Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Efusi pleura merupakan akumulasi cairan yang bersifat patologis yang
terdapat dalam rongga pleura sebagai akibat dari transudasi atau eksudasi yang
berlebihan dari permukaan pleura yang dapat disebabkan oleh proses patologis yang
terjadi.
( 5)
Efusi pleura merupakan satu tanda dari penyakit dan bukan sebagai suatu
diagnosis yang dapat berdiri sendiri.
(5)
Efusi pleura dapat ditegakkan hanya dengan
pemeriksaan radiologist, hal ini disebabkan karena tidak spesifiknya gejala yang
ditimbulkan oleh efusi pleura tersebut seperti kita ketahui bahwa efusi pleura
merupakan gejala penyerta atau juga disebut sebagai suatu komplikasi dari sebuah
perjalanan penyakit.
(6).
Cairan pleura dapat bersifat transudat, eksudat, pus, darah,
cairan getah bening, maupun lemak.
ada cairan pleura normal berwarna jernih seperti plasma dengan ! ",6# $ ",6%,
terdapat protein kurang dari & ' (()& g*dl), glukosa yang sangat sedikit, laktat
dehidrokinase !+, kurang dari 5#' serta -atrium, .alium, Calsium dengan
konsentrasi yang sama seperti pada plasma. ada dasarnya fungsi dari cairan pleura
yaitu mencegah terjadinya gesekkan antara pleura parietalis dengan pleura /isceralis
oleh karena pergerakan paru pada saat terjadinya inspirasi maupun ekspirasi.
(5)
(
BAB II
PEMBAHASAN
I. Definisi
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terjadi penimbunan atau
pengumpulan cairan dalam rongga pleura secara berlebihan berupa cairan transudat
atau eksudat yang dapat mengganggu fungsi dari paru.
((,&)
II. Anatomi Rongga Pleura
leura /iseral dan parietal terdiri dari lapisan tunggal sel)sel mesotelial,
disertai pembuluh darah, pembuluh limfe dan jaringan ikat, yang dipisahkan oleh
rongga pleura. leura parietal melapisi seluruh permukaan dalam dari rongga
toraks, dinding toraks, diaphragma dan mediastinum dan mengandung saraf) saraf
sensorik. leura /iseral melapisi seluruh permukaan kedua paru termasuk fisura
interlobaris dan tidak mempunyai saraf untuk rangsang nyeri.
(()
leura parietal lebih
tebal dari pada pleura /isceral dan dapat dipisahkan dari dinding toraks. .edua
pleura ini dipisahkan oleh lapisan tipis cairan getah bening. Cairan pleura
dihasilkan oleh kedua membrane pleura parietal dan /iseral, yang keduanya
mendapat suplai dari kapiler sistemik. 0bsorbsi terutama dilakukan oleh pembuluh
limfe (1 2# '), yang juga mengabsorbsi partikel partikel, protein besar, dan sel.
3isa cairan diabsorbsi secara kon/eksi melalui mesotelium kedalam paru atau
dinding toraks.
(4)
Cairan ini berfungsi untuk memberi lubrikasi supaya paru dapat bergerak
bebas dalam rongga pleura pada waktu terjadi perubahan /olume paru pada
respirasi. 5ongga pleura kiri dan kanan dipisahkan oleh mediastinum dan tidak
berhubungan. 6olume normal dari cairan rongga pleura hanya sekitar #,( $ #,& ml*
&
kgbb. 6olume cairan pleura yang kecil ini diatur oleh kesimbangan antara proses
pembentukan dan resorbsi.
(()
ada umumnya dianggap bahwa tekanan hidrostatik kapiler pleura parietal sama
dengan tekanan pada sistem /askuler sistemik, sedangkan tekanan hidrostatik
kapiler pleura /iseral sama dengan tekanan sistem /askuler pulmonal. +aya
hidrostatik pleura parietal melebihi daya onkotik, menghasilkan pergerakan cairan
kedalam rongga pleura. 3ebaliknya daya hidrostatik pleura /iseral kurang dari daya
onkotik dan akibatnya terjadi absorbsi cairan dari rongga pleura. !asil akhirnya,
absobsi cairan melalui pleura /iseral melebihi pembentukan cairan melalui pleura
parietal sehingga /olume residu cairan pleura sangat kecil. 5esorbsi cairan juga
dibantu oleh permukaan pleura /iseral yang lebih besar dengan adanya fisura
interlobaris dan oleh mikro/illi pada sel mesotelial pleura /iseral.
5ongga pleura terletak antara paru dan dinding toraks yang dalam keadaan
normal berisikan lapisan cairan yang sangat tipis. +alam keadaan fisiologis, cairan
pleura berjumlah antara (#)&# cc dan cairan ini mempunyai /arian jumlah
mengikuti akti/itas fisik. 5ongga pleura berfungsi sebagai sistem transmisi antara
paru dan dinding toraks. ada kapiler di pleura parietalis dibentuk cairan pleura
dengan kecepatan #,#( ml*kg77* jam.
(%)

III. Prevalensi

+i 830 efusi pleura mengenai (,4 juta jiwa pada setiap tahunnya. !ampir
semua insiden dari kasus efusi pleura didasarkan pada proses penyakit utama yang
mendasarinya 9 gagal jantung kongestif, 5## ribu jiwa, pneumonia bakterial, 4##
ribu jiwa, keganasan, &## ribu jiwa, emboli paru,(5# ribu jiwa, sirosis dengan asites
5# ribu jiwa, pankreatitis &# ribu jiwa, penyakit pembuluh darah kolagen 6.###
jiwa, dan tuberkulosis &.5## jiwa.
3ecara internasional kejadian atau insiden relatif yang menimbulkan efusi
pleura diperkirakan menjadi 4&# dari (##.### orang pada negara industri.
:orbiditas dan mortalitas dari efusi pleura secara langsung berhubungan dengan
sebab, derajat, atau tingkatan dari penyakitnya pada saat timbul, dan penemuan
4
biokimia dari cairan pleura. :orbiditas dan mortalitas pada pasien dengan
pneumonia dan efusi pleura adalah lebih tinggi dari pada pasien pneumonia saja.
erkembanagan dari keganasan pada efusi pleura dihubungkan dengan
prognosisnya yang buruk. 0ngka harapan hidup rata)rata pada pasien setelah
didiagnosa efusi pleura karena keganasan adalah 4)6 bulan.
3ecara umum insidennya sama antara laki laki dan wanita. 0kan tetapi, beberapa
sebab memiliki predileksi pada jenis kelamin tertentu. 3ekitar &*4 dari efusi pleura
pada keganasan terjadi pada wanita. Efusi pleura karena keganasan secara
signifikan berhubungan dengan keganasan pada payudara dan kandungan.
7erdasarkan usia efusi pleura biasanya terjadi pada orang dewasa.
(5)
IV. Geala !lini"
asien biasanya tidak mempunyai gejala yang khas sampai ditemukannya
efusi pleura. ;ejala simptomatis biasanya tersamarkan oleh proses perjalanan
penyakitnya. -yeri dada merupakan tanda adanya inflamasi yang mengenai pleura
parietalis. ;ejala lainnya seperti batuk yang tidak produktif dan dyspneu. +ari
pemeriksaan fisik didapatkan penurunan fremitus taktil, redup pada perkusi, suara
napasdasr yang melemah atau dapat juga menghilang.
(5,(#)
V. Diagnosis
<oro 5oentgen
;ambaran foto toraks 0 dan lateral merupakan alat penting untuk menegakkan
diagnosis efusi pleura. Cairan pleura biasanya berkumpul pada lobus inferior paru
yang mengalami efusi.
(=)
%
VI. Pen#a"it$ %en#a"it Rongga Pleura
0. enyakit >nfeksi
?uberkulosis
Etiologi &
?uberkulosis adalah penyakit menular yang sebagian besar disebabkan oleh
kuman :ycobacterium tuberculosis. .uman tersebut biasanya masuk ke dalam
tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam paru. .emudian kuman
tersebut menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran
darah, sistem saluran limfe, melalui saluran nafas (bronkus) atau penyebaran
langsung ke bagian)bagian tubuh lainnya. ?7 dapat terjadi pada semua kelompok
umur, baik di paru maupun di luar paru.
( 6 )
Cara enularan 9
3umber penularan adalah penderita ?7 7?0 positif. ada waktu batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk +roplet (percikan
+ahak). +roplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu
kamar selama beberapa jam. @rang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup
kedalam saluran pernapasan. 3elama kuman ?7 masuk kedalam tubuh manusia
melalui pernapasan, kuman ?7 tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh
lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau
penyebaran langsung ke bagian ) bagian tubuh lainnya.
5
+aya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. :akin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak,
makin menular penderita tersebut. 7ila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak
terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
.emungkinan seseorang terinfeksi ?7 ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam
udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
( " )
+iagnosis ?uberkulosis (?7)
+iagnosis ?uberkulosis ada @rang +ewasa
+iagnosis ?7 paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya
7?0 pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. !asil pemeriksaan dinyatakan
positif apabila sedikitnya dua dari tiga 33 7?0 hasilnya positif. 7ila hanya (
spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen
dada atau pemeriksaan spesimen 33 diulang. .alau hasil rontgen mendukung
?7, maka penderita didiagnosis sebagai penderita ?7 7?0 positif. .alau hasil
rontgen tidak mendukung ?7, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan. 0pabila
fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya
biakan. 7ila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas
(misalnya kotrimoksasol atau 0moksisilin) selama ( A & minggu. 7ila tidak ada
perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan ?7, ulangi pemeriksaan
dahak 33 9
.alau hasil 33 positif, didiagnosis sebagai penderita ?7 7?0 positif.
.alau hasil 33 tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis ?7.
) 7ila hasil rontgen mendukung ?7, diagnosis sebagai penderita ?7 7?0 negatif
roentgen positif.
) 7ila hasil rontgen tidak mendukung ?7, penderita tersebut bukan ?7.
( " )
7. penyakit non infeksi
(. ,upus Eritematosus
6
leuritis adalah salah satu gejala yang timbul pada penyakit lupus eritematosus
sistemik ( 3,E ). +engan terjadinya efusi pleura yang kadang) kadang
mendahului gejala sistemik lainnya, diagnosis 3,E ini menjadi llebih jelas.
!ampir 55' 3,E disertai pleuritis dan &5' dari padanya juga dengan efusi
pleura. Cairan efusi bersifat eksudat, jarang yang hemoragik, mengandung
bermacam)macam leukosit.
+iagnosis 3,E ditegakkan bila ditemukan sel ,E atau konsentrasi komplemen
( C4 dan C% ) yang rendah dalam cairan efusi. .adang)kadang diperlukan juga
torakosentesis ( malah berulang)ulang ) untuk
penyembuhan disamping terapi dengan kortikosteroid.
(%)
&. 0rthritis 5eumatoid (50)
Efusi pleura terdapat pada 5' 50 selama masa sakit. Cairan efusi bersifat
eksudat serosa yang banyak mengandung limfosit. <actor rheumatoid mungkin
terdapat dalam cairan efusi tetapi tidak patognomonik untuk 50, karena juga
terdapat pada karsinoma, tuberculosis ataupun pneumonia. .adar glukosa
biasanya sangat rendah ( kurang dari &#'mg'), malah tidak terdeteksi sama
sekali ( demikian juga pada tuberculosis dan karsinoma). .adar kolesterol dalam
cairan efusi juga sering meningkat. 7iopsy pada jaringan pleura bisa mendapatkan
granuloma yang seolah olah seperti nodul reumatik perifer. 8mumnya efusi
pleura pada 50 sembuh sendiri tanpa diobati , tetapi kadang)kadang diperlukan
juga terapi kortikosteroid.
ada demam reumatik akut sering juga ditemukan efusi pleura dengan sifat
eksudat. Bumlah cairan efusi biasanya sedikit dan segera menghilang bila demam
reumatiknya berkurang.
(%)

4. 3kleroderma
Efusi pleura juga didapatkan pada penyakit scleroderma. Bumlah cairan efusinya
tidak banyak, yang menonjol disini adalah penebalan pleura ataau adhesi yang
terdapat pada "5' pasien scleroderma.
(%)

"
C. -E@,03:0
-eoplasma primer ataupun sekunder (metastases) dapat menyerang pleura dan
umumnya menyebabkan efusi pleura. .eluhan yang paling banyak ditemukan
adalah sesak napas dan nyeri dada. ;ejala lain adalah adanya cairan yang selalu
berakumulasi kembali dengan cepat walaupun dilakukan torakosentesis berkali)
kali.
Efusi bersifat eksudat, tetapi sebagian kecil ((#') dapat sebagai transudat. Carna
efusi dapat seroDantochrom ataupun haemorragic ( terdapat lebih dari (##.### sel
eritrosit *cc). didalam cairan ditemukan sel)sel limfosit ( yang dominant ) dan
banyak sel mesotelial. emeriksaan sitologi terhadap cairan efusi atau biopsi
pleura parietalis sangat menentukan diagnosis terhadap jenis)jenis neoplasma.
?erdapat beberapa teori tentang timbulnya efusi pleura pada neoplasma yakni 9
) menumpuknya sel $ sel tumor akan meningkatkan permeabilitas pleura
terhadap air dan protein.
) 0danya massa tumor mengakibatkan tersumbatnya aliran pembuluh darah /ena
dan getah bening, sehingga rongga pleura gagal dalam memindahkan cairan dan
protein.
) 0danya tumor membuat infeksi lebih mudah terjadi dan selanjutnya timbul
hipoproteinemia.
Efusi pleura karena neoplasma biasanya unilateral, tetapi bisa juga bilateral
karena obstruksi saluran getah bening. 0danya metastases dapat mengakibatkan
pengaliran cairan dari rongga peritoneal kerongga pleura lewat diaphragma.
.eadaan efusi pleura dapat bersifat maligna. .eadaan ini ditemukan (# $ &# '
karsinoma bronkus, =' dari ,imfoma :aligna dan leukemia.
Benis) jenis neoplasma yang menyebabkan efusi pleura 9
a. :esotelioma
:erupakan tumor primer yang berasal dari pleura. 7ila tumor terlokalisir tidak
menyebabkan efusi pleura. Bika tumor bersifat difus digolongkan sebagai tumor
ganas karena dapat menimbulkan pleura yang maligna.
b. .arsinoma bronkus
=
c. -eoplasma metastatik
d. ,imfoma maligna
(%)
2
BAB III
E'USI PLEURA e.( )B
*PLEURAL )UBER+UL,SIS-
?uberkulosis pleura adalah sebab utama yang paling sering menimbulkan efusi
pleura eksudati/a. :ekanisme terjadinya efusi dapat dipengaruhi 4 cara yang
berbeda 9
(. Efusi yang berkembang dalam beberapa bulan setelah infeksi primer pada anak)
anak atau dewasa muda.
&. Efusi yang berkembang sebagai akibat dari penyakit paru pada dewasa. 3angat
jarang berlanjut menjadi efusi yang purulen ( empiema ).
4. 5uptur dari ka/itas tuberkulosa dan lolosnya udara ke rongga pleura, dengan
diikuti pneumotorak.
)B Pleural Primer
3ecara umum, ?7 pleural telah disadari sebagai sebuah manifestasi dari ?7 primer
yang berkembang dari anak)anak. 3eiring dengan bertambahnya tahun, rata)rata dari
umur pada pasien ini secara bertingkat mulai naik. eningkatan pre/alensi dari ?7
paru dewasa muda diperkirakan berhubungan dengan kehidupan lingkungan pada
masing)masing indi/idu atau tempat kerja atau keadaan sosial ekonomi yang rendah.
?7 primer pada orang)orang tua, mungkin dihubungkan dengan kondisi kemiskinan,
dengan peningkatan sebab oleh penyakit kronis dan hasil dari penggunaan
imunosupresan.
!ipotesa terakhir untuk patogenesis efusi pleura pada ?7 primer adalah fokus
kaseosa sub pleural pada paru)paru yang pecah kerongga pleura dalam waktu 6)(&
minggu setelah infeksi primer.
0ntigen mycobakterial masuk ke rongga pleura dan berinteraksi dengan sel ? yang
sebelumnya telah tersentisasi oleh :ycobacteria, menghasilkan sebuah reaksi
(#
hipersensiti/itas yang lambat dan akumulasi dari cairan. Cairan yang dihasilkan
secara umum berupa cairan eksudat tetapi dapat juga bersifat serosanguinis dan
biasanya terdiri dari beberapa tuberkel basil.
7eberapa kriteria yang menunjukkan ?7 pleural primer9
(. ;ambaran dari tes + positif yang terbaru.
&. 5oentgen dada dalam satu tahun terakhir menunjukkan tidak ada keterlibatan
?7C pada parenkim paru.
4. 0denopathy hillus dengan atau tanpa penyakit parenkimal.
)B %leural Post Primer * Rea"tivasi -
?7 pleural bisa terjadi dari reakti/asi pada setiap waktu setelah infeksi. 5eakti/asi
dapat terjadi pada pasien)pasien dengan imunitas yang rendah. ada tahun)tahun
terakhir, beberapa penelitian melaporkan bahwa rata)rata pasien dengan ?7 pleural
telah meningkat secara bertahap. ada suatu penelitian, rata)rata usia pada pasien
dengan ?7 reakti/asi adalah %%,6 tahun. enyertaan dari penyakit yang mendasari
seperti keganasan pada pleura dimana bisa memproduksi efusi pleura bisa
mengacaukan penegakkan diagnosis yang tepat. ada kasus seperti ini foto roentgen
dada menunjukkan efusi pleura yang kecil sampai moderat, unilateral, walaupun
efusi yang masif telah ditemukan.
>nfiltrasi mungkin ditemukan pada bagian atas segmen superior dari lobus bawah.
Baringan parut pada parenkim bisa muncul pada lobus atas. >ni adalah tanda dari ?7
reakti/asi.
Geala !lini"
enampakan klinik dari ?7 pleural bisa perlahan atau timbul seketika dan akut. ada
suatu penelitian, penyakit ini timbul perlahan pada 64' pada pasien sebagai penyakit
akut dengan demam dan nyeri dada pleuritik, kadang menyerupai pneumonia akut.
;ejala klinik yang sering timbul adalah batuk ("()2%'), demam ("()(##'), nyeri
((
dada ("=)=&'), dan dispneu. 7atuk biasanya tidak produktif. .eringat malam,
dispneu, kelemahan dan penurunan berat badan sering dikeluhkan.
+emam dan nyeri dada mungkin timbul terutama pada pasien yang lebih muda, dan
batuk yang produktif serta dispneu pada pasien)pasien yang lebih tua. asien)pasien
dengan efusi pleural ?7 dan !>6 menjadi simptomatik untuk periode yang lama dan
memiliki gejala tambahan seperti takipneu, keringat malam, lesu, diare, hepato
megali, splenomegali dan limfadenopati.
emeriksaan fisik menunjukkan penemuan yang berhubungan dengan keterlibatan
pleura meliputi nyeri dan penurunan suara. ernapasan dan penurunan perkusi dari
daerah yang terdapat efusi.
(6,")
Diagnosis
Efusi pleural ?7 tidak selalu mudah untuk didiagnosa, karena ciri dari penampakkan
yang timbul seperti efusi pleura eksudati/a yang kaya akan limfosit yang
dihubungkan dengan granuloma nekrotic kaseosa pada biopsi pleura, pewarnaan
Eiehl -eelsen yang positif atau kultur pada ,owenstein dari cairan efusi atau contoh
jaringan dan sensitifitas kutaneus pada + tidaklah selalu timbul.
+iagnosis pada ?7 pleural secara umum ditegakkan dengan analisis dari cairan
pleura dan biopsi pleura.
a. torakosintesa
torakosintesis sebagai diagnosis awal selalu diindikasikan cairannya adalah
eksudat. erhitungan sel biasanya antara (## $ 5### *ml dengan 2#' limfosit
pada &*4 kasus. Efusinya memiliki tingkat protein yang lebih tinggi ( F5 g*dl ),
glukosa biasanya lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai serum. ! selalu
",4 atau lebih rendah. ,+! lebih dari &## u*dl.
emeriksaan langsung dari cairan pleura dengan pewarna Giehl neelsen
membutuhkan konsentrasi hasil lebih dari (#.### *ml untuk menjadi positif.
b. ulasan sputum dan kultur
ulasan sputum jarang positif pada kasus primer dan kultur dapat positif pada
kasus primer hanya &5 $ 44 ' dari pasien.
(&
c. 7iopsi leura
enemuan 7asil ?ahan 0sam (7?0) dengan pewarnaan dari spesimen biopsi
telah dilaporkan berguna, tetapi positif palsu telah ditemukan, jadi ini tidaklah
reliable.
d. 0sam ?uberkulostearat
0sam tuberkulostearat (?730) adalah komponen struktural dari :.tuberculosis
dan kelompok organisme actynomicetal. 0kan tetapi deteksi dengan ?730 pada
aspirasi pleura tidaklah sangat membantu diagnosa.
e. 0+0
?ingkat 0+0 total pleura adalah enGim yang secara khas ditemukan pada
konsentrasi yang tinggi pada ?7 pleural. -ilai dari 0+0
(
* 0+0
p
H#,%& adalah
indicator yang baik dari pleural ?7, dengan akurasi 22', sensitifitas (##' dan
spesifisitas 2=,6'.
f. C5
C5, dimana didasarkan pada amplifikasi dari genom spesifik :.tuberculosis,
yang secara teori sangatlah spesifik.
)era%i efusi %leura
0. >n/asi/e
Efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi
melalui sela iga. 7ila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar atau bila
empiemanya multilokuler, perlu tindakan operatif. :ungkin sebelumnya dapat
dibantu dengan irigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptic (betadine).
engobatan secara sistemik hendaknya segera diberikan,tetapi ini akan tidak
berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adekuat.
(. ?orakosintesis
0spirasi cairan pleura (torakosentesis) berguna sebagai sarana diagnosis
maupun terapeutik. enatalaksanaan torakosintesis sebaiknya dilakukan pada
(4
pasien dengan posisi duduk. 0spirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela
iga garis aksilaris posterior dengan memakai jarum abbocath nomor (% atau (6.
engeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi (###)(5## cc pada setiap
kali aspirasi. ,ebih baik mengerjakan aspirasi berulang)ulang darib pada satu
kali aspirasi sekaligus yang dapat menimbulkan pleural shock ( hipotensi )
atau edema paru. Edema paru dapat terjadi karena paru)paru mengembang
terlalu cepat. :ekanisme sebenarnya belum diketahui betul, tetapi diperkirakan
karena adanya tekanan intra pleura yang tinggi dapat menyebabkan
peningkatan aliran darah melalui permeabilitas kapiler yang abnormal.
.omplikasi lain torakosintesis adalah pneumotoraks ( ini yang paling sering,
udara masuk melalui jarum ), hemotoraks ( karena trauma pada pembuluh
darah pada pembuluh darah intercostalis ) dan emboli udara, ini agak jarang
terjadi.
+apat juga terjadi laserasi pleura /isceralis, tetapi ini biasanya akan sembuh
sendiri dengan cepat. 7ila laserasinya cukup dalam, dapat menyebabkan udara
dari al/eoli masuk ke /ena pulmonalis sehingga terjadi emboli udara. 8ntuk
mencegah terjadinya emboli udara ini berkembang menjadi emboli pulmonal
atau emboli sistemik, pasien dibaringkan dengan posisi kiri dibagian bawah,
posisi kepala lebih rendah dari pada leher, sehingga udara tersebut dapat
terperangkap di atrium kanan.
(%)

&. leurodesis
8ntuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi ( pada efusi pleura
maligna ), dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketkan pleura /isceralis
dan pleura parietalis. Eat)Gat yang dipakai adalah tetrasiklin (terbanyak
dipakai), 7leomycin, Corynebacterium par/um, ?hio)tepa, 5 <luorouracil, dll.
I rosedur pleurodesis
ipa selang dimasukkan pada ruang antar iga dan cairan efusi dialirkan keluar
secara perlahan)lahan. 3etelah tidak ada lagi cairan yang keluar, masukkan 5##
mg tetrasiklin (biasanya oksitetrasiklin) yang dilarutkan dalam &# cc garam
fisiologis kedalam rongga pleura, selanjutnya diikuti dengan &# cc garam
fisiologis. 3elamg dikunci selama 6jam dan selama itu pasien diubah)ubah
(%
posisinya, sehingga tetarsiklin dapat didistribusikan kesaluran rongga pleura.
3elang antar iga kemudian dibuka dan cairan dalam rongga pleura kembali
dialirkan keluar sampai tidak ada lagi yang tersisa. 3elang kemudian dicabut.
Bika menggunakan Gat corynebacterium par/um, masukan " mg yang dilarutkan
dalam &# cc garam fisiologis dengan cara seperti pada penggunaan tetrasiklin.
.omplikasi tindakan pleurodesis ini sedikit sekali, biasanya berupa nyeri
pleuritik atau demam.
(%)
7.?erapi konser/atif dan pemberian @0?
enanganan dari efusi pleural ?7 terdiri dari terapi standar obat anti ?7.
emberian dosis diatur berdasarkan berat badan yakni 9 kurang dari 44 kg, 44)
5# kg dan lebih dari 5# kg.. pengobatan dibagi atas empat kategori yakni 9
0. .ategori >
+itujukan terhadap 9
.asus baru dengan sputum positif.
.asus baru dengan bentuk tuberkulosa berat seperti meningitis,
tuberculosis diseminata, perikarditits, peritonitis, pleuritis, spondilitis
dengan gangguan neurologis, kelainan paru yang luas dengan 7?0
negati/e, tuberculosis usus, tuberculosis genitourinarius.
engobatan tahap intensif adalah dengan paduan & 5!EE. 7ila setelah
& bulan 7?0 menjadi negatif, maka diteruskan dengan tahap lanjutan.
7ila setelah & bulan masih tetap positif maka tahap intensif dilanjutkan
lagi sampai &)% minggu dengan % macam obat. ada populasi dengan
resistensi primer terhadap >-! rendah tahap intensif cukup diberikan 4
macam obat saja yakni 5!E.
engobatan tahap lanjutan adalah dengan paduan %5! atau %5
4
!
4
.
pasien dengan tuberculosis berat 5 dan ! harus diberikan setiap hari
selama 6)" bulan.
7. .ategori >>
+itujukan terhadap9
(5
.asus sembuh
.asus gagal dengan sputum 7?0 positif.
engobatan tahap intensif selama 4 bulan dengan & 5!EE3* (5!EE.
7ila setelah tahap intensif 7?0 menjadi negatif maka diteruskan
dengan tahap lanjutan. 7ila setelah 4 bulan 7?0 tetap positif , maka
diperpanjang sampai ( bulan lagi dengan 5!EE. 7ila setelah % bulan
7?0 masih juga positif, pengobatan dihentikan selama &)4 hari, lalu
diperiksa biakan dan resistensi terhadap 7?0 dan pengobatan
diteruskan dengan tahap lanjutan. 7ila sputum 7?0 masih tetap positif
setelah pengobatan tahap lanjutan, maka pasien tidak perlu di obati
lagi.
C. .ategori >>>
+itujukan terhadap 9
.asus 7?0 negatif dengan kelainan paru yang tidak luas.
.asus tuberculosis ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori
> 9 pengobatan tahap intensif dengan panduan & 5!E atau &5
4
!
4
E
4
.
bila kelainan paru lebih luas dari (# cm
&
atau pada tuberculosis ekstra
paru dengan remisi belum sempurna, maka tahap lanjutan
diperpanjang lagi dengan ! saja selama % bulan lagi.

+. .ategori >6
+itujukan terhadap kasus tuberculosis kronik.
rioritas pengobatan rendah. ?erdapat resistensi obat)obat antituberkulosis
(sedikitnya 5 dan !), sehingga masalhnya jadi rumit. asien mungkin perlu
dirawat beberapa bulan dan diberikan obat)obat antituberkulosis tingkat dua
yang kurang begitu efektif, lebih mahal dan lebih toksis. +i -egara maju
dapat diberikan obat)obat antituberculosis eksperimental sesuai dengan
sensiti/itasnya, sedangkan -egara yang kurang mampu cukup dengan
pemberian ! seumur hidup dengan harapan dapat mengurangi infeksi dan
penularan.
((,%)
(6
)a.le /osis o.at
-ama @bat +osis harian
77 H 5# kg 77 F 5# kg
+osis berkala
4 D seminggu
>soniaGid
5ifampisin
iraGinamid
3treptomisin
Etambutol
Etionamid
03
4## mg %## mg
%5# mg 6## mg
(.5## mg &### mg
"5# mg (### mg
"5# mg (### mg
5## mg "5# mg
2 g (# g
6## mg
6## mg
&)4 g
(### mg
()(,5 g
)
)

("
BAB IV
PENU)UP
Efusi pleura merupakan suatu komplikasi yang dapat disebabkan oleh berbagai macam
penyakit. :ycobacterium tuberculosa merupakan salah satu penyebab tersering dari
timbulnya suatu efusi pleura walaupun efusi juga dapat disebabkan oleh penyakit yang
lainnya. Efusi pleura dapat didiagnosa dengan tepat melalui pemeriksaan radiologis
berupa foto torak yang memberikan gambaran radio opaJ pada bagian paru yang terkena
efusi. enanganan yang tepat untuk efusi pleura adalah menemukan penyebabnya dan
mengobati penyebabnya selain mengeluarkan cairan efusi tersebut.
8paya peningkatan hygiene lingkungan yang baik dapat mengurangi faktor resiko
infeksi. 3elain itu, pola hidup sehat dapat menjadi tindakan pre/entif terhadap gejala
efusi pleura.
(=
+0<?05 83?0.0
(. rice, 0.3yl/ia, ,orraine :. Cilson, Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses
Penyakit, edisi 6 /ol. &. Bakarta 9 E;C &##6, hal "22)=##.
&. :ansjoer 0, dkk. Kapita Selekta Kedokteran . Edisi 4 jilid (, Bakarta 9 :edia
0esculapius <akultas .edokteran 8> &##(.
4. 7raunwald E, <anci 03,dkk. Harrisons Manual of Medicine (5
th
edition. 830 9
:c ;raw !ill &##&.
%. 3uyono, slamet. Buku Ajar Ilu Penyakit !ala . Edisi 4 jilid >>. Bakarta 9 7alai
enerbit <.8> &##(.
5. http9**www.emedicine.com*emerg*topic%6&htm
6. http9**www.dinkes.go.id*penyakit*html
". http9**www.infeksi.com*hi/*articles
=. http9**www.cle/elandclinicmeded.com*diseasesmanagement*pleuraldiseases .
2. http9**www.medicastore.com*efusi*article
(#. http9**www.pulmonologychannel.com*common*adKdisclaimer.html
(2