Anda di halaman 1dari 5

Macam-Macam Struktur Organisasi

Struktur organisasi proyek perlu dibentuk dengan tujuan agar pelaksanaan pekerjaan
menjadi terarah, ada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pekerjaan tersebut sehingga tujuan
proyek bisa tercapai sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
Di bawah ini akan kami ulas beberapa macam struktur organisasi proyek berdasarkan
hubungan kontrak / perjanjian kerjasamanya, antara lain:
1. Sistem Pelaksanaan Tradisional (Traditional Delivery System)
Dalam sistem ini Pemilik pada tahap perekayasaan dan perancangan (engineering design)
mengadakan ikatan kontrak dengan Konsultan Perencana. Pada tahap pelaksanaan (construction)
Pemilik mengadakan ikatan kontrak dengan pihak Kontraktor. Gambar 2.2 menunjukkan Sistem
Tradisional dimana pihak kontraktor seakan-akan bekerja sendiri-sendiri secara independent.
Perencana menyelesaikan tugas-tugas perencanaannya sebelum Pemilik memilih Kontraktor
Pelaksana. Setelah penentuan Kontraktor biasanya Pemilik meminta perencana menjadi
pengawas pelaksanaan proyek atas nama pemilik.

Dalam struktur organisasi ini pihak pemilik (owner) mempekerjakan seorang pendesain
(arsitektur designer) yang bertugas dalam mempersiapkan rencana dan spesifikasi proyek,
kemudian melakukan inspeksi sampai tingkat tertentu yaitu memonitor informasi dan mengawasi
perkembangan pelaksanaan kontruksi. Pembangunan kontruksi merupakan tanggung jawab
kontraktor utama tunggal kepada pemilik melalui suatu perjanjian. Banyak pekerjaan pada
kenyataannya boleh dikerjakan oleh kontaktor khusus individu dibawah penjanjian subkontraktor
dengan kontraktor utama. Biasanya perusahaan tersebut dinamakan subkontraktor.



Subkontraktor pada umumnya mengajukan penawaran pekerjaan untuk sebagian saja dari
rencana pemilik, namun hubungan kontrak formalnya adalah secara langsung dengan kontraktor
utaama dan selanjutnya kontraktor utama bertanggung jawab kepada pemilik mengenai semua
pekerjaan, termasuk juga pekerjaan-pekerjaan yang disubkontrakkan. Struktur organisasi
berdasaran pendekatan tradisional dapat dilihat digambar 3.4.
Organisasi tradisional biasa digunakan pada proyek konstruksi dengan kondisi biasa / umum.
Bentuk organisasi ini terdiri dari 3 pihak, yaitu :
1. Pemilik Proyek yang bertindak sebagai owner sekaligus sebagai Manajemen Proyek
Kontruksi.
2. Konsultan Perencana yang bertindak sebagai perancang konstruksi.
3. Kontraktor yang bertindak ssebagai pelaksana konstruksi.


2. Sistem Organisasi Perancang-Pembangun atau Perancang-Pengelola (Putar Kunci)
Beberapa ahli membedakan pengertian antara perancang-pembangun (perancang-
pengelola) dan putar kunci. Namun pada prakteknya kedua hal tersebut sering saling tertukar.
Dalam metode ini keseluruhan manajemen proyek yang meliputi konsep perencanaan,
perancangan, pelaksanaan kontruksi serta penyelesaian proyek biasanya ditangani oleh satu
perusahaan.
Berdasarkan pengertian perancang-pembangun, pihak pembangun tidak bertindak sebagai
kontraktor utama. Pihak pembangun tidak mengedalikan pekerjaan dalam satu tangan terhadap
semua kontraktor. Ada suatu bentuk kontrak khusus yang dinegosiasikan antara perancang-
pembangun bersama dengan pemilik dalam mengelola proyek. Untuk jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 3.6.a. Sedangkan menurut pengertian perancang-pengelola, pelaksanaan kontruksi
dikerjakan oleh sejumlah kontraktor bebas menuru tata cara sesuai dengan konsep manajemen
kontruksi profesional. Selanjutnya lihat gambar 3.6.b.




Dengan menggunakan sistem perancang-pembangun atau perancang-pengelola,
pelaksanaan kontruksi dapat dilaksanakan dengan segera melalui program kontruksi bertahap
yang bertujuan untuk mempersingkat waktu pelaksanaan proyek. Cara untuk menyelesaikan
proyek seperti ini telah dipakai pada sebagian besar dari proyek-proyek indstri berat yang
berorientasi pada proses, sebagaimana yang telah dibangun di Negara Amerika Serikat pada
beberapa desawarsa ini.
Pada proyek - proyek tertentu, pemilik proyek memiliki keterbatasan kemampuan teknis dan
biaya untuk merealisasikan suatu proyek. Untuk mengatasi masalah tersebut pemilik proyek
menyerahkaan tanggungjawab desain dan pelaksanaan konstruksi (termasuk pembiayaan) pada
suatu organisasi (investor / kontraktor), pengaturan seperti hal tersbut dinamakan organisasi
proyek turnkey. Ide dasar pembentukan organisasi turnkey didasarkan pada organisasi terpadu
(integration of organization) yang menyerahkan semua kegiatan (desain maupun pelaksanaan
konstruksi) pada satu pihak.
Pada model organisasi ini kontraktor sekaligus sebagai konsultan perencana sesuai dengan
kontrak antara kontraktor dengan pemilik proyek.
Tidak seperti organisasi tradisional, pelaksanaan tahapan kegiaatan proyek pada organisasi
semacam ini bisa dilakukan overlapping sebab tanggungjawab desain dan pelaksanaan konstruksi
berada pada satu pihak saja.

3. Manajemen Kontruksi Profesional
Manajemen kontruksi profesional membentuk satu tim atas tiga kelompok utama yaitu
pemilik, perancang, dan manajer kontruksi dalam suatu hubungan yang tidak saling bertentangan
dan hal ini membuka kesempatan bagi pemilik untuk berperan secara penuh dalam proses
pelaksanaan kontruksi.
Struktur organisasi manajemen konstruksi profesional dibagi atas dua jenis pendekatan.
Pendekatan yang pertama yaitu melalui pengunaan suatu perusahaan konsultan sebagai
pengawas pekerjaan para kontraktor, sedangkan pendekatan yang ke dua yaitu menggunakan
jasa kontraktor utama sebagai pengawas dari seluruh pekerjaan yang dikontrakkan.
Dari segi waktu penyelesaiaan proyek, kualitas pekerjaan dan dari segi pengawasan
keuangan proyek maka penggunaan struktur organisasi manajemen konstruksi profesional
melalui pendekatan pertama akan lebih kompetitif bila dibandingkan terhadap penggunaan
struktur organisasi pendekatan ke dua. Hal ini desebabkan karena adanya pembedaan yang jelas
antara tugas dan wewenang pada masing-masing unsur. Lihat gambar 3.7.a dan gambar 3,7,b,





Organisasi Manajemen Konstruksi berkaitan dengan manajemen proyek yang terdiri dari
manajemen konstruksi dan pihak - pihak lainnya seperti Kontraktor, Konsultan Perencana dan lain
- lainnya, yang mempunyai tugas mengelola proyek secara terpadu dari perencanaan proyek,
desain dan pelaksanaan konstruksi. Hubungan kontrak antara pihak yang terlibat dalam tim
manajemen proyek bertujuan meminimalkan hubungan timbal balik di dalam tim manajemen
proyek.
Pelaksanaan tahapan dalam organisasi semacam ini memungkinkan adanya overlapping
karena pelaksanaan proyek seperti desain dan pelaksanaan konstruksinya sudah terpadu di bawah
koordinasi manajemen konstruksi. Dalam organisasi jenis ini biasanya manajemen konstruksi
bertindak sebagai wakil owner / pemilik proyek di lapangan.

4. Organisasi Swakelola (Pembangun-Pemilik atau Builder-Owner)
Bentuk organisasi swakelola hampir sama dengan organisasi tradisional, hanya saja unit
organisasi Pemberi Tugas (Pemilik Proyek), Konsultan dan Kontraktor merupakan bagian yang
tidak dapat dipisahkan dengan organisasi Pemilik Proyek meskipun proyek telah selesai. Hal
tersebut sekaligus menjelaskan bahwa ide pembentukan organisasi semacam ini didasarkan pada
organisasi terpadu (integration of organization).
Tidak seperti organisasi tradisional, pelaksanaan tahapan kegiaatan proyek pada organisasi
semacam ini bisa dilakukan overlapping sebab pemilik proyek berfungsi sekaligus sebagai
konsultan dan kontraktor.
Skema hubungan organisasi ini adalah sebagai berikut :









5. Fast Track
Bila digunakan sistem ini maka memungkinkan adanya pekerjaan knstruksi yang dilaksanakan
bersamaan dengan pekerjaan desain, biasanya diperlukan banyak perubahan-perubahan
desain. Perubahan-perubahan desain tersebut dapat menyebabkan perselisihan antara pemilik
dan kontraktor dan pada akhirnya menyebabkan kontraktor mengajukan klaim.
6.