Anda di halaman 1dari 41

Laporan Akhir

Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 1





4.1 UMUM
Perencanaan Revitalisasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun dan TPA Namo
Bintang di Kota Medan disusun dan direncanakan dengan mengacu kepada
Buku Pedoman Teknis Rehabilitasi dan Tata Cara Penutupan TPA dari Kementrian
PU Direktorat J enderal Cipta Karya, yang mana buku pedoman teknis ini disusun
untuk melengkapi pedoman-pedoman teknis yang telah ada sebelumnya yaitu
Pedoman Operasional dan Pemeliharaan TPA Sistem Controlled Landfill dan
Sanitary Landfill, Pedoman Rehabilitasi dan Monitoring Pasca Penutupan TPA, dan
Draft Pedoman Rehabilitasi Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Melalui
Penambangan Landfill.
Mengacu pada Peraturan Pemerintah No 16 Tahun 2005 tentang
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No 21 Tahun 2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan dan Undang Undang No 18
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, secara tegas telah dinyatakan bahwa
metode pemrosesan akhir sampah harus dilakukan secara sanitary landfill untuk
kota besar / metropolitan dan controlled landfill untuk kota sedang / kecil.
Dengan demikian maka TPA yang selama ini masih dioperasikan dengan metode
open dumping harus dihentikan dan harus diambil tindakan terhadap TPA yang
beroperasi dengan sistem open dumping, apakah TPA tersebut direncanakan
akan ditutup secara permanen dan atau akan direvitalisasi sebagai lahan
pengurugan sampah kembali.
Beberapa informasi umum yang perlu dikaji dan dan dievaluasi sebelum TPA
ditutup dan atau direvitalisasi adalah:
1) Mengkaji dan mengevaluasi keberadaan TPA terhadap Rencana Tata
Ruang Wilayah/ Kota (RTRW/K).
DASAR PERENCANAAN TPA
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 2
2) Mengevaluasi sisa kapasitas daya tampung TPA dan umur pemakaian lahan
TPA.
3) Mengevaluasi masa konsesi atau tenggang-waktu perijinan penggunaan
lahan TPA tersebut.
4) Mengevaluasi kondisi fisik dan lingkungan secara umum dan secara spesifik
di area TPA yang meliputi hidrogeologi, geoteknis, klimatologi, dan data
kualitas lingkungan yang meliputi kualitas air permukaan sekitar / perairan
terdekat, dan data ada tidaknya permasalahan lingkungan yang terjadi.
5) Mengevaluasi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi TPA
yang meliputi kondisi demografi, sebaran permukiman dan kondisi sosial
budaya masyarakat sekitar, kondisi kerawanan sosial dan potensi konflik
terhadap keberadaan TPA selama ini.
6) Mengevaluasi aspek teknis operasional dan pemeliharaan TPA yang telah
dilakukan yaitu volume timbulan sampah yang ditangani, tata cara
penghamparan sampah dan teknik penutupan sampah dengan tanah,
sistem pengolahan leachate, sistem penanganan gas, dan ketersediaan
fasilitas penunjang TPA khususnya tentang ketersediaan buffer area, dan
penanganan stabilitas tumpukan sampah dan penanganan kebakaran.


4.2 KRITERIA REVITALISASI TPA
Berdasarkan Buku Pedoman Teknis Rehabilitasi dan Tata Cara Penutupan TPA,
Revitalisasi TPA dapat dilakukan apabila TPA tersebut memenuhi kriteria sebagai
berikut :
a TPA telah menimbulkan masalah lingkungan sehingga rehabilitasi dilakukan
untuk meminimalkan permasalahan lingkungan yang terjadi;
b TPA yang mengalami bencana dan masih layak secara teknis untuk
digunakan sebagai tempat pengurugan sampah;
c Pemerintah Kota / Kabupaten masih sulit mendapatkancalon lahan
pengembangan TPA baru;
d Kondisi TPA masih memungkinkan untuk direhabilitasibaik melalui proses
landfill miningterlebih dahulu atau langsung digunakan kembali sebagai area
pengurugan sampah;
e TPA masih dapat dioperasikan dalam jangka waktu minimal 5 tahun dan atau
yang memiliki luas lebih dari 2 Ha;
f Lokasi TPA memenuhi ketentuan teknis dalam tata cara pemilihan lokasi TPA;
g Peruntukan lahan TPA sesuai dengan rencana peruntukan sebuah kawasan
dan Rencana Tata Ruang Wilayah / Kota (RTRW / K)
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 3
h Kesediaan pengelola dan Pemerintah Daerah untuk mengoperasikan TPA
secara controlled landfill / sanitary landfill dan tanggung jawab
pemeliharaannya;
i Sampah yang ditimbun adalah sampah perkotaan bukan sampah industri
dan rumah sakit yang mengandung B3 (Bahan Beracun Berbahaya);
j Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar lokasi mendukung atau tidak
ada konflik sosial yang berarti dari segi demografi, sebaran permukiman jalan
akses dan kondisi sosial menyangkut kepercayaan masyarakat sekitar;
k Tersedianya biaya untuk perencanaan, investasi, operasi dan pemeliharaan
TPA;
l Ketersediaan rencana dan desain terhadap penggunaan kembali TPA
sebagai area pengurugan sampah.

Rencana dan desain revitalisasi TPA, secara teknis meliputi :
a. Rencana penutupan tanah sementara;
b. Rencana kegiatan penambangan landfill(landfill mining), bila dilakukan;
c. Rencana pemasangan tanggul penahan sampah;
d. Perencanaan konstruksi sistem pelapis dasar;
e. Perencanaan konstruksi pipa leachate;
f. Perencanaan konstruksi pipa gas;
g. Perencanaan pengolahan leachate;
h. Perencanaan revegetasi dan buffer area (green boundary);
i. Perencanaan drainase kawasan TPA ;
j. Monitoring kualitas lingkungan;
k. Perencanaan pasca operasi.


4.3 PROSEDUR REVITALISASI TPA
a Apabila akan dilakukan penambangan TPA, maka kegiatan tersebut
mengacu pada Draft Pedoman Rehabilitasi Tempat Pemrosesan Akhir
Sampah Melalui Penambangan Landfill;
b Bila TPA akan digunakan kembali sebagai tempat pengurugan sampah,
maka harus melalui tahap perencanaan dan desain TPA controlled landfill
atau sanitary landfill;
c Bila TPA telah direncanakan dan didesain sebagai TPA controlled landfill atau
sanitary landfill, maka pengelolaan operasional dan pemeliharaan TPA
tersebut mengacu pada Pedoman Pengoperasian dan Pemeliharaan TPA
Sistem Controlled Landfill dan Sanitary Landfill;
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 4
d Pelaksanaan manajemen operasi TPA meliputi penetapan organisasi dan
manajemen pelaksanaan pembangunan, pelaksanaan operasional dan
pemeliharaan serta monitoring TPA;
e Pengaturan organisasi dan manajemen :
Manajemen yang selama ini bertanggung jawab pada operasi TPA tetap
bertanggung jawab atau setidak-tidaknya terlibat selama periode
rehabilitasi dan pemeliharaan pasca operasi TPA, sampai masa
tenggang-waktu kewajiban pasca-operasi selesai sesuai peraturan;
Tugas manajemen adalah penyiapan dan pelaksanaan rehabilitasi dan
monitoring, mengukur dan mencatat indikator-indikator pemeliharaan,
melaksanakan tindak tanggap darurat bila diperlukan, serta mitigasi
pencegahan dampak negatif pasca-operasi TPA;
Melaksanakan pekerjaan konstruksi, rehabilitasi serta pemantauan sesuai
dengan rencana atau urutan yang berlaku;
f Penggunaan bahan dan pemasangannya dalam kegiatan tersebut di atas
harus didasarkan atas desain, spesifikasi dan SOP yang telah dibuat untuk
rencana tersebut;
g Bila apa yang dipasang tidak sesuai dengan gambar desain rehabilitasi,
maka perlu dibuat kembali as-built drawing disertai informasi spesifikasi teknis
lainnya;
h Seperti halnya program pemeliharaan yang lain, perlu diutamakan kegiatan
pemeliharaan yang bersifat preventif untuk mencegah terjadinya kerusakan
dengan melaksanakan pemeliharaan rutin;
i Informasi lengkap terkait dengan dasar dan kriteria desain TPA terdapat pada
Pedoman Pengoperasian dan Pemeliharaan TPA Sistem Controlled Landfill
dan Sanitary Landfill.


4.4 PETUNJUK TEKNIS CARA PELAKSANAAN REVITALISASI TPA
4.4.1 Pelaksanaan Penambangan Landfill
Pelaksanaan pekerjaan penambangan dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu dimulai dari atas tumpukan sampah yang sudah tidak aktif atau
dapat di tambang dengan cara penggalian dari samping. Pelaksanaan
pekerjaan penambangan dilakukan sesuai dengan Pedoman Rehabilitasi
Tempat Pemrosesan Akhir Sampah melalui Penambangan landfill.
4.4.1.1 tanah penutup minimum
Tanah penutup minimum diperlukan sebagai penutup sementara
menunggu pemanfaatan lahan TPA tersebut untuk kegunaan lain dan
atau menunggu kegiatan landfill mining, atau setelah selesainya kegiatan
landfill miningdan lahan tersebut disiapkan untuk digunakan kembali
sebagai lahan TPApengurugan sampah kembali.

Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 5
Sistem penutup minimum berturut-turut dari bawah ke atas:
Di atas timbunan sampah lama diurug lapisan tanah penutup setebal
30 cm dengan pemadatan
Lapisan karpet kerikil berdiameter 30 50 mm yang berfungsi sebagai
penangkap gas horizontal setebal 20 cm dari timbunan sampah lama,
yang sedapat mungkin berhubungan dengan perpipaan penangkap
gas vertikal
Lapisan tanah liat setebal 20 cm dengan permeabilitas maksimum
sebesar 1 x 10-7 cm/det yang berfungsi sebagai pencegah masuknya
air eksternal / infiltrasi air hujan.
Underdrain air inflitrasi berupa pasir setebal 20 cm.
Bila menurut desain perlu digunakan geotekstil dan sejenisnya,
pemasangan bahan ini hendaknya disesuaikan spesifikasi teknis yang
telah direncanakan dan dilaksanakan oleh kontraktor yang
berpengalaman dalam bidang ini.
Bila penutupan sementara sekurangnya 6 bulan maka ditambahkan
tanah humus setebal 6 cm sebagai top soil tanaman.

4.4.2 Teknik Operasional Penambangan
4.4.2.1 kriteria penambangan
a Operasional TPA
TPA lama penimbunan sampah open dumping yang masih aktif atau
sudah ditutup.

b Sel
Penambangan lahan urug sampah dilakukan setelah sel sampah yang
sudah stabil yang dibuktikan dengan pengujian profil tanah melalui
pemboran.

4.4.2.2 kebutuhan prasarana
a TPA yang sudah ditutup
Dibutuhkan akses jalan masuk ke area galian;
Perlu membangun hanggar mesin, gudang, stock area untuk hasil
galian dan hanggar alat berat yang akan digunakan pada saat
operasi penambangan.
b TPA yang masih aktif
Menggunakan akses jalan masuk yang telah ada, namun tidak boleh
mengganggu kelancaran operasi TPA tersebut;
Lokasi penambangan jangan bersentuhan langsung dengan lokasi
penimbunan aktif;
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 6
J ika memungkinkan, semua akses jalan maupun peralatan terpisah
menempati lokasi yang tersendiri.
Perlu membangun hanggar mesin, gudang, stock area untuk hasil
galian dan hanggar alat berat yang akan digunakan pada saat
operasi penambangan .


4.4.2.3 proses penambangan
Proses penambangan lahan urug merupakan proses reklamasi (Sumber
EPA, 1997) yang dilaksanakan mengikuti prosedur :
Penggalian untuk mengangkat dan memindahkan kandungan dari sel
lahan urug
Penyaringan secara manual atau dengan peralatan mekanis dengan
mesin trommel untuk memisahkan kandungan kompos, plastik,
logam,kertas
Penggunaan material hasil penambangan untuk material penutup
atau pengisi setelah tanah yang digali dan dilakukan penyaringan


Gambar 4.1 Diagram Proses Penambangan Lahan Urug



4.4.2.4 teknis penggalian
a. Umum
Teknis penggalian TPA harus mengikuti kaidah-kaidah penambangan
umum yaitu :
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 7
1. Penambangan sebaiknya searah dengan arah angin dominan yang
terjadi dilokasi penambangan ,hal ini mencegah operator alat berat
menghisap gas metan yang mungkin masih ada pada lokasi galian
2. Penggalian sebaiknya tidak menimbulkan cekungan cekungan yang
akan berakibat terjadinya genangan dilokasi galian
3. Penggalian sebaiknya mengikuti kaidah-kaidah kestabilan lereng ,
dengan membuat kemiringan maksimum 1:1 dengan membentuk
terasering setiap 5 meter dalam penggalian
4. Penggalian akan lebih effisien dekat dengan jalan operasi sewaktu
pelaksanaan open dumping


Teknis penambangan berdasar karakteristik lokasi TPA dibedakan atas 3
tipe yaitu TPA Cekungan,TPA Datar dan TPA Tebing.

b. Teknis Penambangan Berdasar Tipe TPA
1) Tipe TPA Cekungan
Penamaan ini didasarkan kondisi eksisting atau kondisi lokasi TPA sebelum
dijadikan tempat pemrosesan akhir sampah, apabila topografi awal
berbentuk cekungan atau lekukan walaupun pada saat ini kondisi akhir
sudah menjadi seperti datar maka pelaksanaan penambangan harus
memperhatikan kaidah sebagai berikut:
Penambangan sebaiknya dilakukan pada lokasi yang searah dengan
tiupan angin terbanyak pada lokasi tersebut, agar pada saat operasi
alat berat operator tidak menghisap gas yang terjebak di
dalamtimbunan sampah.
Penggalian sebaiknya dimulai dari lokasi yang telahlama ditutup,
perhatikan kondisi tebing sekitar, jangan sampai saat kita menggali
terbentuk kondisi tebing rawan terhadap longsor.
Apabila ada lokasi lama yang dekat dengan jalan operasi yang
ditinggalkan sebaiknya kita memulai penambangan di lokasi tersebut,
hal ini akan mengakibatkan aspek ekonomis akan meningkat
Sebaiknya penambangan tidak meninggalkan lokasi galian yang
berbahaya dengan cara penambangan dilakukan per lapis,
maksimum lapisan 5 meter, setiap lapisan dibuat datar 5 meter baru
dilanjutkan galian kedalaman selanjutnya







Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 8




Gbr 4.2 Penggalian dari Samping Tumpukan Sampah Yang Tidak Terlalu
Tinggi



Gbr 4.3 Penggalian dari Atas Tumpukan Sampah Sebaiknya Penggalian
Perlayer



2) Tipe TPA Datar
Apabila topografi eksisting TPA mempunyai kontur rata, biasanya
pelaksanaan awal penimbunan sampah dengan cara melakukan galian
tanah dasar, sedalam maksimum diatas muka air tanah dan hasil akhir
dari tumpukan sampah menjadi membukit. Pelaksanaan pekerjaan
penambangan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dimulai dari atas
tumpukan sampah yang sudah tidak aktif atau dapat di tambang
dengan cara penggalian dari samping.
Penggalian dari atas adalah cara yang penambangan paling aman
karena alat berat terbebas dari jebakan gas dan pekerjaan galian bebas
dari pekerjaan pengamanan tebing.
Penggalian dari samping harus menjaga kaidah kaidah penggalian
sebagaimana TPA cekungan antara lain penambangan jangan sampai
membentuk tebing terlalu curam sehingga terbebas dari bahaya longsor,
Akhir dari galian penambangan TPA datar dapat berupa lokasi galian
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 9
pertama saat awal pengoperasian TPA. Sehingga lokasi penambangan
dapat digunakan kembali sebagai TPA baru.



3) Tipe TPA Tebing
Banyak sekali TPA di Indonesia berupa TPA tebing karena biaya operasi
murah dan umur TPA dapat sangat panjang, karena biasanya tebing
yang dijadikan tempat pembuangan ini sangat dalam dan jauh dari
pemukiman.
TPA tebing rawan terhadap bahaya longsor, contohnya TPA Leuwigajah.
Biasanya TPA tebing jarang dioperasikan dengan cara controlled landfill
maupun sanitary landfill, sehingga tebing yang tadinya sudah berkontur
rapat, semakin menjadi sangat curam. TPA tebing ini merupakan TPA
skala prioritas untuk di lakukan penambangan agar dapat dengan cepat
mengatasi bahaya kelongsoran.
Pelaksanaan penambangan TPA tebing tidak boleh dilakukan
penambangan dari bawah, sebaiknya awal pelaksanaan penambangan
adalah pembentukan kemiringan tebing lalu dilanjutkan penggalian dari
atas tumpukan. Lakukan penambangan bergerak dari pinggir tebing
agar tidakterbentuk lobang bekas galian, karena lubang galian akan
menyebabkan air hujan tertampung dan dapat mengakibatkan
bencana longsor yang hebat.
Penambangan yang tepat sesuai dengan kaidah kaidah penggalian
tambang maka secara tidak langsung kita menjaga kestabilan alam
dengan demikian alam akan memberikan kepastian keamanan bagi
penambangnya. Sebaiknya dalam melaksanakan penambangan TPA
harus memperhatikan kemiringan lahan akibat galian agar air permukaan
dapat mengalir dengan lancar. Air permukaan adalah musuh utama
dalam pelaksanaan penggalian.


4.4.2.5 peralatan dan bangunan penunjang
1. Alat produksi utama
a. Excavator adalah alat untuk menggali tanah dan memuat truk,
membalik material timbunan dan memindahkan pada conveyor
beltpada mesin pemilah, alat ini juga efektif dalam menyiapkan
cadangan tanah penutup.
Excavator terdapat berbagai jenis dengan kapasitas produksi yang
berbeda antara lain Excavator kapasitas bucket 0.40 m
3
, 0,60 m
3
, 1,20
m
3
dan 1,60 m
3
. Kebutuhan excavator disesuaikan dengan volume
mesin ayakan yang digunakan sehingga penggunaan alat berat
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 10
dapat efektif dan efisien. Selain penghitungan jumlah excavator
yang digunakan, pemilihan bucket sangat menentukan kemampuan
alat tersebut dan maksimal kemampuan hasil produksinya. Contoh
untuk excavatortipe kecil jangan memaksakan menggunakan
bucket besar sehingga melampaui kemampuan alat-alat hidrauliknya
sehingga alat sering mengalami kerusakan.
b Wheel Loader adalah alat berat yang mempunyai bucket yang
dapatbergerak dengan lincah dan cepat untuk memindahlan
tumpukan sampah, alat ini dapat menggantikan pekerjaan dump
truck. Wheel loader mempunyai tipe berbeda sesuai dengan
kapasitas bucket. Wheel loader akan optimal kapasitasnya apabila
jarak antara quary dan pabrik tidak terlalu jauh, sehingga pergerakan
alat ini dalam memuat beban tidak terlalu lama. Model wheel
loaderdapat digambarkan disini sebagai berikut .WL 910, 920, 930 ,
950B, sampai 992 C. Masing masing model ini mempunyai kekuatan,
mesin dan kapasitas bucket akan membesar sesuai dengan naiknya
angka model dari alat tersebut.
Apabila jarak antara Quary dan lokasi penambangan lebih dari 500
meter maka penggunaan wheel loader tidak efektif, penggunaan
dump truck akan lebih efisien dan lebih cepat geraknya, hal ini dapat
dihitung dari kedua alat tersebut mana yang lebih efektif dan efisien.
dump truck menghabiskan waktu dalam loading dan unloading
mempunyai kapasitas muat lebih besar, sedangkan wheel loader
loading danunloading sangat cepat namun kecepatan dan
kapasitas muat relatif lebih kecil.
c Dump truck
Dump truck adalah alat berat pengangkut dengan mobilisasi cepat
sehingga jarak merupakan kriteria pertama dalam memutuskan kita
memakai alat ini. Alat ini juga mempunyai bermacam macam tipe ,
sesuai dengan merek pabrikannya Penggunaan tipe disesuaikan
dengan bahan apa yang diangkut dan berapa jumlah volume yang
akan dipindah tempatkan.
d Buldozer
Dalam pekerjaan penambangan lahan urug, Buldozer dibutuhkan
untuk mendorong tumpukan sampah yang tersebar menjadi
tumpukan pada suatu tempat yang diinginkan pemakaian bulldozer
(Track Type Tractor) harus melihat kondisi bahan yang harus didorong
sehingga kemampuan maksimum alat dapat dicapai.
Buldozermempunyai banyak tipe antara lain D3B, D4E, D6D, D9 dan
D10. Tipe ini didasarkan pada kekuatan mesin yang dibawanya dan
besarnya kapasitas blade ( pisau dorong ) dari masing-masing
buldozer. Pemakaian buldozer juga harus memperhatikan track atau
alat geraknya , sehingga daya dorong alat tidak jadi berkurang
akibat terjadinya slip.
e Ban berjalan ( belt conveyor)
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 11
Belt Conveyor adalah alat bantu bergeraknya muatan yang akan
dipilah. Kapasitas alat ini tergantung pada berapa lebar beltyang
dipakai berapa jauh pemindahan barang penambangan dan
kecepatan dari perputaran beltnya.
Conveyor belt dipakai sebagai alat pemilah antara sampah yang
tidak dapat dipotong dengan sampah yang akan dirajah, pekerjaan
ini dilakukan dengan cara manual menggunakan tenaga manusia.
Pemilahan ini dapat dikerjakan olah alat ayakan mekanis berupa
trommel yang diberi ayakan dan dapat berputar sehingga sampah
yang masuk kedalam tromel akan dipisahkan sesuai dengan besar
butirannya
f Trommel
Trommel adalah alat pengayak mekanis untuk memilah butiran
sampah yang telah menjadi tanah dan bercampur dengan zat an
organik yang sangat banyak. Kapasitas tromel tergantung pada
banyaknya sampah yang diayak yang digunakan dan kecepatan
putaran yang digunakan. Hasil saringan akan terpisah menjadi
tumpukan-tumpukan butiran berbeda, hasil
saringan ini dapat ditransfer memakai conveyor beltmenuju
pencampuran tanah dengan zat lain sehingga kompos yang
dihasilkan telah sesuai dengan baku mutu yang disyaratkan.
Tipe ayakan yang digunakan tergantung pada penggunaan
material. Umunya diayak berdasarkan 3 fraksi :
a. Fraksi Organik/ Kompos
b. Fraksi An Organik
c. Fraksi Residu
Ukuran mesh sesuai kebutuhan:
a. fraksi organik / kompos (KW1) ukuran mesh <6 mm
b. fraksi kompos kasar/ residu, (KW2) ukuran mesh <50 mm
c. fraksi an organik, ukuran mesh >50 mm.
J ika digunakan sebagai tanah penutup landfill, digunakan screen
trommel 6.25 mm Ukuran mesh 2.5 mm jika digunakan sebagai
material tanah urug konstruksi, kandungan tanah harus cukup tinggi
sehingga mesh penyaring harus digunakan untuk memisahkan metal,
plastik, kaca dan kertas. Rata-rata jumlah fraksi tanah 50-60%
g Sprayer untuk pengendali bau adalah tractor dengan roda dengan
tutup dan lengan yang dapat bergerak dan tangki penampung
bahan kimia untuk mengurangi bau dari sampah.
h Mesin pengisi karung
i Alat timbang

2. Bangunan Penunjang
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 12
a. Sarana J alan dan drainase
b. Hanggar Alat berat
c. Hanggar mesin produksi
d. Gudang produksi dan stock area
e. J embatan timbang
f. Tempat cuci truk

4.4.3 Pemanfaatan Hasil Penambangan
4.4.3.1 pemanfaatan tapak
Tapak penambangan sampah dapat digunakan sebagai lokasi Tempat
Pemrosesan
Akhir Sampah sistem Sanitary Landfill ataucontroleld landfill, atau dapat
dimanfaatkan sebagai lahan rekreasi dan lain-lain.

4.4.3.2 Pemanfaatan material hasil penambangan
Hasil material penambangan berupa fraksi tanah ataukompos yang dapat
digunakan untuk :
Tanah penutup sistem penimbunan sampah terkendali (kompos dapat
berfungsi sebagai methane oxidation layer, kriteria ketebalan tanah
120 cm)
Media untuk tumbuhnya biofilter dalam proses pengolahan leachate
Pupuk penghijauan tanaman sekitar TPA
Pupuk untuk penghijauan di TPA dan tanaman non pangan
Media untuk tumbuhnya tanaman biofilter pada proses pengolahan
leachate
Hasil pengelolaan pemosesan material an organik
Penggunaan limbah hasil penambangan dapat diolah kembali
Sampah yang tidak dapat lagi didaur ulang di timbunkembali ke
dalam lokasi penimbunan sampah terkendali (sanitary atau controlled
landfill).
J ika terdapat instalasi sampah untuk energi, sampahan-organik yang
mudah terbakar disatukan instalasi sampah untuk energi tersebut,
sedang sampah an organik residu ditimbun ke dalam landfill.



Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 13

4.4.4 Pemanfaatan Kembali Untuk Area Pengurugan Sampah
4.4.4.1 pengukuran fisik lokasi
Pekerjaan rehabilitasi ini membutuhkan data fisik yang harus diukur secara
akurat sesuai dengan peruntukan lokasi TPA yang telah ditutup ini. Data fisik
kondisi lahan yang dibutuhkan adalah:
a Melakukan pengukuran topografi dari seluruh area dalam lokasi
tersebut, agar rencana rehabilitasi lokasi dapat tergambar secara baik.
Dengan rujukan data topografi awal sebelum TPA ini beroperasi, akan
diperoleh besaran timbunan / urugan sampah selama TPA ini
beroperasi. Pengukuran topografi tersebut dilakukan dengan
perbedaan interval minimum 0,5 m meter dengan informasi yang jelas
tentang:
Batas-batas tanah
Slope dan ketinggian urugan/timbunan sampah
Lokasi titik sarana dan prasarana : jalan operasi, IPL, pengendali
gas dan sebagainya
Area buffer
Sumber-sumber air yang berbatasan
J alan penghubung dari jalan umum dari lokasi tersebut.
b Mengumpulkan informasi ulang tentang hidrogeologis dan geoteknis
yang akurat dan mewakili secara baik seluruh lokasi tersebut, meliputi:
Tanah : kedalaman, tekstur, struktur, porositas, permeabilitas dan
kelembaban
Bedrock: kedalaman, jenis dan kehadiran fraktur
Air tanah di daerah lokasi : kedalaman rata-rata, kemiringan hidrolis,
arah aliran, kualitas dan penggunaan
Badan air yang berbatasan langsung dengan lokasi : sifat,
pemanfaatan dan kualitas
Data klimatologis : presipitasi, evaporasi, temperatur dan arah angin.

4.4.4.2 Tanah penutup final
a Fungsi utama sistem penutupan timbunan sampah pada TPA yang
akan direhabilitasi adalah :
Menjamin integritasi timbunan sampah dalam jangka panjang;
Menjamin tumbuhnya tanaman atau penggunaan site lainnya;
Menjamin stabilitas kemiringan (slope) dalam kondisi beban statis
dan dinamis.
b Penutupan sampah dengan tanah serta proses pemadatannya
dilakukan secara bertahap lapis-perlapis dan memperhatikan lansekap
yang ada dan lansekap yang diinginkan bagi peruntukannya.
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 14
c Lapisan tanah penutup hendaknya :
Tidak tergerus air hujan, tergerus akibat operasi rutin dan operasi alat
berat yang lalu di atasnya
Mempunyai kemiringan menuju titik saluran drainase.
d Sistem penutup akhir mengacu pada standar penutup final pada
sanitary landfill, yaitu berturut-turut dari bawah ke atas:
Di atas timbunan sampah lama diurug lapisan tanah penutup
setebal 30 cm dengan pemadatan
Lapisan karpet kerikil berdiameter 30 70 mm sebagai penangkap
gas horizontal setebal 20 cm, yang berhubungan dengan perpipaan
penangkap gas vertikal
Lapisan tanah liat setebal 20 cm dengan permeabilitas maksimum
sebesar 1 x 10-7 cm/det
Lapisan karpet kerikil under-drain penangkap air infiltrasi terdiri dari
media kerikil berdiameter 30 70 mm setebal 20 cm, menuju sistem
drainase. Bilamana diperlukan, di atasnya dipasang lapisan
geotekstil untuk mencegah masuknya tanah yang berada di
atasnya
Lapisan tanah humus setebal minimum 60 cm.
e Bila menurut desain perlu digunakan geotekstil dan sejenisnya,
pemasangan bahan ini hendaknya disesuaikan spesifikasi teknis yang
telah direncanakan dan dilaksanakan oleh kontraktor yang
berpengalaman dalam bidang ini.
f Tanah penutup akhir hendaknya mempunyai grading dengan
kemiringan maksimum 1:3 untuk menghindari terjadinya erosi.

4.4.4.3 Konstruksi underdrain pengumpul leachate
Konstruksi sistem under-drain direncanakan sesuai dengan desain yang
dibuat yaitu dapat berupa pola tulang ikan atau pola lurus. Kemiringan
saluran pengumpul leachate antara 1 2 % dengan pengaliran secara
gravitasi menuju instalasi pengolah leachate (IPAL)
Sistem penangkap leachate diarahkan menuju pipa berdiameter
minimum 200 mm, atau saluran pengumpul leachate. Pada sanitary
landfill, pertemuan antar pipa penangkap atau antara pipa penangkap
dengan pipa pengumpul dibuat bak kontrol (junction-box), yang
dihubungkan sistem ventilisasi vertikal penangkap atau pengumpul gas.

Gbr 4.4 Pertemuan Pipa Leachate
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 15




4.4.4.4 Pengendalian leachate
a Bila pada TPA yang akan direhabilitasi belum terdapat IPAL dan efluen
dari leachate pada TPA tesebut dianggap belum stabil, maka
diperlukan pengkajian dan desain khusus untuk membangun IPAL yang
sesuai.
b Bila pada lokasi belum tersedia sistem pengumpul dan penangkap
leachate, maka penangkapan leachate perlu dibangun di bagian
terbawah dari timbunan tersebut.
c Lakukan evaluasi terhadap as-built drawing, spesifikasi teknik jaringan
under-drain pengumpul leachate, sistem pengumpul leachate, bak
kontrol dan bak penampung, pipa inlet ke instalasi serta instalasi
pengolah leachate (IPAL) agar sistem dapat menyesuaikan dengan
kondisi yang baru.
d Pengolahan leachate TPA lama dirancang untuk TPA yang baru, dan
dapat digunakan juga pada saat TPA ditutup. Namun karena
kemungkinan kualitas dan kuantitas leachate berbeda dibandingkan
pada saat TPA ini beroperasi, maka kemungkinan beban influen tidak
sesuai lagi, yang dapat menyebabkan gangguan pada unit pengolah
biologis. Untuk itu dibutuhkan koreksi atau modifikasi dari unit IPAL ini.
e Sebelum tersedianya baku-mutu efluen leachate dari sebuah TPA
sampah kota, maka efluen IPAL leachate harus memenuhi persyaratan
seperti tercantum dalam Tabel 4.7 berikut.



Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 16
Tabel 4.1 Baku Mutu Efluen IPAL




f Kolam penampung dan pengolah leachate seringkali mengalami
pendangkalan akibat endapan suspensi. Hal ini akan menyebabkan
semakin kecilnya volume efektif kolam yang berarti semakin
berkurangnya waktu tinggal, yang akan berakibat pada rendahnya
efisiensi pengolahan yang berlangsung. Untuk itu, perlu diperhatikan
agar kedalaman efektif kolam tetap terjaga.
g Lumpur endapan yang mulai tinggi melampaui dasar efektif kolam
harus segera dikeluarkan. Gunakan excavator dalam pengeluaran
lumpur ini. Dalam beberapa hal dimana ukuran kolam tidak terlalu
besar, dapat digunakan truk tinja untuk menyedot lumpur yang
terkumpul yang selanjutnya dapat dibiarkan mengering dan
dimanfaatkan sebagai tanah penutup sampah.
h Leachate dapat keluar dari timbunan sampah lama secara lateral.
Dibutuhkan sistem penangkap, misalnya dengan menggali sisi miring
timbunan sampah yang mengeluarkan leachate sekitar 0,5 m ke
dalam, lalu ditangkap dengan pipa 100 mm, diarahkan menuju
drainase pengumpul untuk dialirkan ke IPAL.

4.4.4.5 Pengendalian gas
a Gas yang ditimbulkan dari proses degradasi di TPA harus dikontrol agar
tidak mengganggu lingkungan, khususnya orang yang akan
menggunakan fasilitas ini, serta penduduk sekitarnya.
b Gas hasil biodegradasi tersebut dicegah mengalir secara lateral dari
lokasi TPA lama menuju daerah sekitarnya.
c Pada TPA lama yang mengalirkan gasbio ke udara terbuka melalui
ventilasi sistem penangkap gas, diharuskan untuk membakar
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 17
gastersebut pada gas-flare. Sangat dianjurkan menangkap gasbio
tersebut untuk dimanfaatkan.
d Pada TPA lama yang belum dilengkapi dengan sistem penangkap gas,
gasbio harus dievakuasi ke luar dengan membuat sistem penangkap
gas vertikal, dengan cara:
Membuat sumuran berdiameter minimum 50 cm berisi kerikil
diameter 30 50 mm dengan melakukan pemboran vertikal,
sedapat mungkin sampai kedalaman 1 2 m di atas dasar landfill
lama
Memasang pipa PVC diameter minimum 75 mm, paling tidak 1 m
sebelum akhir sumuran tersebut di atas, sebagai upaya pengumpul
gasbio. Penangkap gas untuk kebutuhan recovery diuraikan pada
bagian (e).
Mengalirkan gas yang tertangkap ke udara terbuka melalui ventilasi
tersebut, sedemikian sehingga tidak berakumulasi yang dapat
menimbulkan ledakan atau bahaya toksik lainnya. Dianjurkan
menggunakan gas-flare
Konstruksi pipa gas pada TPA yang direvitalisasi harus dimulai dari
lapisan sampah eksisting. J adi pada TPA yang direvitalisasiterdapat 2
pipa gas, masing masing adalah pipa dari lapisan sampah eksisting
dan dari persambungan pipa leachate. Pipa gas berlubang dari HDPE
diameter 200mm. Kedua pipa gas berada dalam lubang sumuran.
Gambar detail konstruksi pipa gas ada pada Gambar 4. di bawah ini.













Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 18
Gbr 4.5 Pemasangan Pipa Gas Pada Timbunan Sampah Eksisting

e Sistem penangkap gas untuk recovery dapat berupa :
Ventilasi vertikal : merupakan ventilasi yang mengarahkan dan
mengalirkan gas yang terbentuk ke atas
Ventilasi akhir : merupakan ventilasi yang dibangun pada timbunan
akhir yang dihubungkan dengan sarana pengumpul gas untuk
dimanfaatkan lebih lanjut. Perlu dipahami bahwa potensi gas pada
TPA lama ini sudah mengecil sehingga mungkin tidak mampu untuk
digunakan dalam operasi rutin.
f Timbulan gas harus dimonitor dan dikontrol sesuai dengan perkiraan
umurnya.
g Beberapa kriteria desain perpipaan vertikal pipa biogas, yaitu :
Pipa gas dengan casing PVC atau PE : 100 - 150 mm
Lubang bor berisi kerikil : 50 - 100 cm
Perforasi : 8 - 12 mm
Kedalaman : 80 % , J arak atara ventilasi vertikal : 25 50 m.

4.4.4.6 rehabilitasi dan konstruksi sistem drainase
a Drainase pada TPA lama berfungsi untuk mengendalikan aliran
limpasan air hujan dengan tujuan memperkecil aliran yang masuk ke
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 19
timbunan sampah. Semakin kecil rembesan air hujan yang masuk ke
timbunan sampah, akan semakin kecil pula debit leachate yang
dihasilkan.
b Drainase utama dibangun di sekeliling blok atau zona penimbunan.
Drainase dapat berfungsi sebagai penangkap aliran limpasan air hujan
yang jatuh di atas timbunan sampah tersebut. Permukaan tanah
penutup harus dijaga kemiringannya mengarah pada saluran
drainase.
c Lakukan pemeriksaan rutin setiap minggu khususnya pada musim
hujan, untuk menjaga tidak terjadi kerusakan saluran yang serius
d Saluran drainase dipelihara dari tanaman rumput atau semak yang
mudah sekali tumbuh akibat tertinggalnya endapan tanah hasil erosi
tanah penutup. TPA di daerah bertopografi perbukitan akan sering
mengalami erosi akibat aliran air yang deras.
e Lapisan drainase dari pasangan semen yang retak atau pecah perlu
segera diperbaiki agar tidak mudah lepas oleh erosi air, sementara
saluran tanah yang berubah profilnya akibat erosi perlu segera
dikembalikan ke dimensi semula agar dapat berfungsi mengalirkan air
dengan baik.
Dan untuk TPA Terjun dan TPA Namo Bintang terkait dengan rencana revitalisasi
kembali, kajian atau studi terhadap TPA eksisting telah dilaksanakan pada Tahun
2010 oleh Konsultan CV Citra Mandiri, yang mana hasil kajian, arahan dan
rekomendasi dari studi tersebut akan menjadi salah satu bahan masukan atau
dasar dalam penyusunan DED Revitalisasi TPA ini.

4.5 REVIEW HASIL STUDI KELAYAKAN TPA KOTA MEDAN
4.5.1 Hasil Evaluasi Lokasi TPA Sampah
Lokasi TPA sampah yang ada saat ini dievaluasi berdasarkan SNl 03-
3241-1994 dengan hasil seperti terlihat pada Tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.2 Hasil Evaluasi TPA Eksisting

Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 20


Sumber Data : Laporan Akhir Studi Kelayakan Lokasi TPA Kota Medan Tahun 2010


4.5.2 Hasil Proyeksi Timbulan Sampah
Proyeksi timbulan sampah dihitung per kelurahan berdasarkan
kepadatan penduduk di tiap kelurahan. Kepadatan penduduk dihitung
menggunakan kepadatan penduduk netto yaitu jumlah penduduk per
luas wilayah.

Tabel 4.3 Dasar Perhitungan Proyeksi Sampah Kota Medan


Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 21

Tabel 4.4
Hasil Perhitungan Proyeksi Timbulan Sampah
Kota Medan Tahun 2015

Sumber Data : Lap. Akhir Studi Kelayakan Lokasi TPA, 2010
4.5.3 Hasil Proyeksi Kebutuhan Lahan TPA
Kebutuhan lahan dihitung dengan formula eksperimental, yaitu dengan
rumusan sebagai berikut :
A = 22 x V x N
d x 145.200
V = 1,28 [ R/D x ( 1 - P/200) ] + Cv

Keterangan : A = luas tanah yang dibutuhkan (Ha/thn)
V = volume sampah yang dihasilkan (m
3
/kap/thn)
N = jumlah Penduduk (jiwa)
d = tebal setelah pemadatan (m)
R = volume sampah yang dihasilkan (kg/kap/thn)
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 22
D = densitas sebelum dipadatkan (kg/ m
3
)
P = prosentase pengurangan volume (50 70%)
Cv = volume dari bahan penutup (m
3
/kap/thn)

Untuk Cv = 20 % (1 bagian penutup, 4 bagian sampah)
V = 1,48 [ R/D x ( 1 - P/100) ]


Tabel 4.5 Proyeksi Kebutuhan Lahan TPA Sampai Tahun 2015

Sumber Data : Laporan Akhir Studi Kelayakan Lokasi TPA Kota Medan Tahun 2010

Berdasarkan hasil proyeksi kebutuhan lahan TPA tersebut diatas,
berdasarkan luasan lahan yang tersedia di TPA Terjun dan TPA Namo
Bintang masih dapat menjangkau 5 tahun kedepan (hingga 2015), tetapi
dengan sudah terpenuhinya areal yang ada dengan tirnbunan sampah,
rnaka kapasitas TPA tersebut masih pedu ditelaah dengan perencanaan
ketinggian maksimurn tirnbunan sarnpah yang dapat dilakukan secara
arnan, sesuai dengan kaidah-kaidah teknis yang ada, serta kondisi
pembanding pada TPA yang sudah ada.
Cakupan pelayanan sampah saat ini berkisar 2.100 m3/ hari sampah
terangkut ke TPA, kendala yang dihadapi saat ini dalam peningkatan
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 23
cakupan pelayanan adalah terbatasnya kapasitas area TPA sampah
yang ada.

4.5.4 Rencana Peningkatan Kualitas TPA Terjun
4.5.4.1 acuan normatif
Berdasarkan Undang-Undang Republik lndonesia No.18 Tahun 2008
Tentang Pengelolaan Sampah, antara lain disebutkan :
Bahwa pengelolaan sampah selama ini belum sesuai dengan
metode dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan
lingkungan sehingga menimbulkan dampak negative terhadap
kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Tempat pemrosesan akhir adalah tempat untuk memproses dan
mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi
manusia dan lingkungan.
Pasal 4 : Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan
sampah sebagai sumber daya.
Pasal 44; (2) Pemerintah Daerah harus menutup tempat pemrosesan
akhir sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka
paling lama 5 (lima) tahun terhitung sejak berlakunya Undang-
Undang ini.

Berdasarkan hasil evaluasi kondisi TPA Terjun, dan mengacu pada
acuan normatif tersebut di atas, maka diperlukan revitalisasi TPA Terjun
sebagai berikut :

4.5.4.2 rencana kapasitas TPA
Berdasarkan peta topografi timbunan sampah pada areal TPA Terjun,
direncanakan zona penimbunan sampah seperti pada gambar 4.1,
peningkatan kapasitas TPA Terjun direncanakan dengan meningkatkan
ketinggian timbunan sampah, untuk itu diperlukan perencanaan jalan
operasional bagi truk-truk sampah yang akan membuang sampah
pada zona, blok dan sel-sel yang telah ditentukan.
Adapun kriteria yang digunakan dalam perencanaan penimbunan
sampah, adalah :

Kemiringan/ slope timbunan sampah 5 :1
Ketinggian timbunan sampah padat per lapis 2,O m

Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 24

Berdasarkan perencanaan tersebut di atas, diperoleh peningkatan
kapasitas TPA Terjun, sebagaimana pada Tabel 4.6 di bawah ini.

Tabel 4.6 Rencana Peningkatan Kapasitas TPA Terjun

Sumber Data : Laporan Akhir Studi Kelayakan Lokasi TPA Kota Medan Tahun 2010











Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 25




Gambar 4.6 Rencana Peningkatan Kapasitas TPA Terjun


4.5.4.3 prasarana dan sarana TPA
1. Jalan Masuk dan Jalan Operasi
Prasarana jalan masuk yang ada sudah diaspal hotmix dengan lebar
badan jalan sekitar 5 m, dengan panjang sekitar 800 m, prasarana jalan
masuk ini khusus ke TPA Terjun, tetapi juga dimanfaatkan sebagai
prasarana jalan untuk permukiman yang berkembang sekitar jalan
tersebut.
Prasarana jalan operasional TPA direncanakan dibangun di atas
timbunan sampah dengan konstruksi timbunan batu kali pada pondasi
dan lapisan sirtu {tanah pasir batu} diatasnya dengan ketebalan total
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 26
40 cm (ketebalan minimum perkerasan untuk kategori tanah organic
berdasarkan "Konstruksi J alan Raya, lr. Djoko U.5, Badan Penerbit
Pekerjaan Umum, 1987
Untuk meningkatkan kapasitas TPA ini kedepan, diperlukan pembuatan
jalan operasional yang ada sesuai dengan rencana zona, blok tahap l,ll
dan lll, rencana penimbunan sampah dengan ketinggian timbunan
sampah maksimum +22,8 m, dengan batasan kelandaian jalan
operasional maksimum 10% {Standard Geometric, Ditjen Bina Marga ,
1997).

2. Kantor dan Pos Jaga
Kantor operasionail pos jaga sudah tersedia, dibangun tahun 1992
berfungsi sebagai tempat penyimpanan data dan kegiatan
operasional pengelolaan TPA. Pada kantor operasional ini terdapat
fasilitas sumber air berupa sumur bor yang dibangun tahun 1993
dengan kedalaman 70 m.

3. Pagar dan Pintu Gerbang
Batas tanah TPA Terjun masih belum diberi pagar dan pintu gerbang,
dengan lebih tingginya timbunan sampah dari areal sekitarnya, maka
pagar sebaiknya berupa tanaman yang ditanam pada tanah timbun
yang menjadi batas areal saat ini, yang juga berfungsi sebagai berikut:
Menahan aliran air lindil air hujan agar tidak memasuki areal milik
masyarakat
Sebagai jalur inspeksi saluran drainase yang dibangun
disampingnya.

TPA Terjun saat ini rnasih belum memiliki pintu gerbang, kedepan
diperlukan pintu gerbang dengan jenis portal sebagai pintu masuk ke
areal TPA.

4. Garasi Alat Berat
TPA Terjun saat ini masih belum memiliki garasi alat berat, kedepan
diperlukan garasi alat berat, yang berfungsi sekaligus sebagai
bangunan workshop alat berat.

5. Sarana Pencucian Kendaraan
Pada TPA Terjun sudah terdapat fasilitas pencucian truk dan alat
berat, berupa sumur bor yang baru dibangun tahun 2010.

6. Pencatatan Sampah / Jembatan Timbang
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 27
Pada TPA Terjun sudah tersedia jembatan timbang yang dibangun tahun
2009


7. Alat Berat
Di TPA Terjun sudah tersedia alat berat yaitu : Buldozer 2 unit, Wheel
Loader 2 unit dan Excavator 1 unit, dimana perigoperasian bulldozer/
wheel loader dilakukan secara bergantian.

8. Sistem Drainase TPA
Fungsi utama sistem drainase pada TPA sampah adalah untuk
mencegah limpasan air permukaan/ hujan (run off) dari luar areal TPA
masuk ke TPA, karena areal TPA Terjun yang sudah tertimbun sampah
lebih tinggi dari areal sekitarnya, maka fungsi sistem drainase TPA Terjun
menjadi :
Mencegah limpasan air hujan yang bercampur dengan air lindi
agar tidak keluar areal TPA
Menjaga stabilitas jalan operasional TPA agar tidak tergenang air

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka diperlukan sistem
drainase pada areal TPA Terjun sebagai berikut :
Pada kiri-kanan jalan operasional
Pada sekeliling areal timbunan sampah

Konstruksi saluran drainase yang ada saat ini, berupa galian sampah
terbuka, tidak memenuhi syarat karena disamping akan menimbulkan
genangan (permukaan tidak rata) juga akan menyebabkan air hujan
masuk ke dalam timbunan sampah.
Konstruksi yang cocok untuk saluran di atas timbunan sampah pada
jalan operasional adalah, berupa konstruki yang lentur dan ringan
(tidak kaku), yakni berupa lapisan tanah lempung yang dibagian
bawahnya telah dilapisi geotextile.
Untuk konstruksi drainase sekeliling TPA di atas permukaan tanah
menggunakan beton bertulang atau beton cyclops karena arealnya
yang terbatas.
Pembuangan akhir saluran drainase sekeliling TPA bermuara pada
bangunan Pengolahan Lindi karena pada saat tidak hujan akan terisi
oleh cairan lindi yang harus diolah. Untuk mengatasi agar air kolam
anaerob tidak tergerus air hujan, maka diperlukan pintu air pada
muara sistem drainase yang akan mengalihkan air hujan langsung
terbuang ke kolam maturasi pada saat musim hujan.

Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 28

9. Saluran dan IPAL Lindi
TPA Terjun tidak memiliki saluran lindi, fungsi saluran lindi ialah untuk
menyalurkan akumulasi cairan lindi pada dasar timbunan sampah
sehingga cairan tersebut tidak terinfiltrasi masuk kedalam air tanah.
Dengan tidak adanya saluran air lindi pada dasar TPA Terjun, maka
upaya untuk menyalurkan cairan lindi pada dasar timbunan menjadi sulit
dilakukan, karena beberapa hal sebagai berikut
Tidak dapat membuat lapisan kedap air pada areal yang sudah
tertimbun sampah, menggali dan mengeluarkan timbunan sampah
juga sulit dilakukan karena sampah yang digali akan berkembang
volumenya menjadi sekitar 2-3 kali volume semula yang akan
membutuhkan lahan yang luas dan aman untuk galian sampah TPA
tersebut.
Sistem saluran yang mesti dibuat harus rnemenuhi kriteria teknis
seperti kerniringan pipa, radius jangkauan yang mengakibatkan sistem
jaringan perpipaan menjadi bercabang-cabang dan ini tidak dapat
dilakukan dengan sistem pemboran horizontal.
Berdasarkan kedua kendala tersebut di atas, maka hal yang dapat
dilakukan saat ini adalah mencegah terakumulasinya air lindi pada
timbunan sampah semaksimal mungkin (akumulasi cairan lindi ini pada
kondisi bertekanan dapat mengakibatkan tidak stabilnya timbunan
sampah/ longsor), dengan cara :
Melakukan pemboran horizontal pada dasar timbunan sampah
dengan pipa steel 8 inchi yang diberi lubang- luhang.
Menutup timbunan sampah yang ada saat ini dengan lapisan tanah
penutup akhir yang juga berfungsi sebagai lapisan dasar pada
timbunan sampah yang baru, sebagai berikut:


Dengan adanya lapisan baru yang relative kedap air tersebut, maka
cairan lindi dari timbunan sampah baru, dapat disalurkan dengan
sisiem jaringan pipa dengan "under drain" kerikil sesuai kriteria teknis
yang selanjutnya akan bermuara ke bangunan instalasi pengolahan
lindi.
Berdasarkan pemeriksaan sample air lindi TPA Terjun, memiliki kadar BOD
100 mg/ L dan COD 200 mg/L dengan demikian agar effluent yang
dibuang ke paluh terdekat memenuhi persyaratan air limbah, yaitu :
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 29
BOD 30 mg/ L dan COD 80 rng/ L diperlukan instalasi pengolahan lindi
dengan efisiensi 70%.
Berdasarkan SNI 19-2454-2A02 metode penimbunan sampah untuk
daerah pasang surut disertai dengan sistem pengolahan lindi dengan
kolam anaerob, facultative dan maturasi. Berdasarkan Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No.14 Tahun 2005, Tentang Pedoman
Pelaksanaan Program Adipura, pada Lampiran Kriteria Penilaian TPA
Sampah disebutkan pengolahan yang dimaksud adalah diolah dengan
sistem aerasi.
Pengolahan sistem aerasi memerlukan sumber daya listrik untuk peralatan
mekanis "aerator sehingga relative sulit dalam pelaksanaannya.

10. Penyaluran / Penanganan Gas
Timbunan sampah pada areal TPA merupakan "biochemical reactor,
dengan input air dan sampah dan gas serta air lindi sebagai output.
Penanganan biogas yang dihasilkan terutama adalah untuk
mengendalikan pergerakan gas ke atmosfir dan mencegah pergerakan
gas secara lateral dan vertical ke tanah disekitarnya.
Komposisi gas yang dihasilkan berdasarkan (George Tchobanogrous,et
ar.1993) adalah : gas methane (45-60%), gas karbon dioksida {40-60%, gas
nitrogen (2-5%), gas suifide (0- 1%), gas ammonia (0,1-1%), dan lain <0,6%.
Gas methane yang sangat dominan dihasilkan pada timbunan sampah
dapat terakumulasi jika tidak disalurkan dengan baik karena berat
jenisnya yang rebih kecil dari udara. Akumulasi gas methane ini sangat
berbahaya karena mudah terbakar dan dapat menimbulkan ledakan
pada konsentrasi yang tinggi.
Metode penimbunan sampah dengan cara terbuka (open dumping)
selama ini di TPA Terjun diperkirakan akan menyebabkan gas methane
dan karbon dioksida yang terbentuk pada proses pembusukan sampah
akan mengalir secara lambat (diffused) ke luar dari timbunan sampah
tersebut.
untuk mencegah terakumulasinya gas methane pada timbunan sampah
lama, dipertukan pipa ventilasi yang dipasang secara vertikal,
sedangkan pada timbunan sampah baru direkomendasikan
pemasangan pipa ventilasi gas secara horizontal yang lebih mudah
pemasangannya dan tidak mengganggu operasional penimbunan
sampah.

11. Sumur Pantau
Sumur pantau diperlukan untuk mengetahui ada/ tidaknya pencemaran
air tanah dangkal oleh timbunan sampah di TPA tersebut.
Dengan kondisi air tanah dangkal yang relative tinggi di TPA Terjun,
yaitu 1 2 m serta topografi yang relatif datar, maka pencemaran air
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 30
tanah dangkal dipastikan sudah terjadi pada lahan di sekitar TPA,
meskipun demikian diperlukan sumur pantau berupa sumur gali dengan
konstruksi dari buis beton berlubang dengan kedalaman 3 m, untuk
memantau seberapa besar kadar pencemaran yang terjadi, terutama
kadar pencemaran logam-logam berat yang sangat berbahaya bagi
kesehatan, sehingga dapat ditingkatkan upaya pengontrolannya.

12. Buffer Zone
TPA Terjun saat ini belum memiliki buffer zona atau zona penyangga,
areal yang tertimbun sampah sangat dekat dengan lahan masyarakat
yaitu dengan batas tanah timbun yang sebagian ditanam pepohonan
dan saluran air/ parit jalan.
Fungsi zona penyangga yang ditanami pepohonan adalah untuk
mengurangi bau sampah dan memberi kesan hijau pada TPA sampah.

4.5.4.4 sampah pada area aktif
Sampah pada area aktif untuk TPA sampah adalah :
sampah terbuka sekitar 25% terhadap lahan pembuangan
tidak ada sampah terbuka kecuali pada zona aktif
Pengoperasian TPA Terjun pada masa mendatang harus diatur
sedemikian rupa dengan sistem zona, blok dan sel direncanakan
dengan jelas, sehingga sampah terbuka hanya ada pada zona aktif,
yaitu pada sel-sel mingguan penimbunan sampah.

4.5.4.4 pengaturan lahan
Pengaturan lahan untuk TPA sampah adalah :
Ada pengaturan zona, blok dan sel dengan tanda yang jelas
dilapangan
Ada pengaturan zona, blok dan sel dengan tanda dan batas yang
jelas dilapangan
Pengaturan lahan dengan zona, blok dan sel-sel ini dapat diberi tanda
berupa patok-patok batas areal yang tidak tertimbun sampah, seperti
pada bahu jalan/ drainase.

4.5.4.5 penimbunan / pengisian lahan
Penimbunan/ pengisian sampah untuk TPA sampah adalah :
Dilakukan pada sel yang benar disertai perataan
Dilakukan pada sel yang benar disertai perataan dan pemadatan
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 31
Penimbunan/ pengisian sampah dilakukan pada sel-sel mingguan
dengan alat berat bulldozer yang selain meratakan sampah juga
melakukan pemadatan sampah.

4.5.4.6 penutupan sampah dengan tanah
Penutupan sampah dengan tanah untuk TPA sampah adalah :
Dilakukan seminggu sekali
Dilakukan setiap 3 hari sekali
Penutupan sampah dengan tanah/ kompos dilakukan setiap 3 hingga
7 hari sekali dengan ketebalan timbunan tanah/ kompos 15 cm.

4.5.4.7 pemrosesan akhir sampah
Sampah sebagai sumber daya dapat diproses, sebagai berikut :
Sebagai bahan baku pupuk kompos
Sebagai alternatif sumber energi listrik
Untuk meningkatkan kapasitas TPA Terjun sehingga dapat dipakai
lebih lama, maka timbunan sampah lama dapat digali kembali,
kemudian dihamparkan pada areal timbunan terbuka agar cairan lindi
yang terdapat pada sampah tersebut dapat dikeringkan dan material
sampah lama dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk kompos
atau untuk material penutup sampah mingguan.
Energi listrik dapat diperoleh dari konversi gas methane sarnpah, untuk
bisa melakukan konversi ini, diperlukan jumlah gas methane yang
mencukupi, dengan timbunan open dumping selama ini, konsentrasi
gas methane sudah berkurang karena keluar melalui rongga timbunan
sampah. Untuk memperoleh sumber energy listrik yang memadai dari
timbunan sampah dibutuhkan sistem penimbunan yang sangat tertutup
sehingga gas methane tidak keluar.

4.5.4.8 perluasan lahan TPA Terjun
Berdasarkan situasi sekitar TPA Terjun, perluasan lahan TPA Terjun untuk
penimbunan sampah dapat dijelaskan sebagai berikut :
Perluasan ke arah utara sudah tidak memungkinkan lagi karena
sudah memasuki areal sempadan Sungai Terjun.
Perluasan ke arah selatan masih memungkinkan, tetapi akan
menyebabkan TPA menjadi lebih dekat ke permukiman.
Perluasan ke arah timur sudah tidak memungkinkan karena areal
TPA Terjun sudah berbatas langsung dengan Paluh Terjun (anak
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 32
Sungai Terjun) dan akan menyebabkan TPA menjadi lebih dekat ke
permukiman.
Perluasan ke arah barat sudah dilakukan sekitar 4 ha yang dapat
dimanfaatkan sebagai kolam maturasi, dan areal penghamparan /
pembuatan pupuk kompos.
Disamping kendala perluasan TPA Terjun seperti tersebut di atas,
perluasan TPA untuk penimbunan sampah tidak memenuhi persyaratan
SNl 03-3241-1994, karena terkendala pada tingginya muka air tanah
yang menyebabkan sulitnya membangun lapisan kedap air dan
jaringan pipa lindi pada dasar timbunan.


4.5.5 TPA Namo Bintang
Berdasarkan hasil evaluasi kondisi TPA Namo Bintang, dan mengacu
pada acuan normatif tersebut di atas, maka diperlukan revitalisasi TPA
Namo Bintang sebagai berikut :

4.5.5.1 rencana kapasitas TPA
Berdasarkan peta topografi timbunan sampah pada areal TPA Namo
Bintang, direncanakan zona penimbunan sampah seperti pada Gambar
6.3, peningkatan kapasitas TPA Namo Bintang direncanakan dengan
meningkatkan ketinggian timbunan sampah lama dan perluasan areal
pada lahan milik masyarakat yang telah dikelilingi sampah, untuk itu
diperlukan perencanaan jalan operasional bagi truk-truk sampah yang
akan membuang sampah pada blok dan sel-sel yang telah
ditentukan.
Adapun kriteria yang digunakan dalam perencanaan penimbunan
sampah, adalah :
Kemiringan/ slope timbunan sampah 1,5 : 1
Ketinggian timbunan sampah padat per lapis 2,0 m
Berdasarkan perencanaan tersebut di atas, diperoleh peningkatan
kapasitas TPA Namo Bintang, sebagaimana terlihat pada gambar dan
Tabel 4.6 di bawah ini.






Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 33






Gambar 4.7 Rencana Peningkatan kapasitas TPA Namo Bintang

J
L
.

D
E
L
I

T
U
A

-

P
A
N
C
U
R
B
A
T
U
BAK
FAKULTATIF
MATURASI
KOLAM
KOLAM
SANITASI
LAHAN
STABILISASI/ANAEROB
KOLAM
2.0000
J ALAN EXI STI NG
J ALAN RENCANA
El v. 9 m dpl
RENCANA
J EMBATAN TI MBANG
AREA UTI LI TAS
RENCANA
BANGUNAN I PAL
J ALAN RENCANA
El v. 78 m dpl
Y = 385764.000,00 M
X = 456356.000,00 M
Z = 78.830 M
CP 1
J ALAN EXI STI NG
TOP TI MBUNAN
SAMPAH
El v. 94 m dpl
TOP TI MBUNAN
SAMPAH
El v. 94 m dpl
TOP TI MBUNAN
SAMPAH
El v. 94 m dpl



Tabel 4.7 Rencana Peningkatan Kapasitas TPA Namo Bintang
NO URAIAN ZONA I ZONA II
1 Luas areal (ha) 3 4,8
2 Elevasi Bangunan Kantor (m) + 60
3 Ketinggian maksimum timbunan (m) +83 +82
4 Ketinggian sampah padat per lapis (m) 2 2
5 Kapasitas sampah lapis 1 (m3) 50.000 96.000
Kapasitas sampah lapis 2 (m3) 60.000 102.000
Kapasitas sampah lapis 3 (m3) 60.000 106.000
Kapasitas sampah lapis 4 (m3) 54.000 110.000
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 34
Kapasitas sampah lapis 5 (m3) 48.000 114.000
Kapasitas sampah lapis 6 (m3) 40.000 118.000
.
Kapasitas sampah lapis 12 (m3) 142.000
6 Total kapasitas sampah (m3) 346.000 1.438.000
7 Density sampah di TPA (kg/m3) 1.200 1.200
8 Density sampah masuk ke TPA
(kg/mg3)
400 400
NO URAIAN ZONA I ZONA II
9 Daya tampung TPA sampah (m3) 1.038.000 4.314.000
10 volurne sampah rata-rata ke TPA
(m3/hari)
1.100 1.100
11 Waktu timbunan sampah penuh (hari) 940 3.921
12 Perkiraan masa pakai TPA Namo Bintang
Hari 4.861
Tahun 13.3

Sumber Data : Laporan Akhir Studi Kelayakan Lokasi TPA Kota Medan Tahun 2010

4.5.5.2 prasarana dan sarana
1. Jalan masuk dan jalan operasi
Prasarana jalan masuk yang ada sudah diaspal hotmix dengan lebar
badan jalan sekitar 6 m, dengan panjang sekitar 500 m, prasarana jalan
masuk ini tidak khusus ke TPA Namo Bintang, tetapi juga dimanfaatkan
sebagai prasarana jalan untuk permukiman yang berkembang sekitar
jalan tersebut.
Prasarana jalan operasional TPA yang ada dibangun di atas timbunan
sampah dengan konstruksi timbunan batu dan tanah dengan lebar 4-5
m dan panjang total sekitar 360 m, jalan operasional ini melingkar pada
areal TPA dengan belokan yang sempit sehingga untuk meningkatkan
ketinggian sampah hingga + 83 m untuk dapat dilalui truk, jalan
operasional ini sudah terlalu terjal dan membutuhkan material timbunan
yang relative mahal.
Untuk penggunaan kedepan diperlukan lokasi prasarana jalan
operasional yang baru agar areal yang tersedia dapat dimanfaatkan
semaksimal mungkin untuk timbunan sampah, sesuai dengan rencana
zona, blok tahap I, dan ll rencana penimbunan sampah dengan
ketinggian timbunan sarnpah maksimum +82,0 m, dengan batasan
kelandaian jalan operasionai maksimum 1.0%.
Prasarana jalan operasional TPA dibangun di atas timbunan sampah
dengan konstruksi timbunan batu kali pada pondasi dan lapisan tasirtu
(tanah pasir batu) di atasnya dengan ketebalan 4O cm.

Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 35
2. Kantor / pos jaga
Kantor operasional / pos jaga sudah tersedia, berfungsi sebagai ternpat
penyimpanan data dan kegiatan operasional pengelolaan TPA.

3. Pagar dan pintu gerbang
Batas tanah TPA Namo Bintang masih belum diberi pagar dan pintu
gerbang, dengan lebih tingginya timbunan sampah dari areal
sekitarnya, maka pagar sebaiknya berupa tanaman yang ditanam
pada tanah timbun yang menjadi batas areal saat ini, yang juga
berfungsi sebagai berikut :
Menahan aliran air lindi / air hujan agar tidak memasuki areal milik
masyarakat
Sebagai jalur inspeksi saluran drainase disampingnya.
TPA Namo Bintang saat ini masih belum memiliki pintu gerbang,
kedepan diperlukan pintu gerbang dengan jenis portal sebagai pintu
masuk ke areal TPA.

4. Garasi alat berat
TPA Namo Bintang saat ini masih belum memiliki garasi alat berat,
kedepan diperlukan garasi alat berat, yang berfungsisekaligus sebagai
bangunan workshop alat berat.
5. Sarana pencucian kendaraan
Pada TPA Namo Bintang sudah terdapat fasilitas pencucian truk dan
alat berat, berupa surnur bor yang baru dibangun tahun 2010

6. Jembatan timbang
Pada TPA Narno Bintang betum tersedia jembatan timbang kedepan
dipertukan sarana jembatan timbang sampah ini.

7. Alat berat
Pada TPA Namo Bintang sudah tersedia alat berat : Buldozer 2 unit, dan
Excavator 1 unit. Penggunaan alat berat di TPA sampah sesuai dengan
metode sanitary landfill adalah untuk melakukan pekerjaan sebagai
berikut :
Bulldozer: untuk perataan, pengurugan dan pemadatan
Excavator : untuk pengalian, pemindahan, pembentukan lereng

4.5.5.3 Sarana pengendalian pencemaran
1. Sistem drainase
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 36
Konstruksi saluran drainase yang ada saat ini, berupa galian sampah
terbuka, tidak memenuhi syarat karena disamping akan menimbulkan
genangan (permukaan tidak rata) juga akan menyebabkan air hujan
masuk ke dalam timbunan sampah.
Konstruksi yang cocok untuk saluran di atas timbunan sampah pada
jalan operasional adalah, berupa konstruksi yang lentur dan ringan
(tidak kaku), yakni berupa lapisan tanah lempung yang dibagian
bawahnya terah dirapisi geotextile.
Untuk konstruksi drainase sekeliling TPA di atas permukaan tanah
menggunakan beton bertulang karena arealnya yang terbatas.
Pembuangan akhir saluran drainase sekeliling TPA bermuara pada
Bangunan
Pengolahan Lindi karena pada saat tidak hujan akan terisi oleh cairan
lindi yang harus diolah. Untuk mengatasi agar air kolam anaerob tidak
tergerus air hujan, maka diperlukan pintu air pada muara sistem
drainase yang akan mengalihkan air hujan deras langsung terbuang ke
kolam maturasi

2. Penyalur / Ipal lindi
TPA Narno Bintang tidak memiliki saluran lindi, fungsi saluran lindi
adalah untuk menyalurkan akumulasi cairan lindi pada dasar timbunan
sampah sehingga cairan tersebut tidak terinfiltrasi masuk kedalam air
tanah.
Dengan tidak adanya saluran air lindi pada dasar TPA Namo Bintang,
maka upaya untuk menyalurkan cairan lindi pada dasar timbunan
menjadi sulit dilakukan, karena beberapa hal sebagai berikut :
Tidak dapat membuat lapisan kedap air pada areal yang sudah
tertimbun sampah, menggali dan mengeluarkan timbunan sampah
juga sulit dilakukan karena sampah yang digali akan berkembang
volumenya menjadi sekitar 2-3 kali semuta yang akan
membutuhkan lahan yang luas dan aman untuk ditimbun sampah
galian TPA tersebut.
sistem saluran yang mesti dibuat harus memenuhi criteria teknis
seperti kemiringan pipa, radius jangkauan yang mengakibatkan
sistem jaringan perpipaan menjadi bercabang-cabang dan ini
tidak dapat dilakukan dengan sistem femboran horizontal
Berdasarkan kedua kendala tersebut di atas, maka hal yang dapat
dilakukan saat ini adalah mencegah terakumulasinya air lindi pada
timbunan sampah semaksimal mungkin {akumulasi cairan lindi ini pada
kondisi bertekanan dapat mengakibatkan tidak stabilnya timbunan
sampah/ longsor), dengan cara :
Melakukan pemboran horizontal pada dasar timbunan sampah
dengan pipa steel 8 inchi yang diberi lubang- lubang.
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 37
Menutup timbunan sampah yang ada saat ini dengan lapisan
tanah penutup akhir yang juga berfungsi sebagai lapisan dasar
pada timbunan sampah yang baru, sebagai berikut ;


Dengan adanya iapisan baru yang relative kedap air tersebut, maka
cairan lindi dari timbunan sampah baru, dapat disalurkan dengan
sistem jaringan pipa sesuai criteria teknis yang selanjutnya akan
bermuara ke bangunan instalasi pengolahan lindi.
Berdasarkan pemeriksaan sample air lindiTPA Namo Bintang, memiliki
kadar BOD 124 mg/ L dan COD 252 mg/ L dengan dernikian agar
effluent yang dibuang ke paluh terdekat memenuhi persyaratan air
limbah, yaitu : BOD 30 mg/ L dan COD 80 mg/ L diperlukan instalasi
pengolahan lindi dengan efisiensi 70%.
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.14 Tahun
2006, Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura, pada Lampiran
Kriteria Penilaian TPA Sampah disebutkan pengolahan yang dimaksud
adalah diolah dengan sistem bak pengendap atau aerasi.

3. Penyalur / penangan gas
Metode penimbunan sampah dengan cara terbuka (open dumping)
selama ini di TPA Namo Bintang diperkirakan akan menyebabkan gas
methane dan karbon dioksida yang terbentuk pada proses
pembusukan sampah akan mengalir secara lambat (diffused) ke luar
dari timbunan sampah tersebut.
untuk mencegah terakumulasinya gas methane pada timbunan sampah
lama perlu pipa ventilasi yang dipasang secara vertikal, sedangkan
pada sampah baru direkomendasikan pemasangan pipa ventilasi gas
secara horizontal dan vertikal yang lebih mudah pemasangannya dan
tidak mengganggu operasional penimbunan sampah.

4. Sumur pantau
Sumur pantau diperlukan untuk mengetahui ada/ tidaknya pencemaran
air tanah dangkal oleh timbunan sampah di TPA tersebut.
Dengan kondisi air tanah dangkal yang relative rendah di TPA Namo
Bintang yaitu 3-4 m serta topografi yang relatif bergelombang serta
potensi akuifer yang dapat menyalurkan pencemaran air tanah
dangkal pada jarak yang jauh, diperlukan sumur pantau berupa sumur
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 38
gali dengan konstruksi buis beton berlubang dengan kedalaman sampai
6 m, untuk memantau seberapa besar kadar pencemaran terjadi,
terutama pengaruh pencemaran logam-logam berat yang sangat
berbahaya bagi kesehatan.

5. Buffer zone
TPA Namo Bintang saat ini belum memiliki buffer zona atau zona
penyangga, areal yang tertimbun sampah sangat dekat dengan
lahan masyarakat yaitu dengan batas tanah timbun yang sebagian
ditanam pepohonan dan saluran air/ parit jalan.
Fungsi zona penyangga yang ditanami pepohonan adalah untuk
mengurangi bau sampah dan memberi kesan hijau pada TPA.

4.5.5.4 Sampah pada area aktif
Pengoperasian TPA Namo Bintang pada masa mendatang harus diatur
sedemikian rupa dengan sistem zona, blok dan sel direncanakan
dengan jelas, sehingga sampah terbuka hanya ada pada zona aktif,
yaitu pada sel-sel mingguan penimbunan sampah.

4.5.5.5 Pengaturan lahan
Pengaturan lahan untuk TPA sampah adalah :
Ada pengaturan zona, blok dan sel dengan tanda yang jelas
dilapangan
Ada pengaturan zona, blok dan sel dengan tanda dan batas yang
jelas dilapangan
Pengaturan lahan dengan zona, blok dan sel-sel ini dapat diberi tanda
berupa patok-patok batas areal yang tidak tertimbun sampah, seperti
pada bahu jalan/ drainase.

4.5.5.6 Rencana Perluasan lahan TPA Namo Bintang
Berdasarkan situasi sekitar TPA Namo Bintang, perluasan lahan untuk
penirnbunan sampah dapat dijelaskan sebagai berikut :
Perluasan ke arah Utara sudah tidak memungkinkan, karena
adanya pagar permanen milik masyarakat, sedang pada bagian
lembah sudah merupakan areal kolam lindi.
Perluasan ke arah Selatan masih memungkinkan, tetapi akan
menyebabkan TPA menjadi lebih dekat ke permukiman.
Perluasan ke arah Timur masih memungkinkan karena areal
sekitarnya masih berupa perladangan masyarakat.
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 39
Perluasan ke arah Barat masih memungkinkan, tetapi memiliki
kemiringan pada arah yang berbeda sehingga diperlukan sistem
penanganan lingkungan yang baru.
Terdapat lahan perladangan masyarakat yang telah dikelilingi
sampah dengan tuas sekitar 4,7 Ha, areal ini sangat potensial untuk
rnenjadi bagian dari sistem TPA Namo Bintang, sehingga sangat
proritas untuk menjadi bagian perluasan TPA.

4.5.6 Kesimpulan dan Saran
4.5.6.1 kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian pada Studi Kelayakan Lokasi Tempat
pembuangan Akhir (TPA) sampah Kota Medan dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1) Berdasarkan kajian teknis, lingkungan, sosial budaya dan ekonomi,
serta kapasitas TPA Terjun dan TPA Namo Bintang, Pemerintah Kota
Medan saat ini harus sesegera mungkin mencari dan merealisasikan
pembangunan TPA sampah yang baru sebagai pengganti kedua
TPA sampah tersebut.
2) Pengoperasian TPA Terjun dan TPA Namo Bintang yang saat ini
dilakukan secara open dumping berdasarkan kajian teknis,
tingkungan sudah tidak sesuai lagi dengan kaidah norma
pengoperasian TPA sampah karena :
Menimbulkan pencemaran lingkungan karena tidak optimalnya
prasarana pengelolaan lindi dan drainase, sedangkan cairan
lindi sampah memiliki kandungan fisik-kimiawi yang melebihi nilai
ambang batas, disamping kandungan bakteriologis yang dapat
bersifat pathogen.
Penimbunan sampah secara terbuka menimbulkan bau dan
gangguan lalat yang juga dapat menularkan penyakit,
disamping mudah terbakar pada saat kering.
Penimbunan sampah dengan ketinggian dan kelandaian
curam saat ini dapat beresiko longsor dan membahayakan
aktivitas petugas dan pemulung.
3) Meskipun secara sosial ekonomi kegiatan TPA Terjun dan TPA Namo
Bintang mendapat respon sosial positif dari rnasyarakat sekitar
terutama aktivitas pemulung tetapi berdasarkan amanat UU No- 18
Tahun 2008 harus dilakukan upaya rehabilitasi terhadap
pengoperasian kedua TPA sampah tersebut untuk meminimalkan
dampak negatif terhadap lingkungan disekitarnya.
4) Berdasarkan hasil evaluasi lokasi TPA yang ada dengan mengacu
pada ketentuan SNl a3-3241-I994, lokasi TPA Terjun saat ini tidak
memenuhi persyaratan sebagai lokasi TPA sampah karena
Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 40
kedalaman air tanahnya yang tinggi dan merupakan daerah
banjir, masukan teknologi yang biasa digunakan untuk
rancangan TPA tidak dapat diterapkan untuk lokasi tersebut,
sehingga lokasi TPA Terjun menjadi tidak layak untuk diperluas
lahannya.
5) Lokasi TPA Namo Bintang masih sesuai dengan ketentuan sebagai
lokasiTPA sampah mengacu pada ketentuan SNI O3-324t-L994,
tetapi kondisinya saat ini tidak memenuhi syarat untuk
pengoperasian TPA sampah sehingga memerlukan rehabilitasi
teknis untuk pengoperasian dan perluasannya
6) Berdasarkan kajian kapasitas optimalnya berdasarkan kaidah
teknis, TPA Terjun dan TPA Namo Bintang masih dapat
dioperasikan sebelum adanya lokasi TPA yang baru, tetapi
pengoperasiannya harus memenuhi kaidah/ normaf standard
sesuai dengan ketentuan pengoperasian TPA pada kategori baik
mengacu pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No.14 Tahun 2005, yaitu dengan melakukan rehabilitasi/ revitalisasi
kedua TPA sampah tersebut.
7) Kebutuhan TPA sampah yang baru, setelah dievaluasi
berdasarkan SNI O3-324L- 1994 yang memungkinkan dalam
wilayah administratif Kota Medan adalah pada Kecamatan
Medan Tuntungan, tetapi akan terkendala pada harga lahan
yang relatif tinggi dan adanya potensi resistensi masyarakat
terhadap rencana lokasi TPA tersebut karena wilayahnya yang
potensial untuk pengembangan permukiman.
8) TPA sampah yang sangat potensial dan mendesak untuk
dikembangkan adalah berupa TPA Regional, diwujudkan dengan
adanya kerjasama antara Pemko Medan dan Pemkab Deli Serdang
yang difasilitasi oleh Pemprov Sumatera Utara untuk nrembangun
TPA Regional tersebut pada wilayah Kabupaten Deli Serdang
yang berdasarkan ketentuan SNl O3-324L-t994 terdapat indikasi
adanya zona layak TPA pada wilayah Kabupaten Deli Serdang
yang dekat dengan Kota Medan, seperti pada Desa Kutalepar
dan Desa Tualangpunggur Kec.Pancur Batu pada DAS Sungai
Kwala Bekala/ Babura, areal PTPN Il Kec. Patumbak serta Desa
Namo Pecawir, Namopoli, Sumbul pada DAS Sungai Percut di
Kecamatan Biru-Biru.
9) Pengelolaan TPA sampah berdasarkan amanat UU No. 18 Tahun
2008, tidak lagi sebagai Tempat Pembuangan Akhir {TPA) Sampah
tetapi sudah menjadi Tempat Pemrosesan Akhir Sampah dimana
sampah dikelola dengan berwawasan lingkungan dimana sampah
dijadikan sumber daya yang dapat digunakan/ dimanfaatkan
kembali secara optimal sesuai dengan teknologi yang
berkembang saat ini.

Laporan Akhir
Penyusunan DED Revitalisasi TPA Terjun & TPA Namo Bintang Kota Medan


Bab 4 Halaman 41




4.5.6.2 saran - saran
Berdasarkan hasil kajian pada Studi Kelayakan Lokasi Tempat
pembuangan Akhir (TPA) Sampah Kota Medan, saran untuk
pengelolaan TPA sampah kedepan adalah, sebagai berikut :
1) Untuk mencegah terjadinya longsor pada pengoperasian TPA Terjun
dan TPA Namo Bintang agar kelandaian timbunan sampah dibuat
minimal 1,5 datar : 1 tegak, dan setiap ketinggian lapis 4 meter
dibuat teras minimal 1 m.
2) Untuk mengurangi terbentuknya cairan lindi, gangguan bau dan
lalat, serta resiko terbakarnya sampah, agar dilakukan penutupan
timbunan sampah padat dengan ketebalan 2 m, minimal setiap
minggu sekali.
3) Untuk mencegah pencemaran cairan lindi agar diupayakan
membuat sistem drainase sekeliling areal TPA sampah yang
bermuara ke bangunan pengolahan lindi.
4) Meskipun TPA Terjun dan TPA Namo Bintang ditutup
pengoperasiannya (permukaan timbunan sampah akhir ditutup
dengan tanah), masih akan ada potensi terbentuknya air lindi,
dengan demikian kedua TPA tersebut tetap membutuhkan saluran
drainase/ lindi dan bangunan pengolahan lindi.
5) Dengan ditutupnya kedua TPA sampah dengan tanah penutup,
akan ada potensi akumulasi gas methan, dengan demikian
meskipun kedua TPA sudah tidak dioperasikan kembaii, masih
dibutuhkan pipa ventilasi gas methan yang dapat dipasang secara
vertikal pada kedua TPA tersebut.
6) Setelah kedua TPA sampah tersebut ditutup pengoperasiannya,
dapat difungsikan sebagai taman, kebun bibit, dan areal rekreasi
fiika sudah dilakukan upaya pengamanan untuk mencegah
longsor dengan pembuatan terasering dan sistem drainase yang
bai( serta pembuatan pipa ventilasi).
7) upaya penambangan sampah lama, dan pengeringan serta
pembuatan pupuk kompos dapat dilakukan pada kedua TPA
sampah untuk memperpanjang usia pemakaiannya atau
memfungsikannya sebagai TPA cadangan untuk kebutuhan
mendadak jika terjadi lonjakan timbulan sampah atau masalah
pada TPA yang baru.