Anda di halaman 1dari 24

Homunculus

Disusun oleh:
Venny Ria Pratiwi 090100033
Deny Lais 090100039
Belliana 090100152
Daniel 090100153
R. A. Khalida P 090100284

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN BEDAH SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
i

DAFTAR ISI

Hal

DAFTAR ISI...................................................................................................................... i

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 2
2.1. Definisi .................................................................................................................. 2
2.2. Homunculus ........................................................................................................... 7
2.3. Somatic Sensory Pathways .................................................................................... 8
2.4. Somatic Motor Pathway ........................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 22
1

BAB I
PENDAHULUAN

Pada tahun 1937, Penfield dan Boldrey mempublikasikan sebuah tulisan
yang sangat penting. Mereka mendeskirpsikan tulisannya tentang efek stimulasi
korteks serebri pada manusia. Mereka mampu mengonfirmasi lokalisasi topografi
kortikal dengan tepat, dan menghubungkannya dengan stimulasi dari berbagai bagian
dari otak, baik sensorik maupun motorik fenomena yang mempengaruhi tubuh.
1,2
Pada monograf mereka yang berjudul The Cerebral Cortex of Man, Penfield dan
Ramussen mencoba mengilustrasikan reprensentasi kortikal dan homunculus dalam
bentuk diagram hemisfer serebral di mana kotak panjang mengindikasikan area
kortikal yang berkorespondensi dengan respon yang muncul.
1










Gambar 1.1. Homunculus motorik dan sensorik : map pertama
2

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Kortikal homunculus merupakan persentasi gambaran divisi anatomis dari korteks
motorik primer dan korteks somatosensoris primer.
1

Ada dua tipe homunculus, sensorik dan motorik di mana masing-masing bagian
mempersentasikan korteks yang berkaitan menginervasi berbagai bagian tubuh.
1
Korteks somatosensori
Pada korteks somatosensoris, representasi taktil mempunyai urutan yang tersusun rapi
dari jempol kaki ke mulut.
2
Berikut penjelasan singkat mengenai korteks somato
sensorik :
Respon somatosensori
1. Lokalisasi respon sensori
Respon sensori muncul terutama dari korteks yang berdekatan pada sulkus
sentralis. Kira-kira 75% dari respon sensoris muncul dari girus post- sentralis dan
25% dari girus pre-sentralis. Rasio respon dari pre-sentral dan post-sentral bervariasi
di sepanjang unit pada sekuensi sensoris (Gambar 1).
3







3

Gambar 2.1. Sekuensi sensoris pada hemisfer kanan. Garis vertikal mepersentasikan
sulkus sentralis, memanjang dari permukaan mesial dari atas ke fisura silvian di
bawah. Bar horizontal mempersentasikan jumlah respon yang muncul pada anterior
dan posterior ke sulkus sentralis.
3
2. Karakterisasi sensasi yang diproduksi
Stimulasi yang hampir mencapai ambang batas dari kedua girus (pre-
sentralis dan post-sentralis) menghasilkan sensasi yang dirasakan pasien seperti
kebas, menggelitik atau tersengat listrik. Adapun tipe sensasi sensoris yang
dilaporkan pasien berupa sensasi pergerakan bagian dari tubuh (sense of movement)
walaupun tak ada pergerakan yang terlihat. Stimulasi ini lebih sering berasal dari
girus post-sentralis dibandingkan pres-sentralis namun dimunculkan secara
bersamaan.
3
3. Sensory Sequence
Sequence dari respon sensori pada gambar di bawah ini (Gambar 2) hampir
tidak bervariabel. Dinilai berdasarkan threshold dari suatu stimulasi pada semua unit.
Panjang relative dari korteks sentral mewakili satu struktur yang bervariasi dari setiap
individu yang memungkinkan untuk melokalisasi area lengan sebagai contohnya
dengan mengukur dari fisura Sylvian atau longitudinal medial.
3


4

Gambar 2.2 Pemotongan melintang dari serebrum terhadap daerah sensorimotor
dengan indikasi sequence motor dan sensori. Panjang dari batang tebal
menggambarkan estimasi dari area relative rata-rata dari respon koresponden
3


Berikut ini adalah karakteristik dari hasil setiap sequence yang diberikan:
3

Genitalia. Stimulasi terhadap dua titik di bagian midline posterior girus postcentral
menghasilkan sensasi pada penis disisi kontralateral. Titik ini berlokasi 1 cm,
posterior dari titik yang berkaitan dengan fisura sentral yang memberikan sensasi
pada daerah paha kontralateral, dan titik kedua yang memberikan sensasi pada daerah
bokong kontralateral yang berdekatan dengan rektum. Pada suatu kasus sensasi pada
sisi kontralateral dari rektum dihasilkan dari stimulasi di 1cm midline girus
postcentral, posterior dari titik yang memberikan sensasi pada sisi kontralateral
badan.

Kaki. Susunan dari dermatom kulit ekstremitas dimulai dari lengan yang dibagi
secara longitudinal menjadi sebagian preaxial diinervasi oleh cabang segmen C5 dan
C6 dan bagian postaxial yang diinervasi oleh cabang segmen T1, T2, dan C8.
Tungkai dibagi menjadi bagian preaxial yang diinervasi oleh segmen L1, L2, dan L3
dan bagian postaxial diinervasi oleh segmen S1 dan S2. Belum ditemukan adanya
bukti nyata yang mengindikasikan pembagian dari hasil sequence terhadap tungkai
baik preaxial maupun postaxial pada manusia.
Adanya variabilitas besar pada lokasi sensori area tungkai yang berkaitan dengan
luasnya terhadap permukaan lateral hemisfer. Sensasi pada kaki dan jari kaki
didapatkan dari permukaan lateral hemisfer mendekati midline. Sementara pada
kasus lainnya, ditemukan bahwa tungkai dan kaki terletak di fisura longitudinal
bergabung dengan area badan pada penghubung permukaan medial dan lateral
hemisfer.
Badan. Ketika pasien melokalisasi titik spesifiknya, hal ini merupakan kontralateral
dari sensasi yang ditujukan.
5

Kepala. Daerah ini dibagi menjadi dua grup yaitu grup besar diantara lengan dan
badan dan grup kecil area wajah.
Lengan. Seperti pada tungkai, belum ditemukan adanya bukti nyata dari stimulasi
kortikal yang mengindikasikan bagian preaxial dan postaxial. Hal ini mungkin akibat
dari ukuran bagiannya yang kecil dan terpendam dari respon badan atau sulitnya
dinilai dari lokasinya yang tersembunyi pada fisura sentral.

Respon somatomotor
3

1. Lokalisasi respon motorik
Respon motorik terutama ditimbulkan dari korteks yang berdekatan dengan
fisura sentral. Sekitar 80 persen berada di presentral dan 20 persen postsentral.


6

Gambar 2.3. Chart motor sequence pada hemisfer kanan. Garis vertikal
menggambarkan fisura sentral meluas dari permukaan mesial hemisfer bawah ke
bawah fisura sylvian. Bar horizontal mengindikasikan jumlah proporsional respon
elicited anterior dan posterior ke fisura sentral.
3


Pada gerakan leher, gerakan kelopak mata, bola mata, dan alis adalah pada
presentral. Sementara sebagian besar respon pada manusia yang terletak berdekatan
dengan fisura sentral, terkadang terdapat di bagian anterior dari gyrus precentral atau
bagian posterior gyrus postcentral, dan jarang yang terletak di gyri anterior dan
posterior berikutnya.
Respon motorik yang timbul di 13 dari 15 operasi di mana fisura Rolandic
distimulasi dibawah bagian terluar atau permukaan superfisial. Ini terjadi dari
stimulasi kedua pre dan post sentral gyri. Seperti dengan respon sensorik respon
motorik ini sebanding dengan yang ditimbulkan dari permukaan luar gyri dan berada
di lokasi yang tepat dalam pemetaan rangkaian motorik oleh rangsangan permukaan
dalam setiap pasien.
Gerakan dapat dihasilkan oleh stimulasi dari gyrus possentral yang diikuti
dengan penghapusan bagian yang berdekatan dari gyrus precentral menunjukkan
bahwa postcentral respon motorik tidak bergantung pada hubungan kolateral dengan
gyrus post sentral.
Ukuran relatif dari motorik wajah, lengan, dan area kaki yang sangat
bervariasi. Area wajah dapat menjadi besar dan meluas sampai 4 cm dari garis
tengah, atau mungkin sangat kecil sehingga respon pada jempol ditimbulkan 2 cm di
atas fisura dari Sylvius. Variabilitas yang sama ada untuk daerah tungkai, mungkin
seluruhnya terletak di permukaan mesial pada hemisfer atau mungkin meluas keluar
ke permukaan lateral untuk jarak hingga 3 cm. Fleksi atau ekstensi pergelangan kaki
timbul 13 kali oleh stimulasi pada permukaan lateral hemisfer, dekat sinus sagital,
dan gerakan jempol kaki yang diproduksi dengan 1 stimulasi.
3


7

2. Karakter gerakan yang dihasilkan
Gerakan yang dihasilkan oleh stimulasi kortikal tidak pernah terlatih, gerakan
yang diperoleh melainkan terdiri dari baik fleksi atau ekstensi dari satu atau lebih
sendi, gerakan yang tidak lebih rumit dibandingkan bayi yang baru lahir dapat
melakukannya.
3


3. Motor sequence
Banyak gerakan yang dihasilkan, stimulasi kortikal terdiri dari gerakan yang
melibatkan beberapa sendi, sehingga sulit untuk menganalisis urutan
representasi kortikal secara rinci. ketika tanggapan sederhana dipelajari,
namun, urutan tanggapan biasanya bertepatan dengan urutan yang diuraikan
dalam gambar 3.
3


2.2. Homunculus
Area spesifik di cerebral cortex menerima input somatosensory dari bagian-
bagian tubuh yang terlibat. Area lainnya di cerebral cortex menyediakan output dalam
bentuk instruksi untuk gerakan pada bagian-bagian tubuh yang terlibat. Somatic
sensory map dan somatic motor map menghubungkan bagian-bagian tubuh dengan
area-area di cerebral cortex.
4

Lokalisasi sensasi somatik muncul ketika impuls saraf sampai di primary
somatosensory area, yang mana berada di gyrus postcentral dari lobus parietal di
cerebral cortex. Masing-masing regio dari area tersebut menerima input sensori dari
bagian tubuh yang berbeda. Memetakan tujuan signal somatosensory dari bagian
tubuh sebelah kiri menuju ke somatosensory area di hemisfer cerebral kanan dan
sebaliknya.
4


8



2.3. Somatic Sensory Pathways
4

Somatic Sensory Pathways menghubungkan informasi dari somatic sensory
receptors dengan primary somatosensory area di cerebral cortex dan cerebellum.
Pathway menuju cerebral cortex terdiri dari ribuan set dari tiga neuron (first-order
neurons, second-order neurons, dan third-order neurons).
4

1. First-order neurons
Neuron ini mengkonduksi impuls dari reseptor somatik menuju batang otak
atau medulla spinalis. Impuls somatosensory dari wajah, mulut, gigi, dan mata
melalui nervus kranial menuju ke batamg otak. Sedangkan impuls
somatosensory dari leher, batang tubuh, tungkai, dan bagian posterior kepala
melalui nervus spinal menuju ke medulla spinalis.
4

2. Second-order neurons
Neuron ini kemudian akan mengkonduksi impuls dari batang otak dan
medulla spinalis menuju thalamus. Akson-akson dari second-order neurons
akan decussate ( menyilang ke sisi yang berlawanan) di batang otak atau
9

medulla spinalis sebelum naik ke nukleus ventral posterior dari thalamus.
Oleh karena itu, semua informasi somatosensory dari satu sisi tubuh akan
sampai di thalamus pada sisi yang berlawanan.
4

3. Third-order neurons
Neuron ini mengkonduksi impuls yang sudah sampai di thalamus menuju ke
primary somatosensory area di cortex pada sisi yang sama.
4

Regio di dalam sistem saraf pusat di mana neuron-neuron bersinaps dengan
neuron-neuron lain yang merupakan bagian dari sensory atau motor pathway disebut
dengan relay stations karena signal neural dari satu regio dihubungkan dengan regio
lain di sistem saraf pusat. Contohnya, neuron-neuron dari berbagai sensory pathway
bersinaps dengan neuron-neuron di thalamus, oleh karena itu, thalamus berfungsi
sebagai major relay station. Selain thalamus, batang otak dan medulla spinalis juga
berfungsi sebagai relay station.
4

Impuls somatosensory menuju ke cerebral cortex via tiga pathway umum: (1)
Posterior Column-Medial Lemniscus Pathway, (2) Anterolateral (spinothalamic)
Pathway, dan (3) Trigeminothalamic Pathway. Sedangkan impuls somatosensory
menuju ke cerebellum via Spinocerebellar Tracts.
4

1. Posterior Column-Medial Lemniscus Pathway
4

Impuls saraf untuk sensasi sentuhan, tekanan, getaran, dan
conscious proprioception dari tungkai, batang tubuh, leher, dan bagian
posterior kepala menuju ke cerebral cortex melalui posterior column-
medial lemniscus pathway. Nama dari pathway ini berasal dari dua white-
matter tracts yang menhantarkan impuls yaitu posterior column dari
medulla spinalis dan medial lemniscus dari batang otak.
First-order neurons yang berasal dari reseptor sensori di batang
tubuh, tungkai, leher, dan bagian posterior kepala menuju ke medulla
spinalis dan naik ke medulla oblongata pada sisi tubuh yang sama. Badan
sel dari first-order neurons ini berada di bagian posterior (dorsal) root
ganglia nervus spinal. Di medulla spinalis, akson-akson dari posterior
10

(dorsal) column, yang mana terdiri dari dua bagian; gracile fasciculus dan
cuneate fasciculus. Akson terminal akan bersinpas dengan second-order
neurons yang mana seluruh badan sel berada di gracile nucleus atau
cuneate nucleus dari medulla oblongata. Impuls saraf untuk sensasi
sentuhan, tekanan, getaran, dan conscious proprioception dari tungkai
atas, batang tubuh bagian atas, leher, dan bagian posterior kepala
dihantarkan sepanjang akson dari cuneate fasciculus dan sampai di
cuneate nucleus. Sedangkan impuls saraf untuk sensasi sentuhan, tekanan,
getaran, dan conscious proprioception dari tungkai bawah, batang tubuh
bagian bawah dihantarkan sepanjang akson dari gracile fasciculus dan
sampai di gracile nucleus.
Akson dari second-order neurons menyilang ke sisi yang
berlawanan dari medulla oblongata, menuju ke medial lemniscus di
midbrain dan naik sampai ke ventral posterior nucleus di thalamus. Di
thalamus, akson-akson terminal dari second-order neurons bersinaps
dengan third-order neurons, yang mana akan memproyeksi akson-akson
tersebut ke primary somatosensory area di cerebral cortex.

11



2. Anterolateral (spinothalamic) Pathway
4

Impuls saraf untuk sensasi nyeri, temperatur, gatal, dan geli dari
tungkai, batang tubuh, leher, dan bagian posterior kepala menuju ke
cerebral cortex melalui anterolateral (spinothalamic) pathway. Sama
dengan posterior column-medial lemniscus pathway, anterolateral
12

pathway juga terdiri dari kumpulan 3 set neuron. First-order neurons
menghubungkan reseptor dari tungkai, batang tubuh, leher, dan bagian
posterior kepala dengan medulla spinalis. Badan sel dari first-order
neurons berada di posterior root ganglion. Akson terminal dari first-order
neurons bersinaps dengan second-order neurons, yang mana badan-badan
sel-nya berada di posterior gray horn dari medulla spinalis. Akson-akson
dari second-order neurons menyilang ke sisi yang berlawanan dari
medulla spinalis. Kemudian, naik menuju batang otak melalui
spinothalamic tract. Akson-akson dari second-order neurons berakhir di
ventral posterior nucleus dari thalamus, yang mana mereka bersinaps
dengan akson-akson dari third-order neurons dan diproyeksikan ke
primary somatosensory area di cerebral cortex pada sisi yang sama
dengan thalamus.

13



3. Trigeminothalamic Pathway
4

Impuls saraf untuk sebagian besar sensasi somatik (taktil, termal,
dan nyeri) dari wajah, rongga hidung, rongga mulut, dan gigi menuju ke
cerebral cortex melalui trigeminothalamic pathway. Sama seperti
somatosensory pathway lainnya, trigeminothalamic pathway juga terdiri
dari kumpulan tiga set neuron. First-order neurons berasal dari reseptor
somatosensory di wajah, rongga hidung, rongga mulut, dan gigi menuju
ke pons melalui nervus trigeminus. Badan sel dari first-order neurons
berada di ganglion trigeminus. Akson-akson terminal dari sebagian first-
order neurons bersinaps dengan second-order neurons di pons. Akson-
14

akson terminal dari sebagian first-order neurons lainnya turun dan
bersinaps dengan second-order neurons di medulla oblongata. Akson-
akson dari second-order neurons menyilang ke sisi yang berlawanan di
pons dan medulla oblongata. Kemudian, naik ke ventral posterior nucleus
di thalamus melalui trigeminothalamic tract. Di thalamus, akson-akson
terminal dari second-order neurons bersinaps dengan third-order neurons,
yang mana akan diproyeksikan ke primary somatosensory area di cerebral
cortex pada sisi yang sama dengan thalamus.



15

4. Spinocerebellar Tracts
4

Terdapat dua traktus di medulla spinalis (posterior spinocerebellar tract
dan anterior spinocerebellar tract) yang merupakan rute utama
penghantar impuls proprioseptif menuju ke cerebellum. Impuls sensori
dihantarkan ke cerebellum melalui dua pathway ini untuk mengatur posisi,
keseimbangan, dan koordinasi gerakan terampil.

2.4. Somatic Motor Pathway
4

Lower motor neuron (LMN) adalah motor neuron yang badan selnya ada di batang
otak dan medula spinalis. Dari batang otak, axon LMN menjaras melalui nervus
kranialis untuk menginervasi otot skeletal di wajah dan kepala. Dari medula spinalis,
axon LMN menjaras melalui nervus spinal untuk menginervasi otot skeletal anggota
gerak dan dada. Hanya LMN yang menyediakan jalur keluar dari CNS ke serabut otot
skeletal. Untuk itu, LMN juga disebut final common pathway.
Jaras somatomotorik berpartisipasi dalam mengontrol pergerakan dengan
menyediakan input ke LMN melalui 4 neuron yang berbeda tetapi saling
berhubungan:
4

1. Local circuit neuron. Input sampai ke LMN dari interneuron sekitar disebut local
circuit neuron. Neuron ini terletak dekat dengan badan sel LMN di batang otak dan
medula spinalis. Local circuit neuron menerima input dari reseptor somatosensorik,
seperti nociceptor dan juga dari pusat yang lebih tinggi di otak. Mereka membantu
mengkoordinasi aktivitas yang berirama pada kumpulan otot yang spesifik, seperti
bergantian fleksi dan ekstensi dari anggota gerak bawah ketika berjalan.
2. Upper motor neuron (UMN). Local circuit neuron dan LMN mendapatkan input
dari UMN. Kebanyakan UMN bersinaps dengan local circuit neuron, dimana pada
gilirannya akan bersinaps dengan LMN. ( Sisa UMNnya bersinaps secara langsung
dengan LMN). UMN dari korteks serebri penting untuk melaksanakan gerakan
volunter dari tubuh. UMN yang lain berasal dari pusat motorik di batang otak; red
nucleus; vestibular nucleus; superior colliculus; dan reticular formation. UMN dari
batang otak mengatur tonus otot, otot pengatur postur, dan membantu menjaga
keseimbangan dan orientasi dari kepala dan badan.
16

3. Basal Ganglia Neuron. Basal Ganglia neuron membantu pergerakan dengan
menyediakan input ke UMN. Sirkuit neural menghubungkan basal ganglia dengan
area motorik korteks serebri (melalui thalamus) dan batang otak. Sirkuit ini berguna
untuk menginisiasi dan menterminasi gerakan, menekan gerakan yang tidak
diinginkan dan menetapkan tingkat tonus otot yang normal.
4. Cerebellar neuron. Cerebellar neuron juga membantu pergerakan dengan
mengontrol aktivitas UMN. Sirkuit neural menghubungkan cerebellum dengan area
motorik di korteks serebri (melalui thalamus) dan batang otak. Fungsi utama
cerebellum adalah membedakan gerakan yang akan dilakukan dengan gerakan yang
sudah dilakukan. Kemudian dia mengatur UMN untuk mengurangi kesalahan dalam
gerakan. Cerebellum juga mengkoordinasi gerakan tubuh dan menjaga postur normal
dan keseimbangan.


17

Axon UMN menjalar dari otak ke LMN melalui dua tipe jaras somatomotorik yaitu
langsung dan tidak langsung. Jaras motorik langsung menyediakan input ke LMN
melalui axon yang menjalar secara langsung dari korteks serebri. Jaras motorik tidak
langsung menyediakan input ke LMN melalui pusat motorik di batang otak.
4

Pengaturan gerakan tubuh berasal dari sirkuit neural pada beberapa bagian di otak.
Primary motor area (area 4) terletak di korteks serebri bagian lobus frontalis di gyrus
presentralis. Primary motor area merupakan pusat pengatur utama untuk melakukan
gerakan volunter. Adjacent premotor area (area 6) juga menyediakan axon ke
descending motor pathway. Seperti pada somatosensorik yang terdapat pada
somatosensorik area, otot berbeda di representasi tidak sama pada primary motor
area. Kebanyakan area kortikal di sediakan untuk otot yang berhubungan dengan
keahlian, gerakan rumit atau halus. Otot pada jempol, jari-jari, bibir, lidah, dan pita
suara memiliki representasi yang luas; dada memiliki representasi yang lebih kecil.
4


Direct Motor Pathway
4

Impuls saraf dari gerakan sadar berasal dari korteks serebri ke LMN melalui jaras
motorik langsung. Jaras motorik langsung dikenal juga sebagai jaras pyramidal. Jaras
pyramidal memiliki axon yang berasal dari sel pyramidal. Sel pyramidal adalah UMN
dengan bentuk selnya pyramidal, terletak di primary motor area (area 4) dan premotor
area (area 6) korteks serebri. Jaras motorik langsung termasuk jaras kortikospinal dan
jaras kortikobulbar.

Jaras Kortikospinal
4

Jaras kortikospinal memberikan impuls untuk mengatur otot pada anggota gerak dan
dada. Axon UMN di korteks serebri yang berasal dari jalur kortikospinal, menjalar
melalui kapsula interna dan cerebral penducle. Pada medulla oblongata, rangkaian
axon jalur kortikospinal membentuk tonjolan ventral dikenal sebagai pyramid.
Sebesar 90% axon kortikospinal menyebrang ke sisi kontralateral di medula
oblongata dan turun ke medula spinalis dimana akan bersinaps dengan local circuit
neuron atau LMN. 10%nya lagi tetap di sisi ipsilateral yang sama kemudian
menyebrang di tingkat medula spinalis dimana mereka bersinaps dengan local circuit
neuron atau LMN. Korteks serebri kanan mengontrol otot sisi kiri tubuh. Ada 2 tipe
jaras kortikospinal, jaras lateral kortikospinal dan jaras anterior kortikospinal:
4

18

1. Jaras kortikospinal. Axon kortikospinal yang menyebrang di medula membentuk
jaras lateral kortikospinalpada lateral white column of the spinal cord. Axon ini
bersinaps dengan local circuit neuron atau LMN di anterior gray horn of the spinal
cord. Axon dari LMN ini keluar melalui cord di root anteriornya nervus spinalis dan
berakhir di otot skeletal yang mengatur gerakan anggota gerak bagian distal. Otot
distal bertanggung jawab terhadap gerakan yang tepat dan berskil pada tangan dan
kaki. Contohnya gerakan yang dibutuhkan untuk mengancing baju atau main piano.



2. Jaras anterior kortikospinal. Axon kortikospinal yang tidak menyebrang di medulla
membentuk jaras anterior kortikospinal di anterior white column medula spinalis.
Pada tiap tingkat medula spinalis, beberapa axon ini menyebrang melalui anterior
19

white commissure. Kemudian mereka bersinaps dengan local circuit neuron atau
LMn di anterior gray horn. Axon dari LMN ini keluar dari cord di anteror root nervus
spinalis dan berakhir di otot skeletal yang mengontrol gerakan di dada dan anggota
gerak bagian proksimal.

Jaras kortikobulbar
4

Jaras kortikobulbar menghantarkan impuls untuk mengatur otot skeletal di kepala.
Axon UMN dari korteks serebri yang berasal dari jaras kortikobulbar, menjalar
bersama dengan jaras kortikospinal melalui kapsula interna dan cerebral penducle.
Beberapa axon jaras kortikobulbar menyebrang dan beberapa tidak. Axon ini berakhir
pada sel motoriknya ke sembilan pasang nervus kranialis di batang otak; nervus
oculomotor (III), trochlear (IV), trigeminal (V), abducen(VI), facialis (VII),
glossopharyngeal (IX), vagus (X), accessory (XI), dan hypoglosus (XII). LMN
nervus kranial mengimpuls gerakan sadar mata, lidah, dan leher, juga mengunyah,
ekspresi wajah, dan bicara.

20

Indirect Motor Pathway
4

Jaras motorik tidak langsung atau jaras ekstrapyramidal termasuk semua jaras
somatomotorik selain kortikospinal dan kortikobulbar. Axon UMN yang
berhubungan dengan jaras motorik tidak langsung berasal dari nuclei batang otak
yang berbeda yang dibagi menjadi 5 jalur utama dan berakhir pada local circuit
neuron atau LMN. Jalur ini adalah rubrospinal, tectospinal, vestibulospinal, lateral
reticulospinal, dan medial reticulospinal.

Peran Basal Ganglia
4

1. Berperan dalam menginisiasi dan mengakhiri gerakan. Dua bagian basal ganglia,
nucleus caudatus dan putamen, menerima input dari area sensorik, asosiasi, dan
motorik di korteks serebri dan dari subtantia nigra. Output dari basal ganglia berasal
dari globus pallidus dan subtantia nigra, yang mengirim umpan balik ke korteks
upper motor melalui thalamus. Sirkuit ini berperan untuk menginisiasi dan
mengakhiri gerakan. Neuron di putamen membentuk impuls sebelum gerakan badan
timbul, dan neuron di nucleus kaudatus membentuk impuls sebelum gerakan mata
timbul.
2. Berperan dalam menekan gerakan tidak diinginkan dengan efek inhibisi di
thalamus dan superior colliculus.
3. Berperan dalam menentukan tonus otot. Globus palidus memberikan impuls ke
formasio retikularis yang mengurangi tonus otot. Kerusakan atau cedera pada
beberapa koneksi basal ganglia menyebabkan peningkatan seluruh tonus otot.
4. Basal ganglia berperan dalam banyak aspek fungsi korteks, termasuk fungsi
sensorik, limbik, kognitif, dan linguistik. Contohnya, Basal ganglia membantu
menginisiasi dan mengakhiri beberapa proses kognitif, seperti perhatian, memori, dan
perencanaan. Basal ganglia juga berperan bersama dengan sistem limbik untuk
mengatur emosi.

Modulasi gerakan oleh cerebellum
4

Fungsi cerebellum untuk mempertahankan postur yang baik dan keseimbangan,
cerebellum aktif pada saat belajar dan melakukan gerakan cepat, terkoordinasi, dan
21

gerakan yang susah seperti memukul bola golf, berbicara, dan berenang. Fungsi
cerebellar meliputi 4 kegiatan:
1. Memonitor gerakan yang dikehendaki dengan menerima impuls dari korteks
motorik dan basal ganglia melalui nuclei pontine di pons sehubungan dengan gerakan
apa yang direncanakan.
2. Memonitor gerakan aktual dengan menerima input dari proprioreseptor di sendi
dan otot yang memberitahukan apa yang sedang terjadi. Impuls saraf ini berjalan
melalui jalur anterior dan posterior spinocerebellar. Impuls saraf dari alat
keseimbangan yang terdapat di telinga dalam dan mata juga masuk ke cerebellum.
3. Membandingkan signal perintah (kehendak untuk bergerak) dengan informasi
sensorik ( gerakan motorik aktual yang telah dilakukan)
4. Jika terdapat ketidak sesuaian antara gerakan intended dan aktual, cerebellum
mengirimkan umpan balik untuk mengkoreksi ke UMN. Informasi ini berjalan
melalui thalamus dan menuju ke UMN di korteks serebri dan menuju secara langsung
ke UMN di pusat motoriknya batang otak. Seiring dengan timbulnya gerakan,
cerebellum secara terus menerus menyediakan perbaikan kesalahan ke UMN,
sehingga mengurangi kesalahan dan menghaluskan gerakan. Ini juga berperan dalam
jangka waktu yang lama dalam hal belajar keahlian motorik yang baru.

22


Daftar Pustaka

1. Marieb, E., Hoehn, K. Human Anatomy and Physiology. 7th Ed. 2007.
Pearson Benjamin Cummings: San Francisco.
2. Saladin, Kenneth (2007). Anatomy and Physiology: The Unity of Form and
Function. McGraw Hill. p. 544-546
3. Penfield W, Rasmussen T: The Cerebral Cortex of Man: A Clinical Study of
Localization of Function. Macmillan, 1950
4. Tortora, G.J., Derrickson B., Principal of Anatomy and Physiology. 12th Ed.
2009. John Willey & Sons, Inc. p.578-589.