Anda di halaman 1dari 9

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA PENAMBAHAN ALGINAT TERHADAP STABILITAS EMULSI

HILDA DAMAYANTI (21101108), GARNADI JAFAR S.Farm.,Apt

ABSTRAK

Alginat merupakan polimer organik keluarga polisakarida yang tersusun oleh dua unit monomer β-D asam guluronat (G) dan α-L asam mannuronat (M) atau selang seling keduanya (GGMM). Pemanfaatnya dalam industri farmasi/obat-obatan dan kosmetik sebagai ”thickening, stabilizing dan emulsifying agent”. Tujuan karya tulis ini adalah untuk mengkaji pengaruh konsentrasi penambahan alginat yang optimal pada suatu sediaan emulsi sebagai penstabil. Parameter kestabilannya yaitu dengan mengevaluasi suatu sediaan emulsi meliputi : Evaluasi organoleptis, homogenitas, viskositas, ukuran partikel dan stabilitas dengan penambahan kekentalan konsentrasi alginat yang berbeda, yaitu dengan konsentrasi alginat 1 %, 2 % dan 3 %. Hasilnya diharapkan menunjukkan tidak terjadinya flokulasi, creaming dan koalesen

Kata Kunci : konsentrasi natrium alginat, kekentalan, stabilitas

ABSTRACT

Alginic acid is polymer organic consisting of two monomeric unit, β - D guluronat (G) and α - L mannuronat acid and alternaring both. This material is used in the industries medical/pharmaceutical and cosmetic industries as stabilizing, thickening and emulsifying agent. The purpose of this paper is to study the effect of alginate concentration on the optimal addition of an emulsion preparation as a stabilizer. Parameter stability is to evaluate the emulsion preparation include: Evaluation of organoleptic, homogeneity, viscosity, particle size, viscosity and stability with different additional visosities of alginate concentrations, the alginate concentration of 1%, 2% and 3%. The results wished show no occurrence of flocculation, creaming and coalescence

Keyword: sodium alginate concentration, viscosity, stabilitys

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

PENDAHULUAN

Sediaan Emulsi sudah menjadi suatu sediaan yang tidak kalah penting dan menarik karena sediaan ini dapat diaplikasikan dalam berbagai hal seperti oral, parenteral ataupun topikal. Berbagai cara telah dikembangkan untuk mendapat suatu sediaan emulsi yang stabil, baik itu pengembangan formula, bahan-bahan baru ataupun modifikasi bahan yang lama telah banyak diteliti untuk mendapatkan kestabilan yang paling baik. Emulsi merupakan dispersi koloid dimana zat terdispersi dan medium pendispersi merupakan cairan yang tidak saling bercampur. Agar terjadi suatu sistem yang stabil maka perlu ditambahkan suatu zat pengemulsi atau emulsifier (Yazid, 2005). Emulsifier merupakan bahan yang digunakan untuk mengurangi tegangan permukaan antara dua fasa yang dalam keadaan normal tidak saling bercampur, sehingga keduanya dapat teremulsi. Emulsifier berbeda dengan stabilizer, walaupun sama-sama berfungsi sebagai penstabil, emulsifier dapat digunakan untuk menstabilkan emulsi karena memiliki kedua gugus ujungnya yang sangat penting (Atmaja, 2000). Emulsi dikatakan tidak stabil apabila mengalami creaming, koalesensi dan breaking, inversi fase dan perubahan kimia. Alginat dapat dijadikan suatu alternatif bahan untuk menstabilkan suatu emulsi karena kemampuannya untuk mengabsorpsi air dan dapat digunakan sebagai pengemulsi dengan viskositas yang rendah, Kemampuan untuk larut dalam air, meningkatkan viskositas larutan, pembentuk gel dan kemampuan membentuk film dan serat. Kestabilan emulsi berhubungan dengan viskositas. Semakin tinggi viskositas suatu bahan, maka bahan tersebut akan semakin stabil karena

pergerakan partikel cenderung sulit (Schmitt, 1996). Sejauh ini penelitian Alginat hanya berfokus sebagai Emulsifier pada makanan ataupun alginat sebagai gelling agent. Tujuan karya tulis ini diharapkan dapat mengembangkan fungsi alginat yang lainnya salah satunya sebagai zat penstabil emulsi sehingga didapat kajian pengaruh penambahan konsentrasi Alginat dalam menstabilkan suatu sediaan farmasi dalam bentuk emulsi.

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Emulsi Emulsi adalah sistem dispersi kasar dari dua atau lebih cairan yang tidak larut satu sama lain (R.Voight, 1971). Emulsi adalah suatu sediaan yang mengandung dua zat cair yang tidak mau campur, biasanya air dan minyak dimana cairan satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain ( Moh.Anief, 1993). Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispers terdiri dari bulatan kecil yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur (Ansel, 1985). Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamika yang mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur, dimana satu di antaranya didispersikan sebagai bola-bola dalam fase cair lain, sistem dibuat stabil dengan adanya suatu zat pengemulsi (Martin dkk, 1983). Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV (1995) Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jenis Emulsi berdasarkan fase terdipersinya terbagi 2 yaitu:

a. Emulsi air dalam minyak (A/M) dimana fasa air terdispersi dalam fasa minyak

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

b. Emulsi minyak dalam air (M/A) dimana fase minyak terdispersi dalam fase air (Anis dkk, 2009).

Teori Pembentukan Emulsi 1.Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension)

Teori ini menjelaskan bahwa emulsi terjadi bila ditambahkan suatu substansi yang menurunkan tegangan antar muka diantara 2 cairan yang tidak bercampur.

2. Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented

Wedge) Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi karena adanya

kelarutan selektif dari bagian molekul emulsifier, ada bagian yang bersifat mudah larut dalam air (hidrofil) dan ada bagian mudah larut dalam minyak (lifofil) .

3. Teori Film Plastik

Teori ini menjelaskan bahwa emulsifier mengendap pada permukan masing-masing butir tetesan fase dispersi dalam bentuk film yang plastis.

(Anief,1993)

Metode Pembuatan Emulsi

1)

Metode Kontingental

Dalam metode ini, zat pengemulsi dicampur dengan minyak terlebih dahulu, kemudian ditambahkan air untuk membuat korpus emulsi, baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia 2) Metode Inggris Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut dalam air) agar membentuk suatu musilago kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk membentuk emulsi, kemudian diencerkan dengan sisa air 3) Metode botol forbes Digunakan untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). Serbuk gom dimasukkan

kedalam botol kering, ditambahkan 2 bagian air, botol ditutup, kemudian

campuran tersebut dikocok dengan kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok.

(Syamsuni,2006)

Kestabilan Emulsi Bila dua larutan murni yang tidak

saling campur/ larut seperti minyak dan air dicampurkan lalu dikocok kuat-kuat, keduanya akan membentuk sistem dispersi yang disebut emulsi. Secara fisik terlihat seolah-olah salah satu fasa berada di sebelah dalam fasa yang lainnya. Bila proses pengocokan dihentikan, akan terjadi pemisahan kembali. Kestabilan emulsi ditentukan oleh dua gaya, yaitu :

1) Gaya tarik-menarik yang dikenal dengan gaya London-Van Der Waals. Gaya ini menyebabkan partikel-partikel koloid berkumpul membentuk agregat dan mengendap. 2) Gaya tolak-menolak yang disebabkan oleh pertumpang-tindihan lapisan ganda elektrik yang bermuatan sama (Anonim, 2009). Gaya ini akan menstabilkan dispersi koloid. Bahan penstabil yang umumnya digunakan adalah gelatin yang bersumber dari hewan, sayur-sayuran (seperti alginat, karaginan dan agar-agar) dan gum (Marshall dan

Arbuckle,1996).

Bahan penstabil bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan melalui pembentukan lapisan pelindung yang menyelimuti globula fase terdispersi, sehingga senyawa yang tidak larut akan lebih terdispersi, sehingga senyawa yang tidak larut akan lebih terdispersi dan lebih stabil

(Fennema,1985)

Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi, adalah:

Tegangan antarmuka rendah

Kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan antarmuka

Tolakan listrik double layer

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

Relatifitas phase pendispersi kecil

Viskositas tinggi.

Suatu emulsi dianggap tidak stabil secara fisik jika :(a) fase dalam atau fase terdispersi pada pendiaman cenderung untuk membentuk agregat dari

bulatan-bulatan, (b) jika bulatan-bulatan atau agregat dari bulatan naik ke permukaan atau turun kedasar emulsi tersebut akan membentuk suatu lapisan pekat dari fase dalam, dan (c) jika semua atau sebagian dari cairan fase dalam tidak teremulsikan dan membentuk suatu lapisan yang berbeda pada permukaan atau pada dasar emulsi, yang merupakan hasil dari bergabungnya fase dalam. Disamping itu suatu emulsi mungkin sangat dipengaruhi oleh kontaminasi dan pertumbuhan mikroba serta perubahan fisika dan kimia lainnya ( Ansel, 2005). Emulsi dikatakan tidak stabil apabila mengalami creaming, koalesensi dan breaking, inversi fase dan perubahan kimia (Martin,1993). Emulgator quasi dapat menjadi bahan pembantu emulgator sejati dalam mengarahkan kepada penghematan emulgator, mempertahankan dispersitas dan meningkatkan viskositas. Menurut hukum stokes pengurangan perbedaan bobot jenis antara kedua fase mengurangi kecepatan jatuh (Sedimentasi) atau menaiknya bola-bola (pengapungan). Pergerakan bola-bola tersebut sangat dibatasi dengan peningkatan viskositas pada fase luar. Untuk itu berlaku stabilisator yang dinyatakan sebagai emulgator quasi. Suatu perbedaan bobot jenis fase yang kecil dan viskositas yang tinggi dapat memperbaiki stabilitas. Ketidakstabilan emulsi meliputi 3 yaitu creaming, breaking dan inversi fase. Creaming adalah terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan yaitu satu bagian mengandung fase dispers lebih banyak dari pada lapisan lain sifatnya reversible

artinya jika dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali. Breaking adalah pecahnya emulsi karena film yang menyelimuti partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau menyatu menjadi fase tunggal yang memisah. Inversi fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o seara tiba-tiba atau sebaliknya. (Syamsuni, 2006)

Emulgator/ Emulsifier Sistem emulsi dapat distabilkan dengan penambahan zat ketiga yaitu

pengemulsi atau emulgator. Emulgator yang digunakan harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1) Dapat menurunkan tegangan permukaan

2)

3) Membentuk lapisan disekitar

Dapat menambah viskositas

partikel dispersi

Syarat-syarat suatu emulgator yang baik adalah :

1) Harus tercampur dengan bahan formulatif lainnya salam preparat 2) Tidak boleh mengganggu stabilitas atau afikasi dari zat teurapetik

3)

preparat 4) Harus tidak bersifat toksik pada penggunaan yang dimaksudkan 5) Mempunyai bau, rasa dan aroma yang tidak mengganggu secara farmasetika 6) Memiliki kemampuan untuk membentuk emulsi dan menjaga stabilitas dari emulsi agar tercapai shelf life dari produk.

Harus stabil dan tidak terurai dalam

Jenis Emulsifier

A. Hidrofil Koloid

Menunjukan sutu lapisan monomolekular sekitar tetesan-tetesan terdispers dari minyak dalam suatu emulsi o/w (Martin,1983).

Emuslfier ini meliputi emulsifier yang berasal dari alam:

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

a. Emulsifier alam tumbuh-tumbuhan Bahan-bahan karbohidrat dan alami seperti akasia (gom), tragakan, agar, kondrus dan pectin. Bahan-bahan ini membentuk koloid hidrofilik bila ditambahkan ke dalam air dan umumnya menghasilkan emulsi m/a.

Gom arab

Tragacanth

Agar-agar

Chondrus

b. Emulsifier alam dari hewan Zat-zat protein seperti : gelatin, kuning telur, kasein, dan adeps lanae. Bahan-bahan ini menghasilkan emulsi

tipe m/a. kerugian gelatin sebagai suatu zat pengemulsi adalah sediaan menjadi terlalu cair dan menjadi lebih cair pada

pendiaman.

(Syamsuni, 2006)

B. Surfaktan

Merupakan zat-zat yang aktif pada permukaan yang terabsorpsi pada antar muka minyak/air terbentuk lapisan monomolekular dan mengurangi tegangan antar muka (Martin, 1983). Klasifikasi surfakatan yaitu terdapat 4 jenis: :

(1) Surfaktan anionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu anion. Contohnya adalah garam alkana sulfonat, garam olefin sulfonat, garam sulfonat asam lemak rantai panjang. (2) Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu kation. Contohnya garam alkil trimethil ammonium, garam dialkil-dimethil ammonium dan garam alkil dimethil benzil ammonium. (3) Surfaktan nonionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya tidak bermuatan. Contohnya ester gliserin asam lemak, ester sorbitan asam lemak, ester sukrosa asam lemak, polietilena alkil amina, glukamina, alkil poliglukosida, mono alkanol

amina, dialkanol amina dan alkil amina oksida. (4) Surfaktan amfoter yaitu surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai muatan positif dan negatif. Contohnya surfaktan yang mengandung asam amino, betain dan fosfobetain.

C. Partikel padat yang terbagi halus, yang diabsorpsi pada batasan antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur dan membentuk suatu lapisan partikel disekitar bola-bola terdispersi (Martin,

1983).

Zat padat yang tergolong halus, seperti tanah liat koloid termasuk bentonit, magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. Umumnya membentuk emulsi tipe m/a bila bahan padat ditambahkan ke fase air jika jumlah volume air lebih besar dari minyak. Jika serbuk bahan padat ditambahkan dalam minyak dan volume fase minyak lebih banyak dari air, suatu zat seperti bentonit sanggup membentuk suatu emulsi a/m. Selain itu juga terdapat Veegum /Magnesium Aluminium Silikat (Syamsuni, 2006).

Formula Emulsi Oral

Zat Aktif

Zat pengemulsi (tunggal dan

ampuran)

Pemanis

Flavor

Antioksidan

Pengawet

Bahan untuk flokulasi

Bahan

pengontrol

(stablizer)

viskositas

Dapar

(Goeswin, 2006)

Formula Emulsi Topikal

Zat Aktif

Pembawa (minyak atau air)

• Emulgator 5
• Emulgator
5

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

Pengawet

Bahan pembantu lain (Antioksidan, emolient, pewangi dan pewarna)

(Anis dkk, 2009).

Pengujian Stabilitas Emulsi Sediaan emulsi baru setelah waktu cukup lama/panjang dapat menjadi tidak stabil secara fisika dan kimia. Evaluasi didasarkan pada ukuran partikel tetesan, pemisahan fasa/ pecah, sifat rheologi, sedimentasi dan creaming (Goeswin,

2006).

Persyaratan Emulsi Setelah pembuatannya, sekurang- kurangnya dalam waktu 24 jam tak boleh terjadi pemisahan dan dalam jangka waktu 6 bulan emulsi tak boleh pecah. Emulsi harus disimpan terlindung dari cahaya (R.Voight,1971).

Alginat Alginat merupakan polimer organik keluarga polisakarida yang tersusun oleh dua unit monomer β-D asam guluronat (G) dan α-L asam mannuronat (M) atau selang seling keduanya (GGMM). Pemanfaatnya dalam industri makanan, farmasi/obat-obatan, tekstil dan kosmetik sebagai ”thickening, stabilizing dan emulsifying agent” Sumber alginat yang potensial terdapat pada algae laut coklat (Phaeophyta) sebagian besar terdapat di daerah subtropis. Di Indonesia algae coklat jenis Sargassum duplicatum tumbuh melimpah (Kresno, 2007). Alginat dapat diperoleh dari hasil pengendapan rumput laut dengan alkohol, pengeringan dengan alat (drum drying), dan pembekuan. Jenis alkohol yan dapat digunakan untuk pemurnian hanya terbatas pada metanol, etanol, dan isopropanol (Winarno, 1990).

pada metanol, etanol, dan isopropanol (Winarno, 1990). Gambar 1. Struktur Alginat Kegunaan alginat dan kemampuannya

Gambar 1. Struktur Alginat

Kegunaan alginat dan kemampuannya mengikat air bergantung pada jumlah ion karboksilat, berat molekul dan pH. Kemampuan mengikat air meningkat bila jumlah ion karboksilat semakin banyak dan jumlah residu kalsium alginat kurang dari 500, sedangkan pada pH dibawah 3 terjadi pengendapan. Sifat fisika dan kimia alginat antara lain :

1. Alginat bersifat koloid, membentuk

gel dan hidrofilik.

2. Alginat dalam bentuk asam alginat

tidak larut dalam air dingin maupun air panas tetapi dapat segera mengembang dalam air karena kemampuannya mengisap gugus hidroksi yang dimiliki. 3. Alginat memiliki kemampuan berikatan dengan kation-kation dan membentuk senyawa polivalen. Polivalen yang terbentuk merupakan suatu senyawa dengan molekul lebih besar, viskositas yang lebih baik, serta kekuatan gel yang lebih tinggi. Kemampuan berikatan dengan kation-kation merupakan salah satu dasar pengembangan produk produk alginat dalam berbagai macam pemanfaatan (Chapman, 1980). 4. Alginat yang memiliki rasio

komponen antara mannuronat dan

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

guluronat kurang dari satu akan memiliki sifat bioaktif yang tinggi. Sifat strukur gel alginat akan lebih kenyal apabila rasio komponen antara mannuronat dan guluronat lebih dari satu (Rachmat, 1999).

Fungsi dan Kegunaan alginat Fungsi Natrium Alginat yaitu sebagai zat penstabil, zat pensuspensi, disintegran pada tablet dan kapsul, pengikat tablet dan zat peningkat viskositas (Raymond C, 2009). Alginat digunakan secara luas dalam industri sebagai bahan pengental, pensuspensi, penstabil, pembentuk film, pembentuk gel, disintegrating agent, dan bahan pengemulsi. Sehubungan dengan fungsi tersebut, maka alginat banyak dibutuhkan oleh berbagai industri, seperti industri farmasi (5%), tekstil (50%), makanan dan minuman (30%), kertas (6%), serta industri lainnya (9%) (Anggadiredja et al. 2006). Alginat di industri kosmetik sebagai pengemulsi dan pengental (Polo,1998). Selain sebagai pengental, alginat juga memilki efek melembutkan dengan pemakain sampai 2% (Mitssui,1997).

Tabel Penggunaan Alginat Menurut (Ralph C, 2009)

Penggunaan

Konsentrasi

 

(%)

Pasta dan Krim Stabilizer Emulsi Zat Pensuspensi Pengikat tablet Penghancur Tablet

5-10

1-3

1-5

1-3

2,5-10

PEMBAHASAN

Kemungkinan besar pertimbangan yang terpenting bagi emulsi dibidang farmasi dan kosmetika adalah stabilitas dari produk jadi (Martin,1983). Stabilitas emulsi menunjukkan kestabilan suatu bahan dimana emulsi yang terdapat dalam bahan tidak

mempunyai kecenderungan untuk bergabung dengan partikel lain dan membentuk lapisan yang terpisah (Suryani et al. 2000). Selain itu dapat memberikan penampilan, bau, warna dan sifat-sifat fisik lainnya yang baik

(Martin,1983).

Pada sistem emulsi terjadi perbedaan tegangan bidang batas antara fase terdispersi dan fase kontinyu yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi antara dua fase tersebut dinamakan tegangan bidang batas. Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang batas mengakibatkan kedua fase tersebut semakin sulit bercampur. Penambahan alginat dapat menurunkan tegangan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua fase tersebut akan mudah bercampur (Andrea, 2009). Semakin tinggi tegangan permukaan pada suatu bidang akan menyebabkan dua fase yang berbeda akan susah untuk bercampur (stabil) dikarenakan adanya pembentukan permukaan baru. Peningkatan suhu terhadap emulsi menimbulkan semakin banyak fase terdispers yang terlarut sehingga menjadi lebih stabil. Semakin tinggi suhu sistem emulsi maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel fase pendispersinya. Hal tersebut akan memperbesar kecepatan gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersi. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem, maka gerak Brown semakin lambat. Dengan adanya gerak Brown ini maka partikel emulsi terhindar dari pengendapan karena terus-menerus bergerak sehingga emulsi menjadi stabil. Penggumpalan ini mengindikasikan akan terjadinya penurunan stabilitas emulsi (Ranni, 2008). Selama Penyimpanan, ketidakstabilan emulsi dapat terjadi jika ada pembentukan krim,

7
7

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

flokulasi, maupun penggumpalan (Rieger 1994). Shelf life yang baik dan tidak ada penggumpalan dapat dicapai dengan pembentukan lapisan antar muka yang tebal dari makromolekul atau partikel-partikel kecil zat padat yang memisah. Hal ini merupakan alasan digunakannya hidrokoloid seperti natrium alginat yang sangat berguna sebagai pengemulsi pembantu bila digunakan pada konsentrasi rendah, bahkan dapat digunakan sebagai pengemulsi utama pada konsentrasi tinggi (Rieger, 1994). Menurut Hukum Stokes laju pemisahan dari fase terdipersi dari suatu emulsi dihubungkan dengan faktor-faktor seperti ukuran partikel dari fase terdispersi. Oleh karena itu untuk meningkatkan stabilitas suatu emulsi bulatan atau ukuran partikel harus sekecil mungkin, perbedaan fase terdispersi dan fase luar harus sekecil mungkin dan viskositas fase luar harus cukup tinggi (Ansel,2005). Alginat mengandung gugus karboksil yang bersifat asam dan gugus hidroksil yang bersifat alkohol sehingga memungkinkan senyawa ini menembus ke dalam jaringan kulit dan terikat dalam lapisan kulit dengan sempurna. Selain itu, poliol atau struktur polisidik dalam alginat memiliki efek membantu mempertahankan air di dalam jaringan kulit. Sifat koloid yang dimiliki alginat merupakan keuntungan dalam pemanfaatannya sebagai bahan moisturizing agent, sehingga dapat mempertahankan kelembaban dan elastisitas kulit (Yunizal, 2004). Alginat berdasarkan Pustaka dapat bersifat sebagai emulgator dan stabilitas emulsi. Alginat termasuk kedalam zat penstabil yang dapat menjadi bahan pembantu emulgator sejati dalam mengarahkan kepada penghematan emulgator, mempertahankan dispersitas, meningkatkan viskositas. Alginat

berpengaruh banyak untuk mendapatkan sediaan emulsi yang stabil. Untuk mengetahui konsentrasi penambahan alginat sebagai stabilisator dapat dilakukan uji evaluasi sediaan emulsi yaitu meliputi evaluai organoleptis, homogenitas, viskositas, ukuran partikel dan stabilitas.

KESIMPULAN

Natrium Alginat dapat digunakan sebagai zat penstabil emulsi pada rentang konsentrasi 1-3%.

DAFTAR PUSTAKA

1) Agnesyya, Ranni. (2008) Pengaruh Penggunan Natrium Alginat dalam Formulasi Skin Lotion. Skripsi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan :

Institut Pertanian Bogor. 2) Agus, G. (2006) Pengembangan Sediaan Farmasi. Bandung : ITB 3) Anggadiredja, T. Dkk. (2006). Rumput Laut. Jakarta : Penebar Swadayas 4) Anief, M, (1993) Farmasetika. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press 5) Ansel, C.H. (1989) Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Ed.4. Universitas Indonesia : Jakarta 6) Atmaja AAAMRDA. (2000) Studi pemurnian dan karakterisasi emulsifier campuran mono dan diasilgliserol yang diproduksi dari distilat asam lemak minyak sawit dengan teknik esterifikasi enzimatis menggunakan lipase Rhizomucor miehei [skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 7) Briand, Victoria. (2007) Alginamide Synthesis and Emulsion Preparation. Major

2013

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

2013 KAJIAN PUSTAKA KTI - STFB

Qualifying Project Report, Faculty of Worcester Polytecnhnic Institute. 8) Eistein, Yazid. (2005) Kimia Fisika Untuk Paramedis. Andi:

Yogyakarta. 9) Fennema, O.W. (1985) Principle of Food Science, Food Chemistry, 2nd (ed). Marcel Dekker Inc, New York 10) Martin, Alfred. (1993) Farmasi Fisik . Jakarta : UI Press 11) Marzuki,A., Pakki,E & Zulfikar,F. (2011) Ekstraksi dan Peggunaan Gelatin dari Limbah Tulang Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskla) sebagai Emulgator dalam Sediaan Emulsi 12) Mitsui. (1997) New Cosmetic Science. New York: Elsevier. 13) Mushollaeni, W & Rusdiana, E. (2012) Optimizing the Use of Alginate from Sargassum and Padina as Natural Emulsifier and Stabilizer in Cake. Journal of Agriculture and Food Technology, 2(7)108-112 14) Noerono,S. (1994) Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Penerjemah.Yogyakarta : UGM Press Rudolf Voight. Terjemahan dari : Lehrbuch Der Pharmazautischen Tehnologie. 15) Ralph, J., Brunow, G., Boerjan,

W.(2007)“Lignins”,Encyclopedi

a of Life Sciences, John Wiley & Sons, Inc., New York, hal. 1-10. 16) Rasyid,A. (2005) Beberapa Catatan tentang Alginat. Jurnal ISSN, XXX(1).9-14 17) Rieger,P.(1994) Elecrtochemistry, Chapman & Hall, Inc . New York 18) Schmitt WH. (1996) Skin Care Products. Di dalam Williams DF and Schmitt WH, editor. Chemistry and Technology of The Cosmetics and Toiletries Industry. 2nd Ed. London:

Blackie Academe and Profesional. 19) Suryani A, Sailah, Eliza H. (2000) Teknologi Emulsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor 20) Yo hana, A., Emma S & Sri S. (2009) Farmasetika Dasar. Bandung : Widya Padjajaran 21) Yulianto, Kresno. (2007) Pengaruh Konsentrasi Natrium Hidroksida terhadap Viskositas Natrium Alginat yang Diekstrak dari Sargassum duplicatum J.G Agardh (Phaeophyta). Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 33: 295 306 22) Yunizal. (2004) Teknologi Pengolahan Alginat. Jakarta :

Pusat Riset pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.