Anda di halaman 1dari 4

Koreksi insisivus sentral atas dengan rotasi parah menggunakan whip

device
Abstrak
Tujuan: Tujuan laporan kasus ini yaitu untuk memperkenalkan piranti yang dapat digunakan
untuk mengoreksi rotasi parah gigi anterior pada anak pra-remaja.
Desain piranti dan pengujian: Ini merupakan laporan kasus anak laki-laki Iran berusia 11
tahun dengan gigi bercampur maloklusi kelas I dengan adanya rotasi parah insisivus sentral
kiri atas dan mesiodens di antara kedua insisivus sentral. Gigi supernumerari diekstraksi lebih
dahulu, kemudian dipasang whip device yang terdiri dari piranti lepasan, spring cantilever
dan bonded tube pada gigi yang rotasi. Setelah 8 bulan, insisivus sentral kiri atas diatur secara
ortodontik ke posisi yang tepat. Dilakukan circumferential supracrestal fibrotomi setelah
overkoreksi gigi dan seminggu setelah pembedahan, alat dilepaskan dan dimulai tahap
retensi.
Kesimpulan: dengan whip device, piranti lepasan dapat sangat efektif untuk mengoreksi
rotasi parah gigi anterior.
Pendahuluan
Gigi supernumerari merupakan gigi tambahan yang tumbuh sebagai tambahan pada jumlah
gigi yang tetap. Ini berasal dari gangguan petumbuhan saat odontogenesis. Terdapat bukti
bahwa faktor keturunan dan lingkungan menyebabkan kondisi ini.
Mesiodens merupakan gigi supernumerari biasa, yang sering berbentuk seperti pasak yang
sering muncul di antara insisivus sentral. Mesiodens lebih sering terjadi pada gigi permanen
daripada gigi sulung dan insidensi munculnya antara 0 - 1,9% untuk gigi sulung dan antara
0,15 - 3,8% pada gigi permanen. Mesiodens sering menyebabkan tertahannya gigi insisivus
permanen yang akan erupsi spontan setelah ekstraksi gigi supernumerari, jika terdapat ruang
yang cukup di lengkung rahang dan jika gigi tersebut masih menyimpan kekuatan erupsinya.
Sebagai tambahan, mesiodens dapat menghambat atau mencegah erupsi insisivus sentral pada
26 52% kasus, menyebabkan erupsi ektopik, pergeseran atau rotasi insisivus sentral pada
28 63% kasus, pergeseran ke labial insisivus pada 82% kasus. Komplikasi yang paling
jarang terjadi yang mengenai insisivus permanen meliputi dilaserai akar, resorpsi akar dan
kehilangan vitalitas gigi. Kehilangan ruang dan pergeseran midline insisivus sentral dapat
pula terjadi, karena insisivus lateral akan erupsi dan dapat bergeser ke mesial pada daerah
tengah. Karena itu, penundaan perawatan dapat menyebabkan kebutuhan penanganan
pembedahan dan ortodontik yang lebih kompleks.
Rotasi gigi, yang merupakan efek samping paling sering mesiodens, diartikan sebagai
pergeseran gigi intra-alveolar ke mesiolingual atau distolingual di sekitar aksis
longitudinalnya.
Rotasi insisivus sentral atas dapat dikoreksi dengan piranti ortodontik lepasan dan tekanan
minimal, tapi rotasi parah, rotasi gigi lain, dan rotasi lebih dari satu gigi dapat dikoreksi
dengan menggunakan piranti cekat. Banyak rotasi gigi yang berhubungan dengan pergeseran
apikal dan akan sulit dikoreksi dengan piranti lepasan.
Tujuan laporan kasus ini yaitu memperkenalkan piranti cekat-lepasan yang dapat diberikan
bagi pasien dengan rotasi parah gigi anterior.
Desain Piranti
Alat terdiri dari piranti ortodontik lepasan, spring cantilever (Whip) dan bonded tube. Piranti
lepasan terdiri dari basis plat akrilik, bite plane posterior, klamer circumferential pada
kaninus atas sulung dan molar satu atas permanen, serta klamer Adams pada molar dua atas
sulung (Gambar 1).
Semua klamer terbuat dari kawat stainless steel 28 mil (0,7 mm) (Dentaurum, Germany),
kecuali kawat 24 mil (0,6 mm) yang digunakan untuk klamer kaninus.
Dalam mendesain piranti lepasan, kami tidak meletakkan klamer Adams pada molar satu
permanen karena daya pegasnya yang berlebihan dan berkurangnya kekuatan whip spring
akibat bertambahnya panjang kawat. Karena itu, untuk menghindari kelainan bentuk whip
spring, kami membuat klamer Adams pada molar dua atas sulung.
Di sisi lain, bonded tube molar satu bawah (standard edge wise, 18 mil tube slot, Dentaurum,
Germany) dibonding langsung pada permukaan labial gigi yang mengalami rotasi dengan
komposit self-cure (Master Dent, UK).
Whip spring dibuat dengan membengkokkan loop vertikal menghadap ke atas dan langsung
membengkokkannya menghadap ke bawah pada kawat stainless steel 14 mil pada salah satu
ujungnya (Gambar 2).
Ujung mesial spring dimasukkan ke tube slot dan dibengkokkan ke arah gingiva, kemudian
kait yang berada di ujung distal kawat disambungkan pada bagian jembatan (crossbar) dari
klamer Adams pada molar dua atas sulung.
Laporan Kasus
Anak Iran berusia 11 tahun datang ke Fakultas kedokteran gigi Mashhad University of
Medical Sciences dengan keluhan utama rotasi parah gigi anterior atas. Riwayat medis anak
tidak berkaitan. Profil wajah cembung. Pemeriksaan klinis menunjukkan simetri wajah yang
baik dan bibir kompeten saat posisi istirahat. Pemeriksaan intraoral menunjukkan maloklusi
kelas I dengan rotasi parah pada insisivus sentral kiri atas akibat gigi supernumerari yang
berada di antara insisivus sentral (Gambar 3).
Pola skeletal kelas I tanpa displasia vertikal dipastikan dengan pemeriksaan sefalometri dan
tidak terdapat kelainan arah transversal pada pemeriksaan rongga mulut. Kebersihan mulut
buruk yang ditandai dengan gingivitis ringan. Foto radiografi memastikan adanya mesiodens
dan rotasi parah insisivus sentral kiri atas.
Pertama-tama, mesiodens diekstraksi oleh dokter bedah dalam anestesi lokal, dan setelah 10
hari, diambil cetakan alginat rahang atas. Piranti lepasan yang didesain dan dibuat dijelaskan
pada pasien. Bonded tube diletakkan pada permukaan labial gigi rotasi seperti yang
direncanakan. Whip spring dibuat dan dipasangkan. Ujung mesial kawat dibelokkan ke
bawah dengan cara biasa, untuk mencegah kawat terlepas (Gambar 4). Untuk melindungi
mukosa bukal dari iritasi akibat kawat panjang yang tidak di-bracket (ruang dari tube
insisivus sentral atas sampai molar dua sulung), pasien diinstruksikan untuk memakai piranti
tersebut setiap waktu dan tidak melepasnya bahkan saat makan.
Anak itu datang untuk penyesuaian ortodontik setiap empat minggu. Setelah 8 bulan
mekanika ini, insisivus sentral kiri atas mengalami reposisi ke posisi normalnya (Gambar 5).
Setelah over koreksi gigi selesai, dilakukan circumferential supracrestal fibrotomi oleh dokter
perio untuk mencegah relaps.
Satu minggu setelah fibrotomi, piranti dilepaskan dan retensi dimulai dengan retainer
modifikasi Hawley dengan penghalang akrilik di labial bow. Pada saat pelepasan piranti,
gambaran radiografi dan intra oral anak tersebut sesuai dengan gambaran yang biasa
ditemukan pada anak seusianya.
Diskusi
Gigi supernumerari merupakan kelainan odontogenesis yang relatif sering terjadi pada rongga
mulut dengan ciri-ciri jumlah gigi yang berlebihan. Istilah meisodens digunakan untuk
menunjukkan gigi supernumerari di bagian tengah premaksila antara dua insisivus sentral.
Komplikasi yang berhubungan dengan mesiodens meliputi: kurangnya erupsi gigi permanen,
penyimpangan jalur erupsi, rotasi, absorpsi gigi, nekrosis pulpa dengan kehilangan vitalitas
dan diastema. Beberapa perawatan klinis telah diajukan dalam literatur untuk mengoreksi
malposisi gigi yang disebabkan oleh mesiodens.
Piranti cekat umum untuk perawatan gigi bercampur yaitu susunan 2 * 4 (2 band molar, 4
bonded insisivus). Saat piranti cekat hanya terdiri dari beberapa gigi, panjang kawat rahang
lebih panjang, momen besar mudah dibuat, dan kawat tersebut lebih elastis dan kurang kuat.
Karena gigi permanen yang ada berkumpul di daerah anterior (insisivus) dan posterior
(molar), piranti cekat sederhana yang digunakan pada gigi bercampur dapat menjadi rumit
untuk digunakan dengan tepat. Sebagai tambahan, dengan hanya molar pertama yang tersedia
sebagai penjangkar di daerah posterior rahang, kontrol penjangkaran sulit dan lebih kritis.
Untuk anak dalam periode gigi bercampur dengan rotasi parah insisivus sentral, piranti whip
memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:
1. Memecahkan masalah gigi bercampur
2. Kontrol penjangkaran kurang kritis
3. Sistem tekanan relatif sederhana
4. Penanganan kebersihan mulut lebih mudah
5. Kooperatif pasien kurang kritis
Terakhir, yaitu karena ketidaknyamanan pasien saat dia melepas piranti lepasan dari mulut,
karena pada keadaan ini, ujung distal whip spring masuk ke dalam mukosa bukal.
Gigi rotasi yang telah dirawat memiliki kecenderungan yang besar untuk relaps, sehingga
gigi tersebut harus di-overkoreksi jika memungkinkan dan dipasang retainer full time selama
paling kurang 6 bulan. Piranti whip merupakan piranti cekat-lepasan yang dapat mengoreksi
secara efisien rotasi parah gigi anterior, seperti insisivus sentral atas dalam jangka waktu
yang pendek.
Gambar 1. Desain piranti ortodontik lepasan pada whip device
Gambar 2. Desain spring whip
Gambar 3. Pemeriksaan wajah dan intraoral pasien sebelum perawatan
Gambar 4. Whip device yang terdiri dari spring whip, bonded tube, dan piranti lepasan
Gambar 5. Foto wajah dan intraoral pasien setelah 8 bulan