Anda di halaman 1dari 3

Indonesia menduduki peringkat ke tiga dalam daftar High Burden

Countries. Insidens TB diperkirakan (laporan WHO 2005) sekitar 623.000 kasus. prevalensi
semua kasus diperkirakan sekitar 1.4 juta pasien dimana 282,000 kasus baru BTA positif
(Perkiraan insidensi 128/100.000). Tuberkulosis juga menduduki peringkat 3
daftar 10 penyebab kematian di Indonesia, yang menyebabkan 146,000
kematian setiap tahun (10% mortalitas total). Tuberkulosis sering mengenai
orang berpendapatan rendah. Data awal survei resistensi obat OAT lini pertama yang
dilakukan di Jawa Tengah menunjukkan angka TB-MDR yang rendah pada kasus baru (1-
2%), tetapi angka ini meningkat pada pasien yang pernah diobati sebelumnya (15%).
Limited and unrepresentative hospital data (2006) menunjukkan kenyataan dari TB-MDR
dan TB-XDR, sepertiga kasus TB-MDR resisten terhadap Ofloxacin dan ditemukan satu
kasus TB-XDR (diantara 24 kasus TB-MDR). Tuberkulosis MDR di Indonesia belum
mendapat akses pengobatan yang memadai karena tidak semua obat yang dibutuhkan oleh
pasien TBMDR tersedia di Indonesia.
TB MDR merupakan penyakit yang di sebabkan oleh bakteri tuberkolosis yang sudah kebal
terhadap obat-obatan terutama: Ripampisin ( R) dan Izoniasid ( INH). Di Banyak kasus,
kadang ditambah dengan obat-obatan lainya, misal nya Etambhutol ( E), dan obat-obatan
lainnya. Karena Penularan nya berlangsung lewat media Udara yang terpapar bakteri
tuberkulosis dari Bersin, batuk dan bahkan berbicara penderita TB MDR, Penyakit ini
sepertinya akan menjadi wabah yang paling menakutkan di Indonesia masa mendatang.
TB-MDR pada dasarnya adalah suatu fenomena buatan manusia (man-made
phenomenon), sebagai akibat pengobatan TB tidak adekuat .
Penyebab pengobatan TB yang tidak adekuat
Penyedia pelayanan kesehatan:
Buku paduan yang tidak sesuai
Tidak mengikuti paduan yang tersedia
Tidak memiliki paduan
Pelatihan yang buruk
Tidak terdapatnya pemantauan program pengobatan
Pendanaan program penanggulangan TB yang lemah
Obat: Penyediaan atau kualitas obat tidak adekuat
Kualitas obat yang buruk
Persediaan obat yang terputus
Kondisi tempat penyimpanan yang tidak terjamin
Kombinasi obat yang salah atau dosis yang kurang
Pasien: Kepatuhan pasien yang kurang
Kepatuhan yang kurang
Kurangnya informasi
Kekurangan dana (tidak tersedia pengobatan cuma-cuma)
Masalah transportasi
Masalah efek samping
Masalah sosial
Malabsorpsi
Ketergantungan terhadap substansi tertentu
Pencegahan terhadap terjadinya resistensi OAT
Pencegahan terhadap terjadinya resistensi terhadap OAT ( TB MDR) dapat dilakukan dengan
penguatan di Layanan pengobatan Tuberkolosis awal terutama di Pengobatan Kategori I dan
II. Penguatan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:
Pengelompokkan kasus pasien TB secara tepat
Regimen obat yang adekuat untuk semua kategori pasien
Identifikasi dini dan pengobatan yang adekuat untuk kasus TB resisten
Intergrasi program DOTS dengan pengobatan resisten TB akan bekerja
sinergis untuk menghilangkan sumber potensial penularan
Pengendalian infeksi, pengunaan masker, kamar terpisah, dan sistem sirkulasi udara dan
Cahaya ( ventilasi ) di rumah pasien sangat perlu ditekankan pada Keluarga dan Pasien TB
MDR agar tidak menular ke orang-orang sekitar nya.
Cara Mengenali Saudara atau keluarga yang terinfeksi TB, termasuk TB MDR
1. Batuk tidak berhenti selama dua minggu atau lebih
2. Berkeringat saat malam hari
3. Nafsu makan kurang
4. Berat Badan turun
5. Pernah di obati OAT kategori I dan atau II sebelum nya
6. Pemeriksaan Mikroskopis menunjukan BTA ( Basil Tahan Asam) Positif
7. Hasil kultur biakan menunjukan resistensi minimal dua obat Ripampisin dan INH
8. Dengan beberapa pertimbangan jika pemeriksaan resistensi lewat GeneXpert :Ripampisin
resistensi, pasien sudah dapat di Obati dengan terapi MDR.
Untuk saat ini pengobatan MDR telah terdapat di Kota Jakarta ( RSU Persahabatan),
Surabaya ( RSU Dr Soetomo), Malang ( RSU Syaiful Anwar), Solo ( RSU Mulawardi),
Makassar ( RSU Labuhan Bajo), Bandung ( RSU Hasan Sadikin), Medan ( RSU Pringadi) dan
sedang di persiapkan untuk di Bali dan Daerah lainnnya.
Pengobatan TB MDR mengharuskan pasien untuk datang tiap hari ke Rumah sakit atau
Puskesmas yang telah ditetapkan dan meminum obat dalam pengawasan langsung petugas
rumah sakit.