Anda di halaman 1dari 16

1

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN ABSES OTAK




Di Susun Oleh :
1. Moh Heru M
2. Yuni Pratiwi
3. Ika Fitria
4. Tufi Laili
5. Nur Rokayyah Pujiastuti


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2011


2

I. Devinisi
Abses otak merupakan infeksi intra kranial dapat melibatkan jaringan otak
atau lapisan yang menutupi otak dan medula spinalis (meningitis) atau adanya
akumulasi bebas / terbentuknya pus berkapsul dalam otak (abses otak) sumber
penyebab dapat berupa bakteri, virus atau jamur (fungi) dan hasilnya /
penyembuhan dapat komplet (sembuh total) sampai pada menimbulkan penurunan
neurologis dan juga sampai terjadi kematian. (Marilgan E doengs 1992).
Abses otak adalah suatu proses infeksi yang melibatkan parenkim otak;
terutama disebabkan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan oleh
penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan atau melaui sistem vaskular.
(Price,2005;1155)
Timbunan abses pada daerah otak mempunyai daerah spesifik, pada daerah
cerebrum 75% dan cerebellum 25%.(long,1996;193)
II. Etiologi
6 20% abses otak disebabkan oleh kombinasi berupa mikroorganisme seperti
bakteri, virus, jamur, fokus infeksi yang dapat menyebabkan abses otak antara lain :
- Trauma : - misalnya Trauma akibat peluru, tusukan, imfresi faktur(cekungan
yang seakan akan ditimbulkan oleh alat lain).
- Fokus infeksi primer yang dapat menyebabkan abses serebri adalah :
- Otogenik : mastoiditis, otitis mediasinusitis : sinusitis frontalis, ethmoidales,
maksilaris,bronchietas(percabangan pada bronkus), tonsillitis(radang tonsil),
apendisitis, pyelone, phritus, septik aborsi, osteomyliti, ekstraksi gigi.
- Lain-lain : infeksi mata thrombose sinus caifernosus, infeksi wajah
- 20% tidak ditemukan fokus infeksi primer







3

III. Patofisiologi
Penyebab terbanyak adalah bakteri anaerobik (70%). Bakteri lain yang jadi
penyebab adalah Streptococcus sp, Staphylococcus sp, Bacteriodes fragilis.
Pada bayi baru lahir biasanya disebabkan oleh Proteus sp, E coli, Group B
Streptococcus.
Abses otak dapat terjadi karena:
1. Penyebaran langsung dari fokus infeksi yang berdekatan dengan otak, misalnya
infeksi telinga tengah, sinusitis paranasalis dan mastoiditis
2. Penyebaran dari fokus infeksi yang jauh secara hematogen
3. Infeksi akibat trauma tembus kepala
4. Infeksi pasca operasi kepala
Penyakit jantung bawaan sianotik dengan pirau dari kanan ke kiri (misalnya pada
Tetralogy of Fallot), terutama pada anak berusia lebih dari 2 tahun, merupakan
faktor predisposisi terjadinya abses otak
Terjadinya abses otak melalui 4 stadium, yaitu:
1. Stadium serebritis dini (hari ke 1 3)
2. Stadium serebritis lambat (hari ke 4 9)
3. Stadium pembentukan kapsul dini (hari ke 10 14)
4. Stadium pembentukan kapsul lambat (setelah hari ke 14)

Gejala
Abses otak bisa menyebabkan berbagai gejala, tergantung kepada lokasinya.
Gejalanya bisa berupa sakit kepala, mual, muntah, rasa mengantuk, kejang,
perubahan kepribadian dan gejala kelainan fungsi otak lainnya.
Gejala-gejala tersebut bisa timbul dalam beberapa hari atau beberapa minggu.
Pada awalnya penderita meraskan demam dan menggigil, tetapi gejala ini bisa
menghilang ketika tubuh berhasil menangkal infeksi tersebut.





4

WOC
Faktor faktor prediposisi : invasi bakteri ke otak langsung,
penyebaran infeksi dari daerah lain, penyebaran infeksi dari organ lain








Ganggua perfusi
jaringan serebra
Perubahan tingkat kesadaran :
letargik, perubahan
perilaku,disorentasi dan fotofobia
Nyeri
kejang

Kesadaran Koma









Infeksi septicemia jaringan otak
Proses supurasi dari meningen
Pembentukan
trasudat dan eksudat
Peningkatan TIK Penekanan area lokal
Kematian
Koping keluarga tidak efektif
Kecemasan keluarga
Gangguan mobilitas fisik
Gangguan persepsi sensori
Intake nutrisi
tidak adekuat
Perubahan
pemenuhan nutrisi
Pemenuhan nurisi
kurang dari kebutuhan
Pemupukan secret,
kemampuan batuk menurun
Gangguan bersihan
jalan nafas
Desak ruang sekunder dari
kompresi adanya pus
Odem serebra Penekanan area
pengatur kesadaran
Kejang dan nyeri kepala
5

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan laboratorium:
o Darah: jarang dapat memastikan diagnosis. Biasanya lekosit sedikit meningkat
dan laju endap darah meningkat pada 60% kasus
o Cairan Serebro Spinal (CSS): dilakukan bila tidak ada tanda-tanda
peningkatan tekanan intra kranial (TIK) oleh karena dikhawatirkan terjadi
herniasi
Pemeriksaan radiologi:
CT Scan: CT scan kepala dengan kontras dapat dipakai untuk memastikan
diagnosis. Pada stadium awal (1 dan 2) hanya didapatkan daerah hipodens dan
daerah irreguler yang tidak menyerap kontras. Pada stadium lanjut (3 dan 4)
didapatkan daerah hipodens dikelilingi cincin yang menyerap kontras
V. PENATALAKSAAN MEDIS
Abses otak diobati dengan terapi antimikroba dan irisan pembedahan atau ispirasi
Pengobatan anti mikroba diberikan untuk menghilangkan organism sebagai
penyebab atau menurunkan perkembangan virus.
Dosis besar melalui intra vena biasanya di tentukan proaperatif untuk
menembus jaringan otak dan abses otak. Terapi diteruskan pada pasca operasi
Kortikosteroid dapat diberikan untuk menurunkan inflamasi odem serebra jika
pasien menunjukkan adanya peningkatan deficit neurologis.
Obat obatan antikonvulsan ( fenitoin, fernobalbital ) dapat diberikan sebagai
profilaksis mencegah terjadinya kejang. Abses yang laus dapat diobati dengan
terpi antimikroba yang tepat, dengan pemantauan ketat melalui pengamatan
dengan CTscan.
Pada penatalaksanaan medikamentosa diberikan:
1. Cefotaxime200-300 mg/KgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis selama 6 minggu
atau
Kombinasi Ampicillin 200 mg/KgBB/hari IV dibagi dalam 6 dosis +
Chloramphenicol 100 mg/KgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis.
6

2. Metronidazole 15 mg/KgBB/dosis I V kemudian dilanjutkan dengan 7,5
mg/KgBB/dosis IV/PO setiap 6 jam selama 7 hari (maksimal 4 g/hari).
3. Apabila didapatkan peningkatan TIK dapat diberikan:
a. Mannitol dosis awal 0,5-1 mg/KgBB IV kemudian dilanjutkan 0,25-0,5
mg/KgBB IV setiap 4-6 jam
b. Dexamethasone dosis awal 0,5 mg/KgBB IV dilanjutkan dengan dosis
rumatan0,5 mg/KgBB/hari IV dibagi dalam 3 dosis atau
c. Methylprednisolonedosis awal 1-2 mg/KgBB IV dilanjutkan dengan dosis
rumatan 0,5 mg/KgBB/dosis setiap 6 jam
Pengurangan dosis (tappering off) dimulai pada hari ke 5
Perhatian: Steroid dapat menghambat penetrasi antibiotik pada abses dan
menghambat pembentukan dinding abses yang berakibat abses mudah pecah
dan terjadi meningitis.
Setelah pengobatan abses otak, devisit neurologis dapat terjadi berupa
hemiparasis, kejang, gangguan penglihatan, dan kelumpuhan saraf cranial karena
kemungkinan adanya gangguan jaringan otak. Serangan ulang biasanya terjadi
dengan angka kematian yang tinggi.
VI. Pemeriksaan fisik
Tanda tanda fital (TTV)
Peningkayan suhu tubuh lebih dari normal 38 41
o
C. keadaan ini biasanya
dihubungkan dengan proses supursi di jaringan otak yang sudah mengganggu pusat
pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan dengan tanda
tanda peningkatan TIK. Apabila disertai peningkata frekuensi nafas berhubungan
dengan peningkatan laju metabolisme umum adanya infeksi pada system
pernafasan sebelum mengalami abses otak. Tekanan darah biasanya normal atau
meningkat karena adanya tanda tanda TIK.

B1. ( Breathing )
Inspeksi kemampuan klien batuk, produksi sputum, sesak nafas, pengunaan otot
bantu nafas dan peningkatan frekuensi nafas didapatkan pada klien abses otak yang
disertai adanya gangguan pada system pernafasan. Palpasi thoraks untuk menilain
taktil premitus akan menurun pada sisi yang sakit. Auskultasi bunyi nafas tambahan
seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan akumulasi secret.
7

B2. ( blood )
Penakajian pada system kardiovaskuler terutama dilakukan pada klien abses otak
pada tahap lanjut seperti apabila klien sudah mengalami renjatan (syok).

B3. ( brain )
Penakajian B3 merupakan pemeriksaan yang focus dan lebih lengkap disbanding
pengkajian system lainya.
Pengkajian Tingkat Kesadaran : kualitas kesadaran klien merupakan parameter
yang paling mendasar dan parameter terpenting yang membutuhkan pengkajian.
Tingkat keterjagaan klien dan respon terhadap lingkungan adalah indicator paling
sensitive untuk disfungsi system persyarafan. Beberapa system digunakan untuk
membuat peningkatan perubahan dalam kewapadaan dan keterjagaan. Pada
keadaan lanjut, tingkat kasadarn klien abses otak biasanya berkisar tingkat letargi,
stupor, dan semikomantosa. Jika klien sudah mengalami koma maka penilaian GCS
sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk
pemantauan pemberian asuhan.
Pengakajian Fungsi Serebral : setatus mental : observasi penampilan, tingkah
laku, nilai gaya bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Pada klien abses
otak tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.
Pengkajia saraf cranial : dilakukan pengkajian I XII.
1. Saraf I (olfaktorius) : Bisanya pada abses otak tidak ada kelainan dan fungsi
penciuman tidak ada kelainan.
2. Saraf II (optikus) : test ketajaman mata pada kondisi normal. Pemeriksaan
papiledema mungkin didapatkan pada abses otak supurastif disertai abses serebri
dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya TIK.
3. Saraf III (okulomotorius), IV (trokelaris), dan VI (abdusen) : pemeriksaan
fungsi dan reaksi pupil pada klien abses otak yang tidak disertai penurunan
kesadaran biasanya tanpa kelainan. Pada tahap lanjut abses otak mengganggu
kesadaran, tanda tanda prubahan dari fungsi dan reaksi pupil akan didapatkan.
Dengan alas an yang tidak diketahui, klien abses otak mengeluh mengalami
fitifobia atau sensitive yang berlebihan terhadap cahaya.
8

4. Saraf V (trigeminus) : Tidak didapatkan paralisis pada otot wajah dan reflex
kornea biasanya tidak ada kelainan.
5. Saraf VII (fasialis) : Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris
6. Saraf VIII (cabang vestibularis vestibulokrealis dan cabang koklearis) : tidak
ditemukan adanya tuli konduksi dan tuli persepsi
7. Saraf IX (glosofaringeus) dan X (vagus) : kemampuan menelan baik
8. Saraf XI (asesorius) : tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trepezius
adanay usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku kuduk
9. Saraf XII (hipoglesus) : lidah simetris tidak ada deviasi pada suatu sisi dan
tidak ada fasikulasi. Idra pengecapan normal
Pengkajian system motorik : kekuatan otot menurun, control keseimbangan dan
koordinasi pada abses otak tahap lanjut mengalami perubahan, sehingga klien
mengalami kelemahan ekstremitas dan mengganggu aktifitas sehari hari.
Pengkajian reflek : pemeriksaan reflek profundal, pengetukan pada tendon,
ligamentumatau periostenum derajat reflek pada respon normal.
Gerakan infolunter : tidak ditemukan adanya tremor, tic dan distomia. Pada
keadaan tertentu klien mengalami kejang umum, terutama pada anak dengan abses
otak disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang dan peningkatan TIK juga
berhubungan dengan abses otak.
Pengkajian system sensori : pemeriksaan sensori pada abses otak biasanya
didapatakan sensasi rasa normal, nyeri normal, dan suhu normal, tidak ada sensasi
abnormal dipermukaan tubuh, propriosesi dan diskriminatif normal
Gambar :
Gugun itu bukan terkena tumor tetapi hanya pengumpulan nanah atau abses otak

9

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Abses Otak
1. PENGKAJIAN
a. Anamnesis
Identitas klien ;usia, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama,
suku bangsa, tgl MRS, askes dst.
Keluhan utama ; nyeri kepala disertai dengan penurunan kesadaran.
Riwayat penyakit sekarang ; demam, anoreksi dan malaise, peninggian
tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal .
Riwayat penyakit dahulu ; pernah atau tidak menderita infeksi telinga
(otitis media, mastoiditis ) atau infeksi paru-paru (bronkiektaksis,abses
paru,empiema )jantung ( endokarditis ), organ pelvis, gigi dan kulit.

b. Pemeriksaan fisik
K/U
Pola fungsi kesehatan : Aktivitas/istirahat : gejala ; malaise
Tanda ; ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter.
Sirkulasi
Gejala ; adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis
Tanda ; TD meningkat,nadi menurun (berhubungan peningkatan TIK dan
pengaruh pada vasomotor).
Eliminasi
Tanda;adanya inkontensia dan/atau retens
Nutrisi
Gejala ; kehilangan nafsu makan,disfagia (pada periode akut )
Tanda ; anoreksia,muntah.turgor kulit jelek,membran mukosa kering.
Higiene
Tanda ; ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri(pada
periode akut)
Neurosensori
Gejala ; sakit kepala,parestesia,timbul kejang, gangguan penglihatan
Tanda ; penurunan status mental dan kesadaran,kehilangan memori, sulit
10

dalam mengambil keputusan,afasia,mata; pupil unisokor (peningkatan
TIK),nistagmus.kejang umum lokal.
Nyeri /kenyamanan
Gejala ; Sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan; leher/
punggung kaku.
Tanda ; tampak terus terjaga. Menangis/mengeluh.
Pernapasan
Gejala ; adanya riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda ; peningkatan kerja pernapasan ( episode awal ). Perubahan mental
(letargi sampai koma) dan gelisah.
Keamanan
Gejala ; adanya riwayat ISPA/infeksi lain meliputi ; mastoiditis, telinga
tengah, sinus, abses gigi; infeksi pelvis, abdomen atau kulit; fungsi lumbal,
pembedahan, fraktur pada tengkorak/ cedera kepala.
Tanda ; suhu meningkat, diaforesis, menggigil. Kelemahan secara umum;
tonus otot flaksid atau spastik;paralisis atau parese.

c. Prosedur diagnostic
1. Saraf I (olfaktorius) : Bisanya pada abses otak tidak ada kelainan dan
fungsi penciuman tidak ada kelainan.
2. Saraf II (optikus) : test ketajaman mata pada kondisi normal. Pemeriksaan
papiledema mungkin didapatkan pada abses otak supurastif disertai abses
serebri dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya TIK.
3. Saraf III (okulomotorius), IV (trokelaris), dan VI (abdusen) : pemeriksaan
fungsi dan reaksi pupil pada klien abses otak yang tidak disertai penurunan
kesadaran biasanya tanpa kelainan. Pada tahap lanjut abses otak mengganggu
kesadaran, tanda tanda prubahan dari fungsi dan reaksi pupil akan didapatkan.
Dengan alas an yang tidak diketahui, klien abses otak mengeluh mengalami
fitifobia atau sensitive yang berlebihan terhadap cahaya.
4. Saraf V (trigeminus) : Tidak didapatkan paralisis pada otot wajah dan
reflex kornea biasanya tidak ada kelainan.
5. Saraf VII (fasialis): Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
6. Saraf VIII (cabang vestibularis vestibulokrealis dan cabang koklearis) : tidak
ditemukan adanya tuli konduksi dan tuli persepsi
11

7. Saraf IX (glosofaringeus) dan X (vagus) : kemampuan menelan baik.
8. Saraf XI (asesorius) : tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan
trepezius adanay usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku kuduk
9. Saraf XII (hipoglesus) : lidah simetris tidak ada deviasi pada suatu sisi dan
tidak ada fasikulasi. Idra pengecapan normal

d. Pemeriksaan laboratorium
LED meningkat dan mungkin disertai leukositosis.
(http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.pdf/10AbsesOtak89.
html )
Pemeriksaan penunjang
CT Scan
Mengidentifikasi dan melokalisasi abses besar dan abses kecil disekitarnya.
(price,2005;1155)
Arteriografi
Menunjukkan lokasi abses di lobus temporal atau abses cerebellum. (long,
1996; 194)















12

DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas b/d tidak adekuatnya batuk efektif dan
peningkatan produksi secret di jalan nafas.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam setelah dilakukan tindakan jalan nafaf kembali efektif .
Kriteria hasil : secara S sesak nafas (-), frekuensi nafas kembali normal 16
20x/mnt,tidak menggunakan alat bantu nafas, retraksi ICS (-), ronkhi (-/-), dapat
mendemonstrasikan batuk efektif.
Intervensi Rasional
Kaji fungsi paru adanya bunyi
tambahan, perubahan irama dan
kedalaman, pengunaan obat obat,
aksesoris, warna, dan kekentalan
sputum.
Memantau dan mengatasi komplikasi potensial.
Mengkaji fungsi pernafasn dengan interval yang
teratur adalah penting karena pernafasan yang tidak
efektif dan adanya kegagalan, karena adanya
kelemahan atau paralisis pada otot otot intercosta
yang berkembang dengan cepat.
Atur posisi fowler dan semifowler Peninggian kepala tempat tidur memudahkan
pernafasan, meningkatkan ekspansi dada dan
meningkatkan batuk lebih efektif.
Ajarkan cara batuk efektif Kx berada pada resiko tinggi bila tidak dapat batuk
dengan efektif untuk membersihkan jalan nafas dan
mengalami kesulitan dalam menelan, yang dapat
menyebabkan aspirasi saliva dan mencetuskan gagal
nafas akut.
Lakukan fisioterapi dada ;vibrasi
dada
terapi fisik dada membantu meningkatkan batuk
lebih efektif.
Panuhi hidrasi cairan via oral,
seperti minum air putih dan
pertahankan intake cairan
2500ml/haari
Pamenuhan cairan dapat mengencerkan mucus yang
kental dan dapat membantu pemenuhan cairan yang
banyak keluar dari tubuh.
Lakukan pengisapan lender di
jalan nafas
Pernafasan mungkin diperlukan untuk
mempertahankan kepatenan jalan nafas menjadi
bersih.



13

2. Nyeri kepala b/d proses inflamasi sekunder dan inflamasi kuman dan proses
supurasi di saraf pusat.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam nyeri berkurang / rsa sakit terkontrol.
Criteria hasil : kx dapat tidur tenang, wajah rileks, dan menverbalisasikan penurunan
rasa sakit
Intervensi Rasional
Kaji skala nyeri, stimulus yang
meningkatkan nyeri
Menjadi data dasar untuk menentukan intervensi
selanjutnya.
Lakukan menejemen nyeri keperawatan
Atur posisi fisiologis
Posisi fisiologis akan meningkatkan asupan O
2
ke jaringan yang mengalami iskemia.
Ajarkan tehnik relaksasi
pernafasan dalam
Meningkatkan asupan O
2
sehingga akan
menurunkan nyeri sekunder dari iskemia
jaringan otak.
Kompres hangat area kepala Vasodilatasi sekunder dari kompres hangat akan
meningkatkan suplai darah dan oksigen ke area
nyeri.
Kolaborasi dengan pemberian analgetik Mungkin perlu untuk menurunkan rasa sakit.
Catatan : narkotika merupakan kontra indikasi
karena berdampak pada status neurologis
sehingga sulit untuk dikaji.

3. Resiko perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan yang b/d asupan nutrisi yang tidak
adekuat
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam nutrisi dapat terpenuhi secara
seimbang.
Criteria hasil : setelah dirawat selama 3 hari klien tidak terjadi komplikasi akibat
penurunan asupan nutrisi.
Intervensi Rasional
Ukur intake makanan yang diberiakan
pada klien
Mengobservasi kebutuhan klien dalam
meningkatkan kebutuhan nutrisi.
Kaji kemampuan klien dalam pemenuhan
kebutuhan nutrisi oral.
Perhatikan yang diberikan untuk nutrisi yang
adekuat dan pencegahan kelemaha otot karena
kurang makanan.
Berikan nutrisi via selang ansogastrik Jika klien tidak mampu menelan maka
makanan dapat diberikan pada selang
lambung.
Berikan nutrisi via oral bila paralisis
menelan berkurang
Bila klien dapat menelan maka melalui oral
diberikan perlahan lahan dan sangat hati
hati

14

4. Resiko cedera b/d kejang, perubahan status mental dan penurunan
tingkat kesadaran
Tujuan : dalam waktu 3x24jam perawatan klien bebas dari cedera yang disebabkan
oleh kejang dan penurunan kesadaran.
Criteria hasil : kx tidak mengalami cedera apabila kejang berulang ada
Intervensi Rasional
Monitor pada kejang tangan, kaki,
mulut, dan otot otot muka lainya.
Gambaran tribalitas system persyarafan
pusat memerlukan evaluasi yang sesuai
dengan intervensi yang tepat untuk
mencegah terjadinya komplikasi.
Persiapan lingkungan yang aman
seperti batasan ranjang, papan
pengaman, dan alat suksion selalu ada
dekat pasien.
Melindungi klien bila kejang terjadi
Pertahankan tirah baring total selama
fase akut
Mengurangi resiko jatuh / terluka jika
vertigo terjadi
Skolaborasi pemberian terapi :
diazepam, Phenobarbital
Untuk mencegah atau mengurangi kejang
Catatan : fenorbital dapat menyebabkan
depresi dan sedasi system pernafasan.

5. Koping keluarga tidak efektif b/d kondisi kritis, prognosis penyakit yang
tidak jelas ketidakmampuan dalam mengambil koping yang efektif.
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam diberikan tindakan koping keuarga kembali efektif
Criteria hasil : keluarga klien menjadi tenang setelah dilakukan tindakan oleh dokter
dan perawat
Intervensi Rasional
Bina hubungan saling percaya (bhsp) Menciptakan hubungan saling percaya antar
keluarga dan parawat.
Mandiri perawat Memberikan informasi pada keluarga
tentang penyakit klien agar keluara
mengetahui penyakit yang di alami klien.
Kaji kemampuan keluarga dalam
perawatan klien
Agar keluaraga mengetahui perkembangan
klien dan rasa cemas berkurang.




15

6. Hambatan mobolitas fisik b/d penurunan kesadaran dan kekuatan otot
Tujuan : dalam waktu 3x24jm setelah diberikan tindakan mobilitas klien meningkat
atau teradaptasi
Criteria hasil : peningkatan kemampuan dan tidak terjadi thrombosis vena profunda
dan emboli paru merupakan ancaman klien paralisis, yang tidak mampu
menggerakkan ekstermitas. Dekubitus tidak terjadi.
Intervensi Rasional
Kaji tingkat kemampuan klien
dalam melakukan mobilitas fisik
Merupakan data dasar untuk melakukan
intervensi selajutnya.
Dekatka alat dan sarana yang
dibutuhkan klien dalam
pemenuhan aktifitas sehari hari.
Bila pemenuhan mulai untuk dilakukan, klien
dapat mengalami hipotensi ortostatik (dari
disfungsi autonom) dan kemungkinan
membutuhkan meja tempat tidur untuk
menolong mereka mengambil posisi duduk
tegak
Hindari factor yang
memungkinkan terjadinya trauma
pada saat klien melakukan
mobilitas
Individu paralisis mempunyai kemungkinan
mengalami kompresi neuropati, paling sering
saraf ulnar dan parienal. Bantalan dapat
ditempatkan di siku dan kepala fibula untuk
mencegah terjadinya masalah ini.
Sokong ekstermitas yang
mengalami paralisis
Ekstermitas disokong dengan posisi fungsional
dan member latihan rentang gerak secara pasif
paling sedikit dua kali sehari.
Monitor komplikasi hambatan
mobilitas fisik
Deteksi dini trombisis vena profunda dan
dekubitus sehingga dengan pamenuhan yang
cepat penangana lebih mudah dilaksanakan.
Kolaborasi dengan tim medis
fisioterapis
Kolaborasi dengan tim ahli terapi fisik untuk
mencegah deformitas kontraktur dengan
menggunakan pengubahan posisi yang hati
hati dan latihan rentang gerak.






16

DAFTAR PUSTAKA
Osenbach RK, Loftus CM: Diagnosis and management of brain abscess. Neurosurg
Clin N Am, 1992, Apr ; 3(2) : 403-20.
Saez-Liorens X: Brain abscess in children. Semin Pediatr Infect Dis 2003, 2003 ;
14 (2) : 108-14.
Sennaroglu L., Sozeri B: Otogenic brain abscess : review of 41 cases. Otolaryngol
Head Neck Surg 2000, Dec ; 123 (6) : 751-5.
Seydoux C, Francioli P: Bacterial brain abscesses : Factors influencing mortality
and sequellae. Clin Infect Dis, 1992 ; 15 (3) : 394-401.
Ucapan terima kasih kepada: dr. Erny, Sp.A atas bantuan dalam penyusunan
pedoman diagnosis & terapi, Neurologi anak.