Anda di halaman 1dari 10

3

TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri Asam Laktat
Penggunaan bakteri asam laktat sebagai kultur starter dalam produksi daging
fermentasi, produk-produk susu serta sayuran dan buah-buahan adalah salah satu
metode pemrosesan pangan tertua yang digunakan untuk menstabilkan produk-
produk pangan tersebut hingga diperoleh citarasa yang spesifik. Bakteri asam laktat
juga disebut sebagai biopreservatif karena berkontribusi dalam menghambat
pertumbuhan bakteri lain khususnya patogen dan mampu membawa dampak positif
bagi kesehatan manusia (Smid dan Gorris, 2007).
Bakteri asam laktat digunakan secara alami pada makanan fermentasi
sehubungan dengan timbulnya cita rasa asam (asidifikasi) akibat dari produksi asam
laktat dan asetat. Efek asam tersebut diakibatkan adanya konversi karbohidrat
selama fermentasi. Hal tersebut merupakan karakteristik penting guna
memperpanjang masa simpan dan keamanan produk (Vuyst dan Vandamme, 1994).
Perlindungan makanan dari kebusukan dan mikroorganisme patogen oleh bakteri
asam laktat (BAL) adalah melalui produksi asam organik, hidrogen peroksida,
diasetil (Messens dan De Vugst, 2002), komponen anti jamur seperti asam laktat
(Corsetti et al., 1998) atau asam fenulaktik (Lavermicocca et al., 2000) dan
bakteriosin (Vuyst dan Vandamme, 1994).
Bakteri asam laktat mempunyai karakteristik morfologi, fisiologi dan
metabolit tertentu. Deskripsi secara umum dari bakteri ini adalah termasuk dalam
bakteri Gram positif, tidak berspora, berbentuk bulat maupun batang, dan
menghasilkan asam laktat sebagai mayoritas produk akhir selama memfermentasi
karbohidrat (Axelsson, 1998). Bakteri asam laktat terbagi menjadi delapan genus
antara lain Lactobacillus, Streptococcus, Lactococcus, Pediococcus, Enterococcus,
Leuconostoc, Bifidobacterium dan Corinobacterium. Berdasarkan tipe
fermentasinya, bakteri asam laktat terbagi menjadi heterofermentatif dan
homofermentatif. Kelompok homofermentatif menghasilkan asam laktat sebagai
produk utama dari fermentasi gula, sedangkan kelompok heterofermentatif
menghasilkan asam laktat dan senyawa lain yaitu CO
2
, etanol, asetaldehida, diasetil,
serta senyawa lainnya (Fardiaz, 1992).
4

Bakteri asam laktat memproduksi berbagai komponen bermassa molekul
rendah termasuk asam, alkohol, karbon dioksida, diasetil, hidrogen peroksida dan
metabolit lainnya. Banyak metabolit mempunyai spektrum aktivitas yang luas
melawan spesies lain dan produksi tersebut dipengaruhi secara luas oleh matriks
makanan itu sendiri (Helander et al., 1997). Satu atribut penting dari bakteri asam
laktat adalah kemampuannya memproduksi komponen antimikroba, khususnya
bakteriosin yang potensial menjadi biopreservatif menggantikan pengawet kimiawi
pada bahan makanan guna memperpanjang umur simpan produk. Kemampuan
bakteriosin dalam melakukan aktivitasnya sebagai biopreservatif dicapai oleh efek
penghambatannya terhadap mikroorganisme patogen yang berbahaya (Savadogo et
a., 2006).
Probiotik
Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dikonsumsi untuk memperbaiki
secara keseimbangan mikroflora usus. Keseimbangan yang baik dalam ekosistem
mikrobiota usus dapat menguntungkan kesehatan konsumen kita dan dapat
dipengaruhi oleh konsumsi probiotik setiap hari. Pada saat ini ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam ilmu fisiologi human maupun mikroorganisme memungkinkan
dengan tepat penentuan kriteria seleksi mikroorganisme dan yang secara ilmiah
membuktikan aktivitasnya bagi promosi kesehatan. Kemampuan probiotik ini tidak
terikat pada spesies, melainkan pada strain tertentu dalam suatu spesies.
Karakterisitik probiotik yang diinginkan dari satu strain spesifik, misalnya:
1. Mempunyai kapasitas untuk bertahan hidup (survive), untuk melakukan
kolonisasi (colonize), serta melakukan metabolisme (metabolize) dalam
saluran cerna.
2. Mampu mempertahankan suatu keseimbangan mikroflora usus yang sehat
melalui kompetisi dan inhibisi kuman-kuman patogen.
3. Dapat menstimulasi bangkitnya pertahanan imunitas, bersifat non-patogenik,
dan non-toksik.
4. Harus mempunyai karakteristik teknologik yang baik, yaitu mampu bertahan
hidup secara optimal dan stabil selama penyimpanan (storage) dan
penggunaan (use) dalam bentuk preparat makanan yang didinginkan dan
5

dikeringkan, agar dapat disediakan secara massal dalam industri (Lisal,
2005).
Penggunaan mikroba hidup (probiotik) dalam proses fermentasi susu awalnya
digunakan sebagai upaya untuk mencegah pertumbuhan jamur dan mengawetkan
susu dan bukan dengan pertimbangan kesehatan. Campur tangan manusia berupa
seleksi kelayakan konsumsi akhirnya menghasilkan beberapa jenis susu fermentasi,
sehingga munculah produk-produk susu fermentasi tradisional di antaranya yogurt,
koumis, kefir dan dadih.
Susu fermentasi sebagai probiotik efektif sangat dibutuhkan pada berbagai
kondisi lingkungan dan kepentingan, sehingga mikroba yang digunakan sebagai
probiotik yang efektif harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 1) dapat bertahan
hidup selama persiapan sampai produksi dengan skala industri; 2) stabil dan tetap
hidup dalam jangka waktu lama pada periode penyimpanan dan kondisi lapangan; 3)
dapat bertahan hidup, mampu bersaing, tidak hanya sekedar tumbuh dalam saluran
pencernaan; dan 4) mampu menimbulkan efek yang menguntungkan bagi inang
(Wahyudi dan Samsundari, 2008).
Dadiah
Dadiah merupakan produk susu fermentasi tradisional seperti yoghurt yang
umumnya terdapat di daerah Sumatera Barat, yang proses pembuatannya sangat
sederhana. Susu yang digunakan berasal dari susu kerbau yang diperah kemudian
dimasukkan ke dalam tabung bambu dan ditutup dengan daun pisang atau plastik,
selanjutnya dibiarkan atau difermentasi secara alami dalam suhu ruang selama satu
hingga dua hari sehingga terbentuk gumpalan. Secara umum dadih mempunyai
citarasa yang khas yaitu asam dan berwarna putih kekuning-kuningan, serta kental
dengan aroma khas (percampuran aroma susu dan bambu) (Suryono, 2003).
Dadih yang diproduksi di Sumatera Barat dibuat dengan bahan dasar susu
kerbau dengan mengandalkan jasad renik yang ada di alam sebagai inokulan atau
tanpa menggunakan kultur starter tambahan. Mikroba diperkirakan dapat berasal
dari daun pisang sebagai penutup bambu dan dari susu itu sendiri (Yudoamijoyo et
al., 1983) serta dapat juga dari tabung bambu yang digunakan (Zakaria et al.,1998).
6

Antimikroba
Senyawa antimikroba adalah senyawa kimiawi atau biologis yang dapat
menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Komponen antimikroba terdapat
dalam bahan pangan melalui salah satu dari berbagai cara, yaitu terdapat secara
alamiah di dalam bahan pangan, ditambahkan secara sengaja ke dalam makanan dan
terbentuk selama pengolahan atau oleh jasad renik yang tumbuh selama fermentasi
pangan (Fardiaz, 1992). Suatu preservatif untuk memperpanjang masa simpan
produk pangan harus memenuhi kriteria antara lain: 1) tidak mengubah flavor, bau
dan tekstur bahan pangan, aman bagi konsumen dan efektif sebagai preservatif atau
aman untuk dikonsumsi selama masa simpan tertentu; 2) preservatif harus mudah
dikenali dan kadarnya dapat dipastikan secara pasti serta harus memenuhi kebutuhan
yang diizinkan; 3) kualitas bahan pangan tidak merugikan konsumen; 4) ekonomis
(Soeparno, 1994); dan 4) tidak menyebabkan timbulnya galur resisten dan
diutamakan bersifat membunuh daripada hanya menghambat pertumbuhan mikroba
(Frazier dan Westhoff, 1988).
Senyawa antimikroba dapat bersifat bakterisidal (membunuh bakteri),
bakteristatik (menghambat pertumbuhan mikroba), fungisidal (membunuh kapang),
fungistatik (menghambat pertumbuhan kapang) dan germisidal (menghambat
germinasi spora bakteri). Kemampuan suatu zat antimikroba dalam menghambat
pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya konsentrasi zat
pengawet, waktu penyimpanan, suhu lingkungan, sifat-sifat mikroba (jenis,
konsentrasi, umur dan keadaan mikroba), sifat-sifat fisik dan kimia makanan,
termasuk kadar air, pH, serta jenis dan jumlah senyawa di dalamnya (Fardiaz,
1992).
Metabolit yang bersifat antimikrobial yang diproduksi oleh BAL dapat dibagi
menjadi dua grup: 1) komponen bermassa molekul rendah (<1000 Da), misalnya
asam organik yang mempunyai spektrum aksi yang luas dan 2) protein antimikrobial,
dikenal sebagai bakteriosin (>1000 Da) yang secara relatif mempunyai aksi spesifik
melawan organisme lain yang mempunyai hubungan dekat dan bakteri Gram positif
lainnya (Collado et al., 2010).

7

Asam Organik
Asam organik (asetat, laktat, malat, sitrat dan sebagainya) merupakan
substansi alami dari berbagai jenis makanan. Aksi antimikroba dari asam organik
berdasarkan pada kemampuannya untuk menurunkan pH dalam pangan yang
berfase air. Asam organik dalam pangan dapat berfungsi sebagai asidulan atau
pengawet, sementara garamnya atau ester dapat menjadi antimikroba yang efektif
pada pH yang mendekati netral. Asam laktat adalah produk utama pada pangan
hasil fermentasi. Asam asetat, propionat, malat dan asam-asam lain dengan
konsentrasi yang beragam juga dihasilkan tergantung jenis produk dan
mikroorganisme yang digunakan (Roller, 2003).
Asam organik yang dihasilkan selama proses fermentasi pangan dapat
menghambat banyak mikroorganisme melalui penurunan pH dan beraksi langsung
sebagai antimikroba dalam bentuk yang tidak terdisosiasi. Produksi asam pada
pangan hasil fermentasi bergantung pada bakteri asam laktat, terutama jenis
Lactococcus, Streptococcus, Pediococcus, Lactobacillus dan Leuconostoc. Asam
organik dapat berfungsi sebagai asidulan pangan, flavoring dan pengawet sehingga
akan meningkatkan pengawasan terhadap bakteri patogen dan meningkatkan umur
simpan (Roller, 2003).
Mekanisme penghambatan bakteri oleh asam-asam organik berhubungan
dengan keseimbangan asam-basa, penambahan proton dan produksi oleh energi sel.
Keseimbangan asam-basa pada sel mikroba ditunjukkan dengan pH yang mendekati
normal. Interaksi dengan senyawa kimia akan mengganggu keseimbangan asam-basa
dan mengakibatkan kerusakan sel. Protein, asam nukleat dan fosfolipid dapat rusak
oleh perubahan pH. Ketersediaan ion-ion logam akan mengganggu permeabilitas
membran, karena membran kurang permeabel terhadap ion dibandingkan dengan
molekul yang tidak bermuatan. Perubahan permeabilitas membran akan
menghasilkan efek ganda, yaitu mengganggu transpor nutrisi ke dalam sel dan
menyebabkan metabolit internal keluar dari sel (Davidson dan Branen, 1993).
Bakteriosin
Bakteriosin merupakan protein aktif biologikal atau kompleks protein yang
menunjukkan aksi bakteri, biasanya berhubungan dengan spesiesnya. Bakteriosin
pada umumnya dihasilkan oleh beberapa bakteri asam lakat telah banyak dilaporkan.
8

Beberapa strain bakteriosin yang diproduksi Lactobacillus plantarum sudah
diisolasikan pada dua dekade terakhir dari lingkungan/ekologikal yang berbeda,
termasuk ikan, buah, sayuran dan produk susu dan gandum.
Strain bakteri asam laktat menghasilkan komponen antimikroba yang tahan
panas yang telah dibuktikan sebagai protein di alam, sehingga diperkenalkan sebagai
bakteriosin. Bakteriosin aktif pada rentang pH yang luas dan melakukan
penghambatan beberapa jumlah bakteri Gram positif termasuk Listeria ivanovii dan
beberapa strain akteri patogen (Oh et al., 2000). Bakteriosin telah dikelompokkan
pada tiga kelas utama berdasarkan komponen genetik dan kimianya (Klaenhamer et
al., 1992). Kelas pertama adalah lantibiotik, yang terdiri atas peptida-peptida kecil
dengan residu yang dikeringkan atau dimodifikasi seperti dehydroalanine dan
lanthionine (Klaenhamer, 1993). Kelas kedua mencakup bakteriosin yang kecil dan
stabil terhadap panas seperti pediocin A, leucocin A, lactacin F, lactococcins,
carnobacteriocin A, BM1 dan BM2 (Jack et al., 1995). Kelas ketiga terdiri atas
bakteriosin yang kecil dan kurang tahan terhadap panas seperti helveticin J
(Klaenhamer et al., 1992).
Mekanisme aktivitas bakterisidal dari bakteriosin secara umum sebagai
berikut (1) molekul bakteriosin mengalami kontak langsung dengan membran sel;
(2) proses kontak ini mengganggu potensial membran berupa destabilisasi
depolasrisasi membran sitoplasma, sehingga sel tidak mampu bertahan.
Ketidakstabilan membran memberikan dampak pembentukan lubang atau pori pada
membran sel melalui proses gangguan terhadap proton motive force (PMF)
(Gonzalez et al., 1996).
Bakteriosin dapat bekerja pada bakteri patogen spesifik tanpa mengganggu
mikrobiota yang menguntungkan. Bakteriosin bisa dianggap antibiotik, tetapi
berbeda dari antibiotik yaitu : (a) bakteriosin disintetis pada ribosom, b) sel inang
kebal terhadap bakteriosin, c) mode aksinya berbeda dari antibiotik, dan d) daya
hambatnya sempit sehingga hanya mampu melawan bakteri yang berhubungan dekat
dengan strainnya (Ouwehand dan Vesterlund, 2004).
Hidrogen Peroksida
Bakteri asam laktat memproduksi hidrogen peroksida di bawah kondisi
pertumbuhan aerob dan berkurangnya katalase selular, pseudokatalase atau
9

peroksidase. Bakteri asam laktat mengekskresikan H
2
O
2
tersebut sebagai alat
pelindung diri yang mampu bersifat bakteriostatik maupun bakterisidal. Hidrogen
peroksida merupakan salah satu agen pengoksidasi yang kuat dan dapat dijadikan
sebagai zat antimikroba melawan bakteri, fungi bahkan virus (Ray dan Bhunia 2008).
Kemampuan bakterisidal dari H
2
O
2
beragam tergantung pH, konsentrasi suhu, waktu
dan tipe serta jumlah mikroorganisme. Pada kondisi tertentu, spora bakteri
ditemukan paling resisten terhadap H
2
O
2
, diikuti dengan bakteri Gram positif, bakteri
yang paling sensitif terhadap H
2
O
2
adalah bakteri Gram negatif, terutama koliform
(Ouwehand dan Vesterlund, 2004).
Hidrogen peroksida (H
2
O
2
) merupakan oksidator, bleaching agent dan anti
bakteri. Hidrogen peroksida murni tidak berwarna, berbentuk cairan seperti sirup
dan memiliki bau yang menusuk. Kemampuan H
2
O
2
untuk mengoksidasi
menyebabkan perubahan tetap pada sistem enzim sel mikroba sehingga digunakan
sebagai antimikroba. Senyawa ini juga dapat terdekomposisi menjadi air dan
oksigen. Perubahan kondisi lingkungan seperti pH dan suhu mempengaruhi
kecepatan dekomposisi H
2
O
2
. Peningkatan suhu dapat meningkatkan keefisienan
dalam menghancurkan bakteri, sehingga kecepatan terdekomposisinya juga semakin
cepat (Branen, 1993).
Enzim Proteolitik

Enzim proteolitik atau yang sering disebut dengan protease merupakan
berbagai jenis enzim yang mencerna protein menjadi unit-unit yang lebih kecil
dengan enzim secara umum bertugas sebagai katalisator dengan cara menurunkan
energi aktivasi di dalam sel, bersifat khas (Murray, 2006) dan sebagai katalis pada
pemecahan molekul protein dengan cara hidrolisis (Poedjiadi, 1994). Oleh karena
yang dipecah adalah ikatan pada rantai peptida, maka enzim tersebut dinamakan
peptidase. Enzim-enzim ini meliputi protease-protease pankreas, khimotripsin dan
tripsin, bromelin, papain, fungal protease dan Serratia peptidase (Murray, 2006).
Tripsin
Tripsin (EC 3.4.21.4) merupakan famili serin protease yang memecah protein
pada gugus karboksil dari asam amino lisin dan arginin, kecuali protein tersebut
diikuti oleh prolin. Tripsin dihasilkan oleh pankreas dalam bentuk tripsinogen yang
tidak aktif. Tripsinogen tersebut kemudian disekresikan ke usus kecil, tempat enzim
10

enterokinase mengaktifkannya menjadi tripsin (Poedjiadi, 1994). Tripsin dapat
mengaktivasi banyak tripsinogen menjadi tripsin secara autokatalis. Tripsin terdiri
atas rantai tunggal polipeptida dari residu 223 asam amino. Bentuk asli tripsin
didasarkan sebagai -tripsin (Sigma-aldrich, 2010b). Tripsin bekerja optimal pada
pH 8 dan suhu 50
o
C. Tripsin sebaiknya disimpan pada suhu yang sangat rendah
(antara -20 dan -80
o
C) untuk menghindari terjadinya autolisis. Autolisis dapat
dicegah juga dengan menyimpan tripsin pada pH 3.
Pepsin
Pepsin (EC 3.4.23.1) adalah suatu enzim yang berguna untuk memecah
molekul protein menjadi molekul lebih kecil yaitu pepton dan proteosa. Enzim ini
dihasilkan oleh sel-sel utama lambung dalam bentuk pepsinogen, yaitu calon enzim
yang belum aktif. Pepsinogen ini kemudian diubah menjadi pepsin yang aktif dengan
adanya HCl. Pepsin merupakan katalis untuk reaksi hidrolisis protein dan
membentuk pepton dan proteosa (Poedjiadi, 1994).
Pepsin aktif pada pH 2-4 dan akan secara permanen inaktif pada pH 8,0 dan
akan terdenaturasi secara permanen pada pH 8,5-11 pada temperatur ruang.
Aktivitas maksimum pepsin mencapai 90% pada pH 1,5 (Sigma-Aldrich, 2010a).
Pepsin memecah gugus protein terutama yang mengandung asam amino fenilalanin,
triptofan dan tirosin. Pepsin banyak digunakan di laboratorium untuk analisis protein,
persiapan keju dan bahan pangan lain.
Bomberg et al. (2004) dalam tulisannya menyatakan bahwa, sensivitas
substansi antibakteri yang diproduksi oleh bakteri asam laktat terhadap
khimotripsin, tripsin, pronase E, fisin, pepsin, papain dan lipase ditentukan dalam
penanganan dan kondisi perbanyakan. Semua komponen secara keseluruhan maupun
sebagian diinaktivasi oleh beberapa enzim proteolitik. Hal ini mengindikasikan
bahwa komponen tersebut adalah protein alami. Komponen penghambat diproduksi
oleh strain-strain yang ada dengan sensitivitas yang berbeda.
Bakteri Patogen
Bakteri patogen merupakan mikroorganisme indikator keamanan pangan.
Bakteri patogen ini dapat dibedakan atas penyebab intoksikasi dan penyebab infeksi.
Intoksikasi yaitu keracunan yang disebabkan oleh bakteri patogen yang berkembang
di dalam bahan makanan dan menghasilkan toksin, sedangkan infeksi yaitu bakteri
11

yang menghasilkan racun di dalam saluran pencernaan. Salah satu penyebab
pembusukan dan patogen tular makanan yaitu Staphylococcus aureus dan beberapa
jenis Bacillus (Buckle et al., 2007).
Salmonella enteritidis serotipe Typhimurium
Salmonella merupakan bakteri Gram negatif, tidak membentuk spora,
berbentuk batang, dapat memfermentasi glukosa dan biasanya disertai dengan
pembentukan gas tetapi tidak memfermentasi laktosa maupun sukrosa (Frazier dan
Westhoff, 1988). Salmonella sp. dapat tumbuh pada kisaran suhu 5
o
C hingga 45-47
o
C dengan suhu optimum 35-37
o
C. Salmonella sp. tumbuh pada tingkat keasaman
antara 4,5-5,4 dengan pH optimumnya sekitar 7 dan pH minimumnya sekitar 4,5
(Ray dan Bhunia, 2008) serta kadar air minimum 0,94. Nilai pH minimum bervariasi
tergantung pada suhu inkubasi, komposisi media, a
w
dan jumlah sel. Pada pH kurang
dari 4,0 dan lebih dari 9,0 Salmonella akan mati secara perlahan (Adam dan Moss,
2007).
Escherichia coli
Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang dengan
ukuran 1,1-1,5 m x 2,0-6,0 m, soliter maupun berkoloni, anaerobik fakultatif, dan
katalase positif (Holt et al., 1994). Escherichia coli dipergunakan sebagai mikroba
indikator terhadap kontaminasi feses pada air dan susu, termasuk dalam grup
Enterobacteriaceae dan bersifat motil flagella peritrikus (Buckle et al., 2007).
Escherichia coli dapat tumbuh optimum pada pH 7-7,5 dengan pH minimum 4 dan
pH makksimum 8,5. Bakteri ini sensitif terhadap panas dan pada makanan yang
mengalami pemanasan. Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 37
o
C
dengan kisaran suhu 10-40
o
C (Frazier dan Westhoff, 1988).
Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) merupakan salah satu dari
keempat kelompok bakteri patogenik indikator kontaminasi fekal dan penyebab
diare, selain ETEC (Enterotoxigenic Escherichia coli), EIEC (Enteroinvasif
Escherichia coli) dan VTEC (Escherichia coli penghasil verotoksin).
Enteropathogenic Escherichia coli melekatkan diri pada sel mukosa usus kecil dan
membentuk filamentus aktin pedestal sehingga menyebabkan diare cair (watery
diarrehoae) yang bisa sembuh dengan sendirinya atau berlanjut menjadi kronis
(Arifin, 2009).
12

Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus termasuk family Micrococcaceae, merupakan bakteri
gram posistif berbentuk kokus yang bergerombol seperti buah anggur dengan
diameter berkisar 0,5-1,5 m, tidak bergerak, tidak mempunyai kapsul, dan tidak
berspora biasanya termasuk katalase positif. Sel bakteri ini akan terbunuh pada suhu
66
o
C selama 12 menit, dan pada suhu 72
o
C selama 15 detik. Staphylococcus
aureus bersifat anaerobik fakulatif, namun tumbuh dengan cepat di bawah kondisi
aerob. Tergolong dalam kelompok bakteri mesofilik dengan kisaran suhu untuk
tumbuh 7 hingga 48
o
C, dan tumbuh secara cepat pada kisaran suhu 20-37
o
C .
Bakteri ini dapat tumbuh secara relatif pada a
w
rendah (0,86) dan pH rendah (4,8),
dengan minimum pH 4 dengan kisaran pH 4,0-9,8 dengan pH optimum sekitar 7,0-
7,8. Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin apabila substratnya
mempunyai komponen yang baik untuk pertumbuhannya (Supardi dan Sukamto,
1999; Holt et al., 1994), serta pada konsentrasi garam dan gula yang tinggi (15%)
dan pada keberadaan NO
2
(Ray dan Bhunia, 2008).

Kebanyakan galur Staphylococcus aureus bersifat patogen dan memproduksi
enterotoksin yang tahan. Beberapa galur, terutama yang bersifat patogen,
memproduksi koagulasi, bersifat proteolitik, lipolitik dan -hemolitik. Bakteri ini
sering terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran
usus serta dapat menyebabkan intoksikasi dan infeksi bisul, pneumonia dan mastitis
pada hewan (Fardiaz, 1992).