Anda di halaman 1dari 21

Metode Spektrometri #2

Mudasir
Chemistry Department
Gadjah Mada University
Yogyakarta, Indonesia

PERHITUNGAN KUANTITATIF DALAM
SPEKTROMETRI
I.6.1 Hukum Lambert-Beer
Jumlah radiasi yang diserap oleh suatu larutan sampel
digambarkan oleh hukum Beer-Bouguer-Lambert yang
umumnya dikenal dengan istilah hukum Beer.
Po = Intensitas sinar datang
C = Konsentrasi spesies penyerap radiasi
b = Tebal media yang dilalui sinar
P = Intensitas sinar yang diteruskan.

Menurut Bouguer (1729) dan Lambert (1760): Apabila energi
radiasi elektromagnetik diabsorpsi oleh suatu spesies dengan
ketebalan b, maka kekuatan energi radiasi yang
ditransmisikan akan turun secara deret geometri
(eksponensial).
Po
P
C
b
Secara metematis pernyataan tersebut dituliskan dalam bentuk
eksponensial sebagai berikut:
T = P/Po = 10
-kb
Dimana k adalah suatu konstanta dan T adalah transmitansi, yaitu fraksi
energi radiasi yang ditransmisikan setelah melewati medium dengan
ketebalan b. Persamaan di atas dapat disusun ulang dalam bentuk
logaritmis sebagai berikut:
Log T = Log P/Po = - kb
Pada tahun 1852, Beer dan Bernard menyatakan bahwa suatu hukum yang
serupa dengan hukum Lambert-Bouguer juga berlaku untuk
ketergantungan T pada konsentrasi C, yaitu:
T = P/Po = 10
-kc
Dimana k adalah konstanta yang baru yang nilainya berbeda dengan k.
Dalam bentuk logaritmik persamaan di atas dapat ditulis:
Log T = Log P/Po = - kc
Jika persamaan Bouguer-Lambert dan Bernard-Beer digabung maka akan
diperoleh hubungan sebagai berikut:
T = P/Po = 10
-abc
a merupakan konstanta gabungan dari k dan k. Dalam bentuk logaritmik
persamaan diatas dapat ditulis:
Log T = Log P/Po = - abc
Persamaan yang terakhir ini sering ditulis dalam bentuk positif pada sisi
kanan sehingga diperoleh:
A = - Log T = Log 1/T = Log Po/P = abc
Di mana A adalah absorbansi. Persamaan ini merupakan bentuk umum dari
hukum Lambert-Beer.

Perhatian: yang berbanding lurus dengan konsentrasi larutan sampel adalah
absorbansi (A), bukan transmitansi (T) atau sinar yang diserap (Po P).
Prosen transmitansi diberikan oleh persamaan:
% T = P/P
o
x 100
Karena T = % T/100, maka
A = log (100/%T) = log 100 log %T
Atau
A = 2,00 log % T, dan
% T = antilog (2,00 A)
Jika b dinyatakan dalam cm dan c dalam gram/liter, maka konstanta a disebut
absorptivitas. Harga konstanta ini tergantung pada panjang gelombang dan
sifat materi (sampel) penyerap radiasi sinar. Jika c dinyatakan dalam satuan
mol/liter, maka absorbansi (A) menjadi:
A = e b c
Dengan e adalah absorptivitas molar. Satuan untuk e dan a adalah :
e = cm
-1
. mol
-1
. liter
a = cm
-1
. g
-1
. liter
sedangkan tebal media (b) dalam praktek biasanya dibuat konstan, sehingga
absorbansi hanya merupakan fungsi dari konsentrasi sampel.
Tabel I.2 Istilah-istilah dan simbol yang digunakan
pada pengukuran absorbansi
Istilah dan simbol Definisi Nama dan simbol alternatif
Kekuatan radiasi (P, P
o
)


Absorbansi (A)
Transmitansi (T)
Tebal media (cm), b
Absorptivitas molar, e
Energi radiasi yang mencapai
area tertentu pada detektor
per detik.
Log (P
o
/P)
P/P
o

---
A/b.c
Intensitas radiasi (I, I
o
)


Kerapatan optis, OD Ekstingsi, E
Transmisi, T
l, d
Koefisien ekstingsi molar
Contoh-contoh soal:
Suatu larutan sampel dalam sel 1,0 cm setelah diukur dengan
spektrofotometer mentransmisikan 80 % cahaya pada suatu panjang
gelombang tertentu. Jika absorptivitas zat pada l ini = 2,0. Hitunglah
konsentrasi zat tersebut.
Suatu larutan yang mengandung besi 1,00 mg/100 ml (sebagai kompleks besi-
tiosianat) teramati mentransmisikan 70 % dari sinar yang masuk.
Berapakah absorbansi larutan pada l tersebut.
Berapakah fraksi cahaya yang akan diteruskan jika konsentrasi larutan
besi tersebut 4 kali lebih besar.
Penentuan Komponen dalam Campuran
Campuran 2 senyawa atau lebih yang mempunyai spektra saling
tumpang tindih dapat ditentukan secara simultan.
Menurut Hk. Beer: Absorbansi total 2 zat atau lebih pada suatu l
tertentu akan sama dengan penjumlahan absorbanasi dari
masing-masing zat tersebut, sehingga untuk 2 zat X dan Y:
A = a
X
b C
X
+ a
Y
b C
Y
, atau
A = e
X
b C
X
+ e
Y
b C
Y


Dari Gambar disamping terlihat bhw:
A
1
= A
X1
+ A
Y1
= e
X1
bC
X
+ e
Y1
bC
Y

Dan
A
2
= A
X2
+ A
Y2
= e
X2
bC
X
+ e
Y2
bC
Y

A
1
dan A
2
diukur dengan
spektrofotometer, e
X1
, e
X2
, e
Y1
dan e
Y2
Dengan mengukur Absorbansi lar.
Standar X dan Y pada l
1
dan l1
Gb. spektra
Contoh soal
Kalium dikromat dan kalium permanganat dalam 1 M H
2
SO
4

mempunyai spektra absorbansi yang saling tumpang tindih (overlap).
K
2
Cr
2
O
7
mempunyai absorbansi maksimum pada l
maks
= 440 nm
dan KMnO
4
pada l = 545 nm (l
maks
KMnO
4
sebenarnya 525 nm, ttp
l yang lebih tinggi biasa digunakan karena interferensinya lebih
sedikit). Campuran kedua zat tsb dianalisis secara spektrofotometri
dengan mengukur absorbansi larutan pada kedua l tersebut
dengan hasil sbb: A
440 nm
= 0,405 dan A
545 nm
= 0,712 dengan
menggunakan sel setebal 1 cm.
Hasil pengukuran larutan murni (standar) K
2
Cr
2
O
7
(1 x 10
-3
M) dan
KMnO
4
(2 x 10
-4
M) dalam 1 M H
2
SO
4
dengan menggunakan sel
yang sama adalah sbb:
A
Cr, 440
= 0,374 A
Cr, 545
= 0,009
A
Mn, 440
= 0,019 A
Mn, 545
= 0,475
Hitung konsentrasi dikromat dan permanganat dalam larutan
sampel?
Penyimpangan thd Hk. Beer
Plot konst. Vs. Abs. menurut Hk. Beer akan selalu berupa garis lrs
melewati titik 0, ttp hsl eksp menunjukkan bhw penyimpangan thd
hkm ini srg terjadi.
Peyebab penyimpangan Hk. Beer dpt dikelompokkan menjadi:
- Faktor sejati (real factor)
- Faktor Instrumental (instrumental factor)
- Faktor Kimia (chemical factor)




Real Factor
Terjadi akibat pengabaian perubahan indeks bias dalam medium:
dalam Hk. Beer sesungguhnya ada suku n/(n
2
+2)
2
, sehingga e
hanya konstan apabila n konstan. Kenyataan: indeks bias larutan
naik dengan naiknya konsentrasi sehingga nilai suku n/(n
2
+2)
2

mengecil. Jadi penyimpangan negatif akan terjadi dengan naiknya
konsentrasi larutan

Konsentrasi
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

normal
Penyimp. negatif
Penyimp. positif
Instrumental Factor
Hk. Beer berlaku hanya jika berkas sinar yang digunakan benar-
benar monokromatis (terdiri dari hanya satu l). Dalam praktek alat
monokromator tidak pernah dapat menghasilkan sinar yg benar-
benar monokromatis.
Misal sinar yang dihasilkan monokromator terdiri dari 2 gelombang,
yaitu l dan l, menurut Hk Beer, Absorbansi pada l
1

A=log (P
o
/P) = e.b,c atau P
o
/P = 10
e.b.c

Dan untuk l: A=log (P
o
/P) = e.b.c atau P
o
/P = 10
e.b.c

Absorbansi total untuk 2 panjang gelombang:
A
t
=log (P
o
+P
o
)/(P+P), atau
A
t
=log (P
o
+P
o
)/(P
o
. 10
-e.b.c
+P
o
. 10
-e.b.c
)
Jika e = e, Sinar monokromatis, pers. diatas menjadi sama dg Hk.
Beer
Jika e e, sinar polikromatis, terjadi penyimpangan Hk. Beer, grafik
tidak benar-benar linear
e >e: terjadi penyimpangan negatif, e < e = penyimpangan positif
Chemical Factor
Biasanya diakibatkan proses dissosiasi, assosiasi, pembent.
Kompleks, polimerisasi atau solvolisis dalam larutan
As. Benzoat dalam lar. Mrpkn campuran bentuk terionisasi dan tak
terionisasi:
C
6
H
5
COOH + H
2
O

C
6
H
5
COO
-
+ H
3
O
+

(l
maks
=273 nm, e=970) (l
maks
=268 nm, e=560)
terlihat bahwa absorptivitas molar (e) pada 273 nm akan turun
dengan jika larutan diencerkan atau pH larutan semakin tinggi
Dalam larutan murni (tidak ditambahkan buffer), K
2
Cr
2
O
7
akan
berada sebagai ion dikromat dan kromat dalam kesetimbangan:
Cr
2
O
7
2-
+ H
2
O 2CrO
4
2-
+ 2 H
+

Penyimpangan Hk. Beer akan teramati jika larutan diencerkan
dengan air, Konsentrasi spesies Cr
2
O
7
2-
dan CrO
4
2-
sangat
dipengaruhi oleh pH larutan. Penyimpangan Hk. Beer dapat
dikontrol dengan menambahkan asam kuat ke dalam larutan untuk
mempertahankan spesies dikromat; atau larutan dapat dibuat sedikit
alkalis agar semua dikromat berubah menjadi kromat sehingga
dalam larutan hanya ada 1 spesies

Contoh soal
Suatu larutan asam lemah HB (Ka = 1,00x10
5
)
mengabsorbsi Radiasi ultraviolet dengan l
max
=
280 nm, e = 975. Spesies B

tidak mengabsorbsi
Radiasi. Jika sel yang dipakai 1,00 cm dan
konsentrasi asam tersebut 2,00 x 10
3
F :
(a) Hitunglah absorbansi larutan tersebut pada l
maks
(b) Jika larutan diencerkan 2x berapakah
absorbansinya
(c) Perkirakan apakah larutan tersebut mengikuti Hk.
Beer
Kesalahan Fotometri
Diakibatkan oleh kesalahan sel fotolistrik pada detektor dalam
membedakan sinar datang dan sinar yang ditransmisikan
Terjadi pada larutan yang sangat encer atau terlampau pekat
Agar kesalahan analisis minimum perlu dicari range absorbansi
(A)/transmitansi (T) yang memberikan kesalahan minimal. Secara
matematis dpt diturunkan pers. Beer:
a.b.C = -log T ; C = -(1/ab) log T . . . . . .. . .(1)
jika pers ini diturunkan diperoleh:
dC = -1/ab (log e)/T dT . . . . . . . . . .. . . . .(2)
Jika pers. (2) dibagi dengan pers(1), diperoleh
dC/C = (log e dT) / (T log T) . . . . . . . . . . . . . (3)
Pers(3) adalah kesalahan relatif konsentrasi (C) yang diakibatka oleh
perubahan T
pers(3) akan bernilai minimum (yang berarti kesalahan juga minimum
apabila turunan persamaan tersebut = 0,
d/dT [(log e dT)/(Tlog T)] = 0
log T + log e = 0 log T = -log e = 0,4343
T = 0,368 atau T = 36,8 % atau A = 0,43
Kesalahan analisis<5 % jika digunakan A = 1 - 0,1 atau T = 10 80 %
Grafik Kesalahan Fotometri
Instrumentasi Spektrofotmetri (1)
Alat yang dipakai untuk mempelajari absorpsi atau emisi radiasi
elektromagnetik sebagai fungsi panjang gelombang disebut
Spektrometer atau Spektrofotometer. Komponen-komponen
utama alat spektrofotometer adalah:
Sumber radiasi yang stabil dan berkelanjutan (kontinu)
Sistem lensa, cermin dan celah untuk membatasi, membuat parallel
dan menfokuskan berkas sinar.
Suatu monokromator untuk menyeleksi sinar menjadi l tertentu
(sinar monokromatis).
Kontainer transparan untuk tempat sample (biasa disebut dengan
sel atau kuvet).
Detektor radiasi yang dirangkaikan dengan suatu pembaca (read
out) baik meter atau recorder.
Diagram blok lengkap alat spektrofotometer disajikan pada Gambar
I.10.
Sumber
Radiasi
Monokromator Sampel
Detektor
Rekorder
Instrumentasi (2)
Sumber Radiasi
Radiasi sinar tampak: umumnya dipakai lampu filamen tungsten
yang mempunyai daerah panjang gelombang 320 2500 nm.
Kontrol terhadap voltase sangat diperlukan karena perubahan 1
volt akan mengakibatkan perubahan kekuatan sinar menjadi 4 x
lebih besar. Biasanya digunakan regulator atau stabilisator.
Radiasi sinar ultraviolet: Umumnya digunakan lampu hydrogen
(atau deuterium) yang menghasilkan radiasi kontinyu pada l = 180
375 nm. Ada 2 tipe lampu ini, yaitu yang menggunakan voltase
tinggi dan voltase rendah. Lampu deuterium dapat menghasilkan
intensitas sinar lebih besar dari lampu hydrogen.
Monokromator
Ada 2 jenis monokromator, yaitu:
Prisma: penguraian sinar didasarkan pada perbedaan indeksnya
di udara dan di dalam prisma, sehingga sinar diteruskan sesuai
dengan panjang gelombang masing-masing.
Difraksi Grating: Penguraian sinar didasarkan pada grating
(permukaan benda seperti gergaji), grating dapat diputar dengan
sudut tertentu, sehingga diperoleh sinar dengan l seperti yang
diinginkan.
Gambar Monokromator
Instrumentasi (3)
Kontainer sample (sel/kuvet)
Sel atau Kuvet tempat sample (biasanya berupa larutan) ditempatkan
harus terbuat dari bahan yang tembus radiasi pada panjang gelombang
yang akan digunakan untuk pengukuran absorbansi. Untuk bekerja pada
daerah ultraviolet (<350 nm) digunakan sel yang terbuat dari kuarsa atau
silika fused. Sel jenis ini juga dapat dipakai pada daerah tampak dan
sampai pada l = 3 mm di daerah radiasi inframerah.
Jika kita hanya bekerja pada daerah tampak maka dapat dipakai sel-sel
berikut iini:
Sel kaca silikat: 350 nm 2 mm.
Sel dari Plastik: untuk daerah tampak (350 750 nm).
Detektor
Ada tiga jenis detector yang biasa digunakan pada alat spektrofotometer,
yaitu:
Sel Fotovoltaik (Barrier-layer)
Phototube
Photomultiplier tube
Dari ketiga jenis detector di atas Photomultiplier tube memberikan
keuntungan-keuntungan karena lebih sensitive sehingga mampu
membedakan perubahan intensitas sinar meskipun sinar yang sampai ke
detector sangat lemah. Detektor jenis inilah yang sekarang banyak dipakai.
MACAM-MACAM SPEKTROFOTOMETER
Meskipun secara umum spektrofotometer mempunyai rancangan dasar
sebagaimana dibahas dalam sub-bab sebelumnya, namun demikian
setidaknya ada tiga jenis spektrofotometer yang telah dikenal.
Spektrofotometer berkas tunggal (single beam)
Spektrofotometer berkas ganda (double beam)
Spektrofotometer Gilford
Spektrofotometer berkas tunggal (single beam) banyak digunakan karena
cukup murah, tetapi memberikan hasil yang memuaskan. Alat ini hanya terdiri
dari satu berkas sinar sehingga dalam prakteknya, pengukuran sample dan
larutan blanko atau standar harus dilakukan secara bergantian dengan
menggunakan sel yang sama.
Spektrofotometer berkas ganda (double beam): biasa dijumpai pada alat
spektrofotometer yang telah memakai autosacnning panjang gelombang dan
mencatat secara otomatis absorbansi (A) sebagai fungsi panjang gelombang
(l). Alat jenis ini mempunyai 2 berkas sinar sehingga pengukuran absorbansi
larutan sample dan larutan blanko dapat dilakukan secara parallel dan tidak
perlu bargantian.
Spektrofotometer Gilford banyak dipakai di laboratorium biokimia dan
mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan spektrofotometri
biasa karena mampu membaca absorbansi (A) sampai pada angka 3
(spektrofotometri biasa : 0,1 1,0). Hal ini disebabkan alat ini menggunakan
komponen yang disebut dengan photomultiplier feed-back circuit.
Teknik-Teknik Analisis
Ada tiga teknik yang biasa dipakai dalam analisis secara spektometri. Ketiga
teknik tersebut adalah :
Metoda Standard Tunggal
Metoda ini sangat praktis karena hanya menggunakan satu larutan standard
yang telah diketahui konsentrasinya (C
std
). Selanjutnya absorbsi larutan
standard (Astd) dan absorbsi larutsn sampel (A
smp
) diukur dengan
Spektrofotometri. Dari hukum Beer diperoleh :
A
std
= e.b.C
std
A
smp
= e.b.C
smp
e.b = A
std
/ C
std
e.b = A
smp
/ C
smp
sehingga,
A
std
/C
std
= A
smp
/C
smp
C
smp
= (A
smp
/A
std
) x C
std
Dengan mengukur Absorbansi larutan sampel dan standar, konsentrasi larutan
sampel dapat dihitung.
Metode Kurva Kalibrasi
Dalam metode ini dibuat suatu seri larutan standar dengan berbagai konsentrasi
dan absorbansi dari larutan tersebut diukur dengan AAS. Langkah selanjutnya
adalah membuat grafik antara konsentrasi (C) dengan Absorbansi (A) yang
akan merupakan garis lurus melewati titik nol dengan slope = e.b atau slope =
a.b. Konsentrasi larutan sampel dapat dicari setelah absorbansi larutan sampel
diukur dan diintrapolasi ke dalam kurva kalibrasi atau dimasukkan ke dalam
pers. garis lurus yang diperoleh dengan menggunakan program regresi linear
pada kurva kalibrasi
Teknik-Teknik Analisis
Metoda Adisi Standard
Metoda ini dipakai secara luas karena mampu meminimalkan kesalahan yang
disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan (matriks) sampel dan standard.
Dalam metoda ini dua atau lebih sejumlah volume tertentu dari sampel
dipindahkan ke dalam labu takar. Satu larutan diencerkan sampai volume
tertentu, kemudian diukur absorbansinya tanpa ditambah dengan zat standard,
sedangkan larutan yang lain sebelum diukur absorbansinya ditambah terlebih
dulu dengan sejumlah tertentu larutan standard dan diencerkan seperti pada
larutan yang pertama. Menurut hukum Beer akan berlaku hal-hal berikut :
A
x
= k.C
x
; A
T
= k(C
s
+ C
x
)
dimana,
C
x
= konsentrasi zat sampel
C
s
= konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel
A
x
= Absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)
A
T
= Absoebansi zat sampel + zat standar
Jika kedua persamaan diatas digabung, akan diperoleh:
C
x
= C
s
x {A
x
/(A
T
-A
x
)}
Konsentrasi zat dalam sampel (C
x
) dapat dihitung dengan mengukur A
x
dan A
T

dengan spektrofotometer. Jika dibuat suatu seri penambahan zat standar dapat
pula dibuat suatu grafik antara A
T
lawan C
s
, garis lurus yang diperoleh
diekstrapolasi ke A
T
= 0, sehingga diperoleh:
C
x
= C
s
x {A
x
/(0-A
x
)} ; C
x
= C
s
x (A
x
/-A
x
)
C
x
= C
s
x (-1) atau C
x
= -Cs
Kurva Kalibrasi dan Adisi Standar

Abs A
T

A
x
A=a.b.C



C
x
ppm standar -C
x
0 C
s-1
C
s-2
ppm tambahan

Gambar III.9 Kurva kalibrasi (kiri) dan kurva adisi standar (kanan) dalam analisis
secara spektrometri.