Anda di halaman 1dari 9

MITIGASI BENCANA ALAM

TERHADAP KEBAKARAN HUTAN








DISUSUN OLEH:

DIMAS ADJIE WIGUNA




JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

Mitigasi Bencana Alam

1
MITIGASI BENCANA ALAM
Kebakaran Hutan

A. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara terbesar ketiga yang mempunyai hutan tropis terluas di
dunia, dengan kondisi alam tersebut Indonesia dituntut untuk menjaga keanekaragaman
hayati baik flora maupun fauna yang ada di sebaran hutan tersebut. Dimana hutan merupakan
sumber daya alam yang tidak dapat ternilai harganya dikarenakan didalamnya terkandung
keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-
kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam
hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan
sebagainya. Karena itu pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam UUD 45,
UU No. 5 tahun 1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985
dan beberapa keputusan Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan
Dirjen Pengusahaan Hutan. Namun gangguan terhadap sumber daya hutan terus berlangsung
bahkan intensitasnya makin meningkat.
Kerusakan hutan yang meliputi dapat terjadi disebabkan oleh faktor kebakaran hutan,
penebangan liar dan berbagai faktor penyebab lainnya yang menimbulkan seringnya terjadi
gangguan pada fungsi hutan. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kerusakan hutan cukup
besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai
ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro maupun global, dan asap dari
kebakaran hutan mengganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik
darat, sungai, danau, laut dan udara. Dan juga gangguan asap karena kebakaran hutan
Indonesia akhir-akhir ini telah melintasi batas negara.
Salah satu penyebab kebakaran hutan yang marak terjadi di Indonesia adalah
Kebakaran Hutan. Kebakaran hutan merupakan proses yang paling dominan dalam
kemampuannya menimbulkan polutan di samping juga proses atrisi dan penguapan. Karena
dari pembakaran itulah akan meningkatkan bahan berupa substrat fisik atau kimia ke dalam
lingkungan udara normal yang mencapai jumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi dan
memberikan efek terhadap manusia, hewan, vegetasi dan material. Sehingga dampak
kebakaran hutan dapat dirasakan manusia berupa kerugian ekonomis, seperti hilangnya
manfaat dari potensi hutan seperti tegakan pohon hutan yang biasa digunakan manusia untuk
memenuhi kebutuhannya akan bahan bangunan, bahan makanan, dan obat-obatan, serta satwa
Mitigasi Bencana Alam

2
untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani dan rekreasi. Kerugian lainnya berupa
kerugian ekologis yaitu berkurangnya luas wilayah hutan, tidak tersedianya udara bersih yang
dihasilkan vegetasi hutan serta hilangnya fungsi hutan sebagai pengatur tata air dan pencegah
terjadinya erosi. Kebakaran hutan juga menimbulkan dampak global yang dapat langsung
dirasakan oleh masyarakat negara tetangga, serta meluas hingga mancanegara. Peristiwa
kebakaran hutan yang baru saja terjadi dan masih hangat sebagai pemberitaan media di
Indonesia terjadi pada beberapa bulan lalu, tepatnya pada bulan maret tahun 2014 yang
berlokasi di Provinsi Riau. Peristiwa tersebut menghasilkan asap yang juga dirasakan oleh
masyarakat disekitar Provinsi Riau, Malaysia, hingga Singapura yang dapat mengancam
terganggunya hubungan transportasi udara antar negara serta berkurangnya kualitas aspek
keselamatan dan kesehatan pada berbagai wilayah tersebut.
B. PENYEBAB KEBAKARAN HUTAN
Menurut hasil pengamatan yang terjadi di lapangan penyebab kebakaran hutan dapat
diurutkan menjadi dua bagian, faktor alami dan akibat perbuatan manusia. Beberapa faktor
penyebab terjadinya kebakaran hutan tersebut adalah sebagai berikut.
(1) Penyebab Secara Alami
Faktor penyebab kebakaran secara alami dapat disebabkan karena terjadinya faktor
alam, dimana dapat terjadi sewaktu waktu. Sebagian besar kebakaran hutan yang terjadi
karena faktor alami di dunia, dapat disebabkan karena perubahan kondisi iklim serta cuaca
yang sangat ekstrim. Adapun bebrapa faktor penyebab secara teknis terjadinya kebakaran
hutan secara alami sebagai berikut :
(a) Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang;
(b) Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung
berapi; dan
(c) Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut
kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau.
(2) Penyebab karena Perbuatan Manusia
Kebakaran hutan tidak hanya disebabkan oleh faktor alami saja, namun dapat
disebabkan karena akibat perbuatan manuasia. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling
sempurna dapat melakukan apa saja terhadap makhluk bumi lainnya, seperti hutan.
Berdasarkan hal tersebut, adapun beberapa penyebab kebakaran hutan yang disebabkan oleh
manusia sebagai berikut :
Mitigasi Bencana Alam

3
(a) Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok secara sembarangan dan
lupa mematikan api di perkemahan;
(b) Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau membuka
lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme; dan
(c) Tindakan manusia merusak alam ini yang menimbulkan efek pemanasan global dan
cuaca ekstrim sebagai salah satu faktor pendorong kebakaran hutan.
Berdasarkan kedua faktor penyebab kebakaran hutan diatas, sebagai warga
masyarakat, khususnya di negara Republik Indonesia ini hendaknya dapat melakukan
berbagai kajian analisis dari kemungkinan penyebab, resiko bencana, kegiatan pra-bencana
(pre-disaster), kegiatan tanggap bencana (disaster response), serta kegiatan pasca bencana
(post disaster). Sehingga dapat terwujud bentuk kesehatan, keselamatan, dan keamanan
bersama dalam kondisi geografi Indonesia yang unik ini.
C. RESIKO TERJADINYA BENCANA KEBAKARAN HUTAN
Kebakaran hutan dapat menimbulkan dampak yang luar biasa dasi berbagai aspek
sektor tinjauan, seperti aspek ekonomi, sosial, keselamatan, keamanan, dan lingkungan.
Berbagai resiko yang dapat diperkirakan terjadi pasca bencana ini melanda, dapat
menimulakan berbagai aspek resiko sebagai berikut :
(1) Hilangnya mata pencaharian warga yang menggantungkan hidupnya dari hasil
hutan/lahan;
(2) Aktivitas sehari-hari terganggu, karena mengurangi kegiatan di luar ruangan;
(3) Produktivitas kerja menurun. Walau bisa keluar rumah dengan memakai masker untuk
menyaring asap dan debu, tapi waktu kerja berkurang;
(4) Matinya aneka jenis tumbuh-tumbuhan dan satwa karena terbakar atau terjebak asap dan
api;
(5) Rawan longsor karena tumbuhan yang berfungsi penahan laju tanah pada lapisan atas
lereng pegunungan / dataran tinggi terbakar;
(6) Mengganggu hubungan antar negara. Kebakaran hutan di Indonesia tak hanya
merugikan penduduk dan pemerintah Indonesia, tapi juga ke negara tetangga (Singapura,
Malaysia, Brunei);
(7) Mengganggu transportasi udara. Tebalnya asap mengganggu transportasi udara. Pesawat
terbang tak bisa mendarat karena landasan lapangan udara tertutup asap tebal;
(8) Menyebarkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer;
Mitigasi Bencana Alam

4
(9) Kekeringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan terhambatnya jalur pengangkutan
lewat sungai dan menyebabkan kelaparan di daerah-daerah terpencil;
(10) Kekeringan juga akan mengurangi volume air waduk pada saat musim kemarau yang
mengakibatkan terhentinya pembangkit listrik (PLTA) pada musim kemarau;
(11) Musnahnya bahan baku industri perkayuan, mebel/furniture. Lebih jauh lagi hal ini dapat
mengakibatkan perusahaan perkayuan terpaksa ditutup karena kurangnya bahan baku
dan puluhan ribu pekerja menjadi penganggur/kehilangan pekerjaan; dan
(12) Meningkatnya jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan
kanker paru-paru. Hal ini bisa menyebabkan kematian bagi penderita berusia lanjut dan
anak-anak. Polusi asap ini juga bisa menambah parah penyakit para penderita TBC/asma.
Berbagai resiko yang ditimbulkan seperti dipaparkan di atas, merupakan bentuk aspek
yang harus diwaspadai serta ditanggulangi oleh berbagai pihak, baik masyarakat, Pemerintah
Daerah, hingga Pemerintah Pusat. Penanganan terhadap resiko-resiko tersebut merupakan
tanggung jawab bersama, khususnya di negara Indonesia ini sebagai negara yang berkesatuan
dan gotong royong.
D. KEGIATAN PRA-BENCANA (PRE DI SASTER)
Menelaah kepada hasil kajian diatas, dapat dilakukan upaya penanganan yang dapat
dilaksanakan sebagai bentuk dari kegiatan antisipasi sebelum terjadinya bencana kebakaran
hutan ini. Adapun beberapa langkah atau tindakan yang dapat dilakukan di dalam
pelaksanaan kegiatan Pra-Bencana (Pre-Disaster) sebagai berikut :
(1) Menyiapkan peralatan kesehatan di daerah rawan kebakaran.
(2) Mengaktifkan semua peralatan pengukur debu di daerah rawan kebakaran.
(3) Menyediakan waduk air di daerah rawan kebakaran.
(4) Membuat parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran.
(5) Mengembangkan partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran, seperti :
(a) Pembentukan organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan;
(b) Membuat peta kerawanan kebakaran;
(c) Penyiapan regu pemadam;
(d) Penentuan loksai Pos Pengamatan;
(e) Membangun menara pengawas;
(f) Inventarisasi lokasi titik titik api;
(g) Berkoordinasi dengan instansi pengamat cuaca dan iklim;
Mitigasi Bencana Alam

5
(h) Simpan senter dan radio portabel untuk mengantisipasi mati listrik;
(i) Tidak membuang puntung rokok sembarangan;
(j) Berladang secara bergiliran dan senantiasa dipantau; dan
(k) Peladang hanya membakar lahan yang benar-benar kering.
(6) Menentukan tingkat siaga dan tindakan pengendalian kebakaran hutan/lahan seperti pada
tingkatan berikut :
(a) NORMAL
Memastikan semua peralatan pemadam siap digunakan.
Pelaksanaan program penyadaran untuk pencegahan kebakaran hutan/lahan.
Melakukan kegiatan pelatihan penyegaran untuk staf pemadam kebakaran.
Memonitor, mengevaluasi dan mengelola seluruh informasi dan laporan mengenai
kebakaran hutan dari kabupaten/kota.
(b) SIAGA III
Patroli / deteksi taktis bila diperlukan, tergantung pada kondisi lokal.
Memastikan semua peralatan dan personil pemadam siap digunakan.
Melaksanakan sosialisasi / kampanye /penyuluhan pada daerah rawan kebakaran
hutan/lahan.
Mempersiapkan posko kebakaran hutan dan lahan serta menyebarluaskan nomor
telepon, faksimili dan daftar nama petugas (koordinator) yang dapat dihubungi di
masing-masing daerah.
(c) SIAGA II
Melakukan patroli dan deteksi lapangan minimal 5 kali per minggu.
Meningkatkan jumlah peralatan pemadam kebakaran dan personil yang ditugaskan
di lokasi kebakaran.
Memfokuskan program pencegahan kebakaran pada daerah yang memiliki tingkat
resiko kebakaran tertinggi.
Melakukan sosialisasi kampanye/penyuluhan/penyebarluasan informasi bahaya
kebakaran hutan dan lahan melalui media cetak dan media elektronik.
Melakukan koordinasi dan pemadaman hutan/lahan secara terpadu.
(d) SIAGA I
Melakukan Patroli / deteksi lapangan setiap hari per minggu.
Mitigasi Bencana Alam

6
Menyaiagakan posko kebakaran hutan dan lahan selama 24 jam per hari.
Melakukan pemadaman kebakaran hutan menggunakan seluruh peralatan dan
personil.
Mengerahkan seluruh personil, staf pendukung dan melibatkan masyarakat.
Meningkatkan koordinasi dan mobilitas seluruh sumber daya secara terpadu.
Pemimpin daerah mengeluarkan larangan pembakaran saat penyiapan lahan.
Kegiatan Pra-Bencana (Pre-Disaster) tersebut dapat dilakukan baik secara bertahap
maupun secara serentak. Sehingga dapat terwujud berbagai program dan kegiatan
penanggulangan bencana kebakaran hutan, setidaknya dapat mengurangi korban yang ada.
E. KEGIATAN TANGGAP BENCANA (DISASTER RESPONSE)
Setelah dilakukan berbagai kegiatan Pra-Bencana (Pre-Disaster) seperti yang telah
disebutkan di atas, diharapkan dapat meminimalkan dampak yang terjadi pada saat benar-
benar / ketika terjadi bencana. Kegiatan yang dapat dilaksanakan pada saat terjadi bencana
kebakaran hutan merupakan suatu bentuk kegiatan Tanggap Bencana (Disaster Response).
Adapun beberapa kegiatan yang dapat dilakukan pada saat terjadi bencana kebakaran hutan,
sebagai berikut :
(1) Tindakan Warga Mengamankan Rumah Sesaat Kebakaran Hutan
Pelaksanaan tindakan tersebut dapat dilakukan dengan standar sebagai berikut :
(a) Gunakan masker bila udara telah berasap;
(b) Mengatur lokasi tumpukan kayu cukup jauh dari rumah;
(c) Tutup spasi-spasi di bawah pintu dengan handuk/selimut basah;
(d) Tinggal di dalam rumah;
(e) Hidupkan air conditioner;
(f) Hindari menumpuk potongan pohon, rumput dan sejenisnya di belakang rumah,
kebun, serta semak-semak;
(g) Pastikan selang air kebun cukup panjang dan mencapai pinggir jalan;
(h) Tanam jenis pohon yang tidak mudah terbakar;
(i) Bila mampu, belilah pompa air yang mudah dibawa untuk menyedot air dari kolam
atau tangki air;
(j) Pahami cara menghubungi unit pemadam kebakaran terdekat;
(k) Pastikan alat pemadam api berfungsi dengan baik; dan
Mitigasi Bencana Alam

7
(l) Meliburkan sekolah, kantor, serta pusat kegiatan lainnnya.

(2) Tindakan Memadamkan Api Saat Terjadi Kebakaran
Pelaksanaan tindakan ini dapat dilakukan dengan melalukan berbagai kegiatan sebagai
berikut :
(a) Mengisolasi api agar tidak merembet de daerah lain. Teknik sekat bakar ini bisa
dilakukan dengan peralatan sederhana dan petugas tidak terlatih. Teknik ini berhasil
jika api tidak terlalu besar dan angin tidak kencang;
(b) Secepat mungkin menyemprot dengan alat pemadam sederhana, misal pomp
punggung atau pompa portable (mudah dipindah-pindah);
(c) Membuat sekat bakar menggunakan alat berat/buldoser di kawasan semak;
(d) Mengerahkan pesawat pembom air; dan
(e) Membuat hujan buatan.
(3) Tindakan Umum Warga Saat Terjadi Kebakaran Hutan
Pelaksanaan tindakan umum ini dapat dilakukan dengan berbagai bentuk
penanggulangan sebagai berikut :
(a) Jangan masuk ke semak-semak jika ada asap dan api di daerah itu;
(b) Padamkan api kecil dengan selang air, sekop, dan ember logam;
(c) Tetap tenang dan melaporkan kebakaran ke instansi berwenang;
(d) Periksalah jika tetangga kaum lanjut usia perlu bantuan;
(e) Penentuan jalur dan evakuasi penduduk lokasi kebakaran;
(f) Jika anda memilih untuk mengungsi sendiri lakukanlah jauh sebelumnya;
(g) Jika diperintah petugas unutk mengungsi anda harus patuhi, kemasi dokumen
/barang/ binatang berharga;
(h) Memakai kemeja lengan panjang dan celana panjang dan alas kaki kuat;
(i) Tutup kaca kendaraan selama perjalanan; dan
(j) Pakai masker khusus.
Pelaksanaan kegitan Tanggap Bencana (Disaster Renpons) ini hendaknya
dilaksanakan dengan cepat, cermat, dan tepat sasaran. Dalam pelaksanaannya juga
membutuhkan bantuan dari berbagai instansi, lapisan masyarakat, serta orang laim atau
daerah lain sebagai bentuk gotong royong dalam menghadapi sebuah musibah. Sehingga
Mitigasi Bencana Alam

8
dapat diperoleh hasil penanganan yang optimal dan dapat mengurangi jumlah korban jiwa,
serta kerugian dari berbagai aspek lainnya.
F. KEGIATAN PASCA BENCANA (POST DISASTER)
Setelah kegiatan Tanggap Bencana (Disaster Renpons) dilaksanakan secara baik, dan
bencana sudah berangsur-angsur pulih. Maka dilakukan tindakan kegiatan Pasca Bencana
(Post Disaster) yang digunakan sebagai ajang atau media pemulihan dampak yang
ditimbulkan dari kebakaran hutan tersebut. Adapun beberapa kegiatan Pasca Bencana (Post
Disaster) yang dapat dilakukan secbagai berikut :
(1) Menginventarisasi kerugian;
(2) Menganalisis program pemulihan akibat dampak kebakaran hutan; dan
(3) Menginventarisasi penyakit yang belum sembuh dan memerlukan perawatan, pengobatan
dan pengamatan terus menerus.
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan Pasca Bencana (Post Disaster) dilakukan
dengan baik, optimum, dan tepat sasaran. Diharapkan dapat terwujudnya pemulihan dampak
bencana kepada kondisi normal sebelum bencana terjadi, sehinga efek bencana kebakaran
hutan yang dirasakan oleh berbagai pihak dapat secara perlahan normal seperti biasanya.
Terlebih kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak yang lebih positif terhadap wilayah
yang mengalami bencana tersebut.
G. KESIMPULAN
Terjadinya bencana kebakaran hutan tentunya tidak secara baik dapat diterima oleh
masyarakat luas. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan antisipasi atau
kegiatan Pra-Bencana (Pre-Disaster), kegiatan pada saat terjadi bencana atau Tanggap
Bencana (Disaster Response), dan kegiatan setelah terjadi bencana atau Pasca Bencana (Post
Disaster) serta kegiatan pemulihan, masing-masing komponen kegiatan tersebut
membutuhkan dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak serta masyarakat itu sendiri.
Dukungan yang diharapkan dari berbagai pihak tersebut dapat secara optimal didukung dan
secara tepat sasaran menjurus kepada permasalahan dan kendala yang terjadi dilapangan
terkait bencana kebakaran hutan tersebut. Peran serta masyarakat juga sangat penting untuk
menunjang kepekaan pada saat sikap antisipasi, penganggulangan, serta pemulihan, sehingga
dapat tercapai keselamatan dan keamanan bersama.