Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Apendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang dikenali
masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya adalah
sekum. Organ apendiks pada awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang
tidak mempunyai fungsi tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah
sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi
immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh).
Apendisitis adalah peradangan apendiks vermiformis yang mengenai
semua lapisan dinding organ tersebut. Penyakit ini dapat mengenai semua umur
baik laki-laki maupun perempuan namun paling sering kita temukan pada laki-laki
berusia 10-30 tahun.
Patogenesis utamanya diduga karena adanya obstruksi lumen, sumbatan
ini akan mengakibatkan hambatan pengeluaran sekret lumen sehingga akan terjadi
pembengkakan, infeksi dan ulserasi (Lindseth, 2006). Sumbatan ini dapat
dikarenakan hiperplasia jaringan limfoid, fekalit, tumor apendiks, cacing askaris
dan E.histolytica (Pieter (ed), 2005). Berdasarkan lama gejala yang dialami,
apendiks dapat dibagi menjadi dua yaitu apendisitis akut dan apendisitis kronik.
Penatalaksanaan apendisitis akut dan kronik hanya memerlukan tindakan
bedah segera untuk mencegah komplikasi dan memperbaiki keadaan umum
pasien.

1.2. Batasan Masalah
Case ini membahas tentang etiologi, patogenesis, diagnosis, dan
penatalaksanaan apendisitis.

1.3. Metode Penulisan
Metode yang dipakai dalam penulisan case ini berupa tinjauan
kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literature dan makalah ilmiah.


1.4. Tujuan Penulisan
Case ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman
mengenai etiologi, patogenesis, diagnosis, dan penatalaksanan apendisitis.





























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Apendisitis merupakan terjadinya peradangan pada mukosa organ
apendiks vermiformis yang bisa terjadi karena obstrusksi saluran limfe,
peradangan mukosa dan obstruksi lumen karena fekolit atau telur cacing.

2.2. Anatomi dan Fisiologi Apendiks Vermiformis
Sistem digestif yang secara embriologi berasal dari midgut meliputi
duodenum distal muara duktus koledukus, usus halus, sekum dan apendiks, kolon
asendens dan sampai bagian oral kolon transversum. Apendiks merupakan
organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10cm (kisaran 3-15 cm), diameter
masuk lumen apendiks antara 0.5-15mm, dan berpangkal di sekum. Letak basis
apendiks berada pada posteromedial sekum pada pertemuan ketiga tenia koli yaitu
tenia libera, tenia colica dan tenia omentum, kira-kira 1-2 cm di bawah ileum.
Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Namun
demikian, pada bayi apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan
menyempit ke arah ujungnya.
Lapisan epitel lumen apendiks seperti pada epitel kolon tetapi kelenjar
intestinalnya lebih kecil daripada kolon. Apendiks mempunyai lapisan muskulus
dua lapis. Lapisan dalam berbentuk sirkuler yang merupakan kelanjutan dari
lapisan muskulus sekum, sedangkan lapisan luar berbentuk muskulus longitudinal
yang dibentuk oleh fusi dari 3 tenia coli diperbatasan antara sekum dan apendiks.








Jenis posisi-posisi apendiks :
a) Posisi pelvika : ujung apendiks terletak agak ke kaudal, pada
kedudukan ini mungkin apendiks melekat pada
tuba atau ovarium kanan
b) Posisi retrosekal : apendiks terletak retroperitoneal di belakang sekum
c) Posisi ileocecal
d) Posisi antecaecal : terletak di depan sekum
e) Posisi anteileal : terletak di depan ileum
f) Posisi retroileal : terletak di belakang ileum
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus (N. X) yang
mengikuti a.mesentrika superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan
simpatis berasal dari n.torakalis X (parasimpatis). Oleh karena itu, nyeri visceral
pada apendisitis bermula di umbilikus.
Pendarahan apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri
tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi,
apendiks akan mengalami gangren.
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran
lender di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated
lymphoid tissue) yang terdapat si sepanjang saluran cerna termasuk apendiks,
ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.
Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh
karena jumlah jaringan limfe di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan
jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.


2.3. Epidemiologi
Insiden apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada negeri
berkembang. Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun
secara bermakna. Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan
makanan berserat dalam menu sehari-hari.
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang
dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidens tertinggi pada kelompok umur 20-30
tahun, setelah itu menurun. Insidens pada lelaki dan perempuan umumnya
sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidens lelaki lebih tinggi.


2.4. Klasifikasi Apendisitis
Apendisitis biasanya disebabkan obstruksi pada lumen yang disertai
dengan infeksi. Apendisitis dapat diklasifikasikan berdasarkan patogenesis, yaitu :
1. Simple Apendisitis (Apendisitis tanpa perforasi)
a) Non obstruksi : gejalanya tidak begitu hebat dan jarang terjadi perforsi
b) Obstruksi : perjalanan penyakitnya lebih cepat dan hebat. Mudah
terjadi gangrene dan perforasi. Keluhan kolik penderita sangat
menonjol


2. Apendisitis Akut dengan perforasi
a) Dengan local perforasi : sudah terjadi peradangan organ-organ sekitar
apendiks seperti sekum dan omentum. Biasanya gejala ditemui
sesudah 3hari, dan teraba massa di perut kanan bawah yang tidak
punya batas tegas.
b) Dengan local abses : merupakan lanjutan dari proses infiltrat di mana
sudah disertai demam dan nyeri hebat, mual, muntah.
c) Dengan difus peritonitis : sudah terjadi perforasi sehingga penyebaran
ke seluruh peritoneum.

3. Apendisitis Kronik
Ditandai dengan nyeri yang sering hilang timbul pada perut kanan.
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua
syarat: riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang
kronk apendiks secara makroskopik dan mikroskopik, dan keluhan
menghilang setelah apendektomi (Peiter (ed), 2005). Kriteria mikroskopik
apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan
parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama di
mukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik (Pieter (ed), 2005).

2.5.Etiologi dan Patogenesis
1. Obstruksi lumen apendiks
Obstruksi lumen dapat terjadi karena adanya benda asing pada lumen,
dinding atau benda asing di luar apendiks yang menekan apendiks.
2. Infeksi
Factor yang memicu terjadinya infeksi masih belum diketahui jelas. Pada
apendisitis akut umumnya bakteri yang berkembang pada lumen apendiks
adalah Bacteroides fragilis dan Escherichea colli. Kedua bakteri ini
adalah flora normal usus. Bakteri ini menginvasi mukosa, submukosa dan
muskulasris, yang menyebabkan edema, hiperemis dan kongesti vaskuler
lokal, dan hyperplasia kelenjar limfe. Kadang-kadang terjadi thrombosis
pada vasa dengan nekrosis dan perforasi.
3. Parasit
Parasit seperti Entamoeba histolytica diduga dapat menimbulkan erosi
mukosa apendiks dan perdarahan. Pada awalnya Entamoeba histolytica
berkembang di kripte glandula intestinal. Selama invasi pada lapisan
mukosa, parasit ini memproduksi enzim yang dapat menyebabkan
nekrosis mukosa sebagai pencetus terjadinya ulkus.
4. Kebiasaan diet
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.
Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya
sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman
flora kolon biasa.

Stadium apendisitis, seperti berikut :
1. Stadium kataralis ( acute focal Appendicitis )
Stadium awal yang ditandai gengan terjadinya edema dan ulkus pada
mukosa appendik secara local. Stadium ini dimulai dengan adanya
bendungan pada mukosa hipersekresi kelenjar mukosa peningkatan
tekanan intra luminal akibat mucus yang menumpuk menghambat
aliran limfe edema dinding appendik, tunika serosa dan peritoneum
visceral nyeri sekitar umbilicus (karena persarafan appendik sama
dengan usus yang lainnya). Terkumpulnya mucus dapat berubah menjadi
pus oleh bakteri. Edema dinding appendik akan menyebabkan diapedesis
kuman dan terjadilah ulkus.
2. Stadium purulen ( Acute Suppurative Appendicitis )
Di mana peradangan telah mengenai seluruh dinding appendik. Edema dan
pus sudah menumpuk banyak dan menghambat aliran vena atau arteri
sehingga terjadi iskemia.
Pada keadaan ini sudah terjadi peransangan peritoneum local di atas
appendik dan nyeri yang terjadi visceral berubah menjadi local di dinding
perut pada lokasi appendik (khas pada appendicitis nyeri dari pusat pindah
ke kanan bawah)
3. Stadium Gangrenosa
Pada stadium ini aliran arteri sudah sangat terganggu yang menyebabkan
nekrosis/gangrene terutama bagian ante mesenterialnya.
4. Stadium Perforativa
Bila apendiks yang sudah gangren pecah, terjadilah perforasi.

2.6. Gejala dan Manifestasi Klinis
Gejala klasik apendisistis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang
merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau regio umbilikus 6-8 jam
pertama disertai gejala gastrointestinal lainnya seperti mual, muntah dan
anoreksia. Sesudah itu nyeri itu menjalar ke perut kanan bawah dan menunjukkan
tanda ransangan peritoneum lokal di titik McBurney dengan nyeri tekan, nyeri
lepas dan defans muskuler atau spasme muskulus rectus abdominis kanan. Di sini
nyeri lebih dirasakan tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri
somatik setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi
dan pada anak-anak karena apendiksnya posisi pelvis dan dekat rektum akan
menyebabkan diare. Bila terdapat peransangan peritoneum, biasanya pasien
mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk.
Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya terlindung
oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada
ransangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul
pada saat berjalan karena kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan
gejala dan tanda ransangan sigmoid atau rektum sehingga peristalsis meningkat,
pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks
tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing,
karena ransangan dindingnya.
Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering
hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa
nyerinya. Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah dan anak
menjadi lemah dan letargik. Karena gejala yang tidak khas tadi, sering apendisitis
diketahui setelah perforasi. Pada bayi, 80-90% apendisitis baru diketahui setelah
perforasi.
Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak
ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya pada orang berusia
lanjut yang gejalanya sering samar-samar saja sehingga lebih dari separuh
penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi.
Pada apendisitis kronik gejalanya tak khas dan tidak ada demam. Penderita
mempunyai riwayat sakit perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik
apendiks secara makroskopik dan mikroskopik, dan keluhan menghilang setelah
apendektomi.
Anak-anak mudah mengalami perforasi apendiks karena memiliki
omentum pendek, apendiks panjang, dan dinding apendiks tipis. Juga memiliki
pertahanan tubuh yang masih rendah. Orang tua juga mudah terjadi perforasi
apendiks karena telah ada gangguan pembuluh darah.

2.7. Uji Diagnostik
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis
klinis apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus.
Kesalahan diagnosis lebih sering pada perempuan dibanding lelaki. Hal ini dapat
disedari mengingat pada perempuan terutama yang masih muda sering timbul
gangguan yang mirip apendisitis akut. Keluhan itu berasal dari genetalia interna
karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik lain
Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis akut bila
diagnosis meragukan, sebaiknya dilakukan observasi penderita di rumah sakit
dengan pengamatan setiap 1-2 jam
Pemeriksaan fisik
1. Sistemis
Kadang-kadang sudah bisa diduga dengan sikap penderita datang membungkuk
dan bila berbaring kaki kanan sedikit di tekuk. Adanya perbedaan antara suhu
aksilla dan rectal yang lebih tinggi, secara umum temperatur tidak begitu tinggi
kecuali kalau sudah perforasi dan peritonitis.

2. Abdomen
Inspeksi : tidak ada gambaran khas kalau belum ada peritonitis umum. Pada point
test, penderita bisa menunjukkan nyeri dari pusat dan menjalar serta menetap pada
kanan bawah. Pada test batuk penderita disuruh batuk dan penderita terasa nyeri di
kanan.
Palpasi : pemeriksaan dimulai dari daerah yang berlawanan (dari kiri terus ke
kanan). Pada palpasi bisa ditemui :
nyeri tekan/lepas di fossa iliaca dextra (Rebound tenduce)
Mc Burneys sign : nyeri pada titik Mc burney, kalau ditekan dengan
ujung jari
Rovsing sign : jika ditekan pada fossa illiaca kiri terasa nyeri di kanan.
Terjadi karena penekanan udara
Psoas sign : ketika penderita berbaring, paha kanan di fleksikan, akan
terasa nyeri. Ini karena m.psoas berkontak dengan peritoneum dekat
apendiks. Gejala khas pada apendiks posisi pelvis. Psoas sign dilakukan
dengan memberikan rangsangan pada otot psoas melalui hiperekstensi
sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha
kanan ditahan. Apabila appendiks yang meradang menempel di M. psoas
mayor, maka akan menimbulkan nyeri.
Obturator sign ( Zachari Cope Sign) : Pada obturator sign dilakukan
gerakan fleksi endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang dan kaki
difleksikan. Bila apendiks yang meradang kontak dengan M.obturator
internus maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.
Mc Fadden sign : apendiks posisi pelvic bisa merangsang buli-buli dan
terjadi miksi. Sering pada anak-anak sesudah kolik diikuti miksi.

3. Rectal toucher
Sangat penting dilakukan, kecuali pada anak-anak karena dapat menambah
trauma. Kadang-kadang tak ditemui kelainan, kecuali apendik posisi pelvic dan
terasa nyeri jam 9-11


2.8. Pemeriksaan Penunjang
Test Laboratorium
Tes darah digunakan untuk memeriksa tanda-tanda infeksi, seperti
leukositosis ringan, kecuali kalau perforasi leukosit >10.000. Tes darah juga
menunjukkan dehidrasi atau ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Urine
digunakan untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih. Biasanya urin normal, tapi
kadang-kadang pada sediment ditemui leukosit (+) atau eritrosit (+) karena
apendiks dekat ureter. Dokter mungkin juga dapat memesan tes kehamilan bagi
perempuan.

Imaging Tes
Foto polos abdominal menemukan air fluid level local ( 50%), adanya
fecolith local dan terjadi peningkatan densitas jaringan lokal. Selain itu, tes
Barium Enema merupakan kontra indikasi untuk dilakukan karena bisa terjadi
perforasi dan hanya boleh dilakukan hanya pada anak-anak atau orang muda
dengan diagnosa masih ragu dan gejala masih 6-12 jam. Foto polos abdominal
akan jarang membantu dalam mendiagnosis usus buntu tetapi dapat digunakan
untuk mencari sumber-sumber lain sakit perut.
Computerized tomography (CT) scan, yang membuat gambar penampang
tubuh, dapat membantu mendiagnosis apendisitis dan lokasi sakit perut. USG
kadang-kadang digunakan untuk mencari tanda-tanda apendisitis, terutama pada
orang yang kurus atau muda. Perempuan usia produktif harus memiliki tes
kehamilan sebelum menjalani Rontgen atau CT Scan. Radiasi dari pemeriksaan
Rontgen atau CT Scan dapat berbahaya bagi janin yang sedang berkembang. USG
tidak menggunakan radiasi dan tidak berbahaya bagi janin.

2.9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan apendisitis berdasarkan klasifikasi apendisitis :
1. Apendisitis akut tanpa perforasi

Untuk semua umur dilakukan appendictomy

2. Apendisitis infitrat / abses

a. Operatif
Kalau apendiksnya bisa dipisahkan dengan jaringan lain lakukan
appendectomy dan pemasangan drainage. Kalau apendiksnya tidak
bisa dipisahkan dengan jaringan sekitar, maka hanya dilakukan
drainage.



b. Konservatif
Menggunakan 5 cara : F 5 Regimen
- Fowler position
- Feel of mass
- Feel of pulse and temperature
- Fungi and antibiotic
- Food
Biasanya dengan cara ini setelah 3-4 hari, keadaan penderita akan
membaik seperti demam berkurang, massa berkurang dan LED
normal. Appendectomy dapat dilakukan secara elektif 3bulan
kemudian.
3. Apendisitis akut perforasi + Perintonitis difusa

Drug of choice bagi peritonitis adalah operatif untuk membuang sumber
kontaminasi.



2.10. Komplikasi
Yang paling sering adalah komplikasi apendisitis perforasi. Perforasi dari
apendiks dapat mengakibatkan abses periappendiceal (koleksi terinfeksi nanah)
atau menyebar peritonitis (infeksi dari seluruh lapisan perut dan panggul). Alasan
utama untuk perforasi adalah appendiceal keterlambatan dalam diagnosis dan
pengobatan. Secara umum, semakin lama penundaan antara diagnosis dan
pembedahan, semakin besar kemungkinan perforasi. Risiko perforasi 36 jam
setelah onset gejala adalah sekurang-kurangnya 15%. Oleh karena itu, setelah
didiagnosa apendisitis, operasi harus dilakukan tanpa penundaan yang tidak perlu.
Komplikasi yang kurang umum apendisitis adalah penyumbatan pada
usus. Penyumbatan terjadi ketika apendisitis sekitarnya menyebabkan otot usus
untuk berhenti bekerja, dan ini mencegah dari isi usus yang lewat. Jika usus di
atas penyumbatan mulai mengisi dengan cair dan gas, mengalami distensi perut
dan mual dan muntah dapat terjadi. Kemudian mungkin diperlukan untuk
menguras isi usus melalui pipa melewati hidung dan kerongkongan dan ke dalam
perut dan usus.
Sebuah ditakuti komplikasi apendisitis adalah sepsis, suatu kondisi di
mana bakteri menginfeksi memasuki darah dan perjalanan ke bagian lain dari
tubuh. Ini adalah sangat serius, bahkan mengancam nyawa komplikasi.






















LAPORAN KASUS
Seorang paasien perempuan usia 20 tahun dirawat di bangsal bedah RS.Dr.
M. A. Hanafiah ,SM Batusangkar dengan
Keluhan Utama:
Nyeri perut kanan bawah sejak 1 minggu yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang:
- Nyeri perut kanan bawah sejak 1 minggu yang lalu
- Awalnya nyeri di seluruh permukaan perut, sehari kemudian nyeri
menetap di perut kanan bawah dan tidak menjalar ke pinggang
- Mual ada
- Muntah ada,3x. Banyak nya muntah 3 sdm setiap kali muntah, berisi apa
yang dimakan dan yang diminum
- Demam tidak ada
- Buang air besar tidak ada sejak 1 hari sebelum masuk RS, flatus ada
- Buang air kecil lancar, tidak nyeri, tidak ada keluar pasir maupun darah
- Pasien tidak sedang haid
- Haid teratur, haid terakhir 10 hari yang lalu
- Pusing tidak ada

Riwayat Penyakit Dahulu
- Pasien tidak pernah mengeluhkan hal seperti ini sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga
- Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan hal yang sama

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : tampak sakit sedang Nadi : 72 x/mnt
Kesadaran : CMC, GCS= 15 Nafas : 20 x/mnt
Tekanan darah : 110/70 mmHg Suhu : 36,8C

Status Generalis
Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak Ikterik
Leher : Kelenjar getah bening tidak membesar, JVP= 5-2 cmH20
Thorak
Jantung I : Iktus tidak terlihat
Pa : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Pe : batas jantung normal
Aus : irama murni, teratur, bising (-)
Paru I : simetris kiri dan kanan
Pa : fremitus kiri dan kanan sama
Pe : sonor
Aus : vesikuler, ronki (-), wheezing (-)
Ekstremitas : Akral hangat, refilling kapiler baik
Status Lokalisata
Abdomen : Regio iliaca dekstra
I : Tidak tampak membuncit, darm countur (-), darm steifung (-)
Pa : Distensi (-), Nyeri tekan (+) dan nyeri lepas (-), tidak teraba massa,
Rovsing sign (+), Obturator sign (+), Psoas sign (+), Muscle rigidity (-)
Pe : Tympani
Aus : Bising usus (+) normal

Rectal Toucher :
Anus : tenang, fisura tidak ada, fistel tidak ada.
Tonus sfingter ani : baik
Mukosa : licin
Ampula : kosong
Handschoen : feses (+), darah (-), lendir (-).

Diagnosa Kerja : appendisitis akut
Pemeriksaan Anjuran : Appendikogram
Rencana terapi : Appendiktomy


Diskusi Kasus
Telah dilaporkan seorang pasien perempuan berumur 20 tahun dengan
diagnosis Appendisitis akut. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
Dari anamnesis: Nyeri perut kanan bawah sejak 1 minggu yang
lalu,awalnya nyeri di seluruh permukaan perut, sehari kemudian nyeri menetap di
perut kanan bawah dan tidak menjalar ke pinggang. Mual ada, muntah ada,3x.
Banyak nya muntah 3 sdm setiap kali muntah, berisi apa yang dimakan dan yang
diminum. Demam tidak ada.Buang air besar tidak ada sejak 1 hari sebelum masuk
RS, flatus ada. Buang air kecil lancar, tidak nyeri, tidak ada keluar pasir maupun
darah. Pasien tidak sedang haid. Haid teratur, haid terakhir 10 hari yang lalu.
Pusing tidak ada. Pasien tidak pernah mengeluhkan hal seperti ini sebelumnya.
Dari pemeriksaan fisik : Di regio abdomen didapatkan dari inspeksi perut
tidak tampak membuncit, tidak terlihat adanya darm countur maupun darm
steifung. Pada palpasi tidak ditemukan adanya distensi. Nyeri tekan ada, nyeri
lepas tidak ada, tidak teraba massa pada abdomen kanan bawah. Rovsing sign (+),
Obturator sign (+), Psoas sign (+), dan tidak ditemukan adanya Muscle rigidity.
Dari perkusi didapatkan tympani dan pada auskultasi terdengar bising usus (+)
normal. Rencana terapi yang akan dilakukan adalah appendectomy.













DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R, De Jong W, 2005. Usus halus, Apendiks, Kolon dan
Anorektum. Dalam Buku ajar Ilmu Bedah edisi 2. Jakarta : EGC
2. Snell S, 1995. Appendicitis. Dalam Buku Clinical Anatomy for Medical
Students fifth edition.
3. Garuda Study Group. Apendisitis. Dalam Buku Kumpulan Catatan Kuliah
Bedah, 1989
4. Apendisitis : Diakses dari http://ilmubedah.wordpress.com 2009
5. Muhammad al-Fatih II. Apendisitis : Diakses dari
www.klinikindonesia.com