Anda di halaman 1dari 33

i

TUGAS KELOMPOK

PEMBUATAN KOMPOR BIOGAS DENGAN BAHAN
BAKU ENCENG GONDOK DAN KOTORAN SAPI
Mata Kuliah Teknologi Tepat Guna

Disusun Oleh:

Kelompok 3
1. Anis Wardhaningrum 25010111120029
2. Dyah Agustin Catur Putri 25010111120032
3. Eky Purwanti 25010111120033
4. Anies Yuniar Puriningrum 25010111120035


BAGIAN KESEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014







ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................. i
Daftar Isi......................................................................................................... ii
Daftar Gambar ............................................................................................... iii
Daftar Tabel .................................................................................................. iv

BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................. 2
C. Manfaat ................................................................................................. 2
BAB II: ISI
A. Biogas ................................................................................................... 3
B. Enceng Gondok .................................................................................... 4
C. Hubungan Enceng Gondok dan Biogas ................................................ 5
D. Konsep TTG yang Ditawarkan ............................................................. 6
E. Pembuatan Biogas .............................................................................. 10
F. Efisiensi Biogas .................................................................................. 22
G. Kelebihan dan Kekurangan Biogas .................................................... 23
BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 26
B. Saran ................................................................................................... 26

Daftar Pustaka








iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Prinsip Instalasi Biogas ............................................................. 7
Gambar 2 Digester Biogas ......................................................................... 8
Gambar 3 Katup Pengaman Gas ................................................................ 8
Gambar 4 Kompor dengan Bahan Bakar Biogas ..................................... 10
Gambar 5 Persiapan Lubang Digester ..................................................... 11
Gambar 6 Plastik tabung PE digelar ........................................................ 12
Gambar 7 Pembuatan Kerangka Digester ................................................ 12
Gambar 8 Pemasukkan Kerangka Bambu ke dalam Plastik PE .............. 13
Gambar 9 Lubang dibagian Tengah Digester ................................................... 13
Gambar 10 Socket Drat TEDMOND yang Telah Terpasang .................... 14
Gambar 11 Digester Dibawa ke Lubang ............................................................ 14
Gambar 12 Pembersihan Lubang Digester ......................................................... 15
Gambar 13 Pengikatan Ujung-Ujung Digester .......................................... 15
Gambar 14 Pemasangan Bata pada Bak Penampung ................................ 16
Gambar 15 Kondisi Digester Setelah Terpasang dan Siap Diisi ............... 16
Gambar 16 Contoh Bak Penampungan ...................................................... 16
Gambar 17 Digester yang Sudah Berisi Gas ............................................. 18
Gambar 18 Plastik Penampung Gas .......................................................... 18
Gambar 19 Prinsip Pengaliran Gas ke Plastik Penampung Gas ................ 19
Gambar 20 Plastik Penampung Gas yang Sudah Berisi Gas ..................... 19
Gambar 21 Instalasi Biogas pada Kompor Gas ......................................... 20
Gambar 22 Kompor Biogas ....................................................................... 22

i

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Klasifikasi Tanaman Enceng Gondok ........................................... 4
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kenaikan harga LPG serta kecenderungan akan kelangkaannya
menjadikan pemanfaatan sumber energi alternatif mulai diperhitungkan. Salah
satu sumber energi alternatif yang besar peluangnya untuk dikembangkan
pemanfaatannya di Indonesia adalah energi biogas. Gas ini berasal dari
berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia
dan kotoran hewan yang dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses
anaerobic digestion. Pembuatan biogas dari sampah biomassa, khususnya
enceng gondok ini dapat mengurangi pendangkalan dan kerusakan ekosistem
rawa. Sedangkan pembuatan biogas dari kotoran hewan, khususnya sapi ini
berpotensi sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan, karena selain dapat
memanfaatkan limbah ternak, sisa dari pembuatan biogas yang berupa slurry
dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang kaya akan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh tanaman.
Enceng gondok dapat sebagai bahan baku biogas dikarenakan memiliki
kandungan karbohidrat dan selulosa. Selulosa akan dihidrolisis menjadi
glukosa oleh bakteri yang akan menghasilkan gas metan sebagai biogas.
Biogas dari enceng gondok diasilkan dengan proses fermentasi. Proses
fermentasi menyebabkan terjadinya berbagai reaksi dan interaksi yang
kompleks yang dibantu oleh bakteri anaerob. Hasil dari reaksi dan interaksi ini
menghasilkan gas metana (CH
4
) yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Enceng gondok dapat dijadikan sebagai sumber energi
alternatif terbarukan yang ramah lingkungan.
Walaupun biogas dapat dibuat dengan menggunakan enceng gondok,
tetapi kendala yang dihadapi dalam pengolahan enceng gondok menjadi biogas
adalah keberadaan lignin dan hemiselulosa serta struktur dari selulosa yang
sulit untuk diuraikan dalam kondisi anaerobik sehingga akan menurunkan hasil
biogas. Selain itu keberadaan lignin/cellulal material dapat menyebabkan
masalah sampah (Stensom, 1981). Oleh karena itu perlu dilakukan
2

pretreatment untuk mereduksi kristal selulosa, meningkatkan porositas bahan
dan menguraikan lignin dan hemiselulosa (Sun, 2002).
Selain enceng gondok, pemanfaatan kotoran sapi untuk bahan biogas
adalah karena potensi limbah kotoran sapi. Di beberapa wilayah di Indonesia
banyak limbah kotoran ternak yang belum dimanfaatkan dan terbuang begitu
saja, tentu saja hal ini dapat merusak lingkungan sekitar sehingga diperlukan
pemanfaatan lebih lanjut. Berbagai penelitian menyatakan bahwa kotoran sapi
dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat biogas. Kotoran sapi, dianggap
substrat paling cocok untuk pemanfaatan biogas. Substrat dalam kotoran sapi
telah mengandung bakteri penghasil gas metana yang terdapat di dalam perut
hewan ruminansia. Keberadaan bakteri di dalam usus besar ruminansia tersebut
membantu proses fermentasi, sehingga proses pembentukan gas bio pada
digester dapat dilakukan lebih cepat. Selain itu kotoran dalam kondisi segar
lebih mudah diproses dibandingkan dengan kotoran yang lama dan atau
dikeringkan, disebabkan karena hilangnya substrat volatil solid selama waktu
pengeringan (Gunnerson and Stuckey, 1986)

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui proses pembuatan biogas dari enceng gondok dengan
variasi kotoran sapi dan membuat digester.
2. Untuk mengetahui efisiensi biogas yang dihasilkan sebagai bahan bakar
alternatif.

C. Manfaat
1. Manfaat bagi mahasiswa
Mahasiswa dapat menambah wawasan tentang bahan alternatif penghasil
biogas dan cara pengaplikasiannya.
2. Manfaat bagi masyarakat
a. Masyarakat dapat mengetahui cara membuat alat penghasil biogas.
b. Masyarakat dapat memanfaatkan enceng gondok sebagai gulma perairan
dan limbah kotoran sapi yang dapat menghasilkan biogas.
c. Masyarakat dapat membuat bahan bakar alternatif.
3

BAB II
ISI

A. Biogas
Biogas adalah gas yang mudah terbakar yang dihasilkan dari proses
fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang
hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik
bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan
organik (padat dan cair) homogen seperti kotoran dan urin (air kencing) hewan
ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana.
Biogas sebagian besar mengandung gas metana (CH4) dan
karbondioksida (CO2), dan beberapa kandungan gas yang jumlahnya kecil
diantaranya hidrogen (H2),hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3) serta
nitrogen (N) yang kandungannya sangat kecil. Energi yang terkandung dalam
biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH4). Semakin tinggi kandungan
metana maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor) pada biogas, dan
sebaliknya semakin kecil kandungan metana (CH4) semakin kecil nilai kalor
(Pambudi, 2008).
Secara ilmiah, biogas yang dihasilkan dari sampah organik adalah gas
yang mudah terbakar (flammable). Gas ini dihasilkan dari proses fermentasi
bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi
tanpa udara). Umumnya, semua jenis bahan organik bisa diproses untuk
menghasilkan biogas. Tetapi hanya bahan organik homogen, baik padat
maupun cair yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Bila sampah-sampah
organik tersebut membusuk, akan dihasilkan gas metana (CH4) dan
karbondioksida (CO2). Tapi, hanya CH4 yang dimanfaatkan sebagai bahan
bakar. Bahan bakar yang berasal dari biogas mengandung berbagai macam zat,
baik yang dapat dibakar maupun yang tidak dapat terbakar. Zat yang tidak
dapat terbakar ini biasanya sebagai penghalang atau pengurang nilai energi dari
biogas (Said, 2008).


4

B. Enceng Gondok
Eceng gondok merupakan tumbuhan rawa atau air, yang mengapung di
atas permukaan air. Di ekosistem air, enceng gondok ini merupakan tanaman
pengganggu atau gulma yang dapat tumbuh dengan cepat (3% per hari).
Pesatnya pertumbuhan enceng gondok ini mengakibatkan berbagai kesulitan
seperti terganggunya transportasi, penyempitan sungai, dan masalah lain
karena penyebarannya yang menutupi permukaan sungai/perairan.
Tanaman gulma air eceng gondok ini memiliki klasifikasi seperti yang
ditunjukkan pada tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1: Klasifikasi Tanaman Enceng Gondok
Divisi Spermatophyta
Subdivisi Angiospermae
Kelas Monocotyledoneae
Suku Pontederiaceae
Marga Eichornia
Jenis Eichornia Crassipes

Enceng gondok merupakan tumbuhan parenial yang hidup di perairan
terbuka, mengapung di air jika tempat tumbuhnya cukup dalam dan berakar di
dasar jika air dangkal. Tingginya sekitar 0,4 0,8 meter. Tidak mempunyai
batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya
meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin
dan berwarna hijau. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya
kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.
Perkembangbiakan dapat terjadi secara vegetatif maupun secara generatif.
Perkembangan terjadi jika tunas baru tumbuh pada ketiak daun lalu membesar
dan akhirnya menjadi tumbuhan baru. Enceng gondok dapat menggandakan
daunnya pada 7-10 hari. Hasil penelitian Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan Sumatra Utara (2003) melaporkan bahwa satu batang eceng
gondok dalam waktu 52 hari mampu berkembang seluas 1 m
2
, atau dalam
waktu satu tahun mampu menutup area seluas 7 m
2
.
5

Perkembangbiakan secara generatif terjadi melalui bijinya, sebelum
terjadinya biji didahului oleh penyerbukan pada bunga. Karangan enceng
gondok berbentuk bulir bertangkai panjang, berbunga 6 sampai 35 tangkai.
Kelopaknya bunga berbentuk tabung, termasuk bunga majemuk, sehingga
enceng gondok memungkinkan penyerbukan, setelah 20 hari bunganya akan
masak, terbebas lalu pecah dan bijinya masuk ke perairan menjadi tanaman
baru.

C. Hubungan Enceng Gondok dan Biogas
Salah satu tanaman air yang sering digunakan dalam pengolahan air
limbah greywater adalah eceng gondok. Namun umumnya, eceng gondok sisa
pengolahan limbah tersebut hanya dibuang sebagai sampah tanpa adanya
pengolahan lanjut. Padahal eceng gondok merupakan salah satu sumber
biomassa yang masih dapat dimanfaatkan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi
biomassa eceng gondok yang sangat berlimpah yang belum dimanfaatkan.
Eceng gondok mengandung 95% air dan menjadikannya terdiri dari jaringan
yang berongga, mempunyai energi yang tinggi, terdiri dari bahan yang dapat
difermentasikan dan berpotensi sangat besar dalam menghasilkan biogas
(Chanakya, et al, 1993 dalam Gunnarsson dan Cecilia, 2006).
Eceng gondok mempunyai tiga komponen utama yaitu selulosa,
hemiselulosa, dan lignin. Hemiselulosa adalah polisakarida kompleks yang
merupakan campuran polimer yang jika dihidrolisis menghasilkan produk
campuran turunan yang dapat diolah dengan metode anaerobic digestion untuk
menghasilkan dua senyawa campuran sederhana berupa metan dan karbon
dioksida yang biasa disebut biogas. Selulosa merupakan sumber karbon
organik, sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku potensial untuk
pembuatan biogas. Sedangkan lignin berfungsi memberi struktur pada tanaman
dan melindungi tanaman dari degradasi, terutama degradasi biologis. Struktur
lignin yang kompleks menyebabkan komponen ini susah siuraikan dan dapat
menghalangi proses hidrolisis selulosa (Ghosh, Henry, dan Christopher, 1984).


6

D. Konsep TTG yang Ditawarkan
Bahan bakar merupakan hal yang penting bagi masyarakat. Beberapa
waktu yang lalu terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (terutama minyak
tanah) dan gas elpiji untuk rumah tangga maupun industri yang berdampak
pada perekonomian masyarakat. Program konversi minyak tanah ke gas belum
serta merta diimbangi oleh persediaan yang cukup. Selain itu, kayu yang
menjadi alternatif bahan bakar juga sudah mulai menghilang. Dengan sulitnya
memperoleh bahan bakar, dapat memanfaatan bahan bakar alternatif, seperti
biogas. Biogas yang ditatawarkan dibuat dari bahan baku enceng gondok dan
kotoran sapi.
Enceng gondok mempunyai kandungan hemiselulosa yang cukup besar
dibandingkan komponen organik tunggal lainnya. Hemiselulosa adalah
polisakarida kompleks yang merupakan campuran polimer yang jika
dihidrolisis menghasilkan produk campuran turunan yang dapat diolah dengan
metode anaerobic digestion untuk menghasilkan dua senyawa campuran
sederhana berupa metan dan karbon dioksida yang biasa disebut biogas
(Ghosh, Henry, dan Christopher, 1984).
Kotoran sapi ditambahkan ke dalam reaktor karena mengandung bakteri
biodegradatif yang dapat memulai dan menyokong produksi biogas (Chanakya
et al., 1993). Golongan bakteri selulolitik seperti actinomycetes dan dari
campuran spesies bakteri dapat meningkatkan produksi biogas dri kotoran sapi
sebanyak 8,4-44% (Tirumale dan Nand, 1994 dalam Yadvika et al, 2004).
Penelitian pembuatan biogas dari enceng gondok telah banyak dilakukan.
Namun, permasalahan timbul dalam pengolahan enceng gondok menjadi
biogas adalah keberadaan lignin dan hemiselulosa serta struktur dari selulosa
yang sulit untuk diuraikan dalam kondisi anaerobik sehingga akan menurunkan
yield biogas. Selain itu keberadaan lignin/cellulal material dapat menyebabkan
scum problem (Stensom, 1981). Oleh karena itu perlu dilakukan pretreatment
untuk mereduksi kristal selulosa, meningkatkan porositas bahan dan
menguraikan lignin dan hemiselulosa (Sun, 2002).
Pada pembuatan biogas ini dilakukan kombinasi antara enceng gondok
dengan kotoran sapi karena kotoran sapi memili jumlah dan kontinuitas yang
7

cukup untuk bahan baku pembuatan biogas. Berbeda dengan enceng gondok
yang ketersediaannya ada pada waktu-waktu tertentu. Kontinuitas sangat
penting diperhatikan karena merupakan salah satu syarat bahan baku untuk
biogas.

1. Prinsip Dasar Biogas

Gambar 1: Prinsip Instalasi Biogas

Prinsip utama proses pembentukan biogas adalah pengumpulan
enceng gondok dan kotoran sapi ke dalam tangki plastik/pralon yang kedap
udara, yang disebut dengan tangki digester. Di dalamnya kotoran-kotoran
tersebut akan dicerna dan difermentasi oleh bakteri-bakteri seperti:
b. Kelompok bakteri fermentatif, yaitu: Steptococci, Bacteriodes, dan
beberapa jenis Enterobactericeae,
c. Kelompok bakteri asetogenik, yaitu Desulfovibrio,
d. Kelompok bakteri metana, yaitu Mathanobacterium, Mathanobacillus,
Methanosacaria, dan Methanococcus.
Gas yang dihasilkan akan tertampung dalam digester. Terjadinya
penumpukan produksi gas akan menimbulkan tekanan sehingga dari
tekanan tersebut dapat disalurkan melalui pipa ke dalam penampung gas
yang nantinya akan disalurkan untuk keperluan bahan bakar, seperti
penggunaan kompor gas (Wahyono, 2012).




8

2. Komponen Dasar Instalasi Biogas
a. Digester

Gambar 2: Digester Biogas

Digester merupakan bangunan utama dari instalasi biogas yang
berfungsi untuk menampung gas metan hasil perombakan bahan bahan
organik oleh bakteri (Wahyono, 2012). Selain itu, digester atau bisa
disebut juga reaktor berfungsi sebagai tempat mengolah kotoran ternak
melalui proses difermentasi oleh bakteri-bakteri untuk menghasilkan gas
yang bisa digunakan untuk bahan bakar (Masyhuri, 2013). Desain
digester bermacam-macam sesuai dengan jenis bahan baku yang
digunakan, temperatur yang dipakai dan bahan konstruksi. Digester dapat
terbuat dari cor beton, baja, bata atau plastik dan bentuknya dapat berupa
silo, bak, kolam dan dapat diletakkan dibawah tanah.
b. Pengaman Gas

Gambar 3: Katup Pengaman Gas
Katup pengaman gas ini digunakan sebagai pengatur tekanan gas
dalam digester. Katup pengaman ini menggunakan prinsip pipa T. Bila
tekanan gas dalam saluran gas lebih tinggi dari kolom air, maka gas akan
9

keluar melalui pipa T, sehingga tekanan dalam digester akan turun.
(Wahyono, 2012).
c. Keran Gas
Keran gas berfungsi untuk membuka dan menutup aliran biogas
dari penampung atau digester. Selain itu, keran gas ini berfungsi untuk
menyalurkan dan menghentikan gas dari pipa instalasi ke kompor.
(Wahyono, 2012)
Keran Gas dipasang pada saluran pipa untuk mengatur aliran gas
ke kompor. Hal ini membantu penggunaan gas secara optimal. Biogas
yang disalurkan sampai titik penggunaan akan memiliki tekanan tinggi
pada saat bio-slurry di outlet meluap (gas sepenuhnya disimpan dalam
penampung gas). Tekanan akan berkurang secara bertahap seiring dengan
digunakannya gas yang ada. Laju aliran gas bervariasi sesuai tekanan.
(BIRU, 2010)
d. Penampung Gas
Penampung gas adalah kubah digester yang berfungsi menampung
biogas yang dihasilkan dari proses fermentasi enceng gondok dan
kotoran ternak. (Wahyono, 2012)
e. Kompor Gas
Kompor gas merupakan media memasak yang menggunakan bahan
bakar dari biogas. (Wahyono, 2012)

3. Prinsip Pembuatan Kompor Biogas
Penggunaan biogas sebagai bahan bakar yang paling mudah adalah
kompor. Untuk mengetahui apakah biogas yang dihasilkan dapat terbakar
atau tidak, dilakukan dengan menyambungkan pipa biogas ke pipa
tembaga dengan diameter 0.5 cm. Katup gas dibuka dan ujung pipa
didekatkan dengan sumber api, maka api pun menyala. Prinsip inilah yang
digunakan untuk membuat kompor (Sartono Putro, 2007).



10








Gambar 4: Kompor dengan Bahan Bakar Biogas

E. Pembuatan Biogas
1. Alat dan Bahan
a. Bak INLET dan OUTLET
1) Batako : 100 buah
2) Pasir : 0,5 mobil
3) Semen : 4 zak
4) Paralon 4 :1 batang
5) Elbow 4 : 4 buah
b. Digester
1) Plastik tabung PE (diameter 2 m) : 21 meter
2) Tedmond sock : 1 buah
3) Paralon : 1 batang
4) Paralon : 1 batang
5) Klep/keran pipa : 2 buah
6) Klep keran pipa : 2 buah
7) Selang berserat : 15 meter
8) Selang berserat 5/8 : 3 meter
9) Selang berserat : 3 meter
10) Selang berserat : 8 meter
11) Sock T : 1 buah
12) Bambu (3 meter) : 1 batang
13) Selang karet : 2 meter
14) Tali karet ban dalam : 10 meter
11

15) Lem dextone : 1 buah
16) Lem aica aibon : 1 buah
17) Lem PVC : 1 buah
18) Tape seal : 1 buah
19) Klem besi 1 : 4 buah
20) Klem besi : 4 buah
21) Klem besi 5/8 : 4 buah
22) Klem besi : 4 buah
c. Penampung Gas
1) Plastik tabung PE (diameter 1 m) : 12 meter
d. Kompor Gas 1 Lubang : 1 buah
Catatan:
1) Kebutuhan pipa dan selang tergantung jarak dengan dapur sehingga
bisa dirubah.
2) Daya tahan instalasi biogas ini dapat mencapai > 5 tahun.

2. Metode Pembuatan Digester
a. Tahap Persiapan Lubang Digester

Gambar 5: Persiapan Lubang Digester

Ukuran lubang digester disesuaikan dengan ukuran digester.





12

b. Tahap Pembuatan Digester

Gambar 6: Plastik tabung PE digelar

Plastik tabung PE digelar dialas yang telah dibersihkan untuk
mencegah kebocoran dan dibuat 2 lapis. Panjangnya sesuai dengan
panjang digester yang diinginkan.


Gambar 7: Pembuatan Kerangka Digester

Tiap sambungan bambu dilakban/dilapis dengan tali karet hingga
tidak ada bagian yang tajam untuk mencegah kerusakan plastik digester.

13


Gambar 8: Pemasukkan Kerangka Bambu ke dalam Plastik PE

Kerangka bambu dimasukkan kedalam plastik tabung PE yang
sudah dibuat 2 lapis. Jika lubang tanah digester panjangnya 4 meter maka
panjang kerangka bambu juga 4 meter sedangkan panjang plastik PE-nya
menjadi 6 meter, kelebihan masing-masing 1 meter diujung sebagai
tempat memasang pipa pemasukan dan keluaran. Plastik akan menjadi
tabung pada akhirnya.


Gambar 9: Lubang dibagian Tengah Digester

Dibagian tengah digester diberi lubang dari dalam dengan hati-hati
untuk memasang socket drat TEDMON hingga tampak seperti gambar di
atas.
14


Gambar 10: Socket Drat TEDMOND yang Telah Terpasang

Setelah socket drat TEDMOND telah terpasang, kemudian di
atasnya dipasang dan keran. Mengerjakaanya harus dengan hati-hati,
jangan sampai ada kebocoran pada plastik digester.


Gambar 11: Digester Dibawa ke Lubang

Digester dibawa ke lubang yang telah disiapkan. Disalah satu ujung
lubang dibuat bak penampung dengan ukuran 60x70 cm.

15


Gambar 12: Pembersihan Lubang Digester

Dasar lubang dibersihkan dari sisa-sisa akar dan kayu-kayu untuk
mencegah kebocoran pada plastik digester. Digester kemudian
dimasukkan perlahan-lahan dan disesuaikan dengan lubang yang sudah
dibuat.


Gambar 13: Pengikatan Ujung-Ujung Digester

Ujung-ujung digester diikat dengan tali karet dan disesuaikan
posisinya sesuai dengan kemiringan lubang. Untuk lubang pemasukan
kemiringannya seperti sudut jam 11 siang dan untuk lubang pengeluaran
kemiringannya seperti sudut jam 14 siang.

16


Gambar 14: Pemasangan Bata pada Bak Penampung

Bak penampung mulai dipasang bata dan pipa pemasukan diatur
sedemikian rupa hingga terlihat seperti pada gambar di atas.


Gambar 15: Kondisi Digester Setelah Terpasang dan Siap Diisi


Gambar 16: Contoh Bak Penampungan




17

3. Metode Pengisian
a. Persiapan Enceng Gondok
1) Enceng gondok disiapkan dan dicuci sampai bersih.
2) Enceng gondok dicacah dengan mesin pencacah.
3) Enceng gondok dijemur hingga kadar air menjadi 60%, ditandai
dengan tidak adanya air yang keluar dari enceng gondok ketika
diperas dengan tangan.
b. Persiapan Kotoran Sapi
Kotoran sapi yang akan digunakan disiapkan.
c. Pencampuran Enceng Gondok, Kotoran Sapi dan Air
Proses pencampuran enceng gondok, kotoran sapi, dan air
dilakukan dengan metode perbandingan 40:80:480. Kemudian diaduk
sampai merata.
d. Pemasukkan Bahan Baku ke dalam Reaktor Biogas
1) Adukan enceng gondok, kotoran sapi dan air yang telah dicampur
dialirkan ke dalam digester melalui lubang pemasukan. Pada
pengisian pertama kran gas yang ada diatas digester dibuka agar
pemasukan lebih mudah dan udara yang ada didalam digester terdesak
keluar. Pada pengisian pertama ini dibutuhkan adukan dalam jumlah
yang banyak sampai digester penuh, ditandai dengan tumpahnya air
dilubang pengeluaran pengeluaran.
2) Kondisi tersebut dibiarkan hingga terbentuk gas yang ditandai dengan
menggelembungnya digester (biasanya 2 4 minggu).
3) Untuk mempercepat proses fermentasi pembentukan gas maka dapat
ditambahkan probiotik.







18

4. Hasil Digester
a. Digester yang Sudah Berisi Gas

Gambar 17: Digester yang Sudah Berisi Gas

Gas yang terbentuk pertama kali (pada hari ke-1 sampai ke-8) harus
dibuang dengan cara menekan-nekan digester atau menggunakan
pemberat. Hal ini perlu dilakukan karena gas yang terbentuk belum
didominasi gas metan tetapi masih ada gas-gas lain seperti hidrogen,
CO
2
, amoniak dan oksigen.
b. Plastik Penampung Gas

Gambar 18: Plastik Penampung Gas
19


Gambar 19: Prinsip Pengaliran Gas ke Plastik Penampung Gas

Sebaiknya plastik penampung gas berada ditempat yang terlindung
dan diberi alas karung/plastik bekas.


Gambar 20: Plastik Penampung Gas yang Sudah Berisi Gas

Pada hari ke-10 sampai hari ke-14 baru terbentuk gas metan (CH
4
)
dan CO
2
mulai menurun. Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah
pembuangan gas pertama, plastik penampung gas langsung terisi penuh
seperti gambar di atas. Pada komposisi CH
4
54% dan CO
2
27% maka
biogas akan menyala.
Pada hari ke-14, gas yang terbentuk dapat digunakan untuk
menyalakan api pada kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-
14 ini kita sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan.
Biogas ini tidak berbau seperti bau kotoran sapi. Selanjutnya, digester
terus diisi dengan adonan enceng gondok, kotoran sapi dan air secara
kontinu sehingga dihasilkan biogas yang optimal.
20

5. Modifikasi Kompor Gas
Biogas disalurkan melalui pipa yang telah tersambung dengan
kompor. Untuk mengetahui apakah biogas yang dihasilkan dapat terbakar
atau tidak, dilakukan dengan menyambungkan pipa biogas ke pipa tembaga
dengan diameter 0.5 cm. Katup gas dibuka dan ujung pipa didekatkan
dengan sumber api, maka api pun menyala. Prinsip inilah yang digunakan
untuk membuat kompor biogas.


Gambar 21: Instalasi Biogas pada Kompor Gas

Penyesuaian saluran pipa dan peralatan
Dalam pembuatan kompor biogas ini perlu adanya penyesuaian
saluran pipa dan peralatan. Biogas diproduksi di reaktor dan disimpan di
penampungan gas, baru kemudian dialirkan melalui pipa. Apabila lapisan
dan siku pipa tidak dikerjakan dengan benar, gas yang dihasilkan tidak
dapat dialirkan dengan sempurna ke lokasi penggunaan. Langkah-langkah
berikut harus dilakukan saat memasang pipa dan peralatan lainnya:
a. Sebelum memasang pipa, panjang pipa dari reaktor biogas hingga ke titik
aplikasi (dapur) harus diukur. Rute diusahakan sependek mungkin
sehingga risiko kerusakan saluran pipa karena faktor luar dapat ditekan.
b. Setelah panjang pipa ditentukan, penggalian parit tempat pipa dapat
dimulai. Kemiringan parit sebaiknya tidak terlalu curam dan tepat,
21

sehingga peletakan pipa ke dalamnya dapat dilakukan pada kemiringan
tertentu.
c. Pertama-tama katup pipa harus dipaskan posisinya. Pastikan tidak ada
perkakas selain saluran pipa antara pipa gas utama yang terpasang di
kubah dan katup gas utama. Hal ini untuk menghindari risiko kebocoran
gas.
d. Sangat disarankan untuk menggunakan pipa besi yang telah
digalvanasikan (GI) dan ditanam minimal 30 cm di dalam tanah. Namun
begitu, pipa PVC kualitas terbaik bisa juga digunakan. Penggabungan
dua pipa PVC harus benar-benar rekat dengan bantuan lem.
e. Setelah pipa di tanah dipasang dengan benar dari kubah ke dapur,
langkah selanjutnya adalah untuk menyesuaikan kompor gas dan lampu.
Atur posisi keran terlebih dulu, baru gunakan pipa selang karet neoprene
untuk menghubungkan keran dan kompor gas. Tidak ada yang boleh
digunakan selain pipa selang yang telah disetujui. Pipa selang karet yang
digunakan harus bermutu baik. Seperti yang disyaratkan bagi pengguna,
lampu gas juga harus sesuai. Proses penyatuan bagian-bagian dari lampu
gas harus dilakukan dengan teliti.
f. Pasang meteran gas pengukur tekanan (manometer; dapat berbentuk
huruf U) yang terbuat dari tabung plastik atau kaca transparan dan diisi
dengan air berwarna, atau tipe jam digital, atau analog tekanan. Untuk
manometer, salah satu ujung dari meteran ukur U dihubungkan ke
saluran pipa gas dan ujung satunya lagi ditempelkan ke botol kosong ke
udara. Apabila tekanan gas dalam reaktor nol, permukaan air berwarna di
dua cabang meteran gas akan berada di tengah. Pada saat biogas
memasuki manometer, level air berwarna di cabang yang tertutup
bergerak turun, sedangkan air yang di cabang satunya lagi bergerak naik.
Perbedaan ketinggian dua air berwarna ini menunjukkan tekanan gas
dalam ukuran cm kolom air. Meteran tekanan juga merupakan katup
keamanan untuk mencegah kebanjiran gas. Pada saat tekanan gas di
reaktor melampaui nilai yang telah tercatat, air di salah satu cabang
meteran ukur tertekan masuk ke botol dan gas keluar. Pada saat tekanan
22

gas di reaktor normal kembali, air yang ada di botol akan kembali
mengalir ke tempat semula. Meteran berbentuk jam digital mudah
dipasang dan dibaca. Meteran jenis ini dapat langsung dipasang di
saluran pipa menggunakan persimpangan T. Meteran ukur tekanan gas
harus dipasang dekat dengan titik penggunaan gas.
g. Sesegera mungkin setelah gas dihasilkan, penghubung dan katup (keran)
harus dicek apakah ada kebocoran dengan menggunakan cairan kental air
yang dicampur dengan sabun. Apabila ada kebocoran, gelembung busa
yang ada di penghubung akan bergerak atau pecah. Jika hal ini terjadi,
penghubung itu harus benar-benar direkatkan kembali.
h. Modifikasi dilakukan pada saluran gas dimana lubang penyalur gas yang
berada dekat sumbu kompor diperbesar menggunakan bor.
i. Selanjutnya lubang udara yang ada disamping pipa ditutup menggunakan
lem campuran resin dan pengeras.
j. Setelah dimodifikasi pemantik yang ada tidak bisa digunakan jadi harus
menggunakan pemantik biasa atau korek api.

6. Kompor Gas Siap Digunakan

Gambar 22: Kompor Biogas

F. Efisiensi Biogas
Satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang, membutuhkan 1000 liter
biogas/hari atau 1 m
3
biogas/hari untuk memasak. Sedangkan untuk
menghasilkan 1 KWH diperlukan 1500 liter biogas. Oleh karena itu untuk satu
keluarga dengan tujuh orang di perlukan tangki pencerna bervolume 10.000
23

liter, karena pencerna ini menghasilkan biogas rata-rata 610 liter/hari
(Kementerian Lingkungan Hidup, 2009).
Menurut Kristoferson dan Bolalders (1991) dalam Hambali (2007), nilai
kesetaraan biogas dalam 1 m
3
biogas dalam penerangan setara dengan 6-100
watt lampu bohlam selama enam jam, dalam memasak tiga jenis makanan
untuk keluarga (5-6) orang, pengganti bahan bakar 0.7 kg minyak tanah,
menjalankan satu tenaga kuda selama dua jam, menghasilkan 1,25 KWH
listrik.
Potensi biogas jika dihitung untuk suatu keluarga yang beranggotakan
tujuh orang dalam pembuatan digester berukuran 10.000 liter yang berisi
variasi enceng gondok, kotoran sapi dan air yaitu 40:80:480 dapat
menghasilkan 1763,3 liter gas. Hasil biogas tersebut dapat dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan masyarakat seperti memasak dan penerangan.
Dengan mengandalkan produksi biogas dari enceng gondok dengan
variasi kotoran sapi 40:80:480 tersebut, maka pengeluaran satu keluarga dapat
ditekan khususnya untuk kebutuhan LPGnya. Apabila dikonversi dengan LPG,
1 m
3
gas bio setara dengan 0,46 kg LPG, maka potensi keuntungan ekonomi
dari subtitusi atau penghematan dapat diestimasi dengan mengalikan harga
LPG per kg dengan volume gas bio yang diperoleh. Misalnya dalam hal ini
dihasilkan gas bio 1763,3 liter/hari atau setara dengan 1,7633 m
3
/hari

atau
setara dengan LPG 0,8 kg/hari, sedangkan harga gas LPG Rp. 5000/kg, maka
potensi keuntungan ekonomi dari subtitusi atau penghematan satu keluarga
dapat diestimasi dengan mengalikan 0,8 kg/hari x Rp. 5000/kg = Rp.
4.000/hari. Jika dalam sebulan berarti pengeluaran satu keluarga dapat dihemat
hingga Rp. 120.000 dimana jumlah ini dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain
atau untuk ditabung.

G. Kelebihan dan Kekurangan Biogas
1. Kelebihan
a. Biogas merupakan energi tanpa menggunakan material yang masih
memiliki manfaat termasuk biomassa sehingga biogas tidak merusak
24

keseimbangan karbondioksida yang diakibatkan oleh penggundulan
hutan (deforestation) dan perusakan tanah.
b. Pembangunan instalasi biogas serta pemanfaatan yang efisien akan
menambah kualitas hidup peternak.
c. Pemanfaatan instalasi biogas dapat mengurangi pencemaran lingkungan,
pemanfaatan energi yang lebih berkesinambungan serta berkontribusi
pada pengurangan emisi gas rumah kaca.
d. Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang keberadaannya di
atmosfer akan meningkatkan temperatur dengan menggunakan biogas
sebagai bahan bakar maka akan mengurangi gas metana di udara.
e. Biogas tidak menghasilkan karbonmonoksida apabila dibakar sehingga
aman dipakai untuk keperluan rumah tangga.

2. Kekurangan
a. Reaktor biogas tidak berfungsi apabila bocor/terjadi kesalahan
konstruksi.
b. Membutuhkan penanganan secara manual (pengumpanan/mengeluarkan
lumpur dari reaktor) dan biaya konstruksi yang mahal.
c. Biogas belum dapat didistribusikan ke tempat yang lebih jauh karena
kapasitas terbatas dan belum ada teknologi untuk mendistribusikan
secara aman dan murah.
d. Kapasitas terbatas.
e. Pembuatan biogas dari enceng gondok tergantung ketersediaan bahan.
f. Safety kurang karena bak digester dan penampung gas berupa kantung
plastik yang riskan terhadap benda tajam dan percikan api.
g. Komponen metana dalam biogas bersifat narkotika pada manusia, apabila
dihirup langsung dapat mengakibatkan kesulitan bernapas dan
mengakibatkan kematian.
h. Tidak seperti LPG yang bisa dicairkan dengan tekanan tinggi pada suhu
normal, biogas hanya dapat dicairkan pada suhu 178
o
C sehingga untuk
menyimpannya dalam sebuah tangki yang praktis mungkin sangat sulit.
25

i. Harus memperhatikan faktor suhu (letak alat di tempat terbuka sehingga
tidak terjaga suhu yang diinginkan), pH, dan ketinggian tanah.

26

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pembuatan biogas dapat dilakukan dengan mencampurkan enceng gondok,
kotoran sapi dan air dengan perbandingan tertentu yang selanjutnya
dimasukkan ke dalam digester. Digester dapat dibuat dari plastik tabung PE
yang dirangkap 2. Digester ini mempunyai bak inlet dan outlet sebagai
tempat pemasukkan dan pembuangan sludge. Gas yang sudah terbentuk
dalam digester dialirkan ke tabung penampung gas yang juga terbuat dari
plastik PE. Kemudian dari tabung tersebut, dipasang selang untuk
mengalirkan gas ke kompor.
2. Pembuatan digester berukuran 10.000 liter yang berisi variasi enceng
gondok, kotoran sapi dan air yaitu 40:80:480 dapat menghasilkan 1763,3
liter gas. Gas bio 1763,3 liter/hari setara dengan LPG 0,8 kg/hari, sedangkan
harga gas LPG Rp. 5000/kg, maka potensi keuntungan ekonomi dari
subtitusi atau penghematan satu keluarga dapat diestimasi dengan
mengalikan 0,8 kg/hari x Rp. 5000/kg = Rp. 4.000/hari.

B. Saran
Biogas sebagai energi alternatif maka dibutuhkan sosialisasi kepada
masyarakat.










27

DAFTAR PUSTAKA

AsDep Pengendalian Pencemaran Agroindustri dan Usk. Aplikasi Teknologi
Biogas untuk Pengendalian Pencemaran Usaha Skala Kecil (USK). Deputi
Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup.
Astuti, Nurfitri; Retnaningsih Soeprobowati, Tri; Budiyono. Produksi Biogas
Dari Enceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) dan Limbah
Ternak Sapi di Rawapening. Seminar Nasional X Pendidikan Biologi FKIP
UNS.
BIRU. 2010. Pedoman Penggunaan Biogas Rumah. Jakarta: Program BIRU,
Indonesia Domestic Biogas Programme Yayasan Rumah Energi (YRE).
Chanakya, H.N, dkk. 1993. Solid Phase Biogas Production with Garbage or
Water Hyacinth. Bioresource Technology Vol. 46 Hal. 227-231 Elsevier
Ltd. Chanakya, H.N.
Chanakya, H.N., S. Borgaonkar, G. Meena dan K.S. Jagadish. 1993. Solid Phase
Biogas Production with Garbage or Water Hyacinth. Bioresource
Technology Vol. 46 Hal. 227231 Elsevier Ltd.
Darsin, M. 2006. Design of Biogas Circulator, Seminar Nasional
KreativitasMesin Brawijaya 2006, Universitas Barawijaya, Malang.
Ghosh, S., M.P. Henry dan R.W. Christopher. 1984. Hemicellulose Conversion by
Anaerobic Digestion. Institute of Gas Technology dan United Gas Pipe Line
Company. USA. Biomassa Vol. 6 Hal. 257-258.
Ghosh,S., M.P. Henry dan R.W. Christopher. 1984. Hemicellulose Conversion by
Anaerobic Digestion. Institute of Gas Technology dan United Gas Pipe Line
Company. USA. Biomassa Vol.6 Hal.257-258.Elsevier Ltd.
Himawanto, D.A., Subroto, dan Putro, S. 2006. Peningkatan Mutu Briket Kokas
Lokal Sebagai Upaya Penyelamatan Sentra Industri Cor Logam Di Ceper
Klaten, Laporan Program Hibah Bersaing 2006 Dikti-UMS, Surakarta.
Indraswati Serindit. 2005. Pembangkitan Biogas dari Kotoran Sapi: Hidrolisis
Termal Pada Tahap Pengolahan Pendahuluan, Jurnal Teknik Kimia,
Institut teknologi sepuluh Nopember, Surabaya.
28

Jimmy dan M Istnaeny Hudha. 2011. Potensi Pemanfaatan Biogas Di Kabupaten
Malang, Jawa Timur. Spectra, Vol IX, No 17 : 35-47.
Junaedi, M. 2002. Pemanfaatan Energi Biogas di Perusahaan Susu Umbul Katon
Surakarta, Laporan Program Vucer 2002, Dikti-UMS, Surakarta.
Laporan Akhir Inventarisai dan Seleksi Kreativitas dan Inovasi Masyarakat
(KRENOVA) Kabupaten Sukoharjo Tahun 2007, BAPPEDA Sukoharjo,
Sukoharjo
Musyhuri., dkk. 2013. Rancangan Bangunan Sistem Penyerap Karbon Dioksida
(CO
2
) pada Aliran Biogas dengan Menggunakan Larutan Ca(OH)
2
.
Malang: Universitas Brawijaya
Pambudi, A. 2008. Pemanfaatan Biogas sebagai Energi Alternatif. Universitas
Surakarta.
Putro, Sartono. 2007. Penerapan Instalasi Sederhana Pengolahan Kotoran Sap
Menjadi Energi Biogas di Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten
Sukoharjo. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
S. Michael K. 1981. Anaerobic Digestion Of Classified Muicipal Solid Wastes.
Cal Recovery Systems Inc, Southern California.
Said, I dan Ruliasih. 2008. Penghilangan Kesadahan Di Dalam Air Minum. Hal.
387- 442.
Saputro, R.R, 2004. Pembuatan Biogas Dari Limbah Peternakan. Undip Press
Sasse, L. 1992., Pengembangan Energi Alternatif Biogas dan Pertanian Terpadu
di Boyolali Jawa Tengah, Borda-LPTP, Surakarta. Tim Inventarisai dan
Seleksi KRENOVA BAPPEDA Sukoharjo. 2007.
Sufyandi, A. 2001. Informasi Tekonolgi Tepat Guna Untuk Pedesaan Biogas.
Bandung
Sun Y, Cheng, J J. 2001. Hydrolysis Of Lignocellulosic Materials For Ethanol
Production: A Review. Bioresource Technology. 83, 1-11.
Tim Pengabdian Masyarakat Dana DIPA. 2010. Pembuatan Digester Biogas
Skala Rumah Tangga Menggunakan Kotoran Ternak Sapi. Palembang:
Universitas Sriwijaya.
Wahyono, E.H., Sudarno, Nano. 2012. Biogas: Energi Ramah Lingkungan.
Bogor: Yapeka
29

Yadvika, S., T.R. Sreekrishnan, S. Kohli, V. Rana. 2004. Enhancement of Biogas
Production from Solid Substrates Using Different Techniques- a Review.
Bioresource Technology Vol. 95 Hal. 110 Elsevier Ltd.