Anda di halaman 1dari 9

PROSES PENGEMBANGAN ORGANISASI

Strategi perubahan menyeluruah bahwa organisasi


menggunakan jasa konsultan PO meliputi 4 hal pokok
yaitu .
I. Proses konsultansi dimana konsultan yang jasanya
digunakan memegang teguh dua prinsip dalam melakukan
kegiatannya yaitu cara bekerja yang efisien dan semangat
kerja yang tinggi.
II. Kegiatan PO harus didasarkan pada pendekatan yang
taylor-made yaitu Pernyataan tersebut berarti bahwa
tergantung pada jenis permasalahan yang dihadapi oleh
klien, strategi yang digunakan dapat bersifat struktur
organisasi, teknikal dan keperilakuan.

III. Melakukan suatu bentuk intervensi
tertentu. Artinya konsultan melibatkan diri
pada proses perubahan bagi organisasi
kliennya dengan mengusulkan kepada klien
penggunaan teknik-teknik tertentu, baik
dalam rangka menghilangkan atau
mengurangi kecenderungan para anggota
organisasi menolak perubahan.
IV. Keadaan yang didambakan. Kegiatan PO
diselenggarakan karena dirasakan adanya
ketidakseimbangan dalam kehidupan
organisasi antara kondisi sekarang dan
akan datang.

Tiga Pendekatan Dasar
Permasalahan apapun yang dihadapi oleh
suatu organisasi, jalan keluarnya dapat
ditemukan dengan pendekatan :
A. Intervensi Struktural
Organisasi yang menyelenggarakan kegiatan
PO menggunakan strategi perubahan
struktural, terdapat 3 hasil yang diharapkan
akan dipetik : restrukturisasi (reorganisasi),
sistem imbalan yang baru, perubahan pada
kultur organisasi.

Untuk memperoleh 3 jenis manfaat tersebut
ada 3 alasan mengubah struktur organisasi.

1. Jika struktur organisasi makin datar, rentang
kendali makin melebar, yang berarti bahwa
jumlah bawahan yang dapat diawasi oleh
seorang atasan makin banyak, yang pada
gilirannya mengurangi beban biaya
administratif yang harus dipikul karena jumlah
manajer yang harus digaji semakin berkurang.
2. Mengurangi tingkat hierarki kewenangan
dalam organisasi, proses komunikasi pada
umumnya berjalan lebih lancar dengan rentang
kenali yang melebar, biasanya kelompok-
kelompok kerja memiliki otonomi yang lebih
besar karena tidak mungkin lagi seorang
manajer secara langsung mengendalikan
semua bawahannya.

B. Intervensi Teknikal
Dikenal sebagai intervesi tugas teknologi. Intervensi
ini menekankan perubahan pada tugas nyata yang
diselenggarakan oleh para anggota organisasi dan
proses teknologikal serta sarana yang mereka
gunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang
dipercayakan oleh manajemen kepada mereka.
Penggunaan intervensi ini ialah perluasan pekerjaan
secara vertikal. Teknik penerapannya :
1. Penggabungan tugas agar pelaksanaan yang
tadinya terbagi-bagi menyatu di tangan seorang;
2. Penciptaan satuan kerja yang sifatnya alamiah
yang berarti bahwa aneka ragam pekerjaan seorang
karyawan terwujud menjadi sesuatu yang dapat
diidentifikasikan serta merupakan sesuatu yang
bermakna.


3. Penciptaan hubungan pekerja dengan kliennya.
4. Pengembangan pekerjaan secara vertikal.
Berangkat dari pandangan bahwa para karyawan
adalah orang yang sudah matang dan dewasa baik
dalam arti ketrampilan, pengetahuan, sikap maupun
motivasi mereka pada umumnya akan lebih
bergairah bekerja apabila mereka diberikan
kebebasan untuk menentukan sendiri cara-cara
yang dianggap paling tepat untuk menyelesaikan
tugasnya dan tidak dikendalikan oleh atasannya.
5. Membuka saluran umpan balik.
Akan memungkinkan seorang karyawan mengetahui
bagaimana pendapat orang lain tentang kinerjanya.

C. Intervensi yang Terfokus Pada
Manusia
Berbagai bentuk intervensi manusia sebagai
fokus perhatian di tujukan pada kegiatan
mengubah sikap dan perilaku para anggota
organisasi melalui proses komunikasi,
pengambilan keputusan dan pemecahan
masalah.
Kelompok intervensi ini mungkin telah
tercakup dalam program pelatihan dan
pengembangan

Pendekatan PO menekankan 5 bentuk
spesifik intervensi yang terfokus pada
manusia yaitu :
1. Pelatihan kepekaan (sensitivity training)
2. Umpan balik melalui survei
3. Konsultasi proses
4. Pembinaan tim
5. Pengembangan hubungan antara
kelompok