Anda di halaman 1dari 40

BAB IV

LIGHTNING ARRESTER

1. Pengertian
Lightning arrester adalah alat proteksi bagi peralatan listrik terhadap tegangan
lebih, yang disebabkan oleh petir atau surja hubung (switching surge). Alat ini bersifat
sebagai By-pass disekitar isolasi yang menghubungkan arus kilat ke system
pertanahan sehingga tidak menimbulkan tegangan lebih yang tinggi dan tidak merusak
isolasi peralatan listrik. Jadi pada keadaan normal arrester berlaku sebagai isolator,
bila timbul tegangan surja alat ini bersifat sebagai konduktor yang tahanannya relative
rendah, sehingga dapat mengalirkan arus yang tinggi ketanah.
Sesuai dengan fungsinya, yaitu arrester melindungi peralatan listrik pada
system jaringan terhadap tegangan lebih yang disebabkan petir atau surja hubung.
Maka pada umumnya arrester dipasang pada ujung SUTT yang memasuki gardu
induk.
2. Bagian-bagian yang penting dari arrester
Beberapa bagian yang terdapat pada suatu arrester yaitu :
a. Elektroda
Elektroda-elektroda ini adalah terminal dari arrester yang dihubungkan dengan
bagian yang bertegangan di bagian atas, dan elektroda bawah dihubungkan
dengan tanah.
b. Sela Percikan (spark-gap)
Apabila terjadi ganguan lebih oleh sambaran petir atau surja hubung pada
arrester yang terpasang, maka pada sela percikan (spark-gap) akan terjadi
loncatan busur api. Pada beberapa type arrester busur api yang terjadi tersebut
di-tiup keluar oleh tekanan gas yang ditimbulkan oleh tabung fiber yang
terbakar.

c. Tahanan katun(vave resistor)
Tahanan yang dipergunakan dalam arrester ini adalah suatu jenis material yang
besifat tahanannya yang berubah bila mendapatkan perubahan tegangan

3. Jenis-jenis Lightning Arrester
Lingkup arrester luas, mulai dari penggunaan elektronika hingga pada system
transmisi Tegangan Tinggi maupun Tegangan Ekstra Tinggi. Laporan ini membahas
tentang arrester pada level tegangan Lightning Arrester pada Sistem Transmisi secara
umum yang dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori:
1. Berdasarkan Level Tegangan Withstand Voltage Peralatan yang
dilindungi
Mengacu pada IEC 60071-1:
a. Range I (1kV 245kV)
b. Range II (di atas 245 kV)
Klasifikasi ini didasarkan pada perbedaan karakteristik surja, dimana pada
Range II surja akibat proses switching lebih membahayakan peralatan daripada surja
lightning. Oleh karena proses switching memiliki steepness yang lebih lambat, maka
diperlukan pula arrester dengan karakteristik komponen non linear yang berbeda.
ANSI/ IEEE C62.1 dan C62.11 membedakan lightning arrester ke dalam 4 kelas:
a. Station Class
b. Intermediate Class
c. Distribusi Class
d. Secondary Class

2. Berdasarkan Letak Pemasangan
Arrester pada HV/ EHV menurut pemasangannya dibedakan menjadi sebagai
berikut:





a. Arrester GIS

Gambar 4.1 Arrester di GIS

b. Arrester Saluran Transmisi
Dipasang baik parallel dengan insulator pada tower (umumnya diserikan
dengan spark gap) atau dipasang pada konduktor sebagai pengganti damper
dilengkapi dengan disconnector Switch. Untuk tipe gap, stress akibat tegangan
power frekuensi tidak mempengaruhi kondisi arrester, namun sulit untuk
memonitor kondisi arrester karena tidak dilengkapi dengan counter, yang dapat
dilaksanakan adalah monitoring kondisi tanduk api untuk menentukan apakah
telah terjadi proses discharge.
Sementara untuk arrester tanpa gap, dipasang pada konduktor terhubung ke
ground, dilengkapi dengan disconnector switch (yang akan bekerja bila telah
terjadi arus di atas nilai nominalnya), arrester line jenis ini juga dilengkapi
dengan counter sehingga memudahkan proses monitoring.
c. Arrester Gardu Induk
Merupakan Arrester kebanyakan yang terpasang di Gardu Induk, menurut
material penyusun housing, material Gardu Induk dibedakan menjadi:
1. insulator porselen
2. insulator polimer

Gambar 4.2 Lightning Arrester Jenis Metal Oksida di Gardu Induk Simpang Tiga
1. Berdasarkan material penyusun komponen non linear
A. Sela Udara Air Gaps dengan Modifikasi
Proteksi selama periode awal ini hanya menggunakan sela udara sederhana dari
line ke ground.Gap dapat didesain agar terjadi spark over pada tegangan yang
cukup rendah untuk menyediakan perlindungan petir yang baik,tanpa tegangan
discharge.Akan tetapi,sela udara tidak mampu menghilangkan power follow
current kecuali sebuah resistansi dipasang seri untuk membatasi magnitude arus
dan meningkatkan nilai power factor dari sirkuit interrupting.Sekalipun demikian
,sela udara membutuhkan operasi CB atau fuse untuk memadamkan power follow
current.
B. Nonlinear Resistors berdasarkan Puncturing dan Reforming Film
Arrester yang pertama kali menggunakan elemen valve nonlinear adalah sel
alumunium,pertama diperkenalkan di tahun 1908.Sebuah arrester sel aluminium
comprised bola atau horn gap dipasang sering dengan tangki yang berisi sel
aluminium.Setiap sel memiliki level tegangan 300 Volt.Elektrolit ditabur di dalam
cone untuk memisahkan antar sel.beberapa cone dimasukkan ke dalam tanki yang
berisi minyak.Lapisan Film yang berada di dalam plat dapat punctured oleh
lightning discharge,namun akan membentuk kembali atau healrapidly setelah
proses discharge.Secara Fisik ,arrester ini berukuran besar dan memerlukan
pemeliharaan khusus,seperti kebutuhan pengecekan plat film harian.
C. Arrester dengan Lapisan Film Oksida
Arrester jenis ini terdiri dari gap yang dipasang seri dengan sejumlah sel yang
berisi lead peoksida.Pada ujung pelat sel dibungkus dengan lapisan film
insulasi.Ketika lapisan film insulasi mengalami surge,nilai resistansi menjadi
rendah dan arus mengalir.Lead peroksida menjadi bersifat high resistan untuk
memadamkan follow current .Arrester dapat beroperasi sekian kali sebelum sel
memerlukan rekondisi.
D. Resistor Non Linear Silicon Carbide Dengan Gap Nonactive
Blok resistor non linear terbuat dari silicon Carbide.Nilai tegangan pada blok
tergantung pada bijih Silicon Carbide dan proses bonding dan pembakaran selama
pabrikasi.Ukuran arrester ini 80 % lebih kecil bila dibandingkan dengan generasi
Film Oksida.
E. Resistor Non Linear Silicon Carbide dengan Active Gaps
Gap arrester active diatur sehingga medan magnetis dihasilkan oleh koil ( atau
Komponen lain dengan Fungsi sama) menggerakkan power follow current arc dari
titik inisiasi menuju tempat pada struktur gap dimana proses pemadaman
berlangsung.
F. Zinc Oxide Arresters
Elemen valve ,terbuat dari Zinc Oksida dengan sejumlah komponen additive untuk
memenuhi karakteristik sesuai dengan yang diinginkan.Material dasar penyusun
keeping blok MOSA ( Metal Oxide Surge Arrester) adalah ZnO.Senyawa ZnO
memiliki kemampuan konduktivitas sangat baik ketika dilewati arus
kerja discharge-nya pada interval arus 1-100 kA ,namun akan berlaku sebagai
kapasitor atau resistansi tinggi ketika dilewati arus dibawah nilai tersebut.
Pengembangan MOS (Metal Oxide Arrester) digunakan pada perangkat
perlindungan tegangan lebih.Hasil pengembangan ini memungkinkan arrester di
desain tanpa menggunakan celah percikan seperti dalam lightning arrester
konvensional yang menggunakan resistor non-linear yang terbuat dari Silicon
Carbide (Sic) dan menggunakan celah percikan.


Gambar 4.3 Blok diagram pengaturan Katup pada : a)Sic,unsure-unsur sela
percikan dihubungkan Secara seri ; dan b)MO,unsur-unsur ditumpuk diatas satu
sama lain tanpa sela percikan.

Gambar 4.4 Struktur Skematis dari rangkaian elemen tiga kolom
4. Konsep Dasar Ligthing Arrester
5.
6.
Lightning Arrester/ Arrester/ Surge Arrester memiliki peran penting di dalam
koordinasi isolasi peralatan di gardu induk. Fungsi utama dari Lightning Arrester
adalah melakukan pembatasan nilai tegangan pada peralatan gardu induk yang
dilindunginya. Panjang lead yang menghubungkan arrester pun perlu diperhitungkan,
karena inductive voltage pada lead ini ketika terjadi surge akan mempengaruhi nilai
tegangan total paralel terhadap peralatan yang dilindungi. Untuk memahami kerja
sebuah arrester, maka akan dijelaskan lebih rinci di bawah melalui contoh kasus yang
diperoleh dari Siemens Handbook Metal Oxide Arrester.
4.4.1 Over Voltage (Tegangan Lebih)
Pada kurva di bawah ini menunjukkan bagaimana arrester melakukan
pemotongan tegangan lebih terhadap beragam jenis surja:

Gambar 4.5 Skematik diagram yang menggambarkan level tegangan yang mungkin
timbul pada peralatan gardu induk, bila diinstall LA ataupun tanpa diinstall Lightning
Arrester.
Surja - atau pendek, arrester - merupakan suatu bantuan yang sangat diperlukan untuk
insulasi coordination1 dalam sistem catu daya listrik. Gambar 4.5 membuat ini jelas.
Ada yang tegangan yang mungkin muncul dalam sistem tenaga listrik tegangan tinggi
yang diberikan dalam per- unit nilai puncak yang tertinggi fase bumi-to-menerus
voltage2, tergantung pada durasi waktu.Sumbu waktu dibagi menjadi kisaran
tegangan lebih petir (mikro-detik), beralih tegangan lebih (milidetik) 3, tegangan lebih
sementara (detik) -yang sering dikutip oleh singkatan "Tov" - dan akhirnya temporally
unlimited tertinggi sistem kontinyu tegangan operasi. Tegangan atau overvoltage
yang dapat dicapai tanpa menggunakan arrester, adalah nilai dari beberapa pu Jika
sebaliknya,satu mempertimbangkan kurva tegangan menahan isolasi peralatan, (di sini
membekali-pemerintah berarti perangkat listrik seperti transformator daya) satu
pemberitahuan bahwa mulai tahun kisaran beralih overvoltages1, dan terutama untuk
tegangan lebih petir,isolasi peralatan tidak dapat menahan tekanan dielektrik terjadi.
Pada titik ini,arester intervensi. Sementara dalam operasi, bisa dipastikan bahwa
tegangan yang terjadi padaterminal perangkat - tetap menjaga margin keselamatan
yang memadai - akan tetap di bawah yang menahan tegangan. Efek arrester ', oleh
karena itu, melibatkan petir dan switching overvoltages2.
Melalui kurva tersebut terlihat bahwa durasi overvoltage berbeda satu sama lain,
yaitu:
1. Lightning Overvoltage fast front overvoltage (Durasi Microseconds)
2. Switching Overvoltages slow front overvoltage (Durasi Milliseconds)
3. Temporary Overvoltages TOV (Durasi seconds), missal akibat gangguan sistem
4.4.2 Resistor SiC (Silicon Carbide) dan ZnO (Zinc Oxide)
Sekalipun Arrester jenis ber-gap dengan resistor non linear SiC (Silicon
Carbide) masih terpasang pada sebagian kecil Gardu Induk, namun mayoritas Arrester
yang kini terpasang adalah jenis tanpa gap, dimana Varistor Metal Oksida (ZnO)
digunakan sebagai komponen resistor non linear. Keunggulan dari Arrester Metal-
Oksida adalah karakteristik tegangan-arus non-linear yang ekstrim.
Pada Arrester yang masih menggunakan komponen SiC, diperlukan gap untuk
melakukan discharge overvoltages. Peristiwa pada gap arrester ini mungkin
menimbulkan panas berlebih pada kedua titik gap.


Gambar 4.6. Perbandingan Karakteristik antara Arrester jenis Metal Oksida dan jenis
Silicon Carbida
4.4.3 Parameter Arrester Metal Oksida
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa keistimewaan arrester jenis metal
oksida adalah memiliki karakteristik yang ekstrim, sehingga tidak memerlukan gap
udara tambahan dalam proses pemotongan tegangan surja. Pada kasus ini, diberikan
contoh arrester yang terpasang pada sebuah sistem 150 kV, dimana arrester memiliki
residual voltage (10kA) sebesar 823 kV.

Gambar 4.7 Kurva Karakteristik V-I dari Arrester Jenis Metal Oksida
Tegangan power frequency merupakan besaran tegangan fasa ke tanah yang
dioperasikan secara kontinu terhadap arrester. Pada kurva di atas, nilainya adalah:

Di saat yang bersamaan mengalir besaran arus bocor (leakage current) yang
sebagian besar mengandung komponen kapasitif, dengan sebagian kecil komponen
resistif. Pada kurva di atas Gambar 4.8,nilai arus yang direpresentasikan merupakan
besaran nilai arus resistif.
Untuk mendapatkan gambaran besaran arus komponen kapasitif, dapat dilihat
pada grafik osiloskop seperti pada Gambar di bawah ini :
Pada tegangan power frequency 343 kV, besaran arus resistif menurut kurva
(Gambar 4.8) bernilai 100 A, sementara kurva yang ditunjukkan melalui osiloskop
ditunjukkan dalam kurva di bawah ini memiliki nilai puncak 0,75 mA yang
merupakan arus bocor total, dimana mayoritas mayoritas arus memiliki komponen
kapasitif :

Grafik Osiloskop Arus bocor pada Arrester
Continuous Operating Voltage, disimbolkan Uc (bila merujuk pada standar IEC),
sama artinya dengan MCOV (Maximum Continuous Operating Voltage) bila
mengacu ANSI/ IEEE, merupakan nilai tegangan power-frequency dimana arrester
dapat terus beroperasi tanpa batasan tertentu. Seluruh bagian arrester, yang telah
diujikan pada type test, mampu bekerja dengan baik level tegangan kontinu
ini. Parameter ini sering salah diartikan dengan Rated Voltage.
Rated Voltage. Nilai rated mencerminkan kemampuan arrester dalam
menghadapi Temporary Overvoltage. Rated voltage ini hanya boleh dialami oleh
arrester selama durasi tertentu, yaitu 10 detik. (beberapa pabrikan memberikan durasi
hingga 100 detik). Pada saat mencapai rated voltage (lihat kurva V-I pada
Gambar 4.8.) besar arus bocor (komponen resistif) menjadi 1 mA. Nilai arus tersebut
cukup besar untuk menghasilkan panas di dalam kompartemen arrester dalam waktu
panjang. Umumnya relasi antara Ur dan Uc, ditunjukkan oleh nilai: Ur = 1,25 x Uc.
Lightning Impulse protective Levels. Merupakan parameter yang paling penting
pada Lightning Arrester. Nilai ini menunjukkan besar tegangan diantara kedua ujung
arrester ketika nominal discharge current mengalir melalui arrester. Lightning current
impulse bervariasi dari 1,5 kA hingga 20 kA (IEC 60099-4). Utk Arrester HV (Us>=
123 kV), umumnya hanya terdapat kelas 10 kA dan 20 kA.
4.4.4 Nameplate Arrester Gardu dan Hasil pengukuran tahanan Isolasi Pada
Pemeliharaan Lightning Arrester di Gardu Indung Simpang Tiga
1. PHT 150 KV PRABUMULIH LINE 1
Pabrik : EMP (Bowthorpe Emp Brighton England)
Type : MCA4-150, 150 KV 40 KA, Class 3 1997
UC-MCOV 120 KV
10 KA Heavy Duty
Basic Impulse Insulated Level ( BIL ) : 750 kV
Switching Impulse Level (SIL) : 620 kV
Tahun Pemasangan : 14 juli 2003
2. PHT 150 KV PRABUMULIH LINE 2
Pabrik : ABB Power Technologies
Surge arrester EXLIM Q 150-EH 170
No. 75105241
Class 10 KA
Year : 2006
Ur : 150 KV
Uv : 108 KV
Basic Impulse Insulated Level ( BIL ) : 750 kV
Switching Impulse Level (SIL) : 620 kV
Short circuit current : 65 KV
3. PHT 150 KV KERAMASAN LINE 1
Pabrik : DELLE ASTHLOM
Type : PYB 150
Rated : Un : 150 KV
10 KA Nominal Discharge Current
20 KA pressure
Basic Impulse Insulated Level ( BIL ) : 750 kV
Switching Impulse Level (SIL) : 620 kV

4. PHT 150 KV KERAMASAN LINE 2
Pabrik : ABB Power Technologies
Surge arrester EXLIM Q 150-EH 170
No. 75105241
Class 10 KA
Year : 2006
Ur : 150 KV
Uv : 108 KV
Short circuit current : 65 KV
Basic Impulse Insulated Level ( BIL ) : 750 kV
Switching Impulse Level (SIL) : 620 kV

Nama Saluran Nilai tahanan saat pemeliharaan untuk
bulan September 2012
Kramasan 1 R = 20,6 G
S = 40,3 G
T = 60,2 G
Kramasan 2 R = 30,4 G
S = 20,3 G
T = 50,3 G
Prabumulih 1 R = 50 G
S = 50,2 G
T = 70,5 G
Prubumulih 2 R = 30,4 G
S = 40,3 G
T = 60,2 G
Tabel 1 : Hasil Pengukuran pada Pemeliharaan Tahanan Isolasi Ligtning Arrester
pada Gardu Induk Simpang Tiga.
Dari hasil pengukuran Tahanan Isolasi Lightning Arrester pada saat Pemeliharaan di
Gardu Induk Simpang Tiga pada bulan September dapat dikatakan bahwa tahanan
Isolasnya masih dalam keadaan baik (Dilihat dari tahanan Minimum Isolasi 1
M).Dan kemampuan sistem proteksi Lightning Arrester di Gardu Induk Simpang
Tiga adalah Sebesar 10 % X tegangan Nominal (150 kV) = 15 kA.










Tabel 2 Karakteristik Arrester

Dimana :
FOW : Tegangan Percikan Impuls muka Gelombang
STD : Tegangan Percikan Impulse Maksimum

Tegangan Percikan maksimum (maksimum impuls sparkover voltage) merupakan
tegangan gelombang impuls tertinggi yang terjadi pada arrester.Jika tegangan puncak
surja petir yang datang mempunyai harga yang lebih tinggi atau sama dengan
tegangan percikan maksimum arrester, maka arrester akan bekerja memotong surja
dan mengalirkannya ke tanah.




Tabel 3: Tegangan Kerja Arrester
5. Pertimbangan Pemasangan Arrester
Setiap peralatan di gardu induk memiliki Standard Lightning Impulse With-
stand Voltage (juga dikenal sebagai nilai BIL) sesuai desain. Pada sistem 420 kV
nilai ini sebesar 1425 kV, sementara pada banyak GITET miliki PLN, untuk sistem
500kV memiliki nilai BIL bervariasi antara 1550 1800 kV. Menurut IEC 60071-
2, tegangan tertinggi yang diperbolehkan pada peralatan beroperasi dengan non-
self-restoring (contoh Transformator), merupakan nilai Standard Lightning
Impulse withstand Voltage dibagi dengan safety factor 1,15.
Sehingga untuk sistem 150 kV, tegangan tertinggi yang diperbolehkan pada
peralatan ketika mengahadapi surja adalah sebesar 1239 kV. Tidak jarang nilai
batas aman ini terlampaui. Hal-hal yang memungkinkan batas ini terlampaui
adalah sebagai berikut proses gelombang berjalan.
Kenaikan secara cepat nilai over voltage akan menyebar dalam bentuk
gelombang berjalan (travelling wave) pada line. Pada kondisi demikian, dimana nilai
surge impedance (surge impedance: impedansi relevan selama proses terjadinya
gelombang berjalan di dalam saluran transmisi) berubah, terjadi peristiwa refraksi dan
refleksi (lihat gambar di bawah ini).
Ketika gelombang berjalan mencapai sebuah ujung saluran tanpa terminasi,
maka gelombang tersebut akan dipantulkan ke arah balik. Level tegangan pada setiap
titik secara instan di saluran merupakan penjumlahan dari nilai instan yang berbeda
dari setiap gelombang tegangan individual. Sehingga pada ujung saluran, nilai
tegangan menjadi dua kalinya.


Gambar 4.8 Skema Proses Gelombang Berjalan

Pada skema di atas, gelombang berjalan bergerak dengan kecepatan cahaya
yaitu 300.000 km/ detik. Dalam contoh ini pula, arrester dianggap sebagai arrester
ideal, dimana arrester akan tetap bersifat sebagai insulator hingga beda potensial
diantara kedua ujungnya mencapai 823 kV, juga tegangan lebih tinggi akan dibatasi
pada nilai tersebut (prosos pemotongan tegangan surja).
Oleh k
arena jarak antara arrester dan trafo adalah 30 meter, maka surja akan mencapai
trafo dalam waktu 0,1 s kemudian. Pada saat gelombang berjalan mencapai trafo,
tegangan di arrester mencapai nilai: 1000kV/ s . 0,1 s = 100kV (arrester masih
bersifat sebagai insulator). Gelombang berjalan akan dipantulkan kembali setelah
mencapai transformator.
Contoh di atas memberikan gambaran bahwa mungkin saja, tegangan pada
peralatan akan lebih tinggi di arrester itu sendiri ketika terjadi surja. Seberapa besar
tegangan pada peralatan tergantung pada:
1. Jarak antara Arrester dan peralatan yang dilindungi
2. Nilai front steepness dari surja tegangan
Sebagai contoh pada perhitungan di atas, bila jarak antara arrester dan
transformator ditingkatkan menjadi 2x dan nilai steepness meningkat 10%, maka
berdasarkan perhitungan gelombang berjalan tegangan pada transformator menjadi >
1239 kV. Hal ini berarti juga bahwa arrester memiliki zona proteksi yang terbatas.
Pemasangan arrester dalam contoh di atas, digambarkan dalam gambar di bawah ini:


Skema pemasangan Lightning Arrester
Jarak dari Over Head Line Conductor menuju bumi adalah 10 meter. Bila
diasumsikan bahwa nilai induktansi konduktor adalah 1 H/ m, maka total nilai
induktansi untuk jarak 10 meter adalah 10 H. Bila dalam kasus ekstrim, arus
steepness yang menuju arrester sebesar 10kA/s, maka akan terdapat tegangan sebesar
100kV pada arrester yang akan mensumperimpose tegangan discharge arrester.
Level proteksi dari sebuah arrester didefinisikan sebagai nilai residual voltage
pada arrester ketika arrester tersebut dialiri oleh arus nominal discharge standar.
Arrester memiliki kemampuan untuk dialiri arus discharge yang lebih tinggi, namun
semua tergantung pada kurva V-I keping metal oksidanya sendiri.
Oleh karena itu dalam memasang arrester perlu dipertimbangkan beberapa
detil, seperti: jarak dari arrester dan peralatan yang dilindungi, karakteristik surja di
GI/ GITET. Umumnya digunakan factor pembagi antara nilai Standard Lightning
Impulse Withstand Voltage (dikenal juga dengan istilah BIL) dan nilai Lightning
Impulse Protective Level dari Arrester itu sendiri.
Selain mempertimbangkan agar arrester beroperasi stabil pada kondisi operasi
tegangan kontinu, dan memilih nilai level proteksi serendah mungkin, juga perlu
mempertimbangkan kemampuan absorpsi energi. Kemampuan absorpsi pada setiap
individu arrester sangat terkait pada hal sebagai berikut:
1. Energi yang diinjeksi secara instan. (single Impulse Energy Absorption Capability).
Selama Arrester mengalami pukulan single dari surja, maka akan timbul panas yang
tinggi dalam keping metal oksida, panas ini memungkinkan kerusakan pada keping metal
oksida, belum lagi, bila distribusi material penyusun Keping MO tidak sempurna akibat
keterbatasan kemampuan proses pabrikasi. Selain panas, stress pukulan mekanis pun
dihasilkan pada keping metal oksida, hal ini dapat merusak fungsi arrester. Besaran
batasan kemampuan terhadap Impulse tunggal ini perlu
didefinisikan oleh pabrikan.


Gambar 4.9 Kerusakan keping Metal Oksida

2. Kemampuan Absorpsi Energi Thermal, (Thermal Energy Abosorption Capability).
Merupakan level energi maksimum yang diinjeksikan ke dalam arrester, dimana
arrester masih mampu melakukan proses pendinginan secara otomatis ke suhu
normal operasinya.
Kurva di bawah ini menunjukkan titik-titik suhu dimana arrester beroperasi. Pada
titik stable operation point, panas yang dihasilkan oleh arrester masih mampu
didisipasikan keluar dari arrester. Titik thermal stability limit merupakan batas
atas dari suhu maksimum yang dapat diterima oleh Lightning Arrester, selama
keping metal oksida belum mencapai titik suhu tersebut maka suhu dari keping
metal oksida masih dapat diturunkan ke suhu normal operasi. Nilai typical pada
titik ini adalah 170 200
O
C

Kurva Stabilitas Thermal
1. Jarak Maksimum Lightning Arrester Dan Transformator Yang
Dihubungkan Dengan Saluran Udara
Perlindungan Yang baik diperoleh jika arrester ditempatkan sedekat mungkin
dengan transformator.Tetapi,dalam kenyataannya,arrester harus ditempatkan dengan
jarak tertentu,agar perlindungan dapat berlangsung dengan baik.

Gambar 4.10 : Jarak Arrester dengan Transformator Sebesar
Jika Arrester dihubungkan dengan menggunakan saluran udara alat yang dilindungi
,maka untuk menentukan jarak yang baik antara Arrester dengan Transformator
,dinyatakan dengan persamaan :

t =

a + 2 x /v

Dengan :

t
=
Tegangan Terminal dari Peralatan yang akan dilindungi (kV)

a
=
Tegangan Pelepasan dari Arrester (kV)
= Kecuraman Gelombang (kV/s)
v = Kecepatan Rambat Gelombang yang datang (m/ s)
x = Jarak dari Arrester ke alat yang dilindungi (m)

4.5.2 Perhitungan Jarak Maksimum Arrester dengan Peralatan Yang dilindungi

Gambar 4.11 : Single Line Diagram Gardu Induk SImpang Tiga


Dari Gambar tersebut dan hasil kerja praktek diketahui bahwa :
Lightning Arrester 1, Arrester terpasang pada ujung saluran guna melindungi
peralatan,khususnya pada bus bar / line.Dimana Jaraknya di Gardu Induk
Simpang Tiga adalah 15 m.
Lightning Arrester 2, Arrester terpasang sebelum transformator tenaga (Apabila
dilihat dari ujung saluran),sebagai pengamanan Khusus Transformator.Dimana
Jaraknya di Gardu Induk Simpang Tiga adalah 2 m.
Secara umum arrester melindungi peralatan-peralatan pada Gardu Induk
Simpang Tiga terhadap sambaran-sambaran petir maupun surja hubung.Arrester
ini memiliki jarak maksimum untuk melindungi peralatan.Letak dari Arrester
tersebut tidak boleh lebih dari perhitungan jarak yang ada ,dengan kata lain
arrester memiliki cakupan daerah yang terrbatas.
Jadi dengan menggunakan persamaan diatas ,maka jarak cakupan Arrester yang
terdapat pada Gardu Induk Simpang Tiga dapat dihitung :

t =

a + 2 x /v

Dengan Nilai nilai :

t =
BIL = 750 kV

a =
620 kV
= 6250 kV/ s (Sesuai Tabel 2 diatas Karakteristik Arrester)
v = 300 m/ s (Kecepatan Cahaya)
maka,
750 = 620 + 2
x = 3,119 m
Didapatkan jarak menurut perhitungan antara arrester dengan peralatan adalah 3,119
meter,sedangkan dalam kenyataannya di lapangan jarak antara arrester I pada ujung
saluran dengan sejumlah peralatan (diambil dari jarak transformator tenaga ) sejauh
15 m ,sedangkan jarak antara arrester II yang terpasang sebelum transformator adalah
2 m (apabila dilihat dari ujung saluran ).Untuk Jarak Arrester I
perlindungannya kurang baik untuk melindungi Transformator karena sangat jauh
diatas jarak maksimum ,maka dari gambar diatas Arrester 1 perlindungannya lebih
efsien untuk peralatan yang ada di sekitar Saluran, Sedangkan Arrester I
perlindungannya dapat dikatakan baik untuk peralatan (Transformator) karena
nilainya masih dibawah jarak maksimum dan tidak efisien untuk melindungi peralatan
yang ada di saluran .
4.5.3 Protecive Margin Ligtning Arrester

Gambar 4.12 : Koordinasi Isolasi
Secara umum arrester melindungi peralatan-peralatan pada Gardu Induk
Simpang Tiga terhadap sambaran-sambaran petir maupun surja hubung.Dimana
Protective Marginnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus ;
PM = ((BIL/I
R
)-1) X 100 %
Dimana :
PM = Protective Margin (%)
BIL = Basic Insulation Level Lightning Arrester
I
R
= Residual Volt (kV) = 420 kV
Maka Untuk PM di Gardu Induk Simpang Tiga adalah
PM = ((750/420) 1) X 100 %
PM = 78,57 %

Nilai Protective Margin yang diperoleh adalah memenuhi Syarat dimana lebih
besar dari 20 % (Nilai Minimum PM).
4.6 Konstruksi Metal Okisda
Dalam sub bab ini akan dijelasakan beberapa bagian yang menjadi konstruksi
dari arrester khusunya Arrester dengan Metal Oksida.
Active Part dari Arrester terdiri dari Kolom Varistor Metal Oksida yang dipasang
dengan konstruksi supporting. Keping metal oksida dibuat dalam bentuk silinder yang
besaran diameter keping tergantung pada kemampuan absorbsi energi dan nilai
discharge arus. Nilai diameter bervariasi dari 30 mm untuk arrester kelas distribusi
hingga 100 mm untuk arrester HV/EHV. Setiap keping blok memiliki tinggi
bervariasi dari 20 hingga 45 mm. Semakin tinggi keping blok metal oksida akan
semakin sulit proses produksinya.
Nilai residual voltage untuk setiap keping block metal oksida pada saat
dilewatkan arus impulse standar 10 kA tergantung pada diameter keping itu. Sebagai
contoh pada MO dengan diameter 32 mm nilai residual voltagenya adalah 450 V/ mm,
sementara untuk diameter 70 mm nilai residual voltage menurun menjadi 280 V/mm.

Gambar 4.13 Keping Metal Oksida
Arrester dengan diameter 70 mm ini memiliki tinggi 45 mm, maka untuk satu
keping blok metal oksida, mampu memberikan residual voltage sebesar 12, 5 kV. Bila
arrester ini hendak memiliki residual voltage sebesar 823 kV, maka diperlukan
setidaknya 66 keping blok dipasang tersusun ke atas. Tinggi arrester akan mencapai 3
meter. Oleh karena ketinggian 3 meter dinilai tidak pratis, dan tidak memiliki
kestabilan mekanis yang baik, maka arrester ini dibuat setidaknya 2 tumpuk.

Gambar 4.14 Gambar Struktur Arrester Metal Dioksida
Material Metal Oksida ditaruh dalam tabung yang terbuat dari aluminium.
Tabung ini memiliki kemampuan menahan mekanis, juga sebagai pendingin keping.
TUmpukan keping metal oksida ditaruh dalam sangkar rod, terbuat dari FRP (Fiber
Glass Reinforced Plasctic).
Compression Ring dipasang pada ujung kolom active part untuk memastikan
susunan berada dalam posisi tetap di dalam kompartemen housing. Kompartemen
housing sendiri saat ini terbuat dari porcelain, walau beberapa sudah mulai beralih ke
polimer. Alumunium flange direkatkan dengan menggunakan semen sebagai dudukan.
Untuk bahan alumunium sendiri, menurut IEC 60672-3, terdapat 2 jenis yaitu:
Porselin Quartz dan Porselin Alumina. Porselin Alumina memiliki daya tahan yang
lebih baik. Proses glasur preselin tidak hanya pada sisi dalam dari arrester, namun
juga pada sisi luar dari arrester.


Gambar 4.15 . Struktur Pressure Relief

Sealing Ring dan Pressure Relief Diaphragm dipasang di kedua ujung arrester.
Material sealing ring harus memiliki daya tahan terhadap kondisi ozone, agar tetap
mampu melakukan seal dengan baik. Material yang sering dipilih adalah dari jenis
material sintetis, jenis karet biasa tidak mampu digunakan untuk hal ini. Sementara
untuk Pressure Relief Diapraghm, dipilih material dari jenis steel kualitas tinggi, atau
nikel. Keduanya harus mampu tahan hingga 30 tahun, Pressure relief dan clamping
ring disatukan dengan clamping ring yang dipasang pada flange menggunakan baud.
Pada saat terjadi proses discharge yang dibarengi dengan peningkatan suhu
yang sangat tinggi, maka, akan terjadi pemuain suhu di dalam kompartemen arrester,
kelebihan tekanan inilah yang perlu dilepas dari dalam kompartemen, pressure relief
bekerja sebagai katup pelepasan.

Gambar 4.16 Counter Arrester dan Meter Arus Bocor Total

Surge Counter berfungsi untuk menghitung jumlah kerja dari arrester
melakukan proses discharge, sementara leakage cureent detector berfungsi untuk
memberikan besaran arus bocor pada arrester pada tegangan operasi kontinu, nilai
arus bocor ini merupakan arus bocor total yang umumnya merupakan arus kapasitif,
arus bocor ini juga bergantung pada besar arus bocor permukaan yang nilainya
tergantung pada kebersihan housing dari arrester. Arus bocor dari kapasitansi bocor
peralatan gardu induk lain juga memungkinkan untuk turut terukur oleh meter ini.
Spark Over detector memiliki fungsi yang serupa dengan surge counter, hanya
saja, untuk melihat apakah arrester tersebut telah melakukan proses discharge
kompartemen SparOver perlu dibuka dan dilakukan pengecekan apakah terdapat
tanda bekas discharge diantara kedua pelat tersebut.

Gambar 4.17 Peralatan Monitoring Spark Gap
Teknologi terakhir dari arrester adalah dengan memanfaatkan polimer sebagai
kompartemen housing. Konstruksi desainnya tidak jauh berbeda dengan arrester
dengan kompartemen terbuat dari porselin. Pada arrester kelas distribusi, polimer
dicetak menempel dengan kolom metal oksida (molded), hal ini memberikan
keuntungan: bebas void, ikatan yang kuat serta posisi permanen.
4.7 FMEA (Failure Mode Effect Analysis) pada Lightning Arrester
FMEA (Failure Mode Effect Analysis) merupakan tahapan yang dilaksanakan
untuk mendapatkan gejala kegagalan pada sebuah peralatan dengan menerapkan
keterkaitan sebab-akibat antara kegagalan yang satu dengan penyebab sebelumnya,
demikian seterusnya hingga ditemukan penyebab kegagalan yang paling awal.
Penyebab kegagalan paling mula ini, misal, seal rusak (yang menyebabkan moisture
masuk ke dalam kompartemen arrester), perlu dilaksanakan inspeksi khusus
terhadapnya.
Dalam analisis FMEA, pendekatan yang dilaksanakan bukan melalui pendekatan per
komponen yang menyusun sebuah peralatan, melainkan pendekatan fungsi. Dalam hal
ini, sebuah Sistem Arrester MOSA memiliki sebuah fungsi utama memotong
tegangan lebih yang menuju peralatan yang dilindunginya. Tegangan lebih ini baik
berupa surja petir, surja hubung maupun tegangan lebih di dalam sistem. Sebuah
arrester terdiri dari beberapa sub sistem pendukung, yaitu:
a. Sub Sistem Pemotong Surja
Merupakan sub sistem kritis dari sebuah lightning arrester yang berfungsi memotong
tegangan lebih dari surja. Berupa komponen non linear, umum digunakan adalah ZnO.
Mayoritas arrester saat ini menggunakan tipe Metal Oksida. Parameter utama yang
mempengaruhi kualitas ZnO adalah karakteristik V-I yang dimiliki serta
kemampuannya mengabsorbsi energi ketika terjadi proses surja.
b. Sub Sistem Isolasi
Merupakan sub sistem yang memiliki sub fungsi memisahkan bagian konduktor
bertegangan dengan ground, terdiri dari kompartemen insulator (housing), baik berupa
keramik maupun polymer, juga insulator dudukan (insulation feet) berada di sisi
bawah dari arrester. Kompartemen perlu diperhatikan tingkat polusinya, semakin
tinggi tingkat polusi yang melekat, memungkinkan nilai arus bocor permukaan
menjadi tinggi. Pada insulator jenis keramik, perlu dilakukan pengecekan apakah telah
terjadi cracking pada permukaan kompartemen, sementara pada insulator jenis
polimer, dicek bilamana kondisi polimer utuh/ robek ataupun berlumut.

c. Sub Sistem Counter & Meter Petunjuk
Counter berfungsi untuk menunjukkan jumlah kali surja telah terjadi pada arrester.
Sementara meter petunjuk berfungsi untuk menunjukkan bbesar nilai arus bocor yang
mengalir dari ujung atas arrester menuju ground dalam kondisi operasi tegangan
kontinu.

Gambar 4.18 Penghitung banyaknya sambaran petir dan penunjuk arus
Arus bocor total ini mayoritas bersifat kapasitif dan terpengaruh oleh banyak factor:
kebersihan kompartemen luar, stray capacitance di gardu induk dan kondisi insulating
feet. Agar keduanya bekerja baik, maka arrester harus dipastikan hanya terhubung ke
bumi melalui kawat ground, untuk itulah, maka insulating feet berperan.
Walau demikian, meter petunjuk memberikan besaran nilai arus bocor total, dimana
nilai tersebut kurang akurat bila hendak digunakan untuk merepresentasikan kondisi
dari keeping metal oksida. Pengukuran lain, yang merujuk pada IEC 60099-5, yakni
pengukuran arus bocor resistif dengan kompensasi harmonisa orde ke-3 dinilai lebih
akurat untuk memberikan gambaran kondisi komponen kritis arrester (Metal Oksida)
tersebut.
Penelitian internal PLN menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara jumlah kerja
counter arrester dengan besaran arus bocor resistif dari Arrester.

Relasi antara nilai arus bocor resistif dan jumlah kerja counter
d. Sub Sistem Pentanahan
Merupakan komponen yang berfungsi untuk meneruskan baik arus bocor selama
tegangan operasi kontinu, maupun surja menuju bumi. Kawat pentanahan terbuat dari
tembaga. Kawat pentanahan umumnya dipasang seri dengan peralatan monitoring
(counter ataupun meter) sebelum dibumikan. Kondisi konektor harus dipastikan baik,
seperti: tidak terdapat rantas pada kawat, ataupun koneksi-koneksi baik (mur dan
baut), kawat tembaga tidak ditumbuhi lumut
f. Sub Sistem Pengaman Tekanan Lebih Internal
Memiliki fungsi melepaskan tekanan lebih di dalam arrester yang mungkin timbul
ketika terjadi discharge arus surja tinggi. Fungsinya mirip pressure relief pada
transformator. Pada saat terjadi surja, baik single maupun multiple, suhu keeping
metal oksida mampu mencapai 170
O
C 200
O
C, oleh karenanya terjadi pemuaian
udara di dalam kompartemen udara, pemuaian ini perlu dilepas keluar kompartemen
untuk menghindari kompartemen (umumnya porselen menjadi pecah), katup kembali
menutup dengan segera untuk menjaga agar tekanan udara di dalam kompartemen
tetap lebih tinggi daripada tekanan udara luar.
Beberapa arrester dilengkapi dengan flag pressure relief, terbuat dari
alumunium, terpasang di ujung venting outlet arrester. Flag ini berfungsi untuk
memberikan indikasi, bahwa pernah terjadi surja yang cukup tinggi (di atas rated
pressure relief device), sehingga memungkinkan kerusakan pressure relief device.
g. Sub Sistem Konstruksi Penyangga
Memiliki fungsi sebagai penyangga arrester di atas permukaan tanah. Terdiri dari
pondasi dan struktur besi penyangga.

Gambar 4.19 Konstruksi Penyangga

h. Sub Sistem Konektor
Memiliki fungsi melakukan koneksi antara kawat konduktor dengan bagian atas
arrester, dan dari arrester ke bagian pentanahan. Bagian ini rawan terjadi kelonggaran
yang memungkinkan timbulnya hot spot, oleh karenanya, perlu dilakukan thermovisi
secara berkala pada bagian ini, selain thermovisi pada kompartemen arrester itu
sendiri.


Gambar 4.20 Konektor atas dan konektor bawah Arrester
i. Sub Sistem Asesories/ Grading/Corona Ring
Memiliki fungsi mendistribusikan secara merata medan listrik dan mengurangi efek
corona pada bagian ujung atas LA. Grading ring perlu dipasang pada arrester dengan
ketinggian lebih dari 1,5 meter.