Anda di halaman 1dari 2

Autorev-Dunia otomotif Indonesia sedang diramaikan dengan adanya mobil murah yang dikenal dengan

sebutan LCGC (Low Cost Green Car). Mendengar sebutannya saja yaitu sebuah green car sudah tentu
bisa di asumsikan bahwa mobil-mobil ini akan sangat hemat dalam penggunaan bahan bakarnya. Hemat
sangat penting apalagi aturan terbaru mengatakan bahwa mobil murah ini tidak lagi diizinkan meminum
bensin bersubsidi.
Salah satu teknologi yang dipergunakan adalah mengubah cara kerja di ruang bakar mesin. Bila awalnya
kebanyakan mesin menerapkan siklus Otto sebagai basis kerjanya, kini mulai beralih ke siklus Atkinson.
Secara teknis mesin dengan prinsip kerja siklus Otto memang lebih praktis, lebih sederhana.
Dikarenakan langkah naik turunnya torak pada mesin Otto adalah sama besar, lain dengan mesin
Atkinsonn dimana langkah hisap lebih pendek dari langkah tenaga.
Karena rumit menjadikan siklus Atkinson sulit diterapkan di mesin mobil. Mesin menjadi sangat besar
karena harus memiliki dua poros berbeda diameter, belum lagi poros-poros penghubung, menjadikannya
tidak kompak. Tapi dengan teknologi yang ada saat ini siklus Atkinson mungkin untuk dipergunalan
melalui beberapa manipulasi teknologi.
Penemuan akan pembuka katup variabel serta penggunaan multi katup memungkinkan mesin bekerja
dalam siklus Atkinson. Tidak perlu dengan poros dan tuas yang rumit lagi.
Tapi memang dalam proses kerjanya langkah hisap dan tenaga tetap sama, hanya saja dilakukan
manipulasi dalam rurasi bukaan katup agar didapat kesan bahwa ada perbedaan langkah. Hasilnya
memang sangat memuaskan dimana efisiensi termal mesin meningkat jauh.
Mesin dengan siklus Otto memiliki efisiensi termasl sekitar 20% saja, tapi dengan siklus Atkinson
meningkat menjadi lebih dari 30% mendekati efisiensi termal mesin Diesel yang 40%. Perubahan dari
Otto ke Atkinson bisa dirasakan pada Daihatsu Ayla. Peruban berupa durasi bukaan katup masuk, katup
masuk terbuka lebih lama, malah katup masih terbuka saat langkah kompresi berjalan. Ini bisa
diidentikan dengan langkah hisap lebih pendek.
Memang ada beda dengan siklus Atkinson aslinya, akibat katup masuk terbuka saat langkah kompresi
menyebabkan gas yang sudah masuk ke silinder akan tertiup kembali ke saluran masuk. Ini menjadikan
tekanan di saluran, sangat menguntungkan bagi silinder berikutnya yang akan melakukan langkah hisap.
Disisi lain udara terkompresi menjadi lebih sedikit menyebabkan terjadinya penurunan torsi yang
dihasilkan.
Torsi mesin kecil dapat dengan mudah diakali oleh para pabrikan mobil melalui penyesuaian rasio gigi
pada sistem transmisinya. Tapi bila dilihat di atas kertas, perbedaan yang terjadi tidak begitu besar,
berkisar 10%.
Beda dengan langkah tenaga akan terjadi secara penuh sepanjang langkah toraknya. Ini menghasilkan
tenaga lebih besar karena energi yang terbuang menjadi jauh lebih kecil. Itu yang menyebabkan mobil
dengan siklus ini lebih irit bensin.
Seperti halnya yang terjadi pada Daihatsu Ayla bertransmisi matik berbahan bakar Pertamax. Saat diuji
coba di Jakarta 28 April lalu di Ancol oleh tim autorevindonesia.com , untuk satu liternya menghasilkan
jangkauan 31,6km (31,6 km/liter).
Dengan catatan, mobil dikendarakan pada kecepatan konstan 40km/j dan indikator Eco selalu menyala.