Anda di halaman 1dari 34

Obat oral

Kapsul : dalam bentuk cair, bubuk atau


minyak dengan dibungkus gelatin
Kaplet : Bentuk dosis padat seperti kapsul
dan bersalut sehingga mudah ditelan
Elixir : Larutan manis berbau harum dari
alkohol yang dipakai untuk
campuran/penghantar obat
Emulsion :suspensi dengan campuran
minyak


Enteric Coated(tablet): obat diabsorpsi lebih bai di
intestin dibandingkan di lambung, dimana obat
mungkin akan dapat mengiritasi lambung
Lozenge(tablet isap): obat dalam bentuk datar,
padat/oval yang lumat sewaktu ditaruh di
mulut & mengandung citarasa gula
Powder : obat yang ditumbuk halus
Suspensi : obat dalam bentuk cair, dimana
sebelum diberikan harus dikocok dahulu karena
terpisah antara cairan dan bubuknya.



Larutan : preparat cairan yang digunakan per oral,
perenteral atau secara eksternal dapat juga
dimasukan kedalam organ atau rongga tubuh
Supositoria : bentuk padat dicampur dengan gelatin
dan dibentuk dalam bentuk peluru u/ dimasukan ke
dalam rongga tubuh (rektum & vagina), meleleh saat
mencapai suhu tubuh,melepas obat untuk diabsorbsi


Syrup : obat yang terbagi dalam gula dan air/obat
manis
Tablet : obat bubuk yang dipadatkan dalam
bentuk lempengan atau lonjong
Tincture : larutan air atau alkohol yang
mengandung obat, terbuat dari
tumbuh2 an
Pil : bentuk padat berisi satu atau lebih
obat, dibentuk ke dlm bentuk tetesan ,
lonjong atau bujur

Obat Topikal
Krim : semi padat digunakan di kulit
Gel/Jell : obat semi padat yang jernih dan
tembus cahaya yang mencair sewaktu
dioleskan di kulit
Liniment : Cairan berminyak digunakan di kulit
Lotion : Cairan emoli yang jernih dipakai
di kulit
Ointment : obat yang terdiri dari minyak dengan
bentuk semi padat untuk penggunaan
ekternal
Pasta : obat dalam bentuk seperti ointment
tetapi lebih tebal dan lengket
Transdermal Patch : obat dalam bentuk patch
(tambalan) yang diberikan di kulit

Usia
Pada orang usia lanjut dan bayi sangat
responsif terhadap obat
Orang usia lanjut dapat terjadi perubahan
terhadap respon obat karena adanya
gangguan liver atau kardiovaskuler
Bayi sangat responsif terhadap obat karena
mekanisme metabolik dan ekskresi yang
belum sempurna akibat liver dan ginjal yang
belum matang
Pemberian Obat Per Oral
Merupakan cara yang paling mudah, murah,
aman dan nyaman bagi pasien
Berbagai bentuk obat dapat diberikan secara
oral baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul
atau puyer
Untuk membantu absorbsi, pemberian obat
peroral dapat disertai pemberian air setengah
gelas atau cairan yang lain


Kelemahan pemberian obat peroral adlh pada aksinya
yang lambat sehingga cara ini tidak dapat dipakai pada
keadaan gawat
Obat yang diberikan peroral biasanya membutuhkan
waktu 30 45 menit sebelum diabsorbsi dan efek
puncaknya dicapai setelah 1 sampai dengan 1 jam
Rasa dan bau obat yang tidak enak sering juga
mengganggu pasien.
Klien umumnya lebih memilih rute oral


Pemberian Secara Sublingual

Pemberian dgn cara ini yaitu obat diletakkan di
bawah lidah, kmd larut dan mudah diabsorpsi
Dengan cara ini aksi obat > cepat yaitu setelah
hancur di bawah lidah maka obat akan segera
mengalami absorbsi ke dalam pembuluh darah
Klien tidak boleh minum sampai seluruh obat larut
Obat yang sering diberikan dengan cara ini yaitu
Nitrogliserin vasodilator yang mempunyai efek
vasodilatasi pembuluh darah
Obat ini sering digunakan pd klien dgn nyeri dada
akibat angina pektoris
Pemberian Secara Bukal

Dilakukan dgn menempatkan obat padat di membran
mukosa pipi sampai obat larut
Klien diajarkan u/ menempatkan dosis obat secara
bergantian di pipi kanan dan kiri supaya mukosa tidak
iritasi
Klien diperingatkan u/tidak mengunyah/menelan obat
atau minum air bersama obat.
Obat bukal beraksi secara lokal pd mukosa atau secara
sistemik ketika obat ditelan dalam saliva

Pemberian Obat Secara Parenteral
Intra Muskular (IM)
pemberian obat mel injeksi pada otot dgn sudut 90
Lokasi tubuh yang sering digunakan pada injeksi
intramuskuler antara lain : deltoid, dorso gluteal,
ventrogluteal, vastus lateralis
Intra Vena (IV)
obat dimasukkan ke dlm vena sehingga obat langsung
masuk sistem sirkulasi yg menyebabkan obat dapat
beraksi >cepat dibanding dengan cara enteral atau
parenteral yg lain yg memerlukan waktu absorbsi.
Jalur vena biasanya digunakan khususnya untuk tujuan
agar obat yang diberikan


Intra Kutan (IC) / Intra dermal (ID)
Injeksi intra cutan atau intra dermal merupakan
injeksi yang ditusukkan pada lapisan dermis atau
dibawah epidermis/permukaan kulit dengan sudut
injeksi 15 30
Injeksi ini dilakukan secara terbatas, karena hanya
sejumlah kecil obat yang dapat dimasukkan
Cara ini lazim digunakan untuk test tuberkulin dan
test alergi.

Sub Kutan (SC)
Injeksi subkutan diberikan dengan menusuk area
dibawah kulit dengan sudut 45 yaitu pada
jaringan konektif atau lemak dibawah kulit
Setiap jaringan subkutan dapat dipakai untuk area
injeksi ini, yang lazim adalah pada lengan atas
bagian luar, paha bagian depan
Area lain yang dapat digunakan adalah perut, area
skapula, ventrogluteal dan dorsogluteal
Jenis obat yang lazim diberikan adalah vaksin,
obat-obat preoperasi, narkotik, insulin dan
heparin.

Epidural

Obat diberikan didalam ruang epidural via kateter yg
telah dipasang o perawat anestesi atau ahli anestesi
Teknik pemberian obat paling sering digunakan untuk
memberikan analgesik pascaoperasi
Dapat diberikan dalam bentuk bolus atau melalui infus
kontinue
Intra Tecal

pemberian obat-obatan dengan melalui tulang
belakang (vertebra).
Biasanya digunakan unt mengetahui/mendiagnosa
meningitis, pemberian obat untuk meningitis dan
obat bius
Pemberian intra tekal berhubungan dengan
pemberian obat jangka panjang mel kateter yg
dipasang melalui pembedahan
Intra Seosa
Memasukan obat langsung ke dalam sumsum
tulang biasanya tulang tibia
Paling sering digunakan pada bayi dan todler
yang akses pembuluh darahnya buruk
Digunakan pada kondisi kedaruratan dan
akses IV tidak mungkin dilakukan
Intra Peritoneal
Obat diberikan kedalam rongga peritoneum

obat diabsorpsi kedalam sirkulasi
Biasanya diberikan pada kemoterapi dan antibiotik
Dialisis peritoneum juga diberikan dengan cara ini
Intra Pleura
Obat dimasukkan melalui injeksi/selang dada ke
dalam dinding dada dan langsung ke dalam ruang pleura
Paling sering digunakan untuk kemoterapi
U/ membantu mengatasi efusi pleura persisten
Intra arteri

Obat dimasukkan langsung kedalam arteri
Infus intraarteri dilakukan pada klien yg didalam
arterinya terdapat bekuan

Pemberian Obat Topikal

Obat yang diberikan melalui kulit dan membran
mukosa pada prinsipnya menimbulkan efek lokal
Obat topikal ini dapat diberikan sekurang-kurangnya
24 jam sampai tujuh hari.
Pemberian cairan langsung (mis : meminta klien u/
berkumur, mengusap tenggorok)
Insersi obat ke dalam rongga tubuh (mis :
menempatkan supositoria pada rektum/vagina atau
menginsersi paket obat ke dalam vagina)


Instilasi pemasukan lambat cairan kedalam
rongga tubuh mis :memasukan tetes
telinga, tetes hidung,dan memasukkan
cairan kedalam kandung kemih dan rektum
Irigasi mencuci bersih rongga tubuh mis :
membilas mata, telinga, vagina, kandung
kemih atau rektum dengan obat cair.

Penyemprotan (mis : memasukkan obat kedalam
hidung dan tenggorok)
Pemberian Obat Secara Inhalasi

Inhalasi nasal
Obat diinhalasi melalui hidung menggunakan sebuah alat yang
menghantar obat berupa semprotan
fenilefrin menghasilkan efek lokal vasokonstriksi
Obat lain yang diberikan dengan cara ini anestesi lokal,
steroid dan oksigen
Inhalasi Oral
paling sering digunakan u/ menghantar obat ke sel target atau
organisme ke parenkim paru
obat selalu dihantar oleh alat yang dipegang di tangan klien

Obat yang diberikan menggunakan inhaler yang di
pegang di tangan disebar melalui sebuah semprot
aerosol, uap atau bubuk yang masuk ke saluran udara di
paru
Metered Dose Inhalers (MDI) memfasilitasi
pengantaran obat ke parenkim paru
Obat untuk mengatasi infeksi paru (Pneumocystis
carinii) diberikan dalam bentuk obat yang
dinebulisasi.


nuhun