Anda di halaman 1dari 3

1

Nama : Ernatalia Sari


NIM : 125020300111001

PERTANYAAN MENGENAI TRAKSAKSI DERIVATIF

Transaksi SWAP
Pertanyaan :
PT A melakukan transaksi Swap Currency US Dolar dengan Rupiah
dengan ABC Corp. Ltd. dari Amerika. Apabila kita setuju untuk menjual sejumlah
Rp. 1 Milyar setara dengan USD 100.000 yang akan jatuh tempo tgl 31 Des 2008,
dari transaksi ini disepakati bahwa US$ 1 = Rp. 10.000., dari transaksi ini kita
harus membayar premium Rp. 100 juta.
Pada tanggal 31 Desember 08, ternyata US$ 1 = Rp. 11.000, berarti kita
harus membayar Rp. 1.1 Milyar yang berarti kita loss 0.1 M.
Atas penghasilan premium yang diterima oleh ABC Corp. Ltd sebesar Rp.
100 juta sudah kita potong PPh 26 nya, sedangkan atas penghasilan mereka Rp.
0.1 M ini apakah terutang PPh 26 atau tidak?
Jawaban :
Berdasarkan, UU no 36 tahun 2008, bahwa setiap transaksi derivatif itu
akan dikenakan Pajak atas premi yang dibayarkan untuk transaksi derivatif dalam
negeri masuk PPh Final 4 (2), sedangkan luar negeri PPh Pasal 26. Transaksi
dengan perusahaan asing biasanya dengan menggunakan valuta asing, bagi
perusahaan ABC corp tidak memperhitungkan berapa yang dibayar Rupiah oleh
PT.A, tetapi yang ABC corp tahu adalah berpa usd yang PT A. bayarkan ke ABC
corp, sehingga PT A. tidak perlu memotong PPH ABC corp yang 0,1 M, karena
0,1 M yang dibayar oleh PT.A adalah selisih kurs.




2

Traksaksi FUTURES (Kontrak Berjangka)
Pertanyaan :
Apakah kerugian dari semua transaksi derifatif tidak dapat dijadikan pengurang
penghasilan kena pajak? jelaskan!
Jawaban :
Tidak, karena yang tidak dapat dikurangkan dari PKP adalah hanya kerugian yang
berasal dari transaksi future yang diperdagangkan di bursa berjangka. Hal ini
dikarenakan yang bisa dijadikan pengurang PKP adalah penghasilan yang tidak
dikenakan tarif PPh final, sedangkan menurut pasal 6 ayat 1 UU PPh pengenaan
PPh final untuk transaksi derivatif hanya berlaku untuk transaksi yang berbentuk
future yang diperdagangkan di bursa berjangka, sedangkan untuk bentuk derivatif
yang lain yaitu forward, opsi, dan swap tidak dikenakan PPh final sehingga
berlaku ketentuan umum
Transaksi FORWARD (Kontrak Serah)
Pertanyaan :
Bagaimanakah perlakuan pajak atas transaksi forward sales?
Jawaban :
Premi "forward sales" valuta asing seperti yang dimaksud adalah obyek Pajak
Penghasilan bagi pihak yang menerima atau memperolehnya. Penghitungan dan
pelunasan PPh atas penghasilan berupa premi tersebut di atas dilakukan oleh
Wajib Pajak melalui sistem "self assessment"' yaitu dengan menjumlahkan
penghasilan berupa premi tersebut dengan penghasilan lainnya dalam Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan (SPT Tahunan PPh) untuk tahun pajak
yang bersangkutan dengan tarif sesuai ketentuan dalam Pasal 17 UU PPh 1984.
Premi "forward sales" valuta asing yang merupakan satu paket dengan
penempatan deposito berjangka oleh nasabah yang sama pada Bank yang sama
adalah obyek Pajak Penghasilan dan termasuk dalam pengertian bunga deposito
berjangka. Pengenaan Pajak Penghasilannya diperlakukan sama dengan Pajak
Penghasilan atas bunga deposito berjangka sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 74 Tahun 1991, Keputusan Menteri Keuangan Nomor
: 1287/KMK.04/1991, tanggal 31 Desember 1991dan penegasan dalam Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-02/PJ.43/1992 tanggal 6 Januari
1992, yaitu :
3

dipotong PPh sebesar 15% (lima belas persen) yang bersifat final, dalam hal premi
forward sales tersebut dibayarkan kepada WP dalam negeri perseorangan atau WP
dalam negeri yang berbentuk organisasi yang semata-mata melakukan kegiatan di
bidang keagamaan, sosial atau politik, Korpri, organisasi pegawai negeri sipil dan
ABRI serta organisasi serikat pekerja;
dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15 % (lima belas persen) dan tidak bersifat final,
dalam hal premi forward sales tersebut dibayarkan kepada WP dalam negeri
badan selain organisasi tersebut pada huruf a;
dipotong PPh Pasal 26 sebesar 20 % (dua puluh persen) atau sesuai tarif yang
ditetapkan dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (PPPB) dalam hal
premi forward sales tersebut dibayarkan kepada WP luar negeri.

Transaksi OPTIONS (OPSI)
Pertanyaan :
Pada tanggal 1 Januari 2001, perusahaan memberi stock option kepada
karyawannya di Indonesia untuk membeli saham perusahaan induk yang telah
masuk bursa di luar negeri dalam jangka waktu sampai 30 Juni 2001 pada harga
tertentu. Harga patokan saham sebesar US$ 40. Harga pasar saham pada tanggal
30 Juni 2001 adalah US$ 60. Pada tanggal 30 September 2001, karyawan menjual
saham pada harga US$ 70. Bagaimanakah perlakuan pajak nya??
Jawaban :
1. Karyawan akan memperoleh spread sebesar US$ 20 (US$ 60 - US$ 40),
yang diperlakukan sebagai bonus dan merupakan objek PPh 21/26.
2. Perusahaan boleh membebankan bonus tersebut sebagai pengurang
penghasilan bruto pada tahun hak atas stock option tersebut digunakan.
3. Karyawan harus membayar pajak atas laba sebesar US$ 10, yaitu selisih
antara harga jual (US$70) dengan harga pasar saham (US$ 60)