Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Salah satu unsur penentu dalam pelaksanaan pembangunan baik yang berskala
nasional maupun regional (daerah), adalah tersedianya sejumlah dana atau biaya yang
diperlukan untuk merealisir berbagai program pembangunan tersebut. Dalam hal ini,
baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengerahkan
seluruh kemampuannya dalam usaha penyediaan sejumlah dana atau anggaran yang
diperlukan.
Secara khusus pelaaksanaan pembangunan di Daerah, sangat ditentukan oleh
kemampuan Pemerintah Daerah dalam mengggalih sumber-sumber pendapatan
daerah, antara lain melalui sektor Perpajakan. Kemampuan Pemerintah daerah dalam
hal ini, adalah merupakan perwujudan otonomi daerah (Pasal 7 UU. NO. 5 tahun
1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah). Demikian pula dalam Pasal 11
UU. NO. 5 tahun 1974 tersebut diatas, menunjukkan bahwa system desentralisasi
dalam system Pemerintahan di Indonesia, menitik beratkan pemberian otonomi
kepada daerah tingkat II, yang berarti daerah diberi kewenangan untuk mengatur dan
mengurus rumah tangganya sendiri, mengolah potensi-potensi yang ada dalam
wilayahnya, secara berdaya guna dan berhasil guna.
Berdasarkan TAP MPR NO.2 Tahun 1988 tentang GBHN ditentakan bahwa
dalam rangka pelaksaanaan pembangunan daerah, diperlukan peningkatan partisipasi
rakyat daerah dan Peningkatan pendapatan daerah melalui pemungutan yang lebih
intensif, wajar dan tertib terhadap sumber-sumber keuangan, baik yang sudah ada,
maupun dengan penggalian sumber-sumber yang ada. Dengan uraian diatas jelaslah
kiranya bahwa kemampuan pemerintah daerah tingkat II kendari termasuk aparatnya
ditingkat kecamatan dan desa/kelurahan dalam upaya pemungutan pajak-pajak
daerah, perlu di timgkatkan agar membawa pengaruh yang positif terhadap anggaran
pendapatan dan belanja daerah (APBD) sejalan dengan perkembangan program
pembangunan tiap tahun. Karena itu dalam rangka peningkatan dan kelancaran
pemungutan pajak khusus di kelurahan kambu wilayah kecamatan poasia sebagai
obyek penelitian ini, di perlukan adanya sukungan pengelolaan administrasi
perpajakan yang tertib dan efesien, tidak bertantangan dengan kepentingan nasional
dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

1.2 Masalah
Apakah perlu ditingkatkannya kemampuan aparat perpajakan dalam
mengelola administrasi perpajakan.




















BAB II
KAJIAN TEORI

Tercapainya target dalam sasaran pemungutan pajak sangat di tentukan oleh
pengelolaan administrasinya. Sedang pengelolaan administrasi yang tertib dan efisien
berdasarkan pedoman dan ketentuan yang berlaku, perlu didukung oleh kemampuan
aparatur pelaksana perpajakan dalam upaya memanage masyaraakat wajib pajak.
Peranan administrasi dalam rangka pengelolaan dan pemungutan pajak sangat
diperlukan. Dalam kaitan ini, administras dapat dipandang dari berbagai sudut :
1. Ditinjau dari sudut proses, administrasi merupakan keseluruhan proses yang
dimulai dari pemikiran, perencanaan, pengaturan, penggerakan, pengawsasan
sampai pencapaiian tujuan.
2. Dari segi fungsi, administrasi berarti keseluruhan aktivitas yang dilakukan
dengan sadar oleh seseorang atau sekelompok orang yang berkedudukan
sebagai administrator atau management puncak suatu organisasi.
3. Dari sudut kepranataan (institution), administrasi merupakan suatu lembaga
yang melakukan aktivitas dalam rangka pencapaian tujuan (Drs. Soekarno
K.:1980 : 9,10). Dengan uraian diatas jelas bahwa administrasi dalam konssep
ini adalah meliputi proes aktivitas yang didalamnya terdapat sejumlah fungsi-
fungsi yang harus dijalaankan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam hubungan ini, administrasi adalah suatu proses yang pada umunya
terdapat pada semua usaha, kelompok, Negara atau swasta, sipil atau militer,
usaha yang besar atau kecil (Drs. Soekarno Handyadiningrat : 1985 :2).
Dengan rumusan diatas, jelas bahwa dalam keadaan begaimanapun dan
dimana saja ada aktivitas-aktivitas dan ada tujuan yang hendak dicapai,
disitulah ada administrasi. Karena administrasi adaalah proses
penyelenggaraan kerja untuk mencapai tujuan.


Bertolak dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa administrasi perpajakan
adalah keseluruhan kegiaatan dalam proses pemungutan pajaak yang dilakukan oleh
pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, untuk
membiaayai pengeluaran umum pemerintah dalam rangka pencapaian tujuan Negara.
Administrasi perpajakan adalah merupakan bagian dari administrasi keuangan
Negara/daerah. Administrasi keuangan Negara/daerah dalam arti sempit,
mengandung arti segala kegiatan pencatatan, penatausahaan, dan pembukaan, sedang
dalam arti luas adalah mencakup proses pengelolaan dan pertanggungjawaban
pemerintah, maupun badan hokum atau instansi pemerintah (Drs. Nurdin E.
Wantogia :1974: 15).
Telah dijelaskan diatas bahwa pajak adalah merupakan salaah satu sumber
penerimaan Negara dan daerah yang sangat penting untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran umum pemerintah. Dr. Soeparman Soehamidjaja mengemukakan bahwa:
pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa
berdasarkaan norma-norma hokum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan
jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum. Selanjutnya prof. dr.
Soemitro, S.H., mengemukakan bahwa: pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak
rakyat kepada kaas negaraa untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya untuk
public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment
(Drs. S.Munavir,1981 :1,2).









BAB III
RUMUSAN MASALAH

Pajak sebagai salah satu sumber penerimaan Negara yang terbesar diluar
minyak bumi dabangun gas alam, merupakan andalan pemerintah dalam rangka
mengisi kas Negara/daerah guna pembiayaan pembangunan setiap tahunnya.
Berdasarkan undang-undangan perpajakan RI tahun 1994 tentang tata cara
pemungut pajak, ditakankan bahwa sesungguhnya pajak adalah merupakan salah satu
kewajiban Negara. Ini adalah bahwa membayar pajak adalah salah satu kewajiban
bagi setiap warga Negara Indonesia yang dianggap kewajiban membayar sesuai
ketentuan/peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hubungan ini sangat
diperlukan adanya kesadaran membayar pajak bagi setiap warga Negara yang
memenuhi persyaratan tertentu, sebagai peran serta dalam rangka pembiayaan
pembangunan dan sekaligus sebagai perwujudan azas kegotongroyongan dalam
pelaksanaan pembangunan. Untuk itu diperlukan adanya suatu system pengelolaan
administrasi perpajakan yang tertip dan efisien, agar masyarakat dapat memahami
dan sadar akan kewajiban serta terlaksannya proses pemungutan pajak secara lancer
dan tertib berdasarkan ketentuan dan pedoman yang berlaku.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Hasil karya ilmiah ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Masih kurangnya dsisiplin aparat perpajakan di kelurahan kambu dalm
mengikuti jadwal waktu penagihan dan penyebaran pajak, mengakibbatkan
target pungutan dan penerimaan pada akhir tahun fisikal sulit dicapai.
2. Kemampuan aparat pepajakan di kelurahan kambu masih relative kurang, baik
dilihat dari segi tingkat pendidikan dan kemampuan tekhnis, maupun dari segi
kemampuan menangkal permasalahan-permasalahan yang dialami sebagai
hambatan dilapangan.

B. Saran
Perlu adanya upaya-upaya peningkatan kemampuan bagi aparat perpajakan di
kelurahan kambu, melelui pendidikan, latihan dan semacamanya, agar mampu
menangkal dan memecahkan masalah-masalah dalam pengelolaan administrasi
perpajakn yang tertib, intensif dan wajar, sesuai dengan peraturan perundang
undangan yang berlaku.










KARYA TULIS ILMIAH
RENDAHNYA KEMAMPUAN APARAT PERPAJAKAN MENJADI
HAMBATAN DALAM PENGELOLAAN ADMINISTRASI PERPAJAKAN DI
KELURAHAN KAMBU



OLEH KELOMPOK 1
EDIAWAN LARIS C1A212032
DEDI IRAWAN C1A212035
HESTY KARTIKA C1A212031
ABDULAH RAHMAN C1A2120

JURUSAN ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013