Anda di halaman 1dari 29

31

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Beruntung Raya
Banjarmasin
Wilayah Kerja Puskesmas Beruntung Raya memiliki jumlah penduduk
sebanyak 8.707 jiwa, dengan distribusi beragam seperti pada tabel-tabel di bawah
ini:
Tabel 5.1 Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
No. Kelurahan Laki- laki (jiwa) Perempuan (jiwa)
Jumlah
(jiwa)
1.
Tanjung
Pagar
4362 4345 8707

(Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Beruntung RayaTahun 2012)

Berdasarkan tabel 5.1, jenis kelamin yang mendominasi di wilayah kerja
Puskesmas Beruntung Raya adalah laki-laki. Kriteria kepadatan penduduk
menurut BPS tahun 1999:
1. Jumlah penduduk < 200 jiwa/Km
2
: tidak padat
2. Jumlah penduduk 200-400jiwa/Km
2
: sedang
3. Jumlah penduduk > 400 jiwa/Km
2
: padat
Jadi, tingkat kepadatan penduduk di daerah Puskesmas Beruntung Raya
sebesar 273 jiwa/km
2
dan tergolong dengan sedang.


32

Distribusi penduduk menurut kelompok umur terdapat pada tabel di bawah
ini:
Tabel 5.2Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur Di Puskesmas
Beruntung Raya Tahun 2012
No Kelompok Umur (tahun)
Jenis Kelamin
Jumlah
L P
1 0 4 504 467 971
2 5 9 479 432 911
3 10 14 425 429 854
4 15 19 387 378 765
5 20 24 308 352 660
6 25 29 380 416 796
7 30 34 414 433 847
8 35 39 392 365 757
9 40 44 312 296 608
10 45 49 245 220 465
11 50 54 207 190 397
12 55 59 126 113 239
13 60 64 83 91 174
14 65 69 41 61 102
15 70 74 34 54 88
16 75+ 25 48 73
JUMLAH 4362 4345 8707

(Sumber: Proyeksi Badan Pusat Statistik Tahun 2012)

Berdasarkan tabel 5.2, penduduk usia 0 4 tahun di wilayah kerja
Puskesmas Beruntung Raya adalah sebanyak 971.
Sepuluh penyakit terbanyak di Puskesmas Beruntung Raya tahun 2012
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.3Sepuluh Penyakit Terbanyak di Puskesmas Beruntung Raya 2012
No Nama Penyakit Jumlah
1 Hipertensi 1808
2 ISPA 1665
3 Dispepsia 917
4 Penyakit Pulpa 529
33

5 DM 438
6 Diare 296
7 Dermatitis 241
8 Batuk 227
9 Arhtritis 190
10 Penyakit Lain-lain 139

(Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Beruntung Raya Tahun 2012)

Berdasarkan tabel 5.3, terlihat bahwa ISPA merupakan penyakit terbanyak
kedua yang diderita oleh penduduk di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya
dengan jumlah 1.665 jiwa setelah penyakit hipertensi yang menduduki urutan
pertama.

Tabel 5.4 kasus ISPA berdasarkan kelompok umur di Puskesmas Beruntung Raya
Tahun 2012

Bulan
Pneumonia Pneumonia Berat Non Pneumonia
< 1 th 1-4 th > 5 th < 1 th 1-4 th < 1 th 1-4 th > 5 th
Januari 2 2 0 0 0 24 17 101
Februari 1 6 0 1 1 21 24 94
Maret 1 2 2 0 0 16 14 116
April 2 5 0 0 0 22 18 98
Mei 2 0 0 0 0 18 19 100
Juni 1 2 0 0 0 17 13 98
Juli 1 3 1 0 0 35 21 111
Agustus 1 0 0 0 2 36 34 82
September 2 1 1 0 0 75 71 112
Oktober 2 3 0 0 0 36 38 106
November 0 6 0 0 0 24 17 101
Desember 4 1 3 0 0 24 27 140
Total 19 31 7 1 3 348 313 1259
Total
semua 57 4 1920

34

Pada tabel 5.4 didapatkan bahwa kasus ISPA pada balita umur 1-4 tahun
dari pneumonia sebanyak 31 kasus, pneumonia berat 3 kasus, dan non pneumonia
313 kasus.

B. Data Penelitian
Berikut ini hasil penelitian yang didapatkan di wilayah kerja Puskesmas
Beruntung Raya, dari tanggal 2 Januari 2014 sampai tanggal 8Januari 2014, yang
disajikan pada tabel-tabel berikut beserta interpretasinya.

1. Karakteristik Responden
a. Kejadian Kasus ISPA
Distribusi responden berdasarkan kejadian kasus ISPAdi wilayah kerja
Puskesmas Beruntung Raya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.1 DistribusiKejadian Kasus ISPA Responden di Wilayah Kerja
Puskesmas Beruntung Raya

Berdasarkan gambar 5.1 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
termasuk dalam kategori ISPA yaitu sebanyak 67%, kemudian kategori non
ISPAsebanyak 33%.

67%
33%
KEJADIAN KASUS ISPA
ISPA Non ISPA
35

b. Usia
Distribusi respondenberdasar usia di wilayah kerja Puskesmas Beruntung
Raya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.2 Distribusi responden berdasarkan Usia di Wilayah Kerja
Puskesmas Beruntung Raya

Berdasarkan gambar 5.2 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
termasuk dalam kategori > 2 tahunyaitu sebanyak 67%, kemudian kategori 1 2
tahun sebanyak 33%.

c. Konsumsi ASI
Distribusi responden menurut konsumsiASI di wilayah kerja Puskesmas
Beruntung Rayadapat dilihat pada gambar di bawah ini:
33%
67%
USIA
1-2 tahun > 2 tahun
36


Gambar 5.3 Distribusi Konsumsi ASI Responden di Wilayah Kerja
Puskesmas Beruntung Raya

Berdasarkan gambar 5.3 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
memiliki riwayat konsumsi ASI tidak eksklusif yaitu sebanyak 77%, sedangkan
responden yang memiliki riwayat konsumsi ASI eksklusif sebanyak 23%.


d. Riwayat BBLR
Distribusi responden berdasarkanRiwayat BBLRdi wilayah kerja
Puskesmas Beruntung Rayadapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.4 DistribusiRiwayat BBLR Responden di Wilayah Kerja
Puskesmas Beruntung Raya

23%
77%
KONSUMSI ASI
Eksklusif Bukan Eksklusif
7%
93%
RIWAYAT BBLR
BBLR Tidak BBLR
37

Berdasarkan gambar 5.4 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
tidak mempunyai riwayat BBLR yaitu sebanyak 93%, sedangkan yang
mempunyai riwayat BBLR sebanyak 7%.


e. Status Imunisasi
Distribusi responden berdasarkan status imunisasidi wilayah kerja
Puskesmas Beruntung Rayadapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.5 DistribusiStatus Imunisasi Responden di Wilayah Kerja
Puskesmas Beruntung Raya

Berdasarkan gambar 5.5 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
memiliki status imunisasi lengkap yaitu sebanyak 77%, sedangkan responden
yang memiliki status imunisasi tidak lengkap yaitu sebanyak 23%.


f. Status Gizi
Distribusi responden berdasarkan status gizi di wilayah kerja Puskesmas
Beruntung Raya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
77%
23%
RIWAYAT IMUNISASI
Lengkap Tidak Lengkap
38


Gambar 5.6 Distribusi Riwayat Keluarga Responden di Wilayah Kerja
Puskesmas Beruntung Raya

Berdasarkan gambar 5.6 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
memiliki status gizi tidak normal yaitu sebanyak 63%, sedangkan responden yang
memiliki status gizi normal sebanyak 40%.

C. Analisis Data Penelitian
Tabel 5.5 Kejadian ISPA Balita menurut Umur
ISPA Non ISPA Total
1 - 2 tahun 6 4 10
> 2 tahun 14 6 20
Total 20 10 30

Berdasarkan Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa pada balita kelompok umur 1-2
tahun terdapat 6 responden yang mengalami ISPA, sedangkan kelompok umur > 2
tahun yang mengalami ISPA sebanyak 14 responden. Balita kelompok umur 1-2
tahun yang mengalami non ISPA sebanyak 4 responden, dan kelompok umur > 2
tahun mengalami non ISPA sebanyak 6 responden.
Responden yang mengalami ISPA terbanyak ditemukan pada kelompok
usia > 2 tahun, yaitu sebanyak 14 responden. Responden kelompok usia 1-2 tahun
yang mengalami ISPA didapatkan sebanyak 6 responden.
37%
63%
STATUS GIZI
Normal Tidak Normal
39

Sedangkan responden yang mengalami non ISPA terbanyak juga
ditemukan pada kelompok usia > 2 tahun, yaitu sebanyak 6 responden. Responden
kelompok usia 1-2 tahun yang mengalami non ISPA didapatkan sebanyak 4
responden.
Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa kejadian ISPA banyak dialami
pada kelompok umur balita > 2 tahun. Dari uji statistik Chi-square, diperoleh nilai
significancy p 0,709 > 0,05 yang berarti Ho diterima, Ha ditolak. Dari hasil uji
statistik Chi-square yang dilakukan terhadap data hasil penelitian yaitu hubungan
usia terhadap kejadian kejadian ISPA, tidak didapatkan adanya hubungan usia
terhadap kejadian ISPA. Dari analisis dengan uji statistik Chi-square ini diperoleh
hasil yang bertolak belakang dengan beberapa penelitian yang menyebutkan
bahwa anak-anak yang berumur 0-24 bulan lebih rentan terhadap penyakit ISPA
dibandingkan anak-anak yang berumur diatas 2 tahun.
Umur merupakan salah satu faktor resiko utama pada beberapa penyakit.
Hal ini disebabkan karena umur dapat memperlihatkan kondisi kesehatan
seseorang. Anak-anak yang berumur 0-24 bulan lebih rentan terhadap penyakit
ISPA dibandingkan anak-anak yang berumur di atas 2 tahun. Hal ini disebabkan
imunitas yang belum sempurna dan rongga pernapasan yang masih relatif sempit.
Pada penelitian ini menunjukkan umur tidak berhubungan dnegan kejadian
ISPA. Hal itu karena mungkin terjadinya ISPA tidak dipengaruhi oleh usia
spesifik terkena ISPA. Sebagai contoh pada laporan dari dinas kesehatan kota
semarang ketika kejadian ISPA banyak muncul di semarang disebutkan bahwa
dari seluruh prevalensi kejadian ISPA yang muncul justru adalah usia dewasa.
40

Sehingga dapat disimpulkan ISPA tidak spesifik dipengaruhi oleh umur balita
namun semua usia dapat terkena ISPA karena bukti dilapangan juga menunjukkan
variasi usia yang beragam hingga usia dewasa.
18

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Nasution K dkk, didapatkan hasil
tidak ada hubungan antara usia dengan pravalensi ISPA pada balita di daerah
Urban Jakarta dengan nilai p = 0,327.
13


Tabel 5.6 Kejadian ISPA Menurut Konsumsi ASI

ISPA Non ISPA Total
ASI Eksklusif 2 5 7
Bukan ASI Eksklusif 18 5 23
Total 20 10 30

Berdasarkan Tabel 5.6, dapat dilihat bahwa pada balita yang mempunyai
riwayat konsumsi ASI eksklusif terdapat 2 responden yang mengalami ISPA,
sedangkan yang tidak mendapat ASI eksklusif mengalami ISPA sebanyak 18
responden. Sedangkan balita yang mempunyai riwayat konsumsi ASI eksklusif
yang mengalami non ISPA sebanyak 5 responden, dan yang tidak mendapat ASI
eksklusif mengalami non ISPA sebanyak 5 responden.
Responden yang mengalami ISPA terbanyak ditemukan pada kelompok
yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, yaitu sebanyak 18 responden atau 90%.
Responden kelompok yang mendapatkan ASI eksklusif yang mengalami ISPA
didapatkan sebanyak 2 responden atau 10%.
Sedangkan responden yang mengalami non ISPA pada balita yang tidak
mendapatkan ASI eksklusif, yaitu sebanyak 5 responden atau 50%. Responden
41

yang mendapatkan ASI eksklusif yang mengalami non ISPA didapatkan sebanyak
5 responden atau 50%.
Dari uji statistik Chi-square yang dilakukan, diperoleh nilai significancy p
0,005 > 0,05 yang berarti Ho ditolak, Ha diterima. Dari hasil uji statistik Chi-
square yang dilakukan terhadap data hasil penelitian yaitu hubungan konsumsi
ASI terhadap kejadian ISPA, didapatkan adanya hubungan konsumsi ASI
terhadap kejadian ISPA.
Bayi yang tidak pernah diberi ASI lebih rentan mengalami ISPA. Dari
penelitian-penelitian yang dilakukan sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan
bahwa ASI kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan
virus. Terutama selama minggu pertama (4 sampai 6 hari) payudara akan
menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal yang mengandung zat kekebalan
(imunoglobin, komplemen, lisozim, laktoferin dan sel-sel leukosit) yang sangat
penting untuk melindungi bayi dari infeksi. Penelitian dibeberapa negara sedang
berkembang menunjukkan bahwa ASI melindungi bayi terhadap infeksi saluran
pernapasan berat. Angka kematian kasus secara berarti lebih tinggi pada anak
yang telah disapih daripada anak yang masih diberi ASI. Penelitian menunjukkan
bahwa anak balita yang menderita ISPA 5,3 kali tidak mendapatkan ASI eksklusif
dibandingkan dengan anak balita yang tidak menderita ISPA.
Pada penelitian ini yang mengalami ISPA terbanyak ditemukan pada
kelompok yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, setelah dianalisis juga
didapatkan hubungan antara kejadian ISPA dengan konsumsi ASI. Hal ini sesuai
dengan penelitian Sosilo RH, dkk yang mendapatkan hasil ada hubungan antara
42

ASI Eksklusif dengan kejadian ISPA pada balita dengan hasil analisis nilai PR =
0,193, artinya balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif mempunyai peluang
0,193 kali untuk mengalami ISPA.
14


Tabel 5.7 Kejadian ISPA Menurut Riwayat BBLR

ISPA Non ISPA Total
BBLR 1 1 2
Tidak BBLR 19 9 28
Total 20 10 30

Berdasarkan Tabel 5.7,dapat dilihat bahwa pada balita yang mempunyai
riwayat BBLR terdapat 1 responden yang mengalami ISPA, sedangkan balita
yang tidak mempunyai riwayat BBLR yang mengalami ISPA sebanyak 19
responden. Balita yang mempunyai riwayat BBLR yang mengalami non ISPA
sebanyak 1 responden, dan balita yang tidak mempunyai riwayat BBLR
mengalami non ISPA sebanyak 9 responden.
Responden yang mengalami ISPA terbanyak ditemukan pada mereka yang
tidak mempunyai riwayat BBLR, yaitu sebanyak 19 responden. Responden
mempunyai riwayat BBLR yang mengalami ISPA didapatkan sebanyak 1
responden.
Sedangkan responden yang mengalami non ISPA terbanyak juga
ditemukan pada mereka yang tidak mempunyai riwayat BBLR, yaitu sebanyak 9
responden. Responden mempunyai riwayat BBLR yang mengalami non ISPA
didapatkan sebanyak 1 responden.
43

Dari uji statistik Chi-square yang dilakukan, diperoleh nilai significancy p
1,000 > 0,05 yang berarti Ho diterima, Ha ditolak. Dari hasil uji statistik Chi-
square yang dilakukan terhadap data hasil penelitian yaitu hubungan riwayat
BBLR terhadap kejadian ISPA, tidak didapatkan adanya hubungan riwayat
BBLRterhadap kejadian ISPA.

Resiko kesakitan hingga resiko kematian pada BBLR cukup tinggi oleh
karena adanya gangguan pertumbuhan dan imaturitas organ. Penyebab utama
kematian pada BBLR adalah afiksia, sindroma gangguan pernapasan, infeksi dan
komplikasi hipotermia. Pada bayi BBLR, pembentukan zat anti kekebalan kurang
sempurnasehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi terutama pneumonia dan
sakit saluran pernapasan lainnya. Tetapi pada penelitian ini menunjukkan bahwa
anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah cenderung tidak mengalami
penyakit saluran pernapasan lebih tinggi. Hal ini terjadi karena lebih banyak
sampel dengan BBL normal (97%). Meskipun anak mempunyai riwayat lahir
dengan BBLR, jika didukung oleh kondisi status gizi baik dan pemberian
imunisasi lengkap, anak tersebut tidak mudah terkena penyakit infeksi (ISPA).
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sukmawati (2009) juga
didapatkan hasil tidak ada hubungan BBLR dengan kejadian ISPA pada balita di
wilayah kerja Puskesmas Tunikamaseang Kec. Bontoa Kab. Maros dengan nilai
p=0,636.
15







44

Tabel 5.8 Kejadian ISPAMenurut Status Imunisasi

ISPA Non ISPA Total
Lengkap 17 6 23
Tidak Lengkap 3 4 7
Total 20 10 30

Berdasarkan Tabel 5.8, dapat dilihat bahwa pada balita yang mempunyai
status imunisasi lengkap terdapat 17 responden yang mengalami ISPA, sedangkan
yang mempunyai status imunisasi tidak lengkap yang mengalami ISPA sebanyak
3 responden. Balita yang mempunyai status imunisasi lengkap yang mengalami
non ISPA sebanyak 6 responden, dan balita yang mempunyai status imunisasi
tidak lengkap mengalami non ISPA sebanyak 4 responden.
Dari uji statistik Chi-square yang dilakukan, diperoleh nilai significancy p
0,181 > 0,05 yang berarti Ho diterima, Ha ditolak. Dari hasil uji statistik Chi-
square yang dilakukan terhadap data hasil penelitian yaitu hubungan status
imunisasi terhadap kejadian ISPA, tidak didapatkan adanya hubungan status
imunisasi terhadap kejadian ISPA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status
imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita. Hal ini disebabkan oleh hubungan status
imunisasi dengan ISPA pada balita tidak terjadi secara langsung. Kebanyakan kasus
ISPA terjadi disertai dengan komplikasi campak yang merupakan faktor risiko ISPA
yang dapat dicegah dengan imunisasi. Jadi, imunisasi campak dan difteri yang
diberikan bukan untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap ISPA secara langsung,
melainkan hanya untuk mencegah faktor yang dapat memacu terjadinya ISPA. Masih
tingginya ISPA pada balita, walaupun telah menerima imunisasi lengkap diakibatkan
karena belum ada vaksin yang dapat mencegah ISPA secara langsung.
45

Daya tahan tubuh anak yang rendah dapat mempengaruhi kejadian ISPA pada
balita yang telah memiliki imunisasi lengkap. Kemampuan tubuh seorang anak untuk
menangkal suatu penyakit dipengaruhi beberapa faktor yaitu: faktor genetik dan
kualitas vaksin. Jadi, walaupun seorang anak telah menerima imunisasi lengkap,
kemungkinan untuk menderita ISPA tetap ada.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Evi (2012) di
Kelurahan Maricaya Selatan Wilyah Kerja Puskesmas Mamajang Kota Makassar
yang menghasilkan bahwa status imunisasi tidak berhubungan dengan kejadian ISPA
pada balita. Demikian pun dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Layuk RR
dkk (2012) di Puskesmas Batu Sura.
6,16
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Fedriyansyah menyatakan bahwa yang lebih berperan dalam kejadian ISPA adalah
sistem imun seseorang saat teserang penyakit. Meskipun sudah memilik imunisasi
yang lengkap tidak menjamin seseorang tidak terkena ISPA, namun imunisasi
sifatnya hanya mencegah dan yang terpenting imunitas seseorang.
19


Tabel 5.9 Kejadian ISPAMenurut Status Gizi

ISPA Non ISPA Total
Normal 9 2 11
Tidak Normal 11 8 19
Total 20 10 30

Berdasarkan Tabel 5.9, dapat dilihat bahwa pada balita yang mempunyai
status status gizi normal terdapat 9 responden yang mengalami ISPA, sedangkan
yang mempunyai status gizi tidak normal mengalami ISPA sebanyak 11
responden. Balita yang mempunyai status gizi normal mengalami non ISPA
sebanyak 2 responden, dan balita yang mempunyai status gizi tidak normal
mengalami non ISPA sebanyak 8 responden.
46

Responden yang mengalami ISPA terbanyak ditemukan pada kelompok
yang mempunyai status gizi tidak normal, yaitu sebanyak 11 responden atau 55%.
Responden kelompok yang mempunyai status gizi normal yang mengalami ISPA
didapatkan sebanyak 9 responden atau 45%.
Sedangkan responden yang mengalami non ISPA terbanyak juga
ditemukan pada balita yang mempunyai status gizi tidak normal, yaitu sebanyak 8
responden atau 80%. Responden yang mempunyai gizi normal yang mengalami
non ISPA didapatkan sebanyak 2 responden atau 20%.
Dari uji statistik Chi-square yang dilakukan, diperoleh nilai significancy p
0,694 > 0,05 yang berarti Ho diterima, Ha ditolak. Dari hasil uji statistik Chi-
square yang dilakukan terhadap data hasil penelitian yaitu hubungan status gizi
terhadap kejadian ISPA, tidak didapatkan adanya hubungan status gizi terhadap
kejadian ISPA.

Gizi buruk merupakan faktor predisposisi terjadinya ISPA pada anak. Hal
ini dikarenakan adanya gangguan respon imun. Anak balita yang mengkonsumsi
makanan yang tidak cukup baik dapat mengakibatkan daya tahan tubuhnya
melemah yang akan mudah diserang penyakit infeksi. Sebuah
penelitiandidapatkan hasil bahwa status gizi kurang pada anak balita mempunyai
risiko untuk terkena ISPA 2,5 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang
bergizi baik.
Pada penilitian ini yang mengalami ISPA terbanyak ditemukan pada
kelompok yang mempunyai status gizi tidak normal, yaitu sebanyak 11 responden
atau 55%. Tetapi setelah dianalisis didapatkan bahwa tidak ada hubungan kejadian
47

ISPA dengan status gizi. Hal ini sama dengan penelitian Widarini N.P yang
meneliti hubungan kejadian ISPA dengan status gizi didapatkan hasil status gizi
tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian ISPA dengan nilai p =
0,460.
17
Walaupun ada bukti bahwa kekurangan gizi dapat mempengaruhi
patogen, akan tetapi, pada umumnya dampak kekurangan gizi pada penyakit
infeksi dikaitkan dengan menurunnya fungsi imunitas tubuh.
20

Penelitian ini didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan kejadian ISPA
dengan usia, BBLR, status imunisasi dan gizi yang merupakan faktor resiko
terjadinya ISPA dari faktor anak. Tetapi kejadian ISPA masih ditinggi diwilayah
kerja Puskesmas Beruntung Raya, hal ini mungkin berhubungan dengan faktor
resiko lain seperti faktor orangtua (pendidikan, pengetahuan, dan social ekonomi)
dan faktor lingkungan (polusi udara di rumah, kepadatan hunian, ventilasi rumah
dan kondisi fisik rumah.

gambar 5.1 segitiga epidemiologi penyebab suatu penyakit.
Sebagaimana kita ketahui, menurut teori Achmadi, kejadian penyakit
merupakan hasil interaksi berbagai factor diantaranya manusia dan perilakunya
serta komponen lingkungan yang memiliki potensi penyakit. Sementara menurut
Timmreck, saat ini pendekatan epidemiologi banyak digunakan dalam
48

mempelajari fenomena kejadian penyakit yang sangat beragam. Secara
epidemiologi dalam penanganan suatu penyakit di masyarakat juga
mempertimbangkan faktor penyebab (tunggal atau ganda), cara penularannya,
keadaan sanitasi, daya dukung lingkungan untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakan penyebab penyakit, daya tular, tingkat imunitas populasi,
kepadatan populasi atau intensitas penyakit yang terjadi. Sehingga pada penelitian
ini beberapa faktor yang tidak berhubungan itu mungkin saja terjadi karena hanya
mempertimbangkan satu faktor yakni host saja atau balitanya saja, namun tanpa
mempertimbangkan faktor lain yakni patogen dan lingkungan yang juag memiliki
peran yang cukup signifikan dalam menyebabkan suatu penyakit.
21


D. Manajemen Pemecahan Masalah
1. Analisis situasi
Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa angka
kejadian penyakit ISPA pada balita masih cukup tinggi yaitu dengan nilai
presentase 67% dari seluruh responden. Dapat dilihat pada gambaran persentase
jawaban responden pada kuisioner yang dibagikan, terdapat beberapa pernyataan
dari kuisioner tersebut yang menggambarkan bahwa masih rendahnya partisipasi
masyarakat untuk ikut serta dalam pelaporan serta penyebarluasan informasi
mengenai upaya pencegahan penyakit ISPA sehingga diperlukan usaha untuk
meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan analisis masalah untuk mencari
alternatif pemecahan masalah tersebut.
49














2. Alternatif Pemecahan Masalah
Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Masalah
Kinerja petugas P2M ISPA belum
optimal
Meningkatkan kinerja petugas P2M
ISPA untuk meningkatkan
penyuluhan di masyarakat
Kurangnya pengetahuan kader
tentang penyakit ISPA
Merefreshing ISPA kader
Dana, sarana dan prasarana masih
kurang
Mengusahakan diadakannya sarana
yang dapat menunjang proses
kegiatan pelaksanaan program
Kurang optimalnya penyuluhan
tentang ISPA
Menambah jadwal untuk
dilakukannya penyuluhan ISPA
Kurangnya antusiasme masyarakat
untuk berpartisipasi dalam kegiatan
penyuluhan dan upaya pencegahan
ISPA
Mengadakan penyuluhan mengenai
faktor yang mempengaruhi kejadian
ISPA dengan metode yang lebih
menarik dan bervariasi


Kurangnya pelatihan
tentang penyakit ISPA

Kurangnya
pengetahuan kader
tentang penyakit ISPA

Tidak mencukupinya
sarana dan prasarana
dalam memudahkan
kerja petugas Belum optimalnya
kinerja petugas ISPA
Masih rendahnya
partisipasi
masyarakat dalam
penyebarluasan
informasi dan
pelaporan mengenai
kasus ISPA
Tingginya
angka
kunjungan
ISPA
Kurang optimalnya
penyuluhan kepada
masyarskat


Kurangnya
pengetahuan Ibu faktor
resiko ISPA


Dana operasional
petugas yang
minimal

Faktor resiko ISPA:
- Anak ( Usia, komsumsi
ASI, BBLR, status
Imunisasi dan Gizi
- Orangtua (pendidikan,
sosial ekonomi,
pengetahuan)
- Lingkungan (Polusi,
kepadatan hunian)
50

3. Prioritas Masalah dan Pemecahan Masalah
Untuk menentukan prioritas pemecahan masalah diatas dapat ditentukan
dengan menggunakan kriteria pemecahan masalah menurut metode Bryant yaitu:
a. Besarnya Masalah (Magnitude)
Adalah besarnya pengaruh masalah terhadap derajat kesehatan
yang mencakup seberapa banyak penduduk atau masyarakat yang terkena
dampak. Diberi skor 1-5 yaitu :
1. Hanya sebagian kecil masyarakat
2. Sebagian kecil masyarakat
3. Hanya sebagian besar masyarakat
4. Sebagian besar masyarakat
5. Hampir seluruh masyarakat
b. Seberapa jauh masalah dapat diselesaikan (Vunerability)
Adalah tersedianya suatu cara atau metode untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi. Diberi skor 1-2 yaitu:
1. Tidak ada cara yang efektif
2. Ada cara yang efektif
c. Derajat kepentingan diselesaikannya masalah (Importancy)
Adalah besarnya kepentingan terhadap derajat kesehatan
masyarakat apabila masalah dapat diselesaikan. Diberi skor 1-5 yaitu :
1. Tidak ada kepentingan
2. Kepentingannya sangat rendah
3. Kepentingannya cukup rendah
51

4. Kepentingannya cukup tinggi
5. Kepentingannya sangat tinggi
d. Biaya (Cost)
Adalah biaya yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Diberi skor 1-5 yaitu :
1. Biaya yang diperlukan sangat banyak
2. Biaya yang diperlukan banyak
3. Biaya yang diperlukan cukup banyak
4. Biaya yang diperlukan sedikit
5. Tidak perlu biaya
Berdasarkan faktor-faktor diatas dapat ditentukan prioritas pemecahan
masalah sebagai berikut :


Tabel 5.4. Penentuan prioritas pemecahan masalah
No Alternatif Pemecahan Masalah
Kriteria
Nilai
komposit
Ranking
Prioritas
M V I C
M x I x V
C
1.
Pelatihan kepada petugas P2M ISPA
untuk meningkatkan pengetahuan
terutama dalam upaya pencegahan
penyakit ISPA
4 2 4 5 6,4 IV
2.
Mengusahakan diadakannya sarana yang
dapat menunjang proses kegiatan
pelaksanaanprogram
4 2 4 4 8 III
3.
Merefreshing pengetahuan pencegahan
ISPA oleh kader
3 1 3 1 9 II
4.
Menambah jadwal untuk dilakukannya
penyuluhan ISPA
4 2 4 4 8 III
5.
Pengadaan kegiatan penyuluhan
mengenai pengetahuan dan upaya
pencegahandengan metode yang menarik
4 2 4 3 10,67 I
52

dan bervariasi
Berdasarkan hasil pembobotan dari tabel di atas, maka prioritas alternatif
pemecahan masalah tentang upaya deteksi dini tuberkulosis adalah Pengadaan
kegiatan penyuluhan ISPA mengenai upaya pencegahandan penunjukkan anggota
masyarakat yang bersedia untuk menjadi kader khusus ISPA.

E. Usulan Intervensi
Penemuan secara pasif (penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada
mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan) dilakukan di tempat
pelayanan kesehatan di puskesmas, puskesmas pembantu, polindes dan waktu
pelaksanaan puskesmas keliling dan melibatkan petugas BP, pengelola program
ISPA, dan dokter puskesmas.tersebut didukung penyuluhan yang aktif, baik oleh
petugas kesehatan maupun masyarakat yang lebih dikenal dengan passive
promotive case finding.
Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit ISPA dapat
dilakukan dengan penyuluhan perorangan dan kelompok. Penyuluhan perorangan
kepada keluarga penderita ISPA yang dilakukan dengan baik dan
berkesinambungan dapat meningkatkan pemahaman keluarga penderita terhadap
penyakit yang dideritanya.
Penyuluhan kelompok mengenai peyakit ISPA dapat dilakukan puskesmas
dengan cara memadukan dengan kegiatan-kegiatan masyarakat seperti mejelis
taklim, pengajian, kegiatan PKK dan kegiatan di kecamatan sehingga kesulitan
puskesmas dalam mengumpulkan masyarakat dapat teratasi.
53

Dalam melakukan penyuluhan mengenai penyakit ISPA, pengelola
program ISPA puskesmas dapat melakukan kerjasama lintas program dengan
petugas Promosi Kesehatan (Promkes) puskesmas sehingga penyuluhan yang
dilakukan dapat terintegrasi dengan kegiatan Promkes yang menyebabkan
penyuluhan mengenai penyakit ISPA dapat berjalan secara terus menerus dan
berkesinambungan.
Disamping itu untuk melakukan penyuluhan perorangan kepada penderita
ISPA dan keluarganya, pengelola program ISPA puskesmas dapat juga melakukan
kerjasama lintas program dengan petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat
(Perkesmas) sehingga petugas Perkesmas dapat dimintai untuk memberikan
penyuluhan anak dan balita mengenai penyakit ISPA dan pentingnya pencegahan
penyakit ISPA dari berbagai faktor resikonya (gizi yang baik, ASI eksklusif dan
Imunisasi secara teratur).


Kegiatan Penyuluhan Mengenai Upaya Pencegahan Penyakit ISPAdan
Penunjukkan Kader Khusus ISPA

1. Planning
a. Jenis kegiatan :
- Penyuluhan mengenai pengetahuan dan upaya pencegahan penyakit ISPA
berdasarkan faktor resiko, penunjukkan kader khusus ISPA
- Himbauan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pelaporan dan
penyebarluaskan informasi mengenai upaya pencegahan ISPA

54

b. Tujuan :
- Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai penyakit ISPA dan
upaya pencegahan berdasarkan faktor-faktor resiko
- Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pelaporan dan
penyebarluasan informasi mengenai upaya pencegahan ISPA
c. Sasaran :
Seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya terutama
masyarakat yang memiliki anak dengan usia 1-5 tahun
d. Target
Masyarakat mengerti dan mendapatkan pengetahuan serta upaya pencegahan
penyakit ISPA berdasarkan faktor resiko, ikut berpartisipasi dalam upaya
pelaporan dan penyebarluasan informasi mengenai ISPA, penunjukkan kader
khusus ISPA sehingga temuan kasus P2M ISPA dapat mencapai target.
e. Metode :
Penyuluhan secara langsung, tanya jawab dan penunjukkan kader khusus ISPA

2. Organizing
a. Penyelenggara Kegiatan :
1. Penanggung jawab acara: Kepala Puskesmas Beruntung Raya
a. Bertanggung jawab terhadap seluruh proses kegiatan
2. Ketua acara: dokter penanggung jawab program ISPA
a. Mengkoordinasi anggota dalam pelaksanaan kegiatan
b. Mengawasi kegiatan pelaksanaan agar sesuai rencana
c. Memberikan arahan teknis kepada seluruh pelaksana kegiatan
3. Sekertaris : pemegang program P2M ISPA
a. Membuat perangkat administrasi yang dibutuhkan
b. Mengatur jadwal kegiatan acara
55

c. Mencatat hal-hal yang terjadi dalam pelaksanaan acara
d. Membuat laporan kegiatan
4. Bendahara: petugas puskesmas
a. Mencatat laporan keuangan yang masuk dan keluar
b. Mencatat kebutuhan kegiatan
c. Mengeluarkan anggaran untuk kegiatan
5. Seksi acara: dokter/pemegang program/kader
a. Mengatur pelaksanaan acara
b. Mengumpulkan peserta kegiatan
c. Menunjuk narasumber
d. Menyediakan poster/leaflet dan membagikan pada peserta
e. Mengkondisikan peserta agar tetap berjalan sesuai petunjuk teknis
acara
f. Memantau perkembangan peserta dalam setiap sesi acara
g. Melakukan penilaian/evaluasi terhadap peserta pada akhir kegiatan
6. Seksi perlengkapan: petugas puskesmas/kader
a. Menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan
b. Mempersiapkan sarana sebelum acara dimulai
c. Membereskan dan merapikan perlengkapan setelah sesi acara selesai
7. Seksi konsumsi: petugas puskesmas/kader
a. Menyediakan konsumsi untuk peserta
3. Actuating
a. Waktu :
Bulan Februari 2014
b. Tempat :
Aula pertemuan Puskesmas Beruntung Raya
c. Materi :
- Pengetahuan mengenai penyakit ISPA, penyebab, faktor resiko, cara penularan,
gejala penyakit, pemeriksaan yang dilakukan, pengobatan dan cara pencegahan
penyakit ISPA (Dokter puskesmas)
- Upaya pencegahan ISPA (Dokter puskesmas)
56

- Upaya pelaporan dan usaha yang dapat dilakukan bila menemukan gejala
penyakit ISPA pada lingkungan sekitar (Pemegang program P2M ISPA)
- Himbauan kepada seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam pelaporan dan
penyebarluasan informasi mengenai ISPA (Pemegang program P2M ISPA)
d. Metode Penyuluhan
Berdasarkan hasil penelitian dan prioritas pemecahan masalah, antusias
masyarakat yang masih kurang terhadap pemberian informasi mengenai
pencegahan penyakit ISPA berdasarkan faktor resiko, maka untuk
meningkatkan hal tersebut dilakukan beberapa metode yang bervariasi,
sehingga menarik minat masyarakat. Penyuluhan akan dibuka dengan
pemberian materi mengenai penyakit ISPA, penyebab, cara penularan, gejala
penyakit, pemeriksaan yang dilakukan dan cara pencegahan penyakit ISPA.
Kemudian dilanjutkan dengan:
1) Diskusi kelompok
Masyarakat dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Dibuat sedemikian
rupa sehingga saling berhadapan, pimpinan diskusi/ penyuluh duduk di antara
peserta agar tidak ada kesan lebih tinggi. Pimpinan diskusi membuka forum
diskusi dengan pernyataan yang paling banyak jawab Tidak oleh responden,
pernah mendiskusikan penyakit ISPA dengan orang lain dan melaporkan
segera kepada petugas kesehatan setempat jika ditemukan penderita ISPA atau
yang diduga menderita ISPA. Tiap kelompok punya kebebasan mengeluarkan
pendapat, pimpinan diskusi memberikan pancingan, mengarahkan, dan
mengatur sehingga diskusi berjalan hidup dan tak ada dominasi dari salah satu
57

peserta.
2) Curah pendapat (Brain Storming)
Merupakan modifikasi diskusi kelompok, dimulai dengan memberikan
satu masalah, kemudian peserta memberikan jawaban/ tanggapan, tanggapan/
jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart/ papan tulis, sebelum
semuanya mencurahkan pendapat tidak boleh ada komentar dari siapa pun,
baru setelah semuanya mengemukaan pendapat, tiap anggota mengomentari,
dan akhirnya terjadi diskusi.
3) Bola salju (Snow Balling)
Tiap orang dibagi menjadi pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang).
Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5
menit tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan
masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang
sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan
demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.
4) Permainan simulasi (Simulation Game)
Merupakan gambaran role play dan diskusi kelompok. Pesan-pesan disajikan
dalam bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya
persis seperti bermain monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk
arah), dan papan main. Beberapa orang menjadi pemain, dan sebagian lagi
berperan sebagai nara sumber.
Selain itu, kegiatan juga disertai pemasangan poster dan pembagian
leaflet tentang ISPA. Bahkan pemberian diberikan doorprize untuk menarik
58

minat peserta masyarakat.
e. Alat bantu :
Mikrofon, LCD, leaflet dan poster tentang ISPA
f. Pelaksana :
Petugas P2M ISPA, Petugas Kesehatan Lingkungan, Petugas Promkes dan
dokter umum
j. Dana:
Dana operasional dari APBD dan dana proyek peningkatan kesehatan
masyarakat (PPKM).

4. Controlling
1. Jangka Pendek
- Dapat dilakukan melalui evaluasi jumlah kader dan masyarakat yang hadir
berpartisipasi.
- Dapat dilakukan melalui pretest dan postest di akhir acara, apakah peserta
kegiatan dapat menangkap dan memahami isi kegiatan.
- Mengevaluasi kesesuaian waktu pelaksanaan program dengan waktu yang
ditentukan.
- Mengevaluasi kesesuaian kegiatan penyuluhan dengan sasaran
- Mengevaluasi ketepatan sumber daya manusia yang ditugaskan untuk
melakukan penyuluhan.
2. Jangka Panjang
- Dapat dilihat dari case detection rate
59

- Melihatangka kejadianISPA


Tabel 5.5. Jadwal pelaksanaan kegiatan untuk pemecahan masalah
No KEGIATAN BULAN
I II III IV V VI
1 Perencanaan kegiatan
2. Pengajuan permohonan dana
3 Pencarian kader khusus ISPA
4 Penyuluhan
5 Evaluasi Keberhasilan Upaya
Pencegahan Masyarakat terhadap
ISPA