Anda di halaman 1dari 14

Materi Hukum Islam UKD 4

1. Materi Kelompok 1
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM MASA NABI, PERIODE MEKKAH
Periode Mekkah ( 610-620 M)
Masa Nabi, diawali ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah. Masa nabi
diangkat menjadi dua, yakni periode Makkah dan Periode Madinnah.
Ciri-Ciri Periode Makkah
Periode ini merupakan periode sebelum hijriah ke Madinnah
Saat ayat-ayat al-Quran diturukan.
Ayat-ayat yang diturunkan mengenai akidah seperti Ketuhanan, Janji-janji Allah, Alam akhirat,
kiamat , Kedahsyatan malaikat ( ayat makiyah ).
Sebelum masa masuknya islam kebanyakan kaum arab beribadat dengan cara melakukan
penyembahan berhala dan mereka menjadikan kabah sebagai pusat peribadatan mereka, hal tersebut
bisa dikatakan sudah cukup lama berlangsung sampai akhirnya nabi Muhammad datang dan membawa
keyakinan lain yaitu ketauhidan. Sumber Hukum Berupa Wahyu dari Allah, Rasul melakukan ijtihad
ketika muncul persoalan dan wahyu belum turun. Belum terlihat adanya aturan-aturan sosial, masih
berupa doktrin.
Dakwah Nabi Muhammad
Pada zaman nabi, Kaum Qurasy tidak setuju dengan seruan Nabi Muhammad tentang
persamaan hak antara hamba sahaya dan bangsawan. Karena Nabi Muhammad ingin menghapuskan
sistem perbudakan yang telah lama berjalan. Kaum qurasy juga menolak ajaran tentang kebangkitan dan
pembalasan hari akhir.
Reaksi keras kaum qurasy ini menghambat dakwah nabi Muhammad karena tentunya akan
beresiko sekali dan bahkan mengancam keselamatan dan nyawa nabi sehingga pada akhirnya nabi harus
melakukan sistem dakwah yag lain.
Periode Dakwah Rasulullah
1. Periode dakwah dengan cara rahasia dan diam-diam
2. Periode dakwah dengan terang-terangan dan terbuka

Periode Dakwah Dengan Cara Rahasia dan Diam-diam
Awalnya Rasulullah berdakwah secara diam-diam di lingkungan sekitarnya sendiri dan
dikalangan rekan-rekanya sendiri, orang yang pertama kali manerima serta mengikuti dakwahnya, mula
mula istri rasul Sayyidatina Khadijah kemudian disusul imam Ali yang sekaligus juga menjadi pemeluk
agama islam termuda, imam Ali memeluk agama islam pada usianya yang ke sepuluh tahun. Kemudian
disusul Abu Bakar , Zaid, Ummu Aiman dan lain-lain.
Dengan dakwah secara diam-diam ini belasan orang telah menyatakan diri memeluk agama
islam. Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual, turunlah perintah agar
nabi melakukan dakwah secara terang-terangan

Periode Dakwah dengan Terang-Terangan dan Terbuka
Setelah beberapa lama melakukannya secara sembunyi-sembunyi, turunlah perintah untuk
melakukan dakwah secara terbuka dan terang-terangan:Dan berilah peringatan kepada kaum
kerabatmu yang terdekat.(asy syuaraa).
Dengan turunnya perintah itu nabi mulai berdakwah secara terang-terangan, mula-mula nabi
menyeru pada kerabat karibnya dari bani Abdul Muthalib, tapi mereka semua menolak kecuali Ali.
Kemudian, nabi mulai menyeru pada masyarakat umum dengan naik ke bukit Shafa dan
memanggil orang makkah, lalu bersabda bagaimana bila aku mengatakan pada kalian bahwa dilembah
sana ada seekor kuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian akana mempercayai apa yang saya
ucapkan? mereka menjawab ya , kami percaya karena kami belum pernah mendapatkan engkau
berdusta maka Rasulullah bersabda ketahuilah bahwa sesungguhnya aku memberi peringatan kepada
kalian tentang siksa yang sangat pedih lalu rasul mengajak mereka untuk beriman kepada Allah.
Berakhirnya Periode Makkah
Pada masa dakwah secara terang-terangan inilah nabi mendapatkan perlakuan yang buruk dari
umatnya. Saat itu, pemimpin qurays mulai berusaha menghalangi dakwah Rasul dengan berbagai cara
agar beliau menghentikan dakwahnya. Karena mereka melihat semakin bertambahnya jumlah pengikut
Nabi, mereka pun semakin keras melancarkan serangan-serangan, baik pada nabi ataupun pada para
pengikut nabi. Para pengikut nabi yang termasuk kalangan bangsawan terselamatkan dari siksa kaum
qurays saat itu, dan bagi mereka yang tidak memiliki perlindungan, harus menahan siksa yang pedih dari
kaum qurays.
Nabi juga mendapatkan jalan buntu dalam dakwahnya. Intinya Nabi dan para pengikutnya
mendapat hambatan serta siksaan baik secara fisik dan mental dari kaum qurays saat itu, sehingga,
kemudian nabi memutuskan untuk menyebarkan dakwahnya di wilayah lain dengan harapan
dakwahnya akan berkembang dengan pesat, alasan lainnya adalah untuk menghindari serangan dari
pemuka-pemuka qurays saat itu.
Kesimpulan
Masyarakat Islam pada kurun Mekkah belum tercipta sebagai sebuah komunitas yang mandiri
dan bebas dari urusan klan. Negara Islam juga belum terbentuk pada kurun Mekkah. Ajaran Islam pada
kurun Mekkah bercirikan tauhid dan dalam titik tertentu terjadi radikalisasi makna dalam
weltanschaung Arab jahiliyyah yang berimplikasi mengguncang tataran sosio-religius penduduk Mekkah.

2. Materi Kelompok 2
PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM MASA MADINAH
SEJARAH
Dalam periode ini, wewenang pembentukan hukum sepenuhnya berada di tangan Rasul. Apabila
kaum muslimin dihadapkan pada suatu permasalahan, mereka segera menyampaikannya pada
Rasul. Beliau sendiri yang langsung menyampaikan fatwa hukum, meneyelesaikan sengketa, dan
menjawab berbagai pertanyaan.
Namun ini bukan berarti pintu ijtihad tertutup sama sekali bagi selain Rasul. Ada beberapa
riwayat yang menyebutkan bahwa sebagaian sahabat telah berijtihad di masa hidup Rasulullah.
Ali bin Abi Thalib diberi arahan oleh Nabi cara memutuskan hukum ketika diutus ke Yaman
untuk menjadi hakim.
LATAR BELAKANG
Kehadiran Rasul melalui peristiwa hijrah ke dalam masyarakat Madinah yang majemuk amat
menarik untuk dibahas. Peta demografis Madinah saat itu adalah sebaagai berikut: (1) Kaum
Muslimin yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar, (2) Anggota suku Aus dan Khazraj yang masih
berada pada tingkat nominal muslim, bahkan ada yang secara rahasia memusuhi Nabi saw., (3)
Anggota suku Aus dan Khazraj yang masih menganut paganisme, (4) Orang-orang Yahudi yang
terbagi dalam tiga suku utama: Banu Qainuqa, Banu Nadhir dan Banu Quraizha.
Kemajemukan komunitas tersebut tentu saja melahirkan conflict dan tension. Pertentangan Aus
dan Khazraj sudah terlalu terkenal dalam sejarah Islam. Bahkan diduga diterimanya Rasul di
Madinah (Yatsrib) dengan baik di kedua klan tersebut karena kedua klan tersebut membutuhkan
"orang ketiga" dalam konflik diantara mereka. Hal ini bisa dipahami dalam manajemen konflik
politik. Adapun diterimanya Rasul oleh kaum Yahudi merupakan catatan tersendiri. Tentu saja
Yahudi menerima Nabi dengan penuh kecurigaan tetapi pendekatan yang dilakukan Nabi
mampu "menjinakkan" mereka, paling tidak, sampai Nabi eksis di Madinah.
CIRI-CIRI MASYARAKAT ISLAM FASE MADINAH
Tidak lagi lemah, banyak dan berkualitas,
Mengeliminasi permusuhan dalam rangka mengesakan Allah,
Ada ajakan untuk mengamalkan syariat Islam untuk memperbaiki hidup berrmasyarakat, dan
Membentuk aturan damai dan perang. Maka risalah yang disampaikan adalah hukum
kemasyarakatan yang mencakup muamalah, jihad, jinayat, mawaris, wasiyat, talak, sumpah, dan
peradilan.
PEMBENTUKAN
Sumber pembentukan hukum dalam periode Rasul ini ada dua, yaitu: wahyu ilahi dan ijtihad
Rasul (ijtihad nabawi). Jadi apabila datang permasalahan diantara kaum muslimin yang
membutuhkan ketentuan hukum (terjadi sengketa, pertanyaan, atau permohonan fatwa), ada dua
kemungkinan yang akan terjadi: Pertama, Allah menurunkan wahyu kepada nabi untuk menetapkan
keputusan. Contohnya adalah turunnya wahyu untuk menjawab pertanyaan sahabat tentang:
perang di bulan haram (2: 217) dan tentang arak dan judi (2: 219). Kemungkinan kedua adalah suatu
hukum diputuskan dengan ijtihad nabawi. Ijtihad ini pun pada suatu waktu merupakan tabir ilham
Ilahi yang diberikan Allah kepada nabi, dan di waktu yang lain praktis merupakan hasil dari
kesimpulan-kesimpulan yang beliau ambil sendiri dengan berorientasi kepada kemaslahatan.
Hukum-hukum ijtihadiyah yang nabi tidak memperoleh ilham dari Allah, yakni yang bersumber dari
pandangan pribadi beliau disebut hukum nabawi; hukum ini tidak akan diakui Allah, kecuali kalau
ternyata benar. Jika ternyata salah, maka Allah akan mengadakan pembetulan.
PEMBENTUKAN PEDOMAN HUKUM PADA PERIODE INI
Dalam upaya memberikan keputusan hukum yang merujuk kepada sumber-sumber tasyri,
Rasulullah selalu menunggu datangnya wahyu sebelum memmutuskan sesuatu; dan kalau ternyata
wahyu tidak turun, beliau menyadari, bahwa persoalannya telah diserahkan kepada ijtihad beliau
dengan berlandaskan kepada undang-undang Ilahi dan jiwa tasyri, serta perhitungan pribadinya
yang berorientasi pada kemaslahatan, dan juga musyawarah dengan para sahabat.
EMPAT PRINSIP LANDASAN PEMBENTUKAN HUKUM ISLAM
1. Berangsur-angsur (tadarruj)
2. Menyedikitkan peraturan-peraturan
3. Mempermudah dan memperingan (taisir dan takhfif)
4. Pembentukan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia

3. Materi Kelompok 3
Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam pada Masa Khulafa Rasyidin (Abu Bakar Siddiq dan
Umar bin Khattab)
Zaman Abu Bakar Siddiq
Abu Bakar Siddiq adalah ahli hukum yang tinggi mutunya. Setelah nabi wafat, ia diangkat
sebagai Khalifah I. Khalifah adalah pimpinan yang diangkat setelah nabi wafat untuk menggantikan nabi
dan melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan pemerintah. Ia memerintah dari tahun 632-
634 M. Sebelum masuk Islam, dia terkenal sebagai orang yang jujur dan disegani.
Beliau ikut aktif mengembangkan dan menyiarkan Islam, atas usaha dan seruannya banyak
orang-orang terkemuka memeluk agama Islam. Dan karena hubungannya yang sangat dekat dengan
Nabi Muhammad, beliau mempunyai pengertian yang dalam tentang jiwa Islam lebih dari yang lain.
Dalam masa pemerintahannya Abu Bakar Shiddiq melakukan beberapa hal penting:
1. Pidato pelantikannya dijadikan dasar dalam menentukan hubungan antara rakyat dengan
penguasa juga antara pemerintah dengan warga negara.
2. Cara yang dilakukan oleh abu bakar dalam memecahkan persoalan hukum yang timbul dalam
masyarakat. Pertama ia akan mencari pemecahan masalah itu dalam wahyu Tuhan. Kalau tidak
terdapat disana, pemecahan masalah itu dicarinya dalam sunnah nabi. Apabila dalam Sunnah
Rasulullah ini pemecahan masalah tidak diperoleh, Abu Bakar akan bertanya kepada sahabat
nabi yang dikumpulkannya dalam satu majelis. Mereka yang duduk dalam majelis itu melakukan
ijtihad bersama, maka dari itu timbullah keputusan atau consensus bersama yang disebut ijmak
mengenai masalah tertentu.
3. Dalam masa pemerintahan Abu Bakar atas anjuran Umar, dibentuk panitia khusus yang bertugas
mengumpulkan catatan ayat-ayat Quran yang telah ditulis di zaman nabi pada bahan-bahan
darurat seperti pelepah-pelepah kurma, tulang-tulang unta dan sebagainya yang dihimpun
dalam satu naskah. Panitia ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit salah seorang pencatat wahyu dan
sekretaris Nabi Muhammad ketika beliau masih hidup. Sebelum diserahkan kepada Abu Bakar,
himpunan naskah Al-Quran itu diuji dahulu ketepatan pencatatannya dengan hafalan para
penghafal Al-Quran yang selalu ada dari masa ke masa.
Zaman Umar bin Khattab
Setelah Abu Bakar meninggal dunia, Umar menggantikan kedudukannya sebagai
Khalifah II. Pemerintahan Umar bin Khattab berlangsung dari tahun 634-644 Masehi. Sebagai
sahabat nabi, Umar turut ikut aktif menyiarkan agama Islam. Ia melanjutkan usaha Abu Bakar
meluaskan daerah Islam sampai ke Palestina, Syria, Irak, dan Persia di sebelah Utara serta Mesir
di Barat Daya.
Ia juga berjasa dalam menetapkan tahun Islam yang terkenal dengan tahun hijriyah
berdasarakan peredaran bulan (qamariyah) dibandingkan dengan tahun masehi (maladiya) yang
didasarkan pada peredaran matahari (syamsiyah), tahun hijriyah lebih pendek. Perbedaannya
setiap tahun adalah 11 hari, sekian jam, sekian menit (Hazairin, 1955). Oleh karena itu, tiap
tahun permulaan puasa, misalnya bergeser 11 hari lebih dahulu dari tahun sebelumnya.
Penetapan tahun hijriyah ini dilakukan Umar pada tahun 638 M dengan bantuan para ahli ilmu
hisab (hitung) pada waktu itu.
Selain itu, penetapan Umar yang diikuti oleh umat Islam di seluruh dunia sampai
sekarang (dan juga dimasa yang akan datang) adalah membiasakan salat atarawih, yaitu salat
sunnah malam yang dilakukan sesudah salat isya, selama bulan ramadhan.
Sikap yang perlu di tauladani dari Khalifah Umar ini adalah sikap tolerannya terhadap
pemeluk agama lain. Hal ini terbukti ketika beliau hendak mendirikan masjid (yang sekarang
terkenal dengan Masjid Umar) di Jerussalem (Palestina) disuatu tempat dari sana-menurut
keyakinan beliau-nabi Muhammad dulu miraj ke langit.
Karena didekat tempat itu telah berdiri tempat ibadah orang Kristen dan Yahudi,
sebelum mendirikan masjid tersebut, Khalifah Umar terlebih dahulu memberitahukan
maksudnya dan meminta izin kepada pemimpin agama golongan Kristen dan Yahudi ditempat
itu, padahal sebagai penguasa atas seluruh daerah baru tersebut, ia tidak perlu melakukan hal
itu (Hazairin, 1955). Namun, ia melakukan hal tersebut karena sikapnya yang toleran terhadap
agama lain.
Banyak tindakan Umar di lapangan hukum, diantaranya:
1. Talak tiga yang diucapkan sekaligus disuatu tempat pada suatu ketika, dianggap sebagai talak
yang tidak mungkin rujuk (kembali) sebagai suami-istri, kecuali salah satu pihak (dalam hal ini
mantan istri) kawin lebih dahulu dengan orang lain. Tindakan ini dilakukan oleh Umar agar pria
berhati-hati mengucapkan talak tiga sekaligus yang di zaman nabi dan Khalifah Abu Bakar
dianggap talak satu. Dan juga untuk melindungi kaum wanita dari penyalahgunaan hak talak
yang berada ditangan pria.
2. Al-Quran telah menetapkan golongan-golongan yang berhak menerima zakat, termasuk muallaf
didalamnya, yaitu orang-orang yang baru memeluk agama Islam yang seharusnya dilindungi
karena masih lemah imannya dan karena ia memeluk agama Islam (mungkin) terputus. Pada
zaman Rasulullah golongan ini memperoleh bagian zakat, tetapi Khalifah Umar menghentikan
pemberian zakat kepada muallaf berdasarkan pertimbangan bahwa Islam telah kuat, umat Islam
telah banyak sehingga tidak perlu lagi diberikan keistimewaan kepada golongan khusus dalam
tubuh Islam.
3. Menurut al-quran surat al-maidah (5) ayat 38 orang yang mencuri diancam dengan hukuman
potong tangan. Dimasa pemerintahan Umar terjadi kelaparan dalam masyarakat di
semenanjung Arabia, ancaman hukuman terhadap pencuri yang disebut dalam al-quran tidak
dilaksanakan oleh Khalifah Umar berdasarkan pertimbangan keadaan (darurat) dan
kemaslahatan (jiwa) masyarakat.
4. Didalam al-quran (Qs 5: 5) terdapat ketentuan yang memperbolehkan pria muslim menikahi
wanita Ahlul Kitab (wanita yahudi dan nasrani). Akan tertapi Khalifah Umar melarang
perkawinan campuran yang demikian, untuk melindungi kedudukan wanita Islam dan keamanan
(rahasia) negara (H.M. Rasjidi : 1973).
Disamping itu, Umar juga mengemukakan pokok-pokok pikirannya mengenai peradilan seperti
yang tercantum dalam suratnya kepada Abu Musa A-Asyari yang menjadi hakim di Kufah, Irak.
Namun pada tahun 644 M, Khalifah Umar meninggal dunia dan digantikan oleh Usman bin
Affan.

4. Materi Kelompok 7
PEMIKIRAN 4 MAZHAB
Mazhab (bahasa Arab: madzhab) adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui
dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu
dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya.
MAZHAB HANAFI (IMAM ABU HANIFAH)
Didirikan oleh An-Numan bin Tsabit atau lebih dikenal sebagai Imam Abu Hanifah.
Beliau berasal dari Kufah dari keturunan bangsa Persia.
Sangat dikenal sebagai terdepan dalam masalah pemanfaatan akal/ logika dalam
mengupas masalah fiqih
Metodologi yang diperkenalkan memang sangat berguna buat umat Islam sedunia.
Metodologi mazhab ini menjadi sangat menentukan dalam dunia fiqih di
berbagai negeri.
Imam Hanafi (Imam Abu Hanifah) bernama asli Abu Hanifah Numan ibn Tsabit Al-Kufi,
lahir di Irak (Kufah) pada tahun 80 Hijrah (699 M). Ia hidup pada dua masa, yaitu pada
masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan dan masa kekhalifahan Bani
Abbas. Ia diberi gelar Abu Hanifah (suci, lurus) karena sesungguhnya sejak kecil ia
berakhlak mulia, dan menjauhi perbuatan dosa dan keji
Mazhab Hanafi dikenal sebagai Imam Ahlurrayi serta fiqih dari Irak. Ia dikenal banyak
menggunakan rayu, qiyas, dan istihsan. Dalam memperoleh suatu hukum, yang tidak
ada dalam nash, kadang-kadang ulama dalam mazhab ini meninggalkan kaidah qiyas
dan menggunakan kaidah istihsan
Yang menjadi pedoman dalam menetapkan hukum Islam (fiqih) di kalangan mazhab
Hanafi adalah :
1) Al-Quran
2) Sunnah Nabi SAW
3) Fatwa sahabat
4) Qiyas
5) Istihsan
6) Ijma
MAZHAB MALIKI (IMAM MALIK)
Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi (93
179H).Berkembang sejak awal di kota Madinah dalam urusan fiqh.
Mazhab ini ditegakkan di atas doktrin untuk merujuk dalam segala sesuatunya kepada
hadits Rasulullah SAW dan praktek penduduk Madinah. Imam Malik membangun
madzhabnya dengan 20 dasar.
Mazhab ini adalah kebalikan dari mazhan Al-Hanafiyah. Kalau Al-Hanafiyah banyak sekali
mengandalkan nalar dan logika, mazhab Maliki justru kebanjiran sumber-sumber
syariah.
Imam Malik bernama lengkap Abu Abdullah Malik ibn Anas ibn Malik ibn Abi Amir ibn
Amr ibn Haris ibn Gaiman ibn Kutail ibn Amr ibn Haris Al-Asbahi. Ia lahir di Madinah
pada tahun 93-179 H/712-796 M
Psinsip dasar mazhab Maliki adalah :
1) Al-Quran
2) Sunnah Nabi SAW
3) Ijma
4) Tradisi penduduk Madinah (statusnya sama dengan sunnah menurut mereka)
5) Qiyas
6) Fatwa sahabat
7) Al-maslahah al-mursalah
8) urf
9) Istihsan
10) Istishab
11) Sad adz-dzariah
12) Syaru man qoblana
Kemudian Imam Asy-Syatibi menyederhanakan dasar fiqih mazhab Maliki tersebut
dalam empat hal, yaitu :
1) Al-Quran
2) Sunnah Nabi SAW
3) Ijma
4) Rasio

MAZHAB SYAFII (IMAM SYAFII)
Imam SyafiI bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas ibn
Ustman ibn Syafi ibn as-Saib ibn Ubaid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn Abd al-Muthalib
ibn Abd Manaf. Ia lahir di Gaza (Palestina), pada tahun 150 H (767-820M), berasal dari
keturunan bangsawan Quraisy dan masih keluarga jauh Rasulullah SAW dari ayahnya,
garis keturunannya bertemu di Abd Manaf (kakek ketiga Rasulullah SAW).
Dalam penetapan hukum Islam, Imam SyafiI menggunakan :
1) Al-Quran
2) Sunnah Rasulullah SAW
3) Ijma sahabat
4) Qiyas (tetapi dalam pengguanaannya tidak luas)
Imam SyafiI menolak istihsan sebagai salah satu cara mengistinbathkan hukum syara.
Penyebarluasan pemikiran mazhab SyafiI diawali melalui kitab ushul fiqhnya ar-
Risalah dan kitab fiqihnya al-Umm, kemudian disebarluaskan dan dikembangkan oleh
para muridnya yaitu Yusuf bin Yahya al-Buwaiti (w. 231 H/846 M) seorang ulama besar
Mesir, Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H/878 M), dan ar-Rabi bin
Sulaiman al-Marawi (w. 270 H).
MAZHAB HANBALI ( IMAM AHMAD IBN HANBALI)
Imam Hanbali bernama Abu Abd Allah Ahmad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad asy-Syaibani
al-Marwazi al-Baghdadi, lahir di Mirwa (Baghdad) pada tahun 780-855 M, bertepatan
pada bulan Rabiul Awal tahun 164 H.
Prinsip dasar Mazhab Hanbali adalah sebagai berikut:
1. An-Nusus (jamak dari nash), yaitu Al-Quran, Sunnah Nabi SAW, dan Ijma;
2. Fatwa Sahabat;
3. Jika terdapat perbedaan pendapat para sahabat dalam menentukan hukum yang
dibahas, maka akan dipilih pendapat yang lebih dekat dengan Al-Quran dan sunnah
Nabi SAW;
4. Hadits mursal atau hadits daif yang didukung oleh qiyas dan tidak bertentangan
denganijma; dan
5. Apabila dalam keempat dalil di atas tidak dijumpai, akan digunakan qiyas.
Penggunaan qiyasbagi Imam Ahmad bin Hanbal hanya dalam keadaan yang amat
terpaksa. Prinsip dasar Mazhab Hanbali ini dapat dilihat dalam kitab
hadits Musnad Ahmad ibn Hanbal. Kemudian dalam perkembangan Mazhab Hanbali
pada generasi berikutnya, mazhab ini juga menerimaistihsan, sadd az-Zariah, urf;
istishab, dan al-maslahah al-mursalah sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam.
5. Materi Kelompok 9
MASA KEBANGKITAN KEMBALI HUKUM ISLAM (Abad ke-19 sampai Sekarang)
Hukum Islam
Pengertian
hukum yang bersumber dari dan menjadi bagian agama Islam yang mengatur hubungan
manusia dengan Tuhan (hablumminallah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan
manusia dengan manusia lain dan hubungan manusia dengan benda dalam masyarakat serta alam
sekitarnya.
Ciri Ciri
1. Bagian dan bersumber dari agama Islam
2. Memiliki hubungan yang erat dan tidak dipisahkan dari iman dan akhlak
3. Memiliki 2 istilah kunci ; syariat dan fiqih
4. Terdiri dari 2 bidang utama ; Ibadah dan Muamalah
5. Memiliki struktru berlapis ; Al-Quran Sunnah Nabi Muhammad SAW hasil
ijtihad manusia
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan
Masa Nabi Muhammad (610 M 632 M)
Masa lahir dan berkembangnya Hukum Islam dimasa Nabi Muhammad masih hidup,
yang beliau peroleh melalui wahyu dengan perantara Malaikat Jibril, baik ketika beliau
masih berada di Makkah maupun setelah hijrah ke Madinah.
Masa Khulafaur Rasyidin (632 M 662 M)
Di masa ini, terjadi pergantian kepemimpinan umat Islam, yang semula dipegang oleh
Rasulullah, digantikan oleh seorang kepala negara yang disebut Khalifah.
Masa Pembinaan, Pemgembangan, dan Pembukuan (VII M X M)
Di periode ini, Hukum Islam dikembangkan lebih lanjut di masa pemerintahan
Khalifah Umayyah dan Khalifah Abbasiyah.
Masa Kelesuan Pemikiran (X M XIX M )
Di masa ini, ilmu Hukum Islam mulai berhenti berkembang, karena pada masa ini
para ahli Hukum Islam hanya membatasi diri mempelajari pikiran-pikiran para ahli
sebelumnya yang telah dituangkan kedalam buku berbagai mazhab.
Masa Kebangkitan Kembali (Abad ke-19 sampai Sekarang)
Setelah mengalami kelesuan pemikiran dan kemunduran, pemikiran Islam bangkit kembali
pada abad ke-19. Ini merupakan reaksi terhadap sikap taqlid para ahli hukum Islam di masa sebelumnya,
yang mengakibatkan kemunduran Hukum Islam.
Dimasa ini, muncullah gerakan-gerakan baru diantara gerakan para ahli hukum yang
menyarankan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Dalam Kepustakaan, gerakan ini disebut gerakan
Salaf (permulaan/pembaharuan).
Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan sebutan gerakan
pembaharuan. Pada periode ini mulai bermunculan pemikiran pembaharuan dalam Islam. Gerakan
pembaharuan itu muncul karena dua hal antara lain :

1. Timbulnya kesadaran di kalangan ulama bahwa banyak ajaran - ajaran asing yang masuk
dan diterima sebagai ajaran Islam.
Ajaran - ajaran tersebut bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang sebenarnya, sepert
bidah, khurafat dan takhyul. Ajaran inilah yang menyebabkan Islam menjadi mundur. Oleh karena itu,
mereka bangkit membersihkan Islam dari ajaran atau paham tersebut. Gerakan ini dikenal sebagai
gerakan reformasi.
Adapun gerakan-gerakan pembaharuan tersebut sebagai berikut :
- Gerakan Wahhabiyah yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abdul al-Wahhab ( 1703 - 1787
M) di Arabia.
- Grakan Syah Waliyullah ( 1703 - 1762 M ) di India.
- Gerakan Sanusiyyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Said Muhammad Sanusi dari Aljazair.
2. Pada periode ini Barat mendominasi Dunia di bidang politik dan peradaban. Persentuhan
dengan Barat menyadarkan tokoh-tokoh Islam akan ketinggalan mereka. Karena itu, mereka berusaha
bangkit dengan mencontoh Barat dalam masalah masalah politik dan peradaban untuk menciptakan
balance of power ( Yatim, 2003 : 173 - 174 ).
Dengan kata lain, fase kebangkitan kembali Hukum Islam dan aspek-aspek keagamaan yang
lain di masa ini dilatar belakangi pula oleh semangat nasionalisme dari negara-negara Islam yang
dijajah Barat dan sekutu-sekutunya.
Beberapa langkah yang diambil adalah sebagai berikut :
pengiriman para pelajar Muslim oleh penguasa Turki Usmani dan Mesir ke negara-negara Eropa
untuk menimba ilmu pengetahuan dan menerjemahkan karya - karya Barat ke dalam bahasa
Islam.
Munculnya gagasan Pan-Islamisme (persatuan Islam sedunia) di daerah Timur Tengah, yang
awalnya didengungkan oleh gerakan Wahhabiyah dan Sanusiyah. Gagasan ini kemudian
disuarakan dengan lantang oleh Jamaluddin al-Afghani ( 1839 - 1897 M ). Al-Afghani adalah
orang Islam pertamadi masa ini yang menyadari akan dominasi Barat dan bahayanya secara
vokal.
Lanjutan ..
Di Mesir, benih-benih gagasan nasionalisme tumbuh sejak masa al-Tahtawi ( 1801 - 1873 M )
dan Jamaluddin al-Afghani. Tokoh pergerakan terkenal yang memperjuangkan gagasan ini di
Mesir adalah Ahmad Urabi Pasha.
Di daerah semenanjung Arab lainnya lahir pula gagasan nasionalisme Arab yang segera
menyebar dan mendapat sambutan baik, sehingga nasionalisme terbentuk atas dasar kesamaan
bahasa. Demikian ini yang terjadi di Mesir, Syiria, Libanon, Palestina, Iak, Hijaz, Afrika Utara,
Bahrein dan Kuwait.
Munculnya gerakan Pan-Islamisme di India, yang disebut dengan gerakan Khilafat, yang
diprakarsai oleh Syed Amir Ali ( 1848-1928 M ).
Munculnya organisasi Sarekat Islam pada tahun 1921 dibawah pimpinan HOS Cokroaminoto,
yang merupakan kelanjutan dari partai Sarekat Dagang Islam
Diantara gerakan-gerakan pembaharuan Islam dan nasionalisme kebangsaan diatas, berikut
upaya-upaya lain dari masyarakat Islam dalam kontribusinya mengembalikan kembali Hukum Islam ke
tataran masyarakat :
Paham Ibnu Taimiyah, yang membagi ruang lingkup agama Islam ke dalam 2 bidang besar,
Ibadah dan Muamalah.
Program Pembaharuan Islam oleh Mohammad Abduh, dengan poin pemikiran :
- membersihkan Islam dari pengaruh-pengaruh dan kebiasaan-kebiasaan yang bukan Islam
- mengadakan pembaharuan dalam sistem pendidikan Islam
- merumuskan dan menyatakan kembali ajaran Islam menurut alam pikiran modern
- membela (ajaran) Islam dari pengaruh Barat dan serangan agama lain.
- membebaskan negeri-negeri yang penduduknya beragama Islam dari belenggu penjajahan.
Hal-hal lain yang menandai dan menjadi indikator kebangkitan kembali Hukum Islam
Dalam studi Hukum Islam modern (baru-baru ini) di Fakultas Hukum Islam (Syariah), diadakan
mata kuliah Perbandingan Mazhab dari empat aliran hukum dalam golongan Ahlus sunnah wal
jamaah.
Dalam pengkajian hukum Islam di era modern ini, dibuatlah bidang-bidang ilmu dalam sub-sub
divisi hukum Islam, sehingga pembahasan lebih dalam dan mendetail.
Dunia barat (Eropa dan Amerika) mulai menyadari dan mengakui kembali adanya hukum Islam,
dengan mulai mempelajari hukum Islam baik dalam lingkungan akademik.
Diusulkannya penerbitan Ensiklopedi Hukum Islam dalam KAA pada tahun 1956, yang
diharapkan mampu menjadi pegangan hidup umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Adanya kecenderungan kuat dan arus yang deras di kalangan umat Islam, khususnya Timur
Tengah, Afrika dan Pakistan untuk kembali kepada hukum Islam sebagai salah satu identitasnya.
Penutup dan Kesimpulan
Hukum Islam mengalami priode perkembangan-perkembangan yang salah satunya adalah
disebut dengan Priode Kebangkitan yang dimulai pada bagian kedua abad ke 19 sampai dengan saat ini,
dengan tokoh sentralnya adalah Jalaluddin Al-Afgani (1839-1897) dan Muhammad Abduh (1849-1905).
Pikiran-pikiran kedua tokoh ini sangat dipengaruhi oleh Pemikiran Ibnu Taimiyah (1263-1328).2. Ciri
utama dari Perkembangan Hukum Islam pada priode ini adalah adanya ajakan untuk mendirikan Pan
Islamisme dan melakukan perubahan menyeluruh terhadap dunia Islam khususnya di bidang
pendayagunaan akal atas Al-Quran dan Sunnah dan sekaligus melepaskan ikatan dari belenggu mazhab
Ciri lainnya ditandai dengan perhatian yang cukup besar dari dunia Eropa dan Barat pada
umumnya untuk mempelajari hukum Islam sehingga mereka menjadikan hukum Islam sebagai mata
kulliah resmi di Fakultas-Fakultas Hukum.5. Ciri berikutnya dari perkembangan hukum Islam ini adalah
adanya kecenderungan pada negeri-negeri berpenduduk muslim untuk kembali kepada Hukum Islam
seperti yang terlihat di Timur Tengah dan di Asia Tenggara

Beri Nilai