Anda di halaman 1dari 17

SIGIT HARNOWO 1106134575

ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA


Pendahuluan
Perencanaan Pajak
Pendahuluan mengenai Perencanaan Pajak (Tax Planning)
1. Pengertian dan motivasi Perencanaan Pajak (tax planning)
Tax planning merupakan upaya legal yang bisa dilakukan oleh wajib pajak dalam
usahanya untuk meminimalkan beban pajak yang ditanggungnya. Tax planning dikenal
sebagai effective tax planning, yaitu seorang wajib pajak berusaha mendapat penghematan
pajak (tax saving) melalui prosedur penghindaran pajak (tax avoidance) secara sistematis
sesuai ketentuan UU Perpajakan (Hoffman, 1961).Tindakan itu legal karena penghematan
pajak hanya dilakukan dengan memanfaatkan hal-hal yang tidak diatur (loopholes) dalam
undang-undang perpajakan. Untuk dapat meminimalisasi kewajiban pajak, dapat dilakukan
berbagai cara, baik yang masih memenuhi ketentuan perpajakan (lawful) maupun yang
melanggar peraturan perpajakan (unlawful), seperti tax avoidance dan tax evasion.
Pengertian dari tax avoidance adalah upaya pengurangan utang pajak secara konstitusional
(international tax glossary, 2005). Rencana meminimalkan pajak dapat ditempuh
misalnya, mengambil ketentuan yang sebesar-besarnya dari ketentuan mengenai
pengecualian dan pemotongan atau pengurangan yang diperkenankan.
Ketidakpatuhan terhadap undang-undang dapat dikenakan sanksi administrasi
maupun sanksi pidana. Tetapi kedua sanksi itu merupakan pemborosan sumber daya di
masa depan sehingga perlu dieliminasi melalui tax planning yang baik. Maka dalam
rangka optimalisasi alokasi sumber dana manajemen akan dilakukan perencanaan
pembayaran yang tidak lebih sehingga dapat mengurangi optimalisasi alokasi sumber daya
dan tidak kurang agar supaya tidak membayar sanksi administrasi yang merupakan
pemborosan dana.
Terdapat tiga kecenderungan yang memotivasi wajib pajak untuk melakukan perencanaan
pajak, (Suandy, 2003):
- Kebijakan perpajakan (tax policy)
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Kebijakan perpajakan merupakan alternatif dari berbagai sasaran yang hendak
dituju dalam sistem perpajakan yang meliputi prosedur perpajakan, objek pajak dan
pengurang objek pajak, tarif pajak, dan jenis pajak yang dipungut. Pada saat ini
sistem pembayaran pajak yang berlaku di Indonesia dilandasi oleh sistem
pemungutan dimana wajib pajak boleh menghitung, membayar dan menyetokan
sendiri besarnya pajak yang harus disetorkan (self assessment system). Self
assessment system merupakan salah satu faktor yang memotivasi wajib pajak
melakukan perencanaan pajak. Dengan adanya kepercayaan yang diberikan kepada
wajib pajak, maka hal ini membuat wajib pajak termotivasi untuk merencanakan
pajaknya. Dalam Ketentuan Umum Perpajakan dijelaskan mengenai kewajiban
wajib pajak. Secara umum, kewajiban WP adalah :
Mendaftarkan Diri
Dijelaskan dalam pasal 2 UU KUP, setiap WP wajib mendaftarkan diri
pada Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggal atau tempat kedudukan WP dan kepadanya diberikan Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP). Sementara itu, khusus terhadap WP yang harus
menjadi pengusaha yang mempunyai kewajiban PPN berdasarkan UU PPN,
wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak (PKP), dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Pengusaha Kena
Pajak (NPPKP).
Mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan
Dalam pasal 3 (1) UU KUP, setiap WP wajib mengisi SPT dalam bahasa
Indonesia dengan menggunakan huruf latin, angka arab, satuan mata uang
rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor pajak
tempat WP terdaftar
Membayar atau menyetor pajak
Ketentuan dalam pasal 10 (1) UU KUP menjelaskan bahwa membayar atau
menyetor pajak yang terutang dilakukan di kas negara melalui kantor pos
dan/atau bank Badan Usaha Milik Negara atau bank Badan Milik Daerah
atau tempat pembayaran lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
- Peraturan perpajakan (Tax Law)
Peraturan perpajakan adalah kumpulan peraturan-peraturan yang mengatur masalah
perpajakan. Pada kenyataannya dimana pun tidak ada peraturan perpajakan yang
mengatur setiap permasalahan secara sempurna, maka dalam pelaksanaannya selalu
diikuti oleh ketentuan-ketentuan lain meliputi Undang-Undang Perpajakan,
Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Surat Keputusan Menteri, dan Surat
Putusan atau Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak. Tidak jarang ketentuan
pelaksanaan tersebut bertentangan dengan undang-undang itu sendiri karena
disesuaikan dengan kepentingan pembuat kebijaksanaan dalam tujuan lain yang
ingin dicapainya. Perencanaan pajak merupakan suatu proses menganalisis dengan
cermat celah-celah dari peraturan perpajakan yang berlaku untuk meminimumkan
jumlah pajak yang dibayarkan. Oleh karena itu, peraturan perpajakan merupakan
salah satu faktor yang dapat memotivasi wajib pajak melakukan perencanaan pajak.
- SanksiAdministrasiPerpajakan (administration tax sanction)
Hal yang mendorong wajib pajak untuk melaksanakan perencanaan pajak dengan
baik adalah agar terhindar dari sanksi administrasi maupun sanksi pidana. Hal ini
dikarenakan adanya perbedaan penafsiran antara aparat fiskus dan wajib pajak
akibat dari begitu luasnya peraturan perpajakan yang berlaku. Pada umumnya,
wajib pajak tidak mengharapkan adanya sanksi administrasi karena pengenaan
sanksi administrasi merupakan pemborosan bagi wajib pajak. Oleh karena wajib
pajak tidak ingin dikenakan sanksi administrasi, maka wajib pajak melakukan
perencanaan pajak.
Sebelum menerapkan tax planning pada suatu perusahaan harus dilakukan analisis
keadaan perusahaan, yaitu melakukan pengamatan dan penelitian terhadap kebijaksanaan
perusahaan serta mencari kelemahan sehingga dapat ditentukan strategi perencanaan
perpajakan yang tepat dilaksanakan. Perencanaan pajak selalu dimulai dengan meyakinkan
apakah suatu transaksi atau fenomena terkena pajak. Kalau terkena pajak apakah dapat
diupayakan untuk dikecualikan atau dikurangin jumlah pajaknya, selanjutnya apakah
pembayaran pajak yang dimaksud dapat ditunda pembayaran dan lain sebagainya. Akhir
dari prosedur perpajakan adalah pembayaran pajak. Tentu lebih menguntungkan jika
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
perusahaan membayar pajak pada saat terakhir dari pada penyetoran dilakukan jauh
sebelumnya. Dalam melakukan perencanaan pajak harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1. tidak melanggar ketentuan perpajakan yang berlaku,
2. secara bisnis masuk akal dalam arti perencanaan pajak yang dibuat dapat
dijalankan, dan
3. didukung oleh bukti-bukti pendukung yang valid dan relevan.
Aspek-aspek dalam tax planning:
- Aspek Formal dan Administratif:
1. Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok WajibPajak
(NPWP) dan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP)
2. Menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan
3. Memotong dan/atau memungut pajak
4. Membayar pajak
5. MenyampaikanSurat Pemberitahuan
- Aspek Material
Basis penghitungan pajak adalah objek pajak. Dalam rangka optimalisasi alokasi
sumber dana, manajemen akan merencanakan pembayaran pajakyang tidak lebih
dan tidak kurang. Untuk itu, objek pajak harus dilaporkansecara benar dan lengkap.
2. Tahapan Perencanaan Pajak (Tax Planning)
- Menganalisis Informasi yang ada (Analysis of the existing data base)
Tahapan pertama dari proses pembuatan tax planning adalah menganalisis
komponen yang berbeda atas pajak yang terlibat dalam suatu proyek dan
menghitung seakurat mungkin beban pajak yang harus ditanggung. Ini hanya bisa
dilakukan dengan mempertimbangkan masing-masing elemen dari pajak baik
secara sendiri-sendiri maupun secara total pajak yang harus dapat dirumuskan
sebagai perencanaan pajak yang paling efisien. Adalah juga penting untuk
memperhitungkan kemungkinan besarnya penghasilan suatu proyek dan
pengeluaran-pengeluaran lain diluar pajak yang mungkin terjadi. Untuk itu seorang
manajer perpajakan harus memperhatikan faktor-faktor baik dari segi internal
maupun eksternal yaitu:
Fakta yang relevan
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Dalam arus globalisasi serta tingkat persaingan yang semakin kompetitif
maka seorang manajer perusahaan dalam melakukan perencanaan pajak
untuk perusahaannya dituntut harus benar-benar menguasai situasi yang
dihadapi, baik dari segi internal maupun eksternal dan selalu dimutakhirkan
dengan perubahan-perubahan yang terjadi agar perencanaan pajak dapat
dilakukan secara tepat dan menyeluruh terhadap situasi maupun transaksi-
transaksi yang mempunyai dampak dalam perpajakan.
Faktor Pajak
Dalam menganalis setiap permasalahan yang dihadapi dalam penyusunan
perencanaan pajak adalah tidak terlepas dari dua hal yang berkaitan dengan
faktor-faktor pajak yaitu menyangkut setiap tipe perpajakan nasional yang
dianut oleh suatu negara dan sikap fiskus dalam menafsirkan peraturan
perpajakan baik Undang-undang domestik maupun mancanegara.
Faktor non Pajak lainnya
Beberapa faktor bukan pajak yang relevan untuk diperhatikan dalam
penyusunan suatu perencanaan pajak antara lain:
- Masalah badan hukum
Sistem hukum yang berbeda terdiri dari berbagai tipe dari pada
perusahaan. Pemilihan bentuk badan usaha yang diusulkan sering dibuat
sebagai fungsi daripada seluruh peraturannya (baik untuk pajak maupun
bukan pajak) dalam rangka administrasi pembentukan dan
pembubarannya.
- Masalah mata uang dan nilai tukar
Dalam ruang lingkup perencanaan pajak yang bersifat internasional
masalah nilai tukar mata uang mempunyai dampak yang besar terhadap
finansial suatu perusahaan. Nilai tukar mata uang yang berfluktuasi atau
tidak stabil memberikan resiko usaha yang cukup tinggi. Apalagi jika
ada masalah devaluasi maupun revaluasi. Dari dampak finansial
tentunya berakibat pada posisi laba-rugi, apalagi bila terdapat banyak
transaksi baik ekspor atau impor maupun pinjaman dalam bentuk mata
uang asing.
- Masalah pengendalian devisa
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Sistem pengendalian devisa yang dimuat suatu negara menjadi bahan
pertimbangan penting terutama jika suatu negara menganut pembahasan
atau larangan untuk mengadakan pertukaran atau transfer dana dari
transaksi internasional ataupun adanya larangan untuk menjamin uang
atau menarik uang dari luar tanpa adanya izin Bank Sentral atau Menteri
Keuangan. Berbagai macam aturan yang dibuat tentunya menjadi bahan
pertimbanagan bagi pengusaha untuk menanamkan modalnya atau
tidak, karena perhitungan laba-rugi akhirnya selalu menjadi patokan
dasar dalam mengambil keputusan.
- Masalah Program intensif investasi
Masalah program insentif yang ditawarkan negara tertentu memberikan
pilihan bagi wajib pajak untuk melakukan investasi atau pemekaran
usaha pada suatu lokasi negara tertentu. Insentif inventasi yang
merangsang bisa berupa pemberian pinjaman dengan tarif bunga
rendah, bebas bunga ataupun adanya pemberian bantuan dari
pemerintah.
- Masalah faktor bukan pajak lainnya
Faktor bukan pajak lainnya seperti hukum dan sistem administrasi yang
berlaku, kestabilan ekonomi dan politik, tenaga kerja, pasar,
ada/tidaknya tenaga profesional, fasilitas perbankan, iklim usaha,
bahasa, sistem akuntansi, kesemuanya harus dipertimbangkan dalm
penyusunan tax planning terutama berkaitan dengan pemilihan lokasi
investasi apakah berupa cabang, subsidiari atau untuk keperluan
lainnya.
- Membuat satu atau lebih model kemungkinan jumlah pajak (designing one or more
possible tax plans)
- Mengevaluasi pelaksanaan perencanaan pajak (evaluating a tax plan)
- Mencari kelemahan dan memperbaiki kembali rencana pajak (debugging the tax
plans)
- Memutakhirkan rencana pajak (updating the tax plan).
3. Stategi Perencanaan Pajak (Tax Planning)
- Tax saving
Tax saving merupakan upaya efisiensi beban pajak melaluipemilihan alternatif
pengenaan pajak dengan tarifyang lebih rendah. Misalnya, perusahaanyang
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
memiliki penghasilan kena pajak lebih dari Rp 100 juta dapat melakukan
perubahan pemberian natura kepada karyawan menjadi tunjangan dalam bentuk
uang.
- Tax avoidance
Tax avoidance merupakan upaya efisiensi beban pajak dengan menghindari
pengenaan pajak melalui transaksi yang bukan merupakan objekpajak. Misalnya,
perusahaanyang masih mengalami kerugian,perlu mengubah tunjangan karyawan
dalam bentuk uang menjadi pemberian naturakarena natura bukan merupakan
objek pajak PPh Pasal 21.
- Menghindari pelanggaran atas peraturan perpajakan
Dengan menguasai peraturan pajakyang berlaku, perusahaan dapatmenghindari
timbulnya sanksi perpajakan berupa:
Sanksi administrasi: denda, bunga, atau kenaikan;
Sanksi pidana: pidana atau kurungan.
- Menunda pembayaran kewajiban pajak
Menunda pembayaran kewajiban pajak tanpa melanggar peraturanyang berlaku
dapat dilakukan melalui penundaan pembayaran PPN. Penundaan ini dilakukan
dengan menunda penerbitan faktur pajak keluaran hingga batas waktuyang
diperkenankan, khususnya untuk penjualankredit. Dalam hal ini, penjual dapat
menerbitkan faktur pajak pada akhirbulan berikutnya setelah bulan penyerahan
barang.
- Mengoptimalkan kredit pajak yang diperkenankan
Wajib Pajak sering kurang memperoleh informasi mengenai pembayaran pajak
yang dapat dikreditkan yang merupakan pajak dibayar dimuka. Misalnya, PPh
Pasal 22 atas pembeliansolar dan/atau impor dan Fiskal Luar Negeri atas perjalanan
dinas pegawai. Dalam kredit pajak PPN (Pajak Masukan), Pengusaha Kena Pajak
dapatmenggunakan dokumenlain yang fungsinya sama dengan faktur pajakstandar,
seperti SPPB atauSurat Perintah Pengiriman Barang (delivery order) yang
dikeluarkan oleh Bulog untuk penyaluran tepung terigu, FNBP (Faktur Nota Bon
Penyerahan) yang dikeluarkan oleh Pertamina untukpenyerahan BBM dan/atau
bukan BBM, dan tanda pembayaran atau kuitansi telepon.
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Rangkuman dari mulai 2 September 2013 18 Oktober 2013
A. Tax Management on Lending and Borrowing Transaction
XT Inc. Loan agreement :
100% Capital 1M P = Rp. 10 M
off baru disetor Rp. 700 jt T = 3 tahun
on share I
A
= 10% p.a
PT. EI I
M
= 6% p.a -BI Rate
Lalu apa langkah yang bisa diambil oleh perusahaan untuk meminimize jumlah pajak yang
harus dibayar atas transaksi peminjaman modal di atas ?
1. Alternatif I :
Interest expense : 10% X Rp. 10 M = Rp. 1M
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
B. Focus Personal Income Tax (PPh 21/26)
1. Tax Planning dan Withholding System
Sasaran Tax planning : a. Tax Burden
b. Compliance costs : - Direct money cost
- Time cost
- Physic cost
- Opportunity cost
Perspektif umum witholding tax :
Pemotong pajak sebagai agen pemerintah
Pengamanan penerimaan pajak
Pelengkap pajak yang dibayar sendiri
Menciptakan nexus
Built-in control
2. Ketentuan PPh Pasal 21
Dasar hukumnya adalah Perdirjen No. PER - 31/PJ/2012 tentang Pedoman
Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal
21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan
Kegiatan Orang Pribadi. Perdirjen No.PER-32/PJ/2009 tentang Bentuk Formulir
Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan atau Pasal 26 dan Bukti
Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan atau Pasal 26.
Pemotong PPh Pasal 21/26 :
1. pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusat
maupun cabang, perwakilan atau unit (perusahaan);
2. bendahara atau pemegang kas pemerintah;
3. dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja;
4. orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan
yang membayar honorarium atau pembayaran lain ke (i) orang pribadi Subjek
Pajak dalam negeri, termasuk jasa tenaga ahli; (ii) orang pribadi dengan status
Subjek Pajak luar negeri; dan (iii) honorarium atau imbalan lain kepada
peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;
5. penyelenggara kegiatan yang membayar Wajib Pajak orang pribadi dalam
negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Objek PPh Pasal 21/26 adalah :
1. penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai tetap, baik berupa
penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur;
2. penghasilan yang diterima atau diperoleh Penerima pensiun secara teratur
berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;
3. penghasilan sehubungan dengan PHK dan penghasilan sehubungan dengan
pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang pesangon, uang
manfaat pensiun, THT atau JHT dan pembayaran lain sejenis;
4. penghasian pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian,
upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara
bulanan;
5. imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee,
dan imbalan sejenisnya dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan;
6. imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku,
uang representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan
nama dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun.
7. termasuk objek pajak PPh Pasal 21/26 :
Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan (benefit in kind) lainnya
yang diberikan oleh:
a. Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final; atau
b. Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan norma
penghitungan khusus (deemed profit).
Bukan objek PPh Pasal 21/26 :
1. pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan
asuransi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,
asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;
2. penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan dalam bentuk apapun yang
diberikan oleh Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang termasuk objek;
3. iuran pensiun, iuran THT atau iuran JHT yang dibayar oleh pemberi kerja;
4. zakat atau sumbangan keagamaan;
5. beasiswa.
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Sedangkan tarif PPh Pasal 21/26 :
1. Tarif Umum Pasal 17 UU PPh (5%; 15%; 25 dan 30%);
2. Tarif Khusus (final):
15% Final bagi pejabat negara, PNS, anggota TNI/Polri, serta pensiunannya
atas penghasilan yang menjadi beban APBN/APBD (PP80/2010);
Tarif Progresif Final (5%, 10%, 15% dan 25%) atas uang pesangon, uang
manfaat pensiun, THT/JHT yang dibayarkan secara sekaligus (PP68/2009).
Tarif PPh Pasal 26 (20%) dengan memperhatikan ketentuan P3B.
Tarif lebih tinggi 20% bagi penerima penghasilan yang tidak ber-NPWP.
3. Tax Planning PPh Pasal 21/26
1. prinsip umum: deductible/taxable
2. beragam peluang natura/kenikmatan
3. fasilitas pajak pegawai: eta vs etb
Prinsip umum antara Emploter dan Exployee :
a. deductible taxable
bagi employer : dapat dikurangkan sebagai penghasilan bruto
bagi employee:merupakan penghasilan bagi penerima dan dipotong PPh 21
contoh : gaji, tunjangan pegawai
b. deductible non taxable
bagi employer : dapat dikurangkan sebagai penghasilan bruto
bagi employee : bukan merupakan penghasilan bagi penerima
contoh : sarana pekerjaan, natura daerah terpencil(yang merupakan
keharusan)
c. non deductable taxable
bagi employer : tidak dapat dikurangkan sebagai penghasilan bruto
bagi employee: merupakan penghasilan bagi penerima dan dipotong PPh
21
contoh : bonus (bagian dari laba)
d. non deductable non taxable
bagi employer : tidak dapat dikurangkan sebagai penghasilan bruto
bagi employee : bukan merupakan penghasilan bagi penerima
contoh : natura/kenikmatan
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Opsi tax saving atas natura/kenikmatan :
a. Gross Method (PPh Pasal 21 ditanggung sendiri oleh karyawan)
b. Net Method (PPh Pasal 21 ditanggung Perusahaan)
c. Gross Up Method (Tunjangan pajak yang digross up)
Berikut beberapa pilihan :
1. Biaya PPh Pasal 21 karyawan, dengan alternatif pilihan:
a. PPh ditanggung pegawai;
b. Memberi Tunjangan PPh; atau
c. PPh ditanggung pemberi kerja.
2. Biaya pengobatan atau jaminan kesehatan karyawan:
a. Mendirikan klinik sendiri atau bekerja sama dengan rumah sakit;
b. Memberikan tunjangan kesehatan; atau
c. Karyawan diikutkan ke perusahaan asuransi.
3. Pembayaran premi asuransi untuk pegawai:
a. Premi ditanggung pemberi kerja;
b. Premi ditanggung pegawai; atau
c. Premi sebagian ditanggung pegawai dan sebagian ditangung pemberi
kerja
4. Pembayaran iuran pensiun atau iuran jaminan hari tua:
a. Iuran ditanggung pemberi kerja;
b. Iuran ditanggung pegawai; atau
c. Iuran sebagian ditanggung pegawai dan sebagian ditangung pemberi
kerja.
5. Biaya tempat tinggal pegawai, dengan memilih:
a. Menyediakan fasilitas rumah; atau
b. Memberi tunjangan perumahan
6. Biaya trasportasi pegawai, dengan memilih:
a. Menyediakan mobil dinas atau fasilitas antar jemput karyawan; atau
b. Memberi tunjangan transportasi.
6. Biaya pakaian kerja pegawai, yaitu dengan melihat sifat kebutuhan pakaian
kerja:
a. Pakaian kerja yang wajib untuk pekerjaan; atau
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
b. Pakaian kerja pada umumnya (yang sifatnya tidak wajib).
7. Biaya makanan dan minuman:
a. Pembelian dan penyediaan makanan dan minuman, atau
b. Pemberian tunjangan makanan dan minuman.
8. Biaya bonus dan jasa produksi:
a. Pembebanan dalam tahun berjalan; atau
b. Pembebanan pada laba ditahan
9. Biaya komunikasi, dengan beberapa pilihan:
a. Menanggung biaya komunikasi (handphone); atau
b. Memberi tunjangan telekomunikasi.
10. Biaya perjalanan dinas, dengan pilihan:
a. Uang saku dipisahkan (ada rincian/pemisahan); atau
b. Lumsump (jumlah total).
Contoh :
I. Gross Method (PPh Pasal 21 ditanggung sendiri oleh karyawan)
Adalah suatu metode pemotongan pajak dimana karyawan menanggung sendiri
jumlah pajak penghasilannya, pada umumnya dipotong langsung dari gaji
karyawan. Perhitungan metode ini adalah hal yang hampir sebagian besar
dilakukan perusahaan karena mungkin tidak terlalu rumit bagi perusahaan atau
mungkin memang cocok dengan keadaan perusahaan (siklus hidup perusahaan).
Contoh Perhitungan Gross Method:
Busiri Asmuruf diterima bekerja di PT. ASI dan mulai bekerja per 1 Januari 2013,
status Busiri Asmuruf adalah K/2. Gaji yang diterima adalah Rp. 4.000.000,-
Berapakah gaji yang diterima Busiri Asmuruf setelah dipotong pajak :
Penghitungan Pajak :
Gaji Sebulan Rp. 4.000.000
Pengurang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.000.000,- (Rp. 200.000,-)
Penghasilan Neto sebulan Rp. 3.800.000,-
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp. 3.800.000,-) Rp. 45.600.000,-
PTKP Setahun
Wajib Pajak Sendiri = Rp. 24.300.000,-
Tambahan WP Kawin = Rp. 2.025.000,-
Tanggungan 2 = Rp. 4.050.000,-
(Rp. 30.375.000)
Penghasilan Kena Pajak Setahun Rp. 15.225.000,-
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Pajak Penghasilan Pasal 21 Setahun 5% x Rp. 15.225.000 Rp. 761.250,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 sebulan Rp. 761.250,- : 12 Rp. 63.438,-
Maka Busiri Asmuruf akan menerima gaji bersih perbulan adalah Rp. 4.000.000,-
dikurang Rp. 63.438,- yaitu sebesar Rp. 3.936.563,-
II. Net Method (PPh Pasal 21 ditanggung Perusahaan)
Merupakan metode pemotongan pajak dimana perusahaan menanggung pajak
karyawannya.
Contoh Perhitungan Net Method:
Busiri Asmuruf diterima bekerja di PT. ASI dan mulai bekerja per 1 Januari 2013,
status Busiri Asmuruf adalah K/2. Gaji yang diterima adalah Rp. 4.000.000,-
Berapakah gaji yang diterima Busiri Asmuruf setelah dipotong pajak apabila PT.
ASI menggunakan Net Method dalam perhitungan perpajakannya :
Penghitungan Pajak :
Gaji Sebulan Rp. 4.000.000
Pengurang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.000.000,- = (Rp. 200.000,-)
Penghasilan Neto sebulan Rp. 3.800.000,-
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp. 3.800.000,-) Rp. 45.600.000,-
PTKP Setahun
Wajib Pajak Sendiri = Rp. 24.300.000,-
Tambahan WP Kawin = Rp. 2.025.000,-
Tanggungan 2 = Rp. 4.050.000,-
(Rp. 30.375.000)
Penghasilan Kena Pajak Setahun Rp. 15.225.000,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 Setahun 5% x Rp. 15.225.000 Rp. 761.250,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 sebulan Rp. 761.250,- : 12 Rp. 63.438,-
Maka Busiri Asmuruf tetap akan menerima gaji bersih perbulan adalah Rp.
4.000.000,- sementara perusahaan menanggung pajaknya sebesar Rp. 63.438,-
dan atas tunjangan ini tidak boleh dibiayakan oleh perusahaan non deductible .
Atas pajak yang ditanggung PT. ASI sesuai dengan Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 8
ayat (1) PER - 31/PJ/2012 tentang Pedoman teknis tatacara pemotongan,
penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sehubungan
dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi, ditegaskan bahwa Pajak
Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi kerja, termasuk yang ditanggung
pemerintah merupakan penerimaan dalam bentuk kenikmatan. Artinya besarnya
PPh Pasal 21 yang ditanggung perusahaan tidak bisa dibiayakan (non
deductible).
III. Gross Up Method (Tunjangan pajak yang digross up)
Suatu metode pemotongan pajak dimana perusahaan memberikan tunjangan pajak
yang jumlahnya sama besar dengan jumlah pajak yang akan dipotong dari
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
karyawan. Berikut ini rumusan gross up, dimana formula gross up PPh Pasal 21
terbagi dalam 4 (empat) lapisan rentang Penghasilan Kena Pajak (PKP) sesuai
dengan tarif pasal 17 UU PPh (Tarif Progresif), yaitu :
PKP s.d Rp. 50.000.000 : PKP X 5%
0.95
PKP di atas Rp. 50.000.000 s.d Rp. 250.000.000,- : (PKP x 15%) - Rp. 5 Juta
0.85
PKP di atas Rp. 250.000.000 s.d Rp. 500.000.000,- : (PKP x 25%) - Rp. 30 Juta
0.75
PKP di atas Rp. 500.000.000 : (PKP x 30%) - Rp. 55 Juta
0.70
Contoh Perhitungan Gross Up Method:
Busiri Asmuruf diterima bekerja di PT. ASI dan mulai bekerja per 1 Januari 2013,
status Busiri Asmuruf adalah K/2. Gaji yang diterima adalah Rp. 4.000.000,-
Berapakah gaji yang diterima Busiri Asmuruf setelah dipotong pajak apabila PT.
ASI menggunakan Net Method dalam perhitungan perpajakannya :
Penghitungan Pajak :
Gaji Sebulan Rp. 4.000.000
Pengurang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.000.000,- = (Rp. 200.000,-)
Penghasilan Neto sebulan Rp. 3.800.000,-
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp. 3.800.000,-) Rp. 45.600.000,-
PTKP Setahun
Wajib Pajak Sendiri = Rp. 24.300.000,-
Tambahan WP Kawin = Rp. 2.025.000,-
Tanggungan 2 = Rp. 4.050.000,-
(Rp. 30.375.000)
Penghasilan Kena Pajak (PKP) Setahun Rp. 15.225.000,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 Setahun 5% x Rp. 15.225.000 Rp. 761.250,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 sebulan Rp. 761.250,- : 12 Rp. 63.438,-
Maka Busiri Asmuruf tetap akan menerima gaji bersih perbulan adalah Rp.
4.000.000,-
Rumus Gross Up (jika tarif pajak masuk Lapisan I)
Tunjangan Pajak PPh Pasal 21 : PKP X 5% = Rp. 801.316,- /tahun
0.95
maka perhitungan menjadi sebagai berikut :
Gaji Sebulan Rp. 4.000.000
Tunjangan PPh Pasal 21 Rp. 66.776,-
Jumlah Penghasilan Bruto Rp. 4.066.776,-
Pengurang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.000.000,- (Rp. 200.000,-)
Penghasilan Neto sebulan Rp. 3.866.776,-
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp. 3.800.000,-) Rp. 46.401.316,-
PTKP Setahun
Wajib Pajak Sendiri = Rp. 24.300.000,-
Tambahan WP Kawin = Rp. 2.025.000,-
Tanggungan 2 = Rp. 4.050.000,-
(Rp. 30.375.000)
Penghasilan Kena Pajak (PKP) Setahun Rp. 16.026.316,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 Setahun 5% x Rp. 16.026.316,- Rp. 801.316,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 sebulan Rp. 761.250,- : 12 Rp. 66.776,-
Pada prinsipnya Gross Up adalah untuk mencari tunjangan pajak yang jumlahnya
sama dengan pajak yang terutang. Karena besarnya tunjangan pajak yang
diberikan perusahaan dimasukan sebagai penghasilan yang dicantumkan dalam
SPT PPh Pasal 21 maka atas seluruh tunjangan pajaknya dapat dibiayakan
(deductible).
Beberapa panduan :
pemberi kerja OP yang penghasilan neto di lapisan tarif tertinggi
(>Rp500 juta) sebaiknya menghindari pemberian imbalan karyawan
dalam bentuk natura atau kenikmatan karena NON-DEDUCTIBLE;
pemberi kerja yang dikenakan pajak final atau norma khusus, sebaiknya
juga menghindari pemberian imbalan bentuk natura atau kenikmatan
karena dari perspektif pegawai TAXABLE. Juga sulit mengkonversi
nilai natura ke dalam mata uang dalam penghitungan PPh Pasal 21
karyawan;
wajib pajak yang mengalami kerugian, sebaiknya memaksimalkan
pemberian imbalan kepada karyawan dalam bentuk natura atau
kenikmatan karena tidak ada potensi beban pajak bagi perusahaan dan
NONTAXABLE;
jika sebagian besar pegawai masih berpenghasilan di bawah PTKP
sebaiknya biaya karyawan dioptimalkan. Pemberi kerja memperoleh
manfaat karena biaya pengurang tinggi (artinya laba bisa ditekan) dan
di pihak pegawai tidak ada beban pajak karena penghasilan masih di
bawah PTKP;
wajib pajak orang pribadi yang menggunakan norma penghitungan
penghasilan neto (NPPN), bisa memaksimalkan imbalan dalam bentuk
natura atau kenikmatan karena NONTAXABLE bagi karyawan.
SIGIT HARNOWO 1106134575
ILMU ADM. FISKAL - UNIVERSITAS INDONESIA
7. Ketentuan PPh Pasal 26
Karakteristik PPh Pasal 26 :
a. Positive List?
b. Tarif 20% atau reduced rate sesuai Tax Treaty.
c. Isu pajak internasional
d. Untuk reduced rate, pastikan ada Certificate of Residence
Objek, DPP dan Pemotong PPh Pasal 26 :
8. Tax Planning PPh Pasal 26
a. gross up
b. equalisasi dengan ppn ln
c. reduce rate (tax treraty) bo
d. transfer pricing dan alp
Penjelasan Gross Up :
1. Pihak asing tidak bersedia dipotong pajak di Indonesia;
2. Tidak diatur dalam kontrak/perjanjian;
3. Reduced rate (P3B) atau 20%?
4. Taxability vs Deductibility;
5. Cost and Benefit.
Contoh :
Pembayaran royalti ke LN sebesar Rp100 juta
Non-gross-up: PPh = 20 juta
Gross Up
DPP = 100/80 x 100 = 125 juta;
PPh Pasal 26 = 20% x 125 = 25 juta;
Deductible Expense = 125 juta (100+25).
Penghematan PPh Badan vs tambahan Pasal 26?