Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.DEFINISI
Tinea Cruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar anus. Kelainan ini
dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsun seumur
hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerahgenito-krural saja atau bahkan meluas ke daerah
sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian tubuh yang lain. Tinea cruris
mempunyai nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of the groin, dhobie itch
(Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005)
II.ETIOLOGI
Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum (90%) dan Epidermophython
fluccosum Trichophyton mentagrophytes (4%), Trichopyhton tonsurans (6%) (Boel, Trelia.Drg.
M.Kes.2003)
Tinea cruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah tropis. Angka
kejadian lebih sering pada orang dewasa, terutama laki-laki dibandingkan perempuan. Tidak ada
kematian yang berhubungan dengan tinea cruris.Jamur ini sering terjadi pada orang yang kurang
memperhatikan kebersihan diri atau lingkungan sekitar yang kotor dan lembab (Wiederkehr,
Michael. 2008)
III.PATOFISIOLOGI
Cara penularan jamur dapat secara angsung maupun tidak langsung. Penularan langsung
dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau
tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian
debu. Agen penyebabjuga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau
sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum. Jamur ini
menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum
korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan
2

keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis
dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum
menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi
kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan.
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah:
a.Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik.
Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal
afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum
jarang menyerang rambut, Epidermophython fluccosum paling sering menyerang liapt paha
bagian dalam.
b.Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
c.Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi atau
lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari paling sering terserang
penyakit jamur.
d.Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden penyakit
jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering ditemukan daripada
golongan ekonomi yang baik
e.Faktor umur dan jenis kelamin (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003)

3

IV.MANIFESTASI KLINIS
1. Anamnesis
Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis dan dapat meluas ke
sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke supra pubis dan abdomen
bagian bawah. Rasa gatal akan semakin meningkat jika banyak berkeringat. Riwayat pasien
sebelumnya adalah pernah memiliki keluhan yang sama. Pasien berada pada tempat yang
beriklim agak lembab, memakai pakaian ketat, bertukar pakaian dengan orang lain, aktif
berolahraga, menderita diabetes mellitus. Penyakit ini dapat menyerang pada tahanan penjara,
tentara, atlit olahraga dan individu yang beresiko terkena dermatophytosis.
2. Pemeriksaan Fisik
Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder. Makula
eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula atau pustula. Jika kronis
atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula hiperpigmentasi dengan skuama
diatasnya dan disertai likenifikasi. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi.
Manifestasi tinea cruris :
1.Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal, distal lipat paha, dan
proksimal dari abdomen bawah dan pubis
2.Daerah bersisik
3.Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif
4.Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai
likenifikasi
5.Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus yang tersebar
dan sedikit skuama
6.Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena
4

7.Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan impetiginasi mungkin muncul
karena garukan
8.Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal sehingga tampak kulit
eritematus, sedikit berskuama, dan mungkin terdapat pustula folikuler
9.Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis (Wiederkehr,
Michael. 2008).
V.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri atas pemeriksaan
langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur
diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang sebelumnya dibersihkan dengan alkohol 70%.
a.Pemeriksaan dengan sediaan basah
Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama dari bagian tepi lesi dengan
memakai scalpel atau pinggir gelas taruh di obyek glass tetesi KOH 10-15 % 1-2
tetes tunggu 10-15 menit untuk melarutkan jaringan lihat di mikroskop dengan
pembesaran 10-45 kali, akan didapatkan hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat,
dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau
sudah diobati, dan miselium
b. Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agar
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada medium saboraud
dengan ditambahkan chloramphenicol dan cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) untuk
menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. Identifikasi jamur
biasanya antara 3-6 minggu (Wiederkehr, Michael. 2008)


5

c.Punch biopsi
Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya dan
spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc AcidSchiff, jamur akan tampak merah
muda atau menggunakan pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau
hitam (Wiederkehr, Michael. 2008).
d. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana
akan tampak floresensi merah bata(Wiederkehr, Michael. 2008).
VI.DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan melihat
gambaran klinis dan lokasi terjadinya lesi serta pemeriksaan penunjang seperti yang telah
disebutkan dengan menggunakan mikroskop pada sediaan yang ditetesi KOH 10-20%, sediaan
biakan pada medium Saboraud, punch biopsi, atau penggunaan lampu wood.
VII.DIAGNOSIS BANDING
Candidosis intertriginosa
Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya
oleh Candida albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat mengenai mulut, vagina,
kulit, kuku, bronki.Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur,
baik laki-laki maupun perempuan.
Patogenesisnya dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen maupun eksogen.
Faktor endogen misalkan kehamilan karena perubahan pH dalam vagina, kegemukan
karena banyak keringat, debilitas, iatrogenik, endokrinopati, penyakit kronis orang tua dan
bayi, imunologik (penyakit genetik). Faktor eksogen berupa iklim panas dan kelembapan,
kebersihan kulit kurang, kebiasaan berendam kaki dalam air yang lama menimbulkan
maserasi dan memudahkan masuknya jamur, kontak dengan penderita.
6

Dapat mengenai daerah lipatan kulit, terutama ketiak, bagian bawah payudara,
bagian pusat, lipat bokong, selangkangan, dan sela antar jari; dapat juga mengenai daerah
belakang telinga, lipatan kulit perut, dan glans penis (balanopostitis). Pada sela jari tangan
biasanya antara jari ketiga dan keempat, pada sela jari kaki antara jari keempat dan kelima,
keluhan gatal yang hebat, kadang-kadang disertai rasa panas seperti terbakar.
Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang berbatas tegas,
bersisik, basah, dan kemerahan. Kemudian meluas, berupa lenting-lenting yang dapat berisi
nanah berdinding tipis, ukuran 2-4 mm, bercak kemerahan, batas tegas, Pada bagian tepi
kadang-kadang tampak papul dan skuama. Lesi tersebut dikelilingi oleh lenting-lenting
atau papul di sekitarnya berisi nanah yang bila pecah meninggalkan daerah yang luka,
dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi utama. Kulit sela jari tampak merah
atau terkelupas, dan terjadi lecet. Pada bentuk yang kronik, kulit sela jari menebal dan
berwarna putih.
Erytrasma
Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh
Corynebacterium minitussismum, ditandai lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di
daerah ketiak dan lipat paha. Gejala klinis lesi berukuran sebesar milier sampai plakat. Lesi
eritroskuamosa, berskuama halus kadang terlihat merah kecoklatan. Variasi ini rupanya
bergantung pada area lesi dan warna kulit penderita. Tempat predileksi kadang di daerah
intertriginosa lain terutama pada penderita gemuk. Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang
eritematosa dan serpiginose. Lesi tidak menimbul dan tidak terlihat vesikulasi. Efloresensi yang
sama berupa eritema dan skuama pada seluruh lesi merupakan tanda khas dari eritrasma. Skuama
kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. Pada pemeriksaan dengan
lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red) (Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005)
Psoriasis
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Tempat
7

predileksi pada skalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas ekstensor
terutama siku serta lutut dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak eritema
yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi
pada stadium penyembuhan sering bagian di tengah menghilang dan hanya terdapat di
pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan.
Besar kelainan bervariasi dapat lentikular, numular atau plakat, dapat berkonfluensi.
Dermatitis Seboroik
Dermatitis Seboroik merupakan penyakit inflamasi konis yang mengenai daerah
kepala dan badan. Prevalensi Dermatitis Seboroik sebanyak 1-5% populasi.Lebih sering
terjadi pada laki-laki daripada wanita. Penyakit ni dapat mengenai bayi sampa orang
dewasa. Umumnya pda bayi terjadi pada usia 3 bulan sedang pada dewasa pada usia 30-
60 tahun. Kelainan kulit berupa eritema dan skuama yang berminyak dan agak
kekuningan dengan batas kurang tegas. Bentuk yang berat ditandai dengan adanya
bercak-bercak berskuama dan berminyak disertai eksudat dan krusta tebal.
VIII.PENATALAKSANAAN
Pada infeksi tinea cruris tanpa komplikasi biasanya dapat dipakai anti jamur topikal saja
dari golongan imidazole dan allynamin yang tersedia dalam beberapa formulasi. Semuanya
memberikan keberhasilan terapi yang tinggi 70-100% dan jarang ditemukan efek samping. Obat
ini digunakan pagi dan sore hari kira-kira 2-4 minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm diluar batas
lesi, dan diteruskan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. Terapi sistemik
dapat diberikan jika terdapat kegagalan dengan terapi topikal, intoleransi dengan terapi topikal.
Sebelum memilih obat sistemik hendaknya cek terlebih dahulu interaksi obat-obatan tersebut.
Diperlukan juga monitoring terhadap fungsi hepar apabila terapi sistemik diberikan lebih dari 4
mingggu.
Pengobatan anti jamur untuk Tinea cruris dapat digolongkan dalam emapat golongan yaitu:
golongan azol, golongan alonamin, benzilamin dan golongan lainnya seperti siklopiros,tolnaftan,
haloprogin. Golongan azole ini akan menghambat enzim lanosterol 14 alpha demetylase (sebuah
enzim yang berfungsi mengubah lanosterol ke ergosterol), dimana truktur tersebut
8

merupakankomponen penting dalam dinding sel jamur. Goongan Alynamin menghambat keja
dari squalen epokside yang merupakan enzim yang mengubah squalene ke ergosterol yang
berakibat akumulasi toksik squalene didalam sel dan menyebabkan kematian sel. Dengan
penghambatan enzim-enzim tersebut mengakibatkan kerusakan membran sel sehingga ergosterol
tidak terbentuk. Golongan benzilamin mekanisme kerjanya diperkirakan sama dengan golongan
alynamin sedangkan golongan lainnya sama dengan golongan azole. Pengobatan tinea cruris
tersedia dalam bentuk pemberian topikal dan sistemik:
Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea cruris adalah:
1.Golongan Azol
a.Klotrimazole (Lotrimin, Mycelec)
Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan dalam pengobatan tinea cruris karena
bersifat broad spektrum antijamur yang mekanismenya menghambat pertumbuhan ragi
dengan mengubah permeabilitas membran sel sehingga sel-sel jamur mati. Pengobatan
dengan clotrimazole ini bisa dievaluasi setelah 4 minggu jika tanpa ada perbaikan klinis.
Penggunaan pada anak-anak sama seperti dewasa. Obat ini tersedia dalam bentuk kream
1%, solution, lotion. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Tidakada kontraindikasi
obat ini, namun tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukan hipersensitivitas,
peradangan infeksi yang luas dan hinari kontak mata.
b.Mikonazole (icatin, Monistat-derm)
Mekanisme kerjanya dengan selaput dinding sel jamur yang rusak akanmenghambat
biosintesis dari ergosterol sehingga permeabilitas membran sel jamur meningkat
menyebabkan sel jamur mati. Tersedia dalam bentuk cream 2%, solution, lotio, bedak.
Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Penggunaan pada anak sama dengan dewasa.
Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan
mata.
c.Econazole (Spectazole)
9

Mekanisme kerjanya efektif terhadap infeksi yang berhubungan dengan kulit yaitu
menghambat RNA dan sintesis, metabolisme protein sehingga mengganggu permeabilitas
dinding sel jamur dan menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ecnazole dapat
dilakukan dalam 2-4 minggu dengan cara dioleskan sebanyak 2kali atau 4 kali dalam
sediaan cream 1%.. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas,
hindari kontak dengan mata.
d.Ketokonazole (Nizoral)
Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan imidazole yang bersifat broad spektrum
akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat
menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ketokonazole dapat dilakukan selama
2-4 minggu. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari
kontak dengan mata.
e.Oxiconazole (Oxistat)
Mekanisme oxiconazole kerja yang bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis
ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati.
Pengobatan dengan oxiconazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tersedia dalam
bentk cream 1% atau bedak kocok. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan
sama dengan orang dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan
hipersensitivitas dan hanya digunakan untuk pemakaian luar.
f.Sulkonazole (Exeldetm)
Sulkonazole merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas. Titik tangkapnya yaitu
menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel,
sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Tersedia dalam bentuk cream 1% dan
solutio. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa
(dioleskan pada daerah yang terkena selama 2-4 minggu sebanyak 4 kali sehari).
2.Golongan alinamin
10

a.Naftifine (Naftin)
Bersifat broad spektrum anti jamur dan merupakan derivat sintetik dari alinamin yang
mekanisme kerjanya mengurangi sintesis dari ergosterol sehingga menyebabkan
pertumbuhan sel amur terhambat. Pengobatan dengan naftitine dievaluasi setelah 4
minggu jika tidak ada perbaikan klinis. Tersedia dalam bentuk 1% cream dan lotion. .
Penggunaan pada anak sama dengan dewasa ( dioleskan 4 kali sehari selama 2-4minggu).
b. Terbinafin (Lamisil)
Merupakan derifat sintetik dari alinamin yang bekerja menghambat skualen epoxide yang
merupakan enzim kunci dari biositesis sterol jamur yang menghasilkan kekurangan
ergosterol yang menyebabkan kematian sel jamur. Secara luas pada penelitian
melaporkan keefektifan penggunaan terbinafin. Terbenafine dapat ditoleransi
penggunaanya pada anak-anak. Digunakan selama 1-4 minggu
3.Golongan Benzilamin
a. Butenafine (mentax)
Anti jamur yang poten yang berhuungan dengan alinamin. Kerusakan membran sel jamur
menyebabkan sel jamur terhambat pertumbuhannya. Digunakan dalam bentuk cream 1%,
diberikan selama 2-4 minggu. Pada anak tidak dianjurkan. Untuk dewasa dioleskan
sebanyak 4kali sehari.
4.Golongan lainnya
a. Siklopiroks (Loprox)
Memiliki sifat broad spektrum anti fungal. Kerjanya berhubunan dengan sintesi DNA
b.Haloprogin (halotex)
Tersedia dalam bentuk solution atau spray, 1% cream. Digunakan selama 2-4minggu dan
dioleskan sebanyak 3kali sehari.
11

c.Tolnaftate
Tersedia dalam cream 1%,bedak,solution. Dioleskan 2kali sehari selama 2-4
minggu(Wiederkehr, Michael. 2008).
Pengobatan secara sistemik dapat digunakan untuk untuk lesi yang luas atau gagal
dengan pengobatan topikal, berikut adalah obat sistemik yang digunakan dalam pengobatan tinea
cruris:
a. Ketokonazole
Sebagai turunan imidazole, ketokonazole merupakan obat jamur oral yangberspektrum luas.
Kerja obat ini fungistatik. Pemberian 200mg/hari selama 2-4 minggu.
b. Itrakonazole
Sebagai turunan triazole, itrakonazole merupakan obat anti jamur oral yang berspektrum luas
yang menghambat pertumbuhan sel jamur dengan menghambat sitokrom P-450 dependent
sintetis dari ergosterol yang merupakan komponen penting pada selaput sel jamur.Pada
penelitian disebutkan bahwa itrakonazole lebih baik daripada griseofulvin dengan hasil terbaik
2-3 minggu setelah perawatan. Dosis dewasa 200mg po selam 1 minggu dan dosis dapat
dinaikkan 100mg jika tidak ada perbaikan tetpi tidak boleh melebihi 400mg/hari.Untuk anak-
anak 5mg/hari PO selama 1 minggu. Obat ini dikontraindikasikan pada penderita yang
hipersensitivitas, dan jangan diberikan bersama dengan cisapride karena berhubunngan dengan
aritmia jantung.
c.Griseofulfin
Termasuk obat fungistatik, bekerja dengan menghambat mitosis sel jamur dengan mengikat
mikrotubuler dalam sel. Obat ini lebih sedikit tingkat keefektifannya dibanding itrakonazole.
Pemberian dosis pada dewasa 500mg microsize (330-375 mg ultramicrosize) PO selama 2-
4minggu, untuk anak 10-25 mg/kg/hari Po atau 20 mg microsize /kg/hari
c.Terbinafine
12

Pemberian secara oral pada dewasa 250g/hari selama 2 minggu). Pada anak pemberian secara
oral disesuaikan dengan berat badan:
12-20kg :62,5mg/hari selama 2 minggu
20-40kg :125mg/ hari selama 2 minggu
>40kg:250mg/ hari selama 2 minggu
Edukasi kepada pasien di rumah :
1.Anjurkan agar menjaga daerah lesi tetap kering
2.Bila gatal, jangan digaruk karena garukan dapat menyebabkan infeksi.
3.Jaga kebersihan kulit dan kaki bila berkeringat keringkan dengan handuk dan mengganti
pakaian yang lembab
4.Gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat seperti katun, tidak
ketat dan ganti setiap hari.
5.Untuk menghindari penularan penyakit, pakaian dan handuk yang digunakan penderita harus
segera dicuci dan direndam air panas.
IX.KOMPLIKASI
Tinea cruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain. Pada infeksi
jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit.
X.PROGNOSIS
Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat asalkan kelembapan dan
kebersihan kulit selalu dijaga.

13

BAB II
ISI
1. Kasus
Nn. Puspa, 21 th
Keluhan : Gatal-gatal sejak 1 minggu yang lalu dibagian lipat paha, yang menjalar sampai
paha bagian dalam. Bagian yang gatal namapak agak basah dan nampak agak kehitaman, kadang
kalau digaruk sampai mengelupas. Apabila cuaca panas dan berkeringat, terutama habis
berolahraga, gatal semakin betambah
Pemeriksaan fisik : Terlihat dibagian paha area-area eritema yang eksudatif dengan bagian
tengah yang menyembuh, ada skuama di bagian tepi.
Berdasarkan Anamnesa dan Pemeriksaan fisik maka didapatkan diagnosa kasus adalah
Tinea kruris.
2. Tujuan Pengobatan
a. Pengobatan kausatif, dengan pemberian antijamur untuk mengatasi penyebab jamur
penyebab tinea pedis et kruris.
b. Pengobatan simptomatis dengan antihistamin untuk mengurangi rasa gatal dan efek
sedasi agar pasien dapat beristirahat.
c. Mengatasi dan menghilangkan faktor predisposisi, yaitu dengan menjaga tempat infeksi
selalu bersih dan kering, menggunakan pakaian yang menyerap keringat dan tidak
sempit, menghindari memakai sepatu tertutup atau sepatu yang sempit sepanjang hari.

3. Daftar Kelompok Obat beserta Jenisnya untuk Kasus Di atas
14

No. Kelompok Obat Obat
1
Antijamur sistemik
Ketokonazol
Griseofulvin
2 Antijamur topikal
Miconazol krim 2%
Clotrimazol krim 1%
3 Antipruritus
Chlorpheniramin maleat
Loratadin

4. Perbandingan Obat Menurut Khasiat, Keamanan, dan Kecocokannya
Kelompok/
Jenis Obat
Khasiat (Efek)
Keamanan BSO
(Efek Samping Obat)
Kontraindikasi
Ketokonazol Antijamur
sistemik
Mual, muntah, nyeri
perut, sakit kepala,
pruritus
Gangguan hati,
hipersensitif, wanita
hamil dan menyusui
Griseofulvin Antijamur
sistemik
Sakit kepala, urtikaria,
reaksi fotosensitivitas,
mual, muntah, lelah,
agranulositosis,
leukopenia, neuropati
perifer, gangguan
koordinasi
Gangguan fungsi hati,
hipersensitif, wanita
hamil
Miconazol krim
2%
Antijamur
topikal
Iritasi, rasa terbakar, dan
maserasi
Hipersensitif
Clotrimazol krim
1%
Antijamur
topikal
Eritema, edem, pruritus,
urtikaria, sensasi panas,
dan iritasi kulit
Hipersensitif, hamil
trimester pertama
Chlorpheniramin
maleat
Antihistamin
sedatif
Sedasi, vertigo, tinitus,
rasa lelah, inkoordinasi,
hipotensi, mual, muntah,
konstipasi, diare
Infeksi saluran napas
bawah, bayi prematur
15

Loratadin Antihistamin
non sedatif
Jarang, mulut kering dan
sedasi, lesu, nyeri kepala
Bayi prematur dan bayi
baru lahir, asma akut,
hati-hati pada wanita
hamil dan menyusui

5. Pilihan Dan Alternatif Obat Yang Digunakan
a. Antijamur Sistemik
Uraian Obat Pilihan Obat Alternatif
Antijamur Sistemik
Ketokonazol
Griseofulvin
BSO (Generik, Paten,
Kekuatan)
Tablet 200 mg, Krim 2%, Gel
2%, Larutan kulit kepala 2%
Tablet 125 mg, 500 mg
BSO yang diberikan dan
alasan
Tablet 200 mg
Karena lebih praktis dan
ekonomis
Tablet 125 mg
Karena lebih praktis dan
ekonomis
Dosis Referensi Dewasa : 200 mg/hari Dewasa : 0,5-1 gram/hari
Dosis dalam kasus
200 mg/hari
Karena sesuai dengan dosis
dewasa
500 mg/hari
Karena sesuai dengan dosis
dewasa
Frekuensi Pemberian
dan alasan
Diberikan 1 kali sehari, karena
sudah mencukupi dosis
Diberikan 4 kali sehari,
karena hasil akan lebih
memuaskan bila dosis yang
dibutuhkan dibagi empat
dan diberikan setiap 6 jam
Cara Pemberian dan
alasan
Per Oral, karena diserap baik
melalui saluran cerna dan
penderita masih dapat makan
dan minum
Per Oral, karena penderita
masih dapat makan dan
minum
Saat Pemberian dan
alasannya
Bersama-sama dengan
makanan, karena dapat
mengurangi efek samping
mual dan pruritus
Bersama-sama dengan
makanan, khususnya
makan yang berlemak,
karena penyerapannya
16

akan menjadi lebih baik
Lama Pemberian
10-14 hari, agar terjadi
penyembuhan sempurna
2 minggu, setelah
sembuh klinis dilanjutkan
selama 2 minggu karena
penyembuhan sempurna
(biakan jamur menjadi
negatif) terjadi dalam 1-2
minggu

b. Antijamur Topikal
Uraian Obat Pilihan Obat Alternatif
Antijamur Topikal Mikonazol krim 2%
Clotrimazol krim 1%
BSO (Generik, Paten,
Kekuatan)
Krim 2%, Bedak tabur 2%, Gel
2%, Krim vaginal 2%
Krim 1%, Larutan 1%, Krim
vaginal 1%, Tablet vaginal
BSO yang diberikan dan
alasan
Krim 2%
Karena sesuai untuk lesi pada
tinea dan dapat mempercepat
proses penyembuhan
Krim 1%
Karena sesuai untuk lesi pada
tinea dan dapat mempercepat
proses penyembuhan
Dosis Referensi Dioleskan 2 kali sehari Dioleskan 2 kali sehari
Dosis dalam kasus
Dioleskan 2 kali sehari
Karena sesuai dengan dosis
untuk dewasa
Dioleskan 2 kali sehari
Karena sesuai dengan dosis
untuk dewasa
Frekuensi Pemberian
dan alasan
Diberikan 2 kali sehari, karena
sudah mencukupi dosis
Diberikan 2 kali sehari, karena
sudah mencukupi dosis
Cara Pemberian dan
alasan
Dioleskan pada lesi, karena
dapat mempercepat proses
penyembuhan
Dioleskan pada lesi, karena
dapat mempercepat proses
penyembuhan
Saat Pemberian dan
alasannya
Tidak ada aturan khusus,
sebaiknya dioleskan pada
pagi dan malam hari
Tidak ada aturan khusus,
sebaiknya dioleskan pada pagi
dan malam hari
Lama Pemberian
2-3 minggu, agar terjadi
penyembuhan yang sempurna
2-3 minggu, agar terjadi
penyembuhan yang sempurna
17

c. Antihistamin
Uraian Obat Pilihan
Obat Alternatif
Antihistamin Chlorpheniramin maleat
Loratadin
BSO (Generik, Paten,
Kekuatan)
Tablet 4 mg, Sirup 2 mg/5 ml,
cairan injeksi 10 mg/ml

Tablet 10 mg, Sirup 5 mg/5 ml
BSO yang diberikan dan
alasan
Tablet 4 mg
Karena lebih praktis dan
ekonomis
Tablet 10 mg
Karena lebih praktis dan
ekonomis
Dosis Referensi
Dewasa : 4 mg maksimal 24
mg/hari
Dewasa : 10 mg/hari
Dosis dalam kasus
12 mg/hari
Karena sesuai untuk dosis
dewasa

10 mg/hari
Karena sesuai untuk dosis
dewasa
Frekuensi Pemberian
dan alasan
Diberikan 3 kali sehari, untuk
memenuhi dosis, namun bila
penderita mengeluh aktivitas
pada pagi dan siang harinya
terganggu, obat dapat
diminum 1 kali saja pada
malam hari
Diberikan 1 kali sehari, karena
sudah mencukupi dosis
Cara Pemberian dan
alasan
Per Oral, karena penderita
masih dapat makan dan
minum
Per Oral, karena penderita
masih dapat makan dan
minum
Saat Pemberian dan
alasannya
Tidak ada aturan khusus,
karena absorbsi obat tidak
terganggu oleh makanan
Tidak ada aturan khusus,
karena absorbsi obat tidak
terganggu oleh makanan
Lama Pemberian
3 hari, karena sifatnya
simptomatis, jika gejala hilang
dapat dihentikan
3 hari, karena sifatnya
simptomatis, jika gejala hilang
dapat dihentikan

18

6. Pengendalian Obat
Pengendalian obat dilakukan dengan memperhatikan dosis, lama pemberian, dan efek
samping. Bila timbul efek samping, obat harus segera dihentikan dan dapat diganti dengan obat
lain. Penggunaan antijamur harus habis dan tidak boleh terputus untuk mencegah resistensi.
Pemberian obat simptomatis sebaiknya sesingkat mungkin dan diberikan bila perlu saja. Setelah
obat yang diberikan habis, penderita hendaknya memeriksakan kembali penyakitnya, sehingga
dokter dapat memutuskan apakah penyakit tersebut sudah benar-benar sembuh, baik secara klinis
maupun laboratorik. Selain itu, apabila obat yang diberikan adalah antijamur sistemik
griseofulvin, maka setelah sembuh secara klinis pengobatan harus diteruskan selama 2 minggu
dengan dosis yang diturunkan, hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kekambuhan dari
penyakit tersebut.









19

BAB III

Antijamur
Obat antijamur terdiri dari beberapa kelompok yaitu : kelompok polyene (amfoterisin B,
nistatin, natamisin), kelompok azol (ketokonazol, ekonazol, klotrimazol, mikonazol, flukonazol,
itrakonazol), allilamin (terbinafin), griseofulvin, dan flusitosin.
Azol
Antijamur azol merupakan senyawa sintetik dengan aktivitas spektrum yang luas, yang
diklasifikasi sebagai imidazol (mikonazol dan ketokonazol) atau triazol (itrakonazol dan
flukonazol) bergantung kepada jumlah kandungan atom nitrogennya ada 2 atau 3. Struktur kimia
dan profil farmakologis ketokonazol dan itrakonazol sama, flukonazol unik karena ukuran
molekulnya yang kecil dan lipofilisitasnya yang lebih kecil. Pada jamur yang tumbuh aktif, azol
menghambat 14-- demetilase, enzim yang bertanggung jawab untuk sintesis ergosterol, yang
merupakan sterol utama membran sel jamur. Pada konsentrasi tinggi, azol menyebabkan K
+
dan
komponen lain bocor keluar dari sel jamur.
Ketokenazole
Ketokonazol adalah suatu derivat imidazole-dioxolan sintetis yang memiliki aktivitas
antimikotik yang poten terhadap dermatofit, ragi, misalnya Tricophyton sp., Epidermophyton
floccosum, Pityrosporum sp., Candida sp.
Ketokonazol bekerja dengan menghambat sitokrom P450 jamur, dengan mengganggu sintesis
ergosterol yang merupakan komponen penting dari membran sel jamur.
Komposisi:
Tiap tablet mengandung Ketokonazol 200 mg


20

Mekanisme kerja:
mengubah permeabilitas dinding sel dengan menghambat cytochrome P450, menghambat
biosintesis trigliserida dan fosfolipid jamur, menghambat beberapa enzim jamur, sehinggga
konsentrasi hydrogen peroksida mencapai kadar toksik, menghambat sintesis androgen. Sebagai
turunan imidazole, ketokenazole mempunyai aktifitas antijamur yang baik sistemik maupun
nonsistemik, efektif terhadap candida, coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans,
H.Capsulatum,Aspergillus,danSporothrixspp.

Farmakokinetik:
ketokenazole merupakan antijamur sistemik peroralyang diserap baik oleh melalui saluran cerna
dan menghasilkan kadar plasmayang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur.
Penyerapan melalui saluran cerna akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang
tinggi atau bersama antasida.
Pengaruh makanan tidak begitu nyata terhadap penyerapan ketokonazol. Setelah pemberian oral,
obat ini ditemukan dalam urin, kelenjar lemak, air ludah dan pada kulit yang mengalami infeksi.
Kadar ketokonazol dalam cairan otak sangat kecil dan hanya ditemukan pada infeksi selaput
otak. Dalam plasma 84% ketokonazol berikatan dengan protein plasma terutama albumin.
Sebanyak 15% berikatan dengan sel darah dan 1% dalam bentuk bebas. Sebagian besar dari obat
ini mengalami metabolisme lintas pertama. Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan
empedu ke lumen usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin, semuanya
dalam bentuk metabolit yang tidak aktif.
Gangguan ginjal dan faal hati yang ringan tidak mempengaruhi kadarnya dalam plasma.
Indikasi:
Infeksi pada kulit, rambut dan kuku (kecuali kuku kaki) yang disebabkan oleh dermatofit
dan/atau ragi (dermatofitosis, onikomikosis, Candida paronychia, pitiriasis versikolor,
pitiriasis kapitis, folikulitis, kandidosis mukokutan kronik), bila infeksi ini tidak dapat
diobati secara topikal karena tempat lesi tidak di permukaan kulit atau kegagalan pada
terapi topikal.
21

Infeksi ragi pada saluran pencernaan.
Kandidosis vagina kronik dan kandidosis rekuren. Pada terapi lokal penyembuhan infeksi
yang kurang berhasil.
Infeksi mikosis sistemik seperti kandidosis sistemik, parakoksidioidomikosis,
histoplasmosis, koksidioidomikosis, blastomikosis.
Pengobatan profilaksis pada pasien yang mekanisme pertahanan tubuhnya menurun
(keturunan, disebabkan penyakit atau obat), berhubungan dengan meningkatnya risiko
infeksi jamur. Ketokonazol tidak dipenetrasi dengan baik ke dalam susunan saraf pusat.
Oleh karena itu meningitis jamur jangan diobati dengan ketokonazol oral.
Kontraindikasi:
Penderita penyakit hati akut atau kronik.
Hipersensitif terhadap ketokonazol atau salah satu komponen obat ini.
Pada pemberian per oral ketokonazol tidak boleh diberikan bersama-sama dengan
terfenadin, astemizol, cisaprid dan triazolam.
Wanita hamil.
Dosis:
Pengobatan kuratif:
Dewasa:
infeksi kulit, gastrointestinal dan sistemik: 1 tablet (200 mg) sekali sehari pada waktu
makan. Apabila tidak ada reaksi dengan dosis ini, dosis ditingkatkan menjadi 2 tablet
(400 mg) sekali sehari pada waktu makan.
Kandidosis vagina: 2 tablet (400 mg) sekali sehari pada waktu makan.
Anak-anak:
Tidak boleh digunakan untuk umur < 2 tahun.
Anak dengan berat badan kurang dari 15 kg: 20 mg 3 kali sehari pada waktu makan.
22

Anak dengan berat badan 15-30 kg: 100 mg sekali sehari pada waktu makan.
Anak dengan berat badan lebih dari 30 kg sama dengan dewasa.
Pada umumnya dosis diteruskan tanpa interupsi sampai minimal 1 minggu setelah semua
simtom hilang dan sampai kultur pada media menjadi negatif.
Pengobatan profilaksis:
1 tablet (200 mg) sekali sehari pada waktu makan.
Lama pengobatan:
Kandidosis vagina 5 hari.
Mikosis pada kulit yang disebabkan oleh dermatofit: kurang lebih 4 minggu.
Pitiriasis versikolor: 10 hari.
Mikosis mulut dan kulit yang disebabkan oleh kandida: 2-3 minggu.
Infeksi rambut 1-2 bulan.
Infeksi kuku: 3-6 bulan, bila belum ada perbaikan dapat dilanjutkan hingga 12 bulan.
Dipengaruhi juga dengan kecepatan pertumbuhan kuku, sampai kuku yang terinfeksi
digantikan oleh kuku yang normal.
Kandidosis sistemik: 1-2 bulan.
Parakoksidioidomikosis, histoplasmosis, koksidioidomikosis: lama pengobatan optimum
2-6 bulan.
Peringatan dan Perhatian:
Penting memberikan penjelasan kepada pasien yang diterapi untuk jangka panjang
mengenai gejala penyakit hati seperti letih tidak normal yang disertai dengan demam,
urin berwarna gelap, tinja pucat atau ikterus.
Faktor yang meningkatkan risiko hepatitis: wanita berusia di atas 50 tahun, pernah
menderita penyakit hati, diketahui mempunyai intoleransi dengan obat, pemberian jangka
lama dan pemberian obat bersamaan dengan obat yang mempengaruhi fungsi hati. Tes
fungsi hati dilakukan pada pengobatan dengan ketokonazol lebih dari 2 minggu. Apabila
telah didiagnosis sebagai penyakit hati, pengobatan harus dihentikan.
23

Fungsi adrenal harus dimonitor pada pasien yang menderita insufisiensi adrenal atau
fungsi adrenal yang border line dan pada pasien dengan keadaan stres yang panjang
(bedah besar, intensive care, dll).
Tidak boleh digunakan untuk anak < 2 tahun.
Jangan diberikan pada wanita hamil, kecuali kemungkinan manfaatnya lebih besar dari
risiko pada janin.
Kemungkinan diekskresikan dalam air susu ibu, maka ibu yang diobati dengan
ketokonazol dianjurkan untuk tidak menyusui.
Efek Samping:
dispepsia, nausea, sakit perut dan diare.
Sakit kepala, peningkatan enzim hati yang reversibel, gangguan haid, pusing, parestesia
dan reaksi alergi.
Trombositopenia, alopesia, peningkatan tekanan intrakranial yang reversibel (seperti
papiledema, bulging fontanel pada bayi).
Impotensi (sangat jarang).
Ginekomastia dan oligospermia yang reversibel bila dosis yang diberikan lebih tinggi
dari dosis terapi yang dianjurkan.
Hepatitis (kemungkinan besar idiosinkrasi) jarang terjadi (terlihat dalam < 1/10.000
penderita).
Reversibel apabila pengobatan dihentikan pada waktunya.
Interaksi obat:
Pemberian bersama-sama dengan terfenadin dan astemizol.
Absorpsi Ketokonazol maksimal bila diberikan pada waktu makan. Absorpsinya
terganggu kalau sekresi asam lambung berkurang, pada pasien diberi obat-obat penetrasi
asam (antasida) harus diberikan 2 jam atau lebih setelah ketokonazol.
Pemberian bersama dengan rifampisin dapat menurunkan konsentrasi plasma kedua obat.
Pemberian bersama dengan INH dapat menurunkan konsentrasi plasma ketokonazol, bila
kombinasi ini digunakan konsentrasi plasma harus dimonitor.
24

Overdosis:
Tidak ada tindakan khusus yang harus diberikan. Hanya tindakan suportif yang perlu
dilakukan seperti bilas lambung.
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
SIMPAN PADA SUHU DI BAWAH (25-30)C
TERLINDUNG DARI CAHAYA













25



DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Edisi Ketiga. Media Aesculapius FKUI,
Jakarta. 2000

2. Madani, Fattah. Infeksi Jamur Kulit. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit. Penerbit Hipokrates,
Jakarta. 1998

3. Budimulja, Unandar. Mikosis. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Ketiga. Balai
Penerbit FKUI, Jakarta. 1999

4. Sjamsudin, Udin dan Hedi R.D. Histamin dan Antialergi. Dalam : Farmakologi dan Trapi,
Edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta. 1995

5. Bahry, Bahroelim dan R. Setiabudy. Obat Jamur. Dalam : Farmakologi dan Trapi, Edisi 4.
Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta. 1995

6. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Informsi Obat
Nasional Indonesia 2000. Depkes RI Dirjen POM. Jakarta, 2000.