Anda di halaman 1dari 41

Dosen pembimbing :

Prof. Dr. Aulanniam, drh, DES


drh. Analis Wisnu Wardhana, M.Biomed

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Program Vaksinasi Pada Pullet Di
Peternakan Vega Farm Banyuwangi
Rinta Nur Armidha
105130101111034

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Latar Belakang
Menurut Dinas
peternakan dan
kesehatan hewan
(2011). Populasi ayam
petelur di Indonesia
cukup tinggi
khususnya di Jawa
Timur
Menunjukan
konsumsi telur ayam
masyarakat Jawa
Timur cukup tinggi
Kesehatan Ayam
Petelur harus dijaga
agar tetap sehat
sehingga produksi
telur optimal
Namun
permaslahannya,
adalah banyak sekali
penyakit ayam yg
mampu menurunkan
produksi telur
TINDAKAN
PREVENTIF
berupa Vaksinasi
Rumusan Masalah
Bagaimana program
vaksinasi ayam petelur
periode pullet yang
diterapkan di peternakan
Vega Farm?
Bagaimana pelaksanaan
program vaksinasi dan
metode pemberian vaksin
yang diterapkan di
peternakan Vega Farm?
Tujuan
Mengetahui program
vaksinasi ayam petelur
periode pullet di
peternakan Vega Farm.
Mengetahui pelaksanaan
program vaksinasi dan
metode pemberian vaksin
di peternakan Vega Farm.
Manfaat
Sebagai studi pengetahuan
dalam hal kesehatan ayam
petelur khususnya pada
program vaksinasi melalui
kegiatan Praktek Kerja
Lapangan.
Memberikan informasi
kepada masyarakat
terutama peternak
mengenai pengaruh
program vaksinasi dan
metode pelaksanaan
vaksinasi yang mampu
meningkatkan produksi
ayam petelur.
METODE KEGIATAN
Dilaksanakan di Peternakan
Vega Farm, Ds. Gepuro, Kec.
Rogojampi, Kab. Banyuwangi,
Jawa Timur.
Pelaksanaan kegiatan tanggal 27
Januari - 25 Februari 2014 yang
berlangsung selama 30 hari.

Wawancara
Observasi Lapang : dengan cara
mengamati dan mencatat secara
langsung kondisi yang terjadi di
lapangan.
Waktu dan Lokasi Kegiatan
Metode Praktek Kerja Lapangan
dan Pengambilan Data
Hasil dan Pembahasan
Program Vaksinasi Pada Pullet
Keadaan Umum Peternakan
Memiliki luas lahan 8 hektar
Terdiri dari 50 floks
Terdapat 2 jenis kandang : closed house &
open house
Mampu menampung ayam sebanyak
280.000 ekor
Pemeliharaan ayam pullet menggunakan
sistem multiage (bermacam-macam umur)
Memiliki sistem biosecurity dan sanitasi
yang cukup ketat
Suatu program yang disusun dg
menyesuaikan kondisi farm. Beberapa
aspek yg dipertimbangkan : riwayat
serangan penyakit, umur ayam dan
jenis vaksin yang digunakan



Program Vaksinasi

Ayam Pullet
ayam yg dipelihara di umur 0-16
minggu. pullet terbagi dua fase :
Fase starter (0-5 minggu) merupakan fase
pembelahan sel perkembangan organ sangat
dominan
Fase grower (6-16 minggu) terjadi
perkembangan ukuran sel (hipertrofi). Di fase
ini frame size berkembang mencapai bentuk
sempurna.

Penyakit Pada
Pullet
Newcastle
Disease
(ND)
Coryza
Infectious
Bronchitis
(IB)
Infectious
Laryngotra
cheitis
(ILT)
Fowl Pox
Avian
Influenza
Vaksin merupakan sediaan biologik yang
mengandung mikroorganisme yang telah
dilemahkan atau dimatikan yg diformulasikan
scr khusus sebagai infeksi buatan
Live (aktif atau hidup): dibuat dari
virus yang masih hidup dan
mampu menginfeksi sel. Strain
virus yang digunakan strain yang
mempunyai virulensi rendah
Kill (inaktif atau mati) : vaksin yang
berisi virus yang telah mati. Namun sisi
antigenik dari tubuh virus tetap utuh.
Vaksin ini hanya dapat menggertak
respon circulating antibodies
Berdasarkan tingkat virulensinya
vaksin dibagi menjadi 3 strain
Velogenik yaitu memiliki
sifat virulensi paling tinggi
(keganasan tertinggi)
Mesogenik yaitu memiliki
sifat virulensi menengah.
Lentogenik yaitu memiliki
sifat virulensi paling
rendah.
Vaksin
aktif
- Dalam waktu 2-3 minggu titer
antibodi hasil vaksinasi mencapai
standar protektif
- Vaksinasi sebaiknya dilakukan
selambat-lambatnya 2-3 minggu
sebelum penyakit menyerang
Terbentuk 3-4 hari post
vaksinasi
Memiliki kemampuan
menggertak pembentukan
antibodi yang lebih cepat
dibandingkan vaksin inaktif
Vaksin
inaktif
- Dalam waktu 3-4 minggu post
vaksinasi titer antibodi mencapai standar
protektif
- Vaksinasi bisa diberikan 3-4 minggu
sebelum waktu penyakit menyerang
Terbentuk 6-7 post vaksinasi
- Titer antibodi protektif
yang dihasilkan vaksin
inaktif relatif bertahan lebih
lama
Respon Imun Setelah Vaksinasi
Terdapat dua organ yaitu bursa fabricius dan
timus, masing-masing bertanggung jawab
terhadap sistem kekebalan tubuh. Berikut sistem
kekebalan pada ayam:
A. Respon Imun Seluler
B. Respon Imun Humoral



Respon Imun Seluler(T-System)

Organ timus produksi limfosit T sbg sel mediasi terhadap
reaksi kekebalan dan mengatur reaksi sistem kekebalan
Beberapa minggu set ayam menetas limfosit T tdk
menghasilkan antibodi tetapi berkembang lymphokines/sel
defector(menghancurkan sel2 asing yg masuk dalam tubuh
ayam scr kontak langsung
Pada saat ayam dewasa, T-cells berkempang dan terkumpul
pada beberapa organ limfoid, seperti ginjal, tonsil usus buntu
(cecal tonsil), dan kelenjar Harderian.
Respon Imun Humoral (B-System)
Selain T-cell, terdapat juga lymphocytes (B-cell) yang
diproduksi oleh organ bursa fabricius
B-system yang bertanggung jawab dlm memproduksi
antibodi pada ayam muda
Antibodi yang dihasilkan oleh bursa fabricius kemudian
masuk ke dalam sistem jaringan darah untuk pertahanan
tubuh ayam dari infeksi penyakit.
B-system berfungsi sebagai limfosit untuk memproduksi
sel-sel yang berperan sebagai sel memori (memory cells).
Sel-sel ini berkembang dengan cepat sehingga T-cell bisa
"merekam" atau mengingat bentuk respon kekebalan dan
mempertcepat pengulangan respon tersebut.
Teknik
vaksinasi
Air minum
intraocular
intranasal
intraoral
spray

Wing web

Injeksi IM,SC

Hal yg diperhatian dalam Metode
Vaksinasi
Air minum air harus bebas dr kandungan logam
danpengecekan kandungan air.
Intraocular, intranasal, intraoral diwaspadai dosisnya.
Hindari adanya gelembung yang membuat tidak tepat dosis.
Harus benar benar masuk.
Spray diperhatikan air untuk mencampur, percikan vaksin
di lingkungan harus di perhatikan
Tusuk sayap jngan sampai mengenai pembuluh darah dan
sistem saraf
Injeksi sterilisasi alat, ketajaman jarum dan posisi
penyuntikan agar tidak terkena tulang, syaraf atau pembuluh
darah.




live
Alat suntik soccorex,
termasuk jarum suntiknya
disterilkan
Penyimpanan vaksin live
harus di suhu 2-8 C
Keadaan fisik
Saat pembawaan dari
tempat penyimpanan tempat
vaksin ke lapangan harus
menggunakan tempat atau
termos yang tertutup
Diberi vitamin antistres
sebelum vaksinasi (H-1)
dan setelah vaksinasi
(H+1)
kill
Alat suntik soccorex, termasuk
jarum suntiknya disterilkan
Penyimpanan vaksin kill
harus di suhu 2-8 C
Keadaan fisik
Di thawing atau proses meningkatkan suhu
vaksin secara bertahap. Tujuan :
mengkondisikan suhu vaksin yang
sebelumnya 2-8
o
C mendekati ke suhu tubuh
ayam (41
o
C) dengan cara dibiarkan dalam
suhu ruang 25-27
o
C
Saat pembawaan dari tempat
penyimpanan tempat vaksin
ke lapangan harus
menggunakan tempat atau
termos yang tertutup
Diberi vitamin antistres
sebelum vaksinasi (H-1),
setelah vaksin selesai (H)
dan setelah vaksinasi (H+1)
Jadwal Program
Vaksinasi
Vega Farm
Umur Vaksin Aplikasi Strain
1 Hari ND Live
IB Live
spray VG/GA intermediet
Bioral H-120 Massachussets
5 hari Koksi Live intraoral -
7 hari ND + IB kill IM dada Strain N018
B003 dan B004
2 mgg ND Live intraorbital VG/GA intermediet
3 mgg Gumboro I intraoral Intermediet plus 228 E
4 mgg Gumboro II intraoral Intermediet D78
5 mgg SHS Live
dan AI Kill
intraoral dan IM PL 21
H5N1 subtype A
6 mgg ND Live+IB Live
(oplos)
intraorbital VG/GA intermediet
Bioral H-120 Massachussets
9 mgg Coryza 1 Kill
Dan ND Live
IM
intraoral

W, Spross, Modesto
10 mgg (ND+IB Kill) dan
Fowl Pox
IM dan SC sayap Strain N018
M-92
12 mgg AI Kill IM H5N1 subtype A
13 mgg ND Live+IB Live Intraoral VG/GA intermediet
Bioral H-120 Massachussets
15 mgg Coryza II IM W dan Modesto
16 mgg (ND+IB+EDS
Kill)
IM Ulster 2C, Mass 41, V127
Vaksinasi Umur 1 Hari
Vaksinasi Umur 5 Hari
Vaksin Umur 7 Hari
Vaksinasi Umur 2 Minggu
Vaksinasi Umur 3 Minggu
Vaksin Umur 10 Minggu
Vaksin Umur 6 Minggu
Vaksin Umur 9 Minggu
Vaksin Umur 5 Minggu
Vaksin Umur 16 Minggu

Vaksinasi Umur 1 Hari

Kombinasi ND+IB live (Newcastle diseases-
Infectious Bronchitis) live secara spray dg
dosis 0.16 ml
Diulang pada umur 6 minggu (intraocular) &
umur 13 minggu (IM)
vaksin ND+IB live diberikan terlebih
dahulu daripada vaksin ND+IB kill

*Vaksin live mampu bertahan maksimal selama
2 jam

Vaksinasi Umur 5 Hari
Diberikan vaksin koksi live secara intraoral
lewat pakan. Dengan dosis 46 ml/ ekor dg
konversi pakan 0,4 /pakan
Alasan diberikan pada umur 5 hari karena
dilihat serangan sebelumnya yang terjadi.
Tidak ada ulangan

*Vaksin live mampu bertahan maksimal selama 2
jam

Vaksin Umur 7 Hari
vaksin kombinasi ND+IB kill dalam 1
kemasan secara IM dada. Dg dosis 0,25 ml dg
ukuran jarum 0,7 mm
Sifatnya cair karena terdapat adjuvant
diulang kembali pada umur 10 mgg (IM dada)
dan 16 minggu (IM paha)
diharapkan Vaksin kill berperan mengcover
saat vaksin live sebelum turun karena vaksin
kill bersifat long acting yaitu sekitar 2 bulan

*Vaksin yang sudah berada pada suhu ruang jika
sisa tidak dapat digunakan kembali
Vaksinasi Umur 2 Minggu
ND live melalui intraorbitalis (vaksin
ulangan)
Diulang umur 9 minggu
Vaksinasi Umur 3 Minggu
Vaksinasi IBD live / Gumboro I intraoral
Vaksinasi ulangan Gumboro live II diberikan pada umur
4 minggu ini.
Pengulangan vaksinasi IBD berdasarkan aspek proses
inkubasi virus di dalam tubuh pada hari 1- hari ke 7
sistem imun dalam tubuh meningkat namun pada hari ke-8
setelah vaksinasi imunitas turun kembali sehingga
diberikan kembali vaksin IBD live.
Gumboro I (strain intermediet plus 228) (hot vaccine)
kekuatan vaksin lebih tinggi sehingga mempunyai
kemampuan untuk menembus kekebalan antibodi induk
lebih awal dan mempunyai kemampuan replikasi di bursa
fabricius lebih cepat.
(Gumboro) II strain yang lebih rendah daripada vaksin
Gumboro I yaitu intermediate karenamampu mengcover
imunitas yang menurun.
Vaksin Umur 5 Minggu
SHS Live secara intraoral
AI kill secara IM paha. Vaksinasi AI akan di
ulang kembali pada usia 12 minggu.
Pemberian 2 vaksin scr bersamaan dengan 2
perlakuan yang berbeda tingkat stress
diminimalisir.
Vaksin Umur 9 Minggu
Coryza kill I (IM) dan ND live ulangan (intraoral)
vaksin Coryza kill II diulang pada umur 15 minggu
Vaksin Coryza I kill jenis strain trivalen . vaksin
yang mengandung 3 serovar bakteri coryza dan vaksin
ini memiliki perlindungan yang lebih luas terhadap
serangan bakteri coryza dilapang.
Vaksin Coryza II kill jenis strain bivalen. vaksin
yang mengandung 2 serovar bakteri coryza, digunakan
pada peternakan yang terindikasi hanya terserang
beberapa jenis saja (lebih rendah)
Vaksin Umur 10 Minggu
Pada umur 10 minggu dilakukan vaksinasi
kombinasi ND+IB kill(vaksinasi ulangan)
intramuscular dan Fowl Pox tusuk sayap.
secara bersamaan.


Vaksin Umur 16 Minggu
Vaksin Triple
Newcastle diseases-Infectious
Bronchitis-Egg Drop Syndrom. Vaksin
ND-IB-EDS kill vaksinasi secara IM
Dosis 0,5 ml

Kegiatan Setelah Vaksinasi

Botol kemasan maupun sisa vaksin disterilisasi lalu
dibuang atau dibakar
Alat suntik soccorex, jarum suntiknya disterilkan

Evaluasi Hasil Pelaksanaan Vaksinasi
Vaksin aktif berada dalam tubuh, virus vaksin akan
bermultiplikasi (memperbanyak diri) terlebih dahulu sebelum
menuju ke organ limfoid. Saat proses multiplikasi ini biasanya
akan muncul reaksi post vaksinasi.
Vaksin inaktif mikroorganisme vaksin akan langsung menuju ke
organ limfoid untuk menstimulasi pembentukan titer antibodi.
Akibatnya tidak akan ditemukan reaksi post vaksinasi.
Pengamatan Reaksi Post
Vaksinasi
Pengamatan yang dilakukan dilapangan berupa melihat kotoran,
feed intake dan keadaan secara fisik pada hari ke 3-7 hari pasca
vaksinasi.
Pengamatan Lapangan
Program yang diulang kembali dilaksanakan untuk menjaga
kesehatan ayam agar terhindar dari serangan suatu penyakit
yang dapat menyebabkan tidak tercapainya berat badan standart,
produksi menurun dan kematian. Namun jadwal ini setiap saat
dapat berubah sesuai kondisi lapangan.
Program Revaksinasi
Kejadian Penyakit di Vega Farm
Pada umur 30 hr ayam terserang koksidosis diberi
pengobatan berupa Amprosol
Selang beberapa hari muncul kematian ayam dan
gejala klinis ND keesokan harinya diberi vaksin
ND kill kematian masih tinggi
Setelah keadaan stabil di nekropsi terserang
mikotoksin
Kesimpulan : penyebab kegagalan vaksin karena
terserang mikotoksin dari pakan yang sifatnya
imunosupresif
Aspek yang Dipertimbangkan Dalam Menyusun
Program Vaksinasi
1. Riwayat Penyakit /
Epidemologi
2. Strain Vaksin dan
Strain Ayam
3. Etiologi Penyakit
4. Maternal Antibodi
5. Pemilihan Metode
Vaksin
6. Kesehatan Ayam

Kesimpulan

1. Program vaksinasi merupakan tindakan pencegahan penyakit guna menjaga kesehatan
ayam agar dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal
2. Program vaksinasi Vega Farm berbeda dengan peternakan lain dibuat dengan
mempertimbangkan riwayat penyakit, strain vaksin dan strain ayam, maternal
antibody, etiologi penyakit, serta pemilihan metode vaksinasi, antara lain vaksinasi
melalui air minum, tetes mata, tetes mulut, spray, injeksi dan wingweb.
3. Vaksinasi dilakukan mulai ayam umur 1 hari sampai ayam umur 16 minggu dengan
sembilan jenis vaksin penyakit yaitu newcastle disease (ND), Infectious Bursal
Diseases (IBD), Swollen Head Syndrome (SHS), infectious bronchitis (IB), coryza,
fowl pox, koksi, egg drope syndrome (EDS), dan avian influenza (AI)
4. Kegagalan vaksin dapat disebabkan oleh banyak hal salah satunya mikotoksin didalam
pakan yang bersifat imunosupresif, sehingga ketika dilakukan vaksinasi akan sia-sia
karena sistem imun ayam telah dilumpuhkan sehingga tubuh tidak mampu membentuk
antibodi.
5. Pelaksanaan evaluasi vaksinasi penting bertujuan untuk mengetahui memastikan
vaksin bekerja dengan baik di dalam tubuh. Tujuan lainnya dengan mengevaluasinya
peternakan dapat menetukan langkah tepat ketika terjadi wabah/kegagalan vaksinasi.


Saran

Program vaksinasi di Vega Farm sudah cukup baik namun
ada beberapa hal sebaiknya diperbaiki.
- lebih baiknya sebelum memilih pakan yang tepat, pakan
diujikan laboratorium terlebih dahulu.
- vaksinasi umur 1 hari dianggap kurang efektif karena
cenderung terdapat maternal antibodi dalam ayam, selain
itu untuk meminimalisir tingkat stress yang tinggi.
- Akan jauh lebih baik pada pullet dilakukan titer antibodi
secara berkala. Selebihnya baik pelaksanaan vaksinasi,
pemilihan strain, manajemen pemeliharaan serta kontrol
kesehatan sudah cukup baik.
Terima kasih
Perjalanan vaksin dalam tubuh
Vaksin live virus masuk interferon sel dendrit/(apc
mempresentasikan sel T) aktivasi Th 1 ke Th 2 produksi
sitokin mengaktifkan sel plasma untuk menghasilkan
antibodi IgM IgA

Vaksin kill virus masuk interferon sel dendrit (apc
mempresentasikan sel T) aktivasi Th 1 ke Th 2 produksi
sitokin aktivasi sel B IgG
Jenis vaksin ND
ND Avinew : live vaksin target organnya saluran pencernaan
(tidak ad reaksi post vaksinasi)
ND Lasota : live vaksin target organnya pernafasan tetapi
mengakibatkan reaksi post vaksinasi
ND clone : live vaksin cara kerjanya lebih soft(tidak ad reaksi
post vaksinasi) namun cepat
Standart titer ANTIBODI
ND 2 pangkat 6-7
AI 2 pangkat 4