Anda di halaman 1dari 26

Penyakit-penyakit

Obstruksi Saluran Nafas Atas


Randy Rifianda

Pembimbing :
dr. Hj. Mariana Hasnah Yunizaf, Sp. THT

Obstruksi saluran napas atas adalah sumbatan pada saluran
napas atas yang disebabkan oleh adanya radang, benda
asing, trauma, tumor dan kelumpuhan nervus rekuren
bilateral sehingga ventilasi pada saluran pernapasan
terganggu.
Definisi
Obstruksi saluran nafas atas
Obstruksi saluran napas bagian atas ditandai
dengan sesak napas, stridor inspiratore, ortopne,
pernapasan cuping hidung, dan cekung di daerah
jugularis-supraklavikula-interkostal.
Selanjutnya penderita akan sianotik dan gelisah.
Koane dapat menyumbat total atau sebagian, di satu atau dua
sisi, akibat kegagalan absorpsi membran bukofaringeal.
Obstruksi mungkin berupa membran atau tulang. Gejalanya ialah
kesulitan bernapas dan keluar sekret hidung terus menerus.

Diagnosis mudah dibuat dengan timbulnya sianosis pada waktu
diam yang menghilang pada waktu menangis, dan melihat
sumbatan di belakang rongga hidung. Pengobatan dengan
pembedahan.
Kelainan Kongenital
Atresia koane
Atresia koane
Sindroma pierre robin adalah sekelompok kelainan yang
terutama ditandai dengan adanya rahang bawah yang sangat kecil
dengan lidah yang jatuh ke belakang dan mengarah ke bawah.
bisa juga disertai dengan tingginya lengkung langit-langit mulut
atau celah langit-langit.

Penyebab yang pasti tidak diketahui, bisa merupakan bagian dari
sindroma genetik.
Kelainan Kongenital
Sindrom Piere Robin
Sindrom Piere Robin
Pita suara terbentuk dari membran horizontal primordial yang terbelah pada
garis tengah. Kegagalan pemisahan mengakibatkan berbagai derajat
stenosis glotis, mulai dari selaput pada komisura anterior sampai atresia
total glotis.

Biasanya ditandai suara parau sedangkan pada bayi menifestasinya berupa
suara serak dan menangis tidak keras. Derajat sesak dan disfonia tergantung
dari luasnya kelainan.

Pengobatan sementara pada bayi atau anak dengan businasi. Diperlukan
tindakan bedah untuk memisahkan pita suara melalui tirotomi.
Kelainan Kongenital
Selaput glotis dan stenosis glotis
Angina Ludwig ialah selulitis di dasar mulut dan leher akut yang
invasif, menyebabkan udem hebat di leher bagian atas yang dapat
menyumbat jalan napas.

Kuman penyebab biasanya streptokokus atau stafilokokus. Infeksi
biasanya berasal dari lesi di mulut seperti abses alveolar gigi atau
infeksi sekunder pada karsinoma dasar mulut.

Kelainan ini cepat meluas melalui ruang fasia tertutup dan dapat
menyebabkan udem glotis yang dapat mengancam jiwa karena
obstruksi jalan napas. Karena radang dasar mulut ini lidah
terdorong ke palatum dan ke dorsal, ke arah dinding dorsal faring
sehingga menutup jalan napas.
Radang
Angina Ludwig
Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis dan dibantu dengan
pemeriksaan biakan dan uji kepekaan bakteri dari pus.

Bila dapat dibuat diagnosis dini maka pemberian antibiotik
kadang-kadang memberikan hasil yang memuaskan. Bila
pembengkakan leher dan dasar mulut tidak segera berkurang
maka dilakukan dekompresi terhadap ruang fasia yang tertutup di
dasar mulut dan leher, selanjutnya dipasang pipa penyalir.

Trauma tajam atau tumpul pada leher dapat mengenai trakea. Trauma
tumpul tidak menimbulkan gejala atau tanda tetapi dapat juga
mengakibatkan kelainan hebat berupa sesak napas, karena penekanan
jalan napas atau aspirasi darah atau emfisema kutis bila trakea robek.

Dari pemeriksaan photo roentgen dapat dilihat benda asing, trauma
penyerta seperti fraktur vertebra servikal atau emfisema di jaringan
lunak di mediastinum, leher dan subkutis.

Trauma tumpul trakea jarang memerlukan tindakan bedah. Penderita
diobservasi bila terjadi obstreksi jalan napas dikerjakan trakeotomi.
Pada trauma tajam yang menyebabkan robekan trakea segera dilakukan
trakeotomi di distal robekan. Kemudian robekan trakea dijahit kembali
Trauma
Trauma Trakea
Pemasangan pipa endotrakea yang lama dapat menimbulkan udem
laring dan trakea. Keadaan ini baru diketahui bila pipa dicabut karena
suara penderita terdengar parau dan ada kesulitan menelan, gangguan
aktivitas laring, dan beberapa derajat obstruksi pernapasan. Pengobatan
dilakukan dengan pemberian kortikosteroid. Bila obstruksi napas terlalu
hebat maka dilakukan trakeotomi.

Stenosis trakea adalah komplikasi pemasangan pipa endotrakea
berbalon dalam waktu lama. Tekanan balon menyebabkan nekrosis
mukosa trakea disertai penyembuhan dengan jaringan fibrosis yang
mengakibatkan stenosis.

Pengobatan stenosis ini berupa peregangan bagian yang stenosis dalam
waktu lama, tetapi seringkali perlu dilakukan reseksi segmental trakea
dan anstomosis ujung ke ujung.

Trauma intubasi
Trauma
Trauma pada laring dapat menyebabkan dislokasi persendian
krikoaritenoid yang mengakibatkan suara parau disertai
obstruksi jalan napas bagian atas.

Pada pemeriksaan roentgen leher tampak dislokasi struktur
laring, penyempitan jalan napas, dan udem jaringan lunak.

Penanganannya berupa trakeotomi, kemudian dislokasi direposisi
secara terbuka dan dipasang bidai dalam. Kelambatan
penanganan dislokasi krikoaritenoid dapat mengakibatkan
stenosis laring.
Dislokasi krikoaritenoid
Trauma
Kedua pita suara tidak dapat bergerak sedangkan posisinya
paramedian dan cenderung bertaut satu sama lain waktu
inspirasi. Penderita mengalami sesak napas hebat yang
mungkin memerlukan intubasi dan atau trakeotomi.
Paralisis korda vokalis bilateral
Trauma
Tumor epithelial papiler yang multipel pada laring ini disebabkan
oleh papova virus. Penderitanya sering mempunyai veruka kulit
yang mengandung virus. Biasanya kelainan sudah mulai pada
usia dua tahun. Jika si ibu mempunyai veruka vagina maka
kelainan ini dapat terjadi pada bayi usia enam bulan.

Gejala khas berupa disfonia dan sesak napas yang bertambah
hebat sampai terjadi sumbatan total jalan napas.

Terapi terdiri dari pembedahan dengan mikrolaringoskopi. Angka
kekambuhan tinggi sehingga perlu dilakukan pembedahan
berulang kali.
Papiloma laring rekuren
(papilomatosis laring infantil)
Tumor
Papiloma laring rekuren
(papilomatosis laring infantil)
Karsinoma tiroid dapat berinvasi ke laring dan mempengaruhi
jalan napas. Adanya invasi ini harus dicurigai bila tumor tiroid
tidak dapat digerakkan dari dasarnya, disertai suara parau dan
gangguan napas. Pada pemeriksaan photo roentgen leher terlihat
distorsi laring atau bayangan suatu massa yang menonjol ke
lumen laring dan trakea.

Kadang tumor tiroid berada pada saluran napas atas secara
primer. Diduga tumor primer di laring atau trakea bagian atas
berasal dari sisa tiroid yang terletak dalam submukosa yang
melapisi krikoid dan cincin trakea atas yang ditemukan pada 1-2
% populasi. Tumor ini harus dieksisi dengan laringektomi.

Neoplasma tiroid
Tumor
Neoplasma tiroid
Udem angiopneurotik mukosa laring adalah salah satu
penyebab obstruksi laring yang disebabkan oleh alergi.

Gejala berupa suara parau yang progresif setelah kontak
dengan menghirup atau menelan alergen tanpa tanda
infeksi.

Kadang diperlukan trakeotomi untuk menyelamatkan jiwa.
Udem angioneurotik
Tumor
Udem angioneurotik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil
pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang.
Gejala dan tanda sumbatan yang tampak adalah :
Serak (disfoni) sampai afoni
Sesak napas (dispnea)
Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi.
Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal,
epigastrium, supraklavikula dan interkostal. Cekungan itu
terjadi sebagai upaya dari otot-otot pernapasan untuk
mendapatkan oksigen yang adekuat.
Gelisah karena pasien haus udara (air hunger)
Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena
hipoksia.
Diagnosis Obstruksi Saluran Napas Atas
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan
untuk mengetahui letak sumbatan, diantaranya adalah :

Laringoskop. Dilakukan bila terdapat sumbatan pada laring.
Laringoskop dapat dilakukan secara direk dan indirek.
Nasoendoskopi
X-ray. Dilakukan pada foto torak yang mencakup saluran
nafas bagian atas. Apabila sumbatan berupa benda logam
maka akan tampak gambaran radiolusen. Pada epiglotitis
didapatkan gambaran thumb like.
Foto polos sinus paranasal
CT-Scan kepala dan leher
Biopsi

Diagnosis Obstruksi Saluran Napas Atas
Jackson membagi sumbatan laring yang progresif dalam 4
stadium:

Stadium I : Adanya retraksi di suprasternal dan stridor.
Pasien tampak tenang

Stadium II : Retraksi pada waktu inspirasi di daerah
suprasternal makin dalam, ditambah lagi dengan
timbulnya retraksi di daerah epigastrium. Pasien
sudah mulai gelisah.
Stadium Obstruksi Saluran Napas Atas
Stadium III : Retraksi selain di daerah suprastrenal,
epigastrium juga terdapat di infraklavikula dan
di sela-sela iga, pasien sangat gelisah dan
dispnea.

Stadium IV : Retraksi bertambah jelas, pasien sangat
gelisah, tampak sangat ketakutan dan sianosis,
jika keadaan ini berlangsung terus maka
penderita akan kehabisan tenaga, pusat
pernapasan paralitik karena hiperkapnea.
Pada keadaan ini penderita tampaknya tenang
dan tertidur, akhirnya penderita meninggal
karena asfiksia.

Pada prinsipnya penanggulangan obstruksi saluran napas
diusahakan supaya jalan napas lancar kembali.

Tindakan konservatif : Pemberian antiinflamasi, antialergi,
antibiotika serta pemberian oksigen intermiten, yang dilakukan
pada obstruksi laring stadium I yang disebabkan oleh
peradangan.

Tindakan operatif/resusitasi : Memasukkan pipa endotrakeal
melalui mulut (intubasi orotrakea) atau melalui hidung
(intubasi nasotrakea), membuat trakeostoma yang dilakukan
pada obstruksi laring stadium II dan III, atau melakukan
krikotirotomi yang dilakukan pada obstruksi laring stadium IV.
Tindakan pada Obstruksi Saluran Napas
Atas
TERIMA KASIH