Anda di halaman 1dari 8

SISTEM PENGATURAN PENERANGAN RUANGAN

DENGAN SENSOR CAHAYA DAN LED













Disusun Oleh:
Irsan Julfikar Rachman
140310100059





JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada zaman modern ini kita banyak sekali menemui alat-alat elektronik
yang sangat canggih. Namun, semakin canggih alat tersebut tentunya perlu
sumber energi yang besar pula sehingga akan membuat kebutuhan energi semakin
besar. Keterbatasan energi yang digunakan oleh masyarakat akan membuat energi
tersebut dapat habis suatu waktu dan kita tidak memiliki lagi energi yang dapat
digaunakan. Untuk melestarikannya maka selain dengan mencari sumber baru dan
terbarukan, kita juga dapat melakukan aksi penghematan energi. Salah satunya
adalah pemanfaatan energi listrik se-efisien mungkin.
Salah satu pemanfaaatan energi listrik adalah penggunaan lampu pada
ruangan-ruangan. Namun pada zaman secanggih ini masih banyak penggunaan
lampu yang tidak memanfaatkan listrik dengan efisien. Sebagai contoh adalah
penggunaan lampu disaat intensitas cahaya dari luar besar atau pada siang hari
yang cerah. Selain itu lampu yang digunakanpun terhitung boros.
Dengan kedua masalah tersebut maka kita harus dapat mengatur
penerangan lampu yang dapat memperhitungkan intensitas cahaya ruangan
dimana lampu tidak hanya dalam dua kondisi saja (on-off) melainkan
emngubahnya menjadi terang hingga redup. Penggunaan lampu jenis LED juga
sangat membantu dalam penghematan energi ini.

1.2 Permasalahan
Dalam makalah kali ini permasalahan yang akan dibahas yaitu :
1. Bagaimana perancangan komponen elektronika sebagai pengatur
penerangan?
2. Bagaimana dapat menghemat energi dengan pengaturan tersebut?




BAB II
KAJIAN TEORI
Dalam merancang suatu alat yang dapat menghemat energi ini kita
tentunya memerlukan beberapa komponen elektronika dimana dalam kasus ini
kita menggunakan sensor, pengproses dan yang melakukan aksi atau aktuator.
Sebagai sensor, disini menggunakan sensor cahaya berupa LDR (light dependent
resistor). Pengproses hasil LDR tersebut digunakan suatu mikroprosesor dimana
salah satu mikroprosesor yang dapat digunakan dalam perancangan ini adalah
ATmega16. Sementara aktuator yang digunakan adalah LED.
2.1 Perancangan dan Pembuatan Alat
2.1.1 Konfigurasi Sistem Secara Umum
Secara umum konfigurasi sistem dari pengaturan beban secara elekronik pada
kontrol ini terdiri dari input, kontroller dan output. Dari sisi masukan (input)
terdiri dari sensor cahaya(ldr). kontroller yang di gunakan adalah
mikrokontroller ATmega 16. Dari sisi keluaran (output) yang di hubungkan
dengan driver TCA785 melalui rangkaian totempole.

Pada blok diagram Gambar 2.1, sensor cahaya yang berupa ldr, keluaran dari
sensor itu diolah di mikrokontroler ATMega16. Dengan mengatur sudut
penyulutan pada rangakaian tca785 oleh mikrokontroler. Dengan set point
cahaya antara antar 0-100%, maka mikrokontroler akan mengolah data dan
mengatur output pada rangkaian dac

2.1.2 Sistem Mikrokontroler
Sistem mikrokontroler yang digunakan adalah ATMega 16 yang memiliki
fasilitas internal ADC 8 channel dan menggunakan resolusi10 bit.
Mikrokontroler ini memiliki 512 byte EEPROM, 3 timer serta 8 Kbytes flash
programming memory.
Perencanaan Input Output
Mikrokontroler ATMega16 memiliki 4 buah port 8 bit. Tabel perencanaan
input output dapat dilihat pada Tabel 1.

2.1.3 LDR (light dependent resistor)
LDR (light dependent resistor) merupakan salah satu contoh komponen pasif
dalam kumpulan komponen elektronika. LDR bekerja berdasarkan jumlah
intensitas cahaya yang diterima pada permukaannya. LDR sama fungsi
kerjanya seperti resistor namun nilainya dapat berubah mengikuti cahaya
yang diterima. Jika jumlah cahaya yang diterima banyak, maka nilai
hambatannya akan mengecil, dan begitu pula sebaliknya jika cahaya yang
didapat sedikit, maka nilai hambatannya akan menjadi besar. Dalam keadaan
gelap resistansi LDR sekitar 10M dan dalam keadaan terang sebesar 1K
atau kurang.

Gambar 2.2 Gambar LDR
Jenis LDR yang digunakan adalah LDR Cadmium Sulphide Photoconductive
Cell yang memiliki karakteristik nilai hambatannya akan turun jika terdapat
cahaya yang mengenai permukaannya. LDR yang memiliki hambatan tinggi
saat cahaya kurang mengenainya (gelap), dalam kondisi seperti ini LDR dapat
mencapai 2 Mohm. akan tetapi saat LDR terkena cahaya hambatan LDR akan
turun secara drastis hingga mencapai 1,5 ohm.

2.1.4 Digital to Analog Converter
Dalam proses perubahan nilai digital menjadi nilai analog, nilai analog
tertinggi adalah 5 volt untuk nilai digital 0xFF. Sedangkan tegangan kontrol
yang diperlukan TCA 785 adalah 10 volt. Oleh karena itu tegangan output
DAC R2R perlu dikuatkan 2 kali.

2.1.5 Pengatur Tegangan AC
Sebagai pengatur tegangan, yang digunakan pada prinsipnya merupakan
penggabungan antara TCA 785, optocouple 3021 dan TRIAC.
rangkaian dimmer menggunakan rangkaian pengatur sudut fasa menggunakan
IC TCA 785. Rangkaian IC TCA 785 tampak pada gambar 3.4. Keluaran
rangkaian ini digunakan untuk memberikan variasi tegangan masukan bagi
Lampu dengan sumber AC. Besar sudut penyulutan yang dihasilkan dan
tegangan keluaran yang digunakan sebagai driver lampu diatur oleh program
dalam mikrokontroler.

Gambar 2.3 Rangkaian pengatur sudut fasa
2.2 Perbandingan Efisiensi Pemakaian Daya Antara Sistem Terkontrol Dan
Sistem Tidak Terkontrol
Pengujian daya lampu diamatai selama 12 jam dan pengujian tidak dilakukan
setiap jam karena tidak tejadi perubahan penggunaan daya secara signifikan.
Pengujian dilakukan dengan range waktu seperti pada tabel

Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa terjadi pengurangan efisiensi
daya antara sistem yang menggunakan kontrol dengan sistem yang tidak
menggunkan kontrol. Pada set point 150 lux terjadi penurunan pemakaian
daya yang kecil yaitu rata-rata turun 1 Watt dalam setiap range waktu
pengujian. Hal tersebut dikarenakan pencahyaan lampu lebih terang dari
cahaya luar yang masuk ke dalam ruangan. Hal tersebut karena pengujian
sistem dilakukan di dalam gedung. Sedangkan terjadi penurunan pemakaian
daya yang signifikan pada set point dibawah 120 lux seperti yang terlihat pada
tabel 4.8. Penurunan Daya pada malam hari yaitu pada range waktu 18.00
06.00 tidak terlalu terjadi penurunan pemakaian daya oleh lampu yang
signifikan karena pada malam hari cahaya diluar ruangan tidak terlalu banyak
yaitu 8,02 lux yang berasal dari lampu sekitar maket.







BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Dari data diatas dapat kita lihat bahwa dari sistem yang menggunakan
pengaturan dan penggunaan LED akan membuat lebih hemat dimana kita
memperhitungkan banyaknya cahaya yg masuk kedalam ruangan sehingga
pengaturan besarnya tegangan yang masuk akan emnghemat daya. Sementara jika
hanya menggunakan dua kondisi on-off saja akan lebih banyak menghabiskan
daya dan daya yang tidak perlu digunakan akan terbuang sia-sia.
Dengan menggunakan rangkaian sensor, mikroprosesor, dan aktuatr maka
kita dapat menghemat energi yang tentunmya dapat menguntungkan diri sendiri
maupun orang lain.



















Daftar Pustaka
http:\\repo.eepis-
its.edu\1363\1\Rancang_bangun_Sistem_pengaturan_penerangan_berbasis_m
ikrokontroler.pdf [diakses 12 November 2013 ; 06:30 WIB]
http:\\www.eepis-its.edu\uploadta\downloadmk.php
[diakses 12 November 2013 ; 06:32 WIB]
http:\\www.eepis-its.edu\uploadta\downloadmk.php
[diakses 12 November 2013 ; 06:35 WIB]