Anda di halaman 1dari 16

Teori kecelakaan kerja

Kecelakaan kerja adalah suatu hal yang sering terjadi di lingkungan kerja. Akan tetapi,
kecelakaan kerja dapat dihindari. Pandangan bahwa kecelakaan kerja adalah suatu takdir dari
yang Maha Kuasa tidak sepenuhnya benar. Sekarang ini sudah banyak konsep atau teori yang
mengupas tentang masalah kecelakaan kerja. Beberapa teori tentang kecelakaan kerja antara lain:
a. Teori Heinrich
Teori Heinrich atau lebih dikenal dengan Teori Domino menyebutkan bahwa Kecelakaan kerja
adalah suatu rangkaian kejadian. Faktor yang terkait dalam rangkaian tersebut adalah
lingkungan, kesalahan manusia, perbuatan atau kondisi yang tidak aman, kecelakaan dan cedera
atau kerugian.
b. Teori Multiple causation
Teori ini menyebutkan bahwa kecelakaan kerja terjadi karena adanya banyak penyebab.
Penyebab kecelakaan tersebut adalah kondisi yang tidak aman (unsafe condition) dan
tindakan yang tidak aman (unsafe action).

c. Teori GordonMenurut Gordon (1949), Kecelakaan terjadi karena adanya kontak diantara 3
(tiga) hal yaitu korban kecelakaan, perantara terjadinya kecelakaan dan lingkungan yang
kompleks. Untuk itu, untuk lebih memahami mengenai penyebab terjadinya kecelakaan, harus
diketahui karakteristik dari korban kecelakaan, perantara dan lingkungan secara detail.

d. Teori Domino Terbaru
Teori Domino yang terbaru berkembang sekitar tahun 1969. Dalam teori tersebut diungkapkan
bahwa penyebab terjadinya kecelakaan adalah adanya ketimpangan manajemen. Teori tersebut
merupakan pengembangan dari Teori Heinrich yang menunjukkan bahwa manajemen juga ikut
berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan kerja.

e. Teori ReasonReason menyatakan bahwa kecelakaan terjadi karena adanya lubang dalam system
pertahanan. Sistem pertahanan yang dimaksud adalah pelatihan dan prosedur yang mengatur
kelamatan dan kesehatan kerja.

f. Teori Frank E Bird Peterson
Menurut Frank Bird, an accident is undesired event that result in physical harm to a person or
damage to a property. It is usually the result of a contact with a source of energy (kinetic,
electrical, chemical, etc). Berdasarkan definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
kecelakaan terjadi karena adanya kontak dengan suatu sumber energy seperti mekanis, kimia,
kinetic, fisis yang dapat mengakibatkan cedera pada manusia, alat maupun lingkungan.
Selanjutnya teori ini dikembangkan oleh Derek Viner (1998) melalui Konsep Energi. Konsep ini
menyebutkan bahwa kecelakaan terjadi akibat energy yang lepas dan mengenai si penerima.
Sperti kita ketahui bersama bahwa energy di ala mini tersaji dalam beberapa bentuk misalnya
mekanis, kimia, kinetic, radiasi, dan lain-lain. Cedera terjadi karena energy yang mengenai
penerima melebihi ambang batas kemampuan penerima.

Pengertian keselamatan kerja secara umum.
Keselamatan kerja merupakan aspek penting dalam pekerjaan atau kegiatan hidup lainya.
Keselamatan kerja selalu di jadikan sebagai bahasan utama ketika berbicara mengenai pekerjaan.
Hal ini karena keselamatan kerjamempunyai kontribusi penting dalam peningkatan kinerja dan
dan produktivitas pekerja. Untuk hal tersebu, maka setiap tenaga kerja sudah seharusnya
memahami pengertian keselamatan kerja bagi dirinya dan lingkunganya. Pengertian keselamatan
kerja memang sudah seharusnya dipahami secara umum oleh semua orang sebab dalam
konteksnya, keselamatan kerja ini mencoba untuk mencegah terjadinya kejadian negatif dalam
kehidupan setiap orang. Pada setiap aspek kehidupan, kejadian negatif atau selanjutnya kita sebut
sebagai kevelakaan dapat saja terjadi. Hal ini karena setiap aspek kehidupan membawa serta
ancaman di balik eksistensinya. Kita harus mewaspadai setiap kemungkinan yang ada di balik
kondisi yang kita miliki.
Beberapa pengertian dasar keselamatan kerja.
Untuk dapat memahami secara utuh pengertian keselamatan kerja, maka kita coba untuk
mengulas beberapa konsep dasar mengenai keselamatan kerja. Konsep dasar ini merupakan
rangkuman atas kondisi yang kita temukan di lapangan kerja. Pengertian keselamatan kerja yang
di maksud adalah :
Keselamatan kerja adalah upaya mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan saat
melakukan pekerjaan

Konsep ini beransumsi bahwa setiap orang tidak ingin mengalami kecelakaan, sehingga untuk
kondisi tersebut mereka harus dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan. Dalam hal
ini keselamatan kerja diarahkan sebagai gerakan antisipasi terhadap kejadian di tempat kerja.
Berbagai kegiatan, upaya yang terkait dengan mengurangin kemungkinan kecelakaan.
Keselamatan kerja adalah pelindungan diri terhadap segala kemungkinan yang dapat
menyebabkan kecelakaan

Sementara dalam kongsep ini, keselamatan kerja ;ebih di fokuskan pada upaya melindungi diri
dari segala kemungkinan kecelakaan pada saat bekerja.Dalam koteks ini kita menyimpulkan
bahwa perlu adanya perlindungan khusus terhadap setiap orang di sekitar lingkungan kerja.
Perlindungan terhadap diri merupakan langkah kongkrit yang dilakukan dengan menyiapkan
beberapa perlatan yang terkait dengan upaya tersebut. Halini merupakan kesadaran atas
pebntinganya perlindungan diri dari kecelakaan saat bekerja.
Keselamatan kerja adalah tindakan pereventif terhadap kecelakaan yang dilakukan
sebagai bentuk tamnggung jawab.

Konsep ini mendepankan asumsi bahwa tindakan preventif jauh lebih baik daripada tindakan
kuratif. Oleh karena itulah, sebelum kita mengalami kecelakaan, maka kita harus melakukan
langkah-langkah pencegahaan atau preventif terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Langkah
preventif memang merupakan langkah yang penting dalam segala aspek kehidupan, khususnya
terkait dengan keselamatan kerja. Tidak ada seorang pun yang ingin mengalami kecelakaan saat
melakukan kegiatan, bekerja.

Penyebab kecelakaan kerja
a. Unsafe Action (Tindakan tidak aman)

Unsafe action adalah suatu tindakan yang memicu terjadinya suatu kecelakaan kerja.
Contohya adalah tidak mengenakan masker, merokok di tempat yang rawan terjadi
kebakaran, tidak mematuhi peraturan dan larangan K3, dan lain-lain. Tindakan ini bisa
berbahaya dan menyebabkan terjadinya kecelakaan.

b. UnsafeCondition(Kondisi tidak aman)
Unsafe condition berkaitan erat dengan kondisi lingkungan kerja yang dapat
menyebabkan terjadinya kecelakaan. Banyak ditemui bahwa penyebab terciptanya
kondisi yang tidak aman ini karena kurang ergonomis. Unsafe condition ini
contohnya adalah lantai yang
licin,tanggarusak,udarayangpengap,pencahayaankurang,terlalubising,danlain-
lain.

Selanjutnya Frank Bird mengembangkan teori Heinrich tersebut. Frank Bird
menggolongkan penyebab terjadinya kecelakaan adalah sebab langsung (immediate
cause) dan faktor dasar (basic cause). Penyebab langsung kecelakaan adalah pemicu yang
langsung menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut, misalkan terpeleset, kejatuhan
suatu benda, dan lain-lain. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah merupakan faktor
yang memicu atau memberikan kontribusi terhadap terjadinya kecelakaan tersebut.
Misalnya tumpahan minyak yang menyebabkan lantai licin, kondisi penerangan yang
tidak baik, terburu-buru atau kurangnya pengawasan, dan lain-lain. Meskipun penyebab
tidak langsung hanyalah sebagai penyebab atau pemicu yang menyebabkan terjadinya
kecelakaan, namun sebenarnya hal tersebutlah yang harus dianalisa secara detail
mengapa faktor pemicu tersebut dapat terjadi.
Disamping faktor-faktor yang telah disebutkan diatas, teori-teori modern memasukkan
faktor sistem manajemen sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya kecelakaan.
Ketimpangan dan kurangnya perencanaan, pengawasan, pelaksanaan, Pemantauan dan
pembinaan menyebabkan terjadinya multiple cause sehingga kecelakaan kerja dapat
terjadi


Klasifikasi Kecelakaan Kerja
kecelakaan kerja diklasifikasikan menjadi 4 golongan, yaitu:
a. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan
Menurut jenis kecelakaan, kecelakaan diklasifikasikan sebagai berikut:
Terjatuh
Tertimpa benda
Tertumbuk
Terjepit
Gerakan melebihi kemampuan
Pengaruh suhu
Terkena arus listrik
Terkena bahan-bahan bernahaya/radiasi



b. Klasifikasi menurut penyebab kecelakaan
Mesin
Alat angkut
Peralatan lain seperti dapur pembakan atau pemanas, instalasi listrik
Bahan-bahan zat kimia atau radiasi
Lingkungan kerja misal di ketinggian atau kedalaman tanah

c. Klasifikasi menurut Sifat Luka / Kelainan
Patah tulang
Dislokasi ( keseleo )
Regang otot (urat)
Memar dan luka dalam yang lain
Amputasi
Luka di permukaan
Geger dan remuk
Luka bakar
Keracunan-keracunan mendadak
Pengaruh radiasi
Lain-lain

d. Klasifikasi menurut letak kelainan atau cacat di tubuh
Kepala
Leher
Badan
Anggota atas
Anggota bawah
Banyak tempat
Letak lain yang tidak termasuk dalam klsifikasi tersebut.


Pencegahan kecelakaan
Sebenarnya upaya pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan sederhana yaitu dengan
menghilangkan faktor penyebab terjadinya kecelakaan. Akan tetapi, kenyataan yang dihadapi di
lapangan tidak semudah seperti yang dibayangkan. Karena ini berkaitan dengan perubahan
budaya dan perilaku. Banyak faktor yang menghambat, seperti kurangnya pengetahuan dan
kesadaran pekerja, kurangnya sarana dan prasarana, belum adanya budaya tentang K3, komitmen
dari pihak manajemen yang kurang dan lain-lain.
Oleh karena itulah banyak berkembang pendekatan-pendekatan yang membahas tentang
pencegahan kecelakaan. Beberapa pendekatanyangdisampaikanolehparaahliantaralain:
1. PendekatanEnergi
Sesuai denga konsep energy, bahwa kecelakaan bermula dari sumber energy. Oleh karena itu,
pendekatan pencegahan kecelakaan dapat dilakukan pada 3 titik sumber terjadinya kecelakaan
yaitu pada sumbernya, sepanjang aliran energy dan pada penerima.
2. Pendekatan pada sumber bahaya
Salah satu contoh pengendalian pada sumber bahaya misalnya memakai peredam suara pada
mesin, mengganti mesin dengan mesin yang lebih rendah tingkat kebisingannya
3. Pendekatan di sepanjang aliran energy
Pendekatan berikutnya adalah di sepanjang aliran energy. Misalnya untuk mengurangi
kebisingan dengan jalan memasang dinding kedap suara atau memindahkan area kerja.

4. Pendekatan pada penerima
Pendekatan pada penerima misalnya, untuk mengurangi kebisingan dengan menggunakan alat
penutup telinga.

5. Pendekatan ManusiaData menyebutkan bahwa sebanyak 85% kecelakaan kerja pada manusia
disebabkan oleh unsafe action. Oleh karena itu pendekatan pencegahan kecelakaan dari sisi
manusia adalah dengan menghilangkan atau unsafe action dengan jalan:
Pembinaan dan pelatihan
Promosi K3 dan kampanye K3
Pembinaan perilaku aman
Pengawasan dan inspeksi K3
Audit K3
Komunikasi K3
Pengembangan prosedur kerja aman

6. PendekatanTeknis
Pendekatan teknis menyangkut kondisi fisik, peralatan, lingkungan kerja maupun proses
produksi. Pendekatan teknis untuk mencegah kecelakaan misalnya:
Pembuatan rancang bangun yang sesuai dengan standard dan ketentuan yang berlaku.
Memasang system pengamanan pada alat kerja atau instalasi untuk mencegah kecelakaan
dalam pengoperasian alat, misalnya tutup pengaman mesin, system inter lock, system
alarm, dan sebagainya

7. PendekatanAdministratif
Pendekatan secara administratif dapat dilakukan dengan cara:
Penyediaan alat keselamatan kerja
Mengatur pola kerja
Membuat Standar Operating Procedure pengoperasian mesin
Pengaturan waktu dan jam kerja untuk menghindari kelelahan pekerja

8. PendekatanManajemenUpaya pencegahan kecelakaan dari sisi manajemen antara lain:
Menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Mengembangkan organisasi K3
Mengembangkan komitmen dan kepemimpinan K3, khususnya untuk manajemen tingkat
atas
. Teori Penyebab Beberapa/Berlipat (Multiple Causation Theory)
Teori yang dikembangkan oleh Heinrich (1931) adalah teori penyebab kecelakaan karena satu
penyebab. Sedangkan kecelakaan yang terjadi sangat jarang diakibatkan oleh satu penyebab saja.
Teori multiple causation ini menjelaskan bahwa kecelakaan disebabkan oleh beberapa
penyebab. Pada prinsipnya proses kecelakaan dalam teori ini sama dengan teori Heinrich
yaitu adanya tindakan dan kondisi tidak aman/standar. Akan tetapi dalam teori multiple
causation, tindakan dan kondisi tidak aman ini perlu lagi dicari akar permasalahannya
yang mungkin ada lebih dari satu masalah. Dalam kegiatan analisa kecelakaan kegiatan ini
dikenal juga dengan teknik fault tree analysis.
Contoh kasus;
Seorang pekerja mendapati pada salah satu lubang pembuangan dari pipa saluran pembuangan
air hujan dari atas atap gedung tumpah airnya dan tidak terbuang ke tanah melalui pipa tersebut.
Pekerja menduga lubang pembuangan pada bagian atas pipa tersumbat kotoran. Ia kemudian
memanjat pipa tersebut untuk membersihkan kotoran yang menyumbat tersebut. Saat menaiki
pipa, kakinya tergelincir dan jatuh sehingga menyebabkan patah tulang. Dari kasus ini jika
dianalisa dengan;
Teori Heinrich
Tindakan tidak aman tidak menggunakan tangga
Kondisi tidak aman saluran pembuangan yang mampet
Penyebab - pijakan kaki yang tergelincir saat menaiki pipa
Teori Multiple Causation
Kondisi tidak aman kondisi saluran yang mampet yang seharusnya dapat diidentifikasi
oleh personil perawatan gedung saat musim hujan.
Tindakan tidak aman tindakan personil yang mengambil jalan pintas dengan tidak
menggunakan tangga untuk naik.
Penyebab tindakan tidak aman yang mungkin diakibatkan tidak adanya prosedur kerja
untuk bekerja di ketinggian atau bisa juga karena alat tangga yang tidak ada atau tidak
memadai. Tidak dilaporkannya kondisi ini sebelumnya yang pada kondisi normal
seharusnya dilaporkan. Jika dilaporkan mungkin akan disiapkan prosedur
penanganannya, penyiapan peralatan kerja yang lebih memadai, dll.

Multiple Causation Theory
The multiple causation theory is an outgrowth of the domino theory, but it postulates
that for a single accident there may be many contributory factors, causes and sub-causes,
and that certain combinations of these give rise to accidents. According to this theory, the
contributory factors can be grouped into the following two categories:
1. Behavioral factors, which include factors pertaining to the worker, such as improper
attitude, lack of knowledge, lack of skills and inadequate physical and mental condition.
(faktor tingkah laku, termasuk faktor yg berhub dgn pekerja,)
2. Environmental factors, which include improper guarding of other hazardous work
elements and degradation of equipment through use and unsafe procedures.
(faktor lingku)
The major contribution of this theory is to bring out the fact that rarely, if ever, is an
accident the result of a single cause or act.



www.ecu.edu/cs.../Accident_Investigation.pptMirip

http://home.freeuk.net/mike.everley/download/ac.pdf
http://eprints.utm.my/15354/1/LanangArdiParinggaMFKA2010.pdf
www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/124270-S-5627...Literatur...
http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3kesmaspdf/207313013/bab2.pdf
http://dinsosnakertrans.tulungagung.go.id/index.php/artikel/k3/264-penyebab-kecelakaan
ada awal tahun 1980 muncul pandangan baru tentang kesehatan dan keslamatan kerja yaitu
Behavioral safety. Behavioral safety adalah aplikasi sistematis dari riset psikologi tentang
perilaku manusia pada masalah keselamatan (safety) ditempat kerja. Behavioral safety lebih
menekankan aspek perilaku manusia terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja.
Suizer (1999) salah seorang praktisi Behavioral Safety mengemukakan bahwa para praktisi
safety telah melupakan aspek utama dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja yaitu aspek
behavioral para pekerja. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Dominic Cooper. Cooper (1999)
berpendapat walaupun sulit untuk di kontrol secara tepat, 80-95 persen dari seluruh kecelakaan
kerja yang terjadi disebabkan oleh unsafe behavior.
Pendapat Cooper tersebut didukung oleh hasil riset dari NCS tentang penyebab terjadinya
kecelakaan kerja. Hasil riset NCS menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan kerja 88% adalah
adanya unsafe behavior, 10% karena unsafe condition dan 2% tidak diketahui penyebabnya.
Penelitian lain yang dilakukan oleh DuPont Company menunjukkan bahwa kecelakaan kerja
96% disebabkan oleh unsafe behavior dan 4% disebabkan oleh unsafe condition.
Unsafe behavior adalah type perilaku yang mengarah pada kecelakaan seperti bekerja tanpa
menghiraukan keselamatan, melakukan pekerjaan tanpa ijin, menyingkirkan peralatan
keselamatan, operasi pekerjaan pada kecepatan yang berbahaya, menggunakan peralatan tidak
standar, bertindak kasar, kurang pengetahuan, cacat tubuh atau keadaan emosi yang terganggu
(Miner,1994).
Menurut Suizer peningkatan peraturan keselamatan; safety training ; peningkatan alat-alat
produksi; penegakan disiplin dan lain-lain belum cukup untuk mencegah kecelakaan kerja.
Perubahan yang didapatkan tidak bisa bertahan lama karena para pekerja kembali pada kebiasaan
lama yaitu unsafe behavior.
Berdasarkan acuan bahwa unsafe behavior merupakan penyumbang terbesar dalam terjadinya
kecelakaan kerja maka untuk mengurangi kecelakaan kerja dan untuk meningkatkan safety
performance hanya bisa dicapai dengan usaha memfokuskan pada pengurangan unsafe behavior.
Fokus pada unsafe behavior ini juga menghasilkan indeks yang lebih baik tentang safety
performace yang ada di perusahaan dibandingkan dengan fokus pada angka kecelakaan kerja.
Hal ini didasarkan pada dua alasan yaitu: kecelakaan kerja adalah hasil akhir dari serentetan
unsafe behavior dan unsafe behavior bisa di ukur setiap hari dengan cara tertentu.
Jika perusahaan berfokus pada angka kecelakaan kerja maka sistem management safety
cenderung bersifat reaktif. Perusahaan hanya memperhatikan safety jika angka kecelakaan kerja
meningkat. Sebaliknya pendekatan behavioral safety cenderung bersikap proaktif, sebab dengan
pendekatan ini perusahaan cenderung berusaha untuk mengidentifikasi setiap unsafe behavior
yang muncul, sehingga bisa langsung ditanggulangi.
Mengapa unsafe behavior terjadi ?
Orang atau pekerja sering melakukan unsafe behavior terutama disebabkan oleh:
Merasa telah ahli dibidangnya dan belum pernah mengalami kecelakaan. Ia berpendapat
bahwa bila selama ini bekerja dengan cara ini (unsafe) tidak terjadi apa-apa, mengapa harus
berubah. Pernyataan tersebut mungkin benar namun tentu saja hal ini merupakan potensi besar
untuk terjadinya kecelakaan kerja
Perilaku unsafe mendapat reinforcement yang besar dari lingkungan sehingga terus dilakukan
dalam pekerjaan. Reinforcement yang didapat segera, pasti dan positif. Bird (dalam Muchinsky,
1987) berpendapat bahwa para pekerja sebenarnya ingin mengikuti kebutuhan akan keselamatan
(safety needs) namun adanya need lain menimbukan konflik dalam dirinya. Hal ini membuat ia
menomorduakan safety need dibandingkan banyak faktor. Faktor-faktor tersebut adalah
keinginan untuk menghemat waktu, menghemat usaha, merasa lebih nyaman, menarik perhatian,
mendapat kebebasan dan mendapat penerimaan dari lingkungan.

Tabel 1
Needs yang menimbulkan konflik dengan safety needs
__________________________________________
Safety versus saving time
Safety versus saving effort
Safety versus comfort
Safety versus getting attention
Safety versus independence
Safety versus group acceptance
__________________________________________

Sumber: Muchinsky. 1987. Psychology Applied to Work.
Unsafe behavior juga sering dipicu oleh adanya pengawas atau manager yang tidak peduli
dengan safety. Para manager ini secara langsung atau tidak langsung memotivasi para pekerja
untuk mengambil jalan pintas, mengabaikan bahwa perilakunya berbahaya demi kepentingan
produksi. Keadaan ini menghasilkan efek negatif yaitu para pekerja belajar bahwa ternyata
dengan melakukan unsafe behavior ia mendapat reward. Hal ini membuat unsafe behavior yang
seharusnya dihilangkan namun justru mendapat reinforcement untuk muncul. Selain itu
kurangnya kepedulian manager terhadap safety ini membuat pekerja menjadi meremehkan
komitmen perusahaan terhadap safety.
Upaya Yang Biasa Dilakukan untuk Mengurangi Unsafe Behavior
Unsafe behavior dapat diminimalisasi dengan melakukan dengan beberapa cara. Yang pertama,
menghilangkan bahaya ditempat kerja dengan merekayasa faktor bahaya atau mengenalkan
kontrol fisik. Cara ini dilakukan untuk mengurangi potensi terjadinya unsafe behavior, namun
tidak selalu berhasil karena pekerja mempunyai kapasitas untuk berprilaku unsafe dan mengatasi
kontrol yang ada.
Kedua, mengubah sikap pekerja agar lebih peduli dengan keselamatan dirinya. Cara ini
didasarkan atas asumsi bahwa perubahan sikap akan mengubah perilaku. Berbagai upaya yang
dapat dilakukan adalah melalui kampanye dan safety training. Pendekatan ini tidak selalu
berhasil karena ternyata perubahan sikap tidak diikuti dengan perubahan perilaku. Sikap sering
merupakan apa yang seharusnya dilakukan bukan apa yang sebenarnya dilakukan.
Ketiga, dengan memberikan punishment terhadap unsafe behavior. Cara ini tidak selalu berhasil
karena pemberian punishment terhadap perilaku unsafe harus konsisten dan segera setelah
muncul, hal inilah yang sulit dilakukan karena tidak semua unsafe behavior dapat terpantau
secara langsung.
Keempat, dengan memberikan reward terhadap munculnya safety behavior. Cara ini sulit
dilakukan karena reward minimal harus setara dengan reinforcement yang didapat dari perilaku
unsafe (lihat tabel 1).
Filed under: kesehatan dan keselamatan by rickyandhika Tinggalkan komentar
Februari 18, 2011
Pengertian Kecelakaan Akibat Kerja
Kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga, tidak dikehendaki dan dapat
menyebabkan kerugian baik jiwa maupun harta benda (Rachman, 1990).
Menurut Sumamur (1989), kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang berhubungan
dengan kerja pada perusahaan, artinya bahwa kecelakaan kerja terjadi disebabkan oleh pekerjaan
atau pada waktu melaksanakan pekerjaan.
Kronologis Kecelakaan Akibat Kerja
Timbulnya kecelakaan kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, dimana faktor yang satu
mempengaruhi faktor yang lainnya.
Berdasarkan pendekatan epidemiologi ( US. Office of Technology Assesment Washington DC,
1975), faktor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan akibat kerja dapat dikelompokkan sebagai
berikut.
Host, yaitu pekerja yang melakukan pekerjaan.
Agent, yaitu pekerjaan.
Environment, yaitu lingkungan kerja.
Dari ILCI, dengan memodifikasi teori dari Heinrich yang terkenal dengan nama teori domino
yaitu tentang terjadinya kecelakaan kerja sebagai berikut:
1. Kurangnya terhadap pengendalian oleh manajemen (Lack of Control Management) meliputi :
Perencanaan
Pengorganisasian
Kepemim[pinan
Pengendalian
2. Penyebab-penyebab dasar murni ( Basic Couse (s) Origin (s) ):
Faktor personal
Faktor Pekerja
3. Penyebab yang merupakan gejala-gejala ( Immediate: Cause (s) Simptoms )
Unsafe Act adalah pelanggaran terhadap prosedur yang dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan.
Unsafe Condition atau keadaan yang secara langsung dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan.
4. Keterkaitan terjadinya kecelakaan ( Incident Contact ).
5. Kehilangan orang atau harta ( People Proverty Loss ).
ILO (1989) mengemukakan bahwa kecelakaan akibat kerja pada dasarnya disebabkan oleh tiga
faktor yaitu faktor pekerja, pekerjaannya dan faktor lingkungan di tempar kerja.
Faktor Pekerja
1. Umur
Umur mempunyai pengaruh yang penting terhadap kejadian kecelakaan akibat kerja. Golongan
umur tua mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan akibat kerja
dibandingkan dengan golongan umur muda karena umur muda mempunyai reaksi dan kegesitan
yang lebih tinggi (Hunter, 1975). Namun umur muda pun sering pula mengalami kasus
kecelakaan akibat kerja, hal ini mungkin karena kecerobohan dan sikap suka tergea-gesa
(Tresnaningsih, 1991).
Dari hasil penelitian di Amerika Serikat diungkapkan bahwa pekerja muda usia lebih banyak
mengalami kecelakaan dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja muda usia biasanya
kurang berpengalaman dalam pekerjaanya (ILO, 1989).
Banyak alasan mengapa tenaga kerja golongan umur muda mempunyai kecenderungan untuk
menderita kecelakaan akibat kerja lebih tinggi dibandingkan dengan golongan umur yang lebih
tua. Oborno (1982), menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian
kecelakaan akibat kerja pada golongan umur muda antara lain karena kurang perhatian, kurang
disiplin, cenderung menuruti kata hati, ceroboh, dan tergea-gesa.
2. Tingkat Pendidikan
Pendidikan sesorang berpengaruh dalam pola pikir sesorang dalam menghadapi pekerjaan yang
dipercayakan kepadanya, selain itu pendidikan juga akan mempengaruhi tingkat penyerapan
terhadap pelatihan yang diberikan dalam rangka melaksanakan pekerjaan dan keselamatan kerja.
Hubungan tingkat pendidikan dengan lapangan yang tersedia bahwa pekerja dengan itngkat
pendidikan rendah, seperti Sekolah Dasar atau bahkan tidak pernah bersekolah akan bekerja di
lapangan yang mengandalkan fisik ( Efrench, 1975). Hal ini dapat mempengaruhi terjadinya
kecelakaan kerja karena beban fisik yang berat dapat mengakibatkan kelelahan yang merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan akibat kerja.
Menurut Achmadi (1990) yang dimaksud dengan pendidikan adalah pendidikan formal yang
diperoleh disekolah dan ini sangat berpengaruh terhadap perilaku pekerja. Namun disamping
pendidikan formal, pendidikan non formal seperti penyuluhan dan pelatihan juga dapat
berpengaruh terhadap pekerja dalam pekerjaannya.
3. Pengalaman Kerja
pengalaman kerja merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kecelakaan akibat
kerja. Berdasarkan berbagai penelitian dengan meningginya pengalaman dan keterampilan akan
disertai dengan penurunan angka kecelakaan akibat kerja. Kewaspadaan terhadap kecelakaan
akibat kerja bertambah baik sejalan dengan pertambahan usia dan lamanya kerja di tempat kerja
yang bersangkutan ( Sumamur 1989).
Tenaga kerja baru biasanya belum mengetahui secara mendalam seluk-beluk pekerjaannya.
Penelitian dengan studi restropektif di Hongkong dengan 383 kasus membuktikan bahwa
kecelakaan akibat kerja karena mesin terutama terjadi pada buruh yang mempunyai pengalaman
kerja di bawah 1 tahun (Ong, Sg, 1982).
Pekerjaan
1. Giliran Kerja ( Shift )
Giliran kerja adalah pembagian kerja dalam waktu dua puluh empat jam ( Andrauler P. 1989).
Terdapat dua masalah utama pada pekerja yang bekerja secara bergiliran, yaitu ketidak mampuan
pekerja untuk beradaptasi dengan sistem shift dan ketidak mampuan pekerja untuk beradaptasi
dengan kerja pada malam hari dan tidur pada siang hari (Andrauler P. 1989).
Pergeseran waktu kerja dari pagi, siang dan malam hari dapat mempengaruhi terjadinya
peningkatan kecelakaan akibat kerja ( Achmadi, 1980).
2. Jenis (Unit) Pekerjaan
jenis pekerjaan mempunyai pengaruh besar terhadap resiko terjadinya kecelakaan akibat kerja
(Sumamur, 1989). Jumlah dan macam kecelakaan akibat kerja berbeda-beda di berbagai
kesatuan operasi dalam suatu proses.
Faktor Lingkungan
1. Lingkungan Fisik
Pencahayaan
Pencahayaan merupakan suatu aspek lingkungan fisik yang penting bagi keselamatan kerja.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa pencahayaan yang tepat dan sesuai dengan pekerjaan
akan dapat menghasilkan produksi yang maksimal dan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan
akibat kerja ( ILO, 1989 ).
Kebisingan
Kebisingan ditempat kerja dapat berpengaruh terhadap pekerja karena kebisingan dapat
menimbulkan gangguan perasaan, gangguan komunikasi sehingga menyebabkan salah
pengertian, tidak mendengar isyarat yang diberikan, hal ini dapat berakibat terjadinya kecelakaan
akibat kerja disamping itu kebisingan juga dapat menyebabkan hilangnya pendengaran
sementara atau menetap. Nilai ambang batas kebisingan adlah 85 dBa untuk 8 jam kerja sehari
atau 40 jam kerja dalam seminggu (Sumamur, 1990).
2. Lingkungan Kimia
Faktor lingkungan kimia merupakan salah satu faktor lingkungan yang memungkinkan penyebab
kecelakaan kerja. Faktor tersebut dapat berupa bahan baku suatu produks, hasil suatu produksi
dari suatu proses, proses produksi sendiri ataupun limbah dari suatu produksi.
3. Faktor Lingkungan Biologi
Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari serangga maupun binatang lain yang
ada di tempat kerja. Berbagai macam penyakit dapat timbul seperti infeksi, allergi, dan sengatan
serangga maupun gigitan binatang berbisa berbagai penyakit serta bisa menyebabkan kematian
(Syukri Sahap, 1998).
Klasifikasi Akibat Kecelakaan Kerja
Berdasarkan pada standar OSHA tahun 1970, semua luka yang diakibatkan oleh kecelakaan
dapat dibagi menjadi:
1. Perawatan Ringan ( First Aid )
Perawatan ringan merupakan suatu tindakan/ perawatan terhadap luka kecil berikut
observasinya, yang tidak memerlukan perawatan medis (medical treatment) walaupun
pertolongan pertama itu dilakukan oleh dokter atau paramedis. Perawatan ringan ini juga
merupakan perawatan dengan kondisi luka ringan, bukan tindakan perawatan darurat dengan
luka yang serius dan hanya satu kali perawatan dengan observasi berikutnya.
2. Perawatan Medis ( Medical Treatment )
Perawatan Medis merupakan perawatan dengan tindakan untuk perawatan luka yang hanya dapat
dilakukan oleh tenaga medis profesional seperti dokter ataupun paramedis. Yang dapat
dikategorikan perawatan medis bila hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis yang pofesional:
terganggunya fungsi tubuh seperti jantung, hati, penurunan fungsi ginjal dan sebagainya;
berakibat rusaknya struktur fisik dan berakibat komplikasi luka yang memerlukan perawatan
medis lanjutan.
3. Hari Kerja yang Hilang (Lost Work Days)
Hari kerja yang hilang ialah setiap hari kerja dimana sesorang pekerja tidak dapat mengerjakan
seluruh tugas rutinnya karena mengalami kecelakaan kerja atau sakit akibat pekerjaan yan
dideritanya. Hari kerja hilang ini dapat dibagi menjadi dua macam :
jumlah hari tidak bekerja (days away from work) yaitu semua hari kerja dimana sesorang pekerja
tidak dapat mengerjakan setiap fungsi pekerjaannya karena kecelakaan kerja atau sakit akibat
pekerjaan yang dideritanya.
jumlah hari kerja dengan aktivitas terbatas (days of restricted activities), yaitu semua kerja
dimana seorang pekerja karena mengalami kecelakaan kerja atau sakit akibat pekerjaan yang
dideritanya, dialihkan sementara ke pekerjaan lain atau pekerja tetap bekerja pada tempatnya
tetapi tidak dapat mengerjakan secara normal seluruh tugasnya. Untuk kedua kasus diatas,
terdapat pengecualian pada hari saat kecelakaan atau saat terjadinya sakit, hari libur, cuti, dan
hari istirahat.
4. Kematian (Fatality)
Dalam hal ini, kematian yang terjadi tanpa memandang waktu yang sudah berlalu antara saat
terjadinya kecelakaan kerja aaupun sakit yang disebabkan oleh pekerjaan yang dideritanya, dan
saat si korban meninggal.
Pencegahan Kecelakaan Akibat Kerja
Kecelakaan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya (Achmadi, 1990).
Kecelakaan akibat kerja sesungguhnya dapat dicegah asal ada kemauan yang kuat untuk
mencegah. (Sumamur, 1989).
Kegiatan Kegiatan atau Upaya Keselamatan Kerja
Untuk meningkatkan keselamatan kerja di perusahaan atau di tempat tempat kerja, maka ILO,
(1989) menyusun suatu ketentuan, yaitu sebagai berikut :
Peraturan-peraturan, yaitu peraturan perundangan yang bertalian dengan syarat-syarat kerja
umum, perencanaan perencanaan, kontruksi, perawatan, pengujian dan pemakaian industri,
kewajiban pengusaha dan pekerja, latihan, pengawasan kesehatan kerja, pertolongan pertama
pada kecelakaan dan pengujian kesehatan.
Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar.
Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan yang diwajibkan.
Penelitian bersifat teknis, yang meliputi sifat dan ciri-ciri dari bahan-bahan yang berbahaya,
penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat pelindung diri.
Riset medis, meliputi tentang efek-efek fisiologis dan patologis faktor-faktor lingkungan dan
teknologis, keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, banyaknya
mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa, dan apa sebab-sebabnya.
Pendidikan, menyangkut pendidikan keselamatan dan kurikulum teknik, sekolah-sekolah
perniagaan atau kursus-kursus pertukangan.
Latihan-latihan yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja, khususnya tenaga yang baru, dalam
keselamatan kerja.
Penggairahan yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk menimbulkan
sikap untuk selamat.
Asuransi, yaitu intensif finansial untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan, misalnya dalam
bentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan, jika tindakan-tindakan keselamatan
sangat baik.
Usaha kesehatan pada tingkat perusahaan, yang merupakan ukuran utama efektif tidaknya
penerapan keselamatan kerja
http://rickyandhika.wordpress.com/2011/02/18/kecelakaan-akibat-kerja/

Di Indonesia, bersumber dari pasal 27
ayat 2 UUD 1945, terbit beberapa UU dan
kemudian PP dan Keputusan Menteri, yang
antara lain sebagai berikut: UU No. 1 tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja, UU No. 13
tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
PerMenaker No. 01/1980 tentang K3 pada
Konstruksi Bangunan, SKB MenPU dan
Menaker No. 174/Men/1986104/kpts/ 1986
tentang Keselamatan & Kesehatan Kerja pada
Tempat Kegiatan Konstruksi, Keputusan MenPU
No. 195/kpts/1989 tentang K3 pada tempat
konstruksi di lingkungan PU, Peraturan Menteri
Tenaga Kerja Nomor: PER.05/MEN/1996
tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Surat Edaran Menteri PU
Nomor: 03/SE/M/2005 Perihal Penyelenggaraan
Jasa Konstruksi untuk Instansi Pemerintah TA
2005.
Kebutuhan akan pencegahan
kecelakaan kerja juga dapat dilihat melalui
berbagai aspek. Dari aspek ekonomi perusahaan,
kecelakaan kerja mengakibatkan
kerugian karena akan menimbulkan biaya
langsung maupun biaya tidak langsung (Levitt,
1993; Tang, 2004; Jaselskis, 1996). Biaya
langsung terdiri dari biaya medis, premi untuk
asuransi, kerugian hak milik (Oberlender, 2000).
Biaya tak langsung adalah biaya tambahan lain,