Anda di halaman 1dari 13

Besaran dalam fisika diartikan sebagai sesuatu yang dapat diukur, serta memiliki nilai

(besar) dan satuan. Sedangkan satuan adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai
pembanding dalam pengukuran. Satuan Internasional (SI) merupakan satuan hasil
konferensi para ilmuwan di Paris, yang membahas tentang berat dan ukuran.
Berdasarkan satuannya besaran dibedakan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan
besaran turunan. Selain itu, berdasarkan ada tidaknya arah, besaran juga
dikelompokkan menjadi dua, yaitu besaran skalar dan besaran vektor
1. Besaran Pokok
Besaran pokok adalah besaran yang digunakan sebagai dasar untuk
menetapkan besaran yang lain. Satuan besaran pokok disebut satuan pokok dan telah
ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan para ilmuwan. Besaran pokok
bersifat bebas, artinya tidak bergantung pada besaran pokok yang lain. Pada Tabel 1.1
berikut, disajikan besaran pokok yang telah disepakati oleh para ilmuwan.
Tabel 2.3 Tujuh Besaran Pokok Dalam SI
Besaran Pokok Satuan Lambang Satuan
1. Panjang
2. Massa
3. Waktu
4. Kuat arus
5. Suhu
6. Intensitas cahaya
7. Jumlah zat
meter
kilogram
sekon
smpere
kelvin
candela
mole
m
kg
s
A
K
cd
mol
Tabel 2.4 Dua Besaran tambahan dalam SI
Besaran tambahan Satuan Lambang satuan
1. Sudut datar
2. Sudut ruang
radian
stradian
rad
sr


2. Besaran Turunan
Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari dua atau lebih besaran
pokok. Dengan demikian, satuan besaran turunan pun diturunkan dari satuan-satuan
besaran pokok. Misalnya, luas = panjang x lebar, maka satuan luas adalah m xm =
m
2
. Volum = panjang x lebar x tinggi, maka satuan volum adalah m x m x m=m
3
dan
lain-lain. Beberapa satuan besaran turunan seperti massa jenis, kecepatan, percepatan,
gaya, usaha dan energi, tekanan, daya, impuls, momentum dan lain sebagainya.
3. Dimensi
Dimensi suatu besaran menunjukkan cara besaran itu tersusun dari besaran-
besaran pokok. Dimensi besaran pokok dinyatakan dengan lambang huruf tertentu
(ditulis huruf besar) dan diberi kurung persegi, seperti diperlihatkan dalam tabel
berikut ini.
Tabel 2.5 Tujuh besaran pokok berdimensi
No Besaran Pokok Satuan Notasi Satuan Dimensi
1
2
3
4
5
6
7
Panjang
Massa
Waktu
Temperatur
Kuat arus listrik
Intensitas cahaya
Jumlah zat
meter
kilogram
sekon
kelvin
ampere
candela
mol
m
kg
s
K
A
cd
mol
[L]
[M]
[T]
[]
[I]
[J]
[N]

Tabel 2.6 Beberapa besaran turunan, dimensi, dan satuannya
Besar
Turunan
Rumus Dimensi Satuan dan
singkatan
Luas panjang x lebar [L]
2
m
2

Volum panjang x lebar x
tinggi
[L]
3
m
3

Massa jenis


[M][L]
-3
kg m
-3
Kecepatan


[L][T]
-1
m s
-1
Percepatan


[L][T]
-2
m s
-2
Gaya massa x percepatan [M][L][T]
-2
kg m s
-2
=newton
(N)
Usaha dan
energi
Gaya x perpindahan [M][L]
2
[T]
-2
kg m
2
s
-2
= joule (J)
Tekanan


[M][L]
-1
[T]
-2
kg m
-1
s
-2
= pascal
Daya


[M][L]
2
[T]
-3
kg m
2
s
-3
= watt
(W)
Impuls dan
momentum
Gaya x waktu [M][L][T]
-1
kg m s
-1
= N s
Momen Gaya x lengan [M][L]
2
[T]
-2
kg m
2
s
-2

1. Pengukuran
a. Pengertian Pengukuran
Dalam fisika diperlukan pengukuran-pengukuran yang teliti agar pengamatan gejala
alam dapat dijelaskan dengan akurat. Pada pengukuran-pengukuran kita berbicara
tentang suatu besaran (kuantitas) yang dapat diukur, dan disebut besaran fisis. Contoh
besaran fisis, antara lain: panjang, massa, waktu, gaya, simpangan, kecepatan,
panjang gelombang, frekuensi, dan seterusnya. Kemampuan untuk mendefinisikan
besaran-besaran tersebut secara tepat dan mengukurnya secara teliti merupakan suatu
syarat dalam fisika. Pengukuran adalah suatu proses pembandingan sesuatu dengan
sesuatu yang lain yang dianggap sebagai patokan (standar) yang disebut satuan.
b. Alat ukur dan ketelitiannya
Fisika tidak bisa dilepaskan dari proses pengukuran berbagai besaran fisika dan alat
ukur yang digunakan dalam fisika sedikit berbeda dengan alat ukur yang digunakan
dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan dalam fisika membutuhkan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Berikut adalah beberapa alat ukur yang digunakan
dalam proses pengukuran besaran fisika.
1) Alat ukur panjang
Alat ukur panjang terdiri dari beberapa jenis seperti meteran lipat (pita), mistar,
jangka sorong, dan mikrometer dan masing-masing mempunyai tingkat ketelitian
yang berbeda.
a) Mistar
Mistar merupakan alat ukur linear yang paling sederhana dan paling banyak dikenal
orang. Biasanya berupa pelat dari baja atau kuningan dimana pada dua sisi dari salah
satu permukaannya diberi skala (metris atau inch). Mistar digunakan untuk mengukur
benda yang panjangnya kurang dari 50 cm atau 100 cm. Tingkat ketelitiannya 0,5
mm (1/2 x1 cm). Satuan yang tercantum dalam mistar adalah cm, mm, serta inchi.
Pengukuran dilaksanakan dengan menempelkan mistar pada objek ukur sehingga
objek ukur dapat langsung dibaca. Untuk mengukur lebih dari 300 mm dapat
digunakan meteran lipat atau meteran gulung. Untuk mendapatkan asil pengukuran
yang tepat, maka sudut pengamatan harus tegak lurus dengan objek dan mistar.
Contoh pengukuran mistar.

Gambar 2.1. Pengukuran dengan mistar
Panjang balok di atas adalah 3,2 cm atau 32 mm
b) Meteran lipat (pita pengukur)
Meteran lipat biasanya dibuat dari aluminium atau baja dan digunakan untuk
mengukur suatu objek yang tidak bisa dilakukan dengan mistar, misalnya karena
ukurannya terlalu panjang atau bentuknya tidak lurus dan mempunyai tingkat
ketelitian sampai dengan 1 mm.

Gambar 2.2. Meteran lipat
c) Jangka sorong
Jangka sorong umumnya digunakan untuk mengetahui panjang bagian luar maupun
bagian benda dengan sangat akurat/teliti. Mempunyai tingkat ketelitian sampai
dengan 0,1 mm. Biasanya jangka sorong mempunyai kapasitas ukur sampai dengan
0,1 mm. Biasanya jangka sorong mempunyai kapasitas ukur sampai 200 mm atau 20
cm. Pada jangka sorong dibuat rahang ukur tetap dan rahang ukur gerak yang
berfungsi sebagai sensor untuk menjepit benda ukur sewaktu melakukan
pengukuran. Permukaan kedua rahang ukur dibuat sejajar dan relatif kuat untuk
menghindari kesalahan ukur. Batang ukurnya dibuat kaku dengan permukaan yang
keras sehingga tidak mudah melentur dan tahan aus sebab rahang ukur gerak harus
menggeser pada batang ini.

Gambar 2.3. Bagian-bagian jangka sorong
Pembacaan skala utama dilakukan melalui garis indeks yang terletak pada peluncur
(yang bersatu dengan rahang ukur gerak) dan kecermatan pembacaannya dapat lebih
baik dibanding dengan mistar ukur (lebih kecil dari 0,5 mm) karena dibantu dengan
skala nonius dalam hal ini adalah0; 10; 0,05; atau 0,02. Hal yang perlu diperhatikan
sewaktu menggunakan jangka sorong adalah :
1. Rahang ukur gerak (peluncur) harus dapat meluncur pada batang ukur dengan
baik tanpa bergoyang
2. Periksa kedudukan nol serta kesejajaran dari permukaan kedua rahang.
3. Benda ukur sedapat mungkin jangan diukur hanya dengan menggunakan ujung
dari rahang ukur (harus agak ke dalam).
4. Tekanan pengukuran jangan terlampau kuat sehingga memungkinkan
pembengkokan rahang ukur ataupun lida ukur kedalaman. Kecermatan
pengukuran tergantung atas penggunaan tekanan yang cukup kuat dan selalu
tetap. Hal ini dapat dicapai dengan cara latihan sehingga ujung jari yang
menggerakkan peluncur dapat merasakan tekanan pengukuran yang baik.
5. Pembacaan skala nonius dilakukan setelah jangka sorong diangkat dari objek
ukur dengan hati-hati (setelah peluncur dimatikan). Miringkan jangka sorong
sehingga bidang skala nonius hampir sejajara dengan dengan bidang pandangan,
dengan demikian mempermudah penentuan garis nonius yang menjadi segaris
dengan skala garis utama.

Gambar 2.4. Pembacaan skala jangka sorong
Hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh gambar yaitu, skala utama = 2,0 cm dan
skala nonius = 6 garis berimpit sehingga hasil pembacaan jangka sorong adalah = 2,0
cm + (6 x 0,01) cm = 2,06 cm.
d) Mikrometer sekrup
Mikrometer merupakan alat ukur linear yang mempunyai kecermatan yang daripada
jangka sorong. Biasanya mikrometer sekrup mempunyai kapasitas ukur sampai 50
mm atau 5 cm. Mikrometer sekrup terdiri dari beberapa bagian. Bagian-bagian
mikrometer sekrup antara lain :
1. Rahang atas, pada rahang ini tidak dapat digerakkan atau digeser.
2. Rahang geser, dapat digerakkan, digeser, untuk menjepit suatu objek yang
diukur.
3. Kunci
4. Skala tetap, atau skala utama yang ditunjukkan oleh silinder lingkaran dalam.
5. Skala putar, atau skala nonius yang ditunjukkan oleh selubung luar. Fungsinya
menambah ketelitian hasil pengukuran.
6. Pemutar (teromol), berfungsi untuk menyesuaikan rahang sesuai dengan benda
yang diukur.
7. Rached, letaknya di paling ujung mikrometer sekrup. Berfungsi menjaga
keterulangan pengukuran.

Gambar 2.5. Bagian-bagian Mikrometer Sekrup
Adapun fungsi mikrometer sekrup adalah sebagai berikut :
a. Mengukur ketebalan benda yang tipis misalnya uang koin logam, bahkan untuk
mikrometer yang sangat teliti bisa digunakan untuk mengukur tebal kertas.
ketelitian mikrometer skrup yaitu antara 0,01 mm atau 0,05 mm. seperti contoh
gambar di bawah ini.
b. Mengukur diameter luar sebuah benda yang kecil misalnya bantalan peluru, atau
silinder kecil seperti contoh gambar di atas.
c. Untuk mikrometer terntentu yang memiliki rahang geser bisa juga digunakan
untuk mengukur kedalaman benda yang kecil seperti jangka sorong.

Penggunaan Mikrometer Sekrup

Gambar 2.6. Contoh pembacaan pengukuran dengan mikrometer sekrup
a. Langkah pertama, menggunakan skala utama, telihat pada gambar skala
utamanya adalah 1,5 mm
b. Langkah kedua, perhatikan pada skala putar, garis yang sejajar dengan skala
utamnya adalah angka 29. Jadi, skala nonius sebesar 29 x 0,01 mm = 0,29 mm.
c. Langkah ketiga, menjumlahkan skala utama dan skala putar. Hasil pengukuran =
1,5 mm + 0,29 mm = 1,79 mm. Jadi hasil pengukuran adalah 1,79 mm.
2) Alat ukur massa
a) Neraca tiga lengan
Berikut adalah gambar berbagai neraca

Gambar 2.7. Neraca tiga lengan
Neraca tiga lengan adalah alat mengukur massa suatu benda. Ketelitian alat ini adalah
0,1 gram. Neraca lengan adalah alat mengukur massa suatu benda. Ketelitian alat ini
adalah 0,1 gram. Neraca lengan memiliki 3 lengan. Lengan pertama menyatakan
ratusan, lengan kedua menyatakan puluhan dan lengan ketiga menyatakan satuan.
Apabila melakukan pengukuran menggunakan neraca tiga lengan, maka hasil
pengukurannya adalah lengan 1 + lengan 2 + lengan 3.
c. Akurasi, Presisi, dan sensitivitas
Kata akurasi (ketelitian) dan presisi (ketepatan) sering digunakan untuk maksud yang
sama. Bagaimanapun, memungkinkan untuk mempunyai hasil pengukuran dengan
presisi tinggi yang tidak akurat. Hal ini akan terjadi jika ada kesalahan acak.
Sensitivitas (kepekaan) adalah kemampuan memberikan tanggapan terhadap
perubahan nilai pengukuran yang terjadi. Untuk menjamin sensitivitas alat ukur
seharusnya menggunakannya sesuai dengan ordenya. Misalnya : ketebalan kertas
dalam orde mikrometer diukur dengan mistar, tentu saja perubahan yang cukup besar
sekalipun tidak akan terdeteksi sehingga alat ukur menjadi tidak sensitif.


2.3.2.2 ANGKA PENTING
Angka penting adalah semua angka yang diperoleh dari hasil yang pengukuran
dengan menggunakan alat ukur, yang terdiri dari angka apsti dan angka taksiran
pertama sesuai dengan tingkat ketelitian pengukuran dari alat ukur yang digunakan.
Setiap alat ukur memiliki ketelitian yang berbeda.

a. Aturan-Aturan Penulisan Angka Penting
Dalam penulisan angka penting, terdapat lima aturan yang menyatakan apakah
suatu angka termasuk angka penting atau bukan. Lima aturan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Semua angka bukan nol adalah angka penting.
Contoh : 21,2 ( Mengandung 3 angka penting)
12,34 (Mengandung 4 angka penting)
2. Angka nol yang terletak diantara dua angka bukan nol termasuk angka
penting.

Contoh : 10,01 (Mengandung 4 angka penting)
80,1 (Mengandung 3 angka penting)
3. Semua angka nol yang terletak pada deretan akhir dari angka-angka yang
ditulis dibelakang koma desimal termasuk angka penting.
Contoh : 2,10 (Mengandung 3 angka penting)
32,10 (Mengandung 4 angka penting)
4. Angka-angka nol yang terletek di sebelah kiri dan sebelah kanan koma
desimal adalah bukan angka penting.
Contoh : 0,007 (Mengandung 1 angka penting)
0,080 (Mengandung 2 angka penting)
5. Bilangan-bilangan puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya yang memiliki
angka-angka nol pada deretan akhir harus dituliskan dalam notasi ilmiah agar
jelas apakah angka-angka nol tersebut termasuk angka penting atau bukan.
Contoh : 450000 (Mengandung 4 angka penting)
5,00 ( Mengandung 2 angka penting)

b. Operasi-Operasi Dalam Angka Penting
Di dalam operasi penjumlahan atau pengurangan dalam angka penting dari
operasi tersebut hanya boleh mengandung satu angka yang diragukan, angka kedua
yang di ragukan tak perlu di tuliskan dan jika seluruh bilangan tidak di garis bawahi,
angka yang terakhir adalah angka yang di ragukan atau angka tafsiran.
Dalam operasi perkalian atau pembagian, banyaknya angka penting dari kedua
macam operasi tersebut harus sama dengan angka penting yang paling sedikit.
Misalnya deretan pertama memiliki lima angka penting dan deretan bilangan kedua
hanya mempunyai dua angka penting, maka hasil operasi perkalian atau pembagian
hanya memiliki dua angka penting.

c. Sumber Ketidakpastian
Setiap pengukuran mengandung ketidakpastian. Adapun penyebab dari
ketidakpastian adalah orang yang melakukan pengukuran dan alat ukur itu sendiri.
Berikut ini adalah beberapa jenis sumber-sumber ketidakpastian yang sering di
jumpai.

1. Ketidakpastian Bersistem
Ketidakpastian bersistem dapat disebut sebagai sumber kesalahan, karena
bersumber dari alat ukur. Ketidakpastian ini meliputi :
1. Kesalahan kalibrasi
2. Kesalahan titik nol
3. Kesalahan komponen alat
4. Gesekan, biasanyaa pada alat-alat yang dapat bergerak
5. Paralaks.

2. Ketidakpastian Acak
Ketidakpastian ini bersumber pada keadaan atau gangguan yang sifatnya acak.
Penyebab ketidak pastian ini antara lain :
1. Gerakbrown molekul udara
2. Fluktuasi tegangan listrik
3. Landasan yang bergetar
4. Bising
5. Radiasi latar

3. Adanya Nilai Skala Terkecil Alat Ukur
Setiap alat ukur mempunyai sksla terkecil dari berbagai ukuran. Karena
keterbatasan penglihatan dalam pembacaan, skala terkecil ini juga merupakan sumber
kesalahan.
4. Keterbatasan pengamatan.
Biasanya di sebabkan karena kurang terampilnya pengamat menggunakan alat
utamanya alat-alat canggih yang melibatkan banyak komponen yang harus diatur.

d. Melaporkan Hasil Pengukuran
1. Pengukuran Tunggal
Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan satu kali saja. Adapun
ketidakpastian pada pengukuran tunggal ditetapkan sama dengan setengah skala
terkecil. Ketidakpastian pengukuran tunggal


x = x skala terkecil
2. Pengukuran berulang
Pengukuran berulang adalah pengukuran yang dilakukan lebih dari satu kali.
Misalnya, suatu besaran fisika diukur N kali pada kondisi yang sama, dan
diperoleh hasil-hasil pengukuran x
1
, x
2
x
3
,x
N
(disebut sebagai sampel). Nilai
rata-rata sampel didefinisikan sebagai berikut



Ketidak pastian pengukuran berulang dinyatakan oleh simpangan baku nilai rata-
rata sampel.




x = =
=