Anda di halaman 1dari 6

32

BAB IV
PEMBAHASAN

Tabel 4.1. Anamnesis secara teori dan kasus.
Anamnesis
Teori

Kasus

Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit
kronis dan residif, disertai gatal yang umumnya
sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak,
sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE
dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau
penderita (dermatitis atopi, rhinitis alergika, asma
bronkhiale, dan konjungtivitis alergika).


Riwayat Penyakit dalam Keluarga:
Riwayat asma pada ayah pasien

Dermatitis Atopik infantile (usia 2 bulan sampai
2 tahun) paling sering muncul pada tahun
pertama kehidupan, biasanya setelah usia 2
bulan. Lesi mulai di muka (dahi, pipi) berupa
eritema, papulo-vesikel yang halus, karena
digosok, pecah, eksudatif dan akhirnya terbentuk
krusta, Lesi kemudian meluas ketempat lain
yaitu ke scalp, leher, pergelangan tangan,
lengan dan tungkai. Biasanya anak mulai
menggaruk setelah umur 2 bulan. Rasa gatal
yang timbul sangat mengganggu sehingga anak
gelisah, sulit tidur dan sering mengangis.


Riwayat Perjalanan Penyakit:
Sejak 3 minggu yang lalu,
timbul bintil-bintil merah yang terasa
gatal di kaki kiri dan kanan, lengan
kanan dan kiri, dan wajah. Bintil
timbul dengan ukuran kurang-lebih
sebesar ujung jarum pentul kecil.
33



Rasa gatal sering disebabkan karena berkeringat
yang menyebabkan penderita sering menggaruk.
Akibat garukan, kulit menebal dan perubahan
lainnya yang menyebabkan gatal, sehingga terjadi
lingkaran setan siklus gatal-garuk. Rangsangan
menggaruk sering di luar kendali.



Awalnya muncul bintil merah kecil
pada kaki sebelah kanan dan kiri tanpa
sebab dan terasa gatal. Lama kelamaan
bintil semakin banyak, muncul di
lengan tangan kanan dan kiri, dan
wajah, muncul tidak rata dan terasa
kasar di kulit. Untuk mengurangi
gatal, pasien mengaruk. Rasa gatal
terasa terutama saat berkeringat.

Tabel 4.2. Penegakan Diagnosis secara Teori dan Kasus
Kriteria Mayor pada pasien:
Pruritus
Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak
Dermatitis di fleksura pada dewasa
Dermatitis kronis atau residif
Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya

Kriteria Minor pada pasien:
Xerosis
Infeksi kulit (khususnya oleh S.aureus dan virus herpes simpleks)
Dermatitis nonspesifik pada tangan atau kaki
lktiosis/hipediniar palmads/keratosis pilaris
Pitiriasis alba
Dermatitis di papila mame
White dermographism dan delayed blanch response
34



Berdasarkan kriteria Mayor Minor Dermatitis Atopik oleh Hanifin & Rajka,
maka pada pasien mengarah ke manifestasi dari Dermatitis Atopik. Kemudian
dilakukan pengkajian lebih lanjut berdasarkan status dermatologis yang
ditemukan :
Tabel 4.3. Status dermatologis berdasarkan teori dan kasus.
Status Dermatologis
Teori Kasus

- Tempat predileksi pada usia infantil: mulai di
muka (pipi, dahi) meluas ke tempat lain yaitu
scalp, leher, pergelangan tangan, lengan dan
tungkai.




Di regio brachialis sampai
antebrachialis dextra dan sinistra,
terdapat Papul miliar sebagian vesikel
halus diatasnya terdapat skuama
halus, multipel, tersebar diskret.
Krusta dengan dasar eritema
diatasnya terdapat skuama halus,
Keilitis
Lipatan infra orbital Dennie-Morgan
Konjungtivitis berulang
Keratokonus
Katarak subkapsular anterior
Orbita menjadi gelap
Muka pucat atau eritem
Gatal bila berkeringat
Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak
Aksentuasi perifolikular
Hipersensitif terhadap makanan
Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan atau emosi
Tes kulit alergi tipe dadakan positif, Kadar IgE di dalam serum
meningkat
Awitan pada usia dini
35


- Efloresensi :
Lesi berupa eritema, papulo, vesikel yang
halus, karena gatal digosok, pecah,
eksudatif, dan akhirnya terbentuk krusta.
Lesi D.A. infantile eksudatif, banyak eksudat,
erosi, krusta dan dapat mengalami infeksi. Lesi
dapat meluas generalisata bahkan walaupun
jarang dapat terjadi eritroderma.

Dermatitis bisa bersifat akut, subakut
atau kronik. Dermatitis akut menunjukkan
eritema, edema, papul, membasah dan krusta.
Sedangkan pada stadium subakut kulit
masih kemerahan, tetapi sudah lebih kering
dan terdapat perubahan pigmentasi.
Stadium kronis menunjukkan likenifikasi,
ekskoriasi, skuama, dan fisura. Stadium
dermatitis tidak selalu berurutan, bisa saja
sejak awal memberi gambaran klinis berupa
kelainan kulit stadium kronis. Jenis
efloresensinya tidak selalu harus polimorfik,
mungkin hanya oligomorfik.
multipel, berbatas tegas, lentikular
sampai plakat, tersebar sebagian
diskret sebagian konfluen.


Pada status dermatologis di atas sesuai dengan teori dan yang ditemukan
pada pasien, sehingga diagnosis pasien Dermatitis Atopik menjadi lebih kuat.






36


4.1. Diagnosis Banding
1. Dermatitis Seboroik
Berhubungan dengan keaktifan glandula sebasea. Pada bayi muncul saat
umur bulan-bulan pertama, jarang muncul pada usia anak (sebelum
pubertas) dan insidens nya mencapai puncak umur 18-40 tahun. Ditandai
dengan eritema, papul folikular dan perifolikular coklat sampai
kemerahan, papul berubah menjadi patch tebal mirip gambaran medali
(medallion seboroic,) erupsi berskuama halus-kasar yang berwarna
salmon colored atau kuning berminyak, ditemukan krusta yang mengeras
bau, batas kurang tegas. Tempat predileksi di kulit kepala (cenderung
alopesia), pipi, badan, ekstremitas,dan diaper area. Pada bayi biasanya
skuama kekuningan dengan debris epitel yang melekat di kulit kepala
(cadle crap). Jika meluas akan menjadi penyakit leiner, yang ditandai
dengan penurunan imun pada bayi dan anak (diare).
2. Dermatitis Kontak
Muncul akibat adanya factor pencetus kontak (iritan dan alergi).
Biasanya lesi sesuai dengan tempat kontaktan (bisa timbul dimana saja).,
Lesi berupa eritema, vesikel miliar, bula, luas kelainan biasanya sebatas
daerah yang terkena, dan batas nya tegas. Pada dermatitis iritan kronis
berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun menebal
(hyperkeratosis) dan likenifikasi, batas menjadi tidak tegas, dapat terjadi
fisura akibat kontak terus berlangsung. Pada dermatitis kontak alergi,
vesikel dan bulan dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah).
Tempat predileksi sering pada tangan (akibat deterjen, antiseptic, zat
kimia, dll), lengan (jam tangan nikel, sarung tangan karet, debu semen
atau serbuk tanaman), wajah (kosmetik, cat rambut, dll), telinga
(tindikan, obat tetes telinga, tangkai kacamata), leher (kalung nikel,
parfum, dll), badan (bahan pakaian, zat warna pakaian, detergen),
genitalia, paha dan tungkai bawah (pakaian, kaos kaki, sepatu-sendal, dll)
37


Berdasarkan diagnosis banding, maka pada pasien ini mengarah ke
diagnosis pasti dari Dermatitis Atopi.

Tabel 4.4. Penatalaksanaan berdasarkan teori dan kasus
Penatalaksanaan
Teori Kasus
1. Umum
Pada bayi penting diperhatikan
kebersihan daerah bokong dan genitalia.
Upaya pertama adalah melindungi daerah
yang terkena garukan agar tidak
memperparah penyakitnya. Usahakan
tidak memakai pakaian yang bersifat
iritan (misalnya wol atau sintetik).
2. Khusus
- Topikal
Obat topikal yang sering digunakan
pada bayi adalah krim kortikosteroid
berpotensi rendah misalnya
hidrokortison 1%-1,5%
- Sistemik
Antihistamin.
Antihistamin digunakan untuk
membantu mengurangi rasa gatal yang
hebat, terutama pada malam hari,
sehingga mengganggu tidur. Oleh
karena itu antihistamin dipakai yang
mempunyai efek sedatif.
- Menghindari untuk tidak menggaruk,
kuku harus dipotong pendek dan
bersih
- Menghindari pakaian dengan bahan
tebal seperti wol, nilon, pakailah jenis
katun atau kaos yang menyerap
keringat.



Medikamentosa
1. Topikal
- Kortikosteroid potensi rendah:
hidrokortison 1%-1,5%
2xseminggu.
2. Sistemik:
- Antihistamin Cetirizine syrup 2 x
Sehari


Prognosis pada pasien ini bonam. Prognosis akan baik selama pengobatan
teratur dan sesuai anjuran