Anda di halaman 1dari 4

Nama : Diana Ratnasari

NIM : 21030112120020
Kelas : 1

TUGAS TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH
PROSES NITRIFIKASI DAN DENITRIFIKASI AUTOTROFIK

A. PROSES NITRIFIKASI
Proses nitrifikasi adalah proses prubahan senyawa amonia (NH4) menjadi senyawa
nitrit (N02-). Selanjutnya nitrit yang terbentuk dioksidasi menjadi nitrat (N03. Proses ini
berlangsung dalam suasana aerobik. Agar reaksi dapat berjalan dengan sempurna, maka
diperlukan tambahan udara dari luar, misalnya disuplai dengan blower. Sedangkan bakteri
nitrifikasi (nitrifying bacteria) yang bekerja disini adalah jenis bakteri autotrop yang
memerlukan karbon anorganik dalam aktifitasnya serta untuk pertumbuhannya. Untuk itu
diperlukan tambahan karbon anorganik dari luar. Secara sederhana reaksi nitrifikasi adalah
sebagai berikut:
a NH4+ + b 02 + c HC03- ===> d CsH 7N02 + e H20 + t N03-+ 9 H2C03
a, b, c, d , e, t, g, = koefisien persamaan reaksi
Proses nitrifikasi melalui beberapa tahap yakni :
a. Tahap nitritasi
Tahap ini merupakan tahap oksidasi ion ammonium menjadi ion nitrit yang
dilaksanakan oleh bakteri nitrosomonas menurut reaksi berikut :
NH
4
+
+ 0
2
+ OH
-
NO
2
-
+ H
+
+ 2H
2
0 + 59,4 Kcal
Nitrosomonas
Reaksi ini memerlukan 3,43 gram O2 untuk mengoksidasi 1 gram nitrogen menjadi nitrit.
b. Tahap nitrasi
Tahap ini merupakan tahap oksidasi ion nitrit menjadi ion nitrat (N03-) yang
dilaksanakan oleh bakteri nitrobacter menurut reaksi berikut :
NO
2
-
+ 0
2
N0
3
-
+ 18 Kcal
Nitrobacter
Reaksi ini memerlukan 1,14 gr O2 untuk mengoksidasi 1 gr nitrogen menjadi nitrat.
Secara keseluruhan proses nitrifikasi dapat dilihat dari persamaan berikut :
NH
4
+
+ 20
2
NO
3
-
+ 2H
+
+ H
2
0
Kedua reaksi diatas disebut dengan reaksi eksotermik (reaksi yang menghasilkan
energi). Jika kedua jenis bakteri tersebut ada, baik di tanah maupun di perairan, maka
konsentrasi nitrit akan menjadi berkurang karena nitrit dibentuk oleh bakteri nitrosomonas
yang akan dioksidasi oleh bakteri nitrobacter menjadi nitrat. Kedua bakteri ini dikenal
sebagai bakteri autotropik yaitu bakteri yang dapat mensuplai karbon dan nitrogen dari
bahan-bahan anorganik dengan sendirinya. Bakteri ini rnenggunakan energi dari proses
nitrifikasi untuk membentuk sel sintesa yang baru.
Faktor Pengontrol Proses Nitrifikasi
Beberapa faktor pengontrol dari proses nitrifrkasi dalam proses pengolahan air antara lain
adalah :
Konsentrasi Oksigen Terlarut (Dissolved Oksigen)
Proses nitrifikasi akan berjalan dengan baik jika DO minimum> 1 mgtl.
Temperatur
Kecepatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi dipengaruhi oleh temperatur antara 8 -
30C, sedangkan temperatur optimumnya sekitar 30C.
PH
Pada proses biologi, nitrifikasi dipengaruhi oleh pH. pH optimum untuk bakteri
nitrosomonas dan nitrobacter antara 7,5 - 8,5. Proses ini akan terhenti pada pH dibawah 6,0.

B. PROSES DENITRIFIKASI
Denitrifikasi merupakan suatu proses yang secara umum digunakan untuk
mengurangi senyawa nitrat dan mengkonversi menjadi nitrit dan pada akhirnya menjadi gas
nitrogen. Pada proses denitrifikasi pembentukan nitrit hanya sebagaai senyawa antara
(intermediate) sebelum menjadi gas nitrogen, sehingga jumlah konsentrasi nitrit selalu
berubah karena tergantung kecepatan laju pengurangan dari nitrat menjadi nitrit dan dari
nitrit menjadi gas nitrogen. Adapun reaksi umum yang terjadi dalam proses denitrifikasi
yaitu:
Pada proses denitrifikasi autotrofik digunakan bakteri autotrofik. Bakteri ini tidak
memerlukan bahan organik untuk melakukan aktivitas dan pertumbuhannya melainkan cukup
dengan menggunakan senyawa anorganik (N0
2
-
, N0
3
-
) serta sumber karbon anorganik dari
CO
2
dan HC0
3
. Terdapat beberapa spesies bakteri autotrof yang dapat mereduksi nitrat
menjadi gas nitrogen yaitu: Thiobacillus denitrificans, Thiomicrospira denitrificans, Para
coccus denitrificans dan beberapa spesies Pseudomonas. Beberapa bakteri autotrof
denitrifikasi menggunakan sumber energi yang berasal dari reaksi redoks anorganik dengan
elemen-elemen seperti hidrogen dan berbagai senyawa reduksi belerang.
Keuntungan yang diperoleh jika menggunakan bakteri autotrof yaitu:
(1) Tidak perlu menambahkan sumber karbon organik sebagai nutrisi sehingga menekan
biaya.
(2) Tidak menimbulkan polusi sampingan oleh bahan organik yang tidak terolah, hal ini
terjadi penggunaan bakteri heterotrof.
(3) Dapat diterapkan dengan sistem yang sederhana yaitu dengan reaktor bahan isian batu
belerang dan batu kapur.
(4) Tidak akan menghasilkan sisa lumpur sehingga mengurangi penanganan terhadap
lumpur .
Faktor-faktor yang mempengaruhi denitrifikasi dengan bakteri autotrof
a) Konsentrasi nitrat
Konsentrasi nitrat yang terlalu tinggi pada air Iimbah dapat menyebabkan shock
loading pada bakteri denitrifikasi karena tidak mampu menahan beban nitrat yang terlalu
besar. Namun demikian, konsentrasi nitrat sampai 1000 mg tidak menghambat kecepatan
proses denitrifikasi.
b) Kondisi anoxic
Terdapatnya oksigen bebas pada saat proses denitrifikasi dapat menjadi pesaing bagi
nitrat sebagai penerima elektron sehingga apabila terdapat banyak oksigen bebas maka proses
reduksi nitrat akan terhambat. Selain itu, keberadaan oksigen dapat mengganggu kerja bakteri
karena bakteri bersifat anaerobik. Oleh karena itu proses denitrifikasi akan berjalan secara
maksimal tanpa adanya oksigen bebas
c) Keasaman air limbah (pH)
Proses denitrifikasi paling efektif pada pH antara 7,0 sampai 8,5 dan kerja bakteri
yang optimal sekitar 7,0 .
d) Suhu
Denitrifikasi laju reaksi optimum terjadi pada suhu 35
o
C. Denitrifikasi dapat pula
terjadi pada suhu rendah yaitu 5
o
C sampai 0C namun dengan laju pengurangan nitrat yang
lebih rendah .
e) Waktu Tinggal (Hydraulic Retention Time/HRT)
Waktu tinggal yang dibutuhkan dalam proses denitnfikasi tergantung pada karakteristik air
limbah dan kondisi lingkungan.