Anda di halaman 1dari 33

KARSINOMA TIROID ( KANKER TIROID )

A. Definisi
Karsinoma tiroid adalah suatu keganasan (pertumbuhan tidak terkontrol dari sel) yang terjadi pada
kelenjar tiroid.
Kanker tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki 4 tipe yaitu: papiler, folikuler, anaplastik
dan meduller. Kanker tiroid jarang menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan
pertumbuhan kecil (nodul) dalam kelenjar. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker
tiroid bisa disembuhkan
Kanker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi kemampuan
menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon tiroid sehingga terjadi
hipertiroidisme.

B. Klasifikasi karsinoma tiroid.
a. Karsinoma papiler, karsinoma ini berasal dari sel-sel tiroid dan merupakan jenis paling umum dari
karsinoma tiroid. Lebih sering terdapat pada anak dan dewasa muda dan lebih banyak pada wanita.
Terkena radiasi semasa kanak ikut menjadi sebab keganasan ini. Pertama kali muncul berupa benjolan
teraba pada kelenjar tiroid atau sebagai pembesaran kelenjar limfe didaerah leher. Metastasis dapat
terjadi melalui limfe ke daerah lain pada tiroid atau, pada beberapa kasus, ke paru.
b. Karsinoma folikuler, karsinoma ini berasal dari sel-sel folikel dan merupakan 20-25 % dari
karsinoma tiroid. Karsinoma folikuler terutama menyerang pada usia di atas 40 tahun. Karsinoma
folikuler juga menyerang wanita 2 sampai 3 kali lebih sering daripada pria. Pemaparan terhadap sinar X
semasa kanak-kanak meningkatkan resiko jenis keganasan ini. Jenis ini lebih infasif daripada jenis
papiler.
c. Karsinoma anaplastik, karsinoma ini sangat ganas dan merupakan 10% dari kanker tiroid. Sedikit
lebih sering pada wanita daripada pria. Metastasis terjadi secara cepat, mula-mula disekitarnya dan
kemudian keseluruh bagian tubuh. Pada mulanya orang yang hanya mengeluh tentang adanya tumor
didaerah tiroid. Dengan menyusupnya kanker ini disekitar, timbul suara serak, stridor, dan sukar
menelan. Harapan hidup setelah ditegakkan diagnosis, biasanya hanya beberapa bulan.

d. Karsinoma parafolikular, karsinoma parafolikular atau meduller adalah unik diantara kanker tiroid.
Karsinoma ini umumnya lebih banyak pada wanita daripada pria dan paling sering di atas 50 tahun.
Karsinoma ini dengan cepat bermetastasis, sering ketempat jauh seperti paru, tulang, dan hati. Ciri
khasnya adalah kemampuannya mensekresi kalsitonin karena asalnya. Karsinoma ini sering dikatakan
herediter.
C. Etiologi
Etiologi dari penyakit ini belum pasti, yang berperan khususnya untuk terjadi well differentiated (papiler
dan folikuler) adalah radiasi dan goiter endemis, dan untuk jenis meduler adalah faktor genetik. Belum
diketahui suatu karsinoma yang berperan untuk kanker anaplastik dan meduler. Diperkirakan kanker
jenis anaplastik berasal dari perubahan kanker tiroid berdiferensia baik (papiler dan folikuler), dengan
kemungkinan jenis folikuler dua kali lebih besar.
Radiasi merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Banyak kasus kanker pada anak-anak
sebelumnya mendapat radiasi pada kepala dan leher karena penyakit lain. Biasanya efek radiasi timbul
setelah 5-25 tahun, tetapi rata-rata 9-10 tahun. Stimulasi TSH yang lama juga merupakan salah satu
faktor etiologi kanker tiroid. Faktor resiko lainnya adalah adanya riwayat keluarga yang menderita
kanker tiroid dan gondok menahun.
D. Patofisiologi
Adenokarsinoma papiler biasanya bersifat multisentrik dan 50% penderita dengan ada sarang ganas
dilobus homolateral dan lobus kontralateral. Metastasis mula-mula ke kelenjar limfe regional, dan
akhirnya terjadi metastasis hematogen. Umumnya adenokarsinoma follikuler bersifat unifokal, dengan
metastasis juga ke kelenjar limfe leher, tetapi kurang sering dan kurang banyak, namun lebih sering
metastasisnya secara hematogen. Adenokarsinoma meduller berasal dari sel C sehingga kadang
mengeluarkan kalsitonin (sel APUD). Pada tahap dini terjadi metastasis ke kelenjar limfe regional.
Adenokarsinoma anaplastik yang jarang ditemukan, merupakan tumor yang tumbuh agresif, bertumbuh
cepat dan mengakibatkan penyusupan kejaringan sekitarnya terutama trakea sehingga terjadi stenosis
yang menyebabkan kesulitan bernafas. Tahap dini terjadi penyebaran hematogen. Dan penyembuhan
jarang tercapai. Penyusupan karsinoma tiroid dapat ditemukan di trakea, faring, esophagus, N.rekurens,
pembuluh darah karotis, struktur lain dalam darah dan kulit. Sedangkan metastasis hematogen
ditemukan terutama di paru, tulang, otak dan hati.
E. TANDA DAN GEJALA
1. Sebuah benjolan, atau bintil di leher depan (mungkin cepat tumbuh atau keras) di dekat jakun.
Nodul tunggal adalah tanda-tanda yang paling umum kanker tiroid.
2. Sakit di tenggorokan atau leher yang dapat memperpanjang ke telinga.
3. Serak atau kesulitan berbicara dengan suara normal.
4. Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di leher. Mereka dapat ditemukan selama
pemeriksaan fisik.
5. Kesulitan dalam menelan atau bernapas atau sakit di tenggorokan atau leher saat menelan. Ini
terjadi ketika mendorong tumor kerongkongan Anda.
6. Batuk terus-menerus, tanpa dingin atau penyakit lain.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Pemeriksaan Laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan ganas tiroid belum ada yang khusus,
kecuali kanker meduler, yaitu pemeriksaan kalsitonon dalam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-
kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid dapat terjadi tiroktositosis walaupun jarang. Human
Tiroglobulin (HTG) Tera dapat dipergunakan sebagai tumor marker dan kanker tiroid diferensiasi baik.
Walaupun pemeriksaan ini tidak khas untuk kanker tiroid, namun peninggian HTG ini setelah
tiroidektomi total merupakan indikator tumor residif atau tumbuh kembali (barsano). Kadar kalsitonin
dalam serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler.

2) Radiologis
a. Foto X-Ray
Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk melihat obstruksi trakhea
karena penekanan tumor dan melihat kalsifikasi pada massa tumor. Pada karsinoma papiler dengan
badan-badan psamoma dapat terlihat kalsifikasi halus yang disertai kalsifikasi stipled, sedangkan pada
karsinoma meduler kalsifikasi lebih jelas di massa tumor. Kadang-kadang kalsifikasi juga terlihat pada
metastasis karsinoma pada kelenjar getah bening. Pemeriksaan X-Ray juga dipergunnakan untuk survey
metastasis pada pary dan tulang. Apabila ada keluhan disfagia, maka foto barium meal perlu untuk
melihat adanya infiltrasi tumor pada esophagus
b. Ultrasound
Ultrasound diperlukan untuk tumor solid dan kistik. Cara ini aman dan tepat, namun cara ini cenderung
terdesak oleh adanya tehnik biopsy aspirasi yaitu tehnik yang lebih sederhna dan murah
c. Computerized Tomografi
CT-Scan dipergunakan untuk melihat perluasan tumor, namun tidak dapat membedakan secara pasti
antara tumor ganas atau jinak untuk kasus tumor tiroid.
d. Scintisgrafi
Dengan menggunakan radio isotropic dapat dibedakan hot nodule dan cold nodule. Daerah cold nodule
dicurigai tumor ganas. Teknik ini dipergunakan juga sebagai penuntun bagi biopsy aspirasi untuk
memperoleh specimen yang adekuat.

3) Biopsi Aspirasi
Pada dekade ini biopsy aspirasi jarum halus banyak dipergunakan sebagai prosedur diagnostik
pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid. Teknik dan peralatan sangat sederhana ,
biaya murah dan akurasi diagnostiknya tinggi. Dengan mempergunakan jarum tabung 10 ml, dan jarum
no.22 23 serta alat pemegang, sediaan aspirator tumor diambil untuk pemeriksaan sitologi.
Berdasarkan arsitektur sitologi dapat diidentifikasi karsinoma papiler, karsinoma folikuler, karsinoma
anaplastik dan karsinoma medule.


G. PENATALAKSANAAN MEDIS :
1. Therapi Radiasi
Pada adenokarsinoma papiler tanpa penyebaran ke kelenjar leher sebaiknya dilakukan istmolobektomi.
Bila terdapat pembesaran kelenjar limf leher, kemungkinan besar telah terjadi penyebaran melalui
saluran limf di dalam kelenjar sehingga perlu dilakukan tiroidektomi total disertai diseksi kelenjar leher
pada sisi yang sama.
2. Tiroidectomi
Tiroidektomi adalah prosedur pembedahan di mana semua atau sebagian dari kelenjar tiroid akan
dihapus. Kelenjar tiroid terletak di anterior bagian dari leher tepat di bawah kulit dan di depan jakun.
Tiroid adalah salah satu kelenjar endokrin tubuh, yang berarti bahwa mengeluarkan produk-produknya
di dalam tubuh, ke dalam darah atau getah bening. tiroid menghasilkan beberapa hormon yang memiliki
dua fungsi utama: mereka meningkatkan sintesis protein di sebagian besar jaringan tubuh, dan mereka
meningkatkan tingkat konsumsi oksigen tubuh.

Peran perawat adalah dalam penatalaksanaan Pre-Operatif, Intra Operatif dan Post Operasi:
1. Penatalaksanaan Pre Operasi yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut:
a) Inform Concern (Surat persetujuan operasi) yang telah ditandatangani oleh penderita atau
penanggung jawab penderita
b) Keadaan umum meliputi semua system tubuh terutama system respiratori dan cardiovasculer
c) Hasil pemeriksaan / data penunjang serta hasil biopsy jaringan jika ada
d) Persiapan mental dengan suport mental dan pendidikan kesehatan tentang jalannya operasi oleh
perawat dan support mental oleh rohaniawan
e) Konsul Anestesi untuk kesiapan pembiusan
f) Sampaikan hal-hal yang mungkin terjadi nanti setelah dilakukan tindakan pembedahan terutama jika
dilakukan tiroidectomi total berhubungan dengan minum suplemen hormone tiroid seumur hidup.

2. Penatalaksanaan Intra Operasi
Peran perawat hanya membantu kelancaran jalannya operasi karena tanggung jawab sepenuhnya
dipegang oleh Dokter Operator dan Dokter Anesthesi.

3. Penatalaksanaan Post Operasi (di ruang sadar)
a) Observasi tanda-tanda vital pasien (GCS) dan jaga tetap stabil
b) Observasi adanya perdarahan serta komplikasi post operasi
c) Dekatkan peralatan Emergency Kit atau paling tidak mudah dijangkau apabila sewaktu-waktu
dibutuhkan atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
d) Sesegera mungkin beritahu penderita jika operasi telah selesai dilakukan setelah penderita sadar
dari pembiusan untuk lebih menenangkan penderita
e) Lakukan perawatan lanjutan setelah pasien pindah ke ruang perawatan umum.

H. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian keperawatan pre operasi
a. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan apakah
ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
b. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti
Pola makan
Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
Pola aktivitas.
c. Tempat tinggal klien sekarang dan pada waktu balita.
d. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh;
Sistem pulmonari
Terjadinya dispnea
Kecepatan pernafasan meningkat, takipnea.
Suara nafas : krakel, ronki
Sistem pencernaan
Anoreksia berat, mual / muntah
Kekurangn zat garam
Berat badan menurun dengan cepat
Sistem kardiovaskuler
Hipotensi termasuk hipotensi postural
Nadi perifer melemah
Pengisian kapiler memanjang
Sistem muskuloskeletal
Kelemahan pada otot
Tidak mampu melakukan aktifitas / bekerja
Sistem neurologik dan Emosi/psikologis
Sakit kepala yang berlangsung lama yang di ikuti oleh diaforesis. kelemahan otot
Sistem reproduksi
Hilangnya tanda tanda seks sekunder
Adanya riwayat monopouse dini
e. Pemeriksaan fisik mencakup.
Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema disekitar leher, adanya
nodule yang membesar disekitar leher.
Perbesaran jantung, disritmia dan hipotensi, nadi turun, kelemahan fisik
Parastesia dan reflek tendon menurun
Suara parau dan kadang sampai tak dapat mengeluarkan suara
Bila nodule besar dapat menyebabkan sesak nafas.
f. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sosial dengan lingkungannya,
mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas beraktivitas, dan ingin tidur
sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen konsep diri.
g. Pengkajian yang lain menyangkut terjadinya Hipotiroidime atau Hipertiroidisme.

2. Pengkajian keperawatan post operasi
a. Dasar data pengkajian
Pertimbangan KDB menunjukkan merata dirawat : 3 hari
Pola aktifitas/istirahat : insomnia, kelemahan berat, gangguan koordinasi
Pola neurosensori : gangguan status mental dan perilaku, seperti : bingung, disorientasi, gelisah, peka
rangsang, hiperaktif refleks tendon dalam
b. Prioritas keperawatan
Mengembalikan status hipertiroid melalui praoperatif
Mencegah komplikasi
Menghilangkan nyeri
Memberikan informasi tentang prosedur
c. Tujuan pemulangan
Komplikasi dapat di cegah atau dikurangi
Nyeri hilang
Prosedur pembedahan/prognosis dan pengobatannya dapat dipahami
Mungkin membutuhkan bantuan pada teknik pengobatan sebagian atau seluruhnya, aktivitas sehari-
hari, mempertagankan tugas-tugas rumah

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
Diagnosa Pre Operasi:
a. Ansietas berhubungan dengan faktor kurang pengetahuan tentang kejadian pra operasi dan pasca
operasi, takut tentang beberapa aspek pembedahan.
Tujuan : ansietas berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ....x24 jam
Kriteria hasil: Klien melaporkan kecemasan berkurang, mengungkapkan pemahaman tentang kejadian
pra operasi dan pasca operasi, postur tubuh riileks.

Rencana Tindakan:
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1.







2.






3.






4.










5.
Jelaskan apa yang terjadi selama periode pra operasi dan pasca operasi, termasuk test laboratorium pra
op, persiapan kulit, alasan status puasa, obat-obatan pre op, aktifitas area tunggu, tinggal diruang
pemulihan dan program pasca operasi.

Informasikan klien bahwa obatnya tersedia bila diperlukan untuk mengontrol nyeri, anjurkan untuk
memberitahu nyeri dan meminta obat nyeri sebelum nyerinya bertambah hebat.

Informasikan klien bahwa ada suara serak & ketidak nyamanan menelan dapat dialami setelah
pembedahan, tetapi akan hilang secara bertahap dengan berkurangnya bengkak 3-5 hari.

Ajarkan & biarkan klien mempraktekkan bagaimana menyokong leher untuk menghindari tegangan
pada insisi bila turun dari tempat tidur atau batuk. Biarkan klien dan keluarga mengungkapkan perasaan
tentang pengalaman pembedahan, perbaiki jika ada kekeliruan konsep. Rujuk pertanyaan khusus
tentang pembedahan kepada ahli bedah.

Lengkapi daftar aktifitas pada daftar cek pre op, beritahu dokter jika ada kelainan dari test Lab. pre op.
Pengetahuan tentang apa yang diperlukan membantu mengurangi ansietas & meningkatkan kerjasama
klien selama pemulihan, mempertahankan kadar analgesik darah konstan, memberikan kontrol nyeri
terbaik.


Pengetahuan tentang apa yang diper-kirakan membantu mengurangi an-sietas.





Praktek aktifitas-aktifitas pasca ope-rasi membantu menjamin penurunan program pasca operasi
terkomplikasi.




Dengan mengungkapkan perasaan membantu pemecahan masalah dan memungkinkan pemberi
perawatan untuk mengidentifikasi kekeliruan yang dapat menjadi sumber kekuatan. Keluarga adalah
sistem pendukung bagi klien. Agar efektif, sistem pendukung harus mempunyai mekanisme yang kuat.



Daftar cek memastikan semua aktifitas yang diperlukan telah lengkap. Aktifitas ini dirancang untuk
memas-tikan klien telah siap secara fisiologis untuk operasi dan mengurangi resiko lamanya
penyembuhan.

b. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan ketakutan berkaitan dengan diagnosis
kanker yang baru saja diterima, masalah potensial ketidak pastian masa depan.
Tujuan : Klien dan keluarga dapat beradaptasi secara konstruktif setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ....x 24 jam.
Kriteria hasil :
Sering mengungkapkan perasaan terhadap perawat/dokter.
Berpartisipasi dalam perawatan anggota keluarga yang sakit.
Mempertahankan sistem fungsional saling mendukung antar tiap anggota keluarga.

Rencana Tindakan
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1.




2.




3.




4.




5.
Bantu klien dan keluarga dalam menghadapi kekhawatiran terhadap situasi: resikonya, pilihan yang ada
serta bantuan yang didapat.

Ciptakan lingkungan rumah sakit yang bersifat pribadi dan mendukung untuk klien dan keluarga.

Libatkan anggota keluarga dalam perawatan anggota keluarga yang sakit bila memungkinkan.

Bantu anggota keluarga untuk mengubah harapan-harapan klien yang sakit dalam suatu sikap yang
realistis.

Buatlah daftar bantuan profesional lain bila masalah-masalah meluas diluar batas-batas keperawatan
Klien & keluarga mengetahui segala sesuatu yang mungkin dapat menyebabkan kekhawatiran serta
dapat mengatasinya.

Klien merasa terlindungi rasa amannya.



Klien mendapat perhatian & kasih sayang dari keluarganya & keluarga dapat berperan lebih aktif dalam
merawat klien.

Harapan yang tidak realistis membuat kelurga berpikir tidak objektif.


Dengan mengetahui bantuan profesional diharapkan klien dan keluarga dapat mencari alternatif dan
usaha lain dalam mengobati dan merawat klien.




Diagnosa Post Operasi
c. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi akibat adanya perdarahan atau
edema pada tempat pembedahan, kerusakan saraf laringeal atau luka pada kelenjar paratiroid.
Tujuan : mempertahankan kepatenan jalan nafas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24
jam.
Kriteria hasil :
1. Mengeluarkan/membersihkan sekret dan bebas aspirasi.
2. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/memtertahankan jalan nafas bersih dalam tingkat
kemampuan/situasi

Rencana Tindakan
NO.
INTERVENSI
RASIONAL
1.



2.



3.


4.


5.



6.






7.
Monitor tanda-tanda respiratori distres, sianosis, takipnea dan nafas yang berbunyi.

Periksa balutan leher setiap jam pada periode awal post op, kemudian tiap 4 jam.

Monitor frekuensi dan jumlah drainase serta kekuatan balutan.

Periksa sensasi klien karena keketatan disekeliling tempat insisi.

Pertahankan klien dalam posisi semi fowler dengan diberi kantung es (ice bag) untuk mengurangi
bengkak.

Anjurkan klien untuk berbicara setiap 2 jam tanpa merubah nada atau keparauan suara.




Siapkan peralatan emergency untuk tracheostomy, suction, oksigen, perlengkapan benang jahit bedah
dan kalsium IV, dalam keadaan siap pakai.
Memonitor dan mengkaji terus menerus dapat membantu untuk mendeteksi dan mencegah masalah
pernafasan.

Pembedahan didaerah leher dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas karena adanya edem post op.







Dengan mempertahankan posisi dan pemberian es dapat mengurangi pembengkakan.

Kerusakan pada saraf laringeal selama pembedahan tiroid dapat menyebabkan penutupan glottis.
Hipokalsemia, akibat dari kerusakan atau pemotongan kelenjar paratiroid dapat menyebabkan tetani
dan laringospasm.

Persiapan untuk gawat darurat memastikan pemberian perawatan yang cepat dan tepat.


d. Nyeri berhubungan dengan edema pascaoperasi.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam
Kriteria: Tidak ada rintihan, ekspresi wajah rileks, melaporkan nyeri dapat berkurang/hilang. Dari skala 7
berkurang menjadi 2.
Rencana Tindakan:
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1.


2






3.
Berikan analgesik narkotik yang diresepkan & evaluasi keefektifannya.

Ingatkan klien untuk mengikuti tindakan-tindakan untuk mencegah peregangan pada insisi seperti:
menyokong leher bila bergerak di tempat tidur & bila turun dari tempat tidur.
menghindari hiper ekstensi & fleksi akut leher.
Anjurkan pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi, seperti imajinasi, musik yang lembut, dan
relaksasi progresif.
Analgesik narkotik perlu pada nyeri hebat untuk memblok rasa nyeri.
Peregangan pada garis jahitan adalah sumber ketidak nyamanan.




Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa
tidak nyaman.


e. Resiko tinggi terhadap komplikasi perdarahan berhubungan dengan tiroidektomi, edema pada dan
sekitar insisi, pengangkatan tidak sengaja dari para tiroid, perdarahan dan kerusakan saraf laringeal.
Tujuan: mencegah terjadinya komplikasi perdarahan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...
x 24 jam.
Kriteria : Tidak ada manifestasi dari perdarahan yang hebat, hiperkalemia, kerusakan saraf laringeal,
obstruksi jalan nafas, ketidak seimbangan hormon tiroid dan infeksi.
Rencana Tindakan:
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1.





















2.
















3.







4.








5.










6.
Perdarahan:
d. Pantau:
TD, nadi, RR setiap 224 jam. Bila stabil setiap 4 jam.
Status balutan: inspeksi dirasakan dibelakang leher setiap 2x 24 jam, kemudian setiap 8 jam
setelahnya.
e. Beritahu dokter bila drainase merah terang pada balutan/penurunan TD disertai peningkatan
frekuensi nadi & nafas.
f. Tempatkan bel pada sisi tempat tidur & instruksikan klien untuk memberi tanda bila tersedak
atau sensasi tekanan pada daerah insisi terasa. Bila gejala itu terjadi, kendur-kan balutan, cek TTV,
inspeksi insisi, pertahankan klien pada posisi semi fowler, beritahu dokter.

Obstruksi jalan nafas:
a) Pantau pernafasan setiap 224 jam.
b) Beritahu dokter bila keluhan-keluhan kesulitan pernafasan, pernafasan tidak tertur atau tersedak.
c) Pertahankan posisi semi fowler dengan bantal dibelakang kepala untuk sokongan
d) Anjurkan penggunaan spirometri insentif setiap 2 jam untuk merangsang pernafasan dalam.
e) Jamin bahwa O2 dan suction siap tersedia di tempat.

Infeksi luka:
a. Ganti balutan sesuai program dengan menggunakan teknik steril.

Beritahu dokter bila ada tanda-tanda infeksi.

Kerusakan saraf laringeal:
a. Instruksikan klien untuk tidak banyak bicara.
Laporkan peningkatan suara serak dan kelelahan suara.

Hipokalsemia:
a. Pantau laporan-laporan kalsium serum.

b. Beritahu dokter bila keluhan-keluhan kebal, kesemutan pada bibir, jari-jari/jari kaki, kedutam otot
atau kadar kalsium di bawah rentang normal.

Ketidakseimbangan hormon tiroid:
a. Pantau kadar T3 dan T4 serum.

b. Berikan penggantian hormon tiroid sesuai pesanan.
Untuk mendeteksi tanda-tanda awal perdarahan. Temuan ini menandakan perdarahan berlebihan dan
perlu perhatian medis segera.



















Untuk mendeteksi tanda-tanda awal obstruksi pernafasan.
Temuan-temuan ini menandakan kompresi trakeal yang dapat disebabkan oleh perdarahan, perhatian
medis untuk mencegah henti nafas.
Posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih penuh & membantu menu-runkan bengkak.
Pernafasan dalam mempertahankan alveoli terbuka untuk mencegah ate-lektasis.
Untuk digunakan bila terjadi kompresi trakea.


Untuk melawan/mencegah masuknya bakteri.

Temuan ini menandakan infeksi luka dan perlu terapi antibiotik.




Untuk menurunkan tegangan pada pita suara.
Perubahan-perubahan ini menunjukkan kerusakan saraf laringeal, dimana hal ini tidak dapat
disembuhkan.



Perubahan kadar kalsium serum terjadi sebelum manifestasi ketidak seimbangan kalsium.
Temuan ini menandakan hipokalsemia dan perlunya penggantian garam kalsium.






Untuk mendeteksi indikasi awal ketidakseimbangan hormon tiroid.
Hormon tiroid penting untuk fungsi metabolik normal

f. Resiko tinggi terhadap penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang perawatan di rumah.
Tujuan : mampu memenuhi rencana pemeliharaan dirumah setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama ... x 24 jam.
Kriteria: Klien mengungkapkan pemahaman tentang instruksi pulang, melakukan latihan dengan benar,
mengungkapkan kepuasan dengan rencana perawatan dirumah, menghindari terjadinya komplikasi.
Rencana Tindakan:
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1.



2.


3.



4.
Berikan instruksi untuk latihan leher fleksi, ekstensi dan latihan rotasi setelah jahitan di angkat hari ke-7.

Hubungi dokter bila ada tanda-tanda infeksi.

Bila tiroidektomi total dilakukan, berikan informasi tentang obat pengganti dan harus digunakan untuk
sepanjang hidup.
Berikan instrumen tertulis untuk aktifitas perawatan diri, perjanjian, evaluasi dan obat-obatan, klien
kemudian evaluasi pemahaman instruksi.
Latihan-latihan ini untuk memban-tu mencegah kontraktur otot leher.


Terapi antibiotik untuk mengatasi infeksi.

Pemahaman hubungan antara kondisi dan terapi membantu mengembangkan kepatuhan klien.

Instruksi verbal mungkin mudah dilupakan.




DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marlyn E, Moorhouse Mary Frances, Geissler Alice C, 1999, Pedoman Asuhan Keperawatan,
Edisi ke-3. Jakarta:Buku Kedokteran EGC
Tambayong, Jan. 2000. Patologi untuk Keperawatan. EGC : Jakarta
Sutjahjo, Ari. 2006. Endokrin Metabolik. Surabaya : Airlangga University Press
http://www.exomedindonesia.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiah-kedokteran/endokrinologi-
metabolik-penyakit-dalam/2010/11/08/neoplasme-tiroid/
http://belibis-a17.com/2008/04/25/karsinoma-tiroid/
http://www.klinikindonesia.com/bedah/bedah.php
Greenspan Francis S, Baxter Jhon D, 1995, Endokr


TIROIDITIS
Tiroiditis pada umumnya ditandai oleh pembesaran, peradangan dan disfungsi kelenjar tiroid.
Ada beberapa tipe tiroiditis dan telah dikenal sebagai klasifikasi. Yang paling sederhana diantara
klasifikasi tersebut ialah pembagian tiroiditis menjadi :
1. Akut (supuratif)
2. Subakut
3. Menahun
Limfositik (Hashimoto)
Non-spesifik
Fibrous-invasive (Riedel)
Yang akan dibicarakan selanjutnya adalah bentuk yang akut supuratif, sub akut dan tiroiditis
Hashimoto.
TIROIDITIS SUBAKUT
Nama yang umum dipakai untuk tiroiditis sub akut ialah tiroiditis De Quervain dengan banyak
sinonim antara lain non-infectious thyroiditis, granulamatous, giant cell thyroiditis.
Kelainan itu terutama mengenai wanita paling banyak pada umur antara 31 50 tahun.
Inflamasi tiroid biasanya terjadi 2 4 minggu sesudah infeksi saluran cerna atas.
Etiologi
Yang jelas sampai sekarang tidak diketahui, pada umumnya diduga oleh virus. Pada beberapa
kasus dijumpai antibody autoimun.
Perjalan penyakitnya khas yaitu pada permulaan penyakit, pasien mengeluh nyeri dileher
bagian depan menjalar ke telinga, demam, malaise, disertai gejala hipertiroidisme ringa atau
sedang. Kadar tiroksin serum tinggi tetapi ambilan I
131
rendah. Pada 25 % kasus tidak
disertai nyeri.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisis ditemukan tiroid yang membesar, nyeri tekan, biasanya disertai
takikardia, berkeringat, demam, tremor dan tanda tanda lain hipertiroidisme. Pemeriksaan
laboratorium sering dijumpai tanpa leukositosis, lanju endap darah (LED) yang meninggi. Pada
2/3 kasus, kadar hormone tiroid meninggi karena pelepasan hormone tiroid yang berlebih
akibat destruksi kelenjar tiroid oleh proses inflamasi. Hal ini pula yang menyebabkan rendahnya
ambilan I
131
. Antibody antitiroid biasanya tidak ada atau terdapat sepintas (transient) dengan
titer sangat rendah. Kelainan histopatologis yang khas ialah adanya sel sel raksasa.
Keadaan tersebut kemudian diikuti periode hipotiroidisme selama 2 4 minggu. Kadar tiroksin
rendah atau normal, ambialan I
131
masih tetap rendah. TSH normal atau sedikit meninggi.
Perbaikan fungsi tiroid terjadi dalam waktu 2 4 bulan, kadang kadang lebih lama.
Penyembuhan biasanya sejajar dengan perbaikan uji tangkap iodium.
Diagnosa banding
Diagnosa banding tiroiditis subakut adalah :
Perdarahan akut kedalam nodul tiroid.
Tiroiditis piogenik yang akut
Pada yang pertama, nyeri biasanya lebih terlokalisasi, tidak ditemukan gejala sistemik. Pada
keadaan kedua, perlu dipikirkan apabila selain ditemukan tanda tanda sistemik peradangan,
juga terdapat fluktuasi pada perabaan kelenjar tiroid, serta tidak dapat menghasilkan perbaikan
pada pemberian glukokortikoid.
Pengobatan
Penyakit ini biasaya sembuh sendiri, sehingga pengobatan yang diberikan hanya bersifat
simtomatis. Pada umumnya dapat diberikan asetosal untuk mengurangi rasa nyeri.
Pada keadaan berat dapat diberikan glukortikoid misalnya prednisone dengan dosis awal 50
mg/hari. Respon terapeutik biasanya tampak setelah 24 jam. Selanjutnya dosis diturunkan
bertahap dalam waktu 1 4 minggu kemudian dihentikan.
Glukortikoid selain mengurangi gejala, juga mempercepat terjadinya remisi yang selanjutnya
dapat menetap. Pada masa hipotiroidisme dapat diberikan L-tiroksin 0,05 0,1 mg/hari yang
kalau perlu dapat dinaikan dosisnya dengan 0,05 mg tiap 3 5 minggu sampe eutiroidisme
tercapai.
TIROIDITIS AKUT SUPURATIF
Istilah lain dari tiroidis akut supuratif adalah anfective thyroiditis dan ini menunjukan tiroiditis
bukan oleh virus, tetapi oleh bakteri atau jamur. Infeksi ini dapat memberikan gambaran akut,
subakut dan menahun. Tetapi bentuk yang khas infeksi bakteri ini ialah tiroiditis septic akut.
Kejadian tiroiditis ini sangat jarang. Dalam 18 tahun, seorang peneliti hanya menemukan 15
kasus.
Etiologi
Kuman penyebab biasanya stafhylococcus aureus, stafhylocaccus hemolyticus dan
pneumococcus. Infeksi dapat terjadi melalui aliran darah, penyebaran langsung dari jaringan
sekitarnya, saluran getah bening, trauma langsung dan duktuk tiroglosus yang persisten,
kelainan yang terjadi dapat disertai terbentuknya abses atau tanpa abses. Abses ini dapat
menjurus ke mediastinum, bahkan dapat pecah ke trakea dan esophagus.
Gejala klinis
Gejala klinis berupa nyeri leher mendadak, malaise, demam, menggigil dan takikardia. Nyeri
bertambah pada pergerakan leher dan gerakan menelan. Daerah tiroid membengkak dengan
tanda tanda peradangan lain dan sangat nyeri tekan. Pemeriksaan laboratorium menunjukan
leukositosis, LED meninggi, sidikan tiroid memperlihatkan daerah nodul dingin.
Pengobatan
Tanpa pengobatan penyakit ini dapat menjadi hebat yaitu dengan terbentuknya abses yang
kemudian mudah pecah. Kadang kadang ada juga yang sembuh spontan.
Pengobatan utama ialah menggunakan antibiotic. Coccus gram positif biasanya dapat diatasi
dengan penisilin dan derivatnya, tetrasiklin, kloramfenikol. Kadang kadang diperlukan
tindakan lanjutan yaitu bila terbentuk abses. Kalau jelas hal ini menyangkut satu lobus, perlu
lobektomi (dengan lindungan antibiotic). Bila infeksi sudah menyebar melalui satu kapsul dan
mencapai jaringan sekitarnya, perlu insisi dan drainage.
TIROIDITIS HASHIMOTO
Merupakan suatu tiroiditis autoimun. Nama lainya adalah struma limfomatosa, tiroiditis
autoimun. Yang terserang umumnya wanita berumur 30 50 tahun.
Pada keadaan ini, kelenjar tiroid biasanya membesar secara lambat, tidak terlalu besar,
simetris, regular dan padat. Kadang kadang ada nyeri spontan dan nyeri tekan. Pasien bisa
eutiroid atau hipotiroid dan jarang hipertiroid.titer antibody biasanya tinggi dan ada imunitas
yang cell mediated terhadap antigen tiroid.
Kelainan histopatologisnya dapat bermacam macam yaitu antara lain infiltrasi limfosit yan
difus, obliterasi folikel tiroid dan fibrosis. Diagnosis hanya dapat ditegakan dengan pasti secara
histopatologis melalui biopsy. Sayangnya hasil biopsy sering tidak dapat dipercaya. Diagnosis
presumtif dapat dibuat atas dasar gambaran klinis dan tingginya titer antibody yaitu lebih dari
1/32 untuk antibody mikrosomal atau 1/100 untuk antibody tiroglobulin.
Pengobatan
Biasanya tidak diperlukan pengobatan karena strumanya kecil dan asimtomatik. Bila kelenjar
tiroid sangat besar mungkin diperlukan tindakan pengangkatan, sebaiknya operasi ini ditunda
karena kelenjar tiroid tersebut dapat mengecil sejalan dengan waktu. Pemberian tiroksin dapat
mempercepat hal tersebut. Disamping itu tiroksin juga dapat diberikan pada keadaan
hipotiroidisme. Hipotiroidisme dapat terjadi pada beberapa pasien tetapi prosesnya lambat. Bila
terjadi hipertiroidisme dapat diberikan obat antitiroid. Pemberian glukokortikoid dapat
menyebabkan regresi struma dan mengurangi titer antibody. Tetapi mengingat efek samping
dan kenyataan bahwa aktivitas penyakit dapat kambuh kembali sesudah pengobatan
dihentikan, maka pemakaian obat golongan ini tidak dianjurkan pada keadaan biasa.
KARSINOMA TIROID
Kejadian karsinoma diantara kasus kasus nodul tiroid sangat barvariasi diantara berbagai
sentra. Hamburger berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa hanya 5 % dari semua
nodul tiroid adalah ganas. Hoffman dkk dari bidang bedah mendapatkan bahwa 28,7 % dari
semua nodul soliter adalah karsinoma, bahkan yang dibawah 40 tahun kejadiannya adalah 38,7
%. Sebagai suatu patokan dapat dikatakan bahwa 5 15 % dari nodul tiroid yang dapt
terdeteksi secara klinis adalah maligna.
Berbagai jenis karsinoma dapat terjadi pada kelenjar tiroid, dengan tingkat keganasan yang
berbeda yaitu berkisar antara yang cukup jinak seperti karsinoma papilar (papillary carcinoma)
sampai yang sangat agresif dan maligna yaitu karsinoma anaplastik.
Para peneliti melaporkan persentase jenis jenis karsinoma yang berbeda beda. Jenis yang
paling banyak dijumpai ialah bentuk papilar, kemudian yan folikuler, anaplastik dan meduler.
Hal serupa ini kuga di Indonesia yaitu dibandung.
Bagian patologi anatomi fakultas kedokteran universitas padjajaran, tahun 1975 melaporkan
bahwa dari 97 kasus karsinoma tiroid, 73,2 % adalah jenis papilar, 21,6 % folikular, 3,1 %
anaplastik, dan 2,07 % medular. Dari semarang, tahun 1979 dilaporkan dari 119 sediaan, 68,9
% papilar, 29,4 % folikular, 1,7 % anaplastik, tidak ada yang medular.
Karsinoma papilar, bentuk yang paling umum terjadi terutama pada anak anak
dan usia setengah baya. Dapat menyebar ke kelanjar getah bening regional
biasanya respectable dan prognosisnya baik.
Karsinoma folikuler merupakan bentuk kedua tersering setelah karsinoma papilar,
biasanya mengenai orang yang lebih tua. Metastasis biasanya melalui aliran
darah. Tetapi sesudah pembedah dan supresi oleh T4 prognosisnya cukup baik.
Karsinoma anaplastik lebih jarang terjadi. Ditemukan terutama pada orang tua,
bersifat sangat ganas, biasanya tidak mungkin dioperasi dan pronosisnya sangat
buruk.
Karsinoma medular adalah bentuk paling jarang, biasanya pada dewasa muda.
Tumor ini mengeluarkan kalsitonin dan hormone lain. Tingginya kalsitonin dalam
darah merupakan pertanda adanya tumor (tumor marker) yang spesifik, tanpa
perubahan kalsium plasma. Prognosisnya cukup baik. Penyebab terjadinya
karsinoma sampai saat ini belum jelas. Ada beberapa hal yang berhubungan
dengan karsinoma ini yaitu tidak adanya predisposisi genetic, kecuali pada
karsinoma meduler yang mungkin bersifat familier.
Hubungan antara struma nodusa dan karsinoma masih diperdebatkan oleh peneliti. Meskipun
ada laporan yang mengatakan bahwa prevalensi karsinoma didaerah endemic struma cukup
tinggi, tetapi banyak penelitian yang tidak berhasil menunjukan adanya hubungan itu.
Menurut Volpe (1975) ada kemungkinan bahwa 10 % keganasan tiroid berasal dari metaplasia
nodul yang benigna, tetapi 90 % memang sudah ganas sejak awalnya. Persentasenya berbeda
beda pada berbagai sentra, berkisar antara 2 16 %. Dirumah sakit hasan sadikin bandung
pada tahun 1981, di;aporkan bahwa 53 struma nodusa nontoksik 2,2 % adalah karsinoma. Dari
beberapa penelitian telah diketahui bahwa sebagian struma nodusa nontoksik adal ganas.
Biasanya karsinoma tiroid tidak memberikan keluhan yang jelas, kecuaki pada karsinoma
anaplastik. Sering pasiwn karsinoma tiroid datang dengan manifestasi berupa pembesaran
kelenjar getah bening.
Diagnosis
Diagnosis yang lebih pasti diperoleh melalui pemeriksaan histopatologis
Pada umumnya kecurigaan terhadap karsinoma pada suatu nodul tiroid lebih tinggi bila
dijumpai pada anamnesis.
1. umur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 60 tahun
2. riwayat radiasi leher pada waktu kanak kanak
3. suara yang menjadi parau atau tetap demikian
4. disphagia
5. pembesaran tiroid yang cepat
6. rasa nyeri
Nodul tiroid yang jinak paling sering mengenai umur 30 50 tahun. Apabila nodul di jumpai
pada umur dibawah 50 tahun khususnya pada pria 20 70 % adalah ganas. Demikian juga jika
lebih dari 60 tahun.
Adanya gejala local, sura parau dan disphagia biasanya merupakan petunjuk adanya sifat invasi
suatu keganasan tiroid. Suatu nodul yang selama bertahun tahun besarnya tetap hampir
selalu jinak, sedangkan nodul yang sangat cepat membesar dalam beberapa jam atau beberapa
hari menunjukan suatu kista tiroid atau perdarahan. Nodul tiroid maligna biasanya cepat
membesar beberapa minggu atau beberapa bulan.
Sensitivita dan spesifisitas pemerksaan penduga
Pemeriksaan pemeriksaan yang menunjang diagnosis keganasan adalah anamnesis status
lokalis, sidik tiroid, USG, termografi dan petanda tumor mempunyai sensitivitas dan spesivisitas
yang berbeda.
Pengobatan
Dalam menentukan pengobatan perlu diperhatikan beberapa hal yaitu ada tidaknya metastasis
pada kelenjar getah bening yaitu berdasarkan klasifikasi TNM, umur pasien, serta kemampuan
tumor menangkap iodium radioaktif. Dikenal 3 macam gabungan, yaitu :
1. operasi
2. radiasi
3. supresi tirotropin
Pada tindakan operasi tujuannya ialah mengangkat jaringan tiroid yang ganas sebanyak
mungkin dengan meninggalkan kerusakn leher seminimal mungkin. Tindak operasi berupa
tiroidektomi total atau mendekati total dengan mengangkat kelenjar getah bening kalau ada
metastasis. Pada umunya pengobatan dengan reseksi kalau mungkin diikuti radioterapi.
Radioterapi dengan I
131
jarang merupakan terapi tunggal biasanya sebagai tambahan.
Karsinoma yang well differentiated (papilar dan folikular) memiliki kemampuan menangkap
iodium sehingga dapat diobati dengan I
131
dosis tinggi.
Pengobatan dengan I
131
100 150 mCl perlu diberikan pada setiap jaringan tiroid atau
metastase jauh. Terapi penyinaran eksternal dengan megavoltase atau kemoterapi dengan
adriamisin telah dicoba dengan hasil regresi tumor sedangkan mengenai perpanjangan hidup
pasien masih dalam penelitian.
Sesudah operasi atau terapi iodium radioaktif dan kemoterapi semua pasien membutuhkan L-
tiroksin 0,2 mg/hari.
About these ads
Like this:
4 Responses to TIROIDITIS
1. Saya penderita tiroiditis hasimoto. Sudah di operasi tgl 19-1-2013. Sekarang
sudah tidak punya kelenjar tiroid lagi dan tiap hari harus minum utirox 100mg
pagi sebelum makan. Yg jadi pertanyaan saya . Efek samping dari utirox ini
bikin saya sangat gemuk. Apakah ada solusinya. Karena walaupun saya diet
rendah lemakpun saya tetap tambah gemuk.

0

0

Rate This
Dewi laxmi jannowati - August 17, 2013 at 10:49 pm | Reply
Reply
2. bisakah di berikan informasi untuk dokter ahli tiroid di wilayah bandung.
terimakasih

1

0

Rate This
lely - December 20, 2011 at 8:58 am | Reply
Reply
o hmmmaaf saya kurang tau dimana, soalnya saya berdomisili di jakarta

0

0

Rate This
ifan - December 26, 2011 at 9:26 am | Reply
Reply
3. Tiroidisitis

7

1

Rate This
Gandung - November 11, 2010 at 7:00 pm | Reply
Reply

Leave a Reply

Home
This entry was posted on February 12, 2010 at 4:45 pm and filed under SURGERY. You can
follow any responses to this entry through the RSS feed. You canleave a response,
or trackbackfrom your own site.
STRUMA
GANGGUAN TIDUR