Anda di halaman 1dari 18

Jenis Kanker Payudara

NORMAL BREAST PROFILE :


A. Ducts
B. Lobules
C. Dilated section of duct to hold milk
D. Nipple
E. Fat
F. Pectoralis major muscles
G. Chest wall / Rib cage
ENLARGEMENT :
A. Normal Duct Cells
B. Basement Membrane
C. Lumen
Jenis kanker payudara yang paling umum adalah berasal dari saluran air susu ( ductal carcinoma
) atau kelenjar air susu ( lobular carcinoma ). Penentuan asal kanker ditentukan dari bentuk sel
kanker yang terlihat secara microscopic dalam biopsy.
In situ breast cancer
In situ breast cancer adalah type kanker yang mana sel kanker tetap berada dalam selubung
tempat asalnya. Jadi sel kanker tidak menyerang jaringan disekitar saluran air susu atau kelenjar
air susu. Jenisnya antara lain :
Ductal Carsinoma In Situ ( DCIS )

ENLARGEMENT:
A. Normal duct cells
B. Duct cancer cells
C. Basement membrane
D. lumen ( centre of duct )
Adalah suatu sel abnormal di sepanjang saluran air susu yang tidak menyerang jaringan sekitar
payudara. Ini adalah kanker payudara stadium awal. Beberapa ahli menganggap DCIS adalah
kondisi sangat awal dari kanker. Hampir semua wanita dengan DCIS ini bisa disembuhkan. Tapi
ada juga yang berkembang menjadi kanker payudara yang invasife.
Lobular Carsinoma In Situ ( LCIS )

ENLARGEMENT :
A. Normal lobular cells
B. Lobular cancer cells
C. Basement membrane
Bahwa suatu sel abnormal masih berada dalam kelenjar air susu, dan tidak menyerang jaringan
disekitarnya. Masih menjadi kontroversi diantara ahli-ahli kanker bahwa apakah LCIS
merupakan suatu stadium sangat awal dari kanker ataukah hanya merupakan penanda bahwa itu
dimasa datang akan berubah menjadi kanker. Tetapi para ahli juga sepakat bahwa apabila
seseorang mempunyai LCIS, berarti di kemudian hari dia mempunyai resiko untuk mempunyai
kanker pada salah satu payudaranya. Pada payudara yang terdapat LCIS bisa berubah menjadi
invasive lobular breast cancer. Bila kanker berkembang pada payudara yang lain, maka bisa jadi
menjadi Invasife Lobular atau Invasife Ductal Carsinoma.
Invasive breast cancer ( Kanker payudara yang invasive )
Invasive ( infiltrating ) breast cancer adalah jenis kanker yang sel kankernya telah keluar / lepas
dari mana dia berasal, menyerang jaringan sekitar yang mendukung saluran dan kelenjar-
kelenjar payudara. Sel-sel kanker ini bisa menyebar keberbagai bagian tubuh, seperti ke kelenjar
getah bening. Jenisnya antara lain :
Invasive Ductal Carsinoma ( IDC )

ENLARGEMENT :
A. Normal duct cells
B. Ductal cancer cell breaking through basement membrane
C. Basement membrane
Dianggap sebagai penyebab terbesar kanker payudara yang invasive. Jika seorang wanita
mempunyai IDC, maka sel kanker yang berada di sepanjang saluran air susu akan keluar dari
dinding saluran tersebut dan menyerang jaringan disekitar payudara. Sel kanker bisa saja tetap
terlokalisir, berada didekat tempat asalnya atau menyebar ( metastasis ) kebagian tubuh yang
lain, terbawa oleh peredaran darah atau system kelenjar getah bening. Untuk jenis IDC solid
tubular, meskipun invasive tapi masih lumayan terkendali dibanding jenis invasive lain.
Invasive Lobular Carsinoma ( ILC )

ENLARGMENT :
A. Normal cells
B. Lobular cancer cells breaking through the basement membrane
C. Basement membrane
Meskipun tidak sebanyak IDC, type ini juga mempunyai sifat yang mirip. ILC, berkembang dari
kelenjar yang memproduksi susu dan kemudian menyerang jaringan payudara disekitarnya. Juga
bahkan ke tempat yang lebih jauh dari asalnya. Dengan ILC, penderita mungkin tidak akan
merasakan suatu benjolan, yang dirasakan hanyalah adanya semacam gumpalan atau suatu
sensasi bahwa ada yang berbeda pada payudara. ILC, bisa diditeksi hanya dengan menyentuh,
dan kadang juga bisa tidak terlihat dalam mammogram. ILC ini bersifat seperti cermin, kalau
payudara kanan ada benjolan, biasanya sebelah kiri juga ada.
Type type yang tidak biasa / Jarang pada kanker payudara
Tidak semua type kanker payudara berasal dari saluran air susu atau kelenjar air susu. Beberapa
jenis yang tidak umum adalah :
Inflammatory Breast Cancer
jenis ini jarang, tapi termasuk type kanker payudara yang agresive. Kulit pada payudara menjadi
merah dan bengkak. Atau menjadi tebal / besar. Berbintik-bintik menyerupai jeruk yang
terkelupas. Ini dikarenakan oleh sel kanker yang memblock pembuluh getah bening yang
letaknya dekat permukaan payudara.
Medullary Carcinoma.
Type spesifik pada invasive breast cancer. Dimana batas tumor jelas terlihat. Sel kanker lebar
dan sel system imun terlihat disekitar batas tumor.
Tubular carcinoma
Jenis kanker yang jarang ini dinamaidemikian karena bentuk sel kanker ketika dilihat dibawah
microscope. Meskipun merupakan invasive breast cancer tapi tampilannya lebih baik dari
Invasive Ductal Carcinoma dan Invasive Lobular Carcinoma.

Metaplastic carcinoma
Mewakili kurang dari 1% dari seluruh pasien yang baru didiagnosis mempunyai kanker
payudara.Perubahan bentuk jaringan biasanya terlokalisir / terbatas dan berisi beberapa sel yang
berbeda, yang secara typical tidak ditemui pada kanker payudara yang lain.Harapan kesembuhan
dan cara penanganannya sama dengan Invasive Ductal Carcinoma.Sarcoma
Tumor yang tumbuh pada sambungan antara jaringan di payudara. Jenis tumor ini biasanya
kemudian menjadi kanker ( malignant )
Micropapillary carcinoma
Type ini cenderung untuk menjadi agresive, sering menyebarnya ke kelenjar getah bening,
meskipun ukurannya kecil.
Adenoid cystic carcinoma
Jenis kanker ini penggolongannya dilihat dari ukurannya, tumor local.Termasuk jenis invasive,
tetapi lambat dalam pertumbuhan dan penyebaran
Definisi
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme
normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali.
[2]

Selain itu, kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit
neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh World Health
Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD)
dengan kode nomor 17.
[3]

Patofisiologi
Beberapa jenis kanker payudara sering menunjukkan disregulasi hormon HGF dan onkogen Met,
serta ekspresi berlebih enzim PTK-6.
[4]

Transformasi


Tanda-tanda awal kanker payudara
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut transformasi,
yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.
Fase inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel menjadi
ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen yang disebut
karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. Tetapi
tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan genetik
dalam sel atau bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap
suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih peka
untuk mengalami suatu keganasan.
Progesteron, sebuah hormon yang menginduksi ductal side-branching pada kelenjar payudara
dan lobualveologenesis pada sel epitelial payudara, diperkirakan berperan sebagai aktivator
lintasan tumorigenesis pada sel payudara yang diinduksi oleh karsinogen. Progestin akan
menginduksi transkripsi regulator siklus sel berupa siklin D1 untuk disekresi sel epitelial. Sekresi
dapat ditingkatkan sekitar 5 hingga 7 kali lipat dengan stimulasi hormon estrogen,
[5]
oleh karena
estrogen merupakan hormon yang mengaktivasi ekspresi pencerap progesteron pada sel
epitelial.
[6]
Selain itu, progesteron juga menginduksi sekresi kalsitonin sel luminal dan
morfogenesis kelenjar.
[7]

Fase promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas. Sel
yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi. Karena itu diperlukan
beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).
Fase metastasis
Metastasis menuju ke tulang merupakan hal yang kerap terjadi pada kanker payudara, beberapa
diantaranya disertai komplikasi lain seperti simtoma hiperkalsemia, pathological fractures atau
spinal cord compression.
[8]
Metastasis demikian bersifat osteolitik, yang berarti bahwa osteoklas
hasil induksi sel kanker merupakan mediator osteolisis dan mempengaruhi diferensiasi dan
aktivitas osteoblas serta osteoklas lain hingga meningkatkan resorpsi tulang.
Tulang merupakan jaringan unik yang terbuat dari matriks protein yang mengandung kalsium
dengan kristal hydroxyappatite sehingga mekanisme yang biasa digunakan oleh sel kanker untuk
membuat ruang pada matriks ekstraselular dengan penggunaan enzim metaloproteinase matriks
tidaklah efektif. Oleh sebab itu, resorpsi tulang yang memungkinkan invasi neoplastik terjadi
akibat interaksi antara sel kanker payudara dengan sel endotelial yang dimediasi oleh ekspresi
VEGF.
[8]
VEGF merupakan mitogen angiogenik positif yang bereaksi dengan sel endotelial.
Tanpa faktor angiogenik negatif seperti angiostatin, sel endotelial yang berinteraksi dengan
VEGF sel kanker melalui pencerap VEGFR-1 dan VEGFR-2, akan meluruhkan matriks
ekstraselular, bermigrasi dan membentuk tubulus.
Klasifikasi
Terdapat beberapa jenis sel kanker yang dapat terkultur pada kanker payudara, yaitu sel MCF-7,
sel T-47D, sel MDA-MB-231, sel MB-MDA-468, sel BT-20 dan sel BT-549.
Histopatologi
Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker payudara diklasifikasikan
sebagai berikut:
1. Non-invasif karsinoma
o Non-invasif duktal karsinoma
o Lobular karsinoma in situ
2. Invasif karsinoma
o Invasif duktal karsinoma
Papilobular karsinoma
Solid-tubular karsinoma
Scirrhous karsinoma
Special types
Mucinous karsinoma
Medulare karsinoma
o Invasif lobular karsinoma
Adenoid cystic karsinoma
karsinoma sel squamos
karsinoma sel spindel
Apocrin karsinoma
Karsinoma dengan metaplasia kartilago atau osseus metaplasia
Tubular karsinoma
Sekretori karsinoma
Lainnya
3. Paget's Disease
Stadium
Stadium penyakit kanker adalah suatu keadaan dari hasil penilaian dokter saat mendiagnosis
suatu penyakit kanker yang diderita pasiennya, sudah sejauh manakah tingkat penyebaran kanker
tersebut baik ke organ atau jaringan sekitar maupun penyebaran ketempat lain. Stadium hanya
dikenal pada tumor ganas atau kanker dan tidak ada pada tumor jinak. Untuk menentukan suatu
stadium, harus dilakukan pemeriksaan klinis dan ditunjang dengan pemeriksaan penunjang
lainnya yaitu histopatologi atau PA, rontgen , USG, dan bila memungkinkan dengan CT scan,
scintigrafi, dll. Banyak sekali cara untuk menentukan stadium, namun yang paling banyak dianut
saat ini adalah stadium kanker berdasarkan klasifikasi sistem TNM yang direkomendasikan oleh
UICC (International Union Against Cancer dari World Health Organization)/AJCC (American
Joint Committee On cancer yang disponsori oleh American Cancer Society dan American
College of Surgeons).
Sistem TNM
TNM merupakan singkatan dari "T" yaitu tumor size atau ukuran tumor , "N" yaitu node atau
kelenjar getah bening regional dan "M" yaitu metastasis atau penyebaran jauh. Ketiga faktor T,
N, dan M dinilai baik secara klinis sebelum dilakukan operasi, juga sesudah operasi dan
dilakukan pemeriksaan histopatologi (PA). Pada kanker payudara, penilaian TNM sebagai
berikut:
T (tumor size), ukuran tumor:
o T 0: tidak ditemukan tumor primer
o T 1: ukuran tumor diameter 2 cm atau kurang
o T 2: ukuran tumor diameter antara 2-5 cm
o T 3: ukuran tumor diameter > 5 cm
o T 4: ukuran tumor berapa saja, tetapi sudah ada penyebaran ke kulit atau dinding dada
atau pada keduanya, dapat berupa borok, edema atau bengkak, kulit payudara
kemerahan atau ada benjolan kecil di kulit di luar tumor utama
N (node), kelenjar getah bening regional (kgb):
o N 0: tidak terdapat metastasis pada kgb regional di ketiak/aksilla
o N 1: ada metastasis ke kgb aksilla yang masih dapat digerakkan
o N 2: ada metastasis ke kgb aksilla yang sulit digerakkan
o N 3: ada metastasis ke kgb di atas tulang selangka (supraclavicula) atau pada kgb di
mammary interna di dekat tulang sternum
M (metastasis), penyebaran jauh:
o M x: metastasis jauh belum dapat dinilai
o M 0: tidak terdapat metastasis jauh
o M 1: terdapat metastasis jauh
Setelah masing-masing faktor T, N, dan M didapatkan, ketiga faktor tersebut kemudian digabung
dan akan diperoleh stadium kanker sebagai berikut:
Stadium 0: T0 N0 M0
Stadium 1: T1 N0 M0
Stadium II A: T0 N1 M0/T1 N1 M0/T2 N0 M0
Stadium II B: T2 N1 M0 / T3 N0 M0
Stadium III A: T0 N2 M0/T1 N2 M0/T2 N2 M0/T3 N1 M0
Stadium III B: T4 N0 M0/T4 N1 M0/T4 N2 M0
Stadium III C: Tiap T N3 M0
Stadium IV: Tiap T-Tiap N-M1
Genetik
Array-mikro DNA
Array-mikro DNA merupakan suatu metode yang diawali dengan membandingkan sel normal
dengan sel kanker dan melihat perbedaan yang terjadi pada ekspresi genetik antara dua jenis sel.
Walaupun perbedaan ekspresi genetik tersebut belum tentu menunjukkan ciri khas onkogen sel
kanker, namun beberapa grup periset mempertimbangkan bahwa beberapa grup/kluster gen
mempunyai kecenderungan untuk meninggalkan jejak genetik pada sel lain hingga terjadi
ekspresi genetik yang sama, yang disebut profil genetik. Dengan demikian, dinamika fungsional
gen dan genom dapat diamati seperti proses transkripsi mRNA, identifikasi domain pengikat dari
protein asam nukleat, analisis single-nucleotide polymorphism.
[9]

Sejumlah profil genetik telah diajukan oleh berbagai pihak, beberapa diantaranya adalah:
Profil genetik dari American Society of Clinical Oncology yang menawarkan klasifikasi
berdasarkan CA 15.3, CA 27.29, CEA, pencerap estrogen, pencerap progesteron, pencerap faktor
pertumbuhan epidermal-2, aktivator plasminogen urokinase, penghambat aktivator
plasminogen 1.
[10]
Penggunaan kategori berikut sebagai dasar diagnosa juga dianggap belum
cukup; DNA/ploiditas dengan penggunaan sitometri, p53, cathepsin D, siklin E, multiparameter
assays tertentu, deteksi metastasis-mikro pada sumsum tulang dan kadar sel tumor dalam
sirkulasi darah.
Profil genetik yang disebut normal breast-like, basal, luminal A, luminal B, dan ERBB2+.
[11]

Subtipe berdasarkan ESR1/ERBB2 dengan profil ESR1+/ERBB2-, ESR1-/ERBB2-, dan ERBB2+.
[11]

Profil intrinsik Perou-Srlie
Dari sudut pandang histologi, sel tumor payudara merupakan jaringan kompleks yang terdiri dari
berbagai jenis sel selain sel kanker.
[12]
Untuk mendapatkan profil genetik dari sebuah tumor,
perlu diketahui ekspresi genetik khas dari tiap sel yang merupakan hasil transkripsi kluster gen
tertentu, kemudian dicari kesamaan kluster pada sel lain dari jenis yang berbeda.
Pada profil intrinsik, ditemukan 8 kluster genetik yang merupakan variasi sel-sel tertentu yang
terdapat di dalam tumor.
1. Sel endotelial. Sebuah kluster gen merupakan ciri khas ekspresi genetik sel endotelial, seperti
CD34, CD31, faktor von Willebrand, baik sel endotelial dari kultur HUVEC maupun HMVEC.
2. Sel stromal. Ekspresi protein dari sel stromal merupakan kluster genetik yang teridentifikasi
terlebih dahulu dan meliputi beberapa isomer kolagen
3. Sel payudara normal maupun yang kaya akan adiposa dengan kluster genetik meliputi fatty-acid
binding protein 4 dan PPAR
4. Sel B, meninggalkan jejak genetik seperti ekspresi gen berupa protein imunoglobulin saat
melakukan infiltrasi dan memberikan variasi pada kluster genetik seperti yang terjadi pada
ekspresi sel RPMI-8226 dari kultur mieloma multipel.
5. Sel T juga meninggalkan jejak genetik yang menjadi indikasi aktivitas infiltrasi. Sebuah kluster
geneteik meliputi kluster diferensiasi CD3 dan 2 subunit pencerap sel T ditemukan pada sel
MOLT-4 dari kultur leukimia.
6. Makrofaga. Sebuah kluster genetik yang nampaknya merupakan ciri khas makrofaga/monosit
adalah ekspresi CD68, acid phosphatase 5, chitinase dan lysozyme.
Terdapat dua jenis sel epitelial pada kelenjar ini, yaitu sel basal atau sel mioepitelial, dan sel
epitelial luminal. Banyak gen yang hanya dimiliki oleh salah satu jenis sel ini dan jarang
ditemukan gen yang dimiliki oleh kedua sel. Kluster genetik sel basal meliputi keratin-5, keratin-
17, integrin-4 dan laminin. Sedangkan kluster genetik sel luminal meliputi faktor transkripsi
yang berkaitan dengan pencerap estrogen seperti GATA-binding protein-3, X-box binding
protein-1 dan hepatocyte nuclear factor-3.
Lintasan onkogenik
Klasifikasi menurut lintasan onkogenik terbagi menjadi 4 subtipe yang disebut
luminal A yang disertai ekspresi pencerap hormon, baik estrogen, progesteron maupun
keduanya, dan tanpa ekspresi HER-2 (bahasa Inggris: human epidermal growth factor receptor
2). Pada subtipe luminal A, terjadi ekspresi berlebihan protein yang berperan dalam lintasan
metabolisme asam lemak dan lintasan transduksi sinyal selular yang menggunakan steroid,
khususnya melalui ekspresi pencerap estrogen.
[13]

luminal B dengan pencerap hormon +, HER-2 +.
triple negative dengan pencerap hormon -, HER-2 -.
HER-2 over-expressing dengan pengecerap hormon -, HER-2 +.
Berdasarkan klasifikasi ini, hasil sampling dari 2.544 kasus yang terjadi di Amerika, 73%
didapati mengidap subtipe luminal A, 12% penderita luminal B, 11% adalah kanker triple
negative dan 4% merupakan jenis HER-2 over-expressing.
[14]

Beberapa ahli lain menambahkan subtipe seperti;
basal-like dengan ekspresi berlebih protein yang berperan pada proliferasi dan diferensiasi sel,
lintasan p21 dan transduksi sinyal dalam siklus sel pada checkpoint antara fase G
1
dan fase S.
[13]

basal A dengan lintasan ETS dan gen BRCA1.
[15]

basal B dengan lintasan sel mesenkimal dan/atau sel punca/sel progenitor
Gejala klinis
Gejala klinis kanker payudara dapat berupa:
Benjolan pada payudara
Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu mula-mula kecil,
semakin lama akan semakin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada
kulit payudara atau pada puting susu.
Erosi atau eksema puting susu
Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau
kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau
d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu semakin lama akan
semakin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau
busuk, dan mudah berdarah. Ciri-ciri lainnya antara lain:
Pendarahan pada puting susu.
Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul apabila tumor sudah besar, sudah timbul
borok, atau bila sudah muncul metastase ke tulang-tulang.
Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada lengan,
dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh (Handoyo, 1990).
Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria operbilitas Heagensen
sebagai berikut:
terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih 1/3 luas kulit payudara);
adanya nodul satelit pada kulit payudara;
kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa;
terdapat model parasternal;
terdapat nodul supraklavikula;
adanya edema lengan;
adanya metastase jauh;
serta terdapat dua dari tanda-tanda locally advanced, yaitu ulserasi kulit, edema kulit, kulit
terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah bening aksila berdiameter lebih 2,5 cm, dan
kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain.
Keluarnya cairan (Nipple discharge)
Nipple discharge adalah keluarnya cairan dari puting susu secara spontan dan tidak normal.
Cairan yang keluar disebut normal apabila terjadi pada wanita yang hamil, menyusui dan
pemakai pil kontrasepsi. Seorang wanita harus waspada apabila dari puting susu keluar cairan
berdarah cairan encer dengan warna merah atau coklat, keluar sendiri tanpa harus memijit puting
susu, berlangsung terus menerus, hanya pada satu payudara (unilateral), dan cairan selain air
susu.
Faktor-faktor penyebab
Faktor risiko
Menurut Moningkey dan Kodim, penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui,
tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker
payudara diantaranya:
1. Faktor reproduksi: Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker
payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan
kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur.
Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama
merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi dan
fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari 25%
kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya
tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis.
2. Penggunaan hormon: Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara.
Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker
payudara yang signifikan pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu metaanalisis
menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi
oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk
mengalami kanker payudara sebelum menopause. Sel-sel yang sensitive terhadap rangsangan
hormonal mungkin mengalami perubahan degenerasi jinak atau menjadi ganas
[16]
.
3. Penyakit fibrokistik: Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada
peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit
meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.
4. Obesitas: Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker
payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di negara-
negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.
5. Konsumsi lemak: Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker
payudara. Willet dkk. melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan
serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59
tahun.
6. Radiasi: Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan
terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa
risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.
7. Riwayat keluarga dan faktor genetik: Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting
dalam riwayat penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat
peningkatan risiko keganasan pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada
studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila
terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen kerentanan terhadap kanker payudara, probabilitas untuk
terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70
tahun. Faktor Usia sangat berpengaruh -> sekitar 60% kanker payudara terjadi di usia 60 tahun.
Resiko terbesar usia 75 tahun
[17]

Faktor Genetik
Kanker peyudara dapat terjadi karena adanya beberapa faktor genetik yang diturunkan dari
orangtua kepada anaknya. Faktor genetik yang dimaksud adalah adanya mutasi pada beberapa
gen yang berperan penting dalam pembentukan kanker payudara gen yang dimaksud adalah
beberapa gen yang bersifat onkogen dan gen yang bersifat mensupresi tumor.
Gen pensupresi tumor yang berperan penting dalam pembentukan kanker payudara diantaranya
adalah gen BRCA1 dan gen BRCA2.
Pengobatan kanker
Ada beberapa pengobatan kanker payudara yang penerapannya banyak tergantung pada stadium
klinik penyakit (Tjindarbumi, 1994), yaitu:
Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara. Ada 3 jenis mastektomi (Hirshaut &
Pressman, 1992):
Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan
payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.
Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan
kelenjar di ketiak.
Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara. Biasanya disebut
lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan
seluruh payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya
lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya
di pinggir payudara.
Radiasi
Penyinaran/radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan
menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa
di payudara setelah operasi (Denton, 1996). Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah, nafsu
makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit
cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.
Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker atau sitokina dalam bentuk pil cair
atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker melalui mekanisme
kemotaksis. Tidak hanya sel kanker pada payudara, tapi juga di seluruh tubuh (Denton, 1996).
Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena
pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi.
[18]

Lintasan metabolisme
Asam bifosfonat merupakan senyawa penghambat aktivitas osteoklas dan resorpsi tulang yang
sering digunakan untuk melawan osteoporosis yang diinduksi oleh ovarian suppression,
hiperkalsemia dan kelainan metabolisme tulang, menunjukkan efektivitas untuk menurunkan
metastasis sel kanker payudara menuju tulang.
[19]
Walaupun pada umumnya asupan asam
bifosfonat dapat ditoleransi tubuh, penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek
samping seperti osteonekrosis dan turunnya fungsi ginjal.
[20]

CT dapat menginduksi sel kanker payudara untuk memproduksi cAMP dan menghambat
perkembangan sel kanker.
[21]
Molekul cAMP tersebut terbentuk dari ekspresi pencerap CT yang
terhubung adenylate cyclase oleh paling tidak satu buah guanine nucleotide-binding protein.
Respon cAMP terhadap CT dapat menurun ketika sel terinkubasi senyawa mitogenik berupa
17beta-estradiol dan EGF; dan meningkat seiring inkubasi senyawa penghambat pertumbuhan
seperti tamoxifen dan 1,25(OH)
2
D
3
; serta oligonukleotida dan proto-onkogen c-myc. Namun
penggunaan tamoxifen meningkatkan risiko terjadi polip endometrial, hiperplasia dan kanker,
melalui mekanisme adrenomedulin.
[22]

Respon berupa produksi cAMP yang kuat, tidak ditemukan pada senyawa selain CT. Senyawa
efektor adenylate cyclase seperti forskolin dan senyawa beta-adrenergic receptor agonist seperti
isoproterenol hanya menghasilkan sedikit produksi cAMP.
Pada sel MDA-MB-231, CT akan menginduksi fosforilasi c-Raf pada serina posisi ke 259
melalui lintasan protein kinase A dan menyebabkan terhambatnya fosforilasi ERK1/2 yang
diperlukan bagi kelangsungan hidup sel MDA-MB-231,
[23]
dan menghambat ekspresi mRNA
uPA yang diperlukan sel MDA-MB-231 untuk invasi dan metastasis.
[24]
Walaupun demikian
kalsitonin tidak mempunyai efek yang signifan untuk menghambat proliferasi sel MCF-7.
Apoptosis sel MDA-MB-231 juga diinduksi oleh asam lipoat yang menghambat fosforilasi Akt
dan mRNA AKT, aktivitas Bcl-2 dan protein Bax, MMP-9 dan MMP-2,
[25]
serta meningkatkan
aktivitas kaspase-3.
[26]

Strategi pencegahan
Pada prinsipnya, strategi pencegahan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu
pencegahan pada lingkungan, pada pejamu, dan milestone. Hampir setiap epidemiolog sepakat
bahwa pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular adalah promosi
kesehatan dan deteksi dini. Begitu pula pada kanker payudara, pencegahan yang dilakukan antara
lain berupa:
Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan
karena dilakukan pada orang yang "sehat" melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan
pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat. Pencagahan primer ini juga bisa
berupa pemeriksaan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) yang dilakukan secara rutin
sehingga bisa memperkecil faktor risiko terkena kanker payudara.
[27]

Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kanker
payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal merupakan populasi at
risk dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini.
Beberapa metode deteksi dini terus mengalami perkembangan. Skrining melalui mammografi
diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-
menerus pada mammografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya
kanker payudara. Karena itu, skrining dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan dengan
beberapa pertimbangan antara lain:
Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk assessement
survey.
Pada wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk dilakukan mammografi setiap tahun.
Wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia 50 tahun.
Foster dan Constanta menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih sedikit pada
wanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dibandingkan
yang tidak. Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26%, bila
dikombinasikan dengan mammografi maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75%
Pencegahan tertier
Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker
payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya akan
dapat mengurangi kecatatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier ini
penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan
meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh
banyak terhadap ketahanan hidup penderita. Bila kanker telah jauh bermetastasis, dilakukan
tindakan kemoterapi dengan sitostatika. Pada stadium tertentu, pengobatan yang diberikan hanya
berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari pengobatan alternatif dengan obat herbal
kanker payudara.
[28]

Catatan kaki
1. ^ CancerHelps.com Portal Informasi Kanker Payudara
2. ^ (http://www.mediasehat.com/utama07.php)
3. ^ (http://www.tempo.co.id/medika/arsip/082002/pus-3.htm)
4. ^ (Inggris) "Breast tumor kinase and extracellular signal-regulated kinase 5 mediate Met
receptor signaling to cell migration in breast cancer cells". Department of Pharmacology,
Masonic Cancer Center, Department of Medicine (Division of Hematology, Oncology, and
Transplantation), University of Minnesota; Nancy E Castro dan Carol A Lange. Diakses 2011-07-
15. "Breast tumor kinase (Brk/protein tyrosine kinase 6 (PTK6)) is a nonreceptor, soluble
tyrosine kinase overexpressed in the majority of breast tumors... Breast cancers frequently
exhibit dysregulation of HGF and Met signaling, ultimately resulting in increased tumor growth
and invasion."
5. ^ (Inggris)"Progesterone, in addition to estrogen, induces cyclin D1 expression in the murine
mammary epithelial cell, in vivo.". Department of Cell Biology, Baylor College of Medicine; Said
TK, Conneely OM, Medina D, O'Malley BW, Lydon JP. Diakses 2011-07-23.
6. ^ (Inggris)"Progesterone action in normal mouse mammary gland.". Physiology Department,
Michigan State University; Wang S, Counterman LJ, Haslam SZ. Diakses 2011-07-23.
7. ^ (Inggris)"Progesterone induction of calcitonin expression in the murine mammary gland.".
Department of Molecular and Cellular Biology, Baylor College of Medicine; Ismail PM, DeMayo
FJ, Amato P, Lydon JP. Diakses 2011-07-23.
8. ^
a

b
(Inggris) "Vascular endothelial growth factor acts as an osteolytic factor in breast cancer
metastases to bone". The School of Surgical Sciences, The Medical School, Framlington Place,
University of Newcastle; S E Aldridge, T W J Lennard, J R Williams, dan M A Birch. Diakses 2011-
07-16.
9. ^ (Inggris) "Expression genomics in breast cancer research: microarrays at the crossroads of
biology and medicine". Genome Institute of Singapore; Lance D Miller dan Edison T Liu. Diakses
2011-07-21.
10. ^ (Inggris) "American Society of Clinical Oncology 2007 update of recommendations for the use
of tumor markers in breast cancer.". Yale Cancer Center, Yale University; Harris L, Fritsche H,
Mennel R, Norton L, Ravdin P, Taube S, Somerfield MR, Hayes DF, Bast RC Jr; American Society of
Clinical Oncology. Diakses 2011-07-19.
11. ^
a

b
(Inggris) "Discovery and validation of breast cancer subtypes.". Department of Statistics,
Stanford University; Kapp AV, Jeffrey SS, Langerd A, Brresen-Dale AL, Han W, Noh DY,
Bukholm IR, Nicolau M, Brown PO, Tibshirani R. Diakses 2011-07-21.
12. ^ (Inggris) "Molecular portraits of human breast tumours". Department of Genetics,
Department of Pathology, Department of Surgery, Department of Biochemistry, Howard Hughes
Medical Institute, Stanford University School of Medicine, Department of Genetics, The
Norwegian Radium Hospital, Department of Pathology, The Gade Institute, Department of
Oncology, Haukeland University Hospital, Department of Molecular Biology, University of
Bergen; Charles M. Perou, Therese Srlie, Michael B. Eisen, Matt van de Rijn, Stefanie S. Jeffrey,
Christian A. Rees, Jonathan R. Pollack, Douglas T. Ross, Hilde Johnsen, Lars A. Akslen, ystein
Fluge, Alexander Pergamenschikov, Cheryl Williams, Shirley X. Zhu, Per E. Lnning, Anne-Lise
Brresen-Dale, Patrick O. Brown David Botstein. Diakses 2011-07-20.
13. ^
a

b
(Inggris) "Distinct molecular mechanisms underlying clinically relevant subtypes of breast
cancer: gene expression analyses across three different platforms.". Department of Genetics,
Institute for Cancer Research, Rikshospitalet-Radiumhospitalet Medical Center; Srlie T, Wang Y,
Xiao C, Johnsen H, Naume B, Samaha RR, Brresen-Dale AL. Diakses 2011-07-21.
14. ^ (Inggris) "Breast Cancer Risk Factors Vary by Tumor Subtype". BREASTCANCER.ORG. Diakses
2011-07-21.
15. ^ (Inggris) "Molecular profiling of breast cancer cell lines defines relevant tumor models and
provides a resource for cancer gene discovery.". Department of Pathology, Stanford University;
Kao J, Salari K, Bocanegra M, Choi YL, Girard L, Gandhi J, Kwei KA, Hernandez-Boussard T, Wang
P, Gazdar AF, Minna JD, Pollack JR. Diakses 2011-07-21.
16. ^ [1]
17. ^ [2]
18. ^ Seluk Beluk Kemoterapi
19. ^ (Inggris) "Bisphosphonate therapy for women with breast cancer and at high risk for
osteoporosis.". Kimmel Cancer Center, Thomas Jefferson University Hospital; Gloria J. Morris dan
Edith P. Mitchell. Diakses 2011-07-16.
20. ^ (Inggris) "Commentary: Role of Bone-Modifying Agents in Metastatic Breast Cancer".
Department of Breast Medical Oncology at The University of Texas M. D. Anderson Cancer
Center,; Gabriel N. Hortobagyi, MD, FACP. Diakses 2011-07-16.
21. ^ (Inggris) "Breast cancer cell response to calcitonin: modulation by growth-regulating agents.".
Laboratoire d'Investigation Clinique et d'Oncologie Exprimentale H.J. Tagnon, Institut J. Bordet,
Universit Libre de Bruxelles; Lacroix M, Siwek B, Body JJ. Diakses 2011-07-16.
22. ^ (Inggris) "Adrenomedullin and tumour angiogenesis". Nuffield Department of Obstetrics and
Gynaecology, Nuffield Department of Clinical Laboratory Sciences, Molecular Angiogenesis
Laboratory, Cancer Research UK, Weatherall Institute of Molecular Medicine, The University of
Oxford, John Radcliffe Hospital, Institute for Biomedical Research, Birmingham University
Medical School; L L Nikitenko, S B Fox, S Kehoe, M C P Rees, dan R Bicknell. Diakses 2011-07-17.
"The increased risk of endometrial polyps, hyperplasia and cancer in women receiving tamoxifen
treatment for breast cancer prompted our group to look for genes induced in endometrial
isolates by tamoxifen, but not oestrogen. PCR differential display identified the vasoactive
peptide adrenomedullin (AM) as one such gene."
23. ^ (Inggris) "Calcitonin targets extracellular signal-regulated kinase signaling pathway in human
cancers.". Department of Pathology, Wakayama Medical University; Nakamura M, Han B,
Nishishita T, Bai Y, Kakudo K. Diakses 2011-07-09.
24. ^ (Inggris) "Calcitonin inhibits invasion of breast cancer cells: involvement of urokinase-type
plasminogen activator (uPA) and uPA receptor.". Department of Pathology, Wakayama Medical
University; Han B, Nakamura M, Zhou G, Ishii A, Nakamura A, Bai Y, Mori I, Kakudo K. Diakses
2011-07-16.
25. ^ (Inggris) "Effects of -lipoic acid on cell proliferation and apoptosis in MDA-MB-231 human
breast cells". Department of Foods and Nutrition, Kookmin University; Lee HS, Na MH, Kim WK.
Diakses 2011-07-14.
26. ^ (Inggris) "alpha-Lipoic acid reduces matrix metalloproteinase activity in MDA-MB-231 human
breast cancer cells.". Department Food Science and Nutrition, Dankook University; Mi Hee Na,
Eun Young Seo, dan Woo Kyoung Kim. Diakses 2011-07-14.
27. ^ [3]
28. ^ Tanaman Herbal Kanker Payudara

Referensi
Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai Kanker payudara
(Indonesia) Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) - Mendiagnosis tahap awal kanker
payudara sendiri, melihat perubahan di hadapan cermin dan melihat perubahan bentuk
payudara dengan cara berbaring.
(Indonesia) Kanker Payudara dan Pengobatan Kanker Payudara - Kumpulan Artikel Kanker
payudara.
(Indonesia) Herbal Kanker dalam Pengobatan Kanker Payudara
(Indonesia) Kanker Payudara - Penjelasan tentang kanker payudara oleh ibu lusa
(Indonesia) Rumah Kanker: Cara Deteksi Dini Kanker Payudara
(Inggris) Breast tumour angiogenesis
(Inggris) Stromal Effects on Mammary Gland Development and Breast Cancer
Terapi Herbal kanker Payudara