Anda di halaman 1dari 3

Om Swastiastu,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Salam Sejahtera untuk kita semua,

Yang terhormat Bapak Subagia, yang saya hormati para undangan yang berkenan hadir dalam
acara ini, serta teman-teman yang saya banggakan.
Di hari yang berbahagia ini marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Karena berkat
rahmatnya kita dapat berkumpul pada hari ini dalam acara Melihat Kondisi Perpajakan di
Indonesia.
Kondisi perpajakan di Indonesia bisa dibilang cukup mengenaskan. Besarnya jumlah penduduk
Indonesia tidak sejalan dengan tingkat penerimaan pajaknya dari warga negara. Padahal,
idealnya, pajak menjadi sumber dana pembangunan yang hasilnya nanti akan kembali dirasakan
masyarakat.
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan setiap tahunnya selalu dihadapkan pada
tantangan besar yakni memaksimalkan penerimaan pajak yang selama ini diakui masih sangat
rendah. Terlebih, pajak menjadi instrumen utama dalam penerimaan negara.

Mantan Hakim Konstitusi Mahfud MD menilai pemerintah sebetulnya tidak perlu mengutang di
aman saat ini mencapai Rp 2.371 triliun seandainya rasio penerimaan pajak tinggi. Minimal,
rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bisa menyentuh angka 15 persen.

Tapi nyatanya, rasio pajak masih berkisar di angka 11-12 persen. Masalah ini juga pernah
diutarakan Wakil Presiden Boediono.

"Kita memiliki masalah undertaxing. Saat ini rasio pajak terhadap PDB Indonesia sekitar 12
persen. Ini adalah yang terendah di Asia," kata Boediono beberapa waktu lalu.

Hal yang sama diakui Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany. Data Ditjen Pajak, ada 60 juta
orang yang sudah masuk kategori di atas Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP). Namun, baru 25
persen wajib pajak individu yang memenuhi kewajibannya. Dengan begitu, masih ada 40 juta
orang yang belum bayar pajak, dan yang menyerahkan SPT baru 8,8 juta orang.

Menurut hasil investigasi International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ), terdapat
sembilan yang termasuk orang terkaya di Indonesia diketahui menyelewengkan pajaknya di luar
negeri melalui lebih dari 190 perusahaan dan lembaga pengelolaan uang di luar negeri.

Menurut hasil investigasi tersebut, kekayaan sembilan konglomerat yang mendominasi politik
dan ekonomi Indonesia itu bila digabung mencapai USD 36 miliar Rp 348,8 triliun seharusnya
masuk kas negara. Dari sembilan konglomerat tersebut, ternyata berhubungan erat dengan
Soeharto.

Kenyataan itulah yang membuat Ditjen Pajak harus bekerja ekstra untuk mengawasi kepatuhan
pajak para miliuner Indonesia ini.

Masalah-masalah yang dihadapi masyarkat Indonesia yang tidak patuh membayar pajaknya yaitu
sebagai berikut :
1. Tak jujur
Ditjen Pajak menilai masyarakat Indonesia kecenderungannya saat ini masih takut
terbebani oleh pajak tinggi. Sebab itu banyak ditemukan ketidakjujuran pada saat pengisian SPT
pajak oleh wajib pajak.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kismantoro Petrus
menceritakan pengalamannya melayani orang yang mengaku kesulitan mengisi SPT.

2. Merasa terbebani oleh pajak
Rendahnya rasio pajak salah satunya disebabkan acuhnya masyarakat untuk melaporkan
pembayaran pajaknya pada negara.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kismantoro Petrus
bercerita dari pengalaman para petugas pajak, disampaikan bahwa rata-rata orang sudah terlalu
khawatir dibebani pajak besar. Padahal, kata Petrus, ketika wajib pajak jujur, proses pelaporan
akan jadi lebih mudah.

3. Bakal diintip rekening para orang kaya
JP menerima informasi dari Bank Indonesia, bahwa dari seluruh rekening warga
Indonesia yang disimpan di bank nilainya ratusan triliunan. Hanya saja, jumlah sebesar itu
didominasi 180.000 rekening berisi simpanan di atas Rp 2 miliar.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kismantoro Petrus
yakin itu adalah rekening orang kaya yang patut dicermati apakah sudah benar memenuhi
kewajiban pajaknya.

4. Miliuner harus kena pajak lebih tinggi
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) meminta pemerintah
menerapkan tarif pajak yang lebih tinggi untuk orang kaya dengan pendapatan diatas Rp 5
miliar.
selama ini pemerintah memberlakukan tarif pajak yang sama kepada orang yang berpendapatan
Rp 500 juta hingga Rp 5 miliar. Ini dinilainya tidak sesuai dengan prinsip keadilan.
5. Masih terjadi aksi pelarian kekayaan keluar negeri
selama ini, perusahaan multinasional disinyalir melarikan keuntungan kena pajaknya ke
wilayah yang tak menerapkan pungutan negara. Karena itulah setiap otoritas keuangan wajib
berbagi data mengenai negara mana saja yang biasa menjadi surga pajak.
Banyak perusahaan yang menanamkan keuntungan di wilayah seperti Cayman Island,
Swiss, dan negara lain yang kerap disebut surga pajak. Pendapatan itu tidak dilaporkan ke negara
tempat mereka beraktivitas.
Melihat masalah-masalah diatas dapat disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat untuk
membayar pajak masih sangat kurang, terutama bagi kalangan orang kaya yang merupakan
sumber pajak yang paling besar. Seorang yang penghasilannya diatas 5 miliar bisa menggantikan
banyak orang yang penghasilannya dibawah rata-rata UMR. Oleh karena itu, marilah kita
bersama menumbuhkan kesadaran untuk membayar pajak, karena dengan membayar pajak
pendapatan Negara akan semakin tinggi sehingga kehidupan masyarakat di Indonesia semakin
makmur. Bagi yang merasa penghasilannya diatas PTKP jangan pernah merasa takut untuk
membayar pajak. Mulailah dari diri sendiri apakah sudah kita membayar pajak dengan benar.

Kiranya cukup sekian yang bisa saya sampaikan, Untuk segala tutur kata yang tidak berkenan di
hati Bapak Ibu serta hadirin semuanya,baik yang saya sengaja atau tidak, saya meminta maaf
yang sebesar-besarnya.
Akhir kata, semoga Tuhan Yang Mahakuasa melimpahkan rahmat, karunia, dan ridho-Nya
kepada kita semua, dalam membangun bangsa dan negara kita, menuju Indonesia yang lebih
maju, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.
Terima kasih.
Om Santhi Santhi Santhi Om.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Anda mungkin juga menyukai