Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
KEWIRAUSAHAAN

1. Definisi Kewirausahaan
Wirausahawan (enterpreuneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil
resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil
risiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut
atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Kegiatan wirausaha dapat dilakukan
seorang diri atau berkelompok. Seorang wirausahawan dalam pikirannya selalu
berusaha mencari, memanfaatkan, serta menciptakan peluang usaha yang dapat
memberikan keuntungan. Risiko kerugian merupakan hal biasa karena mereka
memegang prinsip bahwa faktor kerugian pasti ada. Bahkan, semakin besar risiko
kerugian yang bakal dihadapi, semakin besar pula peluang keuntungan yang dapat
diraih.
Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih
menantang untuk mencapai kesuksesan atau kegagalan ketimbang usaha yang kurang
menantang. Oleh sebab itu, wirausaha kurang menyukai risiko yang terlalu rendah
atau terlalu tinggi. Risiko yang terlalu rendah akan memperoleh sukses yang relatif
rendah. Sebaliknya, risiko yang terlalu tinggi kemungkinan memperoleh sukses yang
tinggi, tetapi dengan kegagalan yang sangat tinggi.
Dengan demikian, keberanian untuk menanggungrisiko yang menjadi nilai
kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang penuh perhitungan dan realistik.
Kepuasan yang besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya
secara realistik. Situasi risiko kecil dan tinggi dihindari karena sumber kepuasan tidak
mungkin didapat pada masing-masing situsasi ini. Artinya, wirausaha menyukai
tantangan yang sukar namun dapat dicapai (Geoffrey G Meredith, 1996:37).

Peter F. Drucker mengatakan bahwa kewirausahaan merupakan kemampuan
dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengertian ini mengandung
maksud bahwa seorang wirausahawan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk
2

menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain. Atau mampu menciptakan
sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.
Sementara itu, Zimmerer mengartikan kewirausahaan sebagai suatu proses
penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan
peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha). Artinya, untuk menciptakan sesuatu
diperlukan suatu kreativitas dan jiwa inovator yang tinggi. Seseorang yang memiliki
kreativitas dan jiwa inovator tentu berpikir untuk mencari atau menciptakan peluang
yang baru agar lebih baik dari sebelumnya.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan
merupakan suatu kemampuan dalam hal menciptakan kegiatan usaha. Kemampuan
menciptakan memerlukan adanya kreativitas dan inovasi yang terus-menerus untuk
menemukan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada sebelumya, yang pada
akhirnya mampu memberikan konstribusi bagi masyarakat banyak.

1.1 Kepemimpinan dalam Berwirausaha

Unsur-unsur penting kewiraswastaan/berkewirausahaan, antara lain adalah sikap
mental, kepemimpinan, manajemen, dan keterampilan. Kepemimpinan adalah salah
satu unsur penting dalam berwirausaha. Kepemimpinan yang bururk dapat membuat
perusahaan bangkrut. Banyak pemimpin yang bersikap dan bermental juragan dimana
anak buah dipandang sebagai faktor produksi bukan sebagai asset.
Karakteristik wirausaha mengenai kepemimpinan wirausaha yang meliputi
pembahasan mengenai keberanian untuk bertindak, dapat membangun tim yang baik,
memiliki pikiran dan jiwa besar, berani mengambil resiko, memiliki mentor, memiliki
pikiran yang terbuka dan kepercayaan diri.





3






























MOTIVASI
BERPRESTASI
Pekerja keras
Tidak menyerah
Semangat
Komitmen
ORIENTASI
KEDEPAN
Visioner
Berpikir Positif
Pengetahuan
KARAKTER
WIRAUSAH
A
JARINGAN
USAHA
Jaringan Kerja
Banyak Teman
Kerja sama
MENGAHADAPI
PERUBAHAN
Berpikir Kritis
Menyenangkan
Proaktif
Kreatif
Inovatif
Efisien
Produkti
Orisinil
KEPEMIMPINAN
Keberanian
Bertindak
Tim yang Baik
Berjiwa Besar
Berani Mengambil
Resiko
Having Mentor
Terbuka
Kepercayaan
4

BAB II
KEPEMIMPINAN

2.1 Definisi Kepemimpinan
Kata pemimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur
dan menunjukkan ataupun memengaruhi. Jadi dalam kata pimpin termuat dua unsur
pokok, yaitu subjek sebagai unsur pemimpin dan objek sebagai unsur yang dipimpin.
Selain itu kepemimpinan adalah kemmapuan seseorang untuk memengaruhi orang
lain atau sekelompok orang ke arah tercapainya tujuan organisasi yang telah
disepakati bersama sebelumnya. Dalam kaitannya dengan organisasi atau suatu
kegiatan usaha, kata pemimpin mengacu pada posisi seseorang yang secara formal
memiliki status tertentu melalui pemilihan, pengangkatan, keturunan, revolusi atau
dengan cara lain. Menurut Stephen P. Robbins (2001), seorang pemimpin harus
menguasai teori karekter kepemimpinan, yaitu teori yang berkaitan dengan mencari
karakter kepribadian, sosial, fisik atau intelektual yang membedakan pemimpin dan
bukan pemimpin.
Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan (Leadership) adalah kemampuan,
proses atau fungsi yang digunakan dalam memengaruhi orang lain untuk berbuat
sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pada suatu kegiatan, kepemimpinan
merupakan upaya membantu diri sendiri dan orang lain mencapai suatu tujuan.
2.2 Kepemimpinan dan Manajemen
Kepemimpinan dan manajemen adalah dua hal yang sering rancu. John kotler
dari havard business school berpendapat bahwa manajemen menyangkut hal yang
mengatasi kerumitan. Manajemen yang baik akan menghasilkan tata tertib dan
konsistensi dengan menyusun rencana formal, merancang struktur organisasi yang
ketat, dan memantau hasil melalui perbandingan dengan rencana. Sedangkan
kepemimpinan menyangkut hal yang mengatasi perubahan, pemimpin menetapkan
arah dengan mengembangkan suatu visi terhadapp masa depan, menyatukan orang
dengan mengomunikasikan visi tersebut, dan mengilhami mereka untuk mengatasi
rintangan.
5

Enam karakter yang cenderung membedakan antara pemimpin dan bukan
pemimpin menurut Stephen p. Robbinds (2001), yaitu
1. Ambisi dan energy
2. Hasrat untuk memimpin
3. Kejujuran dan integritas
4. Kepercayaan diri
5. Kecerdasan
6. Pengetahuan yang relevan dengan pekerjaannya.
Kepemimpinan yang dimaksud disini adalah nilai atau kualitas, bukan
pengetahuan tentang sumber daya manusia. Pemimpin adalah orang yang
menunjukkan arah, keputusannya mantap dan didasari oleh keyakinan diri disertai
data yang akurat.
2.3. Perbedaan Kekuasaan (Power) dengan Kepemimpinan
Kekuasaan (power) adalah kemampuan untuk memengaruhi orang lain,
sehingga orang yang memahami, mempertanggung jawabkan dan mampu berpegang
pada kekuasaanya dia akan menjadi pemimpin yang cerdas dan tegas.
Kekuasaan (Power) dalam hubungan bisnis antara lain sebagai berikut:
1. Coercive Power (kekuasaan memaksa). Dengan kekuasaan memaksanya,
maka seorang pemimpin mampu memerintah setiap anak buahnya dengan
efektif.
2. Rewars power (kekuasaan penghargaan) dengan berbagai penghargaan yang
diberikan kepada anak buahnya, maka kekuasaan dapat dijalankan oleh
pimpinan dan didukung oleh anak buahnya
3. Legitimate power (kekuasaan sah) seorang pemimpin diterima secara legalitas
atau sah sehingga ia memiliki kekuasaan.
4. Expert power (kekuasaan ahli) dengan keahlian atau spesialisasinya, misalnya
seorang profesor maka kekuasaanya bisa diterima disalurkan, dan dijalankan
oleh anak buahnya dengan baik.
5. Referent power (kekuasaan referensi) dengan adanya referens seseorang,
misalnya dari raja, maka yang bersangkutan memiliki kekuasaan untuk
memerintah.
6

2.4 Kunci efektifitas kepemimpinan
Faktor situasional utama (kunci) yang menentukan keefektifan suatu
kepemimpinan menurut Fiedler dalam bukunya (stephen P. 2001) adalah sebagai
berikut
1. Hubungan Pemimpin-Anggota
Hubungan yang berkaitan dengan tingkat keyakinan, kepercayaan dan respek
bawahan terhadap pemimpin mereka
2. Struktur tugas
Tingkat penugasan yang diprosedurkan (yakni struktur dan atau tidak
terstruktur).
D. Unsur-unsur kepemimpinan
Faktor-faktor yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain sebagai
berikut:
1. Kepemimpinan melibatkan orang lain/bawahan
Seorang pemimpin harus dapat merangkul dan menghargai seluruh bawahanya
2. Kepemimpinan menyangkut distribusi kekuasaan
Pendelegasian kekuasaan atau distribusi kekuasaan dari pemimpin kepada
anak buah sesuai dengan tingkatanya sangat mutlak diperlukan jika seorang
pemimpin ingin menjalankan fungsinya dengan efektif dan efisien
3. Kepemimpinan menyangkut penanaman pengaruh dalam rangka mengarahkan
bawahan
Penanaman pengaruh dari pemimpin kepada anak buah akan tercapai apabila
seorang pemimpin mampu memberikan contoh-contoh tindakan yang terpuji.
Misalnya memberikan contoh disiplin. Seorang pemimpin harus datang lebih
awal dalam setiap kesempatan, mulai dari lebih awal masuk kantor, lebih awal
untuk masuk kedalam suatu rapat, atau acara-acara resmi maupun tidak resmi
(formal-nonformal). Dengan disiplin pada acara penting itu, biasanya anak
buah akan sgan dan meneladaninya.




7

2.5 . Pendekatan Utama Kepemimpinan
1. Pendekatan sifat-sifat (traits approach)
Pendekatan sifat-sifat menyatakan bahwa terdapat sifat-sifat tertentu pada
pemimpin antara lain: memiliki kekuatan fisik dan keramahan. Seorang
pemimpin memiliki tingkat intelegensi yang tinggi. Hanya dalam
mengungkapkan siffat-sifat ini seringkali muncul pertentangan sifat seperti
dinyaakan seorang pemimpin harus ramah tapi tegas, suka merenung tapi
kooperatif. Ada sifat kepribadian yang dapat dipandang berhubungan positif
dengan eprilaku pemimpin dan mempuyai kolerasi tinggi ialah popularitas,
keaslian, adaptabilitas, ambisi, ketekunan, status sosial, status ekonomi,
mampu berkomunikasi.
Selanjutnya ada sifat-sifat yang berkaitan positif dengan perilaku pemipin tapi
berkolerasi tidak terlalu tinggi seperti tanggung jawab, inegritas, percaya diri,
mobilitas, keterampilan sosial, sifat-sifat fisik, kelancaran bicara.
Meskipun dikalangan para ahli persyaratan pemimpin belum disepakati
sepenuhnya namun ada sejumlah sifat-sifat kepribadian yang perlu dimiliki
para pemimpin (Andy Undap, 1983:29).
1. Pendidikan umum yang luas, seorang yang brpendidikan akam mempunyai
kemampuan untuk mengembak]ngkan keterampilan kepemimpinan.
2. Kematangan mental, seorang pemimpin harus memiliki kmatangan mental
yang terlihat pada kestabilan emosional, tidak mudah tersinggung, tidak
gampang marah dan sebagainya.
3. Sifat ingin tahu, sifat ini mendorong seorang pemimpin untuk menyelidik,
inovatif dan kreatif.
4. Kemampuan analitis. Seorang pemimpin harus mampu menganalisa
gejala-gejala informasi yang ia terima, sehingga dapat mengambil
keputusan yang positif dan berguna untuk kemajuan bisnisnya.
5. Memiliki daya ingat yang kuat. Seoranng wirausaha akan berhadapan
dengan banyak orang berbagai sifat perilaku sehingga diperlukan
kemampuannya untuk mengingat. Kemampuan mengingat ini akan sangat
membantu proses kepemimpinannya.
6. Integratif. Seorang wirausaha harus memiliki kepribadian terpadu tidak
terpecah-pecah yang membuat dia terombang-ambing. Juga harus
8

memiliki sifat integratif dalam rumah tangganya. Seorang wirausaha harus
memiliki sebuah rumah tangga yang stabil, hubungan yang harmonis
dengan seluruh anggota keluarga terutama isteri dan anaknya. Jangan
mencampur adukan urusan rumah tangga degan urusan bisnis.
7. Keterampilan berkomunikasi. Hal ini sangat diperlukan oleh seorang
wirausaha untuk berkomunikasi dengan lingkungan bisnisnya.
8. Keterampilan mendidik. Seorang wirausaha harus mampu memberi
petunjuk dan mendidik para karyawan dalam beberapa hal yang
berhubungan dengan pekerjaan. Kadang-kadang juga ada hal-hal yang
tidak berhubungan dengan pekerjaan, seperti urusan kesehatan, rumah
tangga dan sebagainya.
9. Rasional dan objektif. Pemikiran pemikiran, kesimpulan dan keputusan
yang diambil oleh seorang wirausaha berlandaskan pada pemikiran-
pemikiran sehat, rasional dan objektif, tidak pilih kasih dan tidak
emosional
10. Prakmatisme. Keputusan kepuuan seorang wirausaha harus dibuat sesuai
dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia. Keputusan jangan
bersifat teoritis sehingga sulit dalam pelaksanaannya
11. Ada naluri prioritas. Berhubung terbatasnya sumber daya yang tersedia
maka seorang wirausaha harus mampu menetapkan skala prioritas apa
yang harus dikerjakan lebih dahulu. Sehingga demikian semua pekerjaan
dan proyek akan dapat berjalan secara bertahap.
12. Pandai mengatur waktu. Seorang wirausha harus mampu bertindak cepat
dan tepat dan mempertimbangkan waktu secara efisien. Dalam segala
langka yang dilakukan seorang wirausaha harus menjaga waktu secara
ketat, misalnya dalam melakukan rapat kerja, saat membeli bahan baku,
memulai produksi, mengangkut produksi ke agen agen, saat pemasaran
yang tepat dan sebagainya
13. Kesederhanaan. Seorang wirausaha harus mampu menampilkan
kesederhanaan dan bekerjadengan efisiensi.
14. Sifat keberanian. Walaupun seorang pemimpin mempunyai banyak
karyawan, akan tetapi hanya beberapa karyawan saja yang dapat di ajak
bicara. Oleh sebab itu harus memiliki keberanian untuk mengambil
keputusan yang mengajak beberapa karyawan inti.
9

15. Kemauan mendengar. Seorang wirausaha harus mampu informasi dan
mendengar apa ide dan keinginan dari para karyawannya. Segala informasi
ini merupakan barang berhaga buat seorang wirausaha untuk mengambil
keputusan.
Pendekatan keperilakuan (Behavioral approach)
Rensis Likert, mengembangkan teori kepemimpinan pada dua dimensi
yaitu orientasi tugas dan orientasi bawahan, yang dijabarkan menjadi empat
tingkat model efektivitas kepemimpinan. Menurut teori ini kempemimpinan
terdiri atas empat sistem yaitu: 1. Exploitative authoritative, 2. Benevolent
authoritative, 3. Consultative, dan 4. Partisipative.
a) Sistem pertama bercirikan tidak ada kepercayaan kepada bawahan.
Pemimpin ini selalu menggunakan ancaman dan hukuman kepada
karyawan.
b) Sistem kedua ada sedikit kepercayaan pada bawahan tetapi hubungan
sepertu seorang tuan dengan budaknya hanya juga masih menggunakan
ancaman dan hukuman dalam pelaksanaan tugas. Komunikasi ada sedikit
terbuka tetapi tetap berdasarkan ketidakpercayaan.
c) Sistem ketiga berdasarkan kepercayaan kepada bawahan tetapi tidak
penuh. Proses pengambilan keputusan untuk hal yang penting tetap berada
ditangan pimpinan, tetapi kepercayaan sudah merupakan dasar
komunikasi.
d) Sistem keempat merupakan sistem yang ideal ada kepercayaan penuh dari
atasan. Percaya diri dan kreativitas karyawan merupakan unsur penting.
Komunikasi sangat terbuka hubungan antar karyawan lancar dan suasana
perusahaan segar dan sehat.

2.6 Keterampilan memimpin
Keterampilan yang harus dimiliki seorang dalam memimpin sebagai beriut
1. Technical skills
Kemampuan untuk melakukan dan atau memahami pekerjaan-pekerjaan yang
bersifat operasional atau teknis sehingga mampu menjadi guru bagi anak
10

buahnya yang tidak memahami operasional atau teknis pekerjaan terutama
pegawai baru
2. Human skills
Kemampuan bekerja sama dengan para bawahan dan membangun tim kerja
dengan pendekatan kemanusiaan. Seorang pemimpin harus belajar bagaimana
melakukan pendekatan kepada anak buah. Sehingga pada saat memberikan
perintah kepada bawahan, bawahan tidak merasa diperintah.
3. Conceptual skills
Kemampuan untuk menyusun konsep atau berfikir dan mengungkapkan
pemikiranya, seorang pemimpin adalah pemegang perubahan sehingga harus
memiliki konsep atau minimal mampu merumuskan misi,visi,strategi,serta
program unggulan yang jelas dan dapat dipahami oleh seluruh bawahannya.

2.7. Sifat-Sifat Yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin
Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin menurut Andy Undap
(1983)adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan umum yang luas, dengan pendidikan umum yang luas maka akan
mudah memecahkan berbagai masalah yang dihadapi
2. Kematangan mental, dengan kematangan mental seorang pemimpin akan
dapat mengendalikan emosinya dalam setiap tindakannya
3. Sifat ingin tahu,dengan sifat ini,seorang pemimpin akan mudah menyesuaikan
diri dengan perubahan yang terjadi
4. Kemampuan analistis, dengan sifat ini, seorang pemimpin akan cepat dan
cermat dalam mengambil keputusan
5. Daya ingat kuat, dengan sifat ini seorang pemimpin akan konsisten dalam
mengatasi segala macam permasalahan
6. Integratif /integritas (terpadu), dengan sifat ini seorang pemimpin akan
mendekati suatu pemecahan masalah dengan berbagai pendekatan secara
terpadu
7. Keterampilan komunikasi, dengan sifat ini pemimpin akan disukai oleh anak
buah dan mudah membentuk jaringan bisnis.
8. Keterampilan mendididk, dengan sifat ini seorang pemimpin akan
meningkatkan kematangan anak buah atau anak mendewasakan dan
memberikan bekal pengetahuan kepada anak buahnya
11

9. Rasional objektif. Dengan sifat ini, seorang pemimpin akan objektif dalam
mengatasi berbagai maslah dan objektif dalam menilai anak buahnya
10. Manajemen waktu, dengan sifat ini seorang pemimpin akan mengatur jadwal
atau waktunya secara efektif dan efisien
11. Berani mengambil resiko, dengan sifat ini seorang pemimpin tidak akan ragu
dalam mengambil keputusan yang strategis, tentunya dengan penuh
pertimbngan dan tetap menekankan pada resiko kecil dengan keuntungan
besar.
12. Ada naluri prioritas, dengan sifat ini seorang pemimpin dapat melakukan
pekerjaan/menjadwalkan pekerjaan sesuai prioritas, tidak sekedar
mempriotritaskan jadwal
13. Efisien dalam bertindak, dengan sifat ini seorang pemimpin akan selalu penuh
perhitungan dalam melakukan aktivitas dengan sifat ini seorang pemimpin
akan selalu penuh perhitungan
14. Haus informasi, dengan sifat ini, seorang pemimpin tidak akan ketinggalan
informasi atau selalu up-to-date dalam pengumpulan informasi dan atau data
untuk mendukung pengambilan keputusan
Sifat-sifat seorang pemimpin menurut Kartini Kartono (1983) adalah sebagai
1. Tipe karismatik, seorang yang memiliki daya tarik atau karisma yang luar
biasa. Contohnya Ir. Soekarno
2. Tipe paternalistis, seperti seorang bapak, menganggap anak buah adalah
anaknya sehingga bawahan kurang diberi kesempatan
3. Tipe militeristis, sistem pemimpin yang lebih cenderung memerintahkan atau
sebagai pemberi komando terhadap anak buahnya
4. Tipe otokratis, kekuasaan dan paksaan dalam memerintah anak buahnya.
5. Tipe laissez faire, pemimpin membiarkan bawahanya bekerja semaunya
sepanjang tujuan perusahaan atau organisasi dapat tercapai.
6. Tipe populis, pemimpin rakyat berpegang pada nilai-nilai tradisional.
7. Tipe administratif, seorang pemimpin yang mampu menyelenggarakan tugas-
tugas administratif secra efektif.
8. Tipe demokratis, seorang pemimpin yang menekankan tanggung jawab dan
kerja sama terhadap anak buahnya. Setiap pendapat dari bawahan selalu
12

diakomodasikan atau diterima dan dijadikan sebagai bahan dalam
pengambilan keputusanm walau sekecil apa pun.
2.8. Sebab-Sebab Munculnya Pemimpin
Ada 3 teori yang menjelaskan bagaiman munculnya pemimpin: (Kartini
Kartono, 1983:29)
1. Teori genetis
Teori ini menyatakan bahwa pemimpin itu sudah ada bakat sejak lahir dan
tidak dapat dibuat. Dia memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin.
Teori ini menganut pandangan deterministis artinya pandangan yang sudah
ditentukan sejak dulu.
2. Teori Sosial
Teori ini menyatakan bahwa seorang pemimpin tidak dilahirkan akan tetapi
seorang calon pemimpin dapat disiapkan dididik dan dibentuk agar dia
menjadi pemimpin yang hebat dikemudikan hari. Setiap orang bisa menjadi
pemimpin melalui pendidikan dan dorongan berbagai pihak.
3. Teori Ekologis atau Sintetis
Teori ini menyatakan bahwa seseorang akan sukses menjadi pemimpin apabila
dia memang memiliki bakat-bakat pemimpin. Kemudian bakat ini
dikembangkan melalui pendidikan dorongan dan pengalaman yang akan
membentuk pribadi sebagai seorang pemimpin.

2.9. Tipe Kepemimpinan
Beberapa tipe kepemimpinan yang dikenal adalah sebagai berikut: (Kartini
Kartono, 1983:69)
1. Tipe kharismatis
Pemimpin kharismatik merupakan kekuatan energi, daya tarik yang luar biasa
yang akan diikuti oleh para pengikutnya. Pemimpin ini mempunyai
keistimewaan tertentu misalnya mempunyai kekuatan gaib, manusia super,
berani, dan sebagainya.
2. Tipe paternalistis dan maternalistis
13

Tipe paternalistis bersikap melindungi bawahan sebagai seorang bapak atau
sebadai seorang ibu yang penuh kasih sayang. Pemimpin tipe ini kurang
memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berinisiatif dan mengambil
keputusan.
3. Tipe militeristis
Tipe militeristis banyak menggunakan sistem perintah, sistem komando dari
atasan ke bawahan sifatnya keras sangat otoriter, menghendaki bawahan agar
selalu patuh, penuh acara formalitas.
4. Tipe Otokratis
Tipe otokratis berdasarkan kepada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus
dipatuhi. Pemimpinannya selalu berperan sebagai pemain tunggal, dia menjadi
raja. Setiap perintah ditetapkan tanpa konsultasi, kekuasaan sangat absolut.
5. Tipe Laissez Faire
Tipe laissez faire ini memberikan bawahan berbuat semaunya sendiri semua
pekerjaan dan tanggung jawab dilakukan oleh bawahan. Pemimpinnya hanya
merupakan simbol yang tidak memiliki keterampilan. Jabatan pemimpin
diperoleh dengan jalan yang tidak benar mungkin melalui sistem nepotisme.
Pemimpin ini tidak berwibawa, tidak mampu mengawasi karyawan tidak
mampu mengkoordinasi, suasana kerja tidak kooperatif.
6. Tipe Populisitis
Tipe populistis ini mampu menjadi pemimpin rakyat. Dia berpegang pada
nilai-nilai masyarakat tradisional.
7. Tipe administratif
Pemimpin tipe administratif ialah pemimpin yang mampu menyelenggarakan
tugas-tigas administrasi secara efektif. Dengan kepemimpinan administratif
diharapkan muncul perkembangan teknis, manajemen modern dan
perkembangan sosial.
8. Tipe Demokratis
Tipe kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan
bimbingan kepadapengikutnya. Tipe ini menekankan pada rasa tanggung
14

jawab dan kerjasama yang baik antar karyawan. Kekuatan organisasi tipe
demokratis terletak pada partisipasi aktif dari setiap karyawan.
2.10. Fokus Kepemimpinan
Pemimpin yang baik ialah pemimpin tiga arah ia berusaha memimpin keatas,
lead up, yaitu mempengaruhi pemimpinnya, dan meringankan beban atasan. Dia
juga memimpin ke samping, lead across, yaitu membantu koleganya untuk mencapai
hal produktif, dan memperoleh rasa saling hormat. Dan seterusnya memimpin ke
bawah, lead down yaitu membantu anak buah untuk menggali potensinya menjadi
contoh peran yang kuat dan membantu orang lain untuk bergabung demi meraih
tujuan yang lebih tinggi. Dalam hal ini tugas pemimpin tidak terbatas pada
memimpin anak buah, tapi juga ke samping dan ke atas.
Seorang pemimpin yang baik tidak akan berkompetisi dengan koleganya
melainkan bekerjasama, hindarkan politik kotor, issu murahan, tapi gunakan
diplomasi, munculkan ide-ide cemerlang, dan hargai teman. Nanti yang terbaik akan
menang. Pemimpin yang berhasil akan selalu mengedepankan kerjasama dalam satu
tim, bukan semuanya dikerjakan sendiri, atau semua bergantung kepada pemimpin,
tidak ada delegasi wewenang bagi bawahan (one man show). Zimmerer menyatakan
pemimpin yang baik building a top management team, not a one person show.
Sifat dan perilaku seseorang pemimpin akan mempengaruhi budaya organisasi dan
iklim organisasi itu sendiri. Inilah yang diungkapkan oleh John Maxwell dalam
(SWA Des.06-Jan.07), tipe kepemimpinan 360 derajat, yaitu yang mampu
memimpin baik ke atas, ke samping maupun ke bawah. Pemimpin yang efektif
dibagian tengah akan memiliki kemungkinan suksesnya lebih besar bila ia
dipromosikan ke tingkat lebih tinggi, karena dia sudah lebih dekat dengan
bawahannya, serta diterima baik oleh koleganya.
2.11. Prinsip dalam kepemimpinan
Prinsip umum dari kepemimpinan yang baik adalah semakin besar perhatian kita
pada karyawan kita, semakin keras mereka bekerja untuk kita. Gaya kepemimpinan
sesuai dengan pemimpinya. Jika benar-benar mementingkan para karyawan kita,
kemungkinan sukses kita lebih besar. Karakter yang harus dimiliki oleh seorang
wirausaha pada jiwa kepemimpinan wirausaha yaitu:
15

1. Keberanian untuk Bertindak ( Dare to Act)
Keberanian untuk bertindak adalah hakikat wirausaha. meskipun senantiasa
dihadang oleh risiko merupakan wujud daripada keberanian menembus ketidakpastian
usaha. Karena itu wiraswasta membutuhkan perhitungan yang cermat, hati-hati, dan
bersifat antisipatif terhadap segala kemungkinan timbulnya risiko yang dimaksud. Kita
sering mendengar ungkapan berani karena benar artinya tidak sepatutnya takut jika
merasa dirinya benar. Seseorang mempunyai kemauan yang dapat dilakukan karena ia
juga mempunyai kemampuan untuk mewujudkanya. Berani mencoba karena mau dan
mampu adalah sebuah motivasi yang kuat dalam mewujudkan hakikat wirausaha yang
merupakan modal utama dan hakiki yaitu keberanian untuk mulai melangkah
berwirausaha. Sejauh mana keberanian seseorang dalam berwirausaha untuk
menembus ketidakpastian, menangkap peluang usaha, siap menghadapi risiko,
mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Kesemuanya adalah sekitar prestasi
seorang wirausahawan sejati yang didasari kesadaran dan pemahaman bahwa dalam
setiap usaha bahkan dalam hidup tidak satupun tidak berisiko, maka seorang
pemimpin wirausaha harus berani bertindak untuk mencapai tujuan.
2. Membangun Tim yang Baik (Good Team Leader)
Target penjualan, biaya operasi, merupakan komitmen pimpinan dan karyawan
perusahaan yang mempunya tugas dan tanggung jawab untuk itu. Dukungan aspek
administratif usaha melekat pada komitmen atas target yang akan dicapai oleh
perusahaan. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, diperlukan kebersamaan langkah
semua karyawan yang dikendalikan oleh pemimpin perusahaan. Kebersamaan
karyawan tersebut mencerminkan keterlibatan dalam kontribusi tenaga dan pikiran
seluruh karyawan perusahaan dalam mewujudkan target perusahaan. Kualitas
kebersamaan karyawan dalam perusahaan, indikatornya adalah terealisasikanya
rencana penjualan dan keuangan, masalah yang timbul mengakibatkan rencana tidak
dapat direalisasi, menjadi tanggung jawab bersama dan ditindaklanjuti dengan
komitmen solusi pemecahanya sekaligus merupakan kebijakan usaha perusahaan.
Kebersamaan intern karyawan yang baik, moral karyawan yang dijabarkan dalam
perwujudan kegiatan para karyawan dalam memenuhi dan melaksanakan tugas serta
tanggung jawab operasional.
3. Berpikir dan Berjiwa Besar
Dengan berpikir dan berjiwa besar, kita akan dengan cepat tiba di tempat yang
kita tuju di dalam hidup ini. keberhasilan bukan ditentukan oleh besarnya otak
16

seseorang melainkan oleh besarnya cara berpikir seseorang. Orang sukses tidak diukur
menurut centimeter, kekayaan, latar belakang keluarga, ataupun gelar akademis
seseorang, melainkan diukur berdasarkan besar kecilnya cara berpikir mereka. Para
ahli banyak memberikan nasihat untuk mengenali diri sendiri terlebih dahulu.
Memang baik jika kita mengenali ketidakmampuan kita dengan tujuan agar dapat
diperbaiki. Akan tetapi jika kita hanya mengenal dari segi negatif diri kita, maka nilai
diri akan semakin kecil.

4. Berani Mengambil Risiko
Risiko itu ada bilamana waktu yang akan datang tidak diketahui. Risiko itu sangat
tidak kita kehendaki, maka tiap orang akan bertindak sebagai risk manager, bukan
karena dipilih tetapi karena terpaksa. Berhubung risiko itu banyak ragamnya, terutama
risiko yang dihadapi oleh business firm dan risiko yng dihadapi oleh keluarga. berikut
jenis risiko:
a. Objective Risk: ialah risiko yang terjadi secara alami yang sama bagi semua orang
dan cara mengatasinya pun sama.
b. Subjective Risk: ialah risiko yang diperkirakan akan terjadi oleh setiap orang
sebagai akibat objective risk.
c. Uncertainty (ketidakpastian): ialah kesadaran orang akan adanya risiko dalam
situasi tertentu tetapi sulit untuk memperkirakan mana dari sekian akibat atau
hasil yang akan terjadi.
d. Reaksi terhadap risiko: ialah reaksi seseorang dalam situasi yang tidak pasti.
Reaksi orang terhadap risiko tidak sama tergantung jenis kelamin, pendidikan,
umur, intelegensi, dan kondisi ekonomi.
Sebagian besar kegiatan manusia mengandung risiko dan ketidakpastian. kerugian
potensial dalam situasi yang mengandung risiko dapat digolongkan ke dalam bidang:
ekonomi, sosial, politik, dan psikologi. Three Classes of Economic Risk:
a. Pure or speculative risk (A.H. Mowbray). Pure risk terjadi bila kemungkinan rugi
ada tetapi kemungkinan yang menguntungkan tidak ada. Speculative risk, timbul
bila kesempatan adanya rugi maupun untung sama-sama ada.
b. Static or dynamic risk (A.H Willet). Static risk selalu dihubungkan dengan
kerugian yang disebabkan irregular actions karena peristiwa alam atau karena
kesalahan dari manusia. Dynamic risk biasanya dihubungkan dengan perubahan
kehendak manusia.
17

c. Fundamental or particular risk (C.A. Kulp). Fundamental risk adalah risiko yang
dihubungkan dengan adanya uncertainty, ketidakcermatan, bencana alam seperti
gempa bumi, dan topan. Particular risk adalah risiko yang sifatnya personal atau
individual yang kadang-kadang dapat dicegah, seperti hilangnya pekerjaan,
kecelakaan atau, kematian, sedangkan fundamental risk sifatnya interpersonal dan
tidak dapat dicegah.
Hidup tanpa resiko dan tanpa uncertainty akan sulit dan tidak menyenangkan.
Sangat senang memang memperkirakan perolehan yang tidak mungkin tercapai, dan
dapat merealisasi perolehan yang sebelumnya dianggap tidak mungkin direlisasi.
Jadi, dalam hidup ini agar lebih berarti selalu harus ada tantangan. Biaya ekonomi
ketidakpastian, timbul karena:
a. Unexpected losses yang betul-betul terjadi
Setiap hari ada saja kerugian yang terjadi dalam bentuk pure risk seperti
kematian karena kecelakaan, kebakaran yang menghancurkan gudang, dan
penderitaan yang disebabkan karena tidak mempunyai pekerjaan. Kerugian ini
ada yang besar dan kecil pengaruhnya. Cost daripada unexpected losses ini
bagi keluarga, bagi perusahaan dapat diperingan dengan penurunan pajak,
pertambahan jaminan sosial yang makin lama makin dirasakan sangat penting,
tetapi kurang mendapat perhatian.
b. Uncertainty itu sendiri, walaupun tidak terjadi kadang-kadang sangat
merisaukan
Risk Management Process terdiri dari lima langkah sebagai berikut:
1. Harus adanya pembinaan prosedur dan komunikasi dalam organisasi secra
baik, supaya dapat menyusun serta menemukan kemungkinan adanya
resiko yang akan terjadi. Menemukan resiko merupakan langkah awal
yang tersulit dalam risk management. Kegagalan dalam mengidentifikasi
risiko yang mungkin terjadi, berarti risk manager tak mempunyai
kesempatan untuk menghadapi resiko dengan cermat dan baik.
2. Setelah melakukan identifikasi pada risk, selanjutnya harus dilakukan
pengukuran terhadap kemungkinan terjadinya kerugian yang disebabkan
oleh risk tersebut. Pengukuran kerugian ini mencakup:
a. Penetapan probilitas pada kerugian yang akan terjadi
b. Penetapan pengaruh terhadap aspek financial perusahaan atau keluarga
18

c. Kemampuan memperkirakan (predicting) kerugian yang mungkin
betul-betul akan terjadi dalam periode budget.
3. Setelah risk ditentukan dan diukur, maka macam-macam, pemecahan/ alat
harus diperkirakan oleh risk manager dan selanjutnya diambil keputusan
mana yang dianggap terbaik dan paling tepat untuk mengatasi masalah.
Untuk masalah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Avoiding the risk (risk avoidance)
b. Reducing the loss (loss reduction)
c. Transfering the risk (risk transfer)
d. Retaining the risk internally (risk retention)
4. Implementasi daripada metode yang telah dipilih. Umpamanya, bila
asuransi telah diplih/diputuskan sebagai jalan keluar, maka harus mulai
dengan menetapkan berapa besarnya asuransi yang akan ditutup
(coverage), mencari rates yang paling sesuai dengan kemampuan dan
perusahaan asuransi mana yang akan kita pilih.
5. Evaluasi terhadap keputusan yang telah diambil, apakah telah tepat atau
belum, apakah perlu diubah atau beralih pada yang lain lagi (metode yang
lain).
Resiko ini di samping ditangani sendiri juga dapat dengan
menyerahkannya kepada pihak lain. Yang baik adalah bila penanganan
resiko ini dilakukan sendiri, juga dilengkapi dengan dari luar. Metode
terbaik yang bebas dari kelemahan dapat dikatakan tidak ada. Risk
Manager harus mengkombinasikan beberapa metode yang dilengkapi
sesuai dengan:
- Sifat usaha yang ditangani
- Ukuran dari perusahaan
- Memerhatikan kemungkinan pemanfaatan para ahli intern perusahaan.
Telah diungkap di atas bahwa usaha manusia itu merupakan sesuatu yang
tidak pasti, artinya sesuatu usaha dapat meraih keberhasilan ataupun
sebaliknya menanggung kegagalan. Menghadapi ketidakpastian ini berarti
setiap melakukan usaha harus tahu, sadar paham benar, dan tiap untuk
melakukan apa yang seharusnya dilakukan apabila ternyata berhasil atau
gagal, yaitu melakukan yang terbaik. Disinilah sasaran berusaha sambil berdoa
sungguh tepat agar usaha kita memperoleh kepastian karena senantiasa
19

memohon petunjuk-nya sehingga insya Allah rida Yang Maha Tahu akan
selalu menyertai usaha kita. Kepastian hanya akan turun (mutlak) beserta rida-
Nya ialah keyakinan yang harus terpatri dalam jiwa setiap wirausahawan.
Bagi wirausahawan, globalisasi tidak perlu terlalu ditakuti secara berlebihan.
Dalam era global nanti yang muncul di hadapan kita adalah sejumlah
tantangan usaha yang harus kita terima dan kita terjemahkan sebagai salah
satu risiko berusaha. Tidak seorang pun yang mampu mengelak dari risiko
dalam hidupnya. Tantangan dan risiko akan menjadi sesuatu yang tidak luar
biasa atau istimewa, manakala kita siap dengan seperangkat wawasan dan
sejumlah relasi, mitra usaha serta kolega yang cukup banyak yang kita peroleh
sebagai hasil dari banyak membaca dan banyak bergaul. Bagi setiap manusia
risiko harus dihadapi dan harus diyakini bahwa dibalik risiko (tantangan)
globalisasi terdapat banyak peluang usaha yang dapat dilakukan.
Peluang usaha pada era globalisasi menjadi terbuka lebar, contoh
paling sederhana misalnya perajin komoditasnya lewat perusahaan ekspor
impor dengan harga yang sangat murah, sedangkan dalam era globalisasi
konsumen luar negeri secara bebas dapat memesan langsung kepada perajin
yang selama ini sangat berjasa bagi pemasukan devisa Negara itu namun
tingkat kesejahteraannya rendah. Dengan pesanan langsung yang telah tentu
harganya pun disesuaikan dengan jerih payah para perajin itu sendiri, maka
perajin rotan tadi dapat memainkan harga yang telah tentu pula berpengaruh
pada tingkat kesejahteraannya, bukankah di balik risiko (kerja keras) itu
terdapat peluang usaha yang dapat mengubah sesuatu yang tidak pasti menjadi
sesuatu yang dapat diperhitungkan mendekati kepastian. Apabila usaha yang
dilakukan dengan perpaduan yang bersifat inovatif dan inisiatif dan mendekati
sasaran berusaha sambil berdoa, maka Yang Maha Pelindung akan senantiasa
meridai usaha kita semua.
Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko menempatkan
salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau
mengambil risiko akan sukar memulai atau berinisiatif. Menurut Angelita S.
Bajaro, seorang wirausaha yang berani menanggung risiko ialah orang yang
selalu ingin jadi pemenang dan memenangkan dengan cara yang baik (Yuyun
wirasasmita, 1994:2). Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-
usaha yang lebih menantang untuk mencapai kesuksesan atau kegagalan
20

ketimbang usaha yang kurang menantang. Oleh sebab itu, wirausaha kurang
menyukai risiko yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Risiko yang terlalu
rendah akan memperoleh sukses yang relatif rendah. Sebaliknya, risiko yang
tinggi kemungkinan memperoleh sukses yang tinggi, tetapi dengan kegagalan
yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, ia akan lebih menyukai risiko yang paling
seimbang (moderat). Dengan demikian, keberanian untuk menanggung risiko
yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang penuh
dengan perhitungan dan realistik. Kepuasan yang besar diperoleh apabila
berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistik. Situasi risiko
kecil dan tinggi dihindari karena sumber kepuasan tidak mungkin didapat pada
masing-masing situasi ini. Artinya, wirausaha menyukai tantangan yang sukar
namun dapat diacapai (Geoffrey G Meredith, 1996:37). Wirausaha
menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada tantangan, dan
menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil. Dalam situasi risiko
dan ketidakpastian inilah, wirausaha mengambil keputusan yang mengandung
potensi kegagalan atau keberhasilan. Pada situasi ini, menurut Meredith
(1996:38), ada dua alternative atau lebih yang harus dipilih, yaitu alternative
yang mengandung risiko dan konservatif. Pilihan terhadap rsisko ini sangat
tergantung pada: (1) daya tarik setiap alternatif; (2) kesediaan untuk rugi; (3)
kemugkinan relatif untuk sukses atau gagal. Untuk dapat memilih, sangat
ditentukan oleh kemampuan wirausaha untuk mengambil risiko. Selanjutnya,
kemampuan untuk mengambil risiko ditentukan oleh: (1) Keyakinan pada diri
sendiri; (2) Kesediaan untuk menggunakan kemampuan dalam mencari
peluang dan kemungkinan untuk memperoleh keuntungan; (3) Kemampuan
untuk menilai situasi risiko secara realistis.
Di atas telah dikemukakan, bahwa pengambil risiko berkaitan dengan
kepercayaan diri sendiri. Artinya, semakin besar keyakinan seorang pada
kemampuan sendiri, semakin besar keyakinan orang tersebut akan
kesanggupan untuk mempengaruhi hasil dan keputusan., dan semakin besar
pula kesediaan seseorang untuk mencoba apa yang menurut orang lain sebagai
risiko (Meredith, 1996:39). Jadi, pengambil risiko lebih menyukai tantangan
dan peluang. Oleh sebab itu, pengambil risiko ditemukan pada orang-orang
yang inovatif dan kreatif yang merupakan bagian terpenting dari perilaku
kewirausahaan.
21

Anak muda sering dikatakan selalu menyenangi tantangan. Mereka
tidak takut mati. Inilah salah satu faktor pendorong anak muda menyenangi
olah raga yang penuh dengan risiko dan tantangan, seperti balap motor di jalan
raya, kebut-kebutan, balap mobil milik orang tuanya, tetapi contoh tersebut
dalam arti negatif. Olahraga berisiko yangh positif ialah panjat tebing,
mendaki gunung, arung jeram, motor cross, karate atau olahraga bela diri.
Ciri-ciri dan watak seperti ini dibawa ke dalam wirausaha yang juga
penuh dengan risiko dan tantangan, seperti persaingan, harga turun naik, dan
barang tidak laku. Namun semua tantangan ini harus dihadapi dengan penuh
perhitungan. Jika perhitungan sudah matang, dengan pertimbangan dari segala
macam segi, maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung kepada-Nya.
Cara pengambilan keputusan menurut ahli kedokteran mutakhir
terdapat perbedaan signifikan antara fungsi otak kiri dan otakl kanan. Otak
kiri, berfungsi menganalisis atau menjawab pertanyaan apa, mengapa, dan
bagaimana. Otak kanan, berfungsi melakukan pemikiran kreatif tanpa
didahului suatu argumentasi. Otak kiri dan otak kanan senantiasa digunakan
secara bersama-sama. Setiap orang akan berbeda tekanan pemakaian kedua
otak itu. Ada yang cenderung didominasi otak kiri dan sebaliknya ada yang
didominasi oleh oleh otak kanan. Pendapat ini diungkapkan oleh Roger Sperd,
pada 1981, dia mendapat hadiah Nobel atas pembuktiannya tentang teori otak
terpisah ini (Carol Kinsey Goman, 1991: 36). Secara umum dari 95% orang
yang menggunakan tangan kanan (tidak kidal), bagian kiri otak tidak hanya
mengendalikan bagian kanan tubuhnya tetapi juga melakukan pemikiran yang
analitis, linier, verbal dan rasional. Fungsi otak kirilah yang bekerja apabila
kita membuat neraca pembekuan, mengingat nama dan tanggal, atau
penyusunan tujuan, dan sasaran. Bagian otak kanan mengendalikan bagian kiri
tubuh manusia dan bersifat holistic, imajinatif, nonverbal, dan artistic. Apabila
kita mengingat kembali wajah orang, perasaan indahnya musik, atau
membahayakan sesuatu, berarti kita memfungsikan otak sebelah kanan. Proses
yang terjadi pada otak sebelah kanan kurang mendapat pengembangan dalam
dunia pendidikan.
Masa depan organisasi ditentukan oleh keputusan kita. Pada umumnya
semakin penting keputusan yang kita ambil, semakin sedikit informasi relevan
yang tersedia. Data kuantitatif biasanya tersedia untuk mengambil keputusan
22

rutin; tetapi fakta dan angka kerap tidak berarti bagi keputusan tingkat puncak
yang mempengaruhi masa depan organisasi.
Dalam perusahaan besar, manajemen senior biasanya mengambil
keputusan data dan dokumentasi perusahaan yang terdapat dalam survey,
laporan, dan anjungan komite. Informasi ini, biasanya telah dihimpun dengan
cara yang baku, sesuai dengan teknik-teknik pemecahan persoalan. Sebuah
persoalan utama dapat dibagi-bagi sehingga sebagian daripadanya dapat
dipecahkan dengan segera. Biasanya karena ada kebutuhan mendesak yang
hasilnya cukup pasti. Biasanya keputusan dicapai melalui prosedur tetap ,
yang dimengerti dengan baik oleh manajemen, dan mungkin ini hasil
musyawarah karena banyak orang yang bersedia memikul tanggung jawab
pribadi atas keputusan tadi.
5. Having Mentor
Seorang mentor dapat mendorong aktivitas entrepreneurial adalah semangat dan
kebebasan untuk mandiri dalam mendirikan usaha baru sehingga dimensi otonomi ini
merupakan bagian sangat penting dari orientasi entrepreneurial. Guna menjaga
dimensi otonomi agar tetap kuat, para entrepreneur haru bekerja pada lingkungan
budaya yang mampu mendukung mereka untuk bertindak secara bebas (otonom) guna
menjaga kendali terhadap pekerja/karyawan serta mencari semua peluang tanpa
hambatan yang kreatif dari masyarakat.
Ketika mempersiapkan diri menjadi seorang wirausaha, ada beberapa faktor
penentu yang perlu kita geluti. Perhatikan bahwa sekarang kita tidak terlalu
tergantung kepada pembeli sesaat atau hanya sekali-sekali dan jarang. Kedua, waktu
juga sangat menentukan. Untuk usaha awal, usahakan semua barang atau jasa kita
bertahan lama. Kalau belum laku, masih bisa disimpan untuk besok atau waktu
kemudian akan dijual kembali. Perencanaan akan membantu mengarahkan kita
menuju tujuan kita.
Kadang tidak dapat dipungkiri, bahwa faktor yang paling menentukan sehingga
kita dapat bertindak bijaksana dan memiliki perasaan bisnis mendalam adalah
perlunya pengalaman. Pengalaman kita dapat dari usaha kita sebagai wiraswasta, atau
kita pernah bekerja pada seseorang atau beberapa orang wiraswasta. Pengalaman
23

adalah guru terbaik, tetapi pengalaman kita sendiri merupakan biaya yang paling
mahal yang harus kita bayar. Dengan pengalaman yang gagal kemudian bangkit,
gagal dan bangkit itu lebih baik. Selain membuat kita lebih bijaksana, ini juga akan
membuat kita lebih tahan banting. Lebih baik mencari pengalaman dari pekerjaan,
sehingga pada suatu saat kita telah memiliki modal dalam arti uang dan modal dalam
arti sikap mental kita. Mungkin akan gagal, tetapi tidaklah separah kegagalan dan
kerugian yang akan kita hadapi kalau kita sendiri memulainya dari awal.
Saat pendirian usaha mungkin kita tangani sendiri segala sesuatunya, tetapi
berbarengan dengan keberhasilan kita tentu usaha kita akan semakin besar. Pada saat
tertentu kita harus membutuhkan bantuan orang lain untuk mengerjakan beberapa
pekerjaan yang selama ini kita tangani. Pada saat itu juga kita membutuhkan suatu
pengetahuan dan keterampilan baru yaitu manajemen. Untuk itu kita perlu
mempersiapkan diri untuk mengerti dan mampu menerapkan ilmu manajemen dan
mungkin manajemen versi kita sendiri. Namun jika kemampuan kita dan karyawan
masih terbatas, maka kita perlu menggunakan mentor atau orang yang akan
membimbing dan membina untuk mengembangkan usaha kita baik dalam bidang
teknis, maupun manajemen usaha. Hal ini diperlukan dalam upaya mengantisipasi dan
merespons adanya perubahan dan perkembangan teknologi dan preferensi konsumen
yang senantiasa berubah.
6. Pikiran Yang Terbuka
Orang yang terbuka terhadap pengalaman baru akan lebih siap untuk merespons
segala peluang, dan tanggap terhadap tantangan dan perubahan sosial, misalnya dalam
mengubah sekitar hidupnya. Orang yang terbuka terhadap ide-ide baru inilah
merupakan wirausaha yang inovatif dan kreatif yang ditemukan dalam jiwa
kewirausahaan. Menurut Yurgen Kocka (1975), Pandangan yang luas dinamik dan
kesediaan untuk pembaruan, dapat lebih cepat berkembang dalam lapangan industri,
tidak lepas dari suatu latar belakang pendidikan dan pengalaman perjalanan yang
banyak (Yuyun Wirasasmita, 1982:44).
Dalam konteks ini juga didapati suatu perpaduan yang nyata antara usaha
perdangan yang sistematis rasional dan kemampuan bereaksi terhadap kesempatan
yand didasari keberanian berusaha. Wirausaha adalah kepribadian unggul yang
24

mencerminkan budi yang luhur dan suatu sifat yang patut diteladani, karena atas dasar
kemampuannya sendiri dapat melahirkan sesuatu sumbangsih dan karya untuk
kemajuan kemanusiaan yang berlandaskan kebenaran dan kebaikan. Ada tiga hal yang
sangat penting:
a. Pikiran-pikiran kita merupakan alat-alat yang paling berharga untuk mencapai
masa depan yang sukses dan berhasil, karena segala perbuatan kita yang penting,
dan juga gagasan kita terjadi dalam sanubari dan jiwa kita. Berpikir dahulu baru
bertindak. Jika kita mengatakan tentang sesuatu: Saya akan memikirkannya
dahulu, berarti bahwa kita dalam kesunyian jiwa dan roh kita ingin
menumbuhkan perbuatan, niat dan cita-cita kita yang sebaik-baiknya. Oleh karena
itulah, kita harus mulai dengan pikiran jika kita mau membentuk gagasan yang
membangun. Kita harus belajar membimbing dan mengarahkan pikiran kita
kepada suatu tujuan yang jelas dan tegas.
b. Membimbing tenaga dan mengarahkan secara sadar. Banyak orang telah
melakukannya dengan hasil yang baik meskipun kesempatan mereka tidak lebih
baik daripada kita. Maka cobalah dan hasilnya akan meyakinkan kita. Jika kita
meresapkan hail itu sebaik-baiknya, dan kita membimbing ke jurusan yang benar,
maka lambat laun akan terbuka suatu daerah luas tak terbatas yang penuh dengan
kesempatan yang meyakinkan.
c. Makin hebat perkembangan pikiran kita dan makin baik kita gunakan, maka
makin banyak sukses dan hasil yang diperoleh.
Dalam menggapai keberhasilan usaha pikiran kita harus terbuka untuk
memperoleh masukan dan kritik dari berbagai pihak. Masukan dan kritik ini sebagai
bahan koreksi, evaluasi, dan perbaikan atas langkah yang harus diambil dan sebagai
bahan untuk pengambilan keputusan.
7. Kepercayaan (Trusted)
Kepercayaan diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam
menghadapi tugas atau pekerjaan (Soesarsono Wijandi, 1988: 33). Dalam praktik
sikap dan kepercayaan diri merupakan sikap dan keyakinan untuk memulai,
melakukan, dan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang dihadapi. Oleh sebab
itu, kepercayaan diri memiliki nilai keyakinan, optimism, individualitas, dan
25

ketidaktergantungan. Seseorang yang memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk
mencapai keberhasilan (Zimmerer, 1996:7).
Kepercayaan diri ini bersifat internal pribadi seseorang yang sangat relatif dan
dinamis, dan banyak ditentukan oleh kemampuannya untuk memulai, melaksanan,
dan menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang yang percaya diri memiliki kemampuan
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sistematism berencana, efektif, dan efisien.
Kepercayaan diri juga selalu ditunjukkan oleh ketenangan, ketekunan, kegairahan,
dan kemantapan dalam melakukan pekerjaan.
Percaya diri bukan berarti seluruhnya kegiatan berdasarkan kemampuan diri atau
dilakukan sendiri, melainkan dapat mengevaluasi kekuatan dan kelemahan diri,
dengan demikian dapat menentukan kemampuan guna melakukan sendiri dan terus
belajar agar kemampuan dirinya meningkat, sehingga kelemahan yang ada dapat
dikurangi. Keberanian tinggi dalam mengambil risiko dan perhitungan matang yang
dibarengi dengan optimism, harus disesuaikan dengan kepercayaan diri. Oleh sebab
itu, optimism dan keberanian mengambil risiko dalam menghadapi suatu tantangan
dipengaruhi oleh kepercayaan diri. Kepercayaan diri juga ditentukan oleh
kemandirian dan kemampuan sendiri. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang
tinggi, relatif lebih mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah sendiri tanpa
menunggu bantuan orang lain.
Kepercayaan diri baik langsung maupun tidak langsung memengaruhi sikap
mental seseorang. Gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan,
semangat kerja keras, kegairahan berkarya, dan sebagainya banyak dipengaruhi oleh
tingkat kepercayaan diri seseorang yang berbaur dengan pengetahuan keterampilan
dan kewaspadaannya (Soesarsono Wijandi, 1988:37). Kepercayaan diri merupakan
kekuatan yang kuat untuk meningkatkan karsa dan karya seseorang. Sebaliknya,
setiap karya yang dihasilkan akan menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri.
Kreativitas, inisiatif, kegairahan kerja, dan ketekunan akan banyak mendorong
seseorang untuk mencapai karya yang memberikan kepuasan batin, yang kemudian
akan mempertebal kepercayaan diri. Pada gilirannya, orang yang memiliki
kepercayaan diri akan memiliki kemampuan untuk bekerja sendiri dalam
mengorganisasi, mengawasi, dan meraihnya (the ability embrace) (Soeparman
Sumahamidjaja, 1997:12). Kunci keberhasilan dalam bisnis adalah untuk memahami
26

diri sendiri. Oleh sebab itu. Wirausaha yang sukses ialah wirausaha yang mandiri dan
percaya diri (Yuyun Wirasasmita, 1994:2)
Sifat-sfat utama diatas dimulai dari pribadi yang mantap, tidak mudah terombang-
ambing oleh pendapat dan saran orang lain. Akan tetapi, saran-saran orang lain jangan
ditolak mentah-mentah, pakai itu sebagai masukan harus dipertimbangkan, kemudian
kita harus memutuskan segera. Kita harus optimis, orang optimis asal tidak ngawur,
Insya Allah bisnisnya akan lancar.
Orang yang tinggi percaya dirinya ialah orang yang telah matang jasmani dan
rohaninya. Pribadi semacam ini ialah pribadi yang independen dan sudah mencapai
tingkat kematangan. Karakteristik kematangan seseorang adalah ia tidak tergantung
pada orang lain, dia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, objektif, dan kritis.
Dia tidak begitu saja menyerap pendapat atau opini orang lain, tetapi dia
mempertimbangkan secara kritis. Emosionalnya boleh dikatakan sudah stabil, tidak
gampang tersinggung dan naik pitam. Juga tingkat sosialnya tinggi, mau menolong
orang lain, dan yang paling tinggi lagi ialah kedekatannya dengan khalik sang
pencipta Allah SWT.
Pribadi yang menarik bukan berarti penampilan tubuh dan wajah yang elok atau
paras cantik. Akan tetapi, lebih ditekankan pada penampilan perilaku jujur, disiplin.
Banyak orang tertipu dengan rupa nan elok tetapi ternyata orangnya penipu. Ingatlah
pribadi yang baik dan jujur akan disenangi orang di mana-mana dan akan sukses
bekerja sama dengan siapa saja.
Kita harus memiliki keyakinan diri bahwa kita akan sukses melakukan suatu
usaha, jangan ragu, dan bimbang. Berniatlah untuk bekerja baik, kemudian berserah
diri, tawakal kepada Allah SWT. Percaya diri ini diterapkan dalam tindakan sehari-
hari, melangkah pasti, tekun, sabar, tidak ragu-ragu. Setiap hari otaknya selalu
berputar membuat rencana perhitungan alternative. Dia dapat saja menguji buah
pikirannya dengan teman-teman lain, baik yang pro maupun kontra dengan
rencananya.


27

2.12. Efective Leadership
Seorang pemimpin yang efektif sangat dibutuhkan dalam sebuah organisasi
atau usaha. Menurut samuel H. Tirtamihardja (2003) dalam bukunya Pemimpin
adalah Pemimpi (Leaders are Dreamers), seorang pemimpin yang efektif akan
melakukan hal-hal berikut ini.
1. Menciptakan sebuah visi yang sesuai untuk organisasinya
visi yang sesuai akan memberi arah kemana organisasi akan dibawa. Visi
perlu sesuai dengan tujuan didirikannya organisasi atau badan usaha tersebut.
2. Memperkuat dan mendorong semua lapisan organisasinya
Analog dengan mendorong mobil mogok, bila seluruh tenaga atau orang
dikerahkan untuk mendorong kearah yang sama, maka mobil mogok itu dapat
berjalan kembali. Namun, bila didorong oleh mereka ke arah yang saling
berlawanan satu dengan yang lain, maka mobil itu akan diam di tempat.
Implikasinya dalam dunia usaha adalah pemimpin akan gagal bila tidak
didorong oleh setiap orang ke arah yang ditentukannya.
3. Menciptakan suasana perasaan tim untuk merasakan mana yang terpenting
apa yang menjadi prioritas akan mendapat tempat utama agar kita tidak
membuang energi, sumber daya, dan dana yang ada.
4. Membuat kerja sama tim yang baik
Kerja sama tim adalah suatu kekuatan yang luar biasa. Melalui kerja sama,
hasil yang diperoleh akan berlipat ganda.
5. Mengkomunikasikan visi kepada seluruh lapisan organisasi
Tidak ada satu mesin penggerak pun yang perkasa, yang dapat menggerakkan
suatu organisasi menuju kesempurnaan dan kesuksesan jangka panjang
daripada memiliki suatu visi masa depan yang menarik, berharga, dan dapat
dicapai yang dibagikan kepada seluruh jajaran.
6. Menciptakan suatu momen yang tepat (magic moment)
Pemimpin yang efektif akan menciptakan dan mempergunakan suatu momen
yang tepat untuk membuat perubahan yang dibutuhkan oleh organisasi.
7. Menciptakan sikap yang baru dalam perilaku organisasi
Sikap yang berpusat pada suatu tujuan, yakni sikap yang fokus akan membuat
suatu organisasi atau usaha maju pesat.

28


2.13. Penyebab Utama Pemimpin Mengalami Kegagalan Dalam Memimpin
1. Arogansi (Arrogance)
Pemimpin merasa dirinya paling superior dan paling benar, sehingga yang lain
(anak buah) dianggapnya salah semua.
2. Melograma (melogram).
Pemimpin selalu ingin menjadi pusat perhatian.
3. Mudah berubah pendirian (Volatility).
Pemimpin sulit ditebak, sikap selalu berubah setiap saat/situasi.
4. Hati-hati yang berlebihan (Excessive Coution).
Pemimpin takut atau memiliki keraguan yang berlebihan dalam mengambil
suatu keputusan/kebijakan.
5. Kebiasaan berupa ketidakpercayaan (Habitual Distrust).
Pemimpin selalu bersikap penuh curiga dan tidak percaya kepada setiap orang
(anak buahnya)
6. Menjauhkan diri dari orang lain (Aloofness).
Pemimpin sulit dihubungi (cenderung tertutup) dan sulit berkomunikasi
dengan orang lain (menjaga jarak, tertutama dengan anak buahnya) yang
berbeda pendapat atau pernah mengecewakannya.
7. Kejahatan-kenakalan (Mischievousness).
Peraruran atau sistem dibuat dan ditetapkan untuk dilanggar (oleh anak buah
dan dirinya sendiri) tanpa adanya tindakan yang tegas.
8. Keanehan-kesintingan (Eccentricity).
Pemimpin selalu ingin tampil berbeda sehingga kadangkala dianggap aneh.
9. Berdaya tahan pasif (Passive Resistance).
Pemimpin tidak yakin dengan apa yang dikatakan dan mempertahankan apa
yang diucapkan.
10 Perfeksionisme atau terlalu ingin segalanya sempurna (Perfectionism).
Pemimpin mengganggap mayoritas tindakan anak buah/atau karyawannya
salah, hanya sedikit yang dianggap benar. Selalu mencari kambing hitam bila
terjadi kesalahan, meskipun kesalahannya sebenarnya adalah kesalahannya
sendiri.
29

11 Hasrat-keinginan untuk menyenangkan hatinya sendiri (Eagrness to
please). Pemimpin mengejar popularitas semata dalam setiap situasi.





















30

BAB III
KESIMPULAN dan Saran

3.1 Kesimpulan
1. Kepemimpinan merupakan keinginan untuk mencapai suatu komunikasi
yang berdampak dan berakibat dalam mempengaruhi tindakan orang lain.
Kempemimpinan adalah kegiatan membujuk orang untuk bekerja sama
dalam pencapaian suatu tujuan.
2. Keberanian untuk bertindak adalah hakikat dalam berwirausaha.
Keberanian seseorang dalam berwirausaha yang senantiasa dihadang
resiko merupakan wujud dari keberanian menembus ketidakpastian dalam
berusaha.
3. Kemampuan seorang pemimpin wirausaha dalam mengarahkan karyawan
perlu adanya mentor untuk membina dan mengembangkan usaha baik
dalam bidang teknis, maupun manajemen usaha.
3.2 Saran
















31

DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari. 2007. Kewirausahaan Untuk Mahasiswa dan Umum. Alfabeta :
Bandung
Kasmir,S.E.,M.M. Kewirausahaan. Jakarta : Rajawali Pers, 2010.
Saiman, Leonardus. 2012. Kewirausahaan Teori Praktek dan Kasus. Salemba Empat:
Jakarta.
Suryana, Yuyus & Kartibayu. 2011. Kewirausahaan Pendekatan Karakteristik
Wirausahaan Sukses. Pencana Prenada Media Grup: Jakarta.