Anda di halaman 1dari 35

LGN

Buku Sekarang Aku, Besok Kamu!


Panduan Hukum Bagi Warga Negara Pengguna Ganja
Diterbitkan secara digital oleh Lingkar Ganja Nusantara
www.LGNPANCASILA.org
www.LGNSHOP.org
Rumah Hijau LGN (Pulau Situ Gintung 3)
Jl. Kertamukti Pisangan Raya No.121
Ciputat, Cirendeu, Tangerang Selatan 15419
Telp. : 021-60395198
Email : gotongroyong@legalisasiganja.com
Edisi pertama: Februari 2014
E-book ini adalah hasil kerja #GotongRoyong relawan dan donatur LGN.
Terima kasih untuk :
Yayak Yatmaka
Irfan Maulana
Ridho Bahaweres
Dian A.T.
Batara Suwanto
Octavia Sheila
Andri
J.P. Christo
Muria
dan seluruh nama yang tidak tersebut
2
www.LGNPANCASILA.org
PENTING!
Ebook ini wajib disebarluaskan
kepada seluruh warga negara pengguna ganja.
3
Sekarang Aku, Besok Kamu!
DAFTAR ISI
1. Prolog : Sekarang Aku, Besok Kamu! 5
2. Gambaran Umum 9
Sejarah Singkat Perkembangan UU Narkotika di Indonesia 9
Lonceng Rehabilitasi Telah Berkumandang 10
Data Pengguna Ganja 11
Reeksi Konferensi Internasional Colombo Plan di Yogyakarta Thn 2009 12
3. Kebijakan Rehabilitasi Pecandu Ganja 15
UU Narkotika No.35 Tahun 2009 15
Surat Edaran Mahkamah Agung No.4 Tahun 2010 19
4. Bagaimana Cara Warga Negara Pengguna Ganja Mendapatkan Hak
Rehabilitasi? 22
Fase Perlawanan di Kepolisian 23
Fase Perlawanan di Pengadilan 27
5. Masa Depan Kebijakan Ganja Ada di Tangan Anda 30
6. Daftar Pustaka 33
7. Bagaimana Cara Gotong Royong Bersama LGN? 34
8. Lampiran 41
4
www.LGNPANCASILA.org
Bab 1
PROLOG : SEKARANG AKU, BESOK KAMU!

Seperti telah selalu disampaikan oleh LGN dalam berbagai kesempatan, bahwa
esensi kerja advokasi LGN bukan advokasi kasus tetapi advokasi kebijakan. Dengan
demikian arahnya adalah perubahan undang-undang. Tentu saja itu adalah pilihan yang
sangat sulit. Karena hampir setiap hari LGN menerima pengaduan tentang
kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh unit-unit anti-narkotika dalam pelaksanaan
penegakkan hukum di lapangan. Tidak berhenti di tingkat Kepolisian (unit-unit anti-
narkotika), penyalahgunaan wewenang juga marak terjadi pada level selanjutnya;
Setelah berkas dari Kepolisian lengkap, atau P21, maka kemudian dilimpahkan ke
Kejaksaan, di level Kejaksaan dan Kehakiman inilah penyalahgunaan wewenang
berlanjut sebagai paket dosa struktural atau dosa berjamaah. Artinya, kasus-kasus
penyalahgunaan wewenang yang memakan korban warga Negara pengguna ganja
tersebut tentu saja tidak dapat dibiarkan berlalu begitu saja tanpa kritik-evaluasi.
Dengan bahasa yang lebih lugas, segala bentuk kesewenang-wenangan tersebut tidak
dapat dibiarkan tanpa perlawanan.
Itulah kenapa buku kecil ini diberi judul seperti tersebut di atas itu. Tanpa sengaja
kami menemukan kata-kata tersebut di dalam mantan ruang sidang Landraad
(pengadilan negeri jaman kolonial Hindia Belanda) yang terletak di tengah kota
Bandung, dan sekarang bernama Gedung Indonesia Menggugat. Di tempat itulah
dahulu (mulai 18 Agustus 1930) Ir. Soekarno, Ketua PNI, diadili bersama 3 orang
temannya, karena dianggap membahayakan bagi keberlangsungan kolonialisme
Belanda. Di dalam ruangan itulah kemudian Soekarno membacakan pledoi yang
fenomenal, Indonesia Menggugat. Lingkar Ganja Nusantara menggunakan gedung
yang sama tersebut untuk Menggugat Ketertundukan Pemerintah terhadap Kebijakan
Global Narkotika, di Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), pada tanggal 26 Juni
2013 yang lalu.
Kata-kata tersebut adalah bagian dari artikel yang ditulis Bung Karno di harian
Fikiran Rakjat. Ketika LGN membaca kata-kata itu, Sekarang aku, besok kamu!, pada
saat menata tempat sehari sebelum acara, langsung saja kata-kata itu menjadi tema
diskusi yang cukup serius.
5
Sekarang Aku, Besok Kamu!
Apa kira-kira maksudnya? Namun, begitu kata-kata tersebut ditempatkan dalam
konteks peristiwa dan kejadian yang menimpa Bung Karno dan kawan-kawannya, maka
menjadi sangat jelas.
Dalam pembukaannya di dalam pledoi tersebut, Soekarno muda menulis begini,
Bahwasannya, matahari bukan terbit karena ayam berkokok, tetapi ayam berkokok
karena matahari terbit. Dalam hal ini tak dapat dibantah, Bung Karno bicara tentang
hukum dasar kehidupan, bahkan hukum dasar yang menyangga keteraturan alam
semesta: hukum sebab-akibat. Dengan menampilkan perumpamaan tentang ayam
berkokok di pagi hari dan terbitnya matahari, Bung Karno ingin mengatakan bahwa
sejajar dengan perumpamaan itu, maka bukan dirinya dan para pengurus PNI yang
seharusnya dihadapkan ke pengadilan, tetapi penyebab dari lahirnya perlawanan dari
PNI, yaitu kolonialisme Hindia Belanda-lah yang seharusnya dihadapkan ke pengadilan
atas segala kesengsaraan yang telah ditimbulkannya.
Saat ini, berkat sebuah Undang-undang terbodoh dan dengan demikian terkeji,
yang benama UU RI No. 35, Tahun 2009, tentang Narkotika, banyak sekali warga
Negara yang harus menghadapi berbagai bentuk kesewenang-wenangan aparat
penegak hukum di lapangan. Padahal, jika kita menggunakan logika yang sama dengan
yang diajarkan oleh Bung Karno tadi, kita (rakyat dan Warga Negara yang sah dari
Republik Indonesia) memiliki hak dan bahkan wajib hukumnya untuk meggugat kepada
para penyelenggara Negara, jika terbukti secara sah mereka justru menyalahgunakan
jabatan dan wewenangnya. Sebagai bagian dari warga Negara yang sah dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia, LGN berkewajiban untuk mengingatkan aparat penegak
hukum agar mentaati amanat konstitusi, menjalankan perintah undang-undang dalam
setiap tindakannya di lapangan.
Buku kecil ini adalah upaya dari LGN untuk memenuhi kewajibannya sebagai
bagian dari warga Negara yang sah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk
mengingatkan kepada aparatur penyelenggara Negara atas penyimpangan dan
penyalahgunaan wewenang mereka dalam menjalankan amanat konstitusi. Pada saat
yang bersamaan, buku kecil ini adalah juga ajakan bagi para warga Negara pengguna
ganja untuk berani memperjuangkan haknya sebagai warga Negara yang sah dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan konstitusi atau undang-undang.

6
www.LGNPANCASILA.org
Dengan menempatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai dasar dalam
bertindak dalam kehidupan bernegara, maka alangkah baiknya jika kemudian kita
berurusan dengan hukum menyangkut ganja, kita tidak menerima atau memberikan
tawaran uang damai (86) kepada aparat penegak hukum di lapangan, tetapi
memperjuangkan hak kita di pengadilan. Dengan lain perkataan, alangkah baiknya jika
kita berani melawan. Karena dengan melawan segala bentuk kesewenang-wenangan
aparat penegak hukum di lapangan terhadap para pengguna ganja, berarti kita tidak
saja memperjuangkan hak kita yang telah diatur di dalam undang-undang, tetapi juga
berarti menjalankan kewajiban kita untuk mengingatkan para aparatur Negara yang
menyimpang dan menyalahgunakan jabatan serta wewenangnya.
Buku ini berusaha untuk menunjukkan apa saja yang dapat dipergunakan untuk
memperjuangkan hak sebagai pengguna ganja dan memenuhi kewajiban sebagai
warga Negara mengingatkan pemimpin yang tidak memenuhi kewajibannya. Kata-kata
Bung Karno yang kami temui di GIM tersebut, Sekarang aku, besok kamu!
mengingatkan kepada kita semua, bahwa selama sistem hukumnya sewenang-wenang
dan tetap sewenang-wenang, maka siapapun dapat menjadi korban.
Jadi, marilah kita gotong royong, sebagai warga Negara, memenuhi kewajiban
kita mengingatkan kepada para aparat penegak hukum di lapangan dan para pemimpin
yang membuat kebijakan demi terbentuknya sistem hukum yang benar-benar dapat
memberikan jaminan rasa aman kepada seluruh warga Negara. Dasar moralnya jelas,
jika kita mengetahui ketidakberesan dan bahkan kebusukan dalam sistem hukum kita,
tetapi kita membiarkan dan bahkan mendukungnya, maka berarti kita telah secara
resmi menjadi bangsa yang zhalim. Rasa-rasanya menjadi bangsa yang zhalim BUKAN
merupakan bagian dari cita-cita dan janji Proklamasi Kemerdekaan. Terima kasih.
Yogyakarta, September 2013
Peter Dantovski,
Kepala Divisi Advokasi LGN
7
Sekarang Aku, Besok Kamu!
8
www.LGNPANCASILA.org
Bab 2
GAMBARAN UMUM
Sejarah Singkat Perkembangan UU Narkotika di Indonesia
Sejak Republik Indonesia meratikasi, pada tahun 1967, United Nations Single
Convention on Narcotics Drugs tahun 1961, telah terjadi beberapa kali perubahan
Undang-undang yang mengatur tentang permasalahan Narkotika. Mereka adalah UU
RI No. 9 Tahun 1976, UU RI No. 22 Tahun 1997, dan UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika. Jadi telah tiga kali dilakukan perubahan terhadap UU tentang Narkotika di
Republik Indonesia.
Perubahan-perubahan tersebut dilakukan karena Undang-undang yang lama
dianggap sudah tidak lagi memadahi untuk mengahadapi berbagai perkembangan
terkait persoalan Narkotika yang semakin lama semakin kompleks. Dua Undang-
undang yang terdahulu, UU RI No. 9 Tahun 1976 dan UU RI No. 22 Tahun 1997,
sebagai misal, menempatkan para pengguna narkotika sebagai para pelaku tindak
kejahatan. Sebagai kriminal, maka secara otomatis sanksi hukum yang dijatuhkan oleh
pengadilan adalah vonis pidana, artinya hukuman badan atau penjara.
Dengan adanya berbagai perkembangan baru yang terjadi di dalam kebijakan
dan cara pandang PBB atau United Nations seputar narkotika, maupun berbagai
perkembangan pemahaman tentang narkotika yang terjadi dalam perspektif human
rights, maka mulai dirasakan bahwa mengkriminalkan dan kemudian memenjarakan
para pengguna narkotika adalah tindakan yang keliru. Perubahan atau perkembangan
inilah yang kemudian menempatkan para pengguna dalam perspektif korban. Perpektif
ini, dengan demikian, memandang para korban tersebut harus direhabilitasi; sedangkan
rehabilitasi tersebut harus diberikan baik secara medis atau sosial.
Dalam pemahaman yang sama dengan perkembangan-perkembangan yang
terjadi seputar bagaimana seharusnya para pengguna narkotika atau para korban
tersebut ditangani, maka Undang-undang yang lama, dalam hal ini adalah UU RI No. 22
tahun 1997, dirasa tak lagi memadahi. Jika dipandang dari perpektif atau sudut
pandang tersebut, menjadi sangat jelas, bahwa undang-undang tentang narkotika yang
9
Sekarang Aku, Besok Kamu!
baru, yaitu UU RI No. 35 Tahun 2009, memiliki peluang untuk menjadi sebuah Undang-
undang yang lebih humanis.
Bahwa UU tentang Narkotika yang baru ini adalah sebuah UU yang humanis
nampaknya telah menjadi salah satu tema kampanye yang paling sering dikatakan oleh
Badan Narkotika Nasional (BNN) di berbagai kesempatan; terutama di forum-forum
seminar. Atas kenyataan tersebut, ada dua hal menarik yang sangat patut untuk
diperhatikan. Yang pertama, pernyataan tersebut menegaskan bahwa UU yang
terdahulu sangat jauh untuk dapat disebut sebagai UU yang humanis. Yang kedua,
pernyataan tersebut menegaskan bahwa sejatinya UU tentang Narkotika tersebut
sangat kontradiktif dengan pemahaman hakiki dari prinsip utama hukum, yaitu menjaga
keteraturan demi memenuhi kebutuhan manusia atas rasa aman.
Lonceng Rehabilitasi Telah Berkumandang
Para pejabat terkait yang paling bertanggung jawab terhadap persoalan narkoba
(Kapolri, Mahkamah Agung, para petinggi BNN, hingga Presiden), sudah berulang kali
menekankan bahwa arah dan sasaran dari war on drugs di Indonesia adalah untuk
menggulung para bandar dan merehabilitasi para pengguna. Buktinya ada banyak
sekali. Sebagai misal, kita dapat melihat dari beberapa Surat Edaran Mahkamah Agung
(SEMA), dan SEJA (Surat Edaran Jaksa Agung) yang dikeluarkan untuk memastikan
bahwa hak untuk mendapatkan rehabilitasi bagi para pengguna benar-benar dapat
diperoleh.
Hal tersebut dipertegas kembali oleh Pidato Presiden SBY saat merayakan Hari
Anti Narkotika Internasional (HANI) 24 Juni 2013 lalu di Istana Negara:
1
Kita harus menyamakan persepsi terutama dalam cara pandang terhadap urusan
narkoba. Saya melihat bahwa masyarakat kurang bisa membedakan mana saudara-
saudara kita, anak-anak kita yg tergolong sebagai korban. Dan siapa-siapa yang boleh
dikatakan sebagai penjahat di bidang Narkoba. Jika tidak dipahami solusinya menjadi
keliru. Banyak anak-anak kita yang murni sebagai korban. Tidak ada niat dan tindakan
kejahatan yang mereka lakukan. Terhadap mereka itu, solusinya adalah diobati,
direhabilitasi, dibimbing kembali agar dia punya masa depan. Upaya ini harus sama
kuatnya dengan upaya penegakan hukum.
10
www.LGNPANCASILA.org
1
Pidato Presiden RI dalam rangka Hari Anti Narkotika Internasional 2013, Tertanggal 24 Juni 2013,
Metro TV, (ditelusuri 24 Juni 2013).
Dalam sambutan Buku Globalisasi Peredaran Narkoba dan Penanggulangannya
di Indonesia
2
, Mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (periode 2010
2013) Drs. Timur Pradopo menegaskan pula:
memberikan pandangan baru bagaimana korban pengguna narkoba tidak
dipidanakan, tetapi langsung direhabilitasi. Paradigma ini sebenarnya telah lama
disuarakan dan telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika, dan dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010,
tetapi dalam implementasinya belum banyak dilakukan, sehingga sampai sejauh ini
korban pengguna narkoba masih harus menjalani proses pengadilan.
Data Pengguna Ganja
Berikut ini adalah data yang semoga dapat memberikan gambaran dan latar
belakang kenapa dekriminalisasi penguna ganja menjadi sesuatu yang sangat penting
untuk segera dilakukan dan dipenuhi. Terutama karena, bukan saja proses kriminalisasi
pengguna ganja adalah sesuatu yang berlawanan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan,
tetapi juga karena kriminalisasi pengguna ganja adalah sesuatu yang mutlak
bertentangan dengan ajaran Pancasila.
Data Jumlah Penyalahguna Narkoba Per Provinsi Menurut Jenis Narkoba Tahun
2011, yang diterbitkan oleh BNN dan Puslitkes UI, Maret 2012, menyebut bahwa jumlah
penyalahguna ganja adalah 2.816.429 orang. Dari data tersebut dapat dilihat dengan
sangat jelas bahwa ganja menduduki peringkat pertama, 65,9% dari total penyalahguna
narkoba di Indonesia.
Data lain dari Jurnal BNN
3
menunjukan bahwa negara telah memenjarakan
37.923 kasus kepemilikan ganja dari semenjak diberlakukannya UU No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika hingga tahun 2012. Angka tersebut berarti 26 pemenjaraan kasus
ganja setiap harinya. Sangat mungkin hal tersebut masih terjadi sampai hari ini.
Dalam 6 bulan, antara Februari-Oktober 2012, dari puluhan kasus ganja,
Pengadilan Negeri Yogyakarta hanya memvonis 1 kasus narkoba, jenis ganja, dengan
menggunakan pasal-pasal rehab dalam UU no. 35 tersebut. Kasus tersebut bernomor
registrasi perkara (No. Reg. Perkara): PDM-76/Yogya/05.2012, dan didampingi oleh Tim
Penasehat Hukum dari PKBH UAD.
11
Sekarang Aku, Besok Kamu!
2
Simanungkalit, Parasian, Globalisasi Peredaran Narkoba dan Penanggulangannya di Indonesia,
Cetakan kedua, Jakarta: Yayasan Wajar Hidup, 2011.
3
Data BNN, Jurnal Data P4GN BNN, 2013
Urgensi dari perlunya kita memperoleh data tentang berapa pengguna ganja
yang divonis rehab oleh pengadilan adalah untuk melihat bagaimana korelasi atau
sinkronisitas yang akan terlihat jika kedua data tersebut dibandingkan secara obyektif.
Seharusnya, jika menggunakan logika yang sederhana saja, para pengguna ganja
adalah yang paling banyak menghuni tempat-tempat rehabilitasi. Kenyataanya BNN
hanya mencatat 546 residen yang menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Lido.
Reeksi Konferensi Internasional Colombo Plan
di Yogyakarta Tahun 2009
Terkait dengan pelaksanaan di lapangan atas pasal 35 dan 127 (3) UU No. 35,
ada sebuah cerita dari Bruder Appolonaris Setara, FC, pendiri dan pendamping di Pusat
Rehabilitasi Kunci Yogyakarta, RKY (salah satu tempat rehabilitasi yang mendapat
rekomendasi dari BNN-P DIY dan Pem. Prov. DIY untuk menjalankan program
rehabilitasi bagi pecandu narkotika dan menjadi satu dari sedikit institusi sejenis yang
ditunjuk untuk menjadi institusi pelaksana program IPWL). Beliau menceritakan bahwa
antara bulan Juni atau Juli, Jogjakarta menjadi tuan rumah bagi penyelengaraan
konferensi internasional, Colombo Plan, dan tema dari konferensi tersebut kira-kira
adalah seputar drugs abuse.
Daerah Istimewa Yogyakarta dipilih menjadi tempat penyelenggaraan, salah
satunya, adalah karena di Provinsi itulah dibangunnya Lapas Khusus Narkoba yang
pertama di Indonesia. Selain Lapas khusus narkoba, dibangun juga di dalam kompleks
yang sama, fasilitas rehabilitasi. Lokasinya adalah di Kecamatan Pakem, Kabupaten
Sleman; Dari arah Jogja, kurang dari 2 kilometer sebelum mencapai lokasi obyek
wisata Kaliurang yang terkenal itu. Lokasi yang sangat ideal untuk melakukan
rehabilitasi.
Namun, menjelang diselenggarakannya konferensi tersebut, menurut Bruder
Apol, terjadi sedikit kelucuan. Para petugas di Pusat Rehabilitasi Narkoba Ghrasia
Yogyakarta, yang di Pakem itu, sibuk berkeliling ke tempat-tempat rehabilitasi swasta
seperti RKY dan di tempat-tempat rehabilitasi milik Dinas Sosial (seperti yang
berlokasi di Kecamatan Kalasan, Sleman). Tujuannya adalah meminjam para residen
(istilah untuk para penghuni rehab) untuk ditempatkan di Pusat Rehabilitasi Ghrasia
Yogyakarta selama akan diadakannya kunjungan oleh para delegasi Colombo Plan;
Tentu saja kunjungan ke Pusat Rehabilitasi bagi para pecandu Narkoba adalah salah
satu agenda dari sebuah konferensi yang tema utamanya adalah soal drugs abuse.
12
www.LGNPANCASILA.org
Pada kenyataannya, Pusat Rehabilitasi tersebut, dapat dibilang tidak berfungsi
seperti tujuan peruntukkan pembangunannya. Ghrasia sebagai pusat rehabilitasi bagi
pecandu Narkotika, mulai berfungsi sejak tahun 2009, sebagai bentuk implementasi di
lapangan atas pelaksanaan UU Narkotika yang baru, UU RI No. 35 tahun 2009, pasal
54, 55, 103 dan 127 ayat 3. Artinya, seharusnya, sejak tahun 2009, para pecandu yang
divonis oleh pengadilan untuk menjalani rehabilitasi seperti diamanatkan oleh Undang-
undang, berada di tempat tersebut. Jika amanat konstitusi dipenuhi, seharusnya para
petugas di Pusat Rehabilitasi tersebut tidak perlu kebingunan untuk mencari pinjaman
residen ke tempat-tempat rehab yang lain.
Apa yang terjadi di Yogyakarta tersebut, seperti diceritakan oleh Bruder Apol,
adalah bukti paling nyata bahwa sejak UU tersebut berlaku, dapat dibilang hampir tidak
ada warga Negara yang divonis rehab. Artinya, seolah-olah semua warga Negara yang
terjerat kasus Narkotika, tidak peduli bagaimana alasan atau latar belakangnya, harus
masuk penjara, harus dipidana dan dengan demikian diwajibkan oleh Negara untuk
menjadi seorang kriminal.
Sebenarnya jika mau jujur, seluruh proses penegakkan hukum di lapangan atas
kasus Narkotika di Indonesia, hingga saat buku kecil ini disusun, dapat dibilang
sepenuhnya mengabaikan amanat konstitusi. Dalam hal ini secara spesik pasal 54,
55, 103, dan 127 ayat 3, dalam UU RI No. 35, tahun 2009 tentang Narkotika tersebut.
Dengan begitu, adalah sesuatu yang sangat layak untuk dipertanyakan, ada apa
sebenarnya?
Kenapa Negara seolah-olah begitu bernafsu untuk mengkriminalkan dan
memenjarakan tanpa pandang bulu warga negaranya sendiri?
Negara macam apa yang sepertinya sangat membutuhkan supaya ada sebanyak
mungkin warga negaranya memiliki catatan kriminal?
Negara macam apa yang begitu ingin supaya warga negaranya sendiri, yang
seharusnya dilindunginya, untuk menjadi penjahat?
13
Sekarang Aku, Besok Kamu!
14
www.LGNPANCASILA.org
Bab 3
KEBIJAKAN REHABILITASI PECANDU GANJA
Dalam bab ini LGN akan menuliskan seluruh kebijakan rehabilitasi yang
mengatur hak Anda sebagai warga negara pengguna ganja. Dengan sangat mudah
Anda akan menemukan bahwa negara seharusnya tidak memenjarakan warga negara
pengguna ganja.
UU Narkotika No. 35 Tahun 2009
Di dalam UU ini, Anda akan menemukan berbagai istilah yang sesungguhnya
mengacu pada pengguna ganja. Oleh karena itu, mari kita mulai dengan menjelaskan
istilah-istilah tersebut satu-persatu :

Penyalahguna ganja adalah setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum
menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan
tanaman ganja.

Pecandu ganja adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan ganja


dikategorikan sebagai orang yang menggunakan atau menyalahgunakan ganja
dan dalam keadaan ketergantungan pada ganja, baik secara sik maupun psikis.

Ketergantungan ganja adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk


menggunakan ganja secara terus-menerus dengan takaran yang meningkat agar
menghasilkan efek yang sama dan apabila penggunaannya dikurangi dan/atau
dihentikan secara tiba-tiba, menimbulkan gejala sik dan psikis yang khas.
15
Sekarang Aku, Besok Kamu!
Bab XV Ketentuan Pidana
Pasal 111
(1) Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara,
memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam
bentuk tanaman, dipidanakan dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun
dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp800. 000. 000, 00 ( del apan r at us j ut a r upi ah) dan pal i ng banyak
Rp8.000.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai atau
menyediakan Narkotika Golongan 1 dalam bentuk tanaman sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) beratnya melibihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon,
pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama
20 (dua puluh) dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditambah 1/3 (sepertiga).
Pasal 127
(1) Setiap Penyalah Guna:
a. Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4
(empat) tahun;
b. Narkotika Golongan II bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 2
(dua) tahun; dan
c. Narkotika Golongan III bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
(satu) tahun.
(2) Dalam memutus perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hakim wajib
memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54, Pasal 55, dan
Pasal 103.
(3) Dalam hal Penyalah Guna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibuktikan
atau terbukti sebagai korban penyalahgunaan Narkotika, Penyalah Guna tersebut wajib
menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
16
www.LGNPANCASILA.org
Bab IX Pengobatan & Rehabilitasi
Pasal 54
Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi
medis dan sosial.
Pasal 55
(1) Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib
melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga
rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk
mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitas medis dan rehabilitasi
sosial.
(2) Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan
oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga
rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk
mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan
rehabilitasi sosial.
Pasal 56
(1) Rehabilitasi medis pecandu Narkotika dilakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh
Menteri.
(2) Lembaga rehabilitasi tertentu yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau
masyarakat dapat melakukan rehabilitasi medis pecandu Narkotika setelah
mendapatkan persetujuan Menteri.
Pasal 57
Selain melalui pengobatan dan/atau rehabilitasi medis penyembuhan Pecandu
Narkotika dapat diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat melalui
pendekatan keagamaan dan tradisional.
17
Sekarang Aku, Besok Kamu!
Pasal 58
Rehabilitasi sosial mantan Pecandu Narkotika diselenggarakan baik oleh instansi
pemerintah maupun oleh masyarakat.
Pasal 59
(1) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 dan 57 diatur
dengan Peraturan Menteri.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 diatur dengan
peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial.
Bab XII Penyidikan, Penuntutan, dan Pemeriksaan
di Sidang Pengadilan
Pasal 103
(1) Hakim yang memeriksa perkara pecandu Narkotika dapat:
a. memutus untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau
perawatan melalui rehabilitasi jika pecandu Narkotika tersebut terbukti bersalah
melakukan tindak pidana Narkotika; atau
b. menetapkan untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/
atau perawatan melalui rehabilitasi jika pecandu Narkotika tersebut terbukti bersalah
melakukan tindak pidana Narkotika.
(2) Masa menjalani pengobatan dan/atau perawatan bagi pecandu narkotika
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diperhitungkan sebagai masa menjalani
hukuman.
18
www.LGNPANCASILA.org
SEMA No. 4 Tahun 2010
Menyadari kurangnya pelaksanaan pasal rehabilitasi pecandu ganja tersebut,
maka Mahkamah Agung Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah
Agung (SEMA) No. 7 Tahun 2009 tentang Menempatkan Pemakai Narkotika ke dalam
Panti Terapi dan Rehabilitasi, tertanggal 17 Maret 2009.
Setahun kemudian tepatnya tanggal 7 April 2010, Mahkamah Agung RI
mengeluarkan revisi dengan SEMA No. 4 Tahun 2010 tentang Penempatan
Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga
Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial. Terdapat dua pertimbangan utama dalam
mengeluarkan surat edaran tersebut:
4
a. Memperlihatkan bahwa sebagian besar dari Narapidana dan tahanan kasus
narkotika adalah termasuk kategori pemakai atau bahkan sebagai korban yang jika
dilihat dari aspek kesehatan mereka sesungguhnya orang-orang yang menderita
sakit, oleh karena itu memenjarakan yang bersangkutan bukanlah langkah yang
tepat karena telah mengabaikan kepentingan perawatan dan pengobatan;
b. Kondisi Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) pada saat ini tidak mendukung, karena
dampak negatif keterpengaruhan oleh perilaku kriminal lainnya dapat semakin
memperburuk kondisi kejiwaan, kesehatan yang diderita para narapidana narkotika
dan psikotropika akan semakin berat.
5
Berdasarkan kedua hal tersebut, Ketua Mahkamah Agung meminta agar hakim
yang menangani perkara ganja dapat menerapkan ketentuan pasal 103 ayat 1 (huruf a
dan b) dan ayat 2 UU No. 35 Tahun 2009 sebagaimana tertulis di atas. Penerapan
pasal tersebut harus memenuhi persyaratan yang tertuang dalam SEMA No. 4 Tahun
2010, yaitu:
19
Sekarang Aku, Besok Kamu!
4
Eunike S. Tyas Suci et. Al, Perubahan Perilaku Penyalahgunaan Napza di Jakarta: Sebuah Studi
Longitudinal. Jakarta: Atma Jaya, 2010, hlm 105.
5
Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 7 Tahun 2009, hlm 1.
1. Terdakwa pada saat ditangkap oleh penyidik Polri dan BNN dalam kondisi
tertangkap tangan;
2. Pada saat tertangkap tangan sesuai butir a di atas ditemukan barang bukti
pemakaian 1 (satu) hari dengan perincian antara lain sebagai berikut:
a. Kelompok metamphetamine (shabu) : 1 gram
b. Kelompok MDMA (ekstasi) : 2,4 gram / 8 butir
c. Kelompok Heroin : 1,8 gram
d. Kelompok Kokain : 1,8 gram
e. Kelompok Ganja : 5 gram
f. Daun Koka : 5 gram
g. Meskalin : 5 gram
h. Kelompok Psilosybin : 3 gram
i. Kelompok LSD : 2 gram
j. Kelompok PCP : 3 gram
k. Kelompok Fentanil : 1 gram
l. Kelompok Metadon : 0,5 gram
m. Kelompok Morn : 1,8 gram
n. Kelompok Petidin : 0,96 gram
o. Kelompok Kodein : 72 gram
p. Kelompok Bufrenorn : 32 mili gram
3. Surat uji Laboratorium positif menggunakan Narkotika berdasarkan permintaan
penyidik;
20
www.LGNPANCASILA.org
4. Perlu Surat Keterangan dari dokter jiwa/psikiater pemerintah yang ditunjuk oleh
hakim;
5. Tidak terdapat bukti bahwa yang bersangkutan terlibat dalam peredaran gelap
Narkotika.
Dalam hal Hakim menjatuhkan pemidanaan berupa perintah untuk dilakukan
tindakan hukum berupa rehabilitasi atas diri Terdakwa, Majelis Hakim harus menunjuk
secara tegas dan jelas tempat rehabilitasi yang terdekat dalam amar putusannya.
Tempat-tempat rehabilitasi yang dimaksud adalah:
a. Lembaga rehabilitasi medis dan sosial yang dikelola dan/atau dibina dan diawasi
oleh Badan Narkotika Nasional.
b. Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, Jakarta.
c. Rumah Sakit Jiwa di seluruh Indonesia (Depkes RI) (Lihat Lampiran)
d. Panti Rehabilitasi Departemen Sosial RI dan Unit Pelaksana Teknis Daerah
(UPTD) (Lihat Lampiran).
e. Tempat-tempat rujukan lembaga rehabilitasi yang diselenggarakan oleh
masyarakat yang mendapat akreditasi dari Departemen Kesehatan atau
Departemen Sosial (dengan biaya sendiri).
Putusan yang dijatuhkan oleh hakim harus menyebutkan berapa lama terdakwa
harus menjalani pengobatan dan/atau perawatan. Perlu adanya keterangan ahli tentang
tingkat kecanduan terdakwa dan sebagai standar dalam proses terapi dan rehabilitasi.
Acuan standar lamanya proses terapi dan rehabilitasi, adalah sebagai berikut :

Detoksikasi lamanya 1 bulan

Primary program lamanya 6 bulan

Re-entry program lamanya 6 bulan


6
21
Sekarang Aku, Besok Kamu!
6
Eunike S. Tyas Suci et. Al, op. Cit, hlm 108.
Bab 4
BAGAIMANA CARA WARGA NEGARA
PENGGUNA GANJA MENDAPATKAN
HAK REHABILITASI?
Di dalam bab ini warga negara pengguna ganja akan mendapatkan panduan
praktis yang dapat digunakan apabila tertangkap oleh aparat penegak hukum di
lapangan. Tujuan daripada panduan praktis ini adalah warga negara pengguna ganja
mendapatkan vonis rehabilitasi medis maupun sosial dengan tanpa mengeluarkan uang
sogok sepeserpun untuk Kepolisian, Kejaksaan maupun Kehakiman.
Seperti kami tegaskan di awal, panduan ini belum tentu membuat warga negara
pengguna ganja mendapatkan vonis rehabilitasi seperti yang diamanatkan pasal 54 UU
Narkotika No. 35 Tahun 2009; terutama karena faktor buruknya mental penegak hukum
di lapangan.
Berdasarkan pengalaman dan testimoni warga negara pengguna ganja yang
telah menjalani kejamnya sistem penegakan hukum bagi warga negara pengguna ganja
di lapangan, LGN menyimpulkan panduan ini ke dalam 2 fase perlawanan. Fase
perlawanan pertama dilakukan pada saat Anda disidik di Kepolisian. Sedangkan fase
perlawanan kedua dilakukan di dalam persidangan.

22
www.LGNPANCASILA.org
FASE PERLAWANAN DI KEPOLISIAN
Tujuan : Bukti Acara Pemeriksan (BAP) mencantumkan pasal 127.
Taktik :
1. Bersikap tenang.
Pengalaman saudara-saudara kita yang pernah tertangkap tangan
menggunakan ganja sangatlah mengerikan. Pemukulan, ditelanjangi, diteror,
ditodong senjata api, dan sebagainya adalah hal yang biasa terjadi.
Kenyataannya, sangat sulit menghentikan kebiadaban aparat penegak hukum
yang sudah membudaya ini.
Kita tidak dapat merubah perilaku biadab mereka, tapi kita dapat
mengendalikan perilaku dan jiwa kita sendiri. Pada saat-saat seperti ini
ketenangan jiwa adalah hal yang paling utama. Setelah Anda mampu
menenangkan diri, katakanlah bahwa Anda pecandu ganja bukan pemilik apalagi
pengedar. Sasarannya adalah Anda sesegera mungkin dibawa ke kantor polisi
untuk diperiksa lebih lanjut dan terhindar dari teror sik maupun psikis.
2. Katakan dan yakinkan penyidik bahwa Anda adalah pecandu ganja.
Apapun status pengunaan ganja Anda, katakanlah dengan tegas kepada
penyidik bahwa saya adalah pecandu ganja. Berapapun jumlah ganja yang
kalian miliki saat terjadi proses penangkapan, katakanlah dengan tegas kepada
penyidik bahwa itu adalah ganja saya dan saya membutuhkannya karena saya
pecandu.
LGN sangat memahami bahwa pengguna dan pecandu ganja adalah 2
hal yang berbeda. Namun di mata hukum, hanya pecandu yang berhak
mendapatkan vonis rehabilitasi. Oleh karena itu, pengakuan diri sebagai
pecandu ganja harus dilihat sebagai strategi untuk menyelamatkan diri dari vonis
pidana minimal 4 tahun.

23
Sekarang Aku, Besok Kamu!
Ada 5 indikasi kecanduan psikologis yang harus dipenuhi agar Anda
mendapat predikat pecandu ganja
7
. Minimal 3 indikasi saja terpenuhi, Anda
dapat dikatakan sebagai pecandu ganja:
a. Terjadinya peningkatan jumlah konsumsi ganja dari waktu ke waktu. Misalnya
Anda dapat katakan, Saya menggunakan ganja 1 linting seminggu di tahun
pertama. Setelah 3 tahun menggunakan ganja, sekarang saya bisa
menggunakan 3 linting semingu.
b. Adanya keinginan kuat dan kesulitan kontrol pennggunaan ganja. Misalnya
Anda dapat katakan, Setiap kali abis pulang kerja, saya merasa cape dan
membutuhkan ganja. Keinginan ini selalu datang setiap kali saya bekerja
dengan produktif dalam sehari.
c. Menghabiskan beberapa waktu untuk mencari, menggunakan dan
memulihkan diri dari efek ganja. Misalnya Anda dapat katakan, Setiap akhir
pekan saya selalu menyisihkan uang saya untuk membeli ganja. Kalaupun
saya tidak dapat menemukannya di bandar, saya mencari bandar-bandar
lainnya. Bandarnya saya ga kenal, tau namanya aja tidak. Contoh lainnya,
kalau saya lagi merasakan giting karena menghisap ganja, saya lebih
memilih untuk menyendiri di kamar dan menghabiskan waktu bersama diri
saya sendiri.
d. Hambatan dalam hubungan sosial, pekerjaan dan aktivitas lainnya. Misalnya
Anda dapat katakan, Kadang-kadang saya merasa dijauhkan dari lingkungan
saya ketika memakai ganja. Contoh lainnya, pekerjaan saya sering
terganggu kalau saya menggunakan ganja pada saat bekerja.
e. Tetap menggunakan ganja walaupun menyadari terjadinya gangguan sik
ataupun psikologis. Misalnya Anda dapat katakan, Saya suka batuk-batuk
ketika menggunakan ganja. Contoh lainnya, saya cenderung menjadi
emosional kalau tidak menggunakan ganja.
Intinya arahkan segala jawaban supaya Anda dicatat sebagai pecandu
ganja. Sasaran dari proses ini adalah mendapatkan pasal 127 UU Narkotika No.
35 Tahun 2009.
24
www.LGNPANCASILA.org
7
Roger Roffman & Robert S. Stephens, Cannabis Dependence, Its Nature, Consequences and
Treatment, Cambridge University Press, 2006
3. Jangan menerima atau menawarkan uang sogok (istilah jalanan = 86).
Kalian pasti ditawari penyidik untuk membayar sejumlah uang (86) untuk
bisa bebas. Biasanya ada juga warga negara pengguna ganja yang karena
ketakutan akibat buta hukum menawarkan uang sogok untuk bisa bebas.
Momen ini adalah titik yang sangat menentukan, apakah Anda akan
melawan untuk menuntut hak rehabilitasi? atau menyerah, mengikuti dan ikut
melanggengkan buruknya sistem penegakan hukum yang ada?
Apapun alasannya, memberikan uang sogok (86) artinya melanggengkan
keburukan sistem penegakan hukum di lapangan. Sekali lagi, apabila kalian ingin
ikut gotong royong melawan biadabnya sistem penegakan hukum di lapangan,
jangan lakukan 86. Lawan di pengadilan!

4. Tuntut hak Anda sebagai warga negara yang sedang menjalankan proses
penyidikan.
Setiap warga negara yang sedang menjalani proses penyidikan adalah
orang-orang yang belum dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana.
Berdasarkan asas praduga tak bersalah Anda harus dianggap dan memilki hak-
hak sebagaimana layaknya orang yang tidak bersalah. Ada beberapa hak yang
telah terjamin oleh KUHAP yang tersebar dalam beberapa pasal, antara lain:
a) Hak untuk menghubungi penasihat hukumnya, dan bagi tahanan yang
berkewarganegaraan asing berhak untuk menghubungi perwakilan negaranya
(pasal 57)
b) Hak untuk menerima kunjungan dokter pribadi untuk kepentingan kesehatan
baik yang ada hubungannya dengan proses perkara maupun tidak (Pasal 58)
c) Hak untuk diberitahukan proses penahanannya serta hak untuk menghubungi
dan menerima kunjungan dari kepala keluarga, orang serumah, atau orang-
orang yang bantuannya dibutuhkan oleh tersangka guna mendapatkan
bantuan hukum atau jaminan bagi penanggulangannya (Pasal 59 dan Pasal
60). Tersangka juga berhak untuk mendapatkan kunjungan sanak keluarganya
untuk kepentingan pekerjaan atau kepentingan kekeluargaan (Pasal 61).
d) Hak untuk mengirim dan menerima surat, dan untuk itu disediakan alat tulis.
e) Hak untuk menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniawan.
25
Sekarang Aku, Besok Kamu!

5. Baca dan pel aj ari Bukt i Acara Pemeri ksaan ( BAP) sebel um
menandatangani.
Hasil dari proses penyidikan yang dilakukan Polisi adalah Bukti Acara
Pemeriksaan atau biasa disebut BAP. BAP bukanlah alat bukti. BAP merupakan
alat bantu Hakim dan Jaksa ketika mengadili Anda. Artinya, segala hal yang
tertulis di dalam BAP bukanlah vonis nal.
Namun tetap saja, Anda harus benar-benar membaca seluruh kata yang
tertulis didalamnya dengan seksama. Pastikan BAP menuliskan pasal 127 UU
Narkotika No. 35 Tahun 2009. Jangan pernah menandatangani BAP yang tidak
sesuai dengan keterangan yang kalian berikan tanpa perlawanan. Apabila Anda
mendapatkan teror berupa kekerasan sik maupun psikis karena menolak
menandatangani BAP, segera lakukan langkah no 6.

6. Catat; nama Unit Narkotika yang menangkap, nama Penyidik & nama
Kepala Unit (Kanit).
Misalnya Satuan Narkoba Unit 1 Polresta Yogayakarta, Penyidik Bapak
Safari, Kepala Unit Bapak Bambang.
Perlu LGN ingatkan sekali lagi, tujuan perlawanan kita adalah
memperbaiki sistem penegakan hukum yang tidak berjalan sebagaimana
mestinya. Sebagai warga negara yang merindukan kepastian hukum, Anda
harus segera menelfon dan mengirimkan surat mengenai data-data di atas
kepada Komisi Polisi Nasional (KOMPOLNAS) agar oknum yang bersangkutan
dapat diadili melalui mekanisme internal Kepolisian. Jelas demi kebaikan mereka
sendiri.
KOMPOLNAS
Jl. Tirtayasa VII No.20, Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12160
Telp. : 021-7392317
Fax : 021-7392317
SMS center : 0818.0821.3996
26
www.LGNPANCASILA.org
FASE PERLAWANAN DI PENGADILAN
Tujuan : Vonis Pasal 127 (3)
Taktik :
1. Persiapkan poin-poin pembelaan Anda sebelum persidangan.
Anda memiliki waktu luang untuk mempersiapkan pembelaan. Manfaatkan
waktu tersebut untuk berkonsultasi dengan penasihat hukum atau dengan Divisi
Advokasi LGN (via telepon atau email).

2. Katakan dan yakinkan hakim bahwa kalian adalah pecandu ganja.
Sama seperti fase perlawanan di Kepolisian.
3. Jangan menerima atau menawarkan uang sogok (istilah jalanan = 86).
Sama seperti fase perlawanan di Kepolisian.
4. Tuntut hak Anda sebagai warga negara yang sedang menjalankan proses
persidangan.
Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah Anda mendapatkan
penasihat hukum. Hakim berkewajiban memastikan Anda didampingi oleh
penasihat hukum. Apabila Anda tidak memiliki uang, Negara wajib menyediakan
pendamping hukum secara gratis untuk Anda.
Selebihnya sama seperti fase perlawanan di Kepolisian.

5. Bawa dan gunakan Buku Hikayat Pohon Ganja, Kriminalisasi Ganja dan
Sekarang Aku, Besok Kamu!.
Buku Hikayat Pohon Ganja ditulis untuk membedah sejarah ekonomi-
politik yang melatarbelakangi terbentuknya UU Narkotika (anti ganja) di
Indonesia. Selain itu, buku ini juga memuat sejarah pemakaian ganja oleh
27
Sekarang Aku, Besok Kamu!
berbagai macam suku-suku bangsa dan untuk berbagai macamkebutuhan.
Fungsi Buku tersebut:
a. Meyakinkan hakim bahwa kecanduaan ganja Anda karena sesuatu yang
bermanfaat.
b. Mematahkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang mengatakan bahwa
ganja merupakan zat berbahaya. Berbahaya bagi individu maupun
masyarakat.
Buku Kriminalisasi Ganja ditulis oleh warga negara pengguna ganja yang
berhasil mendapatkan vonis rehabilitasi tanpa memberikan uang sogok
sepeserpun. Buku ini akan lebih bermanfaat untuk Anda dibandingkan hakim
maupun Jaksa. Fungsi buku tersebut :
a. Meyakinkan Anda untuk menuntut hak rehabilitasi bagi warga negara
pecandu ganja dengan cara-cara yang sesuai dengan UU.
b. Memberikan inspirasi perlawanan kepada Anda.
Terakhir, buku yang Anda pegang ini. Buku SABK!
Anda dapat menghubungi Divisi Advokasi LGN untuk konsultasi lebih lanjut.
Rumah Hijau LGN (Pulau Situ Gintung 3)
Jl. Kertamukti Pisangan Raya No.121
Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan 15419
Telp. : 021-60395198 (jam dan hari kerja)
Email : gotongroyong@legalisasiganja.com
28
www.LGNPANCASILA.org
29
Sekarang Aku, Besok Kamu!
Bab 5
MASA DEPAN KEBIJAKAN GANJA ADA DI
TANGAN ANDA
Tahun ini beberapa negara telah melegalisasi ganja. Ya betul legalisasi, bukan
dekriminalisasi atau depenalisasi. Pemerintah Uruguay misalnya, telah mengambil alih
aset kapital bernama pohon ganja dari tangan pasar gelap. Presidennya dengan
terang-terangan mengatakan bahwa Uruguay akan mengambil strategi yang berbeda
dan unik yaitu menjual ganja dengan harga lebih murah dibanding pasar gelap. Kalau
pasar gelap menjual ganja Rp. 50.000,- per gram, pemerintah Uruguay akan
menjualnya dengan harga Rp. 10.000,- gram.
Berbeda halnya dengan Amerika. Dua negara bagian Washington dan Colorado
awal tahun ini mengeluarkan UU Legalisasi Ganja walaupun tidak disetujui oleh
pemerintah pusat. Di dua tempat itu, pohon ganja telah resmi dimiliki oleh perusahaan-
perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang medis dan industri pertanian.
Fenomena ini juga merupakan strategi negara kapitalis untuk mengambil alih pasar
gelap ganja.
Coba kita kembali membaca sejarah pertama kali diberlakukannya kebijakan anti
ganja di dunia. Kebijakan tersebut lahir dan tumbuh di Amerika pada tahun 1937.
Kebijakan yang lahir dari kerakusan dan kelicikan sekelompok orang yang
menginginkan monopoli aset kapital bernama tanaman ganja. Dimulai dengan
mengatakan ganja sebagai biang keladi kriminalitas kulit hitam dan orang-orang
hispanik hingga berakhir dengan propaganda ganja merusak generasi muda. Semua
informasi tersebut sudah terbukti kebohongannya (baca Buku Hikayat Pohon Ganja).
Semenjak kemenangan Amerika dan sekutunya pada Perang Dunia ke 2 tahun
1945, propaganda anti ganja semakin lantang disuarakan di dunia. Puncaknya terjadi
ketika ditandatanganinya Konvensi Tunggal Tentang Narkotika tahun 1961 dan
protokolnya 10 tahun kemudian. Lebih dari " negara-negara di dunia tunduk dan
30
www.LGNPANCASILA.org
mengikuti Konvensi tersebut, termasuk Indonesia di tahun 1976. Sekedar
mengingatkan kembali. Kebijakan tersebut mengharuskan setiap negara untuk
melakukan 3 hal utama. Pertama, membumihanguskan pohon ganja dari tanah airnya,
kedua melarang penggunaan medis ganja tanpa kecuali, dan ketiga memenjarakan
warga negaranya yang terbukti memiliki atau menggunakan ganja.
Pada masa pemerintahan Bung Karno, NKRI tidak merestui konvensi tersebut.
Buktinya jelas, UU Narkotika hasil rativikasi Konvensi PBB disahkan pada masa orde
baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. UU Narkotika No. 35 Tahun 2009
yang berlaku sampai detik ini adalah pohon besar yang tumbuh dari benih yang
bernama Konvensi Tunggal Narkotika PBB. Sudah berapa tahun umur pohon itu?
Bayangkan seperti apa ganasnya buah itu? Buahnya lahir dari semangat rasialisme,
pembodohan, penipuan, dan keserakahan manusia.
Wajar sekali kalau Bapak pendiri bangsa kita tidak merestuinya. Pancasila tidak
mengenal pembodohan dan penipuan, Pancasila mengenal pencerdasan kehidupan
berbangsa. Pancasila tidak mengenal rasialisme, Pancasila mengenal Bhineka Tunggal
Ika. Yang terpenting dan utama adalah Pancasila tidak menghamba pada keserakahan,
tapi pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Jelas sekali bukan? Seluruh UU Narkotika dan
jajaran aparat pelaksananya telah menodai kesucian NKRI.
Perjuangan merebut hak rehabilitasi warga negara pengguna ganja harus dilihat
sebagai strategi jangka pendek untuk meloloskan Anda dari pemenjaraan. Perlawanan
semacam ini memang terkesan mendukung dilaksanakannya UU Narkotika yang terang
sekali mengingkari Pancasila. Di tengah proklamasi perlawanan terhadap UU Narkotika
yang ada, LGN justru membuatkan panduan agar warga negara pengguna ganja
mengikuti aturan main UU tersebut. Maka dari itu LGN tegaskan sekali lagi, perlawanan
merebut hak rehabilitasi yang tertuang dalam UU biadab ini adalah strategi jangka
pendek. Strategi yang harus Anda ambil agar dapat merdeka dari pemenjaraan dan
lebih leluasa berjuang bersama-sama di udara terbuka.
Kembali pada fenomena legalisasi ganja yang tengah terjadi di Uruguay dan 2
negara bagian di Amerika, hal ini sebenarnya mengindikasikan perubahan sistem dalam
memperlakukan manusia-manusia pengguna ganja. Dahulu manusia seperti ini
dianggap kriminal, sekarang secara perlahan-lahan mulai dianggap sebagai manusia
yang membutuhkan pertolongan. Kalau bangsa Indonesia tidak pandai-pandai
memaknai fenomena ini, kita akan terjerumus dalam tipuan muslihat mereka kembali.
Beginilah kira-kira muslihat prediksi LGN yang akan mereka mainkan di negara
kita. Indikasi pertama sudah kami perlihatkan di awal dimana perusahaan-perusahaan
swasta mulai mengambil alih pengelolaan tanaman ganja. Ganja mulai dijual untuk
kebutuhan rekreasi warga Amerika, bahkan turis yang berkunjung ke Colorado ataupun
31
Sekarang Aku, Besok Kamu!
Washington juga dapat menikmati fasilitas tersebut. Seiring bertumbuhnya industri
rekreasi ganja tersebut, pemerintah Amerika melalui PBB mulai menggodok kebijakan
baru yang akan mendukung upaya ekspor budaya rekreasi ganja ke berbagai belahan
dunia, termasuk Indonesia.
Anda bisa bayangkan kandungan psikoaktif ganja yang terdapat dalam ganja-
ganja yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Apabila ganja Aceh
(Cannabis Sativa) dapat menghasilkan 7% THC, ganja di sana telah dimodikasi
sedemikian rupa hingga mencapai 36% THC. Jangan Anda kira ganja semacam ini
tidak berbahaya, apalagi kalau dipakai oleh warga negara yang masih muda belia.
Rehabilitasi kemudian lahir sebagai penyeimbang yang akan timbul akibat
penggunaan ganja-ganja tersebut. Sekarang kita sudah sama-sama menyaksikan
bahwa UU Narkotika No. 35 Tahun 2009 mewajibkan warga negara pengguna ganja
menjalani rehabilitasi. Warga negara pengguna ganja pasti bingung, apanya yang mau
direhabilitasi? Pengguna ganja nusantara hidup baik-baik saja kok! Daripada repot-
repot mengurusi rehabilitasi pengguna ganja, mungkin lebih baik mengurusi rehabilitasi
aparat penegak hukum yang tidak taat hukum.
Bagaimanapun juga, Ini hanya prediksi LGN saja. Mudah-mudahan prediksi LGN
salah total dan perjuangan kita segera terealisasi sehingga segala hal yang berkaitan
dengan upaya pengelolaan tanaman ganja di Indonesia dapat dirumuskan dengan
menggunakan nilai dan semangat Pancasila yang akhirnya akan membawa bangsa dan
negara Indonesia dalam sebuah kehidupan yang adil, makmur dan sentosa.
Oleh karena itu, gunakanlah buku panduan ini sebaik mungkin dan jangan
berhenti sampai di sini saja. Ayo kita sama-sama berjuang menegakkan nilai dan
semangat Pancasila dalam merumuskan UU Pengelolaan Ganja di republik ini karena
masa depan kebijakan ganja Indonesia ada di tangan Anda.

32
www.LGNPANCASILA.org
Daftar Pustaka
Data BNN, Jurnal Data P4GN BNN, 2013
Eunike S. Tyas Suci et. Al, Perubahan Perilaku Penyalahgunaan Napza di Jakarta:
Sebuah Studi Longitudinal. Jakarta: Atma Jaya, 2010.
Roger Roffman & Robert S. Stephens, Cannabis Dependence, Its Nature,
Consequences and Treatment. Cambridge University Press, 2006.
Simanungkalit, Parasian, Globalisasi Peredaran Narkoba dan Penanggulangannya
di Indonesia, Cetakan kedua, Jakarta: Yayasan Wajar Hidup,2011.
Soenarto Soerodibroto, KUHP dan KUHAP dilengkapi Yurisprudensi Mahkamah
Agung dan Hoge Raad. Jakarta: Raja Grando Persada, 2003.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN :
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, Lembaran Negara Nomor
143 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5062.
Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2009.
Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2010.
33
Sekarang Aku, Besok Kamu!
Bagaimana Cara Gotong Royong Bersama LGN?
1. Donasi Ebook SABK!
Bulan Februari 2014 Divisi Advokasi LGN akan fokus melengkapi segala
kekurangan yang terdapat dalam buku ini. Kami akan melakukan tinjauan ulang
dan melakukan edukasi pada warga negara yang sedang menjalani masa
persidangan. Selain itu, donasi Anda akan kami pakai sebagai biaya cetak buku
SABK yang rencananya terbit awal Maret 2014.
2. Beli Buku Cetak SABK!
Buku cetak SABK! akan beredar di LGNshop mulai Maret 2014.
3. Daftar Menjadi Relawan #GotongRoyong LGN
Donasi Kampanye LGN (SABK!)
Bank Mandiri a.n Yayasan Lembaga Penelitian Tanaman Ganja
1640.000.420.424
Bank BCA a.n. Dhira Narayana
2910.407131
Donasi khusus SABK! menggunakan angka unik 86, contoh Rp. 200,086
FACEBOOK : Lingkar Ganja Nusantara dan LGNshop
TWITTER : @legalisasiganja dan @lgnshop
YOUTUBE : LGNPANCASILA
34
www.LGNPANCASILA.org
Lampiran
Daftar Lembaga Rehabilitasi di Indonesia
KUHAP - Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
Peraturan Kepala BNN No.2 Tahun 2011 - Tata Cara Penanganan Tersangka atau
Terdakwa Pengguna Narkotika
Peraturan Menteri Kesehatan No. 2415 Tahun 2011 - Rehabilitasi Medis Pecandu
Narkotika
Peraturan Menteri Sosial RI No.03 Tahun 2012 Tentang Standar Lembaga
Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Aditif
Lainnya
Peraturan Menteri Sosial RI No.26 Tahun 2012 Tentang Standar Lembaga
Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Aditif
Lainnya
SEMA No.3 Tahun 2011 - Penempatan Korban Penyalahgunaan Narkotika
SEMA No.4 Tahun 2010 - Penempatan Korban Penyalahgunaan dan Pecandu
Narkotika
Surat Kepala BNN - Bukti BNN Tidak Pernah Riset Ganja
UU Narkotika No.35 Tahun 2009
Semua kumpulan lampiran di atas dapat Anda download melalui link yang kami kirim
via email donatur buku SABK.
35
Sekarang Aku, Besok Kamu!