Anda di halaman 1dari 19

Uji Potensi Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea Indica) sebagai Antimikroba terhadap Bakteri Escherichia coli secara in vitro

Soemarno*, Endang Asmaningsih**, Andreas Rendra***

ABSTRAK

Rendra, Andreas. 2011. Uji Potensi Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea Indica) sebagai Antimikroba terhadap Bakteri Escherichia coli secara in vitro. Tugas Akhir, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Pembimbing: (1) Prof. Dr. dr. Soemarno, DMM, SpMK (2) dr. Endang Asmaningsih, MS

Escherichia coli merupakan bakteri batang Gram negatif dari famili Enterobacteriaceae yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia. Daun Beluntas (Pluchea Indica) diketahui memiliki bahan-bahan aktif yang mempunyai efek antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek antimikroba ekstrak daun beluntas terhadap Escherichia coli secara in vitro. Studi eksperimental menggunakan the post test only control group design dilakukan terhadap Escherichia coli dengan metode dilusi tabung dan dilusi agar. Kelompok perlakuan yaitu kelompok bakteri yang diberi ekstrak daun beluntas dengan konsentrasi ekstrak 10%; 8%; 6%; 4%; dan 2%. Kelompok kontrol yaitu kelompok bakteri yang tidak diberi ekstrak atau konsentrasi 0 mg/ml. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa KBM adalah 10%. Analisis data menunjukkan perbedaan bermakna antara konsentrasi ekstrak dengan jumlah koloni yang tumbuh pada kelompok sampel (Anova, p < 0,05). Uji korelasi regresi menunjukkan adanya hubungan yang erat antara konsentrasi ekstrak dengan jumlah koloni yang tumbuh (Korelasi, r = -0,930; p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun beluntas memiliki efek antimikroba terhadap Escherichia coli dengan KBM adalah 10%. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui KHM dan bahan aktif yang terkandung dalam ekstrak daun beluntas.

Kata kunci: Escherichia coli, ekstrak daun Pluchea Indica, antimikroba

*

Laboratorium Mikrobiologi FKUB

**

Laboratorium Anatomi FKUB

*** Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKUB

Potential Test of Indian Marsh Fleabane Leaf’s (Pluchea Indica) Ethanol Extract as an Antimicrobial against Escherichia coli in vitro

Soemarno*, Endang Asmaningsih**, Andreas Rendra***

ABSTRACT

Rendra, Andreas. 2011. Potential Test of Indian Marsh Fleabane Leaf’s (Pluchea Indica) Ethanol Extract as an Antimicrobial against Escherichia coli in vitro. Final Assignment, Medical Faculty Brawijaya University. Supervisors: (1) Prof. Dr. dr. Soemarno, DMM, SpMK (2) dr. dr. Endang Asmaningsih, MS

Escherichia coli is a gram-negative bacteria stems from the family Enterobacteriaceae that can cause various diseases in humans. Indian Marsh Fleabane’s leaf (Pluchea Indica) is known to have active ingredients that have antimicrobial effects. This experiment aims to prove the antimicrobial effects of Indian Marsh Fleabane’s leaves extract against Escherichia coli in vitro. An experimental study using the post test only control group design carried out against Escherichia coli by tube dilution method and the agar dilution method. Treatment groups are groups of bacteria that were given Indian Marsh Fleabane’s leaves extract with the concentration 10%, 8%, 6%, 4%, dan 2%. The control group is a group of bacteria that were not given the extract or concentration 0%. Research results showed that the minimum killed concentration was 10%. Data analysis shows significant differences between the concentration of the extract with the number of colonies grown on sample groups (ANOVA, p <0.05). Regression correlation test showed there was a relationship between the concentration of the extract with the number of colonies that grew (correlation, r = -0.930, p <0.05). The conclusion of this research is Indian Marsh Fleabane’s leaves extract has antimicrobial effect against Escherichia coli with minimum killed concentration is 10%. Further research is needed to examine whether minimum inhibitory concentration and the active ingredients contained in the extract of Indian Marsh Fleabane leaves.

Keywords:

Escherichia

coli,

antimicrobial.

Indian

Marsh

*

Laboratorium Mikrobiologi FKUB

**

Laboratorium Anatomi FKUB

Fleabane

leaf’s

ethanol

extract,

*** Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKUB

LATAR BELAKANG

Sepanjang sejarahnya, umat

manusia

terpaksa

menghadapi

ancaman

terhadap

kelangsungan

hidupnya,

antara

berjangkitnya

lain

berupa

penyakit-penyakit

infeksi.

Kini

penyakit

infeksi

merupakan

penyebab

kematian

ketiga di dunia (Putin, 2006).

Dewasa ini penyakit infeksi

masih

menempati

penyebab

masalah

urutan

teratas

kesehatan

di

negara-negara

termasuk

berkembang

Indonesia.

Infeksi

merupakan masalah penting dalam

pelayanan kesehatan, sebab angka

kejadian infeksi yang tinggi berkaitan

erat

dengan

morbiditas

dan

mortalitas.

Infeksi

saluran

kemih

(ISK) merupakan infeksi terbanyak

kedua setelah infeksi saluran nafas.

Infeksi

saluran

kemih

dapat

menyerang pasien dari segala usia

mulai

bayi

hingga

orang

dewasa.

Salah satu penyebab ISK ini adalah

flora

normal

saluran

cerna

yaitu

Escherichia

coli.

Escherichia

coli

merupakan salah satu bakteri yang

termasuk

dalam

famili

Enterobacteriaceae. Selain sebagai

penyebab ISK, Escherichia coli juga

dapat

menyebabkan

neonatal

meningitis,

gastroenteritis,

pneumonia,

selulitis,

dan

penyakit

infeksi lain (Todar, 2002).

Escherichia

coli

merupakan

mikroba komensal dan patogen yang

penting yang hidup dalam saluran

pencernaan

manusia

maupun

hewan.

Bakteri ini telah diketahui

menunjukkan

resistensi

terhadap

beberapa

antibiotik. Hal

ini

dapat

menjadi

sumber

penyebaran

resistensi

yang

penting

pada

patogen lain dari manusia ataupun

hewan.

Gen resistensi dari bakteri

yang

telah

resisten

terhadap

antibiotik tersebut dapat disebarkan

melalui

feses

manusia

ataupun

hewan

ke

organisme

lain

di

lingkungan.

Menanggapi

 

masalah

resistensi

tersebut,

yang

berarti

dapat meningkatkan mortalitas dan

METODE PENELITIAN

morbiditas,

diperlukan

suatu

Desain

penelitian

yang

pengobatan

alternatif

tanpa

digunakan

adalah

penelitian

menggunakan

antibiotik

kimiawi

eksperimental

laboratorik

yaitu

yaitu

dengan

kandungan

bahan

memanfaatkan

aktif

yang

terdapat

pada

tumbuhan

(Anonymus, 2008).

(herbal)

Daun Beluntas adalah salah

satu

dari

digunakan

ribuan

tanaman

yang

masyarakat

Indonesia

terutama di daerah pedesaan dalam

menyembuhkan beberapa penyakit,

seperti gangguan pencernaan pada

anak-anak

dan

mencret

darah.

Selain itu daun beluntas dipercaya

dapat

menghilangkan

bau

badan,

dengan

pengulangan,

pengambilan

sampel

randomisasi

dan

juga

adanya control bakteri dan bahan.

Penelitian ini dilakukan untuk melihat

efek antimikroba dari ekstrak etanol

daun

beluntas

terhadap

bakteri

(Pluchea

indica)

Escherichia

coli

secara in-vitro yang terdiri dari dua

tahap untuk menemukan KHM dan

KBM nya.

Penelitian

ini menggunakan

dosis ekstrak daun beluntas 10%,

8%, 6%, 4%, 2%, dan 0% sebagai

bau

mulut,

dan

dapat

kontrol kuman. Dosis tertinggi 10%

menyembuhkan

luka.

Kandungan

ditentukan

berdasarkan

penelitian

kimia daun beluntas seperti alkaloid,

flavonoid,

tanin,

minyak

atsiri,

phenolic, asam chlorogenik, natrium,

kalsium,

magnesium,

dan

fosfor

pendahuluan yang telah dilakukan

sebanyak 3 kali, dimana pada 10%

dosis

ekstrak

daun

beluntas

pertumbuhan kuman pada NAP tidak

diperkirakan

dapat

mengurangi

ada

sama

sekali.

Selain

kontrol

gejala ataupun mencegah penyakit

kuman,

juga

digunakan

kontrol

diatas (Dalimartha, 1999).

bahan baik pada uji dilusi tabung

maupun pada penggunaan medium

NAP.

Kontrol

kuman

dan

kontrol

Kadar bunuh minimal (KBM)

bahan

digunakan

sebagai

ekstrak

daun

beluntas

terhadap

pembanding

perlakuan

bahan

uji

bakteri

Escherichia

coli

pada

terhadap bakteri uji. Kontrol bahan

penelitian

ini

diperoleh

pada

dan

kontrol

bakteri

diuji

konsentrasi

bahan

ekstrak

10%.

menggunakan

dilusi

tabung

dan

Dimana setelah diinkubasi selama

distreaking pada Nutrient Agar Plate

(NAP).

hasil

Kontrol bahan menunjukkan

tidak

didapatkannya

kuman

18-24

jam

tidak

pertumbuhan

didapatkan

lagi

koloni

bakteri

Escherichia coli pada Natrium Agar

pada NAP sedangkan kontrol bakteri

Plate

(NAP)

dengan

konsentrasi

terdapat banyak sekali bakteri pada

ekstrak

10%

pada

tiga

kali

NAP.

pengulangan.

Dengan

 

Kadar

hambat

minimal

didapatkannya

nilai

KBM

berarti

(KHM) dapat ditentukan dengan cara

melihat perubahan kekeruhan pada

masing-masing

tabung

diinkubasi

selama

18-24

setelah

jam.

dapat diketahui bahwa ekstrak daun

beluntas

memiliki

sifat

antibakteri

terhadap bakteri Escherichia coli.

Data

yang

diperoleh

yaitu

Dimana

nilai

KHM

diperoleh

dari

data konsentrasi ekstrak etanol daun

tabung

yang

tidak

menunjukkan

beluntas

(Pluchea

Indica)

dan

kekeruhan (tetap jernih). Akan tetapi,

jumlah koloni bakteri. Analisis data

pada

penelitian

ini

tidak

dapat

menggunakan uji statistik one way

diketahui

besarnya

KHM

secara

Anova, pada taraf kepercayaan 95%

visual

dikarenakan

pada

uji

dilusi

(α<0,05)

menggunakan

fasilitas

tabung

belum

dapat

diamati

SPSS.

Uji

statistik

ini

digunakan

perubahan tingkat kekeruhan pada

untuk

mengetahui

pengaruh

tiap tabung.

 

pemberian

berbagai

macam

 

konsentrasi

ekstrak

etanol

daun

beluntas (Pluchea Indica)

terhadap

jumlah

koloni

bakteri

Escherichia

pada konsentrasi 10%. Berdasarkan

hasil uji pendahuluan tersebut, maka

coli. Sedangkan untuk mengetahui

metode

yang

digunakan

dalam

hubungan

antara

peningkatan

penelitian ini adalah metode Tube

konsentrasi

larutan

dengan

Dilution

dan

konsentrasi

ekstrak

penurunan

jumlah

koloni

bakteri

yang digunakan sebagai perlakuan

digunakan

uji

Regresi

linier

adalah

10%,

8%,

6%,

4%,

2%,

sederhana

dengan

taraf

dengan konsentrasi 100% sebagai

kepercayaan

95%

(Wahana

kontrol bahan (kontrol negatif) dan

Komputer, 2000).

 

0% sebagai kontrol bakteri (kontrol

HASIL PENELITIAN

positif).

Uji

pendahuluan

dilakukan

 

Pengamatan

tingkat

dengan metode Tube Dilution dalam

kekeruhan

ekstrak

daun

beluntas

menguji

efektivitas

ekstrak

daun

untuk menentukan KHM dilakukan

beluntas terhadap Escherichia coli

berdasarkan

pada

penglihatan

secara

in

vitro.

Uji

pendahuluan

dengan

mata

telanjang.

Untuk

dilakukan

dengan

menggunakan

menentukan

nilai

Kadar

Hambat

konsentrasi yang diturunkan secara

serial

(100%,

50%,

25%,

12,5%,

Minimum (KHM) tersebut digunakan

kontrol

bakteri

sebagai

bahan

6,25%, 3,125%, 1,56%, 0%). Hasil

perbandingan

tingkat

kekeruhan.

uji pendahuluan tersebut didapatkan

Tabung

yang

jernih

dengan

nilai

nilai

KBM

sebesar

12,5%.

konsentrasi

ekstrak

terendah

Selanjutnya konsentrasi dirapatkan

menunjukkan

Kadar

Hambat

menjadi 12%, 10%, 8%, 6%, dan

4%. Pada

3

kali pengulangan uji

pendahuluan

didapatkan

bahwa

bakteri

sudah

tidak

tumbuh

pada

Minimum (KHM) dari ekstrak daun

beluntas terhadap Escherichia coli.

Hasil Uji Dilusi Tabung Hasil pengamatan terhadap kekeruhan pada tabung, tidak didapatkan perbedaan

Hasil Uji Dilusi Tabung

Hasil

pengamatan

terhadap

kekeruhan

pada

tabung,

tidak

didapatkan

perbedaan

kekeruhan

antara

tabung

tabung

yang

yang

satu

dengan

lain

sehingga

pada

penelitian ini belum dapat ditentukan

kadar

hambat

minimal

(KHM)

ekstrak

daun

beluntas

terhadap

Escherichia coli.

Kadar bunuh minimal (KBM)

ekstrak

daun

beluntas

terhadap

Escherichia coli pada penelitian ini

dapat ditentukan. Hal ini dapat dilihat

berdasarkan

pengamatan

hasil

streaking

ekstrak

daun

beluntas

pada

NAP,

konsentrasi

dengan

meningkatnya

didapatkan

penurunan

jumlah pertumbuhan Escherichia coli

dan

pada

akhirnya

mulai

tidak

ditemukan sama sekali pertumbuhan

koloni Escherichia coli pada tingkat

konsentrasi 10%. Nilai KBM ekstrak

daun beluntas terhadap Escherichia

coli adalah pada konsentrasi 10%.

KBM ekstrak daun beluntas terhadap Escherichia coli adalah pada konsentrasi 10%. Original Inoculum KK Kontrol bahan

Original Inoculum

KBM ekstrak daun beluntas terhadap Escherichia coli adalah pada konsentrasi 10%. Original Inoculum KK Kontrol bahan

KK

KBM ekstrak daun beluntas terhadap Escherichia coli adalah pada konsentrasi 10%. Original Inoculum KK Kontrol bahan

Kontrol bahan

2% 8% 4% 6% 10% Hasil Inokulasi Bakteri pada Media Padat NAP Hasil perhitungan koloni

2%

2% 8% 4% 6% 10% Hasil Inokulasi Bakteri pada Media Padat NAP Hasil perhitungan koloni kuman

8%

2% 8% 4% 6% 10% Hasil Inokulasi Bakteri pada Media Padat NAP Hasil perhitungan koloni kuman

4%

2% 8% 4% 6% 10% Hasil Inokulasi Bakteri pada Media Padat NAP Hasil perhitungan koloni kuman

6%

2% 8% 4% 6% 10% Hasil Inokulasi Bakteri pada Media Padat NAP Hasil perhitungan koloni kuman

10%

Hasil Inokulasi Bakteri pada Media Padat NAP

Hasil

perhitungan

koloni

kuman pada masing-masing NAP

dapat dilihat pada table di bawah ini.

Hasil Penghitungan Koloni Bakteri yang Tumbuh Pada NAP

No

Konsentrasi

Jumlah koloni bakteri Escherichia

coli (rerata ± standar deviasi)*

1

10% **

0

± 0 a

2

8%

3

± 1 b

3

6%

8

± 2 c

4

4%

32

± 3 d

5

2%

56

± 3 e

Keterangan :

* Notasi yang berbeda menunjukkan ada perbedaan efek dari tiap konsentrasi

* Notasi a menunjukkan konsentrasi ekstrak dengan jumlah koloni bakteri terendah Semakin rendah angka notasi menunjukkan jumlah koloni bakteri semakin besar ** Konsentrasi 10% merupakan konsentrasi terendah yang menempati notasi tertinggi

Menurut data yang terdapat

pada tabel 5.2, dapat dibuat diagram

berbagai konsentrasi ekstrak daun

beluntas

dengan

jumlah

koloni

batang

yang

menunjukkan

Escherichia coli yang tumbuh pada

hubungan

antara

pemberian

medium NAP.

Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas Jumlah koloni Escherichia coli Jumlah koloni Escherichia coli
Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas
Jumlah koloni Escherichia coli
Jumlah koloni Escherichia coli

Diagram Batang Jumlah Koloni Escherichia coli Setelah

Perlakuan dengan Berbagai

Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas

Diagram

batang

pada

10%, 8%, 6%, 4%, dan 2% adalah 0,

gambar

5.4

menunjukkan

adanya

1,

2,

3,

dan

3. Pada

Uji korelasi

penurunan yang berarti pada jumlah

(lampiran 3) menunjukkan semakin

koloni

apabila

konsentrasi

ekstrak

tinggi

konsentrasi

ekstrak

daun

daun

beluntas

meningkat,

dan

beluntas

dapat

menyebabkan

standard deviasi pada konsentrasi

penurunan jumlah koloni Escherichia

coli.

Dan

diperoleh

angka

Analisis

statistik

pada

signifikansi

0,000

(p<0,05),

dasarnya

meliputi

dua

kegiatan,

diperjelas

dengan

nilai

koefisien

yakni uji beda dan uji asosiasi. Uji

korelasi (R) sebesar -0,930 (korelasi

beda

berfungsi

untuk

mengetahui

negative).

perbedaan

rata-rata

antara

Hasil penelitian ini dianalisis

beberapa sampel. Untuk mengetahui

menggunakan

analisis

statistik

alat uji beda yang akan digunakan

SPSS

versi

16.0

untuk

windows.

dalam analisis data potensi ekstrak

Dalam perhitungan hasil penelitian

ini

digunakan

taraf

kepercayaan

daun

beluntas

ini,

maka

perlu

dilakukan uji normalitas data terlebih

95%.

Uji

ANOVA

satu

arah

dahulu.

digunakan untuk mengetahui apakah

 

Tes

Kolmogorov-Smirnov

efek

dosis

ekstrak

daun

beluntas

digunakan untuk mengetahui apakah

terhadap jumlah koloni Escherichia

distribusi

data

normal

atau

tidak.

coli

berbeda secara signifikan. Uji

Distribusi

data

yang

normal

regresi-korelasi

digunakan

untuk

merupakan

salah

satu

syarat

mengetahui

apakah

terdapat

dilakukannya uji ANOVA. Pada uji

hubungan

antara

peningkatan

Kolmogorov-Smirnov diperoleh nilai

konsentrasi ekstrak daun beluntas

signifikansi

 

0,000

(<0.05)

dengan

jumlah

koloni

Escherichia

menunjukkan

distribusi

data

tidak

coli.

normal (lampiran 3). Oleh karena itu,

 

Syarat

agar

dapat

data

yang

ada

ditransformasikan

menggunakan uji parametrik adalah

distribusinya

harus

normal,

distribusinya terbukti normal dengan

nilai p>0,05.

terlebih dahulu untuk menormalkan

distribusi

data

(Dahlan, 2001).

yang

tidak

normal

Pada penelitian ini,

transformasi data dengan fungsi log,

dan pada hasilnya didapatkan nilai

signifikansi

0,051

(lampiran

3).

Hasil uji ANOVA satu arah

Sedangkan

dari

uji

homogenitas

menunjukkan

bahwa

probabilitas

ragam

(Levene

Test)

didapatkan

sama

dengan

0,000;

berarti

p

<

nilai

signifikansi

sebesar

0,383

0,05.

Sehingga

dapat

diketahui

(p>0,05),

sehingga

dapat

bahwa efek perubahan konsentrasi

disimpulkan

bahwa

ragam

data

ekstrak

daun

beluntas

terhadap

relatif homogen (lampiran 3). Karena

jumlah

koloni

Escherichia

coli

data

penelitian

telah

memenuhi

berbeda

secara

signifikan.

Untuk

asumsi data, maka dapat dilakukan

mengetahui

gambaran

interaksi

pengujian dengan analisis statistik

antara

perubahan

konsentrasi

SPSS versi 16 dengan metode One-

ekstrak

terhadap

rata-rata

jumlah

Way ANOVA. Hasil data penelitian

koloni dalam CFU/ml, maka dapat

dapat dilihat pada lampiran dilihat pada kurva berikut: (lampiran 3).
dapat
dilihat
pada
lampiran
dilihat pada kurva berikut:
(lampiran 3).

Grafik Rata-Rata Jumlah Koloni Escherichi coli terhadap Konsentrasi

Ekstrak Daun Beluntas

ANOVA

Hipotesis

dalam

ditentukan

One-Way

pengolahan

data

dengan

melalui

menggunakan

metode

Post

Hoc

pengujian

H 0

dan

H 1.

H 0

dari

penelitian ini adalah tidak ada efek

Test

sebagai

uji

pembandingan

berganda

(multiple

comparisons)

antibakteri antara setiap konsentrasi

untuk

menilai

pada

kelompok

ekstrak

daun

belutas

terhadap

konsentrasi

mana

yang

terdapat

jumlah koloni Escherichia coli yang

perbedaan

bermakna.

Uji

yang

tumbuh pada media NAP. H 1 adalah

terdapat

efek

antibakteri

setiap

konsentrasi ekstrak daun beluntas

digunakan adalah Uji Tukey (Tukey’s

Test) karena mempunyai sensitivitas

cukup tinggi. Metode ini dilakukan

terhadap jumlah koloni Escherichia

dengan

cara

pembandingan

yang

coli yang tumbuh pada media NAP

berganda

terhadap

jumlah

koloni

(kebalikan H 0 ). H 1 ditolak bila nilai

Escherichia coli yang tumbuh pada

signifikansi

yang

diperoleh

>0,05

media

NAP

antara

setiap

sedangkan

H 1

diterima

bila

nilai

konsentrasi ekstrak daun beluntas,

signifikansi

yang

diperoleh

<0,05.

sehingga

dapat

diketahui

adanya

Berdasarkan nilai analisis One-Way

perbedaan

pengaruh

pemberian

ANOVA (Lampiran 3), diperoleh nilai

ekstrak

daun

beluntas

sebagai

signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05)

sehingga

H 1

diterima

dan

dapat

disimpulkan

bahwa

terdapat

perbedaan

efek

antibakteri

setiap

konsentrasi ekstrak daun beluntas

terhadap jumlah koloni Escherichia

coli yang tumbuh pada media NAP.

Setelah

dianalisis

dengan

metode One-Way ANOVA, dilakukan

antibakteri

terhadap

jumlah

koloni

bakteri Escherichia coli yang tumbuh

pada media NAP (lampiran 3).

Hasil

uji

pembandingan

berganda

(Tukey’s

Test)

menunjukkan

bahwa

jumah

koloni

Escherichia coli yang tumbuh pada

media NAP pada konsentrasi 2%,

4%,

6%,

8%

berbeda

signifikan.

Perbandingan

perbedaan

masing-

angka

signifikansi

0,000

(p<0,05).

masing perlakuan dapat dilihat pada

Hal

ini

diperjelas

dengan

nilai

lampiran 3. Dari data tersebut, dapat

koefisien

korelasi

(R)

sebesar

-

dibentuk

urutan

dari

efektivitas

0,930

(korelasi

negative),

yang

setiap konsentrasi terhadap jumlah

berarti

bahwa

terdapat

hubungan

koloni

Escherichia

coli

yang

yang

kuat

antara

konsentrasi

dihasilkan

pada

media

NAP

dari

ekstrak daun beluntas dan jumlah

urutan

yang

paling

tinggi

sampai

dengan jumlah koloni yang paling

rendah.

Analisis korelasi merupakan

analisis

yang

digunakan

dalam

koloni kuman yang tumbuh, dimana

semakin tinggi konsentrasi ekstrak

daun beluntas maka semakin sedikit

jumlah koloni kuman yang tumbuh.

Uji regresi menunjukkan dari

menyelidiki

hubungan

antara

dua

nilai

Adjusted

R

Square

buah

variabel.

Analisis

Regresi

menunjukkan

nilai

sebesar

0,856

merupakan analisis yang bertujuan

atau

85,6%.

Artinya

koloni

untuk

menentukan

model

yang

paling sesuai untuk pasangan data

Escherichia coli dipengaruhi sebesar

85,6% oleh ekstrak daun beluntas,

serta

dapat

digunakan

untuk

sedangkan

sisanya

14,4%

membuat

model

dan

menyelidiki

dipengaruhi

oleh

variabel

lain.

hubungan antara dua variabel atau

Langkah

selanjutnya

adalah

lebih.

melakukan

perhitungan

korelasi

Uji

korelasi

(lampiran

3)

menunjukkan hasil yang bermakna,

untuk

mengukur

ketepatan

garis

regresi dalam

menjelaskan variasi

yaitu

semakin

tinggi

konsentrasi

nilai variabel bebas.

 

ekstrak daun beluntas menyebabkan

 

Persamaan

linier

antara

penurunan jumlah koloni Escherichia

jumlah

koloni

Escherichia

coli

coli.

Hasil

uji

korelasi

diperoleh

dengan

konsentrasi

ekstrak

daun

beluntas bisa didapatkan dari tabel

berbeda-beda

dalam

menghambat

koefisien.

Jika

y

adalah

jumlah

pertumbuhan

bakteri.

Flavonoid

koloni

Escherichia

coli

(dalam

berperan

sebagai

antioksidan,

CFU/ml) dan x adalah konsentrasi

antiinflamasi,

anti

mikrobial,

ekstrak

daun

beluntas,

maka

menurunkan permeabilitas (Berkoff,

persamaannya adalah y = 62,25 –

1998).

Peran

anti

mikroba

terjadi

7,075x.

melalui

mekanisme

hambatan

PEMBAHASAN

sintesa asam nukleat (DNA) bakteri,

Kandungan

kimia

daun

beluntas seperti alkaloid, flavonoid,

tanin, minyak atsiri, phenolic, asam

yang

berakibat

kematian

bakteri

tersebut.

Aktivitas

antimikroba

flavonoid kemungkinan juga terjadi

chlorogenik,

natrium,

kalsium,

karena kemampuan flavonoid untuk

magnesium,

fosfor,

sedangkan

membentuk

kompleks

dengan

akarnya

mengandung

tanin

dan

dinding sel bakteri. Semakin lipofilik

flavonoid.

Efek

antimikroba

daun

flavonoid, maka akan lebih merusak

beluntas

terhadap

bakteri

dinding sel bakteri (Cowan, 1999).

Escherichia

coli

diperkirakan

Phenolic digunakan sebagai

diperankan zat-zat aktif yang larut

dalam ekstrak etanol, sebab metode

ekstraksi

pada

penelitian

ini

menggunakan

pelarut

ekstrak

etanol.

Diperkirakan

zat-zat

yang

larut dalam ekstrak etanol adalah

antibakteri. Derivat fenol, biasanya

phenolic, terdiri dari molekul fenol

yang

berbeda

secara

kimiawi

berfungsi menurunkan kualitas iritasi

atau

meningkatkan

aktivitas

antibakteri pada kombinasi dengan

flavanoid, phenolic, dan tanin.

 

sabun

atau

detergen.

Ohenolic

Bahan-bahan

 

yang

ditekankan

pada

efek

antibakteri,

terkandung

dalam

daun

beluntas

melalui

pengrusakan

membran

tersebut memiliki mekanisme yang

plasma,

inaktifasi

enzim,

dan

denaturasi protein (Tortora, 1982).

Escherichia

coli,

maka

dapat

Phenolic menghambat pertumbuhan

dikatakan

bahwa

daun

beluntas

baik fungsi maupun bakteri dengan

cara

menghambat

enzim

oleh

senyawa teroksidasi melalui reaksi

dengan

gugus

sulfhydryl

atau

melalui interaksi non spesifik dengan

protein mikroba (Cowan, 1999).

Tanin juga menjadi penyerap

terbukti sensitif sebagai antimikroba

terhadap

bakteri

Escherichia

coli.

Hal ini membuktikan bahwa hipotesa

yang

telah

disusun

adalah benar.

Keterbatasan

sebelumnya

penelitian

ini

antara lain pada metode pembuatan

racun

dan

dapat

menggumpulkan

ekstrak

daun

beluntas

ini

masih

protein

essensial

bakteri

(Yuniarti,

Crude” atau kasar, sehingga tidak

1991).

Tanin

diduga

mampu

dapat diketahui secara pasti bahan

menghambat

pertumbuhan

bakteri

aktif

antimikroba

apa

saja

yang

dengan cara menginaktivasi adhesin

terkandung di dalamnya. Selain itu

enzim,

envelope

cell

protein

proporsi

jumlah

bahan

aktif

yang

transport

dan

berikatan

dengan

terkandung di dalamnya juga tidak

polisakarida

dari

mikroba

diketahui

secara

pasti.

Mungkin

(Mateljan,2007)

 

bahan aktif itu bekerja sendiri atau

Dengan

melihat

fakta

hasil

mungin semua bahan aktif bekerja

penelitian yakni adanya penurunan

bersama

dalam

menghambat

jumlah

konsentrasi

bakteri

pertumbuhan

bakteri

Escherichia

Escherichia

coli

seiring

dengan

coli. Kemungkinan yang lain adalah

peningkatan

konsentrasi

perlakuan

adanya variasi biologis dari masing-

yang diperkuat dengan adanya data

bahwa daun beluntas mengandung

masing

daun

beluntas.

Daun

beluntas yang ditanam di daerah X

bahan

aktif

yang

mampu

mungkin efeknya tidak sama dengan

menghambat

pertumbuhan

bakteri

yang ditanam didaerah Y. Faktor lain

yang

mempengaruhi

adalah

penelitian secara in vivo mengenai

lamanya

penyimpanan.

Semakin

dosis

efektif,

toksisitas,

dan

efek

lama disimpan, sensitivitas ekstrak

samping

yang

ditimbulkan

ektsrak

biasanya akan menurun. Akan tetapi

daun

beluntas

pada

hewan

coba

ada

juga

yang

efeknya

justru

yang

nantinya

dapat

diaplikasikan

meningkat. Oleh karena itu, untuk

penelitian-penelitian

selanjutnya

perlu adanya standarisasi, baik dari

pemeilihan bahan yang digunakan

(daun beluntas), alat ekstraksi serta

lamanya

masa

simpan

(jangka

waktu

ekstrak

masih

dapat

digunakan

sebagai

antimikroba)

sehingga

apabila

dilakukan

penelitian yang sama di tempat yang

berbeda akan didapatkan hasil yang

sama.

Aplikasi klinis ekstrak daun

beluntas sebagai antimikroba masih

memerlukan penelitian

berupa

penelitian

in

lebih lanjut

vivo.

Hal

ini

dikarenakan

belum

adanya

penelitian

medis

mengenai

dosis

efektif, toksisitas, dan efek samping

yang

ditimbulkan

ekstrak

daun

beluntas. Dengan dasar hal di atas,

maka

perlu

dilakukan

suatu

pada manusia.

KESIMPULAN

Ekstrak etanol daun beluntas

(pluchea

indica)

memiliki

potensi

sebagai

antimikroba

terhadap

Escherichia

coli

secara

in

vitro.

Dosis

efektif

ekstrak

etanol

daun

beluntas yang dapat menghentikan

pertumbuhan Escherichia coli secara

in

vitro

adalah

10%

(KBM)

dan

semakin besar konsentrasi ekstrak

etanol daun beluntas maka semakin

kecil

pertumbuhan

Escherichia coli .

Daftar Pustaka

bakteri

Anonim. 1993. Standard of ASEAN Herbal Medicine Volume I. Jakarta: Aksara Buana Printing. Anonymous, 2008. Obat-obat Tradisional, (online),http://www.IptekNet.c om/tanamanobat.htm,

diakses 10 November 2009 pukul 20.00 WIB Berkoff, Nancy, 1998, Focus on Flavonoid, http://www.Healthwell.Com/br

eakthrough/sep98/flavonoid.c

fm,

12

November 2009 pukul 19.00 WIB. Cowan MM, 1999. Plant Product as Antimicrobial Agents. Clinical Microbiology Reviews, p:

(online),

diakses

564-582

Dalimartha, S, 1999, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1, Trubus Agriwidya,

Anggota Ikapi, Jakarta. Dart, R. K. 1996. Microbiology for the Analytical Chemist. Cambridge: The Royal Society of Chemistry. p. 41-

48.

Dzen SM, Roekistiningsih, S Santoso, S Winarsih, dan S Murwani. 2003. Bakteriologi Medik, Editor: Sjoekoer M Dzen dkk. Malang:

Bayumedia Publishing Feng, Peter, SD Weagant, and MA Grant. 2007. Enumeration of Escherichia coli and the

Coliform Bacteria, (online).

(http://vm.cfsan.fda.gov/~eba

m/bam-4.html,

diakses

18

November 2009 pukul 21.00 WIB. Finegold S and E Baron, 1998.

Diagnosis Microbiology 7 th Edition. Missouri USA: CV Mosby Company, p: 176 Finegold SM, 1986. Bailey and Scott’s Diagnostic Microbiology 7 th Edition. Baltimore: CV Mosby Company, p: 173-184 Guenther E, 1990, Minyak Atsiri, Jilid III, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, Hal:

52-53

Jawetz E, 1994. Prinsip Kerja Antimikroba. Terjemahan oleh staf dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Jawetz E, JL Melnick, and EA Adelberg, 1996. Batam Gram Negatif Enterik. Rewiew of Medical Microbiology. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Kartzer G, 1998, Indonesia Pluchea,

http://www-ang.kfunigraz.at/-

kartzer/engl/generic-

frame.html?pluch_ind.html,

10

November 2009 pukul 20.20 WIB.

(online),

diakses

Levinson WE and E Jawetz, 1992. Medical Microbiology and Immunology. USA: a Lange

Medical Book Pretice-Hall International Inc, p: 85-91 Mateljen G, 2007, Cinnamon ground, http://whfood.com/genpage.p

hp?tname=foodspice&dbid=6

8,

(online),

diakses

14

November 2009 pukul 18.00. McKane, Larry, J. Kandel. 1986. Microbiology: Essentials And Applications. Singapore:

McGraw-Hill. p. 61-88. Naim R, 2006. Senyawa Antimikroba dari Tanaman Obat, (online). (http://www.kompas.com/kom

pas-cetak,

diakses

18

November 2009 pukul 09.26 WIB. Russo TA, 2001. Disease Caused by Gram Negative Enteric Bacilli. In: Braunwald, (Ed). Harrison’s Principles of Internal Medicine 15 th Edition. New York: McGraw-Hill Companies Inc, p: 953-956 Setiabudi R, 2000. Antimikroba. Farmakologi dan Terapi Edisi

4. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI Theivendirajah. 2008. Escherichia

(online).

(http://www.asgc.ca/Focus/Es

coli,

cherichia%20coli.htm,

diakses

tanggal

16

November 2009 pukul 21.30 WIB. Notobroto, B. Hari. 2005. Penelitian

 

November 2010 pukul 20.00 WIB.

Todar

K,

2002.

Pathogenic

Eksperimental dalam Materi Praktikum Teknik Sampling

Escherichia coli,

(online),

(http://www.textbookofbacteri

dan Perhitungan Besar Sampel Angkatan III. Surabaya : Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. Putin, Vladimir. 2006. Masalah Pendidikan dan Penyakit Infeksi. http://www.litbang.depkes.go.

id/aktual/kliping/vladimir0903

ology.net/Escherichia

coli

.html, diakses 20 November 2009 pukul 20.30 WIB. Tortora GJ, 1982, Microbiology An Introduction, Benjamin / Cumming Publishing Company Inc, USA. Tortora GJ, BR Funke, CL Case, 2001. Microbiology an Introduction 7 th Edition. New York: Addison Wesley Longman Inc, p: 163-165

06.htm. Diakses tanggal 16

University of Texas - Houston

Medical School. 1995. The

Bacterial Cell Wall. (Online).

(http://DPALM

Medic/00001438.htm,

diakses 1 Mei 2007).

Wahana Komputer, 2000.

Pengolahan Data Statistik

dengan SPSS 16.

Yogyakarta: Andi Offset

Winsor, K Donald dan Thomas G

Cleary. 2000. Nelson Ilmu

Kesehatan Anak, edisi 15,

editor: Richard E Behrman et.

al., editor bahasa Indonesia:

Samik Wahab. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Yuniarti P., 1991, Pengaruh

Antibakteri Ekstrak Daun

Jambu Biji (P.guajava L)

Terhadap Staphylococcus

aureus dan Escherichia coli,

Fak.Farmasi Universitas

Gajah Mada, Yogyakarta.

Menyetujui,

Pembimbing I

Prof. Dr. dr. Sumarno, DMM, SpMK NIP. 19480706 198002 1 001