Anda di halaman 1dari 4

KONSEP SEKS DAN SEKSUALITAS

March 19, 2011 slametsuryono Leave a comment Go to comments


KONSEP SEKS DAN SEKSUALITAS DALAM KEPERAWATAN
Oleh: Slamet sur
A. Pengertian Seksualitas
Seksualitas sulit untuk di definisikan karena seksualitas memiliki banyak aspek kehidupan kita
dan diekspresikan melalui beragam perilaku. Seksualitas bukan semata-mata bagian intrinsik dari
seseorang tetapi juga meluas sampai berhubungan dengan orang lain. Keintiman dan
kebersamaan fisik merupakan kebutuhan sosial dan biologis sepanjang kehidupan. Kesehatan
seksual telah didefinisikan sebagai perintregrasian aspek somatik emosional intelektual dan
social dari kehidupan seksual dengan cara yang positif memperkaya dan meningkatkan
kepribadian, komunikasi, dan cinta. Banyak orang salah berpikir tentang seksualitas hanya dalam
istilah seks. Seksualitas dan seks bagaimanapun adalah sesuatu hal yang berbeda seks sering
digunakan dalam 2 cara. Paling umum seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari
berhubungan, yaitu aktivitas seksual genital. Seks juga digunakan untuk member lebel jender,
baik sesorang itu pria atau wanita. Seksualitas dilain pihak adalah istilah yang lebih luas
seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin
yang berbeda dan atau sama dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi,
dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seorang merasa tentang diri mereka dan
bagaimana mereka mengomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan
yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual dan perilaku yang
lebih halus, seperti isyarat gerak tubuh, etiket berpakaian, dan perbendaharaan kata. Seksualitas
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pengalaman hidup ini sering berbeda antara pria dan wanita
(Denney dan Quadagno, 1992; Zawid, 1994).
B. Aspek Seksualitas dalam Keperawatan untuk orang dewasa
a. Masalah keperawatan pada seksualitas
Masalah keperawatan yang terjadi pada kebutuhan seksual adalah pola seksual dan perubahan
disfungsi seksual. Pola seksual mengandung arti bahwa suatu kondisi seorang individu
mengalami atau beresiko mengalami perubahan kesehatan seksual sedangkan kesehatan seksual
sendiri adalah integrasi dari aspek samatis, emosional, intelektual, dan sosial dari keberadaan
seksual yang dapat meningkatkan rasa cinta, komunikasi, dan kepribadian. Disfungsi seksual
adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau beresiko mengalami perubahan fungsi seksual
yang negatif yang di pandang sebagai tidak berharga dan tidak memadainya fungsi seksual.
b. Perkembangan Seksual
- Masa Dewasa
Dewasa telah mencapai maturasi tetapi terus untuk mengesplorasi dan menemukan maturasi
emosional dalam hubungan. Dewasa mudah secara tradisonal dipandang sebagai berperan dalam
melahirkan anak atau membesarkan anak. Model ini menggambarkan sebagian besar orang
dewasa. Keintiman dan seksualitas juga merupakan masalah bagi orang dewasa yang memilih
untuk tidak melakukan hubungan seks, tetap melajang karena pilihan sendiri atau karena situasi
tertentu tetap menginginkan aktivitas seksul, yaitu mereka yang melajang setelah memutuskan
hubungan, mereka yang homoseksul, mereka yang tidak mempunyai anak berdasarkan pilihan,
atau mereka yang tidak mampu melahirkan anak. Sambil mengembangkan hubungan yang intim,
semua orang dewasa yang secara seksual aktif harus belajar teknik stimulasi dan respon seksual
yang memuaskan bagi pasangan mereka beberapa orang dewasa mungkin hanya memerlukan isi
untuk bereksperimen dengan perilaku.plihan atau keyakinan bahwa ekspresi seksual selain dari
senggama penis-vagina adalah normal. Orang dewasa dapat didorong untuk mengungkapkan
kepada pasangan mereka tipe stimuli dan seksual atau kasih sayang yang dianggap sebagai
memuaskan. Pengenalan secara mutual tentang keinginan dan preverensi dan negosiasi praktik
seksual mencetuskan ekspresi seksual yang positif. Penyuluhan keagaman, nilai keluarga, dan
sikap keluarga mempengaruhi penerimaan terhadap sebagian bentuk stimulasi atau mungkin
akan mempunyai efek emosional residual seperti rasa bersalah atau ansietas dan disfungsi
seksual.
Pada akhir masa dewasa individu menyesuiakan diri terhadap perubahan social dan emosi sejalan
denga anak2 mereka meninggalkan rumah.pembaruan kembali keintiman dapat memungkinkan
atau diperlukan diantara pasangan. Namun demikian salah satu atau kedua pasangan dapat
mengalami ancaman terhadap gambaran diri karena tubuh telah menua dan mungkin berupaya
untuk mencapai kemudaan melalui hubunga seksual dengan pasangan yang jauh lebih muda. Jika
di inginkan pasangan dapat di bantu untuk menenemukan sesuatu yang baru atau kegairahan
baru dalam hubungan monogami yang langgeng melalui percobaan posisi teknik seksual dan
penggunaan fantasi.
- Masa Dewasa Muda Dan Pertengahan Umur
Pada tahap ini perkembangan secara fisik sudah cukup dengan ciri seks sekunder mencapai
puncaknya, yaitu antara umur 18-30 tahun. Pada masa pertengahan umur terjadi perubahan
hormonal: pada wanita ditandai dengan penurunan estrogen, pengecilan payu darah dan jaringan
vagina, penurunan cairan vagina selanjutnya akan tejadi penurunan reaksi ereksi. Pada pria di
tandai dengan penurunan ukuran penis serta penurunan semen. Dari perkembangan psikososial,
sudah mulai terjadi hubungan intim antara lawan jenis proses pernikahan dan memiliki anak
sehingga terjadi perubahan peran.
- Masa dewasa tua
Perubahan yang terjadi pada tahap ini pada wanita di antaranya adalah atropi pada vagina dan
jaringan payudara, penurunan cairan vagina, dan penurunan intensitas orgasme pada wanita
sedangakan pada pria akan mengalami penurunan produksi sperma, berkurangnya intensitas
orgasme, terlambatnya pencapaian ereksi dan pembesaran kelenjar prostat.
- Masa Dewasa Tua (Lansia)
Seksualitas dalam usia tua beralih dari penekanan pada prokreasi menjadi penekanan pada
pertemanan kedekatan fisik komunikasi intim dan hubungan fisik mncri ksenangan (Ebersole &
Hess 1994).Tidak ADa alas an bagi individu tidak dapat tetap aktif secara seksual sepanjang
mereka memilihnya. Hal ini dapat secara efektif dipenuhi dengan mmperthnkn aktifitas seksual
secara teratur sepanjang hidup terutama seks bagi wanita hubungan senggama teratur membantu
mmperthnkan elastisitas vagina mencegah atrofi dalam mempertahankan kemampuan untuk
lubrikasi. Namun demikian proses penuaan mempengaruhi perilaku seksual. Perubahan fisik
yang terjadi bersama proses penuaan harus dijelaskan kepada klien lansia. Lansia mungkin juga
menghadapi kekuatiran kesehatan yang mmbuat sulit bagi mereka untuk melanjutkan aktifitas
seksual.dewasa yang menua mungkin harus menyesuaikan tindakan seksual dan berespons
terhadap penyakit kronis medikasi sakit dan nyeri atau masalah kesehatan lainnya.
c. Penyimpangan seksual pada orang dewasa
Beberapa bentuk penyimpangan seksual atau deviasi seksual yang dapat dijumpai di masyarakat
atara lain:
1. Pedovilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek anak-anak.
Penyimpangan ini ditandai dengan adanya fantasi berhubunga seksual dengan anak puberitas.
Hal tersebut disebabkan oleh kelainan mental, seperti zhizofrenia, sadisme organik, atau
gangguan kepribadian organik.
2. Eksibisionisme yaitu kepuasan seksualdicapai dengan cara mempertontonkan alat kelamin
dihadapan orang yang tidak dikenal, namun tidak ada upaya untuk melakukan hubungan seksual.
3. Fetisisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan benda seks seperti sepatu
tinggi, pakaian dalam, stocking, atau lainnya. Disfungsi ini dapat disebabkan antara lain karena
eksperimen seksualyang normal dan beda pergantian kelamin.
4. Transvestisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan memakai pakaian lawan jenis dan
melakukan peran seks yang berlawanan, misalnya pria yang sedangan menggunakan pakaian
dalam wanita.
5. Transeksualisme yaitu bentuk penyimpangan seksual ditandai dengan perasaan tidak senang
terhadap alat kelaminnya, adanya kelainan untuk berganti kelamin.
6. Voyerisme/Skopoffilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan melihat alat kelamin orang lain
atau aktivitas seksual yang dilakukan orang lain.
7. Marokisme yaitu kepuasan seksual dicapai melalui kekerasan atau disakiti terlebih dahulu
secara fisik atau psikologi.
8. Sadisme merupakan lawan dari Masokisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menyakiti
objeknya, baik secara fisik maupun psikologis (dengan menyiksa pasangan) hal tersebut dapat
disebabkan antara lain karena perkosaan dan pendidikan yang salah.
9. Homoseksual dan Lesbianisme yaitu penyimpangan seksual yang ditandai dengan ketertarikan
secara fisik maupun emosi kepada sesama jenis. Kepuasan seksual dicapai melalui hubungan
dengan orang berjenis kelamin sama.
10. Zoofilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek binatang.
11. Sodomi yaitu kepuasan seksual dicapai dengan hubungan melalui anus.
12. Nekropilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek mayat.
13. Koprofilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek feses.
14. Urolagnia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek urine yang diminum.
15. Oral seks/Kunilingus yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan mulut pada alat
kelamin wanita.
16. Fekiksio yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunkan mulut pada alat kelamin laki-
laki.
17. Froterisme/Friksionisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan cara menggosokan penis
pada pantat wanita atau badan yang berpakain ditempat yang penuh sesak manusia.
18. Goronto yaitu kepuasan seksual dicapai melalui hubungan dengan lansia.
19. Frottage yaitu kepuasan seksual dicapai dengan cara meraba orang yang senangi tanpa
diketahui lawan jenis.
20. Pornografi yaitu gambar atau tulisan yang dibuat secara khusus untuk memberi rangsangan
seksual (Maramis WF, 2004).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi masalah seksual
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi gangguan dalam fungsi seksual diantaranya:
1. Tidak adanya panutan (role model)
2. Gangguan struktur dan fungsi tubuh seperti adanya trauma, obat, kehamilan atau abnormalitas
anatomi genetalia.
3. Kurang pengetahuan atau informasi yang salah megenai masalah seksual.
4. Penganiayaan secara fisik.
5. Adanya penyimpangan psikoseksual.
6. Konflik terhadap nilai.
7. Kehilangan pasangan karena perpisahan atau kematian