Anda di halaman 1dari 24

Kartika Andari Wulan

Departemen Prostodonsia PSPDG FKUB


Dokter gigi sebagai tenaga kesehatan yang
profesional, bertanggung jawab pada
kesehatan pasien yang sedang dalam
perawatannya. Tidak hanya fokus pada
membuat gigi tiruan saja, tetapi juga
memperhatikan kesehatan umum pasien
terutama kondisi-kondisi pasien yang dapat
mempengaruhi proses dan hasil perawatan.
Riwayat kesehatan umum pasien dan
penggunaan obat-obatan harus ditanyakan dan
dituliskan pada kolom anamnesis di rekam
medik.

Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi
kondisi atau peristiwa yang dapat
mempengaruhi rencana dan hasil perawatan,
menetapkan prognosis perawatan serta
menghindari konflik antara terapi obat-obatan
dgn perawatan yang akan dilakukan.
*
Menurut Rahn et al (1993) Riwayat Kesehatan Umum yg
harus diperhatikan yaitu:
a. Diabetes Mellitus
terkait dgn penyembuhan luka yg membutuhkan waktu
lama, operator harus berhati-hati dalam menangani pasien
agar tidak terjadi luka mis. ulser diabetik; peningkatan
resiko resorbsi tulang alveolar; timbulnya abses di sekitar
rongga mulut; atrofi otot dan xerostomia.
Lama waktu kunjungan dipersingkat & tdk mengganggu
jam makan pasien. Teknik mencetak menggunakan tekanan
yg minimal & pasien disarankan utk tdk terlalu lama
menggunakan GTnya krn jaringan penyangga GTnya perlu
beristirahat. Perlu diberikan instruksi pola makan & Oral
Hygiene, tindakan relining & rebasing berulang pada GT
pasien agar tetap nyaman digunakan.

*
b. Kelainan Nutrisi
bila pasien mengalami avitaminosis maka akan
melemahkan mekanisme pertahanan tubuh dan
struktur mukosa penyangga GT. Kekurangan zat besi
menyebabkan anemia, atrofi mukosa, purpura dan
sensasi terbakar pada mukosa.

Pada pasien yg menderita anemia pernicious & anemia
defisiensi zat besi, permukaan cetak GT harus dipoles
sehalus mungkin karena mukosa pasien rentan dan
mudah teriritasi.

*
c. Anemia
Perubahan terjadi pada membran mukosa, bibir dan
lidah memucat, burning sensation, atau lidah halus dan
mengkilap. Umumnya nyeri pada lidah dan jaringa
pendukung lainnya.

Operator harus membuat GT yang efisien mis.
Memperkecil ukuran anasir gigi dengan memperluas
area penyangga GT agar tercapai dukungan yang
maksimal untuk mencegah jaringan penyangga
mengalami stimulasi berlebih. Pasien diinstruksikan
untuk menjaga Oral hygiene nya.
*
d. Cardiovascular Disease (CVD)
termasuk hipertensi, angina pectoris, myocardial
infarction, riwayat tindakan bedah cardiac bypass,
congestive heart failure, pengguna cardiac pacemaker
dan infeksi endocarditis harus mendapatkan perhatian
lebih dalam penanganan dan rencana perawatannya.

Sebelum melakukan perawatan, perlu mendapatkan
persetujuan dari kardiologis yg menangani pasien. Lama
kunjungan pasien dipersingkat dan kemungkinan pre-
medikasi diberikan sebelum tahapan kerja dilakukan.

*
e. Hipertensi
Pasien ini disarankan utk dibuat waktu kunjungan
setelah jam makan siang atau jam 12 siang ke atas krn
studi menunjukkan adanya peningkatan tekanan darah
dimulai saat bangun tidur & memuncak pd
pertengahan pagi menjelang siang.
*
f. Tuberculosis (TB)
Lesi oral jarang dijumpai pada pasien TB tetapi bila ada,
tampak fissure yang panjang dan dalam pada lidah; lesi pada
mukosa pipi; ulser berbentuk bulat dan dalam yang sangat
nyeri; nodul yang keras.
Pada pasien TB, Oral hygiene penting agar terhindar dari
infeksi rongga mulut yang mempengaruhi resistensi GT.
Bagian-bagian GT yang tajam harus diperhalus agar tdk
mengiritasi mukosa dan menimbulkan lesi tuberkulosa, oleh
karena itu GT harus sering diperiksa.
Operator wajib melakukan kontrol infeksi dengan
menggunakan masker, sarung tangan, kacamata atau
pelindung wajah.
*
g. Penyakit Sendi (Osteoarthritis & Skleroderma)
Pasien osteoarthritis mengalami kesulitan memasang &
membersihkan GTnya krn penyakit tsb menyerang persendian
jari-jari tangan pasien. Bila mengenai TMJ, pasien akan sulit
membuka & menutup mulut krn timbul rasa nyeri saat
mandibula digerakkan shg saat dilakukan pencetakan
membutuhkan sendok cetak khusus. Selain itu, terjadi
perubahan pola pengunyahan dan maloklusi. Pada kasus yang
parah membutuhkan tindakan bedah TMJ. Prevalensi
terbanyak pada perempuan dan koreksi oklusal berulang
perlu dilakukan krn terjadi perubahan pada TMJ.

Pasien skleroderma mengalami kaku wajah & bibir serta
keterbatasan gerak mandibula. Dibutuhkan latihan
pelemasan sendi & sendok cetak khusus.

*
h. Bronchial Asthma
Utk kelancaran proses perawatan dan mengantisipasi
serangan asma pasien, operator harus menanyakan pd
pasien hal-hal yg dpt memicu serangan asmanya,
frekuensi & keparahan serangan, pengobatan yg
digunakan berikut respon pasien thd pengobatannya.
i. Penyakit Kulit
Pada kasus pemphigus dimana manifestasi oralnya
bervariasi dari ulser hingga bula, akan menghambat
pemasangan GT krn rasa sakit yg diderita pasien shg
diperlukan pengobatan khusus. Perlu disarankan pd
pasien utk sering melepas GTnya.
*
j. Kelainan Neurologis
Pasien epilepsi, bells palsy, parkinson akan
mempengaruhi retensi GT, proses pencatatan relasi
rahang/MMR dan pencetakan. Shg perlu adanya rujukan
ke spesialis saraf utk medikamentosa selama perawatan
GT.
Bell's palsy mengakibatkan terjadi asimetri wajah,
ketidakmampuan mengontrol otot pada area yg terkena
(mis.kelopak mata tidak dapat menutup, air mata
menetes secara berlebihan, sudut mulut distorsi, air liur
keluar dr rongga mulut) gangguan stimulasi nervus
fasial.
*
Parkinson Disease (Paralysis Agitans) ditandai dengan
tremor otot yang beritme termasuk otot lidah dan
mastikasi, rigiditas otot, gerakan pasien yg melambat,
hipersalivasi dan ekspresi wajah yang kaku.

Parkinson akan mempengaruhi retensi GT, proses
pencatatan relasi rahang/MMR dan pencetakan. Shg perlu
adanya rujukan ke spesialis saraf utk medikamentosa
selama perawatan GT.

k. Klimaterik
Pada perempuan terjadi menopause yg berakibat pd
perubahan kelenjar, resiko osteoporosis dan kondisi
mental pasien yang akan berpengaruh terhadap proses
perawatan.
*
l. Lesi ganas rongga mulut & terapi radiasi
Dosis tinggi terapi radiasi berakibat hipovaskularisasi,
kurangnya kemampuan jaringan untuk menyembuhkan
luka & menurunnya resiliensi jaringan penyangga GT.
Konsistensi saliva menjadi sangat kental atau bahkan
terjadi xerostomia tergantung dari dosis terapi radiasi
shg mempengaruhi retensi GT.
Sebaiknya menunggu 3-6 bln setelah terapi radiasi
selesai tergantung dari kondisi pasien & atas
persetujuan dokter spesialis onkologi yg merawat
pasien.

*
m. Medikasi
Efek samping dari penggunaan obat tertentu akan
mengakibatkan perubahan mukosa dll yang dapat
mempengaruhi proses, hasil perawatan & prognosis
GT. Beberapa obat-obatan mempunyai manifestasi
langsung pada rongga mulut, mis.injeksi endokrin,
thyroid, estrogen dan bahan androgenik
mengakibatkan iritasi pada mukosa mulut

Informasi mengenai obat-obatan yg telah atau sedang
dikonsumsi oleh pasien dibutuhkan untuk menghindari
konflik selama perawatan, mis. tindakan atau rencana
perawatan yg dapat mengganggu efektivitas obat.

*
Efek samping obat-obatan yg berpengaruh terhadap
keberhasilan perawatan prostodontik : (Rahn et al, 1993)
Xerostomia (mulut kering) ,krn pemakaian obat :
Antihistamines (mis.dipenhydramine/Benadryl)
Antihipertensi,
Nitroglycerin utk pengobatan angina pectoris
Antipsychotic (mis.chlorpromazine, haloperidol)
Antiparkinson agents terutama dg efek anticholinergic
(mis.procyclidine, benztropin, trihexphenidyl)
Antiarrhythmic agents (mis.quinidine, procainamide, disopyramide)
Antianxiety gents(diazepam/Valium, alprazolam/Xanax)
Amphetamines utk mengontrol obesitas dan stimulan sistem saraf
pusat
Tryciclic antidepressants (mis.imipramine/tofranil),
Decongestans (mis. phenylpropanolamine)
Antisialogogoues utk mengeringkan rongga mulut (mis.atropine)
Glycopyrrolate, pro-pantheline utk mengurangi sekresi dan motilitas
gastrointestinal kondisi stres & tegang terkontrol pada pasien
dgn ulcer gastrointestinal

*
Perubahan pada flora rongga mulut
Antibiotik terutama broad-spectrum (mis.amoxicillin)
Perubahan pada mukosa rongga mulut
Phenytoin (Dilatin) hiperplasia gingiva
Nifedipine & calcium channel blocker yg digunakan utk
perawatan angina - hiperplasia gingiva
Cyclosporine (Sandimmune) yg dikonsumsi pasien
penerima tranplantasi organ utk menekan sistem
imunnya - hiperplasia gingiva.
Adrenal corticosteroids mengakibatkan atrofi pada kulit
& mukosa.
Digoxin (Lanoxin) & cardiac glycoside lainnya yg bila tdk
rutin dikonsumsi akan berakibat oedem jaringan
gingiva shg GT tidak fit.
*
Sialorrhea (meningkatnya volume saliva)
- Adrenergic stimulating drugs (mis.epinephrine)
mengakibatkan aliran saliva konsistensinya mucus.
- Cholinesterase inhibitors utk pengobatan myasthenia
gravis kelumpuhan otot secara progresif tanpa
adanya gangguan persarafan atau atrofi otot
sindroma kelelahan pada otot.
- Sialogogues (mis. Pilocarpine) menstimulasi reseptor
muscarinic utk meningkatkan volume saliva
Dysphagia (kesulitan menelan, spt tersedak) akan
menyulitkan proses pencetakan
- Tryciclic antidepressants, antipsychotic drugs, semua
agen yg mengakibatkan xerostomia juga berakibat
dysphagia.
*
Postural Hipotensi (pingsan saat akan berdiri atau
berubah posisi)
- Nitroglycerin utk anti-anginal
- Sedative & muscle relaxants (mis.
diazepam/valium)
- Antipsychotic (mis.chlorpromazine, haloperidol)
- Antihipertensi (mis.reserpine) termasuk diuretik
(mis.hydrochlorothiazide plus triamterene (Dyazide)
- Analgesik narkotik (mis.morphine)
- Tryciclic antidepressants (mis.imipramine,
amitriptyline)
*
Spasme bronchial, bradikardia (melambatnya denyut
jantung yg abnormal) & dyspnea (nafas terengah-
engah) akan menyulitkan penanganan pasien selama
proses pembuatan GT.
Propranolol, Atenolol dan agent beta blocker lainnya yg
digunakan utk menurunkan tekanan darah & mencegah
tjdnya aritmia & angina pada jantung pasien.

Syok Hipoglikemik (syok yg terjadi akibat konsentrasi
glukosa dalam darah berada dibawah batas normal)
Insulin
*
Adanya perubahan perilaku atau timbul sikap
kebingungan (penerimaan pasien atas GTnya dapat
dipengaruhi konsumsi obat berikut :
Adrenal corticosteroids utk arhtritis & alergi,
antiparkinson, analgesik narkotik, antihistamines,
tricyclic antidepressants dan semua obat yg menekan
sistem saraf pusat (termasuk alkohol).
Nausea & Vomit (mual & muntah)
aspirin dlm dosis kecil tetapi bila dlm dosis besar
(pada kasus rheumatic) akan menimbulkan rasa pusing
& kebingungan.
nonsteroid anti inflamasi (mis.ibuprofen, naproxen),
analgesik narkotik terutama codeine & propoxyphene,
conjugated estrogens (mis.Premarin).
*
Antikoagulan
terutama utk pasien stroke & CVD (mis.heparin, warfarin
& dicumarol). Pd pasien yg mengkonsumsi obat ini, perlu
diwaspadai utk tidak melakukan tindakan yg berakibat
terjadi perdarahan, tanpa berkonsultasi dahulu dgn dr
yg merawat & melalui uji waktu prothrombin. Utk pasien
ini, obat sebaiknya tidak dihentikan melainkan
disesuaikan dosisnya.
Obat yg berakibat timbulnya sindroma seperti
Parkinson atau pergerakan abnormal otot lainnya
(terutama pada otot wajah).
Antipsychotic (mis.chlorpromazine), tricyclic
antidepressants, metoclopramide utk meningkatkan
gerak peristaltik pasien lansia.
*
Perubahan Rasa
Pasien mungkin akan merasa adanya perubahan
pada indera perasa nya saat insersi GT. Bisa
dikarenakan pasien mengkonsumsi obat beta
blockers (mis.propranolol) dan angiotensin-
converting enzyme inhibitors (mis. captopril) yg
umum digunakan pasien hipertensi.

Hidung tersumbat akan menyulitkan proses
mencetak.
terjadi akibat konsumsi obat antihipertensi dan
antipsychotic.
*
Rahn & Heartwell. Text Book of Complete Dentures.
Lea & Febiger Edisi 5 Tahun 1993

Zarb, Bolender, Carlsson. Bouchers Prosthodontic
Treatment for Edentulous Patients. Mosby Edisi
11 Tahun 1997