Anda di halaman 1dari 3

Ketukan Pintu Kematian

Publikasi: 12/01/2004 09:25 WIB


Semua karyawan di kantor kami tahu siapa itu Kamda. Lajang berperawakan
gempal, tinggi besar itu sejak bekerja di perusahaan kami hanya dalam beberapa b
ulan saja sudah mulai menunjukkan perangai aslinya. Mentang-mentang bos kita adal
ah pamannya, dia seenaknya saja berbuat sama kita! Begitu sengit Wahid, salah sat
u mekanik di bengkel perusahaan kami. Kamda, begitu dia biasa kami panggil, mema
ng masih belia, belum punya pengalaman kerja, dan sebagian besar karyawan mengan
ggapnya masih terlalu muda untuk mengatur banyak urusan kerja di bengkel yang hu
ni oleh lebih dari 400 karyawan. Namun itulah! Orang terkadang tidak melihat sia
pa dirinya. Merasa secara politik berada diatas angin, segala sesuatu yang dilak
ukan seolah dianggap benar, dan jadi keputusan perusahaan. Tidak ada seorangpun
yang berani mempertanyakan kebijakan nya, kecuali hanya ngrasani saja!
Usia Kamda tidak lebih dari 21 tahun waktu itu. Rata-rata karyawan perus
ahaan kami tidak pernah menyangka, karena penampilan fisiknya dia kelihatan jauh
lebih tua dari pada umur yang sebenarnya. Sekali dia bicara, karena alasan secu
rity, tidak ada yang berani menentangnya. Dalam kondisi amat yunior, Kamda mendu
duki posisi penting di perusahaan, sebagai Technical Adviser. Padahal dia tidak
memiliki pengalaman kerja sama sekali, kecuali baru saja lulus sekolah, setingka
t program diploma teknik automobile.
Apapun yang dilakukan Kamda memang tidak berpengaruh pada saya karena sa
ya bukan dibawah departemennya. Kami berbeda unit kerja. Terkadang Kamda mengunj
ungi departemen kami, sekedar memberi salam. Tidak lebih dari itu. Bagi saya, si
kapnya biasa-biasa saja sebagaimana karyawan lainnya yang memiliki posisi manaje
r semacam dia. Sungguh saya tidak mengerti kenapa banyak orang-orang yang bekerj
a dibawah supervisinya sering mengeluh, tidak terkecuali Wahid diatas.
Tiap Rabu para semua karyawan unit teknik berbaris, berkumpul layaknya a
pel pasukan kepolisian. Itu rutin mereka laksanakan. Sebagaimana biasa Kamda yan
g melakukan inspeksi. Kerapian rambut, jenggot, kebersihan baju, kilatnya sepatu
, dan kelengkapan peralatan bengkel yang menjadi tanggungjawab setiap mekanik, m
enjadi sorotan Kamda. Satu saja mekanik yang diketahui tidak menyemir sepatunya,
atau rambutnya kelihatan kurang rapi, tidak tanggung-tanggung, Pulang!!!!Begitu h
ardik nya, memerintahkan sang karyawan untuk pulang. No excuse! Setiap hari Rabu
, selalu ada saja karyawan yang dipulangkan karena berbagai alasan, hasil dari i
nspeksi Kamda.
Kenapa kamu Khalid? Tidak ada kerjaan ya? Teriaknya suatu ketika lewat cor
ong speaker yang gaungnya bisa didengar di seluruh gedung bengkel yang luasnya t
idak kurang dari 5000 meter persegi. Besar kan? Orang pun takut. Bukan segan kep
adanya. Nyaris tidak ada hari-hari tanpa kedengaran bentakan Kamda terhadap bawa
hannya. Saya menduga-duga, bahwa orang-orang kecil dibawahnya pasti sudah macam-
macam doa nya untuk atasan yang satu ini. Alasannya sudah jelas: Kamda terlalu c
eroboh memperlakukan bawahannya, seolah buta sama sekali akan pengetahuan manaje
men perusahaan. Human Resource Management ataupun Organizational Behavior, dua h
al yang wajib dipelajari sebagai bekal oleh mereka yang duduk di kursi manajer,
sepertinya tidak pernah disentuh oleh Kamda. Pada akhirnya, karena begitu banyak
karyawan yang menggunjingkan soal sikap kepemimpinannya yang kurang baik, saya
jadi berkesimpulan bahwa Kamda sudah seharusnya sekolah lagi, mengkaji ilmu untuk
kepentingan profesinya juga kelangsungan kerja perusahaan.
Aku akan ke Amerika Serikat, untuk melanjutkan studi! katanya suatu hari k
epada saya dengan wajah yang cerah. Alhamdulillah! Ya! Kamda mengikuti tugas bel
ajar atas beaya negara ke Los Angeles-AS. Good! jawabku, ikut senang mendengar ber
ita baik ini. Dalam hati saya turut berharap semoga dia akan banyak belajar tent
ang hal-hal baru yang tidak diperoleh selama di perusahaan kami, terutama tentan
g manajemen. Hubungan kami memang baik, jadi sudah sepantasnya saya turut mendoa
kan demi kebaikannya. Apa yang saya rasakan terhadap penampilan Kamda, berbandin
g terbalik dengan apa yang dialami oleh sebagian besar orang-orang teknik. Apaka
h Kamda hanya melakukan kerjanya? Wallahualam!
Dua tahun berlalu begitu cepat. Ceritera tentang Kamda tidak lagi terden
gar di perusahaan. Sepertinya semua orang sudah melupakan keberadaannya. Padahal
, belum juga aku lupa tentang bagaimana kesan para karyawan terhadapnya, tiba-ti
ba dia muncul di depan pintu kantor kami Assalamu alaikum...! Sapanya hangat. Kamip
un berdiskusi tentang hal-hal yang dialaminya selama tinggal di Los Angeles. Per
gaulan bebas, beaya hidup mahal, kesediaan fasilitas hidup, fleksibilitas studi,
dan lain-lain objek pembicaraan kami. Kamda ternyata datang lagi di perusahaan
kami!
Kali ini penampilannya amat beda dengan dua tahun lalu. Kamda sepertinya
sudah banyak belajar tentang kehidupan, dan yang lebih penting, kepemimpinan. S
ikap uring-uringannya terhadap bawahan yang hanya karena masalah sepele, tidak l
agi ada. Karyawan mulai simpati. Mereka yang dua tahun lalu sering menggunjingka
n keangkuhan dan kekeras-kepalaannya hampir tidak lagi terdengar. Kamda berubah!!
! kata-kata itu sering masuk begitu saja ke telinga saya. Kamda jadi sering mengu
tamakan kepentingan anak buahnya. Mereka yang mengeluh sakit sedikit saja, acapk
ali disuruh istirahat di rumah, padahal tadinya sikap Kamda jauh dari yang naman
ya belas kasih ini. Dalam apel setiap Rabu, Kamda lebih banyak senyum ketimbang me
ngamati siapa yang salah atau kurang beres dalam berpakaian.
Perubahan perilaku Kamda berangsur melegenda di perusahaan hingga suatu
saat, belum juga genap sebulan sejak kedatangannya dari Los Angeles, di pagi har
i itu kami dikejutkan dengan berita kecelakaan yang menimpanya. Dini hari di akh
ir pekan, karena kecepatan yang tinggi, mobil Kamda yang dikemudikan seorang rek
annya menabrak sebuah bangunan di pinggir jalan besar bebas hambatan. Bukan hany
a mobil Kamda saja yang ringsek, teman yang mengemudikannya juga terenggut jiwan
ya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun!
Kamda? Kondisinya parah sekali! Tidak berlebihan bila sebagian dari kami
mengistilahkan pintu kematiannya terketuk. Tidur membentang tanpa sadarkan diri
. Istri seorang rekan saya yang sedang bekerja di rumah sakit, di Intensive Care
Unit (ICU) mengemukakan Kamda mengalami koma, sebagian bagian kepalanya terbuka
, dan multiple patah tulang. Subahanallah, dalam kondisi sebagian otaknya yang k
eluar dan beberapa tulang rusuk yang retak hingga patah, Kamda masih diberikan k
esempatan oleh Allah SWT untuk tetap bertahan hidup!
Sebagai kalangan keluarga kaya, tidak sulit bagi mereka untuk mendatangk
an dokter-dokter ahli bedah dari luar negeri. Hanya dalam waktu 3 hari, dokter a
hli bedah tulang dan syaraf didatangkan dari India. Selama itu pula Kamda masih
dalam kondisi yang sama: koma! Anehnya, terlepas dari kedudukannya sebagai pasie
n VIP, selama di RS tersebut tidak ada seorangpun karyawan kami yang mengunjungi
nya. Padahal nampaknya karyawan perusahaan selama ini sudah memaafkan sikap angkuh
Kamda yang dulu. Betapa malang Kamda! Begitulah piran saya ikut prihatin akan nas
ib yang menimpa pria yang masih muda ini. Kedua dokter ahli India tersebut terny
ata angkat tangan. Kasus yang menimpa Kamda membutuhkan perawatan dan pengobatan y
ang lebih canggih. Di hari kelima, Kamda diterbangkan ke Jerman, dengan ditemani
oleh dua orang suster dan seorang dokter. Untuk selanjutnya Kamda menjalani pen
gobatan dan perawatan intensive di sebuah RS di Berlin.
Beragam komentar orang-orang perusahaan terhadap nasib buruk yang menimp
anya. Ada yang mengatakan apa yang terjadi adalah buah dari sikap Kamda terhadap a
nak buahnya beberapa tahun lalu yang dianggap kejam. Ada pula yang menganggap it
u adalah pelajaran bagi keangkuhan. Tidak pula sedikit yang mengemukakan bahwa b
egitulah salah satu cara Allah SWT memberikan contoh kepada manusia agar dijadik
annya sebagai tauladan, bagi orang-orang yang mau berpikir.
Bos perusahaan kami selama beberapa minggu lamanya tidak ngantor. Beliau m
emang mengikuti perjalanan Kamda untuk tujuan pengobatan di Berlin. Dalam kondis
i yang demikian, saya tidak melihat tanda-tanda kami, semua karyawan perusahaan,
turut berduka. Business as usual, begitulah kira-kira kesannya. Apa mau dikata,
takdir berbicara demikian! itulah rata-rata yang terdengar dari mulut para pekerj
a.
Dua, tiga, empat dan enam bulan berlalu.....
Subhanallah, Kamda kemudian muncul lagi! Kali ini amat beda. Ia tidak la
gi lancar berbicara, terbata-bata, seolah-olah begitu sulit mengungkapkan rangka
ian kata-kata. Sebagian ingatannya saya perhatikan sudah hilang. Ia bahkan tidak i
ngat lagi untuk mengatakan misalnya Aspirin C, obat yang bundar dan berwarna put
ih. Seringkali dia hanya tersenyum dibanding berbicara. Ucapan terimakasihnya le
bih banyak muncul dibandingkan ucapan-ucapan lainnya. Suatu hari, ketika dia dat
ang ke kantor kami, spontan seorang bawahan yang sedang duduk kemudian berdiri i
ngin menghormatinya, namun dicegah oleh Kamda dengan gaya bicaranya yang terputu
s-putus. Saya jadi terharu dibuatnya!
Kamda yang sekarang ini jadi sering saya lihat ikut sholat Dzuhur berjam
aah ditengah-tengah kesibukan kerja. Padahal dua tahun lalu kejadian semacam tid
ak pernah saya temui. Kamda menjadi begitu baik sekali terhadap bawahannya. Kece
lakaan yang menimpanya sempat membuat sejumlah syaraf bicara dan daya ingatannya
terganggu. Kamda sering tanya tak bertanya kepada saya, Apa itu...ehm...? Apa it
u..ehm...? Saya lupa...!
Subhanallah...! Allah SWT Mahapengasih kepada umatNya. Kamda yang sebagi
an jaringan otaknya sempat terkuak disaat kecelakaan, mulanya diperkirakan oleh
hampir setiap orang tidak akan berumur panjang, ternyata sehat kembali. Bermingg
u-minggu kondisi koma yang menimpanya ternyata membawa hikmah. Kamda menjadi man
usia yang pandai mensyukuri nikmat Allah sesudah diketuk pintu kematiannya, mesk
i kondisi fisiknya tidak lagi seprima dulu: tubuh yang kekar, ingatan tajam dan
berbicara lancar.
Syaifoel Hardy.
shardy@emirates.net.ae