1. Untuk suatu diagnostik yang menyakinkan , persyaratan berikut harus di penuhi
semua:
a) Gejala Negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan
psikomotorik, aktifitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan
ketidak adaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan,
komunikasi non verbal yang buruk, seperti ekspresi muka, kontak mata,
modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri, dan kinerja sosial yang
buruk.
b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosa skizofrenia.
c) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan
frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat
berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia.
d) Tidak terdapat dementia, atau penyakit/gangguan otak organik lainnya,
depresi kronis atau institusionla yang dapat menjelaskan disabilitas negatif
tersebut.

F20.6 Skizofrenia Simpleks
1. Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada
pemantapan perkembangan yang berjalan berlahan dan progresif dari:
Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat
halusinasi waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik.
Disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna,
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat
sesuatu tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.
2. Gangguan ini kurang jelas gejala psokotiknya dibanding dengan sub type
skisofrenia lainnya.
1.6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi biologis, dan terapi
psikososial.

1.6.1. Terapi Biologis
Pada penatalaksanaan terapi biologis terdapat tiga bagian yaitu terapi dengan
menggunakan obat antipsikosis, terapi elektrokonvulsif, dan pembedahan bagian
otak. Terapi dengan penggunaan obat antipsikosis dapat meredakan gejala-gejala
skizofrenia (Durand, 2007).
Obat anti psikosis ini dibedakan menjadi dua golongan, karena terjadi
perbedaan mekanisme kerja yang terjadi pada kedua obat ini. Obat tipikal hanya
bekerja sebagai Dopamine D2 receptor antagonis yaitu mem-blokade Dopamine pada
reseptor pasca-sinaptik neuron di Otak, khususnya di sistem limbik dan sistem
Ekstrapiramidal. Sedanglan Obat yang atipikal, pada Dopamine D2 Receptor dan
Serotonin 5 HT2 Receptor. Perbedaan yang terjadi tersebut menyebabkan jika Obat
Anti-Psikosis Tipikal lebih efektif untuk mengobati Gejala Positif saja dan Anti-
Psikosis Atipikal efektif mengobati Gejala Positif dan Negatif, karena pada atipikal
selain bekerja pada Dopamin D2 Receptor juga bekerja pada Serotonin 5 HT
Receptor.
Antipsikosis tipikal memiliki kemungkinan efek samping ekstrapiramidal lebih besar.
Contoh obat golongan ini ialah haloperidol, clorpomazine, perphenazine,
trifluophenazine, thioridazine.Sedangkan antipsikotik atipikal contohnya ialah
clozapine, olanzapine, quentiapine, zotepine (ludopin), risperidone dan apiprazole.
Terapi Elektrokonvulsif juga dikenal sebagai terapi electroshock pada
penatalaksanaan terapi biologis. Pada akhir 1930-an, electroconvulsive therapy (ECT)
diperkenalkan sebagai penanganan untuk skizofrenia.Tetapi terapi ini telah menjadi
pokok perdebatan dan keprihatinan masyarakat karena beberapa alasan. ECT ini
digunakan di berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan jiwa, termasuk
skizofrenia.
Menurut Fink dan Sackeim (1996) antusiasme awal terhadap ECT semakin
memudar karena metode ini kemudian diketahui tidak menguntungkan bagi sebagian
besar penderita skizofrenia meskipun penggunaan terapi ini masih dilakukan hingga
saat ini. Sebelum prosedur ECT yang lebih manusiawi dikembangkan, ECT
merupakan pengalaman yang sangat menakutkan pasien. Pasien seringkali tidak
bangun lagi setelah aliran listrik dialirkan ke tubuhnya dan mengakibatkan
ketidaksadaran sementara, serta seringkali menderita kerancuan pikiran dan hilangnya
ingatan setelah itu. Adakalanya, intensitas kekejangan otot yang menyertai serangan
otak mengakibatkan berbagai cacat fisik (Durand, 2007).
Pada terapi biologis lainnya seperti pembedahan bagian otak Moniz (1935,
dalam Davison, et al., 1994) memperkenalkan prefrontal lobotomy, yaitu proses
operasi primitif dengan cara membuang stone of madness atau disebut dengan batu
gila yang dianggap menjadi penyebab perilaku yang terganggu. Menurut Moniz, cara
ini cukup berhasil dalam proses penyembuhan yang dilakukannya, khususnya pada
penderita yang berperilaku kasar. Akan tetapi, pada tahun 1950-an cara ini
ditinggalkan karena menyebabkan penderita kehilangan kemampuan kognitifnya,
otak tumpul, tidak bergairah, bahkan meninggal.

1.6.2. Terapi Psikososial
Gejala-gejala gangguan skizofrenia yang kronik mengakibatkan situasi
pengobatan di dalam maupun di luar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menjadi monoton dan
menjemukan. Secara historis, sejumlah penanganan psikososial telah diberikan pada
pasien skizofrenia, yang mencerminkan adanya keyakinan bahwa gangguan ini
merupakan akibat masalah adaptasi terhadap dunia karena berbagai pengalaman yang
dialami di usia dini. Pada terapi psikosial terdapat dua bagian yaitu terapi kelompok
dan terapi keluarga (Durand, 2007).
Terapi kelompok merupakan salah satu jenis terapi humanistik. Pada terapi
ini, beberapa klien berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapist berperan sebagai
fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya. Para peserta terapi saling
memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami. Peserta diposisikan
pada situasi sosial yang mendorong peserta untuk berkomunikasi, sehingga dapat
memperkaya pengalaman peserta dalam kemampuan berkomunikasi.
Pada terapi keluarga merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok.
Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan
tinggal bersama keluarganya. Keluarga berusaha untuk menghindari ungkapan-
ungkapan emosi yang bisa mengakibatkan penyakit penderita kambuh kembali.
Dalam hal ini, keluarga diberi informasi tentang cara-cara untuk mengekspresikan
perasaan-perasaan, baik yang positif maupun yang negatif secara konstruktif dan
jelas, dan untuk memecahkan setiap persoalan secara bersama-sama. Keluarga diberi
pengetahuan tentang keadaan penderita dan cara-cara untuk menghadapinya. Dari
beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Fallon (Davison, et al., 1994;
Rathus, et al., 1991) ternyata campur tangan keluarga sangat membantu dalam proses
penyembuhan, atau sekurang-kurangnya mencegah kambuhnya penyakit penderita,
dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual.

1.7. Prognosis
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari periode 5 sampai 10
tahun setelah perawatan psikiatrik pertama kali di rumah sakit karena skiofrenia,
hanya kira-kira 10-20 % pasien dapat digambarkan memliki hasil yang baik.Lebih
dari 50% pasien dapat digambarkan memiliki hasil yang buruk, dengan perawatan di
rumah sakit yang berulang, eksaserbasi gejala, episode gangguan mood berat, dan
usaha bunuh diri. Walaupun angka-angka yang kurang bagus tersebut, skizofrenia
memang tidak selalu memiliki perjalanan penyakit yang buruk, dan sejumlah faktor
telah dihubungkan dengan prognosis yang baik.
Rentang angka pemulihan yang dilaporkan didialam literatur adalah dari 10-60%
dan perkiraan yang beralasan adalah bahwa 20-30% dari semua pasien skizofrenia
mampu untuk menjalani kehidupan yang agak normal. Kira-kira 20-30% dari pasien
terus mengalami gejala yang sedang,dan 40-60% dari pasien terus terganggu scara
bermakna oleh gangguannya selama seluruh hidupnya.
Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada:
1. Usia pertama kali timbul (onset): makin muda makin buruk.
2. Mula timbulnya akut atau kronik: bila akut lebih baik.
3. Cepat, tepat serta teraturnya pengobatan yang didapat.
4. Ada atau tidaknya faktor pencetusnya: jika ada lebih baik.
5. Ada atau tidaknya faktor keturunan: jika ada lebih jelek.
6. Kepribadian prepsikotik: jika skizoid, skizotim atau introvred lebih jelek.
7. Keadaan sosial ekonomi: bila rendah lebih jelek.