Anda di halaman 1dari 193

Ensiklopedi Seismik Online

http://ensiklopediseismik.blogspot.com/
Agus Abdullah, PhD
2007-2008

Disclaimer
Setiap material, baik tulisan, persamaan matematika dan gambar yang tertera pada e-book
ini ditujukan untuk keperluan pendidikan semata. Setiap tulisan, persamaan maupun
gambar yang diambil dari tempat lain diberikan keterangan autorisasi. Penulis berusaha
semaksimal mungkin untuk menghargai hak cipta dari hasil karya orang lain dan berupaya
untuk membaca dengan teliti mengenai perjanjian dan klausul hak cipta. Jika penulis
melakukan kekeliruan, dan pemilik hak cipta keberatan, penulis bersedia untuk mencabut
gambar, tulisan, maupun persamaan yang tertera dalam e-book ini. Karena e-book ini
ditujukan untuk keperluan pendidikan, penyalahgunaan selain untuk keperluan
pendidikan diluar tanggung jawab penulis.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 0


Ensiklopedi Seismik Online

Indeks
2D Seismic Marine Acquisition, 3 Difraksi, 60
3D Seismic Acquisition QC, 10 DMO, 60
Acoustic Impedance, 11 Dog Leg, 62
Aliasing, 12 Elastic Impedance, 63
Amplitudo, 13 Envelope, 63
Analisis Fasies Seismik, 14 Fasa Sesaat, 65
Angle Mute, 21 Feather, 66
Angle Stack, 22 Fermat's principle, 67
Anisotropy, 23 Filtering, 68
Anomalous Amp. Noise Attenuation, 24 First Break, 69
Aperture, 25 Flow Pengolahan Data Seismik, 70
APF.VO, 25 Frekuensi Gelombang Seismik, 71
Aproksimasi Aki Richards Fasier, 26 Frekuensi Sesaat, 72
Aproksimasi Mobil, 26 Fresnel Zone, 73
Aproksimasi Shuey, 27 Gain, 74
Aproksimasi Smith Gidlow, 29 Gelombang Prisma, 75
Artificial Neural Network, 31 Groundroll, 75
Atenuasi, 33 High Order NMO, 77
Atribut Seismik, 34 Hilbert Transform dan Jejak Kompleks, 78
Auto Correlation, 36 Hockey Stick, 79
AVA, 36 Horizontal Seismic Profiling, 80
Bowtie, 39 Huygens Principle, 80
Brute Stack, 39 Interval Velocity, 81
BSR (Bottom Simulating Reflector), 40 Inversi Maximum Likelihood, 82
CDP, 42 Inversi Sparse Spike, 83
Coherence, 43 Kecepatan Gelombang P, 84
Continuous Wavelet Transform, 47 Kelly Bushing, TVD, dll..,85
Controlled Beam Migration, 49 Ketidakselarasan, 87
Convolution, 51 Lambda Mu Rho, 88
Cross Correlation, 52 Love Wave, 90
Curvature, 53 Main Lobe Side Lobe, 91
Dekonvolusi, 55 Marine Geohazards Site Survey, 92
Densitas Batuan, 57 Matrix Toeplitz, 95
Dephasing, 57 Migrasi, 95
Deret - Transformasi Fourier, 58 Minimum Phase - Maximum Phase, 96

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 1


Ensiklopedi Seismik Online
Mistie, 97 Seismic Trace, 145
Multi Azimuth Seismic, 98 Seismic Velocity, 146
Multi Linear Regression, 99 Seismik Multikomponen, 147
Multi Taper Method (MTM), 99 Semblance dll.., 150
Multiattribute Analysis, 101 Shear Wave, 150
Multiple, 105 Shear Wave Splitting, 151
Near - Far Offset, 106 Slant Stack - Radon Transform, 153
NMO, 107 Spectral Decomposition, 154
Noise dan Data Seismik, 109 Spike, 155
Non Zero Apex, 111 SRME, 156
Nyquist Frequency, 111 Stacking, 159
P-Wave, 112 Static Correction, 159
Perigram, 113 Sweep Vibroseis, 160
Perigram x Cosinus Fasa, 114 Tau-P, 161
Persamaan Faust, 115 Teori Inversi Rekursif Reflektivitas, 163
Petroleum System, 118 Thinbed Reflectivity Inversion, 164
Poisson Impedance, 124 Transformasi Gabor, 165
Poisson’s Ratio, 126 True Amplitude Recovery (TAR), 167
Polaritas Normal – Reverse, 127 Tuning Thickness, 170
Preserve-Non Preserve Amplitude, 128 TWT, 170
Prewhitening, 129 Velocity Analysis, 171
Remote Resistivity Mapping (R3M), 129 Velocity Sag, 174
Reflection Strength, 133 Vertical Seismic Profiling (VSP), 175
Reflectivity, 134 Volume Assessment, 179
Resolusi Seismik, 134 Vp/Vs, 180
Reverse Time Migration (RTM), 136 Water Column Statics, 180
Rich Azimuth Seismic (RAZ), 137 Wavelet, 183
RMS Velocity, 138 Well Seismic Tie, 184
Rocks Physics Analysis, 138 Wide Azimuth Seismic (WAZ), 189
Seismic Inversion, 140 Zero Crossing, 190
Seismic Record, 143 Zoeppritz Equation, 190
Seismic Reference Datum (SRD), 143

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 2


Ensiklopedi Seismik Online
2D Seismic Marine Acquisition
Akuisisi data seismik laut 2D dilakukan untuk memetakan struktur geologi di bawah laut
dengan menggunakan peralatan yang cukup rumit seperti: streamer, air gun, perlengkapan
navigasi dll.

Skema akuisisi marin 2D dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Dalam praktiknya akuisisi seismic marin terdiri atas beberapa komponen: kapal utama,
gun, streamer, GPS, kapal perintis dan kapal pengawal dan kadang-kadang perlengkapan
gravity (ditempatkan di dalam kapal) dan magnetik yang biasanya ditempatkan 240 meter
di belakang kapal utama (3 meter di dalam air).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 3


Ensiklopedi Seismik Online

Didalam kapal utama terdapat beberapa departemen: departemen perekaman (recording),


navigasi, seismic processing, teknisi peralatan, ahli komputer, departemen yang
bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan kerja, departemen lingkungan, dokter,
juru masak, dan kadang-kadang di lengkapi dengan departemen survey gravity dan
magnetik, dll. Jumlah orang yang terlibat dalam keseluruhan operasi berjumlah sekitar 40
orang.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, selama operasi ini disertai pula dua buah
kapal perintis (chase boat) yakni sekitar 2 mil di depan kapal utama. Selain bertanggung
jawab membersihkan lintasan yang akan dilewati (membersihkan rumpon, perangkap
ikan, dll) , kapal perintis bertugas untuk menghalau kapal-kapal yang dapat menghalagi
operasi ini. Selain itu di belakang streamer, terdapat juga sebuah kapal pengawal.

Operasi akuisisi data seismik memakan waktu dari mulai beberapa minggu sampai
beberapa bulan, tergantung pada 'kesehatan' perangkat yang digunakan, musim, arus laut,
dll.

Mengingat mahalnya operasi data akuisisi (mencapai 150 ribu dollar per hari, dalam
operasi 3D bisa mencapai 250 ribu dollar per hari!) maka Quality Control dari operasi ini
harus betul-betul diperhatikan, seperti apakah semua hidrophon bekerja dengan baik,
apakah air gun memiliki tekanan yang cukup, apakah streamer dan air gun berada pada
kedalaman yang dikehendaki, apakah feather tidak terlalu besar, dll.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 4


Ensiklopedi Seismik Online
Beberapa parameter geofisika yang dipakai dalam akuisisi marin adalah sbb (contoh):
Record length: 800ms
Sample rate: 2ms
Start of data: 50ms
Low cut filter: 3 Hz/ 6dB
Hi Cut filter: 250Hz @ 370dB / Octave
Tape format: Demux SEGD rev 1, 8058
Polarity: first break is negative
Shot point interval 25 m
No of streamer: 1
Streamer length: 7500m
Number of channels: 648
Group interval: 12.5 m
Operating depth: 8 m +/- 1m
Offset CSCNG (inline) 125m (center of source to center of near group)
Array volume: 4140 cu inc
Operating pressure: 2000 psi +/- 10%
Array configuration: 3 strings (each string = 9 segments)
Array separation: 15 m
Source depth: 6m +/- 1m
Center source to nav. mast: 185m

Gambar dibawah menunjukkan ruang kerja seismic recording, navigasi dan processing.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 5


Ensiklopedi Seismik Online
Serta stasiun perangkat kerasnya…

Streamer…yang dilengkapi dengan hydrophone, ADC (Analog to digital converter dan bird
yang berperan untuk mengatur posisi dan kedalaman streamer). Diameter streamer
sekitar 7 cm dengan panjangnya bisa mencapai 10km. Bagian hitam dari gambar ini
menunjukkan perangkat ADC.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 6


Ensiklopedi Seismik Online
Bird...mengatur kedalaman dan posisi streamer...

Air gun...dengan tekanan mencapai 2000psi...sangat berbahaya! bandingkan dengan ban


mobil anda yang ’hanya’ 30-an psi! Bagian kuning dan hitam (seperti roket) hanyalah untuk
pelampung. Bagian ’air gun’ adalah selinder logam yang menggantung padanya.

Saat perekaman berbagai aspek dimonitor secara dinamik. Seperti rekaman setiap shot,
apakah ada tras seismik yang mati?, penampang single channel dan signature sumber....

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 7


Ensiklopedi Seismik Online

Kedalaman air gun....tekanan dll. Apakah ada loss compression ? Gambar di bawah
menunjukkan terdapat 3 array air gun dengan masing-masing array terdiri atas 9
kompartemen.

Level ambient noise….akibat arus laut, deru mesin kapal, baling-baling, dll. (merah
menunjukkan tinggi dan biru menunjukkan rendah)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 8


Ensiklopedi Seismik Online

Navigasi…bertugas untuk memastikan bahwa akuisisi data seismik berada pada lintasan
yang dikehendaki. Disamping itu mereka juga memberikan informasi tentang feather
akibat arus laut yang biasanya diterima dibawah 10° dan juga meminta kapten kapal
mengatur kecepatan kapal, yang biasanya dibawah 5 knot.

Dan lain..lain…sampai memperhatikan kelangsungan makhluk laut yang satu ini…


Kehadiran mereka dilaporkan oleh Marine Mammal Observer yang hadir selama akuisisi

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 9


Ensiklopedi Seismik Online
seismik ...jika dilaporkan terdapat mamalia laut, tembakan air gun dihentikan untuk
sementara waktu, walaupun ribuan dollar melayang!

3D Seismic Acquisition QC
Dibawah ini poin-poin tentang QC acquisition:
1. QC dilakukan pada spec yang diminta oleh client, sehingga yang ada diluar spec dibuang.
Disini perlu digarisbawahi juga pengertian QC adalah agar produk yang dihasilkan sesuai
dengan spec.

2. QC traces : QC ini terbagi menjadi empat bagian utama.


a) Deteksi trace yang mati,
b) Temukan Noisy trace,
c) Temukan Spiky trace,
d) Mencari trace yang lemah.

Algoritma RMS biasanya digunakan untuk mendeteksi trace tersebut dan ditampikan
dalam bentuk grafik x-y, dimana x adalah shotpoint, y adalah trace number.

3. QC Source. Dengan cara:


a) Lihat kedalaman tiap source, karena kedalaman source akan mempengaruhi spektrum
frekuensi.
b) Cek jarak horizontal antar sub-array (lihat pada akuisisi 3D seismik)
c) Cek airleak dan autofire (dengan bantuan software processing yang menampilkan tiap
gun)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 10


Ensiklopedi Seismik Online
d) Cek misfire (biasanya bisa dilakukan dengan LMO (linear move out) atau NTR (near
trace) plot

4. QC Navigasi. Dengan cara:


a) Cek LMO, SOL, EOL, apakah terdapat trace yang tidak rata peak pertama dengan trace
sekitarnya, jika terdapat trace yang tidak sama dalam waktu yang signifikan, mungkin
terdapat kekeliruan dalam file navigasi
b) Cek coverage, dengan cara membandingkan 3D cube dengan navigasi coverage.
Artikel ini kontribusi Anggara Rachmat, Schlumberger - Western Geco

Acoustic Impedance
Acoustic Impedance atau Impedansi akustik didefinisikan sebagai kemampuan batuan
untuk melewatkan gelombang seismik yang melauinya. Secara fisis, Impedansi Akustik
merupakan produk perkalian antara kecepatan gelombang kompresi dengan densitas
batuan.

Semakin keras suatu batuan maka Impedansi akustiknya semakin besar pula, sebagai
contoh: batupasir yang sangat kompak memiliki Impedansi Akustik yang lebih tinggi
dibandingkan dengan batulempung.

Impedansi akustik biasanya dilambangkan dengan (Z).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 11


Ensiklopedi Seismik Online
Aliasing
Adalah fenomena bergesernya frekuensi tinggi gelombang seismik menjadi lebih rendah
yang diakibatkan pemilihan interval sampling yang terlalu besar (kasar).
Gambar di bawah menunjukkan fenomena aliasing.

Perhatikan jika sampling interval = 2 mili detik atau 4 mili detik spektrum amplitudo
gelombang bersangkutan sekitar 80Hz. Akan tetapi jika sampling interval 16 mili detik
maka frekuensi menjadi bergeser lebih rendah yaitu sekitar 20Hz.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 12


Ensiklopedi Seismik Online
Sehingga dengan adanya penurunan frekuensi tinggi tersebut akan mengakibatkan
kontaminasi frekuensi tinggi terhadap data seismik diluar Nyquist. Untuk mengatasi hal ini
'high-cut' anti alias filter diterapkan di lapangan sebelum konversi analog ke digital.

Amplitudo, Peak, dll.


Gambar dibawah menunjukkan komponen sebuah gelombang (tras seismik): amplitudo,
puncak, palung, zero crossing, tinggi dan panjang gelombang.
Perhatikan perbedaannya satu sama lain.

Sedangkan frekuensi = 1/panjang gelombang. Jadi, jika panjang gelombang = 0.05 detik,
maka frekuensi gelombang seimsik = 1/0.05 = 20Hz. Perlu disadari bahwa frekuensi
gelombang seismik real tidak bersifat monofrekuensi, artinya frekuensi yang
dikandungnya tidak satu, tetapi dalam rentang frekuensi tertentu. contoh kalkulasi
f=1/periode adalah untuk contoh gelombang monofrekuensi seperti yang tertera pada
gambar diatas.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 13


Ensiklopedi Seismik Online
Analisis Fasies Seismik
Hidrokarbon (minyak dan gas) terdapat di dalam batuan sediment yang terbentuk dalam
berbagai lingkungan pengendapan seperti channel sungai, sistem delta, kipas bawah laut
(submarine fan), carbonate mound, dan reef. Batuan sedimen yang terbentuk pada
berbagai lingkungan pengendapan tersebut dikenal dengan benda geologi.

Gelombang seismik yang menembus dan terefleksikan kembali ke permukaan akan


memberikan gambaran bentuk eksternal dan tekstur internal dari benda-benda geologi
tersebut. Analisis bentuk eksternal dan tekstur internal benda geologi dari penampang
rekaman seismik dikenal dengan analisa fasies seismik atau seismic facies analysis.

Terdapat 8 jenis bentuk eksternal benda geologi: sheet, sheet drape, wedge, bank, lens,
mound, fan dan fill.

Batas Sekuen Seismik


Didalam analisis fasies seismik, batas dari benda-benda geologi diatas disebut dengan
reflection terminations. Pemetaan reflection terminations merupakan kunci didalam
analisis fasies seismik. Umumnya terminasi tesebut memiliki karakter refleksi yang kuat
(amplitudo refleksi yang cukup dominan). Terdapat dua jenis batas benda geologi: batas
atas dan batas bawah, selanjutnya istilah batas benda geologi tersebut dikenal dengan

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 14


Ensiklopedi Seismik Online
batas sekuen seismik (sequence seismic boundary), mereka itu adalah: erosional
truncation dan top lap sebagai batas atas, onlap dan downlap sebagai batas bawah.

Batas atas sekuen seismik (a) erosional truncation, top lap, batas bawah (b) onlap dan
downlap.

Erosional Truncation atau dikenal dengan unconformity (ketidakselaraasan) diakibatkan


oleh peristiwa erosi karena terekspos ke permukaan.
Toplap diakibatkan karena tidak adanya peristiwa sedimentasi dan tidak ada peristiwa
erosi.
Onlap, pada lingkungan shelf (shelfal environment) disebabkan karena kenaikan muka air
laut relatif, pada lingkungan laut dalam akibat sedimentasi yang perlahan, dan pada
channel yang tererosi akibat low energy fill.
Downlap, diakibatkan oleh sedimentasi yang cukup intensif.

Prinsip tekstur seismik


Sebagimana yang disebutkan diawal analisis fasies seismik meliputi pembahasan tesktur
internal benda geologi.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 15


Ensiklopedi Seismik Online

Parallel: disebabkan oleh pengendapan sedimen dengan rate yang seragam (uniform rate),
atau pada paparan (shelf) dengan subsiden yang uniform atau sedimentasi pada stable
basin plain.
Subparallel: terbentuk pada zona pengisian, atau pada situasi yang terganggu oleh arus
laut.
Subparallel between parallel: terbentuk pada lingkungan tektonik yang stabil, atau
mungkin fluvial plain dengan endapan berbutir sedang.
Wavy parallel: terbentuk akibat lipatan kompresi dari lapisan parallel diatas permukaan
detachment atau diapir atau sheet drape dengan endapan berbutir halus.
Divergent: terbentuk akibat permukaan yang miring secara progresif selama proses
sedimentasi.
Chaotic: pengendapan dengan energi tinggi (mounding, cut and fill channel) atau deformasi
seteah proses sedimentasi (sesar, gerakan overpressure shale, dll.)
Reflection free: batuan beku, kubah garam, interior reef tunggal.
Local chaotic: slump (biasanya laut dalam) yang diakibatkan oleh gempabumi atau
ketidakstabilan gravitasi, pengendapan terjadi dengan cepat.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 16


Ensiklopedi Seismik Online
Tekstur yang terprogradasi

Sigmoid: tekstur ini dapat terbentuk dengan suplai sediment yang cukup, kenaikan muka
laut relatif cepat, rejim pengendapan energi rendah, seperti slope, umumnya sediment
butir halus.

Oblique tangential: suplai sediment yang cukup sampai besar, muka laut yang konstan
seperti delta, sediment butir kasar pada delta plain, channel dan bars.

Oblique parallel: oblique tangensial varian, sediment terpilah lebih baik.


Complex: lidah delta dengan energi tinggi dengan slope terprogradasi dalam energi rendah.
Shingled: terbentuk pada zona dangkal dengan energi rendah.
Hummocky: terbentuk pada daerah dangkal tipikal antar delta dengan energi sedang.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 17


Ensiklopedi Seismik Online

Tekstur Pengisian Channel

Onlap Fill: sedimentasi pada channel dengan energi relative rendah.


Mounded Onlap Fill: sedimentasi dengan energi tinggi. Setidaknya terdapat dua tahap
sedimentasi.
Divergent Fill: shale prone yang terkompaksi dengan sedimenatsi energi rendah, juga
sebagai tipikal tahap akhir dari pengisisan graben.
Prograded Fill: transport sediment dari ujung atau pada lengkungan channel.
Chaotic Fill: sedimenatsi pada channel dengan energi yang sangat tinggi.
Complex Fill: terdapat perubahan arah sedimentasi atau perubahan aliran air.

Tekstur Karbonat

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 18


Ensiklopedi Seismik Online
Reflection free Mound: patch reef atau pinnacle reef; strata menunjukkan sedimen miring
yang lebih terkompaksi (mungkin shale).
Pinnacle with Velocity Pull-Up: patch reef atau pinnacle reef, dengan pertumbuhan
beberapa tahap (multi stage), mungkin cukup poros.
Bank-Edge with Velocity Sag: Shelf edge reef dengan porositas yang sangat bagus, sediment
penutupnya mungkin carbonate prone.

Bank-Edge Prograding Slope: shelf edge reef yang bertumpuk, tertutup oleh klastik,
mengalami perubahan suplai sediment.

Tekstur ‘Mounded’

Fan Complex: penampang lateral dari kipas (fan) yang dekat dengan sumber sediment
Volcanic Mound: margin konvergen pada tahap awal; pusat aktivitas rifting pada rift basin
Compound Fan Complex: superposisi dari berbagai kipas.
Migrating wave: diakibatkan oleh arus laut, laut dalam.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 19


Ensiklopedi Seismik Online

Tipe-tipe fasis seismik basin slope dan basin floor

Sheet-drape (low energy): seragam, pengendapan laut dalam yang tidak tergantung pada
relief dasar laut, litologi seragam, tidak ada pasir.
Slope Front Fill: kipas laut dalam, lempung dan silts (energi rendah)
Onlap-Fill (low energy): pengendapan dengan kontrol gravitasi (arus turbidit kecepatan
rendah)
Fan-Complex (high energy): diendapkan sebagai kipas, mound dan slump, meskipun energi
tinggi, mungkin masih mengandung batupasir sebagai reservoar .
Contourite (variable energy): biasanya sedimen butir halus, tidak menarik unutk
eksplortasi, bentuk tidak simetris, arus tak berarah.
Mounded Onlap-Fill (High Energy): fasies peralihan antara chaotic dan onlap fill, control
gravitasi, reflector tidak menerus, semakin menebal kearah topografi rendah yang
menandakan endapan energi tinggi.
Chaotic Fill (variable energy): mounded, terdapat pada topografi rendah, slump, creep dan

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 20


Ensiklopedi Seismik Online
turbidit energi tinggi, komposisi material tergantung pada sumber biasanya sedikit pasir.

Referensi:
1. R.M. Mitchum Jr. and P.R. Vail (1977) Seismic stratigraphic interpretation
procedure. AAPG Memoir; Seismic Stratigraphy - Applications to Hydrocarbon
Exploration 26, 135–143.
2. R.M. Mitchum Jr., P.R. Vail, and J.B. Sangree (1977) Stratigraphic interpretation
of seismic reflection patterns in depositional sequences. AAPG Memoir;
Seismic Stratigraphy - Applications to Hydrocarbon Exploration 26, 117–133.
3. R.E. Sheriff (1975) Factors affecting seismic amplitudes. Geophysical
Prospecting 23, 125–138.

Angle Mute
Istilah angle mute digunakan untuk menjelaskan teknik pemotongan pada CDP gather
sebelum memproduksi angle stack.

Angle mute terdiri atas inner mute (batas kiri) dan outer mute (batas kanan). Berikut
ilustrasinya.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 21


Ensiklopedi Seismik Online
Gambar diatas menunjukkan angle mute sebelum memproduksi near angle stack dan far
angle stack. Untuk near angle stack batas kiri berwarna merah dan batas kanan berwarna
kuning. Sedangkan untuk far angle stack batas kiri berwarna kuning dan batas kanan
berwarna pink.

Batas merah dipakai untuk mereduksi efek multiple pada near offset, sedangkan warna
pink dipakai untuk mereduksi efek ‘stretching’ akibat koreksi NMO.

Angle Stack

Istilah angle stack dipakai untuk menjelaskan stacking tras-tras seismic pada sebagian
offset saja. Lihat item Near offset Far Offset pada blog ini. Near offset artinya low angle stack
dan far stack adalah high angle stack.

Biasanya low angle stack berukuran (5-15 derajat), middle angle stack (15-25 derajat) dan
high angle stack (25-35 derajat).

Studi angle stack kerap kali dipakai untuk menganalisis fenomena AVO. Berikut contohnya:

Courtesy Contreras A. et al., Geophysics, Vol. 71, 2006

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 22


Ensiklopedi Seismik Online
Anisotropy
Seismic anisotropy adalah variasi kecepatan gelombang seismik terhadap arah. Adanya
perbedaan kecepatan gelombang terhadap arah ini diakibatkan oleh konfigurasi susunan
mineral, rekahan, pori-pori, lapisan atau konfigurasi kristal dari suatu material.

Gambar dibawah ini menunjukkan perbedaan antara material homogen isotropis (a)
dengan material anisotropis(b).

Bintang merah menunjukkan sumber gelombang seismik dan panah menunjukkan arah
pergerakan gelombang. Untuk material homogen isotropis, gelombang akan merambat
dengan kecepatan yang sama ke semua arah yang akan menghasilkan muka gelombang
lingkaran (bola), sedangkan pada material anisotropy akan menghasilkan muka gelombang
bukan lingkaran (bola).

X2 X1

Karakter muka gelombang pada material homogen anisotropis (a) dan material anisotropis
(b). Pada Gambar b terlihat bahwa sifat kecepatan material kearah X1 lebih cepat daripada
kearah X2. Koefiesien anisotropy didefiniskan sebagai rasio kecepatan X1 terhadap X2.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 23


Ensiklopedi Seismik Online
Anomalous Amplitude Noise Attenuation
Adalah teknologi pengolahan data seismik yang merupakan multi step flow (tahapan
prosesing bertingkat). AAA ditujukan untuk mengidentifikasi anomali amplitudo seismik
(dalam hal ini amplitudo noise) seperti spike noise, swell noise, trace yang bernoise, dll.

AAA merupakan filter yang diterapkan pada data didalam domain frekuensi baik dalam
CDP, shot maupun offset gather.

Gambar di atas adalah contoh aplikasi AAA didalam pengolahan data seismik. (A) adalah
CDP gather sebelum, (B) adalah setelah proses AAA dan (C) adalah perbedaan antara A dan
B. Perhatikan noise di dalam lingkaran hitam yang dapat dihilangkan dengan baik setelah
proses AAA.

Teknologi AAA merupakan salah satu portofolio pengolahan data seismik yang dimiliki
oleh Western Geco.

Yang membedakan AAA dari (bandpass) filter adalah AAA bekerja pada frequency bands,
artinya sebelum data difilter, akan dipecah dulu ke dalam frequency band masing-masing.
Misalkan data kita memiliki jangkauan frekuensi 6-125 Hz dan akan dibagi menjadi 6
frequency band yang sama (misalnya), maka data kita akan dipecah menjadi 6-25, 26-45, 46-
65, 66-85, 86-105, dan 106-125 Hz. AAA kemudian akan diterapkan pada tiap-tiap frequency
band sesuai threshold yang telah ditentukan. Setelah difilter, keenam frequency band tersebut
digabungkan kembali untuk mendapatkan hasil output. [Befriko Murdianto , Chevron
Indonesia Company, 2008].

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 24


Ensiklopedi Seismik Online
Aperture

Salah satu definisi dari aperture adalah bagian dari suatu data, seperti data seismik, data
log, dll., dimana sebuah fungsi diterapkan, fungsi yang dimaksud diantaranya windowing,
filter, dll.

Aperture waktu sebagai contoh digunakan untuk menjelaskan bagian data seismik untuk
rentang interval waktu tertentu (perhatikan gambar di bawah ini).

From Kou et al., The Leading Edge, 2007

APF.VO (Amplitude, Phase and Frequency versus Offset)


Merupakan pengembangan dari metoda AVO konvensional untuk menganalisa efek sifat
elastik batuan seperti kecepatan gelombang, fluida pori, litologi, dll. terhadap amplitudo,
fasa dan frekuensi sejalan dengan bertambahnya offset.

Publikasi terkait dengan masalah ini nampaknya sampai saat ini masih terbatas. Penelitian
APF.VO yang dilakukan oleh Mazzotti A [1991] menujukkan perubahan karakter plot
APF.VO untuk model lapisan batuan dengan kondisi fluida pori maupun litologi yang
berbeda yang menghasilkan pergeseran fasa gelombang maupun variasi amplitudo.

Pengetahuan tambahan adanya variasi fasa dan frekuensi terhadap offset sebagai efek dari
sifat elastik batuan tentunya akan membantu interpretasi teknik AVO konvensional.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 25


Ensiklopedi Seismik Online
Aproksimasi Aki, Richards dan Fasier
Persamaan Zoeppritz (lihat persamaan (4) pada subject Persamaan Zoeppritz )
menunjukkan kepada kita hubungan antara amplitudo sebagai fungsi dari sudut, tetapi
tidak menunjukkan hubungannya dengan karakteristik fisis.

Aki, Richards dan Fasier mencoba untuk menformulasikan berdasarkan parameter


densitas, kecepatan gelombang P, dan kecepatan gelombang S :

Aproksimasi Mobil
Persamaan Aproksimasi Aki, Richards dan Fasier menunjukan amplitudo sebagai fungsi
dari parameter fisis.

Padahal pada penampang seismik, kita mengukur amplitudo sebagai fungsi koefisien
refleksi. Gelfand et al. pada tahun 1986 menyusun kembali persamaan Aproksimasi Aki,
Richards dan Fasier dengan mengasumsikan γ=α/β mendekati 2 :

Untuk mendapatkan Aproksimasi Gelfand, kita tentukan γ=α/β dan mengabaikan suku
ketiga, sehingga diperoleh :

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 26


Ensiklopedi Seismik Online
Perhatikan bahwa pada persamaan (2), kita peroleh :

dan

Kemudian persamaan (2) dapat ditulis ulang :

Aproksimasi Shuey
Pada tahun 1985 Shuey mempublikasikan persamaan Zoeppritz sebagai fungsi dari α, ρ,
dan σ (poisson’a ratio):

Hilterman menyederhakan Persamaan Shuey, dengan mengasumsikan:

Pertama, hanya digunakan dua suku pertama pada persamaan Shuey jika:

Kedua, σ=1/3, yang berarti A0=-1 .

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 27


Ensiklopedi Seismik Online
Sehingga diperoleh :

dengan penyederhanaan lebih lanjut :

Persamaan (2) dan (3) menunjukkan respon AVO didominasi oleh pada sudut kecil dan oleh pada
sudut besar. Alternatifnya, persamaan (2) diatas ditulis ulang menjadi :

Persamaan diatas mengekspresikan bahwa dengan estimasi R0 dan G, perubahan poisson’s


ratio dapat diestimasi sebagai persamaan :

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 28


Ensiklopedi Seismik Online
Gambar (a) menunjukkan perbandingan hasil yang diperoleh untuk model geologi
sederhana pada batas atas dan bawah dengan menggunakan kalkulasi Zoeppritz dan
aproksimasi-aproksimasi diatas. Gambar (b) menunjukkan distribusi kesalahan pada
lapisan atas (kurva bawah, jika koefisien refleksi negatif) pada Gambar (a) Perhatikan
bahwa semua kecocokan bernilai 2% untuk sudut diatas 20°. Aproksimasi Gelfand sangat
baik pada 35°. , dan Aproksimasi Shuey pada semua sudut.

Aproksimasi Smith Gidlow


Smith dan Gidlow menyusun kembali persamaan Aproksimasi Aki, Richards dan Fasier
menjadi :

Selanjutnya, untuk menghilangkan kebergantungan terhadap densitas, dengan


menggunakan Persamaan Gardner :

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 29


Ensiklopedi Seismik Online
yang dapat diturunkan menjadi :

Dengan mensubstitutsikan persamaan (3) ke persamaan (1), kita dapat mengekspresikan


kembali Persamaan Aki & Richard sebagai berikut :

Dimana

Selanjutnya Aki & Richard mendefinisikan ‘pseudo poisson’s ratio’ dengan persamaan
berikut :

Menurut Castagna, kecepatan gelombang P sebagai fungsi dari gelombang S :

Jika persamaan (7) diturunkan maka diperoleh :

Persamaan (8) dapat ditulis ulang menjadi :

Persamaan (9) sesuai untuk kasus ‘wet non-productive reservoir’, untuk menganalisis
anomali reservoir, kita dapat mendefinisikan ‘fluid factor’ error dari persamaan tersebut :

Dengan kata lain, jika ΔF=0 maka reservoir adalah tidak prospektif tetapi jika ΔF >0 maka
reservoir adalah prospektif.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 30


Ensiklopedi Seismik Online
Artificial Neural Network
Artificial Neural Network (ANN) atau jaringan syaraf tiruan adalah jaringan dari
sekelompok unit pemroses kecil yang dimodelkan berdasarkan perilaku jaringan syaraf
manusia (Wikipedia).

Algoritma ANN lahir dari gagasan seorang psikolog Warren McCulloch dan Walter Pitts
pada 1943 yang menjelaskan cara kerja jaringan syaraf dengan perangkat jaringan
elektronik.

Didalam dunia seismik eksplorasi, algoritma ANN sudah cukup populer diaplikasikan,
diantaranya untuk identifikasi noise, estimasi wavelet, analisa kecepatan, analisis
gelombang geser, autotracking reflector, prediksi hidrokarbon, karakterisasi reservoir, dll.

Konfigurasi sederhana algoritma ANN dapat dijelaskan pada gambar dibawah ini:

Courtesy Hampson Russell

Dari gambar di atas terlihat bahwa, prinsip dasar ANN adalah sejumlah parameter sebagai
masukan (input layer) diproses sedemikian rupa didalam hidden layer (perkalian,
penjumlahan, pembagian, dll.), lalu diproses lagi didalam output layer untuk menghasilkan
sebuah output.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 31


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Hampson Russell

Gambar diatas menunjukkan contoh penerapan ANN untuk data seismik, katakanlah kita
memiliki beberapa input seperti impedance (x1), reflection strength (x2), instantaneous
frequency (x3),… dll . yang akan digunakan untuk memprediksi porositas reservoir sebagai
output. Maka secara sederhana porositas reservoir akan didapatkan dengan mengkalikan
setiap sampel data input dengan suatu pembobotan (weight) lalu dijumlahkan, lalu hasil
penjumlahan tersebut menjadi input untuk fungsi aktivasi untuk menghasilkan parameter
porositas.

Fungsi aktivasi tersebut dapat berupa sigmoid function ataupun hyperbolic tangent
function (perhatikan keterangan dibawah ini).

Courtesy Hampson Russell

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 32


Ensiklopedi Seismik Online
Tentu kita menginginkan agar nilai porositas yang diprediksi semirip mungkin dengan nilai
porositas yang sesungguhnya, dengan kata lain kita harus memiliki nilai selisih (baca error)
antara nilai prediksi dengan nilai sesungguhnya yang sekecil mungkin, untuk tujuan ini
didalam algoritma ANN di atas, kita harus melakukan updating nilai weight untuk masing-
masing input.

Atenuasi
Atenuasi dilambangkan dengan Q, dimana 1/Q adalah fraksi dari energi gelombang yang
hilang setiap cycle saat gelombang tersebut merambat. Sehingga ‘Q rendah’ berarti lebih
teratenuasi dan ‘Q tinggi’ berarti sedikit teratenuasi.

Umumnya, didalam aplikasi seismik eksplorasi, besaran Q diprediksi untuk memberikan


kompensasi terhadap amplitudo gelombang seismik yang hilang dalam perambatannya.

Didalam mendeterminasi besaran Q, terdapat beberapa macam metoda. Metoda yang


cukup sering digunakan di dalam industri migas adalah metoda rasio spektral, yakni Q
merupakan slope (kemiringan) rasio natural logaritmik (ln) spektral ’gelombang dalam’
dengan ’gelombang dangkal’ (perhatikan gambar di atas).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 33


Ensiklopedi Seismik Online
Akhir-akhir ini analisis Q mulai dilirik sebagai metoda yang cukup jitu didalam
karakterisasi reservoar. Hal ini dilakukan karena Q lebih sensitif terhadap kehadiran gas
maupun temperatur daripada sifat kecepatan gelombang seismik.

Contoh dibawah adalah Analisis Q untuk kasus monitoring zona minyak dan gas serta
monitoring injeksi karbon dioksida. Apakah anda melihat bahwa gelombang lebih
teratenuasi (Q rendah) di sekitar antiklin sebagai perangkap gas?

Courtesy Clark R., University of Leeds, School of Earth & Environment

Atribut Seismik
Atribut seismik atau Seismik Attribute adalah segala informasi yang diperoleh dari data
seismik baik melalui pengukuran langsung, komputasi maupun pengalaman.

Mengapa seismik attribute perlu dalam explorasi?


Seismik attribute diperlukan untuk ’memperjelas’ anomali yang tidak terlihat secara kasat
mata pada data seismik biasa.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 34


Ensiklopedi Seismik Online
Secara analitik sebuah signal seismik dapat dituliskan sbb:
u(t) = x(t) + i y(t)

dimana x(t)
(t) adalah data seismik itu sendiri (data yang biasa anda gunakan untuk
interpretasi geologi). Sedangkan y(t)
(t) adalah quadraturenya, yakni fasa gelombang x(t)
digeser 90 derajat.

(t) dapat diperoleh dengan menggunakan tranformasi Hilbert pada data seismik, dimana
u(t)
komponen realnya adalah data seismik itu sendiri dan quadratur
quadratur-nya
nya merupakan
komponen imaginer.

Courtesy Taner [1979]

Terdapat beberapa
erapa macam seismik attribute: Instantaneous E Energy (Envelope),
nvelope),
Instantaneous Frequency, Amplitude Weighted Frequency, Cosine Instantaneous Phase,
Integrate, Y-Coordinate,, Integrated Absolute Amplitude, dll.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 35


Ensiklopedi Seismik Online
Auto-Korelasi

Adalah korelasi sebuah vektor dengan dirinya sendiri. Contoh proses perhitungan lihat
Cross Korelasi.

Auto-Korelasi fungsi a =[1, 2, 3] akan menghasilkan 3, 8, 14, 8, 3

AVA (Amplitude versus Angle)


Adalah perilaku besarnya kecilnya amplitudo gelombang seismik dengan sudut datang
tertentu jika melewati batas medium dengan densitas, kecepatan gelombang kompresi (P)
dan kecepatan gelombang geser (S) yang berbeda. Gambar dibawah ini adalah perilaku
amplitudo gelombang seismik terhadap sudut datang dengan menggunakan tiga
persamaan amplitudo sebagai fungsi dari ketiga sifat fisis diatas (densitas, kecepatan
gelombang kompresi dan kecepatan gelombang geser) .

Persamaan Aki and Richards [1980], Shuey [1985] dan Bortfeld [1961] merupakan
pendekatan terhadap persamaan Zoeppritz untuk amplitudo gelompang refleksi sebagai
fungsi dari sudut datang.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 36


Ensiklopedi Seismik Online
Berbagai pendekatan tersebut dilakukan karena persamaan Zoeppritz tidak memberikan
pemahaman langsung bagaimana amplitudo gelombang seismik refleksi sebagai fungsi dari
sifat fisis medium.

Berikut adalah persamaan Aki and Richards [1980] dan Shuey [1985]:

Pendekatan Aki and Richards [1980]:

Dimana,

Pendekatan Shuey [1985]

Dimana,

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 37


Ensiklopedi Seismik Online

Persamaan Zoeppritz dapat diaproksimasi sbb [Hampson & Russell]

dimana,

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 38


Ensiklopedi Seismik Online
Bowtie
Bowtie adalah reflektor semu yang diakibatkan oleh gelombang seismik yang terdifraksi.
Struktur sinklin atau lembah dasar laut yang cukup ‘sempit’ sering kali menyebabkan efek
dasi ’bowtie’.

Rekaman seismik dibawah ini menunjukkan fenomena bowtie.

Garis pink putus-putus adalah reflektor dasar laut yang ’seharusnya’, sedangkan reflektor
biru dan merah (di dalam lingkaran biru) yang menyerupai bentuk dasi bowtie adalah
akibat difraksi. Efek ini dapat dihilangkan dengan melakukan proses migrasi.

Brute Stack
Adalah penampang seismik yang diperoleh dari stacking CMP (Common Mid Point)
sebelum NMO (Normal Move Out) akhir maupun koreksi statik diterapkan.

Tujuan ditampilkannya brute stack adalah untuk quick look sejauh mana kualiatas data
seismik yang baru diperoleh dari sebuah akuisisi, atau sekedar mendapatkan gambaran
awal kondisi bawah permukaan.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 39


Ensiklopedi Seismik Online
Dibawah ini adalah contoh penampang brute stack.

Courtesy PGS

BSR (Bottom Simulating Reflector)

Adalah anomali amplitudo yang disebabkan oleh kehadiran gas hidrat di bawah
permukaan bumi.

Karakter BSR bisanya ditunjukkan dengan amplitudo yang tinggi (cukup kontras) yang
memotong struktur geologi (discordance).

Akibat kehadiran gas hidrat maka BSR akan menghasilkan response AVO (Amplitude
versus Offset). Jika dibawah BSR terdapat gas bebas, maka akan terjadi anomali kecepatan
gelombang seismik dari tinggi menjadi rendah.

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini.

(a) BSR ditunjukkan dengan refleksi yang kuat yang memotong struktur geologi.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 40


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Yan et al., Journal of Geophysical Research , vol 104, 1999

(b) Respons AVO pada BSR, perhatikan amplitudo meningkat sejalan dengan
bertambahnya offset.

Courtesy Yan et al., Journal of Geophysical Research , vol 104, 1999

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 41


Ensiklopedi Seismik Online
CDP (Common Depth Point)
CDP (Common Depth Point) adalah istilah dalam pengambilan data seismik untuk
konfigurasi sumber-penerima dimana terdapat satu titik tetap dibawah permukaan bumi.
Untuk kasus reflektor horisontal (tidak miring) CDP kadang-dagang dikenal juga dengan
CMP (Common Mid Point).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 42


Ensiklopedi Seismik Online
Selain CDP dikenal juga CR (Common Receiver) untuk konfigurasi beberapa sumber satu
penerima, CS (Common Shoot) untuk konfigurasi satu sumber beberapa penerima dan
Common Offset untuk konfigurasi sumber penerima dengan jarak (offset) yang sama.

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar diatas serta masing-masing respon seismiknya
(gambar dibawah).

Coherence
Coherence adalah salah satu atribut seismik yang menampilkan kemiripan satu tras
seimsik dengan tras yang lainnya. Tras-tras seismik yang mirip akan dipetakan dengan
koefisien coherence yang tinggi sedangkan ketidakmenerusan akan terpetakan dengan
koefisien coherence yang rendah.

Sebuah zona yang tersesarkan akan menghasilkan ketidakmenerusan yang tajam dengan
demikian akan menghasilkan koefisien coherence yang rendah disepanjang bidang sesar
tersebut.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 43


Ensiklopedi Seismik Online
Dalam eksplorasi, atribut coherence digunakan untuk mempertajan kehadiran struktur
sesar, perangkap stratigrafi, delta, channel, reef dll.

Atribut coherence diestimasi berdasarkan kros korelasi tras-tras seimsik yang selanjutnya
sembalance dan algoritma dekomposisi eigen structure diterapkan.

Dalam praktiknya, attribut coherence sering kali ditampilkan bersamaan (overlay) dengan
attribut yang lain (amplitudo, akustik impedance, dll.)

Perhatikan gambar di bawah, coherence yang mempertajam kehadiran sesar dan kekar
NW-SE (b) yang kurang terlihat pada peta amplitudo (a). Gambar (c) adalah coherence di-
overlay dengan amplitudo.

Courtesy Chopra, CSEG, 2001

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 44


Ensiklopedi Seismik Online
Perhatikan batas reef pada gambar dibawah ini yang ditunjukkan secara lebih tajam oleh
coherence (bawah) dibandingkan oleh amplitudo (atas).

Courtesy Chopra, CSEG, 2001

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 45


Ensiklopedi Seismik Online
Demikian juga dengan overlay coherence dengan impedansi akustik yang melokalisir
batas-batas batupasir dalam sistem channel.

Courtesy Chopra, CSEG, 2001

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 46


Ensiklopedi Seismik Online
Continuous Wavelet Transform
Adalah metoda dekomposisi waktu-frekuensi (time-frequency decomposition) yang dikenal
juga dengan dekomposisi spectral (lihat subject dekomposisi spectral pada blog ini) yang
ditujukan untuk mengkarakterisasi respon seismik pada frekuensi tertentu.

Ide dasar dari metoda ini adalah dilakukannya FFT (Fast Fourier Transform) dari setiap
window waktu secara menerus (continuous) sehingga diperoleh gambaran kisaran
frekuensi pada zona target (reservoar).
Gambar dibawah ini adalah contoh penerapan CWT pada salah satu trace seismik sintetik:

Courtesy Satish Sinha, et al.

Gambar atas sebelah kiri adalah trace seismik sintetik sedangkan gambar sebelah kanan
adalah hasil CWT dengan menggunakan persamaan (1). Perhatikan bahwa CWT
ditampilkan dalam kawasan waktu terhadap frekuensi. Waktu tersebut adalah waktu TWT

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 47


Ensiklopedi Seismik Online
(Two Way Travel Time) dari penampang seismik itu sendiri.

Lalu dengan menganalisis gambar CWT, katakanlah target reservoar anda berapa pada
kisaran 0.9 detik, maka anda akan mendapatkan gambaran frekuensi dominan dari target
anda, katakanlah 32Hz. Lalu dengan menggunakan persamaan (2), penampang CWT di-
inversi kembali untuk mendapatkan penampang seismik pada frekuensi 32Hz, yang
harapannya dapat meng-emphasize target reservoar anda. Lihat subject dekomposisi
spectral pada blog ini yang menujukkan hasil dari aplikasi metoda CWT terhadap data real.

Gambar dan persamaan diatas courtesy: Satish Sinha, School of Geology and Geophysics,
University of Oklahoma, Norman, OK 73019 USA, Partha Routh Department of Geosciences,
Boise State University, Boise, ID 83725 USA, Phil Anno Seismic Imaging and Prediction,
ConocoPhillips, Houston, TX 77252 USA, John Castagna, School of Geology and Geophysics,
University of Oklahoma, Norman, OK 73019 USA, Spectral Decomposition of Seismic Data
with Continuous Wavelet Transform, 2005.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 48


Ensiklopedi Seismik Online
Controlled Beam Migration
Sebelum mempelajari konsep CBM, marilah kita tengok terlebih dahulu konsep migrasi
yang cukup populer di industri migas, yakni migrasi Kirchhoff.

Courtesy Vinje et al., Firstbreak, Sep. 2008

Konsep migrasi Kirchhoff terlihat paga Gambar (a) di atas, dimana setiap sampel data
seismik pada common offset gather dengan domain t-x (waktu-offset) dipetakan
disepanjang ‘isochrone’. Isochrone adalah garis/bidang semu dimana jumlah total waktu
tempuh ke sumber (ts) dan ke penerima (tr) sama dengan waktu tempuh sampel yang
dipetakan.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 49


Ensiklopedi Seismik Online
Untuk memperoleh nilai tp dan ts, langkah pertama yang harus dilakukan adalah
melakukan ray-tracing pada model kecepatan tertentu. Proses diatas dilakukan untuk
semua sampel waktu pada setiap trace seismik, kemudian amplitudonya dijumlahkan
untuk setiap kedalaman.

Mirip dengan migrasi Kirchhoff, Konsep CBM dilakukan pada common offset gather akan
tetapi pada domain Tau-P. Transformasi t-x mejadi tau-P, adalah memetakan data pada
domain midpoint Xm menjadi domain ray-parameter Pm.

Pada Gambar (b) di atas, terlihat bahwa konsep CBM adalah dengan melakukan pemetaan
kembali untuk sampel data pada setiap trace pada daerah yang biru (kanan), dimana
jumlah total waktunya sama dengan ts+tr dan jumlah total parameter sinarnya sama
dengan Ps+Pr. Pada metoda CBM, konsep ray-tracing nya dilakukan untuk semua
kemungkinan jejak sinar.

Gambar dibawah ini menunjukkah perbandingan hasil migrasi metoda Kirchoff (kiri)
dengan metoda CBM (kanan), menakjubkan?

Courtesy Vinje et al., Firstbreak, Sep. 2008

Referensi:
Vinje et al., 2008, Controlled beam migration: a versatile structural imaging tool, first break
volume 26, EAGE.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 50


Ensiklopedi Seismik Online
Convolution

Secara umum konvolusi didefinisikan sebagai cara untuk mengkombinasikan dua buah
deret angka yang menghasilkan deret angka yang ketiga. Didalam dunia seismik deret-
deret angka tersebut adalah wavelet sumber gelombang, reflektivitas bumi dan rekaman
seismik.

Secara matematis, konvolusi adalah integral yang mencerminkan jumlah lingkupan dari
sebuah fungsi a yang digeser atas fungsi b sehingga menghasilkan fungsi c. Konvolusi
dilambangkan dengan asterisk ( *).

Sehingga, a*b = c berarti fungsi a dikonvolusikan dengan fungsi b menghasilkan fungsi c.

Konvolusi dari dua fungsi a dan fungsi b dalan rentang terbatas [0, t] diberikan oleh:

Contoh:

a = [1, 2, 3] dan b = [4,5,6] maka a*b :

Sehingga a*b adalah [4,13,28,27,18]

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 51


Ensiklopedi Seismik Online
Dari contoh diatas terlihat bahwa jumlah elemen c adalah jumlah elemen a ditambah
jumlah elemen b dikurangi 1 (3+3-1 = 5).

Konvolusi dikawasan waktu (time domain) ekuivalen dengan perkalian dikawasan


frekuensi dan sebaliknya konvolusi dikawasan frekuensi ekuivalen dengan perkalian
dikawasan waktu [Bracewell, 1965]

Cross Correlation
Secara matematis Cross-Korelasi dituliskan sebagai:

Dimana a dan b memiliki panjang N dengan (N>1).

Jika panjang salah satu data tidak sama maka bagian yang kosong dari data yang pendek di-
nol kan sampai panjangnya sama.

m=1, ..., 2N-1. dan b* adalah conjugate dari b.

Contoh Cross Korelasi fungsi a = [1, 2, 3] dan b =[4, 5, 6]:

Sehingga untuk cross korelasi antara fungsi a dan b diperoleh: 12, 23, 32, 17, 6.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 52


Ensiklopedi Seismik Online
Curvature
Curvature adalah kebalikan jari-jari sebuah lingkaran yang menyentuh sebuah bidang atau
garis.

Semakin melengkung sebuah garis semakin besar nilai curvature dan sebaliknya.

Sebuah garis yang datar memiliki curvature nol, jika melengkung ke arah yang sebaliknya
maka curvatur akan bernilai negatif.

Didalam geologi, struktur sinklin akan memiliki curvature positif dan struktur antiklin
memiliki curvature negatif.

Didalam eksplorasi migas, curvature memiliki peranan penting untuk meng-highlight


keberadaan atau orientasi rekahan (fracture), sesar, identifikasi batas channel, dll.

Terdapat beberapa jenis curvature: Mean curvature, Gaussian curvature, Dip curvature,
strike curvature, shape-index, most-positive curvature, most-negative curvature.

Mean curvature: rata-rata curvature minimum dan curvature maksimum dan biasanya
didominasi oleh curvature maksimum.
Gaussian curvature: produk dari minimum curvature dan maksimum curvature.
Dip curvature: curvature yang diekstrak sepanjang arah dip (kemiringan struktur).
Strike curvature: curvature yang diekstrak sepanjang arah strike.
Shape-index: bentuk permukaan lokal, dengan biru menunjukkan mangkuk, lembah

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 53


Ensiklopedi Seismik Online
dengan cyan, saddle dengan hijau, ridge dengan kuning dan dome dengan merah.
Most-positive curvature: curvature dengan nilai positif tertinggi yang akan memperjelas
struktur antiklin dan domal.
Most-negative curvature: curvature dengan nilai negatif tertinggi yang akan memperjelas
struktur sinklin dan bowl.

Courtesy Chopra and Marfurt CSEG, 2006

Gambar di atas menunjukkan aplikasi curvature untuk mempertajam keberadaan channel


dan interpretasi fracture. (a) time slice (b) most-positive curvature untuk mempertajam
batas channel (c) most-positive curvature untuk interpretasi fracture (d) diagram rosset
fracture (c).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 54


Ensiklopedi Seismik Online
Dekonvolusi
Deconvolusi adalah proses pengolahan data seismik yang bertujuan untuk meningkatkan
resolusi temporal (baca: vertikal) dengan cara mengkompres wavelet seismik.

Deconvolusi umumnya dilakukan sebelum stacking akan tetapi dapat juga diterapkan
setelah stacking.

Selain meningkatkan resolusi vertikal, deconvolusi dapat mengurangi efek 'ringing' atau
multiple yang mengganggu interpretasi data seismik.

Deconvolusi dilakukan dengan melakukan konvolusi antara data seismik dengan sebuah
filter yang dikenal dengan Wiener Filter .

Filter Wiener diperoleh melalui permasaan matriks berikut:

axb=c

a adalah hasil autokorelasi wavelet input (wavelet input diperoleh dengan mengekstrak
dari data seismik), b Filter Wiener dan c adalah kros korelasi antara wavelet input dengan
output yang dikehendaki.

Output yang dikehendaki terbagi menjadi beberapa jenis [Yilmaz, 1987]:


1. Zero lag spike (spiking deconvolution)
2. Spike pada lag tertentu.
3. time advanced form of input series (predictive deconvolution)
4. Zero phase wavelet
5. Wavelet dengan bentuk tertentu (Wiener Shaping Filters)

Zero lag spike memiliki bentuk [1 , 0, 0, 0, ..., 0] yakni amplitudo bukan nol terletak para
urutan pertama. Jika Output yang dikehendaki memiliki bentuk [0 , 0, 1, 0, ..., 0] maka
disebut spike pada lag 2 (amplitudo bukan nol terletak para urutan ketiga) dan seterusnya.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 55


Ensiklopedi Seismik Online
Dalam bentuk matrix, Persamaan Filter Wiener dituliskan sbb:

dimana n adalah jumlah elemen.

Matriks a diatas merupakan matriks dengan bentuk spesial yakni matriks Toeplitz, dimana
solusi persamaan diatas secara efisien dapat dipecahkan dengan solusi Levinson. Dengan
demikian operasi Deconvolusi jenis ini seringkali dikenal dengan Metoda Wiener-Levinson.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 56


Ensiklopedi Seismik Online
Untuk memberikan kestabilan dalan komputasi numerik diperkenalkan sebuah
Prewhitening (e) yakni dengan memberikan pembobotan dengan rentang 0 s.d 1 pada
zero lag matriks a (sehingga elemen a0 matrix diatas menjadi a0(1+e).
Diagram alir proses Deconvolusi ditunjukkan pada flowchart dia atas.

Densitas Batuan
Densitas adalah massa batuan per unit volume.
Berikut kisaran densitas meterial bumi:

Courtesy Grand and West

Dephasing

Dalam terminologi seismik, dephasing adalah proses untuk mengubah fasa sebuah wavelet.
Ingat sebuah wavelet dapat memiliki fasa berbeda: fasa nol, fasa minimum, fasa maksimum
dan fasa campuran.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 57


Ensiklopedi Seismik Online
Biasanya, dephasing dilakukan dalam proses deconvolusi sehingga Output yang
dikehendaki memiliki fasa tertentu. Filter deconvolusi dengan jenis ini dinamakan Wiener
Shaping Filters

Proses dephasing memerlukan informasi wavelet input, dalam realitas wavelet input
diperoleh dengan cara mengekstrak dari data seismik secara statistik.

Deret - Transformasi Fourier


Analisis Fourier adalah metoda untuk mendekomposisi sebuah gelombang seismik menjadi
beberapa gelombang harmonik sinusoidal dengan frekuensi berbeda-beda.

Dengan kalimat lain, sebuah gelombang seismik dapat dihasilkan dengan menjumlahkan
beberapa gelombang sinusoidal frekuensi tunggal. Sedangkah sejumlah gelombang
sinusoidal tersebut dikenal dengan Deret Fourier.

Gambar dibawah ini adalah contoh Analisis Fourier.

Courtesy Margrave G. et al., Consortium for Research in Elastic Wave Exploration Seismology,
The University of Calgary

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 58


Ensiklopedi Seismik Online
Sedangkan Transformasi Fourier adalah metoda untuk mengubah gelombang seismik
dalam domain waktu menjadi domain frekuensi. Proses sebaliknya adalah Inversi
Transformasi Fourier (Inverse Fourier Transform).

Courtesy Margrave G. et al., Consortium for Research in Elastic Wave Exploration Seismology,
The University of Calgary

Istilah Fourier digunakan untuk menghormati


Jean Baptiste Joseph Fourier (1768 – 1830),
matematikawan yang memecahkan
persamaan differensial parsial dari model
difusi panas, beliau memecahkannya dengan
menggunakan deret tak hingga dari fungsi-
fungsi trigonometri. Foto Jean Baptiste Joseph
Fourier courtesy Wikipedia.

Referensi text: Aki and Richard, 1980, Quantitative Seismology, Blackwell Publishing

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 59


Ensiklopedi Seismik Online
Difraksi
Difraksi adalah reflektor semu yang dihasilkan akibat penghamburan gelombang utama
yang menghantam ketidakmenerusan seperti permukaan sesar, ketidakselarasan,
pembajian, perubahan kontras jenis batuan, dll.

Difraksi nampak seperti parabola terbalik yang dapat mengganggu interpretasi seismik.
Untuk menghilangkan difraksi dilakukan proses migrasi.

Gambar dibawah menunjukkan difraksi akibat lapisan garam.

Gambar diatas dimodifikasi dari Veritas DGC

DMO

Pada kasus lapisan miring, titik tengah M tidak lagi merupakan proyeksi vertikal dari titik
hantam D, sehingga pada kasus lapisan miring, CDP gather tidak ekuivalen dengan CMP
gather .

Secara sederhana DMO (Dip Move Out) dapat diterjemahkan dengan koreksi NMO pada
lapisan miring.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 60


Ensiklopedi Seismik Online
Untuk kasus lapisan miring, Levin (1971), menurunkan persamaan waktu tempuh:

From Yilmaz [1989]

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 61


Ensiklopedi Seismik Online
Sedangkan untuk kecepatan DMO terlihat pada persamaan (2). Dari persamaan (2) terlihat
bahwa kontrol cosinus dari kemiringan menyebabkan kecepatan DMO harus lebih besar
dari kecepatan medium v (baca: kecepatan gelombang seismik pada batuan), karena
cosinus memiliki nilai maksimum 1.

Didalam Aplikasinya, proses DMO tidak serumit yang dibayangkan, prosesnya sama seperti
NMO, lebih-lebih software-software processing sudah semakin interaktif. Gambar di atas
adalah contoh proses DMO.

Dog leg
Dog leg adalah istilah yang digunakan untuk lintasan seismik yang membelok secara tiba-
tiba.

Dog leg biasanya terjadi akibat perubahan rencana survey seismik untuk menghindari
medan yang berat atau tidak memungkinkan seperti lembah yang curam, gedung
bersejarah, atau dasar laut yang dangkal sehingga kapal survey tidak bisa melewatinya.

Berikut ilustrasinya:

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 62


Ensiklopedi Seismik Online
Elastic Impedance
Seperti hal-nya Impedansi Akustik yang merupakan produk perkalian densitas dengan
kecepatan gelombang kompresi (gelombang P), Impedansi Elastik merupakan produk
perkalian densitas dengan ’komposit’ kecepatan gelombang P dan S.

Secara praktis, Impedansi Elastik diperoleh melalui inversi far angle stack (katakanlah
lebih besar dari 30°) dengan menggunakan wavelet yang diekstrak dari stack tersebut
sehingga diperoleh sifat Impedansi Elastik.

Courtesy ARCO Exploration

Gambar diatas menunjukkan hasil inversi Impedansi Akustik (kiri) dan Impedansi Elastik
(kanan).

Envelope
Envelope merepresentasikan total energi sesaat (instantaneous), nilai ampitudonya
bervariasi antara nol sampai amplitude maksimum tras seismik. Secara matematis
envelope dituliskan sbb:

E(t) = (x(t)2 +y(t)2)0.5


Envelope berhubungan langsung dengan kontras impedansi akustik yang bermanfaat
untuk melihat kontras impedansi akustik, bright spot, akumulasi gas, batas sekuen, efek ketebalan
tuning, ketidakselarasan, perubahan lithologi, perubahan lingkungan pengendapan, sesar,
porositas, dll.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 63


Ensiklopedi Seismik Online
Gambar berikut menunjukkan perbandingan antara tras data real (x), quadrature (y) dan
envelope (E) serta perbandingan antara data sesmik dengan envelope untuk data lapangan.

Courtesy U.S. Department of Energy

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 64


Ensiklopedi Seismik Online
Fasa Sesaat
Fasa Sesaat merupakan sudut diantara phasor (rotasi vektor yang dibentuk oleh komponen
real dan komponen imajiner dalam deret waktu) dan sumbu real sebagai fungsi dari waktu,
oleh karena itu selalu mempunyai nilai antara -180 derajat sampai + 180 derajat .

Fasa sesaat didefisikan sebagai :

dimana h(t) merupakan jejak kuadratur dan f(t) jejak real.

Fasa Sesaat (b), Perubahan dari puncak ke palung pada jejak seismik memiliki (a)
menghasilkan Fasa Sesaat antara 0 – 180 derajat. Palung seismik real ber-fasa –180 derajat
s/d 180 derajat. (Redrawn from Landmark, 1996).

Fasa Sesaat berperan dalam meningkatkan event refleksi lemah dan meningkatkan
kontinyuitas event, oleh karena itu atribut ini dapat membantu interpreter untuk
mengidentifikasi sesar, pembajian, channels, kipas, dan geometri internal sistem endapan.

Disamping itu, Fasa Sesaat digunakan untuk identifikasi pembalikan polaritas yang
berasosiasi dengan kandungan gas.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 65


Ensiklopedi Seismik Online
Feather
Feather adalah istilah yang digunakan untuk menujukkan sifat penyimpangan streamer
dari line seismik yang dikehendaki di dalam akuisisi seismik laut. Efek feather ini muncul
dikarenakan arus laut.

Berikut ilustrasinya:

Kehadiran feather ini tentu kurang menguntungkan di dalam akuisisi laut, akan tetapi
masih bisa di toleransi dengan syarat jangan melebihi 10°.

Cara yang mungkin bisa dilakukan untuk mengurangi efek ini adalah dengan melakukan
survey arus laut terlebih dahulu sebelum mendesain lintasan seismik. Memang kita bisa
ber-argumen bahwa desain lintasan seismik tersebut haruslah mempertimbangkan aspek
geologi yang menjadi target anda (seperti strike ataupun bentuk struktur) akan tetapi
apakah tidak ada celah komunikasi untuk mempertimbangkan aspek arus laut di dalam
mendesain lintasan tersebut?

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 66


Ensiklopedi Seismik Online
Fermat's Principle
Prinsip Fermat menyatakan bahwa jika sebuah gelombang merambat dari satu titik ke titik
yang lain maka gelombang tersebut akan memilih jejak yang tercepat.

Kata tercepat di-boldkan untuk memberikan penekanan bahwa jejak yang akan dilalui oleh
sebuah gelombang adalah jejak yang secara waktu tercepat bukan yang terpendek secara
jarak. Tidak selamanya yang terpendek itu tercepat.

Dengan demikian jika gelombang melewati sebuah medium yang memiliki variasi
kecepatan gelombang seismik, maka gelombang tersebut akan cenderung melalui zona-
zona kecepatan tinggi dan menghindari zona-zona kecepatan rendah. Untuk lebih jelasnya
perhatikan gambar dibawah ini. Apakah anda melihat bahwa Prinsip Fermat berlaku?

Courtesy Rawlinson et al., Research School of Earth Sciences, Australian National University

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 67


Ensiklopedi Seismik Online
Filtering
Adalah upaya untuk 'menyaring' frekuensi yang dikehendaki dari gelombang seismik dan
'membuang' yang tidak dikehendaki. Terdapat beberapa macam filtering: band pass, low
pass (high cut) dan high pass (low cut).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 68


Ensiklopedi Seismik Online
Didalam pengolahan data seismik band pass filter lebih umum digunakan karena biasanya
gelombang seismik terkontaminasi noise frekuensi rendah (seperti ground roll) dan noise
frekuensi tinggi (ambient noise).

Gambar diatas menunjukkan ketiga jenis filtering, baik dalam kawasan waktu (time
domain) maupun frekuensi domain (frequency domain). Tanda A, B, C, D pada band pass
filter merupakan frekuensi sudut (corner frequency). Secara matematis, operasi filtering
merupakan konvolusi dalam kawasan waktu antara gelombang 'mentah' dengan fungsi
filter diatas dan perkalian dalam kawasan frekuensi.

First Break
Adalah gelombang seismik yang terekam pertama kali. Gelombang ini merupakan
gelombang yang tercepat sampai ke penerima.

Didalam studi seismik refleksi, first break digunakan untuk mencari informasi kondisi
lapisan lapuk juga digunakan untuk koreksi statik.

Didalam studi sesmik tomografi, first break digunakan sebagai input waktu tempuh
gelombang untuk mencitrakan anomali kecepatan gelombang seismik di bawah
permukaan. Gambar dibawah ini adalah contoh first break (elips pink).

Courtesy Interpex

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 69


Ensiklopedi Seismik Online
Flow Pengolahan Data Seismik
Beberapa tahapan yang biasa dilalui didalam pengolahan data seismik:

1. Edit Geometri
Data sebelumnya di-demultiplex dan mungkin di-resampel kemudian di-sorting didalam
CDP (common depth point) atau CMP (common mid point). Informasi mengenai lokasi
sumber dan penerima, jumlah penerima, jarak antara penerima dan jarak antara sumber
di-entry didalam proses ini.

2. Koreksi Statik
Koreksi statik dilakukan untuk mengkoreksi waktu tempuh gelombang seismik yang ter-
delay akibat lapisan lapuk atau kolom air laut yang dalam.

3. Automatic Gain Control (AGC)


Kompensasi amplitudo gelombang seismik akibat adanya divergensi muka gelombang dan
sifat attenuasi bumi.

4. Dekonvolusi (Pre-Stack)
Dekonvolusi dilakukan untuk meningkatkan resolusi vertikal (temporal) dan
meminimalisir efek multiple.

5. Analisis Kecepatan (Velocity Analysis) dan Koreksi NMO


Analisis kecepatan melibatkan semblance, gather, dan kecepatan konstan stack. Informasi
kecepatan dari velocity analysis digunakan untuk koreksi NMO (Normal Move Out)

6. Pembobotan tras (Trace Weighting)


Teknik ini dilakukan untuk meminimalisir multiple yang dilakukan dalam koridor CMP
sebelum stacking. Proses ini menguatkan perbedaan moveout antara gelombang refleksi
dengan multiplenya sehingga dapat mengurangi kontribusi multiple dalam output stack.

7. Stack
Penjumlahan tras-tras seismik dalam suatu CMP tertentu yang bertujuan untuk
mengingkatkan rasio sinyal terhadap noise. Nilai amplitudo pada waktu tertentu
dijumlahkan kemudian dibagi dengan akar jumlah tras.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 70


Ensiklopedi Seismik Online
8. Post-Stack Deconvolution
Dekonvolusi mungkin dilakukan setelah stacing yang ditujukan untuk mengurangi efek
ringing atau multipel yang tersisa.

9. Migrasi F-K (F-K Migration)


Migrasi dilakukan untuk memindahkan energi difraksi ke titik asalnya. Atau lapisan yang
sangat miring ke posisi aslinya. Mingrasi memerlukan informasi kecepatan yang mungkin
memakai informasi kecepatan dari velocity analysis.

10. Data Output

Frekuensi Gelombang Seismik

Frekuensi gelombang seismik yang 'berguna' biasanya berada dalam rentang 10 sampai
70Hz dengan frekuensi dominan sekitar 30Hz [Yilmaz].

Gambar berikut menunjukkan tipikal spektrum amplitudo gelombang seismik (tras


ditunjukkan di sebelah kiri).

Terlihat rentang frekuensi gelombang seismik 10-70Hz dengan frekuensi dominan 30Hz,
juga karakter spektrum amplitudo wavelet yang digunakan serta komponen frekuensi
rendah data sumur (data sumur memiliki rentang frekuensi sekitar 5 Hz s/d Kilo Hz).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 71


Ensiklopedi Seismik Online
Frekuensi Sesaat

Fekuensi Sesaat (Instantaneous Frequency ) merepresentasikan besarnya perubahan Fasa


Sesaat terhadap waktu atau sebagai slope jejak Fasa yang diperoleh dari turunan pertama
dari Fasa Sesaat :

Redrawn from Landmark, 1996

Frequensi Sesaat (b) sebagai turunan pertama Fasa Sesaat (a)

Frekuensi Sesaat memiliki rentang frekuensi dari (–) Frekuensi Nyquist sampai (+)
Frekuensi Nyquist, tetapi sebagian besar Frekuensi Sesaat bernilai positif.

Frekuensi Sesaat memberikan informasi tentang perilaku gelombang seismik yang


mempengaruhi perubahan frekuensi seperti efek absorbsi, rekahan, dan ketebalan sistem
pengendapan.

Atenuasi gelombang seismik ketika melewati reservoir gas dapat dideteksi sebagai
penurunan frekuensi, fenomena ini lebih dikenal dengan ‘low frequency shadow’ (Barnes,
Arthur E.,1999). Hilangnya frekuensi tinggi menunjukkan daerah overpressure.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 72


Ensiklopedi Seismik Online
White (1991) menyebutkan bahwa adanya nilai negatif dalam instantaneous frekuensi
menunjukkan bahwa kuantitas instantaneous frekuensi bukanlah frekuensi dalam arti
cycle per satuan waktu.

Akan tetapi instantaneous frekuensi disini merupakan sebuah atribut yang merupakan
turunan dari instantaneous phase. Lihatlah komponen instantaneous phase sendiri
memiliki nilai negatif dan positif sehingga turunannya pun akan demikian.

Zona Fresnel
Adalah lebar bidang benda anomali yang mampu 'dilihat' oleh gelombang seismik (lihat
Resolusi Seismik).

Redrawn from Yilmaz, 1987

Lebar sempitnya Zona Fresnel (B-B') tergantung pada panjang gelombang dan frekuensi
gelombang seismik yang digunakan. Semakin tinggi frekuensi seismik yang digunakan,
semakin sempit Zona Fresnel dan sebaliknya. Artinya untuk melihat benda-benda anomali
kecil di bawah perut perlu digunakan frekuensi gelombang yang tinggi. Sayangnya karena
adanya attenuasi, frekuensi tinggi hanya mampu melihat anomali-anomali dangkal.

Istilah 'Fresnel' digunakan untuk menghormati Fisikawan


perancis Augustin Jean Fresnel (1788-1827) yang
menemukan teori gelombang optik.
(Foto Augustin Jean Fresnel diambil dari wikipedia)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 73


Ensiklopedi Seismik Online
Gain
Gain adalah penskala-an amplitudo gelombang seismik untuk menampilkan amplitudonya
yang menurun akibat geometrical spreading.

Secara matematis, operasi gain merupakan perkalian antara tras seismik dengan fungsi
gain.

Untuk membuat fungsi gain yang akan diterapkan pada tras seismik yang belum dilakukan
koreksi geometrical spreading, persamaan gain berikut dapat digunakan:

g(t)=(v(t)/v(0))2 (t/t0), dimana t adalah TWT (two way traveltime) dan v(t) adalah
kecepatan rms dan v(0) adalah kecepatan rms pata waktu t0.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 74


Ensiklopedi Seismik Online
Gelombang Prisma
Gelombang Prisma (Prism Wave) adalah gelombang yang terefleksikan lebih dari satu kali.
Gambar dibawah ini mengilustrasikan jejak gelombang prisma yang terefleksikan oleh Top
Balder, lalu terefleksikan kembali oleh kubah garam sebelum akhirnya terekam oleh
receiver.

Pada rekaman tersebut kita akan melihat jenis gelombang prisma yang dicirikan dengan
waktu tempuh lebih lambat dari Top Balder (seperti interbed multiple).

Courtesy Paul A. Farmer and Ian F. Jones, ION GX Technology

Groundroll

Groundroll atau gelombang rayleigh adalah gelombang yang menjalar di permukaan bumi
dengan pergerakan partikelnya menyerupai ellip (lihat gambar). Karena menjalar di
permukaan, amplitudo gelombang rayleigh akan berkurang dengan bertambahya
kedalaman.

Nama Rayleigh diberikan untuk menghormati penemunya John William Strutt, 3rd Baron
Rayleigh (1842-1919), Fisikawan berkebangsaan Inggris.

Didalam rekaman seismik, gelombang rayleigh dicirikan dengan amplitudonya yang besar
(hampir 2x amplitudo refleksi) dan dicirikan dengan frekuensi rendah.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 75


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy of darylscience

High Order NMO


Perhatikan persamaan di bawah ini:

Persamaan (1) adalah persamaan NMO konvensional sedangkan persamaan (2) adalah
persamaan NMO order 4 (fouth order) dengan alpha sebuah koefisien. Koefisien tersebut
mewakili sifat anisotropi batuan dan variasi kecepatan seismik vertikal.

Yang dimaksud dengan Higher Order Moveout adalah analisis NMO (Normal Moveout)
dengan menggunakan persamaan NMO order yang lebih tinggi.

Proses NMO konvensional dengan menggunakan persamaan NMO order dua dapat
berkerja dengan baik pada model bumi homogen isotropis. Sedangkan pada model bumi
yang kompleks persamaan NMO order yang lebih tinggi sangat diperlukan.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 76


Ensiklopedi Seismik Online
Selain untuk memenuhi kondisi ‘kompleksitas’ bumi, persamaan NMO order yang lebih
tinggi diperlukan juga untuk mengkoreksi tras-tras seismik pada offset yang cukup jauh (
seperti offset 6 sampai 10 km). Sebagaimana yang kita pahami, koreksi NMO akan memiliki
error yang lebih besar pada offset yang jauh.

Gambar di bawah ini menunjukkan perbedaan gather seismik dengan koreksi NMO order
dua dan gather yang dikoreksi NMO order dua terlebih dahulu (kiri) kemudian di-fine tune
dengan order 4 (kanan) untuk data sintetik dan data real.

Data sintetik, Courtesy Leggott et al, Veritas DGC Ltd.

Data real, Courtesy Leggott et al, Veritas DGC Ltd.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 77


Ensiklopedi Seismik Online
Hilbert Transform dan Jejak Kompleks
Hilbert Ttransform atau Transformasi Hilbert menggeser fasa sebesar -90° pada jejak
seismik atau mengkonversi gelombang cosinus menjadi sinus.

Jejak kompleks, sebagaimana yang diterangkan oleh Tarner et.al (1996) terdiri dari
komponen real (jejak seismik konvensional) dan komponen imajiner (jejak kuadratur):

dimana f(t) adalah jejak seismik real, h(t) jejak kuadratur.

Jejak kuadratur h(t) dapat dideterminasi dari jejak real f(t) dengan menggunakan
Transformasi Hilbert (Bracewell 1965, op.cit. Landmark, 1996) :

dimana (*) merupakan konvolusi. Dari persamaan (2) terlihat bahwa h(t) adalah
pergeseran fasa 90 derajat dari jejak seismik real f(t).
Jejak seismik real f(t) dapat diekspresikan dengan Amplitudo yang tergantung pada waktu
A(t) dan fasa yang tergantung pada waktu q(t), seperti dinyatakan sebagai berikut:

dan jejak kuadratur didefinisikan sebagai :

Sehingga jejak kompleks F(t) didefinisikan sebagai :

Jika f(t) dan h(t) diketahui (ingat bahwa h(t) dapat diturunkan dari f(t) dengan
menggunakan Transformasi Hilbert), maka untuk A(t) dan q(t) diperoleh :

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 78


Ensiklopedi Seismik Online

A(t) disebut dengan ‘Kuat Refleksi’ dan q(t) disebut dengan ‘Fasa Sesaat’. Selanjutnya
dengan menurunkan Fasa Sesaat diperoleh ‘Frekuensi Sesaat’

Hockey Stick
Adalah istilah yang populer digunakan dalam industri pengolahan data seismik untuk
menjelaskan fenomena sebuah event seismik yang melengkung menyerupai bentuk stick
hockey. Event seismik tersebut berada dalam gerbang CDP setelah proses NMO.

Dalam proses NMO, bentuk event yang dikehendaki adalah sedatar mungkin (flat), akan
tetapi karena efek anisotropi dan karakter jejak gelombang, bentuk hockey stick adalah
bentuk yang lazim diperoleh. Dengan memahami bentuk hockey stick dalam gerbang CDP,
kita dapat mendesain mute yang optimal sehingga diperoleh final stack yang bagus. Desain
mute yang optimal terletak pada titik lengkung hockey stick tersebut. Jika desain mute
terlalu ke arah far offset, maka gelombang frekuensi rendah akibat stretching akan muncul
di dalam stack. Jika desain mute terlalu kearah near offset maka kita akan kehilangan data.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 79


Ensiklopedi Seismik Online
Horizontal Seismic Profiling
Horizontal Seismic Profiling (HSP) adalah metoda pengambilan data seismik, dimana posisi
sumber dan penerima (geophone) diletakkan di permukaan bumi. Jadi istilah metoda HSP
adalah istilah lain untuk metoda seismik refleksi biasa.

Contoh konfigurasi metoda HSP, geophone (kiri) dan layout kabel seismik (kanan):

Gambar courtesy: Anniston Army Depot, Alabama

Huygens Principle
Huygens Principle (Prinsip Huygens) menyatakan bahwa setiap titik-titik pengganggu yang
berada didepan muka gelombang utama akan menjadi sumber bagi terbentuknya deretan
gelombang yang baru.

Courtesy Answer.com

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 80


Ensiklopedi Seismik Online
Jumlah energi total deretan gelombang baru tersebut sama dengan energi utama.

Didalam eksplorasi seismik titik-titik diatas dapat berupa patahan, rekahan, pembajian,
antiklin, dll. Sedangkan deretan gelombang baru berupa gelombang difraksi. Untuk
menghilangkan efek ini dilakukanlah proses migrasi.

Nama Huygens diberikan untuk menghormati


matematikawan, astronomer dan fisikawan kondang
Christiaan Huygens (1629-1695). Sebelum menggeluti
bidang sains beliau sempat kuliah di Fakultas Hukum
Universitas Leiden. Lukisan Christiaan Huygens disamping
diambil dari wikipedia.

Interval Velocity

Kecepatan lapisan ke-n dapat dihitung berdasarkan rumus Dix (Dix Formula), yang
diturunkan dari kecepatan rms.

Gambar dibawah ini menunjukkan perbedaan kurva kecepatan rms dan kecepatan
interval.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 81


Ensiklopedi Seismik Online

Redrawn from Yilmaz, 1987

Inversi Maximum Likelihood


Salah satu penerapan langsung dari teori dekonvolusi di atas adalah dengan menginversi
reflektivitas hasil estimasi menjadi impedansi band lebar atau bloki dari data seismik. Jika
diketahui refektivitas r(i), maka impedansi Z(i) dapat ditulis :

Sayangnya, penerapan persamaan ini dalam mengestimasi treflektivitas dari MLD


memberikan hasil yang kurang memuaskan karena kehadiran bising tambahan. Meskipun
algoritma MLD mengekstrapolasi di luar bandwith wavelet untuk menghasilkan estimasi
reflektivitas band lebar, reabilitas estimasi ini berkurang karena bising pada frekuensi
rendah diujung spektrum.

Hasilnya adalah bahwa saat fenomena panjang gelombang pendek impedansi dapat
direkonstruksi, pola umum tidak dapat dipecahkan dengan baik. Hal ini ekuivalen dengan

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 82


Ensiklopedi Seismik Online
menyatakan bahwa skala waktu pada spike estimasi reflektivitas dapat dipecahkan lebih
baik daripada amplitudonya.

Untuk menstabilkan estimasi reflektivitas ini rekaman independen pola impedansi dapat
dimasukkan sebagai input kontrol.

Kehadiran seri error n(i) menunjukkan fakta bahwa informasi pola yang diberikan adalah
berupa estimasi. Sekarang kita mempunyai 2 seri waktu : trace seismik T(i) dan log
Impedasi ln Z(i), masing-masing dengan waveletnya dan parameter bising. Fungsi objektif
dimodifikasi sedemikian rupa sedemikian rupa sehingga mengandung dua suku yang
diboboti oleh variasi bising relatif.

Peminimalan fungsi ini akan memberikan solusi bagi koefisien refleksi yang berusaha
mengkompromikan dengan pemodelan silmultan trace seismik saat menyesuaikan dengan
pola impedansi yang telah diketahui.

Jika noise seismik dan Impedansi trend noise dimodelkan sebagai sekuen Gaussian maka
variansinya menjadi parameter ‘tuning’ dimana penggunan dapat memodifikasi untuk
menggeser titik-titik dimana kompromi terjadi. Artinya pada satu sisi ekstrim saja
informasi seismik digunakan dan pada ekstrim lainnya hanya digunakan trend impedansi.

Inversi Sparse Spike

Dasar teori dekonvolusi maximum-likelihood (MLD) telah dikembangkan oleh Mendel pada
tahun 1984.

Selanjutnya pada tahun 1985 dimodifikasi oleh Hampson dan Russel agar mudah
diterapkan pada data seismik real.

Kesimpulan yang diperoleh dari modifikasi tersebut adalah bahwa metoda MLD dapat
diperluas untuk digunakan dalam reflektivitas sparse.

Model dasar trace seismik didefisikan dengan :

s(t) = w(t) * r(t) + n(t) (1)

dimana s(t) = trace seismik, w(t) = wavelet seismik, r(t) = reflektivitas bumi, n(t) noise.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 83


Ensiklopedi Seismik Online
Perhatikan bahwa untuk menyelesaikan persamaan (1) harus diketahui tiga anu.

Dengan mengunakan asumsi tertentu permasalahan dekonvolusi dapat diselesaikan.

Seperti yang kita lihat sebelumnya, metoda rekursif seismik inversi didasarka pada teknik
dekonvolusi klasik, dimana diasumsikan reflektivitas random dan wavelet fasa minimum
atau fasa nol.

Hal ini akan menghasilkan keluaran wavelet dengan frekuensi lebih tinggi, tetapi tak
pernah me-recover deret koefiesien refleksi yang lengkap.

Beberepa teknik dekonvolusi sekarang dapat dikelompokkan kedalam katagori metoda


sparse spike. Dimana diasumsikan model reflektivitas tertentu dan wavelet yang diestimasi
berdasarkan asumsi model tersebut.

Teknik-teknik tersebut meliputi :

(1) Inversi dan dekonvolusi maximum-likelihood.

(2) Inversi dan dekonvolusi norma L1.

(3) Dekonvolusi entropi minimum (MED)

Dipandang dari segi seismik inversi, metoda sparse spike mempunyai kelebihan
dibandingkan dengan metoda dekonvolusi klasik yaitu pengontrol ekstra yang dapat
digunakan sebagai estimasi full-bandwith reflektivitas.

Kecepatan Gelombang P
Setiap material bumi memiliki kecepatan gelombang P tertentu.
Secara umum, kecepatan gelombang P (seismik refleksi) semakin meningkat dengan
meningkatnya kekompakakan suatu material.

Lihat karakteristik kecepatan gelombang P untuk berbagai material bumi pada gambar
dibawah ini.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 84


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Grand and West

Kelly Bushing, TVD, dll...


KB (Kelly Bushing) adalah sebuah perangkat pengeboran yang dipasang sebagai konektor
antara Kelly dan Rotary Table (lihat foto dibawah).

KB Elevation adalah ketinggian KB dari permukaan tanah (untuk sumur bor darat) atau
dari permukaan laut (untuk sumur bor laut).

TVD (True Vertical Depth) adalah kedalaman sumur bor secara vertikal dari permukaan
tanah sampai ke TD (Terminal Depth).

MD (Measured Depth) adalah kedalaman sumur bor secara keseluruhan dihitung dari
permukaan tanah. Pada kasus sumur bor vertikal, MD akan sama dengan TVD. MD tentunya
akan sama dengan TD. TVD dan MD digunakan untuk kasus sumur bor di darat.
Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 85
Ensiklopedi Seismik Online

A adalah TVDSS (True Vertikal Depth Sub Sea) sama seperti kasus TVD diatas hanya saja
dihitung dari muka air laut (MSL = Mean Sea Level).

B adalah TVDBML (True Vertical Depth Below Mud Line) adalah TVD yang dihitung dari
Sea Floor (ML=Mud Line)
C adalah MDSS (Measured Depth Sub Sea) sama seperti definisi MD diatas hanya saja
dihitung dari MSL.
D adalah MDBML (Measured Depth Below Mud Line) adalah MD dihitung dari ML.

Photo courtesy of AXPC (American Exploration & Production Council)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 86


Ensiklopedi Seismik Online
Ketidakselarasan
Ketidakselarasan adalah permukaan erosi atau non-deposisi yang memisahkan lapisan
yang lebih muda dari yang lebih tua dan menggambarkan suatu rumpang waktu yang
signifikan. Ketidakselarasan digolongkan berdasarkan hubungan struktur antar batuan
yang ditumpangi dan yang menumpangi. Ia menjelaskan rumpang pada sikuen stratigrafi,
yang merekam periode waktu yang tidak terlukiskan di kolom stratigrafi. Ketidakselarasan
juga merekam perubahan penting pada satu lingkungan, mulai dari proses pengendapan
menjadi non-deposisi dan/atau erosi, yang umumnya menggambarkan satu kejadian
tektonik yang penting. Lihat tipe-tipe ketidakselarasan pada Gambar 1.

Pengenalan dan pemetaan sebuah ketidakselarasan merupakan langkah awal untuk


memahami sejarah geologi suatu cekungan atau provinsi geologi. Ketidakselarasan
diketahui dari singkapan, data sumur, dan data seismik yang digunakan sebagai batas
sikuen pengendapan.

Gambar 1. Tipe – tipe ketidakselarasan

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 87


Ensiklopedi Seismik Online
Ketidakselarasan menyudut (angular unconformity)
Ketidakselarasan dimana lapisan yang lebih tua memiliki kemiringan yang berbeda
(umumnya lebih curam) dibandingkan dengan lapisan yang lebih muda. Hubungan ini
merupakan tanda yang paling jelas dari sebuah rumpang, karena ia mengimplikasikan
lapisan yang lebih tua terdeformasi dan terpancung oleh erosi sebelum lapisan yang lebih
muda diendapkan.

Disconformity
Ketidakselarasan dimana lapisan yang berada di bagian atas dan bawah sejajar, namun
terdapat bidang erosi yang memisahkan keduanya (umumnya berbentuk tidak rata dan
tidak teratur).

Paraconformity
Lapisan yang berada di atas dan di bawah bidang ketidakselarasan berhubungan secara
sejajar/paralel dimana tidak terdapat bukti permukaan erosi, namun hanya bisa diketahui
berdasarkan rumpang waktu batuan.

Nonconformity
Ketidakselarasan yang terjadi ketika batuan sedimen menumpang di atas batuan kristalin
(batuan metamof atau batuan beku).

Gambar diatas courtesy www.strata.geol.sc.edu, artikel ini kontribusi dari Hendra Wahyudi,
Teknik Geologi UGM 2003

Lambda Mu Rho

Lambda-Rho dan Mu-Rho merupakan parameter Lame yang diperoleh dari inversi AVO
(Amplitude Versus Offset) yang berguna untuk mempertajam identifikasi zona reservoar
[Goodway et al., 1997].

Lambda-Rho dan Mu-Rho diturunkan dari persamaan reflektivitas impedansi gelombang P


dan S [Fatti et al., 1994].

Berikut turunan persamaan Fatti untuk Lambda-Rho dan Mu-Rho berikut contoh
lapangannya.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 88


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Satinder Chopra, Core Lab Reservoir Technologies, Calgary, Canada and Doug
Pruden, GEDCO, Calgary, Canada.

Gambar diatas menunjukkan zona gas dengan Lambda-Rho yang rendah (biru) dan Mu-
Rho yang tinggi (merah dan kuning).
Biasanya inversi AVO untuk Lambda-Rho dan Mu-Rho dilakukan pada reservoar klastik.

Lamda Rho merupakan perkalian antara 'incompressibility' dengan densitas. Sedangkan


Mu-Rho merupakan perkalian antara 'shear rigidity' dengan densitas.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 89


Ensiklopedi Seismik Online
Incompressibility artinya ke-engganan batuan untuk ditekan sedangkan shear rigidity
adalah kekakuan batuan untuk digeser (diplintir).

Untuk karbonat, umumnya kedua parameter diatas akan lebih besar daripada silisiklastik.
Jadi LR dan MR untuk karbonate akan lebih tinggi daripada silisiklastik. Bagaimana kalau
klastik karbonat? untuk litologi jenis ini bisa mirip dengan silisiklastik tergantung pada v-
shale, porositas, mineral, fracture, dll.

Love Wave
Love wave atau gelombang Love adalah gelombang geser (S wave) yang terpolarisasi
secara horizontal (SH). Gelombang Love termasuk kategori gelombang permukaan.

Courtesy of darylscience

Nama Love diberikan untuk menghormati Augustus


Edward Hough Love (1863-1940), matematikawan
kondang asal Oxford. Beliau dianugrahi Adam prize
setelah menemukan model gelombang permukaan
jenis ini. Photo Courtesy of history.mcs.st-andrews

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 90


Ensiklopedi Seismik Online
Main Lobe Side Lobe
Main lobe adalah bagian utama dari sebuah wavelet sedangkan side lobe adalah bagian
samping dari sebuah wavelet.

Di dalam dunia seismik, wavelet yang baik adalah wavelet dengan jumlah side lobe yang
minimal (sekecil mungkin) dan cukup dominan pada bagian main lobe-nya. Bagian side
lobe dapat memberikan efek noise pada rekaman seismik, yakni munculnya reflektor-
reflektor semu.

Gambar dibawah menunjukkan bagian main lobe dan side lobe dari sebuah wavelet fasa
nol.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 91


Ensiklopedi Seismik Online
Marine Geohazards Site Survey
Survey ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona-zona berbahaya di dasar laut sebelum
fasilitas pengeboran, pipa, dll. akan ditempatkan.

Zona-zona bahaya tersebut diantaranya kantung-kantung gas, arus air laut, zona sesar atau
zona yang tidak stabil, kapal yang karam, bahan peledak peninggalan perang, dll.

Identifikasi zona-zona bahaya tersebut dapat dilakukan melalui analisis data seismic 2D
atau pun 3D yang sebelumnya digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon, data seismik
resolusi tinggi, sonar, multi beam, coring, sampai dengan mempergunakan AUV
(Autonomous Underwater Vehicle) untuk melakukan scanning kondisi dasar laut.

Gambar dibawah ini menunjukkan penampang data seismic berikut hasil interpretasi zona-
zona berbahaya seperti kantung gas yang ditandai dengan bright spot, masking, chimney,
atau pun push down velocity anomaly.

Courtesy Andreassen, 2007

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 92


Ensiklopedi Seismik Online
Dibawah ini adalah penampang RMS amplitude dari data seismic 3D. Penampang tersebut
hanyalah beberapa meter di bawah dasar laut. Terlihat dengan jelas zona tak stabil seperti
sesar, channel, kipas delta, lobes, dan slide scars.

Courtesy Andreassen, 2007

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 93


Ensiklopedi Seismik Online
Gambar di bawah menunjukkan citra Side Scan Sonar dari AUV. Terlihat dengan jelas
sebuah bom sisa peninggalan perang.

Courtesy Samuel, 2007

Gambar di bawah ini menunjukkan sebuah platform semi-submersible seharga 350 juta
dollar milik Petrobras yang tenggelam pada bulan Maret, 2001. Sebagian analisis
menyebutkan bahwa penyebab tenggelamnya platform tersebut adalah gas bubble yang
dihasilkan oleh kantung-kantung gas di bawah platform.

Photo courtesy Wikipedia

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 94


Ensiklopedi Seismik Online
Matrix Toeplitz
Matrix Toeplitz adalah sebuah matrix dengan elemen diagonalnya sama dengan penurunan
dari kiri ke kanan bersifat konstan.
Berikut contohnya:

Matrix ini dinamakan Toeplitz untuk menghormati


Otto Toeplitz, Profesor Matematika yang dilahirkan
di Jerman tahun 1881. Otto Toeplitz diusir oleh Nazi
karena dia seorang Yahudi dan wafat di Israel.
Foto disamping adalah Otto Toeplitz, courtesy The
MacTutor History of Mathematics Archive.

Migrasi
Proses migrasi dilakukan pada data seismik dengan tujuan untuk mengembalikan reflektor
miring ke posisi 'aslinya' serta untuk menghilangkan efek difraksi akibat sesar, kubah
garam, pembajian, dll.

Terdapat beberapa macam migrasi: Kirchhoff migration, Finite Difference migration,


Frequency-Wavenumber migration dan Frequency-Space migration [Yilmaz, 1987]. Akhir-
akhir ini metoda-metoda migrasi mutakhir seperti Reverse Time Migration, Controlled
Beam Migration lahir sejalan dengan semakin tingginya tantangan eksplorasi.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 95


Ensiklopedi Seismik Online
Minimum Phase - Maximum Phase

Sebuah wavelet memiliki panjang yang terbatas dengan fasa tertentu. Didalam istilah
eksplorasi seismik, fasa sebuah wavelet dikenal sebagai:fasa minimum, fasa nol dan fasa
maksimum.

Sebagaimana ditunjukkan oleh gambar di atas, fasa minimum dicirikan jika sebagian besar
energi amplitudo wavelet berada diawal, fasa nol dengan simetris di tengah-tengah dan
fasa maksimum diakhir wavelet.

Untuk mengubah fasa diatas dilakukan pendekatan matematis sbb:

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 96


Ensiklopedi Seismik Online
Mistie

Mistie adalah ketidakcocokan antara lintasan seismik yang berpotongan satu sama lain.
Ketidakcocokan tersebut dapat berupa perbedaan vintage seismik, parameter akuisisi,
tahapan dan metoda processing, dll.

Perbedaan tersebut terlihat pada sifat rekaman seperti fasa wavelet, amplitudo, waktu, dll.
Untuk mengantisipasi hal ini dapat dilakukan proses pengubahan fasa, pergesaran waktu
(time shifting), gaining, dll.

Berikut contoh mistie akibat pergesaran waktu (time shifting) dan perbedaan amplitudo:

Fenomena mis tie banyak terjadi pada interpretasi seismik 2 dimensi. Kalau kita tidak
peduli dengan mis tie, maka ketika kita mem-plot kontur horizon tertentu maka kontur
tersebut akan menghasikan artifak yang menyesatkan.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 97


Ensiklopedi Seismik Online
Multi Azimuth Seismic

Adalah metoda pengambilan data seismik 3D dengan arah penembakan (shooting) dari
berbagai arah (azimuth).

Dibandingkan dengan survey seismik 3D ‘konvensional’, survey seismik multi azimuth


memiliki keunggulan seperti meningkatkan resolusi, ketajaman dan meningkatnya rasio
sinyal terhadap noise (SNR). Hal positif ini muncul sebagai buah dari meningkatnya jumlah
‘fold’ dan iluminasi. Berikut prinsip pengambilan data seismik 3D multi azimuth:

Courtesy Barley B. and Summers T., BP Exploration, The Leading Edge 2007

Gambar di bawah ini menunjukkan perbandingan rekaman seismik ‘konvensional (kiri)


dan multi azimuth (kanan). Apakah anda melihat perbedaan yang cukup signifikan?

Courtesy Barley B. and Summers T., BP Exploration, The Leading Edge 2007
Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 98
Ensiklopedi Seismik Online
Multi Linear Regression

Multi Linear Regression (MLR) merupakan metoda untuk memprediksi sebuah nilai target
berdasarkan beberapa variable masukan.

Secara matematis MLR dapat dituliskan sbb:

Persamaan diatas menunjukkan multi linear regresi untuk mencari nilai y berdasarkan
input x1, x2 dan seterusnya sampai xi . Penyelesaian persamaan ini adalah mencari nilai
koefisien b dan konstanta α

Untuk memperoleh nilai α dan koefisien b, maka langkah matematis yang dilakukan adalah
dengan meminimalkan selisih antara nilai target dengan nilai prediksi. Nilai selisih tersebut
biasanya dituliskan dalam R2

Definisi meminimalkan adalah turunan pertama dari R2 terhadap masing-masing variable


input sama dengan nol.

Didalam dunia seismik, metoda ini populer digunakan seperti untuk memprediksi sifat
porositas, vshale, permeabilitas (?) berdasarkan input seperti quadrature, near, mid, far
stack, instantaneous phase, instantaneous frequency, reflection strength, dll.

Didalam memilih variabel input untuk memprediksi suatu target output tertentu haruslah
memiliki alasan adanya hubungan sifat fisis diantara keduanya.

Multi Taper Method (MTM)

MTM adalah salah satu metoda spektral untuk mengkonversi kawasan waktu sebuah
gelombang menjadi kawasan frekuensi. MTM memberikan prediksi frekuensi yang lebih
bagus yakni menghindari ’kebocoran’ spektral dibandingkan dengan metoda spectral
konvensional (baca: Fast Fourier Transform taper tunggal (single taper FFT)).

Didalam FFT konvensional mungkin anda menggunakan taper tunggal dari jenis Hanning,
Hamming, Box Car, dll. Sedangkan didalam MTM digunakan beberapa taper orthonormal

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 99


Ensiklopedi Seismik Online
yakni sekuen prolate spheroidal diskrit (discrete prolate spheroidal sequences) atau taper
Slepian.

Algoritma MTM ditunjukkan pada lampiran berikut ini:

Gambar dibawah menujukkan discrete prolate spheroidal sequences untuk 5 orde terendah.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 100


Ensiklopedi Seismik Online
Persamaan C.1 diatas ‘berbunyi’ sebagai berikut: bila kita memiliki gelombang dengan
window tertentu katakanlah 100 mili detik, gelombang tersebut dikalikan dengan taper
orde 0 (taper warna biru pada gambar C.1) lalu dihitung FFTnya. Kemudian gelombang
asal tadi dikalikan dengan taper oder 1 (taper warna hijau pada gambar C.1) lalu dihitung
FFTnya, dst. sampai selesai (orde 4-warna pink) Kemudian dicari nilai rata-rata dari
semuanya. Nah hasil rata-rata ini adalah spektral dengan metoda MTM.

Persamaan dan gambar diatas courtesy: Agus Abdullah, 2007, PhD Thesis, Research School of
Earth Sciences, Australian National University.

Multiattribute Analysis
Adalah sebuah analisis seismik untuk memprediksi sifat reservoir seperti porositas, vshale,
water saturation, dll., berdasarkan masukan data atribut seismik. Algoritma didalam
multiatribut analisis cukup beragam.

Software komersial seperti Hampson-Russell menggunakan Multi Linear Regression (MLR)


dan Artificial Neural Network Analysis (ANN) sebagai algoritma untuk analisis multiatribut
ini.

Tahapan-tahapan didalam studi ini meliputi: well seismic tie, log filtering (lihat penjelasan
dibawah), pemilihan atribut yang sesuai, krosploting, analisis multiatribut untuk ‘training
data’ (yakni data disekitar well), penerapan multiatribut untuk seluruh volume data. Jika
memungkinkan melakukan ‘normalisasi’ hasil akhir jika kita tidak setuju dengan
persamaan yang ditunjukkan oleh hasil krosplotting.

Gambar-gambar dibawah ini menunjukkan contoh penerapan ANN pada multiattribut


analysis untuk memprediksi porositas reservoir berdasarkan data impedance (hasil
seismik inversi), Amplitude Weighted Frequency, Cosine Instantaneous Phase, Integrate, Y-
Coordinate, Integrated Absolute Amplitude.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 101


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Hampson-Russell

Gambar diatas menunjukkan penerapan multi attribute analysis untuk training data.
Perhatikan hasil prediksi porositas (merah) memiliki kemiripan dengan porositas target
dari well (hitam). Hal penting didalam menerapkan analysis ini adalah kita harus
melakukan band-pass filter untuk data log sehingga memiliki rentang frekuensi yang sama
dengan rentang frekuensi seismik, katakanlah band pass dengan 2-10-45-65Hz.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 102


Ensiklopedi Seismik Online

Gambar dibawah menunjukkan krossplotting antara porositas prediksi dengan porositas


target. Ini merupakan contoh data yang ideal karena kita memiliki nilai koefisien korelasi
92%. Umumnya nilai korelasi setinggi ini sangat sulit untuk didapatkan. Berapakah nilai
korelasi yang bisa diterima? Didalam teori statistik, nilai korelasi dibawah 10-30%
dikatakan kecil, 30-50% disebut medium dan diatas 50% disebut besar (Wikipedia).

Courtesy Hampson-Russell

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 103


Ensiklopedi Seismik Online
Hasil akhir penampang porositas yang dihasilkan melalui analisis multiattribut
ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Perhatikan porositas reservoir channel cukup
berkorelasi dengan baik dengan kurva P-wave.

Berdasarkan penampang dibawah ini, jika kita ingin melakukan steam injection untuk
proyek EOR (Enhance Oil Recovery), di manakah kita harus menempatkan sumur injeksi?
Sebelah kiri atau kanan ?

Courtesy Hampson-Russell

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 104


Ensiklopedi Seismik Online
Multiple
Multiple adalah pengulangan refleksi akibat ’terperangkapnya’ gelombang seismik dalam
air laut atau terperangkap dalam lapisan batuan lunak.

Terdapat beberapa macam multiple: (a) water-bottom multiple, (b) peg-leg multiple dan
(c) intra-bed multiple.

Perhatikan model di bawah ini:

Didalam rekaman seismik, masing-masing multiple akan menunjukkan ‘morfologi’


reflektor yang sama dengan reflektor primernya akan tetapi waktunya berbeda.

Untuk model water bottom multiple (model a) katakanlah kita memiliki waktu tempuh sea
bottom sebesar 500ms maka multiplenya akan muncul 500 x 2 = 1000ms. Jika gelombang
tersebut terperangkap tiga kali maka multiple water bottom berikutnya akan muncul pada
500 x 3 = 1500ms, dst.

Untuk model peg leg multiple (model b), multiple akan muncul pada waktu tempuh
gelombang refleksi primer (top gamping) ditambah waktu tempuh sea bottom.

Untuk model intra bed multiple, multiple akan muncul pada waktu tempuh gelombang
primer top gamping ditambah waktu tempuh dalam shale.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 105


Ensiklopedi Seismik Online

Gambar dibawah adalah rekaman seismik yang menunjukkan fenomena multiple.


Perhatikan terdapat 4 multiple akibat dasar laut, berarti gelombang seismik tersebut
‘terperangkap’ empat kali!

Near-Far Offset
Near Offset adalah tras-tras seismik yang terdekat dengan sumber getar sedangkan Far
Offset adalah tras-tras yang terjauh. Lihat gambar dibawah ini:

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 106


Ensiklopedi Seismik Online
Jika tras-tras seismik tersebut di NMO (Normal Move Out) selanjutnya di stack maka akan
diperoleh near offset stack dan far offset stack.

Perbedaan amplitudo seismik near offset dan far offset seringkali digunakan di dalam studi
AVO (Amplitude Versus Offset).

Gambar diatas adalah contoh tras-tras seismik dari satu shot pada akuisisi laut. Tras-tras
near offset terlihat lebih ’noisy’ dibanding tras-tras far offset. Efek noise pada near offset
diakibatkan oleh ambient noise seperti: baling-baling kapal, deru mesin, gelombang laut,
dll.

NMO

NMO (Normal Move Out) adalah perbedaan antara TWT (Two Way Time) pada offset
tertentu dengan TWT pada zero offset.
Koreksi NMO dilakukan untuk menghilangkan efek jarak (ingat penampang seismic yang
anda interpretasi adalah offset nol (zero offset)).

Untuk model perlapisan horizontal, Koreksi NMO dirumuskan sbb:

Redrawn from Yilmaz, 1987

Didalam melakukan koreksi NMO, pemilihan model kecepatan (Vrms maupun Vstack)
merupakan hal yang sangat penting.
Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 107
Ensiklopedi Seismik Online
Gambar berikut menunjukkan efek pemilihan model kecepatan: (a) sebelum koreksi NMO
(b) model kecepatan yang tepat (c) kecepatan terlalu rendah (d) kecepatan terlalu tinggi.

Courtesy Yilmaz, 1987

Koreksi NMO akan menghasilkan efek 'stretching' yaitu penurunan frekuensi gelombang
seismik. Oleh karena itu langkah 'muting' dilakukan untuk menghilangkan efek ini.

Courtesy Yilmaz, 1987

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 108


Ensiklopedi Seismik Online
Noise dan Data Seismik
Noise adalah gelombang yang tidak dikehendaki dalam sebuah rekaman seismik sedangkan
data adalah gelombang yang dikehendaki. Dalam seismik refleksi, gelombang refleksilah
yang dikehendaki sedangkan yang lainya diupayakan untuk diminimalisir.

Gambar diatas menunjukkan sebuah rekaman dengan data gelombang refleksi dan noise
(gelombang permukaan / ground roll) dan gelombang langsung (direct wave).

Noise terbagi menjadi dua kelompok: noise koheren (coherent noise) dan noise acak
ambient (random ambient noise).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 109


Ensiklopedi Seismik Online
Contoh noise keheren: ground roll (dicirikan dengan amplitudo yang kuat dan frekuensi
rendah), guided waves atau gelombang langsung (frekuensi cukup tinggi dan datang lebih
awal), noise kabel, tegangan listrik (power line noise: frekuensi tunggal, mudah direduksi
dengan notch filter), multiple (adalah refleksi sekunder akibat gelombang yang
terperangkap). Sedangkan noise acak diantaranya: gelombang laut, angin, kendaraan yang
lewat saat rekaman, dll.

Gambar diatas diambil dari Kennett [1983] dengan beberapa modifikasi.

Foto diatas adalah Prof. B.L.N.


Kennett (sebelah kanan), bintang
seismologi kaliber dunia.

Sekarang [2007] menjabat


sebagai direktur Research School
of Earth Sciences, Australian
National University.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 110


Ensiklopedi Seismik Online
Non Zero Apex
Adalah fenomena pada CDP (Common Depth Point) gather dengan puncak parabola (apex)
tidak pada posisi offset sama dengan nol (non zero).

Berikut contohnya:

Courtesy Kansas Geological Survey

Non zero apex dapat terjadi pada akuisisi seismik 2D dimana jejak sinar seismik (ray path)
tidak lurus atau tidak ‘menghantam’ depth point akan tetapi malah menghantam litologi di
sampingnya. Adanya penyimpangan ray path tersebut diakibatkan oleh prinsip Fermat.

Nyquist Frequency

Adalah frekuensi tertinggi yang dimiliki oleh gelombang seismik.


Secara matematis Frekuensi Nyquist dituliskan sbb:

FN=1/(2 x interval sampling)

Sehingga jika interval sampling 0.0025 mili detik (2.5 detik) , maka Frekuensi Nyquist
adalah 200Hz.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 111


Ensiklopedi Seismik Online
P-Wave

Jika bumi yang 'tenang' diberikan gangguan, misalnya diganggu dengan diledakannya
sebuah dinamit, maka partikel-partikel material bumi tersebut akan bergerak dalam
berbagai arah. Fenomena pergerakan partikel material bumi ini disebut dengan
gelombang.

Jika pergerakan partikel tersebut sejajar dengan arah penjalaran gelombang, maka disebut
dengan gelombang kompresi (gelombang primer atau primary wave atau gelombang P).

Gambar dibawah menunjukkan karakter material sebelum diganggu dan karakter


gelombang P.

Courtesy of darylscience

Rekaman seismik refleksi suatu eksplorasi migas merupakan rekaman gelombang P yang
menjalar dari sumber (dinamit, vibroseis, dll.) ke penerima (geophone).

Gelombang P menjalar dengan kecepatan tertentu. Jika melewati material yang bersifat
kompak atau keras misalnya dolomit maka kecepatan gelombang P akan lebih tinggi
dibanding jika melewati material yang 'lunak' seperti batulempung.

Sebagai fungsi dari modulus bulk(k) , modulus geser (μ), dan densitas (ρ), kecepatan
gelombang P (Vp) adalah:

Vp=[(k+4/3μ)/ρ]0.5

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 112


Ensiklopedi Seismik Online
Perigram

Perigram adalah envelope amplitudo (Kuat Refleksi) dengan menghilangkan kembali


komponen dc (lihat gambar).

Komponen frekuensi rendah pada Kuat Refleksi dihitung sebagai berikut :

Selanjutnya komponen frekuensi rendah, B(t) dikurangi dari Kuat Refleksi, A(t), untuk
memperoleh Perigram, g(t) :

Perigram sebagai envelope amplitudo (Kuat Refleksi) dengan menghilangkan komponen dc


(Source Landmark, 1996).

Pada dasarnya Perigram mempunyai kegunaan yang sama dengan Kuat Refleksi, tetapi
Perigram memiliki nilai positif dan negatif sehingga dapat dianalisis dengan peta warna
standar dan dapat digunakan untuk penggabungan jejak seismik atau peningkatan kualitas
data.

Sedangkan Kuat Refleksi hanya mempunyai komponen positifnya saja, sehingga tidak
cocok untuk beberapa macam analisis dan prosesing.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 113


Ensiklopedi Seismik Online
Perigram X Cosinus Fasa
Hasil perkalian antara Perigram dan Cosinus Fasa menghasilkan atribut lain yang berguna
(Shtivelman et al, op.cit. Landmark, 1996).
Jejak seismik real didefinisikan sebagai perkalian amplitudo dan fasa:

Dengan kata lain, jejak real f(t), sama dengan Kuat Refleksi A(t), dikalikan dengan cosinus
fasa, cos q(t).Perigram didefinisikan oleh :

Hasil perkalian Perigram dan Cosinus Fasa didefinisikan sebagai :

Dengan menggabungkan dengan definisi sebelumnya, kita peroleh :

dan,

Dengan kata lain, walaupun Perigram bernilai positif, hasil perkalian Perigram dengan
Cosinus Fasa sama dengan data masukan f(t), dikali dengan jejak skalar, yang berharga
kurang dari 1.

Jika Perigram bernilai perigram negatif maka amplitudo bernilai nol. Perigram X Cosinus
Fasa berperan dalam menampilkan zona amplitudo tinggi dan event-event kontinyu.

‘Bright Spot’ yang berasosiasi dengan gas sand, misalnya, akan terlihat secara jelas secara
ketika reflektor energi rendah sekitar tereduksi menjadi nol.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 114


Ensiklopedi Seismik Online
Persamaan Faust
Adalah sebuah persamaan yang menguhubungkan sifat kecepatan gelombang (Vp) dengan
sifat resistivity.

Hubungannya adalah sbb:

Courtesy CGG Veritas – Hampson Russell

Gambar dibawah ini adalah contoh real dari hubungan antara log sonic dengan log
resistivity. Dari sini kita dapat mengetahui koefisien persamaan Faust (a dan c).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 115


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy CGG Veritas – Hampson Russell

Jika kita menganggap data log diatas sebagai sumur bor referensi, yang akan digunakan
untuk memprediksi sumur bor lain (yang menjadi target) yang tidak memiliki log sonic
tetapi memiliki log resistivity , maka tentu saja kita harus mempertimbangkan ‘kemiripan’
karakteristik geologi sumur bor target dengan sumur bor referensi.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 116


Ensiklopedi Seismik Online
Berikut contoh perbandingan log sonic yang diperoleh dari log resistivity dengan log sonic
yang sebenarnya.

Courtesy CGG Veritas – Hampson Russell

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 117


Ensiklopedi Seismik Online
Petroleum System
Faktor-faktor yang menjadi perhatian studi Petroleum System adalah batuan sumber
(source rocks), pematangan (maturasi), reservoir, migrasi, timing, perangkap (trap),
batuan penyekat (sealing rock) dan fracture gradient.

SOURCE ROCKS
Source rocks adalah endapan sedimen yang mengandung bahan-bahan organik yang dapat
menghasilan minyak dan gas bumi ketika endapan tersebut tertimbun dan terpanaskan.

Bahan-bahan organik yang terdapat didalam endapan sedimen selanjutnya dikenal dengan
kerogen (dalam bahasa Yunani berarti penghasil lilin).

Terdapat empat tipe kerogen:

Tipe I: bahan- bahan organic kerogen Tipe I merupakan alga dari lingkungan pegendapan
lacustrine dan lagoon.Tipe I ini dapat mengkasilkan minyak ringan (light oil) dengan
kuallitas yang bagus serta mampu menghasilkan gas.

Tipe II: merupakan campuran material tumbuhan serta mikroorganisme laut. Tipe ini
merupakan bahan utama minyak bumi serta gas.

Tipe III: Tanaman darat dalam endapan yang mengandung batu bara. Tipe ini umumnya
menghasilkan gas dan sedikit minyak.

Tipe IV: bahan-bahan tanaman yang teroksidasi. Tipe ini tidak bisa menghasilkan minyak
dan gas.

Kandungan kerogen dari suatu source rock dikenal dengan TOC (Total Organic Carbon),
dimana standar minimal untuk 'keekonomisan' harus lebih besar dari 0.5%.

Implikasi penting dari pengetahuan tipe kerogen dari sebuah prospek adalah kita dapat
memprediksikan jenis hidrokarbon yang mungkin dihasilkan (minyak, gas, minyak & gas
bahkan tidak ada migas).

MATURASI
Maturasi adalah proses perubahan secara biologi, fisika, dan kimia dari kerogen menjadi
minyak dan gas bumi.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 118


Ensiklopedi Seismik Online
Proses maturasi berawal sejak endapan sedimen yang kaya bahan organic terendapkan.
Pada tahapan ini, terjadi reaksi pada temperatur rendah yang melibatkan bakteri anaerobic
yang mereduksi oksigen, nitrogen dan belerang sehingga menghasilkan konsentrasi
hidrokarbon.

Proses ini terus berlangsung sampai suhu batuan mencapai 50 derajat celcius. Selanjutnya,
efek peningkatan temperatur menjadi sangat berpengaruh sejalan dengan tingkat reaksi
dari bahan-bahan organik kerogen.

Karena temperatur terus mengingkat sejalan dengan bertambahnya kedalaman, efek


pemanasan secara alamiah ditentukan oleh seberapa dalam batuan sumber tertimbun
(gradien geothermal).

Gambar dibawah ini menunjukkan proporsi relatif dari minyak dan gas untuk kerogen tipe
II, yang tertimbun di daerah dengan gradien geothermal sekitar 35 °C km -1 .

From OpenLearn - LearningSpace

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 119


Ensiklopedi Seismik Online

Terlihat bahwa minyak bumi secara signifikan dapat dihasilkan diatas temperature 50 °C
atau pada kedalaman sekitar 1200m lalu terhenti pada suhu 180 derajat atau pada
kedalaman 5200m. Sedangkan gas terbentuk secara signifikan sejalan dengan
bertambahnya temperature/kedalaman.

Gas yang dihasilkan karena factor temperatur disebut dengan termogenic gas, sedangkan
yang dihasilkan oleh aktivitas bakteri (suhu rendah, kedalaman dangkal <600m).

Gambar di bawah ini merupakan contoh penampang kedalaman dari lapisan-lapisan


batuan sumber, serta prediksi temperatur dengan cara menggunakan contoh kurva di atas.
Dari penampang ini dapat diprediksikan apakah source tersebut berada dalam oil window,
gas window, dll. Metoda ini dikenal dengan metoda Lopatin ( 1971). Terlihat jelas, metoda
Lopatin hanya berdasarkan temperature dan mengabaikan efek reaksi kimia serta biologi.

Courtesy Fettes College

RESERVOIR
Adalah batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan hidrokarbon. Dengan kata lain
batuan tersebut harus memiliki porositas dan permeabilitas.

Jenis reservoir umumnya batu pasir dan batuan karbonat dengan porositas 15-30% (baik

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 120


Ensiklopedi Seismik Online
porositas primer maupun sekunder) serta permeabilitas minimum sekitar 1 mD (mili
Darcy) untuk gas dan 10 mD untuk minyak ringan (light oil).
Berikut contoh-contoh reservoir berikut nilai porositas, permeabilitas, dll.

From OpenLearn - LearningSpace

MIGRASI
Migrasi adalah proses trasportasi minyak dan gas dari batuan sumber menuju reservoir.
Proses migrasi berawal dari migrasi primer (primary migration), yakni transportasi dari
source rock ke reservoir secara langsung. Lalu diikuti oleh migrasi sekunder (secondary
migration), yakni migrasi dalam batuan reservoir nya itu sendiri (dari reservoir bagian
dalam ke reservoir bagian dangkal).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 121


Ensiklopedi Seismik Online

From OpenLearn - LearningSpace

Prinsip dasar identifikasi jalur-jalur migrasi hidrokarbon adalah dengan membuat peta
reservoir. Kebalikannya dari air sungai di permukaan bumi, hidrokarbon akan melewati
punggungan (bukit-bukit) dari morfologi reservoir. Daerah yang teraliri hidrokarbon
disebut dengan drainage area (Analogi Daerah Aliran Sungai di permukan bumi). Jika
perangkap tersebut telah terisi penuh (fill to spill) sampai spill point, maka hidrokarbon
tersebut akan tumpah (spill) ke tempat yang lebih dangkal. Berikut contohnya:

Courtesy Sintef

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 122


Ensiklopedi Seismik Online
TIMING
Waktu pengisian minyak dan gas bumi pada sebuah perangkap merupakan hal yang sangat
penting. Karena kita menginginkan agar perangkap tersebut terbentuk sebelum migrasi,
jika tidak, maka hidrokarbon telah terlanjur lewat sebelum perangkap tersebut terbentuk.

TRAP
Terdapat macam-macam perangkap hidrokarbon: perangkap stratigrafi (D), perangkap
struktur (A-C) dan kombinasi (E).

From OpenLearn - Learning Space

SEAL
Seal adalah system batuan penyekat yang bersifat tidak permeable seperti
batulempung/mudstone, anhydrite dan garam.

FRACTURE GRADIENT
Didalam evaluasi prospek, kurva fracture gradient diperlukan diantaranya untuk
memprediksi sejauh mana overburden rocks mampu menahan minyak dan gas bumi.
Semakin tebal suatu overburden, maka semakin banyak volume hydrocarbon yang mampu
‘ditahan’.

Gambar dibawah ini menunjukkan kurva fracture gradient dari gas, minyak dan air formasi
dari sebuah lapangan. Berdasarkan kurva ini, jika kita memiliki sebuah perangkap dengan
ketebalan overburden (c), maka ketebalan kolom gas maksimal yang mampu ditahan
adalah (c-a), dan ketebalan kolom minyak adalah (c-b), selebihnya hidrokarbon tersebut
akan merembes keluar penyekat.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 123


Ensiklopedi Seismik Online

Poisson Impedance
Adalah sebuah atribut yang diturunkan dari kombinasi P Impedance (ρ Vp) dan S
Impedance (ρ Vs). Poisson Impedance diklaim sebagai atribut yang berhubungan langsung
dengan indicator hidrokarbon. Ide dasar dari Poisson Impedance dapat dilihat pada
gambar dibawah ini:

Courtesy Quakenbush et al. [2006]

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 124


Ensiklopedi Seismik Online
Pada gambar diatas, terlihat bahwa dari sifat AI (Acoustic Impedance = P Impedance) dan
SI (shear Impedance) , oil sand tidak begitu jelas terpisahkan dari brine sand dan shale.

Untuk memisahkan litologi tersebut, Quakenbush et al. [2006], mengusulkan untuk


mengekstrak sifat PI (Poisson Impedance) dengan cara melakukan ‘rotasi’ dari krosplot
tersebut .

Secara matematis, hubungan PI, SI dan AI dapat dituliskan sbb:


PI=AI-cSI,

dimana c merupakan parameter rotasi.

Pada prakteknya parameter c adalah inverse dari kemiringan hubungan litologi dan fluida
[Hampson-Russell]. Sehingga jika kita mengadopsi persamaan Castagna [1996] untuk
batupasir yang tersaturasi air i.e. Vs=0.8042Vp-0.8559 (lihat topik Vp/Vs), maka
c=1/0.8042 = 1.24.

Gambar dibawah ini menunjukkan log Poisson Impedance, Acoustic Impedance, Shear
Impedance. Dari gambar tersebut terlihat bahwa, level reservoir yang megandung gas lebih
mudah diamati pada log Poisson Impedance.

Courtesy Hampson-Russell

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 125


Ensiklopedi Seismik Online
Poisson’s Ratio

Poisson’s Ratio adalah sebuah konstanta elastik yang merepresentasikan sifat fisis batuan.
Pengertian fisis Poisson’s Ratio dapat dijelaskan dengan contoh sbb: bayangkan sebuah
sampel batuan yang berbentuk selinder dengan panjang L dan jari-jari R. Sampel tersebut
ditekan dengan gaya berkekuatan F. Karena tekanan tersebut maka panjang sample akan
memendek dan jari-jarinya akan melebar. Jika perubahan panjangnya adalah dL dan
perubahan jari-jarinya adalah dR, maka besaran Poisson’s Ratio adalah dR/dL.

Poisson’s Ratio dapat dituliskan sebagai fungsi dari kecepatan gelombang kompresi dan
geser:

Berdasarkan hasil uji laboratorium, setiap batuan memiliki nilai Poisson’s Ratio yang
spesifik, misalnya: Sedimen laut dangkal (Hamilton, 1976) memiliki kisaran Poisson’s
Ration antara 0.45-0.50; Batupasir tersaturasi air garam (Domenico, 1976): 0.41; Batupasir
tersaturasi gas (Domenico, 1976): 0.10. Dari hasill uji lab Domenico (1976) kita melihat
bahwa batupasir yang tersaturasi gas memiliki Poisson’s Ratio 25% lebih rendah
dibandingkan batupasir yang tersaturasi air garam. Adanya kontras Poisson’s Ratio yang
tajam pada lapisan batuan akibat kehadiran gas, seringkali sifat fisis ini digunakan untuk
mendeterminasi zona akumulasi gas. Gambar dibawah ini menunjukkan hubungan antara
besaran Poisson’s Ratio sebagai fungsi dari prosentase kehadiran gas dalam batuan
bersamaan dengan sifat kecepatan gelombang.

Ostrander, 1984
Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 126
Ensiklopedi Seismik Online
Polaritas Normal - Reverse
Saat ini terdapat dua jenis konvesi polaritas: Standar SEG (Society of Exporation
Geophysicist) dan Standar Eropa. Keduanya berkebalikan.

Gambar dibawah ini menunjukkan Polaritas Normal dan Polaritas 'Reverse' untuk sebuah
wavelet fasa nol (zero phase) dan fasa minimum (minimum phase) pada kasus Koefisien
Refleksi atau Reflection Coefficient (KR atau RC) meningkat (RC positif) yang terjadi pada
contoh batas air laut dengan dasar laut/lempung.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 127


Ensiklopedi Seismik Online
Contoh penentuan polaritas pada data seismik real, seabed ditunjukkan dengan trough
(merah), hal ini berarti polaritas seismik yang digunakan adalah normal SEG.

Preserve-Non Preserve Amplitude


Adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan status data seismik, yakni apakah sudah
diterapkan proses Gain atau belum.

Preserve amplitude adalah data ‘original’ sebelum terapkan gain, sedangkan non preserve
adalah data seismik setelah diterapkan gain.

Untuk keperluan interpretasi seismik, pemetaan horizon, sesar, struktur , dll., sebaiknya
menggunakan data non preserve amplitude, dimana efek kehilangan energi akibat
spherical divergensi telah dihilangkan.

Sedangkan preserve amplitude digunakan untuk berbagai komputasi geofisika lanjut


seperti seismik atribut, seismik inversi, AVO, dll.
Namun, untuk keperluan ‘display’, time-variant gain kadang-kadang diterapkan pada data
yang akan digunakan untuk berbagai komputasi geofisika diatas asalkan zona targetnya
bersifat ‘lateral’.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 128


Ensiklopedi Seismik Online
Prewhitening
Prewhitening adalah pembobotan matrix pada proses deconvolusi (lihat subject
deconvolusi) dengan menambahkan sebuah konstanta dengan rentang 0 s.d 1 untuk
memberikan kestabilan dalam komputasi numerik.

Remote Resistivity Reservoir Mapping (R3M)


Akhir-akhir ini, metodologi R3M semakin populer digunakan untuk mendeteksi apakah
sebuah reservoir mengandung hidrokarbon (HC) atau tidak.

(from Srnka, 2007)

Penggunaan R3M dalam mendeteksi HC berangkat dari pemahaman bahwa terdapat


perbedaan sifat fisika (dalam hal ini adalah RESISTIVITAS) antara reservoir yang
mengandung HC dan tidak (saline brine). Gambar diatas (kanan) menunjukkan bahwa
reservoir yang mengandung HC akan memiliki resistivitas lebih tinggi daripada reservoir
yang tidak megandung HC (mengandung saline brine).

Jika kita melihat tabel diatas (kiri), survey R3M akan memiliki tantangan yang serius jika
kontras resistivitas antara reservoir yang mengandung HC dan yang tidak mengandung HC
terlalu kecil. Walaupun demikian, kita masih memiliki ‘harapan’ jika kontras resistivitas
tersebut cukup besar.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 129


Ensiklopedi Seismik Online

from Srnka, 2007

Berdasarkan tabel di atas, frekuensi sinyal R3M berkisar antara ~0.125 sampai 20Hz.
Terlihat jelas bahwa R3M memiliki ‘irisan’ dengan frekuensi gelombang seismik refleksi
(i.e. 10 – 120 Hz). Akan tetapi pada prakteknya, kisaran frekuensi R3M yang digunakan
sangat kecil (sekitar 0.125 s.d 2.0Hz).

Teknik pengambilan data R3M serupa dengan teknik pengambilan data seismik 2D OBC
(Ocean Botton Cable). Sumber listrik (Source) ditarik oleh sebuah kapal survey dengan
kecepatan 1-2 knot. Posisi sumber ditempatkan berapa beberapa meter diatas dasar laut
(25-30m), sedangkan penerima (receivers) ditempatkan pada dasar laut. Perhatikanlah
sketsa pengambilan data R3M dan perangkat-perangkatnya pada gambar dibawah ini:

(From Amundsen, 2006)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 130


Ensiklopedi Seismik Online

(from Rosten et al., emgs)

Gambar dibawah menunjukkan respon data R3M untuk sebuah survey. Pada Gambar A,
titik-titik MERAH menunjukkan respon untuk reservoir yang mengandung HC dan PUTIH
untuk latar belakang saline brine (wet). Sementara gambar (B) adalah rasio antara kasus
HC dan kasus saline brine (wet). Pada gambar B terlihat jelas bahwa kehadiran HC akan
menghasilkan respon peningkatan magnitude lalu penurunan megnitudo resistivitas
sejalan dengan bertambahnya offset.

Gambar A (modified from Johansen, 2008)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 131


Ensiklopedi Seismik Online

Gambar B (modified from Johansen, 2008)

Referensi:
Amundsen, et. al, Decomposition of electromagnetic fields into
upgoing and downgoing components, Geophysics, vol 71, no 5, October 2006.

Johansen, S., et al., How EM survey analysis validates current technology, processing and
interpretation methodology, first break vol 26 June 2008.

Rosten, T., et.al, Stat Oil R&D Center, Norsk Hydro R&D Center, Electromagnetic
Geoservices (emgs), Earth and Planetary Exploration Services (EPX).

Srnka, L.J. (ExxonMobil Upstream Research Company, Houston, TX), EGM 2007
International Workshop, Innovation in EM, Grav and Mag Methods: a new Perspective for
Exploration
Capri, Italy, April 15 – 18, 2007.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 132


Ensiklopedi Seismik Online
Reflection Strength

Kuat refleksi didefinisikan sebagai envelop dari jejak seismik (lihat gambar). Untuk
masing-masing sampel waktu, Kuat Refleksi dirumuskan sebagai :

Sehingga kuat refleksi selalu bernilai positif dan selalu mempunyai magnitudo yang sama
dengan jejak seismik real.

Jejak Kuat Refleksi (b) sebagai envelop amplitudo dari jejak Reflektivitas (a)

(Redrawn from Landmark, 1996)

Kuat Refleksi memberikan informasi mengenai kontras Impedansi Akustik.

Perubahan lateral pada Kuat Refleksi sering berasosiasi dengan perubahan litologi secara
umum dan berasosiasi dengan akumulasi hidrokarbon.

Reservoir gas secara khusus, sering muncul sebagai refleksi amplitudo tinggi atau lebih
dikenal dengan ‘bright spot’. Perubahan tajam pada Kuat Refleksi bisa berasosiasi dengan
struktur patahan atau zona pengendapan misalnya channels.

Kuat Refleksi juga berguna untuk identifikasi perlapisan batuan dan membantu untuk
mendeskripsi satu reflektor masif seperti ketidakselarasan dari kelompok komposit
reflektor.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 133


Ensiklopedi Seismik Online
Reflectivity
Reflektivitas adalah kontras Impedansi Akustik (IA) pada batas lapisan batuan sediment
yang satu dengan batuan sediment yang lain. Besar-kecilnya nilai reflektivitas selain
tergantung pada Impedansi Akustik, juga tergantung pada sudut datang gelombang atau
jarak sumber-penerima. Di dalam seismik refleksi, reflektivitas biasanya ditampilkan pada
jarak sumber-penerima sama dengan nol (zero offset) sehingga dapat diformulasikan sbb:

Reflektivitas berbanding lurus dengan amplitudo gelombang seismik refleksi. Jika


reflektivitas semakin tinggi, maka amplitudo-nya pun semakin tinggi pula.

Gambar dibawah ini menunjukkan hubungan reflektivitas, amplitudo dan impedansi


akustik.

Resolusi seismik

Resolusi seismik adalah kemampuan untuk memisahkan dua reflektor yang berdekatan.

Didalam dunia seismik, resolusi terbagi dua: resolusi vertikal (temporal) dan lateral
(spasial).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 134


Ensiklopedi Seismik Online
Resolusi vertikal didefinisikan dengan ¼ panjang gelombang seismik (λ), dimana λ= v/ f
dengan v adalah kecepatan gelombang seismik (kompresi) dan f adalah frekuensi.

Frekuensi dominan gelombang seismik bervariasi antara 50 and 20 Hz dan semakin


berkurang terhadap kedalaman.

Tabel dibawah ini menunjukkan contoh hubungan antara v , f dan λ:

Dari tabel diatas kita melihat bahwa untuk anomali dangkal dengan kecepatan gelombang
seismik 2500 m/s dan frekuensi 50Hz diperoleh resolusi vertikal 12.5 meter, artinya batas
minimal ketebalan lapisan (ketebalan tuning / tuning thickness) yang mampu dilihat oleh
gelombang seismik adalah 12.5 meter.

Widess[1973] dalam papernya 'How thin is a thin bed', Geophysics, mengusulkan 1/8λ
sebagai batas minimal resolusi vertikal. Akan tetapi dengan mempertimbangkan kehadiran
noise dan efek pelebaran wavelet terhadap kedalaman maka batas minimal resolusi
vertikal yang dipakai adalah 1/4λ.

Resolusi lateral dikenal dengan zona Fresnel (r) dengan:

Dengan t adalah waktu tempuh gelombang seismik (TWT/2).

Untuk anomali dalam dengan waktu tempuh 4s, v 5500 m/s dan f 20 Hz, batas minimal
lebar anomali yang mampu dilihat oleh gelombang seismik adalah 1229.8 meter.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 135


Ensiklopedi Seismik Online
Reverse Time Migration (RTM)
Adalah salah satu metoda migrasi mutakhir yang mampu menangani proses migrasi pada
struktur yang kompleks (iluminasi gelombang yang terbatas, dip yang tinggi >85 derajat,
gelombang prisma, dll.) - yang sebelumnya tidak bisa ditangani oleh metoda migrasi
konvensional (Stolt, Wave Equation Migration -WEM, Kirchhoff, dll.).

Kelebihan RTM tersebut karena metoda ini melakukan solusi persamaan gelombang dalam
dua arah (forward dan reverse):

1. Pemodelan ke depan (forward modelling) dari sumber gelombang, jadi seandainya


kita memiliki sumber gelombang di permukan bumi, maka hasil modelingnya
merupakan downgoing waves.
2. Reverse time modelling dari receiver dengan waktu terbalik (waktu paling akhir
terlebih dahulu).
3. Kros Korelasi (Cross Correlation) dari hasil (1) dan (2).
4. Penjumlahan dari sample-sample yang dihasilkan sehingga diperoleh cube seismic.

Dengan proses (1) dan (2) di atas seolah-olah kita 'menyinari ' objek bawah permukaan
dari dua arah (dari arah atas dan dari arah bawah). Contoh di bawah ini menunjukkan
kelebihan RTM (kanan) dibandingkan dengan WEM (kiri) untuk mempertajam perangkap
stratigrafi akibat intrusi garam.

Untuk kasus di Indonesia, metoda RTM mungkin berguna untuk mempertajam perangkap
stratigrafi dengan dip yang besar atau potensial perangkap dalam di bawah carbonate (?).

Courtesy of Paul Farmer (GX Technology), 2006.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 136


Ensiklopedi Seismik Online
Rich Azimuth Seismic (RAZ)
Adalah metoda pengambilan data seismik 3 dimensi (3-D) yang merupakan kombinasi
antara seismik multi-azimuth (MAZ) dan wide azimuth (WAZ) (lihat entry mengenai
seismik multi-azimuth dan wide azimuth pada blog ini). Tujuan dari pengambilan data
dengan metoda ini adalah untuk membuat distribusi offset-azimuth yang merata ke semua
arah. Hal ini dijelaskan pada gambar di bawah ini:

Courtesy Howard, M, Marine seismic surveys with enhanced azimuth coverage: Lessons in
survey design and acquisition, The Leading Edge, April 2007.

Gambar di atas menunjukkan konsep rich azimuth survey, yang digambarkan sebagai MAZ
+ WAZ = RAZ. Panel atas menggambarkan diagram rose dari distribusi offset-azimuth.

Warna panas (merah) menunjukkan jumlah fold yang tinggi dan warna dingin (biru)
menunjukkan jumlah fold yang rendah. Panel bawah menunjukkan posisi kapal (bintik
hitam) dan kabel perekam (garis hijau) untuk masing-masing survey.

Panel kiri menunjukkan distribusi offset-azimuth untuk survey MAZ, dengan azimuth 3
arah, tetapi tiap arah memiliki azimuth yang sempit. Panel tengah menunjukkan distribusi
offset-azimuth untuk survey WAZ, dengan azimuth yang cukup lebar, tetapi hanya ke satu
arah. Panel kanan menunjukkan distribusi offset-azimuth untuk survey RAZ, dengan
azimuth yang lebar dan memiliki distribusi ke 3 arah.

Artikel ini kontribusi Befriko Murdianto, Chevron Indonesia Company

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 137


Ensiklopedi Seismik Online
RMS Velocity

Perhatikan model bumi yang tersusun atas beberapa interval perlapisan batuan yang
horizontal. Setiap lapisan memiliki kecepatan gelombang seismik tertentu.

Setiap lapisan memiliki kecepatan interval (V1, V2, V3,...,Vn), n adalah jumlah lapisan.
Sehingga kecepatan RMS sampai titik tertentu pada lapisan ke-n adalah:

Dari persamaan diatas terlihat bahwa kecepatan rms merupakan kecepatan interval yang
diberikan nilai weighting (pembobotan).

Rocks Physics Analysis


Untuk memahami karakter dan sifat fisis batuan dan fluida diperlukan sebuah analisis
fisika batuan (rock physics analysis). Dengan tujuan utamanya adalah mencari suatu sifat
fisis yang dapat memisahkan antara zona prospek dengan zona yang tidak prospek.

Sifat-sifat fisis yang dimaksud diantaranya: kecepatan gelombang seismik P (Vp),


kecepatan gelombang seismik S (Vs), Poisson’s Ratio, Impedansi Akustik, Lambda-Rho, Mu-
Rho, dll.

Gambar dibawah adalah contoh analisis fisika batuan untuk memisahkan non-pay, gas-pay,
wet-shally, dll.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 138


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Chopra, CSEG, 2006

Data yang ditampilkan dalam plot diatas biasanya diperoleh dari data sumur atau data
hasil inversi seismik.

Plot diatas sangat berguna diantaranya untuk konversi sebuah peta sifat fisis ke peta sifat
fisis yang lainnya.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 139


Ensiklopedi Seismik Online
Seismik inversi

Seismik inversi adalah proses pemodelan geofisika yang dilakukan untuk memprediksi
informasi sifat fisis bumi berdasarkan informasi rekaman seismik yang diperoleh.

Upaya inversi merupakan kebalikan (inverse) dari upaya pengambilan data seismik
(forward modeling).

Sebagaimana yang kita ketahui forward modeling adalah operasi konvolusi antara wavelet
sumber dengan kontras impedansi akustik bumi (koefisien refleksi).

Proses inversi merupakan proses 'pembagian' rekaman seismik terhadap wavelet sumber
yang diprediksi.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 140


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Ashley Francis, Earthworks Environment & Resources Ltd. - U.K

Berdasarkan gambar diatas kita melihat bahwa secara bebas dapat dikatakan bahwa
impedansi akustik (hasil inversi) merepresentasikan sifat fisis 'internal' batuan sedangkan
rekaman seismik merepresentasikan 'batas batuan'. Sehingga hasil inversi dapat digunakan
untuk menginterpretasi perubahan fasies dalam suatu horizon geologi. (Sebenarnya bagi
ahli geofisika, sifat fisis internal pun dapat 'dilihat' berdasarlam karakter amplitudo atau
frekuensi rekaman seismiknya, anda setuju?).

Pemilihan 'wavelet yang diprediksi' pada proses inversi merupakan prosedur yang sangat
penting, anda harus yakin betul bahwa sifat 'wavelet yang diprediksi' mencerminkan
horizon yang menjadi target anda. Caranya ? diantaranya dengan mengekstrak wavelet
pada horizon yang menjadi target inversi. Inipun tidak ada jaminan...karena sifat wavelet
yang tergantung terhadap fasa dan attenuasi.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 141


Ensiklopedi Seismik Online
Dikarenakan bandwith frekuensi gelombang seismik terbatas (band limited), maka
kontribusi impedansi akustik (IA) dari komponen frekuensi rendah diperlukan. Secara
praktis, komponen frekuensi rendah ini diperoleh dari informasi sumur (well) dan
ditambahkan untuk mendapatkan impedansi akustik absolut.

IA absolut = IA seismik (band limited: 10-70Hz) + IA sumur (frekuensi rendah: <10hz).>


8200. Dengan logika ini kita dapat menampilkan IA dengan nilai > 8200 untuk melihat
karakter penyebaran batu pasir tersebut (lihat gambar di bawah ini).

Courtesy Ashley Francis, Earthworks Environment & Resources Ltd. - U.K

Gambar di bawah merupakan penampang IA (slice). Perhatikan interpretasi batupasir


dalam 'channeling system' berdasarkan kontras IA.

Courtesy Ashley Francis, Earthworks Environment & Resources Ltd. - U.K

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 142


Ensiklopedi Seismik Online
Seismic Record
Rekaman seismik dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari tras seismik. Jika
ditampilkan dalam penampang dua dimensi, ke arah lateral mencerminkan jarak atau
lokasi dan ke arah vertical mencerminkan waktu (two way travel time/ TWT) atau
kedalam (apabila telah di migrasi kedalaman / depth migration). Contoh rekaman
seismik ditunjukkan pada gambar di bawah ini dengan batas antara lapisan-lapisan batuan
diinterpretasi sebagai puncak maupun palung amplitudo-nya.

Seismic Reference Datum (SRD)


Adalah level maya yang menunjukkan rekaman seismik berada pada waktu tempuh nol.
Pada data seismik laut, SRD biasanya didefinisikan dengan muka air lautnya itu sendiri
(Mean Sea Level). Pada data seismik darat, SRD adalah level acuan semu pada koreksi
statik sehingga trace-trace seismik mencerminkan kontinuitas reflektor.

Gambar di bawah ini menunjukkan datum atau SRD dalam sebuah koreksi statik. A,B,C
adalah trace-trace seismik yang terekam pada posisi A, B, C sebelum koreksi statik.
Sedangkan A’, B’, C’ adalah trace-trace seismik setelah koreksi statik dengan acuan level
datum (SRD) garis putus-putus merah.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 143


Ensiklopedi Seismik Online

Pada gambar diatas terlihat bahwa:


A’ memiliki nilai koreksi nol.
B’ adalah B + waktu tempuh b (waktu tempuh b = (kedalaman b / Velocity 1)x2)
C’adalah C- waktu tempuh c (waktu tempuh c = (kedalaman c / Velocity 1)x2)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 144


Ensiklopedi Seismik Online
Seismic Trace
Seismic trace atau tras seismik adalah data seismik yang terekam oleh satu perekam
(geophone). Tras seismik mencerminkan respon dari medan gelombang elastik terhadap
kontras impedansi akustik (reflektivitas) pada batas lapisan batuan sediment yang satu
dengan batuan sediment yang lain.

Secara matematika, tras seismik merupakan konvolusi antara wavelet sumber gelombang
dengan reflektivitas bumi, sehingga:

Tras seismik = wavelet sumber gelombang * reflektivitas

Secara grafis ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 145


Ensiklopedi Seismik Online
Seismic Velocity
Didalam seismologi terdapat beberapa macam kecepatan, diantaranya: kecepatan interval
(interval velocity), kecepatan sesaat ( instantaneous velocity), kecepatan semu (apparent
velocity), kecepatan rms (rms velocity), kecepatan rata-rata (average velocity), kecepatan
tengah (mean velocity), kecepatan stack (stacking velocity), kecepatan horisontal
(horizontal velocity), kecepatan vertikal (vertical velocity), kecapatan fasa (phase velocity),
kecepatan grup (group velocity), kecepatan gelombang P (P-wave velocity), kecapatan
gelombang S (S-wave velocity), kecepatan migrasi (migration velocity), kecepatan lapisan
lapuk (weathering velocity), dll.

Jenis-jenis kecapatan diatas dibagi menjadi dua: kecepatan fisis (physical velocities) dan
kecepatan pengukuran (velocity measures.).

Kecepatan fisis adalah kecepatan aktual perambatan gelombang, contoh: instantaneous


velocity, P- dan S-wave velocities, phase dan group velocity.

Sedangkan kecepatan pengukuran diturunkan dari analisa data seismik yang memprediksi
kecepatan fisis, diantaranya: average, mean, dan rms velocities, interval velocity, stacking
velocity, apparent velocity, dan migration velocity.

Courtesy Margrave, G. F. (2001)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 146


Ensiklopedi Seismik Online
Seismik Multikomponen

Akuisisi data seismik konvensional baik 2D, 3D maupun 4D hanyalah menggunakan


geophone 1 komponen. Komponen tersebut adalah komponen vertikal yang hanya
didesain untuk merekam gelombang kompresi (gelombang P). Sedangkan geophone yang
digunakan dalam seismik multikomponen, baik 3C (three component) maupun 4C (four
component) selain memiliki komponen vertikal, juga memiliki komponen horizontal yang
didesain untuk merekam gelombang geser (shear wave / gelombang S).

Geophone 3 komponen mengukur pergerakan partikel secara vertikal (atas-bawah) dan


dua arah horizontal (timur-barat dan utara-selatan). Komponen timur-barat disebut ’EW’
dan komponen utara selatan disebut ’NS’. Berikut ilustrasinya:

Komponen geophone vertikal (warna hijau) memiliki kemampuan mencatat gelombang P


lebih baik dibanding gelombang S, sedangkan komponen horizontal (warna merah dan
biru) akan merekam gelombang S lebih baik dibanding merekam gelombang P (mengapa?
lihat definisi gelombang P dan S dalam blog ini).

Gelombang S itu sendiri merupakan gelombang yang terkonversi dari gelombang P akibat
menghantam reflektor, selanjutnya disebut dengan (PS), sementara gelombang P yang
terefleksikan disebut dengan (PP) , lihat gambar dibawah ini:

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 147


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Western Geco - Schlumberger

Didalam prakteknya, kedua komponen gelombang yang terekam secara horizontal tersebut
akan dikalkulasi lebih lanjut sehingga diperoleh komponen gelombang yang lain yaitu
gelombang SH (Tangensial) dan SV (Radial), melalui persamaan:

SV=(NS cos θ)+(EW sin θ) 1)


SH=(-NS sin θ)+(EW cos θ) 2)

θ merupakan azimuth, yakni sudut yang dibentuk oleh proyeksi horizontal sumber
penerima terhadap arah utara.

Dikarenakan kecepatan gelombang P lebih tinggi (~2 kali) daripada gelombang S, maka
waktu tempuh nya pun berbeda.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 148


Ensiklopedi Seismik Online

Gambar sebelah kiri adalah rekaman PP dan kanan adalah rekaman PS, perhatikan TWT PS
sekitar 2X TWT PP. Courtesy: Lawton, Don C, et al., 2001, Multicomponent survey at Calgary
AirportCREWES Research Report — Volume 13

Didalam akuisisi seismik, untuk menempatkan geophone multicomponent sangatlah susah,


menurut laporan CREWES, untuk crew yang sangat berpengalamanpun error azimuth
dapat mencapai 10 derajat.

Didalam industri, aplikasi Multicomponen geophone atau Multicomponent seismic


memiliki kelebihan yang tidak bisa diberikan oleh geophone komponen tunggal. Kelebihan
itu diantaranya memberikan prediksi gas cloud, Lambda Mu Rho, analisis Vp/Vs, shear
wave splitting untuk mendelineasi orientasi fracture/anisotropy, dll.

Persamaan 1 dan 2 diatas courtesy: Agus Abdullah, 2007, PhD Thesis, Research School of
Earth Sciences, Australian National University.

Referensi tambahan:
Bland, H.C, Robert R. Stewart, 1996, Geophone orientation, location, and polarity checking for
3-C seismic surveys, CREWES Research Report — Volume 8.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 149


Ensiklopedi Seismik Online
Semblance, dll.
Perhatikan tras-tras seismik dalam sebuah CDP (Common Depth Point) setelah koreksi
NMO diterapkan.

Asumsikan jumlah tras seismik tersebut adalah n dan amplitudo masing-masing tras dalam
waktu (t) tertentu adalah w. Maka Amplitudo Stacking dan Semblance dapat dituliskan sbb:

Shear Wave

Jika bumi yang 'tenang' diberikan gangguan, misalnya diganggu dengan diledakannya
sebuah dinamit, maka partikel-partikel material bumi tersebut akan bergerak dalam
berbagai arah. Fenomena pergerakan partikel material bumi ini disebut dengan
gelombang.

Jika pergerakan partikel tersebut tegaklurus dengan arah penjalaran gelombang, maka
disebut dengan gelombang geser (shear wave) (gelombang sekunder atau secondary wave
atau gelombang S).

Gambar dibawah menunjukkan karakter material sebelum diganggu dan karakter


gelombang S.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 150


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy of darylscience

Sebagai fungsi dari modulus geser (μ), dan densitas (ρ), kecepatan gelombang S (Vs)
adalah:

Vs=[μ/ρ]0.5

Shear Wave Splitting


Shear Wave Splitting merupakan studi untuk menganalisis tingkat anisotropi (lihat subject
anisotropi pada blog ini) dari sebuah medium. Dalam hal ini azimuthal anisotropy.
Pemisahan (splitting) dari gelombang S tersebut diakibatkan oleh perbedaan waktu
tempuh (delay time atau Δτ) antara dua komponen gelombang S yang saling tegak lurus
satu sama lain.

Ingat, gelombang S memiliki komponen SV dan SH, SV adalah gelombang S yang bergerak
secara vertikal dan SH adalah gelombang S yang bergerak secara horizontal, berikut
ilustrasinya:

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 151


Ensiklopedi Seismik Online

Jika gelombang S melewati sebuah medium homogen isotropis, maka waktu tempuh
gelombang SV akan sama dengan waktu tempuh gelombang SH (lihat persamaan
matematika pada subject seismic multicomponent pada blog ini untuk menurunkan
gelombang SH dan SV dari sebuah survey seismik multicomponent).

Sedangkan jika terdapat perbedaan sifat fisis (contoh: foliasi mineral) maupun perbedaan
karakter struktur medium (contoh: orientasi fracture) ke arah vertikal maupun ke arah
horizontal maka akan menghasilkan waktu tempuh yang berbeda bagi kedua jenis
gelombang tersebut, fenomena perbedaan waktu tempuh tersebut dikenal dengan shear
wave splitting. Berikut ilustrasinya untuk sebuah gelombang S yang melewati medium
dengan fracture vertikal:

Dari gambar diatas terlihat bahwa sebuah gelombang S yang melewati medium dengan
fracture berorientasi vertikal akan meghasilkan pemisahan komponen SH dan SV dengan
SV datang lebih cepat (lebih awal) dibandingkan SH yang datang lebih lambat. Dengan kata
lain gelombang S yang merambat tegak lurus dengan fracture akan datang lebih lambat
sedangkan gelombang S yang sejajar dengan fracture akan datang lebih cepat. Jika kita
kembangkan lebih lanjut, delay time (Δτ) akan semakin besar jika gelombang S merambat
tegak lurus dengan fracture dan semakin kecil jika merambat sejajar dengan fracture.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 152


Ensiklopedi Seismik Online
Dengan mempergunakan logika di atas, multi azimuth atau wide azimuth seismic (lihat
kedua subject tersebut pada blog ini) dengan multicomponent geophone dapat
dipergunakan untuk mendeterminasi orientasi fracture.

Dengan menghitung tingkat anisotropi (baca delay time) pada berbagai azimuth anda akan
mendapatkan gambaran orientasi fracture pada zona bersangkutan. Sehingga pada
reservoar dengan porositas sekunder, dalam hal ini porositas akibat fracture. Studi shear
wave splitting dapat membantu untuk menempatkan posisi sumur bor sedemikian rupa
sehingga produksi hidrokarbon lebih optimal.

Sebagai informasi tambahan, tingkat homogenitas medium dapat dijustifikasi oleh resolusi
seismik, sehingga medium dengan derajat keheterogenan lebih kecil dari resolusi seismik
masih dipertimbangkan sebagai medium homogen (Backus, 1962). Sebagai konsekuensi
teori Backus tersebut, anda jangan bermimpi untuk mendeteksi fracture reservoar yang
berada di bawah resolusi seismik.

Slant Stack - Radon Transform

Slant Stack atau Transformasi Radon adalah teknik penjumlahan tras-tras seismik pada
sudut tertentu yang ditujukan untuk memperjelas kehadiran reflector miring dan ditujukan
juga untuk meningkatkan rasio signal terhadap noise (SNR-Signal to Noise ratio).

Terdapat dua tahap didalam melakukan Slant Stack. Pertama, koreksi LMO (Linear Move
Out). LMO adalah proses proyeksi tras-tras pada gerbang CDP (Common Deep Point) atau
CMP (Common Mid Point) dengan sudut tertentu. Sudut yang dimaksud berkorelasi dengan
parameter sinar (p) dan offset (x).

Dengan LMO, kita memperoleh reflektor dengan waktu :

Tahap kedua, setelah LMO dilakukan, tras-tras tersebut dijumlahkan (stack) sehingga
diperoleh Slant Stack.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 153


Ensiklopedi Seismik Online
Spectral Decomposition

Penampang seismik konvensional yang anda amati merupakan komposit dari rentang
frekuensi gelombang (umumnya 10 s/d 70 Hz, dengan frekuensi dominant sekitar 30Hz).

Perbedaan penampang pada frekuensi yang berbeda akan menampilkan fitur geologi yang
berbeda pula, karena pada hakikatnya sifat geologi seperti ketebalan, kandungan fluida
(baca: hidrokarbon), dll. hanya akan lebih jelas dilihat pada level frekuensi yang sesuai.

Metoda dekomposisi spectral digunakan untuk menampilkan penampang seismik pada


level frekuensi tertentu, katakanlah pada frekuensi 10Hz, 20Hz, 30Hz, dll.

Contoh dibawah ini menunjukkan perbedaan antara penampang waktu seismik


konvensional dengan penampang seismik pada frekuensi 32Hz.

Courtesy Sinha S et al.

Penampang seismik ‘konvensional’, fluvial channel ditunjukkan dengan panah kuning.


Geologi di bagian baratdaya tidak ditunjukkan dengan baik.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 154


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Sinha S et al.

Penampang seismik pada 32Hz, fluvial channel ditunjukkan dengan panah kuning. Channel
dibagian barat daya (panah biru) dapat ditunjukkan dengan lebih baik.

Pictures courtesy of Sinha S et al,. ‘Spectral Decomposition of Seismic Data with Continuous
Wavelet Transform’, School of Geology and Geophysics, University of Oklahoma, Norman, OK
73019 USA, Department of Geosciences,Boise State University, Boise, ID 83725 USA,
ConocoPhillips, Houston, TX 77252 USA

Spike

Secara bahasa spike diterjemahkan sebagai ’paku’. Di dalam terminologi seismik istilah
spike digunakan untuk menjelaskan sifat ’kelangsingan’ dari sebuah wavelet atau
gelombang refleksi.

Ingat bahwa batas perlapisan batuan ditunjukkan oleh bentuk gelombang yang ’gemuk’.
Interpreter menginginkan bentuk gelombang tersebut selangsing mungkin...idealnya
seperti paku (spike).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 155


Ensiklopedi Seismik Online
Sifat gelombang yang gemuk tersebut disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya:
atenuasi, absorbsi, signature sumber, dll.

Upaya diet yang bisa dilakukan untuk melangsingkan gelombang adalah dengan cara
deconvolusi. Namun hal inipun ada batasannya, mustahil untuk mendapakan gelombang
refleksi atau wavelet berbentuk paku.

Perhatikan gambar dibawah ini:

SRME

SRME (Surface Related Multiple Elimination) adalah metoda untuk menghilangkan energi
multiple yang dihasilkan oleh batas air-udara. Multiple yang dihasilkan oleh batas air-
udara ini kadang-kadang sangat sulit dihilangkan dengan menggunakan metoda demultipel
konvensional seperti Radon atau pun Tau-P (Geotrace).

Walaupun metoda SMRE sudah diperkenalkan oleh Verschuur dan Berkhout sejak tahun
1997, namun metoda ini baru populer di industri migas sejak tahun 2003-an.

Metoda SRME memiliki tiga tahap utama: pertama, menghilangkan noise non fisis,
regulasisasi data sehingga diperoleh grid sumber-penerima yang konstan, interpolasi near
dan intermediate offset yang hilang, menghilangkan gelombang langsung dan gelombang
permukaan. Kedua: prediksi multiple, prediksi ini didasarkan pada observasi bahwa
multiple yang terkait dengan permukaan dapat diprediksi melalui konvolusi temporal dan
spasial dari data itu sendiri (Berkhout, 1982). Ketiga: data input dikurangi dengan multiple
yang terprediksi pada tahap dua (Long et al., 2005).

Tahapan-tahapan metoda SRME dapat dilihat pada gambar dibawah ini (gambar courtesy:
Long et al., 2005):

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 156


Ensiklopedi Seismik Online

Untuk memahami teori SRME secara mendalam, terdapat sebuah referensi yang cukup
bagus yakni Seismic multiple removal techniques. Past, present and future oleh Eric
Verschuur, EAGE Publications BV.

Gambar dibawah menunjukkan keampuhan metoda SRME dibandingkan dengan metoda


konvensional.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 157


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Geotrace Technologies, Inc, 2007

Referensi: Long et al., 2005, Multiple Removal Success in The Carnarvon Basin with SRME,
APPEA Journal

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 158


Ensiklopedi Seismik Online
Stacking
Stacking adalah proses menjumlahkan tras-tras seismik dalam satu CDP setelah koreksi
NMO (Normal Move Out).

Proses stacking memberikan keuntungan untuk mengingkatkan rasio signal terhadap noise
(S/N ratio).

Gambar diatas menunjukkan prinsip koreksi NMO, hiperbola refleksi di-adjust dengan
menggunakan model kecepatan (kecepatan rms atau kecepatan stacking) sehingga
berbentuk lapisan horizontal, selajutnya tras-tras NMO dijumlahkan (stacking).

Static Correction
Static Correction atau koreksi statik adalah proses pengolahan data seismik untuk
menggeser waktu tras seismik yang bergeser akibar lapisan lapuk di permukaan bumi atau
akibat perbedaan topografi sumber dan penerima atau akibat perbedaan yang ekstrim
pada batimetri dasar laut.

Gambar dibawah menunjukkan penampang seismik refleksi sebelum dan setelah koreksi
statik.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 159


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Marine Geosciences Purdue

Sweep Vibroseis
Adalah gelombang mini atau pulsa yang dihasilkan oleh sumber getar vibroseis. Sweep
berkarakter sinusoidal dengan frekuensi semakin besar terhadap waktu.

Gambar berikut menunjukkan karakter sweep dan contoh pengolahan data seismik dengan
sumber getar vibroseis.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 160


Ensiklopedi Seismik Online

Gambar (a) adalah sweep (b) adalah respon reflektivitas bumi (c) konvolusi antara (a) dan
(b), (d) adalah kros-korelasi antara (a) dan (c).

Perhatikan hasil (d) yang merepresentasikan karakter bumi (b). Menakjubkan bukan ?

Gelombang sweep diatas dihasilkan dengan menggunakan persamaan:

Dengan fo=40Hz dan setelah dilakukan taper hanning.

Tau-P
Pengolahan data seismic pada domain τ-p sudah cukup lama digunakan didalam industri
migas. Sebelum memahami konsep dasar transformasi data seismic dalam gerbang CDP
(CDP gather) dari domain t-x (waktu-offset) ke domain τ-p, marilah kita pelajari terlebih
dahulu definisi τ dan definisi p.

Hubungan τ dengan waktu (t) dan offset (x) dapat dijelaskan berdasarkan hubungan τ=t-
px, p adalah ray parameter atau slowness atau phase velocity dimana p= sin (θ)/v, θ adalah
sudut tembak sinar seismic untuk offset (x) dan waktu (t) tertentu.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 161


Ensiklopedi Seismik Online
Gambar dibawah ini mengilustrasikan tiga buah sinar seismic (a, b, c) pada offset x1, x2, x3
dengan sudut θ1, θ2, θ2 dan medium dengan kecepatan v1. Masing-masing sinar akan
memiliki ray parameter p1,p2,p3 dan τ1 ,τ2 , τ3.

Untuk konfigurasi diatas, kita akan mendapatkan sebuah rekaman seismic seperti yang
diilustrasikan pada gambar (kiri) dibawah ini, demikian juga dengan hasil transformasinya
gambar (kanan). Dengan kalkulasi:

p1=sin(θ1)/v1 dan τ1=t1-p1.x1 (trace a)


p2=sin(θ2)/v1 dan τ2=t2-p2.x2 (trace b)
p3=sin(θ3)/v1 dan τ3=t3-p3.x3 (trace c)

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 162


Ensiklopedi Seismik Online
Gambar di bawah ini menunjukkan contoh aplikasi transformasi τ-p untuk data real.

Courtesy UCSD

Teori Inversi Rekursif Reflektivitas

Teori Inversi Rekursif Reflektivitas didefinisikan seagai perubahan Impedansi Akustik:

dimana r = koefisien refleksi, ρ = densitas, V = kecepatan gelombang P, Z = Impedansi


Akustik.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 163


Ensiklopedi Seismik Online
Perumusan inversi dari persamaan (1) dapat diturunkan dengan :

Persamaan (2) disebut dengan persamaan inversi rekursif diskrit. Permasalahan utama
yang terjadi pada inversi rekursif adalah kehilangan komponen frekuensi rendah. Untuk
mengatasi hal ini, frekuensi rendah dapat terpenuhi dari log sonik yang telah di filter,
analisa kecepatan seismik, dan model geologi.

Thinbed Reflectivity Inversion


Portniaguine dan Castagna [2005] mengusulkan metoda inversi spektral post stack yang
dapat me-recover lapisan-lapisan tipis dibawah ketebalan tuning. Metoda yang diusulkan
dilakukan dengan penekanan pada aspek geologi dibanding aspek matematis serta dengan
memperhatikan aspek kunci pada spektrum frekuensi lokal yang diperoleh dengan
dekomposisi spektral.

Secara komersial metoda ini dikenal dengan ThinMAN™ yang berkerja dengan
mengekstrak refleksi secara detail dengan menghilangkan pengaruh wavelet seismik tanpa
menimbulkan masalah munculnya noise frekuensi tinggi.

Gambar dibawah menunjukkan perbedaan sebelum (kiri) dan sesudah(kanan) inversi


reflektivitas lapisan tipis. Sonic log ditunjukkan untuk melihat perbandingannya.
Menakjubkan?

Courtesy Chopra et al., CSEG, 2006

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 164


Ensiklopedi Seismik Online
Transformasi Gabor

Transformasi Gabor didasarkan atas prinsip 'pemotongan' sinyal seismik menjadi


beberapa segmen. Operasi pemotongan tersebut dilakukan dengan menggunakan pisau
’window’. Berikut ilustrasinya:

Courtesy Margrave G. et al.

Lalu potongan-potongan sinyal diatas (yang masih dalam domain waktu) ditransformasi
menjadi domain frekuensi dengan Transformasi Fourier untuk menghasilkan Spektrum
Gabor.

Transformasi potongan-potongan sinyal tersebut dikenal dengan Transformasi Gabor.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 165


Ensiklopedi Seismik Online
Berbeda dengan Transformasi Fourier yang langsung mentranformasi sinyal secara utuh.

Courtesy Margrave G. et al.

Sementara Inversi Transformasi Gabor dapat dilakukan dengan dua cara berikut:

Courtesy Margrave G. et al.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 166


Ensiklopedi Seismik Online
Didalam dunia seismik, metoda Gabor ini digunakan dalam mengestimasi reflektivitas
seismik beresolusi tinggi secara akurat.

Istilah Gabor digunakan untuk menghormati


Dennis Gabor, Fisikawan Hongaria, yang
dianugerahi hadiah nobel atas penemuan
hologram yang sangat bermanfaat untuk
peradaban.

Foto Dennis Gabor adalah courtesy:


fotoartmagazine

True Amplitude Recovery (TAR)


True Amplitude Recovery atau Real Amplitude Recovery adalah upaya untuk memperoleh
amplitudo gelombang seismik yang seharusnya dimiliki. Saat perekaman, variasi amplitudo
terjadi akibat geometrical spreading, atenuasi, variasi jarak sumber-penerima dan noise.

Variasi amplitudo diatas terbagi menjadi empat kategori:

1. Variasi amplitude secara vertikal atau travel-time dependent. Variasi ini terjadi
akibat geometrical spreading dan atenuasi.
2. Variasi lateral yang terjadi akibat: geologi bawah permukaan, efek coupling sumber
dan penerima, serta perbedaan jarak sumber-penerima.
3. Variasi amplitude yang muncul karena noise
4. Bad shots atau perekam yang mati/rusak.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 167


Ensiklopedi Seismik Online

Koreksi untuk variasi amplitudo kategori (1) adalah:

Courtesy Jain, S., 44th Annual International SEG Meeting, Dallas, TX, 1974 and Joint CSEG-
CSPG Convention, Calgary, 1975.

Sedangkan koreksi akibat jarak sumber-penerima (kategori 2) adalah:

Courtesy Jain, S., 44th Annual International SEG Meeting, Dallas, TX, 1974 and Joint CSEG-
CSPG Convention, Calgary, 1975.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 168


Ensiklopedi Seismik Online
Untuk koreksi yang berasosiasi dengan variasi geologi bawah permukaan, efek coupling
sumber dan penerima dapat dilakukan dengan analisis nilai Amplitudo RMS (Root Mean
Square) yang disusun dalam Common Receiver dan Common Source:

Courtesy Jain, S., 44th Annual International SEG Meeting, Dallas, TX, 1974 and Joint CSEG-
CSPG Convention, Calgary, 1975.

Koreksi akibat variasi kategori 3 dan 4 dapat dilakukan dengan filtering, serta berbagai
metoda eliminasi noise dan kill trace.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 169


Ensiklopedi Seismik Online
Tuning Thickness
Tuning Thickness atau ketebalan tuning adalah batas minimal ketebalan lapisan batuan
yang mampu dilihat atau dibedakan oleh gelombang seismik.
Besaran ketebalan tuning yang biasanya dipakai oleh kalangan geofisikawan adalah 1/4
panjang gelombang seismik.

Untuk lebih jelasnya silakan lihat subject Resolusi Seismik.

TWT
TWT (Two-Way Traveltime) adalah waktu tempuh gelombang seismik dari sumber-
reflektor-penerima, dengan jarak sumber-penerima (offset) sama dengan nol (zero offset).

Dengan kalimat lain TWT adalah waktu yang diperlukan oleh gelombang seismik untuk
merambat dari sumber gelombang (dinamit, vibroseis, dll.) menuju reflektor (lapisan
batuan dibawah permukaan bumi) kemudian kembali memantul ke penerima gelombang
di permukaan bumi (receiver), dengan jarak sumber gelombang dengan penerima sama
dengan nol (lokasi sumber-penerima sama).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 170


Ensiklopedi Seismik Online

Rekaman seismik yang diperoleh umumnya ditampilkan dalam TWT.

Data seismik courtesy Siliqi R., First Break, 2001

Velocity Analysis
Velocity Analysis (analisa kecepatan) adalah upaya untuk memprediksi kecepatan
gelombang seismik sampai kedalaman tertentu. Analisa kecepatan dilakukan didalam
proses pengolahan data seismik pada data CMP (Common Mid Point) gather.
Terdapat empat macam analisa kecepatan:
1. Analisa t^2-x^2 (^2 adalah simbol untuk kuadrat)
2. CVP (Constant Velocity Panels)
3. CVS (Constant Velocity Stacks)
4. Analisa Velocity Spectra: Amplitudo Stacking, Amplitudo Stacking yang dinormalisasi,
Semblance.

Analisa t2-x2
Jika informasi waktu (t2) dan offset (x2) pada sebuah hiperbola refleksi (sebelum dilakukan
koreksi NMO) diplot, maka akan menghasilkan garis linear. Kemiringan garis linear ini
mencermikan kecepatan bumi (v2) dari permukaan sampai batas refleksi yang
bersangkutan. Akar dari v2 adalah kecepatan bumi yang diprediksi melalui analisis ini.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 171


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Yilmaz, 1987

CVP (Constant Velocity Panels)


Beberapa kecepatan (dari permukaan bumi sampai kedalaman sebuah reflektor tertentu)
di-tes untuk melakukan koreksi NMO pada gather CMP. Kecepatan yang menghasilkan
reflektor horisontal adalah kecepatam CVP.

CVS (Constant Velocity Stacks)


Mirip dengan CVP akan tetapi metoda CVS diterapkan pada CMP gather kemudian
dilakukan Stacking. Kecepatan yang menghasilkan amplitudo stacking yang terbaik
(amplitudo tertinggi) adalah kecepatan CVS yang dipilih.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 172


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy Yilmaz, 1987

Analisa Velocity Spectra


Analisis ini dilakukan jika hasil stacking untuk beberapa kecepatan diplot dalam sebuah
panel untuk masing-masing kecepatan. Hasilnya dapat diplot sebagai tras maupun kontur
amplitudo.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 173


Ensiklopedi Seismik Online

Gambar diatas menunjukkan contoh analisa kecepatan untuk koreksi NMO. Dari gambar
diatas (panel kiri) apakah anda bias melihat fenomena multiple? (gunakan panel kanan
sebagai pembanding).

Velocity Sag
Adalah anomali gelombang refleksi yang diakibatkan oleh zona kecepatan rendah sehingga
waktu tiba gelombang seismik menjadi terlambat.

Didalam penampang refleksi fenomena velocity sag ini terlihat sebagai ‘pelendutan’ refleksi
dengan keadaan geologinya tidaklah demikian.

Gambar dibawah ini adalah contoh anomali velocity sag pada zona gas yang terperangkap
pada sebuah antiklin (merah terang). Perhatikan reflector biru terang sebagai gas-fluid
contact yang ‘melendut’ akibat zona gas diatasnya. Keadaan geologi gas-fluid contact
seharusnya flat bukan?

Fenomena ini kadang-kadang disebut juga dengan puss-down velocity anomaly. Lawannya
adalah pull-up velocity anomaly.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 174


Ensiklopedi Seismik Online

Gambar diatas courtesy Alistair Brown [2004].

Vertical Seismic Profiling (VSP)


VSP adalah operasi seismik lubang bor dimana sumber seismik diletakkan di permukaan
bumi sementara perekam (geophone) diletakkan pada level kedalaman yang berbeda di
sepanjang lubang bor.

Jika sumur bor tersebut memiliki geometri vertikal, maka lokasi sumber getar diletakkan
pada posisi yang tetap, sedangkan untuk sumur bor miring, lokasi sumber tidak tetap,
lokasinya disesuaikan dengan posisi perekam dalam lubang bor.

Walaupun geophone diletakkan disepanjang lubang bor, resolusi vertikal VSP harus
dipertimbangkan masih berada dalam resolusi seismik, sementara secara lateral,
resolusinya dibatasi oleh zona Fresnel.

Geometri survey VSP beserta sketsa rekaman yang dihasilkan ditunjukkan pada gambar
dibawah ini:

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 175


Ensiklopedi Seismik Online

Rekaman VSP merupakan komposit dari gelombang downgoing dan upgoing dari jenis
gelombang kompresi (P) dan/atau gelombang geser (S) dan juga gelombang Stoneley yang
berhubungan dengan lubang bor dan fluida sumur.

Gelombang downgoing adalah gelombang yang terekam oleh geophone tanpa terefleksikan
terlebih dahulu. Sedangkan gelombang upgoing adalah gelombang yang terefleksikan.

Pengolahan VSP
Pengolahan data VSP terbagi menjadi beberapa tahap: demultiplex, korelasi (jika sumber
getarnya vibrator), koreksi dari efek fluktuasi, koreksi rotasi alat dan sumur miring,
eliminasi data yang buruk, stacking, pemilahan komponen gelombang jika perekam yang
dipakai multicomponent.

Gambar di bawah ini adalah contoh rekaman VSP setelah editing dan stacking:

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 176


Ensiklopedi Seismik Online

Courtesy US Dept. of Transportation (www.cflhd.gov)

Selanjutnya, jika sumber dan penerima dianggap memiliki garis yang tegak lurus dengan
reflektor, maka standar pengolahan data VSP adalah sbb:

1. Dekonvolusi gelombang upgoing dengan gelombang downgoing. Proses ini


ditujukan untuk mengeliminasi efek sinyal sumber dan multiple downgoing.
2. Flattening gelombang upgoing yang telah didekonvolusi, proses ini menjadikan
gelombang upgoing mirip dengan rekaman seismik biasa.
3. Membuat stack VSP

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 177


Ensiklopedi Seismik Online
Gambar dibawah adalah contoh korelasi rekaman VSP (upgoing wave) dengan log
lithofasies

Courtesy US Dept. of Transportation (www.cflhd.gov)

Referensi: Jean-Luc Mari, Geophysics of Reservoir and Civil Engineering, 1999, Institut
Francais Du Petrole Publications

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 178


Ensiklopedi Seismik Online
Volume Assessment

Topik ini bukanlah istilah seismik, akan tetapi karena penggunaannya sangat penting
didalam eksplorasi maka saya memasukkannya ke dalam blog ini.

Volume assessment adalah evaluasi volumetrik kandungan hidrokarbon suatu reservoir.


Terdapat beberapa point yang menjadi perhatian evaluasi ini:
1. GRV (Gross Rock Volume) adalah volume total reservoir yang dibatasi oleh TOP
reservoir, BASE reservoir dan Structural Spill Point (SSP). Satuan GRV adalah meter kubik
atau acre foot. Structural Spill Point sendiri adalah level sejauh mana hidrokarbon dapat
mengisi reservoir sebelum akhirnya ‘tumpah’ ke tempat lain karena kontrol struktur.
Gambar dibawah ini menunjukan sistem perangkap struktur dengan dua buah antiklin
yang terisi hidrokarbon. GRV prospek ini adalah = GRV1+GRV2.

2. Net to Gross (N/G) adalah persentase reservoir setelah dikurangi kandungan shale. N/G
memiliki satuan persen atau desimal. Sebagai contoh reservoir silisiklastik dengan
N/G=80%, memiliki kandungan 20% shale.
3. Porositas (satuan persen atau desimal)
4. Oil Saturation (OS) adalah tingkat kejenuhan minyak (persen atau desimal)
5. Gas Saturation (GS) adalah tingkat kejenuhan gas (persen atau desimal)
6. Recovery Factor (RF) untuk minyak dan gas : seberapa persenkah minyak dan gas dapat
diangkat kepermukaan (persen atau desimal)
7. Formation Volume Factor (FVF) adalah tingkat ‘pengembangan’ minyak di permukaan
bumi setelah dikeluarkan dari reservoir. Karena pengaruh tekanan satu liter volume
minyak di dalam reservoir akan mengembang setelah dikeluarkan ke permukaan. Kisaran
FVF pada 3500 psia adalah 1.333 bbl/STB.
8. Gas Expansion Factor (GEF), definisi sama dengan FVF tetapi untuk kasus gas. Kisaran
GEF 230-300 scf/cf.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 179


Ensiklopedi Seismik Online
9. Net Rock Volume (NRV) = GRV x N/G (meter kubik atau acre foot)
10. Net Pore Volume (NPV) = NRV x Porositas (meter kubik atau acre foot)
11. Original Oil in Place (OOIP) = NPV x OS x FVF (satuan mbo)
12. Original Gas in Place (OGIP) = NPV x GS x GEF (satuan tcf)
13. Recoverable Oil = OOIP x RF (mbo)
14. Recoverable Gas = OGIP x RF (tcf)
15. Recoverable Oil with risk = Recoverable Oil x risk factor (mbo)
16. Recoverable Gas with risk = Recoverable Gas x risk factor (tcf)
Risk factor merupakan nilai hipotetik persentase resiko.

Vp/Vs
Vp/Vs merupakan salah satu sifat fisis yang penting didalam mendeterminasi litologi dari
data log maupun data seismik. Disamping itu Vp/Vs merupakan indicator untuk fluida pori
(baca hidrokarbon) dalam suatu reservoir.

Idealnya, Vp dan Vs diperoleh dari data sonic P dan sonic S dan seismic multikomponen.
Akan tetapi, pengukuran sonic S dan survey seismic multikomponen sangatlah terbatas
dibandingkan dengan sonic P dan seismic ‘single’ komponen (P saja).

Oleh karena itu untuk memperoleh informasi Vs, biasanya diperoleh dengan pengukuran
empirik suatu sampel batuan ataupun dengan mengadopsi persamaan-persamaan yang
dihasilkan oleh peneliti lain.

Berikut ini persamaan Vp dan Vs untuk berbagai jenis litologi yang diperoleh dari
pengukuran empirik dari Castagna(1993), Picket (1963) dan Han (1986). Jika kita
mengadopsi persamaan tersebut kita harus menyadari bahwa persamaan tersebut belum
tentu sesuai dengan kondisi litologi dari daerah yang anda teliti. Karena besarnya rasio
Vp/Vs tergantung pada komposisi mineral, porositas, kandungan shale, tekanan,
temperatur, dll.

Limestone yang tersaturasi air:


Vs=-0.05508 Vp2 +1.0168 Vp-1.0305 [Castagna et al., 1993]
Vs=Vp/1.9 [picket, 1963]

Dolomite yang tersaturasi air:


Vs=0.05832Vp-0.07776 [Castagna et al, 1993]
Vs=Vp/1.8 [picket, 1963]

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 180


Ensiklopedi Seismik Online
Batupasir yang tersaturasi air:
Vs=0.8042Vp-0.8559 [Castagna et al, 1993]
Vs=0.7936Vp-0.7868 [Han, 1986]

Batulempung yang tersaturasi air:


Vs=0.8042Vp-0.8559 [Castagna et al, 1993]
Vs=0.7936Vp-0.79 [Han, 1986]

Untuk contoh kasus Indonesia, dalam hal ini Lapangan Kotabatak di Sumatera tengah,
makalah Hoehn et al [2005] menunjukkan bahwa Vp/Vs memiliki kisaran 1.65-2.13 untuk
batupasir yang poros, 1.58-2.01 untuk batupasir kompak dan 1.82-2.28 untuk
batulempung dll. Perhatikan gambar dibawah ini:

Courtesy Hoehn et al., 2005


Referensi:
Hoehn et al , 2005, Combine geostatistical inversion and simultaneous AVA inversion:
extending the life of a mature area, Kotabatak Field, Central Sumatera Basin, Indonesia ,
Proceedings Indonesian Petroleum Association, 30th Annual Convention & Exhibition, August
2005

Mavko et al, The Rock Physics Handbook: Tools for Seismic Analysis of Porous Media,
Cambridge University Press, 2003, ISBN 0521543444, 9780521543446.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 181


Ensiklopedi Seismik Online
Water Column Statics

Adalah koreksi statik pada data seismik marin yang diakibatkan oleh sifat air laut seperti
salinitas, temperatur, dll.

Pada data seismik dengan kedalaman air laut yang cukup dangkal, mungkin koreksi ini
dapat ’diabaikan’ akan tetapi jika data seismik tersebut merupakan data laut dalam tentu
sifat lokal salinitas, temperatur, dll. akan memberikan efek yang cukup signifikan pada
kualitas data seismik.

Jika koreksi ini tidak diperhatikan maka akan memberikan kualitas stack yang kurang
bagus, demikian juga pada respon AVO.

Berikut contoh perbedaan data seismik sebelum (kiri) dan setelah (kanan) koreksi Water
Column Statics pada respon AVO maupun stack .

Data courtesy Geotrace Technologies, Inc, 2007

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 182


Ensiklopedi Seismik Online

Data courtesy Sheng Xu and Don Pham, Veritas DGC Inc.

Wavelet
Adalah gelombang mini atau ’pulsa’ yang memiliki komponen amplitude, panjang
gelombang, frekuensi dan fasa. Dalam istilah praktis wavelet dikenal dengan gelombang
yang merepresentasikan satu reflektor yang terekam oleh satu geophone.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 183


Ensiklopedi Seismik Online
Gambar di atas menunjukkan Wavelet Ricker dengan frekuensi 20, 30 dan 40Hz dan fasa =
0 (zero phase).

Secara matematis, Wavelet Ricker didefinisikan dengan:

Dimana f adalah frekuensi, dt adalah interval sampling, t adalah waktu dan to adalah waktu
awal.

Well Seismic Tie


Adalah proses pengikatan data sumur (well) terhadap data seismik. Data sumur yang
diperlukan untuk well seismic tie adalah sonic (DT), density (RHOB), dan checkshot.
Sebelum diproses, data well tersebut harus dikoreksi terlebih dahulu untuk menghilangkan
efek washout zone, cashing shoe, dan artifak-artifak lainya.

Sebagaimana yang kita ketahui, data seismic umumnya berada dalam domain waktu (TWT)
sedangkan data well berada dalam domain kedalaman (depth). Sehingga, sebelum kita
melakukan pengikatan, langkah awal yang harus kita lakukan adalah konversi data well ke
domain waktu. Untuk konversi ini, kita memerlukan data sonic log dan checkshot.

Data sonic log dan checkshot memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing.
Kelemahan data sonic diantaranya adalah sangat rentan terhadap perubahan lokal di
sekitar lubang bor seperti washout zone, perubahan litologi yang tiba-tiba, serta hanya
mampu mengukur formasi batuan sedalam 1-2 feet.

Sedangkan kelemahan data checkshot adalah resolusinya tidak sedetail sonic. Untuk
‘menutupi’ kelemahan satu sama lain ini, maka kita melakukan koreksi dengan
memproduksi ‘sonic corrected checkshot’. Besarnya koreksi checkshot terhadap sonic
disebut dengan ‘DRIFT’.

Contoh proses matematis koreksi sonic oleh chekshot adalah sbb:


Checkshot data:
Kedalaman 1 = 1000 ft, Waktu 1 = 140 msec
Kedalaman 2 = 1250 ft, Waktu 2 = 170 msec

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 184


Ensiklopedi Seismik Online
Checkshot time = 170 - 140 = 30 msec

Jika kecepatan sonic dari 1000 sampai 1250 ft adalah 125 usec/ft, maka waktu tepuhnya
(1250 - 1000) x 0.125 = 31.25 msec
DRIFT = 30 - 31.25 = -1.25 msec.

Tahapan berikutnya adalah membuat reflectivity log (dari data sonic dan density), lalu
membuat seismogram sintetik dengan cara meng-konvolusi-kan reflectivity log dengan
sebuah wavelet.

Berikut contoh nya:

Courtesy Dutch Thompson, Landmark Graphics Corporation, 2003

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 185


Ensiklopedi Seismik Online
Pemilihan wavelet merupakan hal yang sangat penting. Karena fasa data seismic akan
berubah sejalan dengan bertambahnya kedalaman. Pada SRD (Seismic Reference Datum)
mungkin kita akan memiliki wavelet dengan fasa nol (setelah di-zero phase kan dalam
prosesing, yang sebelumnya mengikuti signature sumber gelombang sebagai minimum
phase), akan tetapi pada kedalam tertentu fasanya dapat berubah.

Dalam membuat sintetik, untuk pertama kali kita dapat menggunakan wavelet sederhana
seperti zero phase ricker dengan frekuensi tertentu katakanlah 25Hz. Lalu dengan
membandingkan trace sintetik dan trace-trace seismic disekitar bor, kita meng-adjust
apakah frekuensi wavelet lerlalu besar atau terlalu kecil. Setelah itu lihatlah fasanya, dan
perkirakan fasa wavelet di sekitar zona target.

Lalu anda dapat melakukan shifting dan mungkin (stretching atau squeezing) dari data
sumur. Akan tetapi proses shifting janganlah terlalu excessive, katakanlah ~20ms (?),
demikian juga dengan proses stretching-squeezing, janganlah melebihi 5-10% (?) dari
perubahan sonic atau kecepatan interval.

Jika anda memiliki data well-tops dan seismic horizon yang diperoleh dari interpreter,
anda dapat menggunakannya sebagai guidance didalam melakukan well-seismic tie. Jadi
sebelum melakukan proses detail di atas, anda dapat melakukan korelasi well-tops
terhadap horizon terlebih dahulu.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 186


Ensiklopedi Seismik Online
Untuk kasus sumur bor miring, prosesnya serupa dengan sumur bor vertical, akan tetapi
anda harus membandingkan sintetik seismogram dengan data seismic disepanjang sumur
bor. Lebih detail lagi, anda dapat melakukan koreksi ‘anisotropi’ terutama untuk log sonic.
Ingat ‘penembakan’ sonic dilakukan tegak lurus dengan sumur bor, jadi untuk sumur bor
horizontal, kita mengukur sonic kearah vertical. Sedangkan data seismik diasumsikan
mengukur secara horizontal.

Gambar di atas merupakan contoh hasil well-seismic tie untuk sumur bor miring
(deviated). Trace synthetic ditunjukkan dengan warna pink, perhatikan peak pada sintetik
cukup berkorelasi dengan baik dengan peak seismik, demikian juga dengan trough-nya.

Berikut adalah tanya jawab seputar Well Seismic Tie yang dihimpun dari
http://www.ensiklopediseismik.blogspot.com

Apakah ketika melakukan well-tie (katakanlah 5 sumur masing2 pny checkshot) diharuskan
bentuk waveletnya semirip mungkin satu sama lain?
Jika lokasi well nya berdekatan dan zona target nya satu level kedalaman, secara teoritik
waveletnya harus mirip. Apalagi jika kita melakukan kontrol fasa saat processing (dikontrol agar
zero phase untuk setiap kedalaman).

Apakah bentuk wavelet bisa bebas yg penting nilai korelasi-nya tinggi dng window yg cukup
lebar tentunya (400-500ms), ato harus dibuat bentuknya seperti minimum phase?
Tidak, fungsi nilai korelasi akan sangat tergantung pada kecocokan wavelet yang dipilih.

Bagaimana cara mengkoreksi data sonic yg akan kita gunakan utk well-tie?
Mencurigai nilai-nilai spike diantaranya dengan melihat calliper log untuk mewaspadai wash
out zone.

Bgmn jika kita menggunakan transformasi dari data resistivity (persamaan Faust)? Apakah
sonic yg hasil transformasi lebih bagus (lebih terpercaya) dari sonic asli?
Jika punya, pakailah sonic asli. Kecuali jika anda tidak mempercayai sonic (karena sesuatu hal)
anda terpaksa memakai sonic dari Faust.

Ada yg bilang kepada saya bahwa buatlah bentuk wavelet mirip dgn minimum phase
(polaritas SEG ato Europe) ketika melakukan well seismic tie, karena bentuk minimum phase
adalah bentuk yg paling masuk akal untuk bentuk wavelet real di lapangan. Apakah ini
mutlak benar?

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 187


Ensiklopedi Seismik Online
Kasus real: saya baca laporan konsultan di suatu oil company, bahwa salah satu hasil well
seismic tie dia menggunakan bentuk wavelet dgn parameter phase 124 derajad dan shifting
time 27ms (syntool di openworks), bgmn komentar Mas Agus?
Signature dari wavelet sumber adalah minimum phase, karena energi dominannya terletak
diawal waktu. akan tetapi interpreter lebih menyukai untuk interpretasi pada zero phase,
sehingga seismic procesor melakukan 'designature' untuk memutar fasa wavelet yang tadinya
minimum phase menjadi zero phase. Saran saya, lihatlah history processingnya apakah sudah
didesignature atau belum.

Wavelet dengan parameter fasa 124 derajat dan shifting 27ms kurang lebih memiliki bentuk
yang mirip dengan minimum phase. Jadi wavelet yang dipakai dilaporan tersebut adalah
'minimum' phase. Dengan demikian kita akan mendapatkan syntetik yang mirip untuk fasa
minimum yang sesungguhnya dengan zero phase yang dirotasi 124 derajat dan shifting 27ms.
TETAPI kros plot frekuensi terhadap fasa untuk kedua wavelet tersebut berbeda. Untuk rotated
wavelet, fasa wavelet dipertahankan nol untuk semua frekuensi. akan tetapi untuk minimum
phase, fasanya akan berbeda dari satu frekuensi ke frekuensi lainnya

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 188


Ensiklopedi Seismik Online
Wide Azimuth Seismic (WAZ)
Adalah metoda pengambilan data seismik yang didesain sedemikian rupa sehingga
menghasilkan azimuth antara sumber dan penerima yang cukup lebar dibandingkan
dengan pengambilan data seismik konvensional.
Tujuan utama dari desain ini adalah untuk meningkatkan fold, rasio sinyal terhadap noise,
meningkatkan iluminasi, dll.

Berikut ilustrasi pengambilan data wide azimuth seismic:

Courtesy Long A.S., et al AESC2006, Melbourne, Australia.

Berdasarkan gambar diatas, secara sederhana wide azimuth seismic hanyalah


menempatkan kapal utama dengan streamer dan gun (paling kiri) serta beberapa kapal
gun disampingnya (kedua dan ketiga disamping kanannya).

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 189


Ensiklopedi Seismik Online
Zero Crossing
Zero Crossing adalah salah satu komponen gelombang (lihat subject Komponen
Gelombang pada blog ini) dimana amplitudo gelombang adalah nol dan fasa-nya adalah
nol atau 90 derajat.

Zoeppritz Equation

Satu asumsi dasar tentang data stack adalah jejak seismik sebagai konvolusi antara wavelet
dengan deret koefisien refleksi. Masing-masing koefisien refleksi merupakan hasil sinar
seismik melewati batas antara dua lapisan.

Pada kasus ini , koefisien refleksi sebagai fungsi dari kecepatan gelombang P dan densitas
masing-masing lapisan batuan.
Persamaannya diberikan oleh :

dimana r = koefisien refleksi, ρ = densitas, α = kecepatan gelombang P, dan Z = impedansi


akustik.

Jika sinar seismik melewati batas lapisan pada sudut datang tidak sama dengan nol dengan
geometri penembakan common shot, maka akan terjadi konversi gelompang P menjadi gelombang
S dan koefisien refleksi menjadi fungsi kecepatan gelombang P, kecepatan gelombang S, dan
densitas masing-masing lapisan.

Dengan demikian dapat diturunkan 4 kurva : amplitudo refleksi gelombang P, amplitudo


transmisi gelombang P, amplitudo refleksi gelombang S, amplitudo transmisi gelombang S
(lihat gambar).

Variasi amplitudo terhadap offset melibatkan parameter fisis Poisson’s ratio, yang
berhubungan dengan rasio gelombang P terhadap gelombang S.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 190


Ensiklopedi Seismik Online
Formulasi untuk Poisson’s ratio diberikan oleh :

dimana σ = Poisson’s ratio, α = kecepatan gelombang P, dan β= kecepatan gelombang S.

Secara teoritik Poisson’s ratio memiliki harga antara 0 sampai 0,5 dimana 0 untuk gas dan
0,5 untuk liquid.

Dari persamaan (2), terlihat bahwa ketika Poisson’s ratio mendekati 0,5 maka rasio
kecepatan α/β menuju tak terhingga.

Hal ini terjadi karena kecepatan gelombang S = 0 jika melewati fluida. Sebaliknya rasio
kecepatan α/β = jika Poisson’s ratio = 0.

Schoenberg menyarankan bahwa parameter yang dapat digunakan untuk


menyederhanakan transformasi dari kecepatan ke Poisson’s ratio adalah γ=(α/β)² , pada
kasus ini kita melihat bahwa :

Bentuk akhir dari persamaan Zoeppritz ditunjukkan pada persamaan (4) dimana
berhubungan dengan jejak gelombang pada di bawah ini.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 191


Ensiklopedi Seismik Online

Perambatan gelombang P yang melewati batas lapisan, terbagi menjadi 4 gelombang; A =


gelombang P refleksi, B= gelombang S refleksi, C= gelombang P transmisi, dan D = gelombang
S transmisi.

Saran, koreksi, komentar: agusabdullah@gmail.com Page 192